7 Teori Alternatif mengenai Kehidupan setelah Kematian

Pada dasarnya ada 7 (tujuh) teori non-kristen yang berpendapat mengenai apa yang terjadi setelah kematian. Tujuh pendapat ini terbentuk berdasarkan pikiran manusia dalam rentang waktu, tempat, dan kultur yang berbeda. Pendapat Gereja mengenai kehidupan setelah kematian berbeda dengan ke-tujuh teori tersebut.

  1. Materialisme-Ateistik: Sebab Tuhan itu tidak ada, maka tidak ada gambaran Tuhan, atau jiwa. Oleh karena itu menurut pendapat ini, kita manusia hanya organisme material, dan ketika tubuh/badan kita mati, semua bagian dari kita mati dan tetap mati, selamanya.
  2. Ada Tuhan tetapi tidak ada kehidupan setelah kematian: Pendapat ini tidak umum, tetapi mungkin ada kepercayaan seperti ini. Pendapat ini muncul karena mungkin ada keyakinan bahwa ada Tuhan yang kurang mengasihi manusia sehingga tidak menyelamatkan mereka, atau karena kurangnya kuasa Tuhan untuk menyelamatkan manusia.
  3. Skeptisme: Pendapat yang memahami bahwa tidak ada yang pernah dapat mengetahui apa yang terjadi setelah kematian.
  4. Pagan jaman kuno: Setelah manusia mati, sifat kemanusiaannya menjadi pudar, berupa bayangan serupa manusia yang masih hidup: hantu, penghuni dunia yang suram, dunia bawah yang gelap.
  5. Platoisme: Berpendapat bahwa hanya jiwa yang tersisa setelah kematian; tubuh manusia mati untuk selamanya, dan jiwa atau roh manusia hidup selamanya. Pendapat Platoisme sering disalahpahami dan dikira sama dengan Kekristenan, tapi paham Kekristenan mengenai ini jelas berbeda dengan Platoisme; akan dibahas mengenai ini pada tulisan Analogi duniawi tentang surga.
  6. Panteisme: Pendapat yang berdasarkan pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, seperti tetesan butiran air dari lautan kosmik, partikel kecil dari Tuhan. Sehingga setelah manusia mati mereka kembali ke alam semesta, seperti tetesan butiran air yang kembali ke lautan kosmik. Yang perlu diperhatikan dalam paham panteisme adalah tidak adanya pribadi, tidak adanya sifat individu nyata pada setiap manusia, sehingga ketika manusia setelah mati, pribadi/sifat individu manusia tidak ada.
  7. Reinkarnasi: Pemahaman yang berpendapat bahwa setelah badan/tubuh manusia mati, jiwa atau roh manusia tersebut akan mendapatkan tubuh/badan lain di bumi, tubuh duniawi. Roh manusia itu berpindah ke tubuh orang yang lain seumpama seperti seorang pemasaran berpindah-pindah dari suatu ruangan ke ruangan lain. (Reinkarnasi biasanya disatukan dengan Panteisme atau Platoisme. Dimana setelah suatu jiwa/roh itu cukup mengalami reinkarnasi sehingga roh mendapat ‘pencerahan’, roh tersebut akan terbebas selamanya dari penjara badan/tubuh). Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi.

Kenapa Natal pada tanggal 25 Desember?

Ada beberapa pertanyaan sering muncul, baik yang murni berasal dari rasa ingin tahu si-penanya atau yang berkesan si-penanya mencoba menyudutkan dan mencemooh pengetahuan umat kristen.

Pertanyaan yang muncul ada yang terkesan sangat sederhana, namun sebenarnya untuk memberikan jawaban yang memuaskan dengan sederhana dan singkat rasanya tidak mungkin karena pertanyaan sederhana tersebut memerlukan kemauan si-penanya untuk mengikuti semua alur, semua dasar-dasar iman kristen yang menjadi jawaban yang akan memenuhi jawaban sederhana tersebut.

Peringatan Natal yaitu peringatan peristiwa kelahiran Yesus Kristus di Gereja Katolik setiap tahunnya. Gereja Katolik memilih tanggal 25 Desember sebagai momen untuk memperingati peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Gereja Katolik tidak mengklaim bahwa tanggal 25 adalah hari yang sebenarnya waktu Yesus Kristus dilahirkan. Kebenaran fakta bahwa Yesus Kristus pernah dilahirkan oleh perawan bunda Maria adalah benar, namun ketepatan waktunya tidak diketahui. Namun yang menjadi inti dari peringatan tersebut adalah peristiwa kelahiran Yesus Kristus, Anak Allah.

Untuk mendukung peringatan peristiwa tersebut Gereja Katolik mengadakan masa advent bagi Umat Katolik, masa penantian, mempersiapkan batin, mengharapkan lahirnya juru selamat, selama 4 minggu sebelum hari Natal. Pada masa itu Gereja Katolik menekankan agar umat benar-benar sadar kenapa mereka menantikan dan mengharapkan datangnya Yesus Kristus, dan masa itu kemeriahan Natal sebari dipersiapkan namun tidak ditonjolkan, baik lagu, hiasan, ornament dan lain-lain karena yang ditekankan adalah fokus penantian yaitu menunggu dengan harapan. Sehingga yang dimaknai pada perayaan Natal tanggal 25 Desember adalah peristiwa Natal tersebut, bukan tanggal, bukan hari.

