Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Misteri

Wahyu maupun iman bukanlah informasi atau ajaran saja. Iman bukan hanya pengetahuan, tetapi pengenalan. Karena wahyu dan iman manusia diperbolehkan mengenal Allah. Ini tidak sama dengan mengetahui Allah. Memang iman juga tidak buta. Iman mempertemukan manusia sungguh-sungguh dengan Allah. Tetapi Allah tetap Allah, dan itu berarti tetap misteri. Ia “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri; seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1Tim 6:16). Allah yang dapat dilihat manusia bukan Allah lagi, Maka sesudah mewahyukan diri, Allah tetap misteri. “Tak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Kristus mewahyukan Allah: “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa” (Yoh 14:9). Namun demikian, Allah tetap misteri. Dalam diri Kristus pun keallahan tidak tampak. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita”, kata orang Yahudi (Mrk 6:3). Mereka mengajukan protes: “Engkau menghujat Allah; sebab Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh 10:33). Juga dalam diri Yesus Allah tetap tersembunyi, tetap misteri. Dalam diri Yesus dari Nazaret, Allah menyatakan kehadiran-Nya, tetapi dalam rupa seorang manusia.

Dengan kedatangan Kristus, Allah tetap tidak kelihatan, dan gambaran mengenai Allah tetap tidak sama dengan Allah sendiri. Padahal manusia selalu berhubungan dengan Allah melalui gambar dan imajinasi dalam pemikirannya. Maka ada banyak gambaran mengenai Allah, yang semuanya berasal dari manusia sendiri. Gambar-gambar itu biasanya sesuai dengan alam pikiran orang dan dipengaruhi oleh keadaan sosio-psikisnya. Gambaran mengenai Allah dari seorang anak berbeda dengan gambaran dari orang dewasa. Tetapi sering kali orang dewasapun masih menggambarkan Allah secara kekanak-kanakan. Kebudayaan dan tradisi juga memainkan peranan yang penting. Tidak jarang juga gambaran mengenai Allah dimanipulasikan demi tujuan politis atau ekonomis. Maka perlu waspada terhadap gambar-gambar mengenai Allah. Kita harus tetap membedakan antara gambaran yang dibuat manusia dan kenyataan Allah sendiri, karena Allah sendiri sesungguhnya tidak bisa digambarkan secara penuh. Keagungan dan kedahsyatan Allah sering digambarkan secara menakutkan, bahkan sebagai penguasa yang bengis. Ini tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan Yesus. Allah mempesonakan dan juga menarik. Allah lain dari yang lain, tetapi menyatakan diri dalam Yesus sebagai sahabat kita. Allah amat luhur dan amat suci, maka harus didekati penuh hormat dan kesucian.

Gambaran kita mengenai Allah, selalu harus dihadapkan pada gambaran yang diberikan oleh Yesus. Tetapi perlu disadari bahwa Yesus pun berbicara dengan bahasa dan gambaran manusia. Sering kali Yesus mempergunakan perumpamaan, yang diambil dari hidup zaman itu. Bahasa dan kebudayaan Yesus berasal dari adat-istiadat orang Yahudi abad pertama. Maka juga gambaran dari Kitab Suci pun tidak sama dengan Allah sendiri. Di sini perlu diperhatikan apa yang dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria: “Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:24). Orang beriman harus senantiasa berpangkal pada pengalaman hidup dan waspada terhadap segala pengertian dan penggambaran yang mau mengkonkretkan Allah yang dicari. Kita “masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor 5:7). Iman adalah pergumulan terus-menerus mencari cahaya yang terang. Konsili Vatikan II menyatakan:

“Supaya orang dap at beriman diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi dan menimbulkan pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” (DV 5).

Dalam iman orang tidak memiliki pegangan lain kecuali Allah sendiri, yang menyatakan diri dalam bentuk insani. Maka dalam iman manusia harus senantiasa mengatasi gambaran dan pandangan manusiawinya. Penghayatan hubungan dengan Allah selalu lebih penting daripada gambaran dan pengertian.

Hormat terhadap Misteri

Kita sudah melihat bahwa hidup kita merupakan suatu misteri. Allah sebagai sumber, penopang, dan tujuan hidup kita merupakan misteri pula. Kalau kita mencintai dan menghormati hidup kita, maka kita pun harus menghormati sumber dan penopang hidup kita, yaitu dengan menghormati nama-Nya.