Pemilihan tanggal 25 Desember yang pada awalnya adalah salah satu tanggal hari perayaan kepercayaan Pagan sebelum agama Kristen dikenalkan pada penganut pagan tersebut. Ringkasnya Gereja Katolik memilih perayaan peringatan Natal jatuh tanggal 25 Desember juga dengan maksud menggantikan salah satu hari raya pagan yang lama. Gereja melakukan reformasi tanggal tersebut menjadikannya mempunyai makna yang baru yaitu memperingati peristiwa yang telah terjadi dahulu dan sangat penting yaitu kelahiran Yesus Kristus; yang pada masa lalunya ketika para umat setempat masih menganut pagan beralih menjadi Kristen. Maka hal ini merubah hari raya pada tanggal 25 Desember juga bersesuai dengan paradigma ajaran Kristen yaitu Inkarnasi. Sabda menjadi daging. 2000 Tahun lalu Yesus Kristus datang dilahirkan ke dunia pagan dan Yesus mereformasi dan menguduskan dunia ini dengan kehadiran-Nya di tengah-tengah dunia.

Oleh karena itu perlu diluruskan kesalahpahaman yang beredar bahwa bukanlah tanggal mutlak lepas dari maknanya, tetapi yang terpenting adalah suatu kebenaran iman dalam peristiwa yang diperingati pada perayaan yang jatuh pada tanggal tersebut. Penentuan atau pemilihan tanggal lebih mengarah agar terciptanya keseragaman, momentum, keteraturan, dan persiapan yang baik dalam kebersamaan umat secara luas (secara universal) agar makna peristiwa yang ingin diperingati pada hari yang jatuh pada tanggal tersebut dapat dirasakan dan dipahami lebih mendalam.

Beberapa pertanyaan-pertanyaan lanjutan:

  1. Harusnya dalam penepatan hari lahir Yesus Kristus adalah tanggal yang sebenarnya Yesus Kristus lahir?
  2. Sebenarnya kita merayakan natal hari kelahiran dewa agama sebelumnya?

Tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut:

  1. Seperti yang sudah ditulis di atas … “Gereja Katolik tidak mengklaim bahwa tanggal 25 adalah hari yang sebenarnya waktu Yesus Kristus dilahirkan.” karena tidak ada tertulis di Kitab Suci mengenai tanggal kelahiran Yesus Kristus lahir. Dan menurut perhitungan oleh umat Kristen pada abad ke-4, yang paling mendekati perkiraan tanggal kelahiran Yesus Kristus adalah 25 Desember.
    Inkarnasi Sabda menjadi Manusia (Yesus Kristus) benar-benar terjadi pada salah satu hari sekitar 2000 tahun yang lalu. Kekurangan data-data bukanlah alasan untuk peniadaan, atau negasi dari karya Keselamatan Allah. Natal harus tetap dirayakan, secara menyeluruh dan bermakna agar Iman umat selalu diperbaharui – Iman akan hadirnya Allah Putra. Dan yang menjadi dasar utama, pondasi niat dan pemilihan tanggal 25 Desember oleh Gereja Katolik adalah Iman akan hadirnya Allah Putra, lahirnya Yesus Kristus.
  2. Pertanyaan kedua sangat menyimpang, dan si-penanya tidak memperdulikan dasar dan pikiran pokok dari Iman umat Kristen.
    Pertanyaan di atas serupa dengan pertanyaan yang nadanya: “Sebenarnya umat Kristen berdoa kepada siapa? Karena jika dilihat dari cara berdoa dengan memejamkan mata dan berkata-kata, sangat mirip dengan cara berdoa agama pagan.” – Pertanyaan yang kurang memahami permasalahan.

    Perayaan Natal sangat diperlukan agar pertanyaan ‘lupa ingatan’ seperti di atas tidak banyak terjadi. Karena Perayaan Natal bagi umat Kristen mempunyai makna yang sangat jelas dan tegas, yaitu Perayaan Kelahiran Yesus Kristus; sehingga jika ada yang mempertanyakan sebaliknya, perlu diselidiki niat dan maksud dari pertanyaan itu.

Berbagai agama pagan yang ada pada saat itu memiliki perayaan-perayaan dalam rentang sepanjang tahun kalender. Bulan atau tanggal apapun yang dipilih oleh umat Kristen awal untuk merayakan Kelahiran Yesus Kristus mungkin masih akan menempatkan Perayaan Natal dekat beberapa perayaan agama pagan, dan pihak-pihak yang bersebrangan dengan Kristen akan membuat klaim yang senada – menyudutkan tidak tepatnya pemilihan tanggal tersebut.

Namun ajaran Gereja telah jelas dan tegas sesuai dengan paradigma ajaran Kristen yaitu Inkarnasi Yesus Kristus yang benar-benar telah terjadi.

Empat Bantahan dari Fundamentalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 1 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Empat bantahan dari Fundamentalis

Bantahan 1:

Sepertinya, Allah terlalu liberal.

Tanggapan: Allah tidak mungkin terlalu liberal. Allah memang maha pengasih, memberikan ruang kebebasan bagi manusia namun bagaimana pun juga Allah berkehendak, dan kehendak Allah adalah Kebenaran. Kasih Allah dan Kebenaran Allah tidaklah terbatas dan tidak mengenal kompromi.

Bantahan 2:

Dengan mengatakan bahwa kaum/penganut pagan dapat diselamatkan tanpa menjadi Kristen, berarti bertolak belakang dengan Kitab Suci.

Tanggapan: Penganut pagan tidak dapat diselamatkan dengan penyembahan berhala, melainkan hanya dapat diselamatkan oleh Kristus.

Jika yang dimaksud dengan”pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang menerima Kristus yang sebenarnya (Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga), Yesus Kristus yang Objektif, maka benar bahwa satu-satunya jalan agar diselamatkan adalah menjadi pengikut Yesus. Dan untuk kasus si Socrates, kita tidak mengetahui ada bukti dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Socrates itu adalah bukan pengikut (dalam arti segala jaman) Kristus.

Di lain sisi, jika yang dimaksud “pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang harus memiliki pengetahuan untuk menganut keimanan ortodoks akan Yesus, maka kita tidak harus menjadi seorang Kristen agar dapat diselamatkan, karena jika menjadi suatu keharusan maka Abraham tidak dapat diselamatkan, dan begitu juga semua generasi sebelum Yesus (Yesus yang mulai dikenal sejak dilahirkan oleh Maria) akan tidak dapat diselamatkan karena mempercayai keyakinan yang tidak ortodoks. Keyakinan yang tidak ortodoks yang bagaimana yang akan menyebabkan kita terjatuh ke Neraka? Dimana dapat dilihat batasan jelas antara keyakinan yang ortodoks dan keyakinan yang tidak ortodoks? Allah tidak mengajukan ujian teologi kepada kita agar masuk surga atau jatuh ke neraka?

Bantahan 3:

Dengan mengatakan penganut pagan dapat diselamatkan berarti mengarahkan ketidakpedulian, dan oleh karena itu sepertinya pewartaan Injil tidaklah terlalu penting karena tidak membawa perubahan.

Tanggapan: Tidak benar seperti itu. Baca kembali tentang pembahasan tiga alasan yang mendorong misi pewartaan Injil.

Bantahan 4:

Jika Allah menyelamatkan Socrates, kenapa tidak menyelamatkan orang lain juga? Apakah ada batasan bagi Allah berhenti menyelamatkan manusia? Apakah ada kondisi tertentu bagi Allah untuk menyelamatkan manusia? Tidak ada batasan yang jelas dan tegas. Tapi kalau ukurannya adalah agar diselamatkan harus menjadi Kristen, batasan itu terlihat jelas.

Jawaban: Tidak ada kondisi, syarat, atau batasan bagi Allah untuk berhenti untuk menyelamatkan Manusia. Allah mau menyelamatkan semua orang, walaupun tidak semua orang mau diselamatkan. Batasan objektif dapat dilihat jelas antara orang yang “mau” dan “tidak mau” diselamatkan yaitu menerima Kristus (Yesus Kristus yang Objektif: Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga). Sedangkan batasan subjektif (berdasarkan penilai manusia) tidak dapat dilihat dengan jelas dengan mengukur seberapa eksplisitnya, seberapa lengkapnya imannya seseorang agar dapat diselamatkan. Dan bagi kita manusia batasan itu tidak menjadi keharusan menjadi jelas untuk kita. Hanya Allah yang dapat menilai hati seseorang.

Lalu siapa yang diselamatkan?

Kita telah berargumen menjawab pertanyaan “Siapa yang menyelamatkan?”, dan jawabannya adalah hanya Kristus sang Penyelamat. Kita juga telah berargumen bahwa jawaban “hanya Kristus sang Penyelamat” bukanlah menjadi keharusan menyimpulkan bahwa orang lain (atau pun penganut pagan seperti Socrates) tidak dapat diselamatkan. Kemudian sekarang muncul pertanyaan: Apakah Socrates diselamatkan? dan jika benar dia diselamatkan, pengecualian bagaimana yang berlaku untuk dia? Berapa banyak yang diselamatkan?

Jawaban pastinya adalah kita sebenarnya tidak tahu. Kita tidak menghakimi apa yang kita tidak bisa nilai.

Tetapi bukankah Yesus mengatakan bahwa hanya sedikit yang dapat diselamatkan dan jalan yang menuju ke kehidupan kekal adalah sempit, sementara jalan menuju ke kebinasaan sangat terbuka lebar (Matius 7:13-14)?

Ya benar Yesus mengatakan itu, tetapi “sedikit” dan “banyak” yang dimaksudkan di sini adalah bukan persentase matematika. Yesus adalah seorang pengasih, penyayang, bukan seorang matematikawan; Ia seorang pengembala, bukan seorang statistakawan. Pengembala yang baik dapat merasakan dombanya sama halnya orang tua yang baik dapat merasakan anak-anaknya: bahkan kehilangan satu pun adalah terlalu “banyak”, dan bahkan 99 yang terselamatkan dari 100 adalah terlalu “sedikit”. Ketika seorang murid bertanya kepada Yesus tentang perbandingan jumlah statistik yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka (“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”), jawab Yesus bukan “ya” atau “tidak”, tetapi “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk 13:23-24). Dengan kata lain, “Pikirkan urusanmu sendiri!” Yesus tidak menanggapi atau membenarkan atau menolak pertanyaan itu tapi menekankan bahwa yang dimaksud adalah kita perlu berusaha walaupun sulit untuk masuk ke surga. Yesus tidak mau muridnya mengolah pertanyaan itu untuk mengira-ngira atau mengukur orang lain, karena selain tidak berguna juga berbahaya. Sama halnya mengenai kapan tepatnya hari kiamat terjadi – merupakan salah satu subjek lain yang dengan Kebijaksanaan Allah tidak memberitahukan kepada kita tentang itu (Matius 24:36).

Sehingga dengan demikian kita tidak akan tahu. Tapi kita dapat berusaha, dapat berkerja. Kristus tidak menjawab pertanyaan teori dari kita, tetapi Dia memberikan kita tugas praktek. Tugas yang mengutus kita untuk: mewartakan Injil ke segala makhluk. Apologetik seperti yang saya tulis ini juga merupakan bagian dari tugas saya, tugas kita, menjernihkan jebakan-jebakan intelektual yang menghalangi arah kita untuk beriman.

Cara yang paling efektif untuk mengimplementasikan (melaksanakan) perutusan kita adalah melalui kesucian, kemurnian. Kesucian, kemurnian membuktikan kenyataan dari Injil. “Setiap orang menyukai seorang yang penuh cinta kasih.” Yesus memenangkan banyak jiwa dengan cinta kasih-Nya, bukan dengan “teologi”. Jadi kita harus berkarya dengan kemurnian cinta kasih.

Dan para murid Yesus menuliskan buku-buku, menuliskan kitab-kitab (Kitab Perjanjian Baru) yang memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan siapa yang menyelamatkan secara umum tetapi tidak memberikan jawaban yang jelas bagi pertanyaan yang tertentu.

Jawaban pertanyaan “Siapakah yang diselamatkan?” adalah jelas: “Dia yang haus” (Wahyu 22:17). Pintu surga selalu terbuka (Wahyu 21:25; 3:7-8; 4:1), dan pintu neraka terkunci dari dalam. Itu karena jika Allah adalah kasih yang murni, maka Keselamatan adalah murni pemberian. Jika Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, pemberian gratis, maka semua akan menerimanya kecuali mereka yang menolak pemberian itu. Allah tidak menolak siapapun orangnya, tetapi ada orang yang menolak Allah.

(sekian).

Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?

Pertanyaan judul di atas merupakan pertanyaan selanjutnya menanggapi pemahaman maksud dari Keselamatan yang sudah dibahas sebelumnya. Maka pertanyaan ini diajukan untuk mencoba menggugat pemahaman yang telah terbentuk, yaitu: Siapakah yang Menyelamatkan? (atau setara dengan pertanyaan ‘Siapa Penyelamat?’) Apakah hanya Yesus yang menyelamatkan? Jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’ bahwa Yesus-lah yang menyelamatkan, atas pertanyaan itu kedua jawaban tersebut sepertinya menjadi dilema (serba kurang tepat).

Jika kita menjawab ‘Ya, hanya Yesus-lah Sang Penyelamat’ maka keberatan akan muncul: Berarti semua orang yang non-kristen akan masuk neraka, bahkan seorang pagan yang baik seperti Socrates. Apakah ada kesalahan Socrates (contoh dari kelompok orang baik pagan) yang tidak hidup pada waktu yang tepat sehingga tidak bertemu Yesus atau tidak mendapat pewartaan tentang Yesus? tidak ada kesalahan pada Socrates yang pada masa hidupnya tidak bertemu Yesus atau mendapatkan pewartaan tentang Yesus. Maka akan muncul pendapat bahwa Allah itu sangat tidak adil dan tidak mengasihi bagi kelompok non-Kristen ini, sehingga sebagian besar akan masuk neraka.

Tetapi jika kita memberikan jawaban lain yaitu bahwa orang-orang non-Kristen yang baik seperti Socrates akan diselamatkan juga, lalu akan muncul lagi pertanyaan baru: lalu mengapa perlu menjadi Kristen? Karena jika si Socrates sudah cukup melakukan perbuatan baik agar dapat diselamatkan dan masuk ke Surga, mengapa harus menambah sempit klaim bahwa hanya Yesus-lah jalan Keselamatan?

Dengan kata lain jika si Scorates benar tidak diselamatkan, maka Allah bukanlah seperti yang diyakini bahwa Allah maha pengasih dan adil. Di lain sisi jika si Scorates benar diselamatkan, maka Yesus bukanlah satu-satunya jalan Keselamatan.

Untuk membahas lebih lanjut maka perlu dibahas kembali apa yang dimaksud sebenarnya Penyelamatan secara objektif berdasarkan data (Kitab Suci); dan menakar subjektifitas atau seberapa jauh pemahaman yang berkembang dari sisi orang kristen dan non-kristen.


Objektif Keselamatan dibandingkan dengan Sukjektif Pemahaman akan Keselamatan

Dilema jawaban di atas bukan hanya rumit, teknikal, masalah teologi, dan bukan juga mengenai Socrates. Ini merupakan hal penting bagi semua pertanyaan dan semua orang. Untuk menjawab ini, kita perlu membuat pemisahaan yang krusial (sangat teliti) antara dimensi objektif dan dimensi subjektif dari pertanyaan tersebut. Kitab Suci Perjanjian Baru memberikan kejelasan, yang pasti dan tidak dapat dikompromikan, memberikan jawaban yang sangat spesifik (khusus) bagi pertanyaan yang objektif, tetapi tidak kepada pertanyaan yang subjektif.

Secara objektif, Kitab Suci Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12). Yesus sendiri menegaskan: “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.'” (Yohanes 14:6). Orang Kristen percaya Yesus adalah sang Penyelamat dan satu-satunya karena Yesus yang mengatakan demikian. Jika hal tersebut tidak benar maka, Ia bukan Penyelamat, tapi semua adalah kebohongan, penghujatan dan penipuan yang sangat egois.

Secara subjektf (menurut pandangan dari kita masing-masing), apakah benar kita perlu diselamatkan? Kitab Suci Perjanjian Baru menyatakan kita memerlukan iman dalam Dia (Yesus) agar dapat diselamatkan, tetapi apa yang dimaksud dari pernyataan itu? Jenis iman yang bagaimana yang dimaksud? Yang pasti; tidak ada Yesus lain yang dimaksud, hanya satu Yesus, tapi banyak keyakinan iman yang berbeda-beda. Batasan pembeda antara Yesus dan orang lainnya jelas digambarkan, dapat diketahui dengan jelas perbedaan Allah-manusia dan manusia fana. Namun perbedaan antara Kepastian iman yang dimiliki oleh Petrus dan Ketidakpastian iman yang dimiliki Socrates tidak dapat dilihat dengan jelas.

Apakah itu berarti ada kemungkinan si Socrates sebenarnya memiliki iman dalam Kristus? Bukankah untuk beriman dalam Kristus harus diawali dengan pengenalan akan Kristus? Bagaimana mungkin si Socrates pernah mengenal Kristus? Ada jawaban yang berlaku untuk kasus Socrates dan juga untuk semua orang, yaitu seperti yang tertulis di Kitab Suci Perjanjian Baru: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:8). Yang maksudnya adalah Yesus sudah hadir sebelumnya, sebelum inkarnasi sabda menjadi daging; menjadi Allah-manusia yang dikenal bernama Yesus Kristus; Yesus Kristus sebelumnya adalah Logos (dari bahasa Yunani yang berarti sabda) Allah, Kata Ilahi (Firman), Terang, atau Sumber Kebenaran.

Tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali melalui Kristus (Yohanes 1:18; Lukas 10:22). Tetapi kaum pagan telah mengenal Allah (Kisah Para Rasul 17:28; Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 1:19-20; 2:11-16). Dengan demikian dapat diketahui bahwa pagan mengenal Kristus, yang dikenal sebelum kelahiran bayi Yesus, yang dikenal sebagai Terang, sebagai Firman, sebagai Alasan Kebenaran; yang pada masa pagan yang diceritakan di Kisah Para Rasul, dan Surat Paulus, mereka kelompok pagan belum mengetahui ‘nama’, atau ‘Logos’, atau ‘gambaran’ (wujud) Allah inkaranasi sebagai manusia yaitu Yesus.

Kristus bukanlah hanya seorang Yahudi yang berumur 33 tahun dan dikenal sebagai tukang kayu. Dia adalah yang Kedua dari Tritunggal Maha Agung, secara penuh, melalui wahyu, atau gambaran, dari sang Bapa (Kolose 1:15, 19; Yohanes 14:9). Hubungan dia dengan Allah seumpama sinar matahari dengan sang matahari. Dia bagaikan “cahaya yang menerangi setiap manusia” melalui akal budi dan suara hati. Oleh karena itulah doktrin dari Keilahian Kristus – diklasifikasikan  sebagai “konservatif” atau “tradisional” oleh kelompok liberal – sebab doktrin inilah yang mendasar harapan yang dimiliki oleh kelompok liberal bahwa penganut pagan juga mungkin dapat diselamatkan.

Jadi secara objektif, benarlah hanya Kristus yang dapat menyelamatkan penganut pagan juga. Tetapi secara subjektif, jenis keyakinan bagaimana yang mungkin menyelamatkan penganut pagan, atau penganut agama Hindu, atau penganut agnostik? Apakah seperti jenis keyakinan berikut?

  1. Keyakinan yang tidak jelas, samar, yang digeneralisasikan dengan kejujuran dan ketulusan?
  2. Keyakinan yang berkomitmen sepenuhnya terhadap Kebenaran, Kebenaran yang bukan sesuatu dapat ditemukan di beberapa hal, tetapi Kebenaran yang absolut, yang secara implisitnya merupakan sifat dari Allah?
  3. Keyakinan yang mencari bukan hanya Kebenaran tetapi juga Kebajikan, moral yang benar, secara garis besar keyakinan ini merupakan pilihan mendasar untuk kebaikan daripada kejahatan?
  4. Keyakinan atas kasih dari Kebaikan, yang bukan sesuatu berasal dari pihak lain, melainkan hanya sepenuhnya merupakan sifat dari Allah?
  5. Keyakinan akan pertobatan akan dosa, walaupun tidak ada kejelasan konsep Tuhan yang ditujukan oleh penganut pagan dengan melakukan penyesalan?
  6. Keyakinan dalam Tuhan, Allah dari ilham, Allah dari terang budi, sang Intelektual yang merancang alam dan sumber Kesucian suara hati?
  7. Keyakinan yang penuh dengan kehati-hatian, ketelitian, dimana kebebasan dan suara hati dipergunakan secara teliti menanggapi kasih Ilahi, akan tetapi samar-samar dimengerti oleh penganutnya?

Semua poin-poin tersebut diperlihatkan juga oleh Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru sebagai hal yang diperlukan juga.

Tetapi pengetahuan eksplisit (pengetahuan yang benar-benar mutlak menuntut kejelasan) akan Inkarnasi Yesus bukan suatu keharusan syarat untuk keselamatan. Contohnya adalah Abraham, Musa, dan Elia yang tidak memiliki pengetahuan eksplisit akan Yesus Kristus, dan mereka juga telah diselamatkan. (Kita dapat mengetahui itu dengan membaca Matius 17:3 dan Lukas 16:22-23.) Orang yang sama – Yang Kedua dari Tritunggal Maha Kudus – keduanya adalah Logos yang dikenal pada masa prainkarnasi (sebelum inkarnasi sabda menjadi daging), yang “menerangi setiap manusia”, dan berinkarnasi sebagai Yesus, yang telah dilihat oleh beberapa orang. Mereka mengenali salah satu dari kedua itu (Yesus; prainkarnasi dan setelah inkarnasi) mengenali yang satunya lagi, karena keduanya adalah orang yang sama.

Jika kita bertanya kepada Abraham, “Apakah kamu percaya dalam Yesus, Dia sebagai Penyelamatmu?” Abraham tidak dapat menjawab ‘ya’. Jawaban ‘ya’ dari Abraham hanya bersifat implisit dalam sebatas pengetahuan yang dipunya oleh Abraham, tetapi ‘ya’ dari Abraham adalah jawaban bahwa dia pernah benar-benar secara nyata bertatap muka dengan Yesus yang nyata. Dan karena Abraham menjawab ‘ya’ kepada Kristus dan demikian dia diselamatkan. Oleh karena itu ketidakmampuan Abraham menjawab ‘ya’ secara eksplisit terhadap pertanyaan tersebut bukan berarti otomatis kita tidak diselamatkan. Begitu juga bagi Socrates, dia tidak otomatis tidak diselamatkan. Apapun dan bagaimana Socrates memiliki hubungan kontak dengan Kristus selaku Logos adalah tetap masih pertanyaan yang belum terjawab. Secara abstrak, usaha pencapaian intelektual dari kebenaran tidaklah cukup untuk menyelamatkan kita. Namun kesalahan intelektual cukup untuk membuat kita gagal untuk mempersiapkan agar kita diselamatkan.

Allah tidak memberikan kita ujian akhir teologi layaknya ujian akhir sekolah ketika kita meninggal sebagai syarat untuk masuk ke surga. Jika Allah melakukan itu, kita semua akan gagal pada ujian itu. Dan kemudian akan muncul permasalahan kewenangan penentuan batas poin lulus atau gagal. Lalu apa yang menjadikan iman dari seorang seperti Socrates dapat membuat dia diselamatkan? Apa makna dari bagi Socrates untuk mengimani Kristus yang dia kenal sebagai Logos? Apa yang dapat dia lakukan agar diselamatkan?

Untuk itu kita perlu kembali mengkonsultasikan kembali data yang kita punya, yaitu Kitab Suci. Terdapat tiga jawaban dalam Kitab Suci: Kita harus mencari Allah, menyesali dosa kita, dan mengimani Allah. Lalu dari data itu dapat kita mengenali beberapa parameter dari tiga syarat yang sifat universal untuk Keselamatan.

1. Mencari Kebenaran sebagai Keilahian Mutlak dapat dengan mencari Allah karena Allah adalah Kebenaran.

Kebenaran adalah bagian dari Allah, seumpama Matahari terdiri dari sinar dan energi. Kebenaran ini lebih dari kebenaran mental biasa. Pencarian Kebenaran dimotivasi oleh keinginan, kehendak. Pencarian Kebenaran merupakan kebebasan kehendak dari keinginan, dari hati – cinta akan Kebenaran – itulah yang membuat orang mulai mencari Kebenaran. Dan pencarian sudah merupakan suatu jenis Iman. Pencarian adalah iman yang diarahkan untuk masa depan; yaitu dikenal sebenarnya sebagai Harapan. Harapan adalah suatu “nilai plus dari teologi”, sesuatu yang menghubungkan kita dengan Allah. Kita telah dijanjikan bahwa semua yang mencari (Allah), akan menemukan (Allah) (lihat Matius 7:7-8);

Dalam mencari Allah menunjukkan bahwa kasih ilahi telah hadir dalam jiwa setiap orang yang mencari. Santo Augustin menggambarkan bahwa Allah berkata kepadanya, “Ambil hati, anakku. Kamu tidak akan mencari saya sebelum Saya menemukan kamu terlebih dahulu.” Dan sebuah semboyan tua dalam bahasa Inggris pernah berbunyi: “I sought the Lord, and afterward I knew / He moved my soul to seek him, seeking me. / It was not I that found, O Savior true; / No, I was found Thee.”

Pascal pernah berkata bahwa ada tiga tipe orang di dunia: (1) mereka yang mencari Allah dan menemukan-Nya, (2) mereka yang mencari Allah tetapi belum menemukan-Nya, (3) mereka yang tidak mencari Allah dan tidak menemukannya. Pascal menyebut tipe yang pertama sebagai “menggunakan-akal (bijaksana) dan bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan bahagia karena menemukan apa yang mereka cari. Pascal menyebut tipe yang kedua sebagai “menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan tidak-bahagia karena mereka belum menemukan. dan Pascal menyebut tipe yang ke tiga sebagai “tidak-menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – tidak-menggunkan-akal karena mereka tidak mencari, dan tidak-bahagia karena mereka tidak menemukan.

Perbedaan yang terbesar adalah bukan antara mereka yang telah menemukan dan mereka yang belum menemukan. Perbedaan yang telah dan belum menemukan merupakan perbedaan yang sementara, karena semua yang tergolong tipe kedua akan naik menjadi tipe pertama; karena semua yang mencari akan menemukan. Dan yang menjadi perbedaan terbesarnya terletak antara mereka yang mencari dan yang tidak mencari, karena perbedaan itu merupakan perbedaan yang selamanya. Tidak ada tipe yang ke empat, dimana orang yang tidak mencari, tidak selamanya tidak menemukan.

2. Mengenai Penyesalan dosa, dalam Kitab Yesaya tertulis:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya”

Sehingga dapat kita ketahui bahwa pencarian harus disertai dengan penyesalan. Semua dapat menyesali, bagi semua orang yang mengenal hukum moral (Roma 1-2) dan demikian juga dosa milik mereka. Pada dasarnya pencarian kebenaran dan bahkan kebaikan saja tidak cukup, karena mungkin saja pencarian itu dimotivasi, didorong oleh rasa harga diri (kehormatan diri sendiri) dan pembenaran diri sendiri (mencari agar melihat diri sendiri sudah benar), agar menjadi baik sesuai dengan ukuran nilai baik oleh dirinya sendiri, bukan dimotivasi oleh kehormatan Allah, kebenaran menurut Allah, dan Nilai baik menurut Allah. Dan untuk menggarisbawahi mengenai penyesalan dosa, ada satu pertanyaan penting: Apakah saya (kita) akan menyerah (menyerahkan semua keinginan, kehormatan, kebenaran, kebaikan) kepada Allah, jika saya (kita) bertemu dengan Allah?

3. Iman, yaitu; mempercayai dan menerima Allah, kasih Allah dan hidup Allah.

Iman merupakan hal yang ketiga yang diperlukan agar diselamatkan, tetapi bagaimana kita dapat mempercayai dan menerima Allah jika kita tidak mengenal Dia? Kita tidak bisa melakukan itu. Tetapi kita semua mengenal dia (Roma 1). Bagaimana kita bisa mengenal dia tanpa Kristus? Kita tidak bisa. Karena kita semua tahu bahwa Kristus lah Sang Terang, Firman, Logos (Yohanes 1:9).

Lalu harus seberapa banyak pengetahuan kita akan Allah agar dapat memiliki iman dan dapat diselamatkan? Jumlah atau besaran tidak menentukan, layaknya seperti fakta statistik. Namun, kita tahu  (Roma 1-2) bahwa kita semua mempunyai pengetahuan yang cukup akan Allah yang untuk membuat kita bertanggung jawab di hadapan Allah.

Pertanyaan mengenai pengetahuan akan Allah yang bagaimana yang memadai agar dapat memilih untuk mempercayai atau tidak dapat dijawab dengan memperhatikan perbedaan antara pemahaman kata ‘mengetahui’ dan ‘mengenal’. ‘Mengetahui’ berhubungan fakta, yang berkisar pengenalan secara objektif fakta-fakta yang dapat terukur. Sedangkan ‘Mengenali’ lebih bersifat subjektif. Seberapa banyak pun fakta yang kita ketahui (‘mengetahui’) tidak berpengaruh dengan pengenalan kita terhadap seseorang. Semua orang mengenal Allah, walaupun mereka tidak tahu banyak mengenai Allah (lihat Roma 1 dan Kisah Para Rasul 17).

Dengan demikian untuk meringkaskan kesimpulan: Socrates (atau penganut pagan manapun) dapat mencari Allah, dapat menyesali dosanya, dan tersirat bahwa ada kepercayaan dan penerimaan akan kehadiran Allah walaupun hanya sebagian dan agak kabur, dan karena itu dia dapat diselamatkan- atau sebaliknya dia akan binasa apabila dia menolak untuk mencari, menyesali dosa, dan mempercayai. Terdapat terang dan kesempatan yang mencukupi, pengetahuan dan kebebasan kehendak yang mencukupi, yang menjadikan setiap manusia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah. Allah mengadili manusia berdasarkan pengetahuan setiap manusia, bukan berdasarkan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh manusia itu.


Keberatan terhadap “Keselamatan bagi penganut Pagan”

Kelompok konservatif sering keberatan atas penempatan pemahaman “Keselamatan bagi penganut Pagan”, dimana dalam pemahaman tersebut ada kemungkinan bagi penganut Pagan untuk diselamatkan, dan oleh karena pemahaman ini mengurangi motivasi usaha misi, misi pewartaan Injil. Karena pemahaman ini, muncul beberapa pertanyaan keberatan dari pihak konservatif: Kalau demikian mengapa kami harus menghabiskan hidup, mempertaruhkan hidup, untuk mewartaan Yesus Kristus kepada dunia jika mereka (orang yang belum mengenal Yesus) dapat diselamatkan tanpa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Yesus? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus dan penting. Kita perlu menanggapi pertanyaan ini dengan jawaban yang memuaskan dan jelas.

Terdapat tiga alasan yang mungkin mendorong misi pewartaan dilangsungkan; misi mengkabarkan kepada orang lain tentang Injil, kabar baik dari Yesus Kristus. (dan perlu kita ingat bahwa setiap umat kristen diutus untuk menjadi pewartaan (Matius 28:18-20), dan bukan hanya tugas para biarawan, bukan hanya tugas orang yang berlabel “pendeta” atau “pastor”.) Tiga alasan tersebut adalah:

  1. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok fundamentalis: Kami mengetahui bahwa dunia akan jatuh ke neraka, kecuali jika orang-orang menerima Kristus sebagai Penyelamatnya.
  2. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok moderen: “Kami hanya ingin mengasihi sesama (orang lain) dan membagikan apa yang kami punya kepada mereka (orang lain), melaksanakan tugas sosial yang sangat besar.” Kami tidak percaya akan adanya neraka, dan seandainya pun neraka itu ada, kami tidak percaya bahwa semua orang akan jatuh ke sana, dan apabila sekalipun benar ada yang jatuh ke neraka kami perkirakan hanya orang-orang tertentu seperti Hitler atau Stalin. Kami tidak mengurusi Keselamatan.
  3. Alasan yang sudah sering digunakan sejak Gereja Perdana (tradisi): “Kami tidak tahu dengan pasti siapa yang akan jatuh ke neraka; oleh karena itu kami mengkhawatirkan semua orang perlu diselamatkan.” Layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya yang bermain di dahan-dahan pohon, meneriaki mereka untuk segera turun dari pohon agar tidak celaka terjatuh. Bagi ibu tersebut yang terpenting bukanlah bagaimana anak-anak itu pandai memanjat atau dahan pohon yang kuat sehingga mereka tidak jatuh celaka; melainkan yang terpenting adalah bahwa biasanya kalau anak-anak itu jatuh, mereka celaka. Kelompok ini (kelompok tradisional/gereja perdana/tradisi) tahu bahwa semua orang dapat jatuh ke dalam neraka, karena Yesus yang mengatakannya. Jadi kelompok ini bukanlah kelompok moderen. Bagi kelompok ini tidak dapat diketahui dengan pasti siapa saja yang mungkin akan jatuh ke neraka, karena Yesus tidak mengatakan kepada kita. Oleh karena itu kelompok gencar menyerukan pewartaan agar semua orang mengenal Yesus agar diselamatkan, berusaha sebisa mungkin mencegah orang jatuh ke dalam neraka, menjauhkan orang dari jurang neraka, memelihara hidup setiap orang di dunia sama giatnya dan intensif seperti kelompok fundamentalis.

Tiga alasan di atas secara tidak langsung juga selaras dengan pandangan terhadap tindakan Aborsi (pengguguran kandungan).  Ada tiga kemungkinan etika di masyarakat dunia terhadap tindakan aborsi, yang selaras dengan tiga alasan yang telah dijelaskan di atas mengenai misi pewartaan keselamatan. Tiga kemungkinan etika yang sudah dikenal luas di masyarakat dunia:

  1. Etika yang mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia, dan oleh karena tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  2. Etika yang mengklaim bahwa tidak benar bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi maka tidak benar juga tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  3. Etika yang tidak mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia.

Dari ketiga etika di atas, yang paling sering diterima oleh kelompok skeptis (yang tidak ingin mengklaim) adalah etika yang ke tiga. Etika ketiga ini banyak diterima oleh kelompok orang mendukung kebebasan pilihan dari setiap orang, dan bagi etika ketiga ini juga menarik bagi kelompok orang yang mendukung mempertahankan-hidup (kandungan). Karena bagi kedua kelompok ini jika kita tidak mengetahui dengan pasti bahwa bayi yang belum lahir adalah bukan digolongkan manusia dan tidak mempunyai jiwa; maka berdasarkan alasan itu tindakan aborsi adalah dinilai sangat buruk dan tidak bertanggung jawab karena mempertaruhkan kemungkinan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan! Tindakan itu sama halnya seperti kita melempar batu bata dari gedung yang tinggi ke arah suatu pemukiman dengan mengharapkan bahwa batu itu tidak mengenai dan melukai orang yang mungkin ada atau tidak ada di bawah gedung.

Ketidakpedulian dan Kekhawatiran dapat mempengaruhi alasan kita atas suatu tindakan yang kita perbuat, sama halnya dengan Pengetahuan dan Kepastian juga dapat mempengaruhi alasan kita. Contohnya; Jika saya mengira bahwa anak saya yang sedang sakit mungkin (karena pengetahuan saya akan kemungkinan akibat penyakit tersebut) akan meninggal, saya akan dengan secepatnya mencari dokter; begitu juga sama cepatnya saya akan mencari dokter  jika saya mengetahui pasti (karena saya menyaksikan anak saya sedang sekarat). Dengan demikian, kelompok orang skeptis liberal yang berpikiran terbuka dan kelompok orang yang sepenuhnya membaktikan diri sebagai fundamentalis sangat bersesuaian.

Masih ada hal lain yang perlu diketahui mengenai motivasi misi pewartaan Injil, hal yang lebih penting dari perhitungan dan kemungkinan-kemungkinan yang telah dibahas di atas. Motivasi kita mewartakan Injil bukan hanya untuk menambah jumlah populasi penghuni Surga, dan mengurangi populasi penghuni Neraka; tetapi juga untuk mengundang orang lain untuk ikut hidup dalam rohani yang lebih mendalam: memahami hubungan khusus dan cinta dari Kristus yang membawa ke pendalaman iman, harapan, cinta kasih, kebahagiaan, dan kedamaian. Tanpa pengetahuan eksplisit (pewartaan) akan Kristus, hal pendalaman kehidupan rohani mungkin tidak akan tercapai. Dan tanpa pewartaan, walaupun masih ada kemungkinan keselamatan bagi orang lain yang tidak mengenal Kristus, tetapi jaminan bahwa keselamatan dapat terdengar oleh orang lain tidak mungkin tercapai tanpa pewartaan.

(sekian)