Dalam Kitab Suci firman kedua dirumuskan sebagai berikut: “Jangan menyebut nama Yahwe, Allahmu, dengan sembarangan” (Kel 20:7; Ul 5:11). Jadi, orang boleh menyebut nama Tuhan, asalkan tidak “dengan sembarangan”, Dengan kata lain, orang tidak boleh menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat, tidak dengan maksud yang baik, begitu saja seperti omong kosong, singkatnya menyalahgunakan nama Tuhan. Itu dapat berarti sumpah palsu, magi, kutukan, hujat, nubuat penipu, janji kosong, pendek kata segala omongan yang menipu, menyesatkan, atau merugikan. Namun selanjutnya firman ini mempunyai arti yang lebih luas: melarang segala penggunaan nama Tuhan tanpa menghormati kedaulatan-Nya, sebab nama Tuhan itu suci. “Jika engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan Tuhan Allahmu, maka Tuhan akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu” (Ul 28:58). Hormat akan nama Tuhan berarti hormat kepada Tuhan sendiri, dengan sujud dan kagum, dengan tunduk dan cinta.

1. Tuhan itu Misteri

Perintah kedua bukanlah larangan saja, Di dalamnya terkandung perintah dan desakan agar senantiasa menghormati Tuhan. Allah adalah sumber, penopang, dan tujuan hidup. Dengan mengakui dan menghormati Allah, manusia mengakui dasar hidupnya sendiri. Hormat manusia kepada Allah bukan soal kata-kata saja, melainkan benar-benar berasal dari pengalaman hidup itu. Hormat kepada Allah bukan soal adat dan kebiasaan, melainkan sikap pribadi. Janganlah kata Allah menjadi kata hampa, rumus tanpa isi. Memang benar, “tidak seorang pun yang pernah melihat Allah” (Yoh 1:18); Ia “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1Tim 6:16). Tetapi Dia itu Pencipta dan Penguasa hidup kita. Dan “apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak pada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Hormat kepada Allah menuntut hormat kepada hidup, khususnya akan misteri hidup. Dengan mendalami hidupnya sendiri, manusia dapat meraba dan merasakan misteri Allah sendiri.

Misteri tidak sama dengan rahasia. Misteri tidak seluruhnya tersembunyi. Misteri dapat dijangkau dan didalami, tetapi tidak pernah dapat dipahami atau dijelaskan dengan tuntas, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab misteri menyangkut pribadi, person, baik pribadi manusia maupun – terutama – pribadi Allah. Oleh karena itu misteri bukan hanya soal budi dan pengetahuan, melainkan lebih-lebih soal hati dan cinta kasih. Manusia, kalau masuk dalam hatinya sendiri, mengetahui bahwa hidupnya tidak dapat diterangkan dengan beberapa rumus. Hidup bukan hanya hasil proses biologis, aturan sosial, atau sejumlah hukum psikologi. Hidup adalah pertama-tama sesuatu yang dialami dan dihayati dalam kedaulatan pribadi.

Oleh karena itu, manusia mengetahui bahwa ia hidup tetapi ia tidak dapat merumuskan pengetahuan itu secara tuntas, Hidup adalah “misteri”, lebih luas dan lebih besar daripada rumus-rumus ilmiah. Banyak ilmu mencoba menangkap hidup manusia dalam sistem kata dan angka. Tetapi yang ada dalam hati orang mengatasi keterbatasan kata dan angka. Sering dia sendiri tidak menangkap misteri hatinya, apalagi orang lain. Yang paling khas dari hidup manusia adalah transendensinya: ia mengungguli segala rumus dan paham yang terbatas. Hidup tak pernah ditangkap penuh dengan bahasa dan rencana orang, Segala pengetahuan manusia yang konkret dengan sendirinya terbatas, Tetapi keterbukaan manusia, baik budi maupun hatinya, tidak mengenal batas. Dalam transendensinya manusia terbuka terhadap seluruh. kebenaran dan segala kebaikan hidup, Ia selalu dapat bertanya lagi, dan senantiasa mengejar tujuan yang lebih luhur lagi. Keterbukaan tanpa batas ke dalam dunia adalah keterarahan manusia kepada misteri.

2. Mengalami Yang Tak Terbatas

Hidup manusia sekaligus terbatas dan tak terbatas. Terbatas dalam pengalaman yang konkret, tak terbatas dalam keterbukaan kepada misteri. Keduanya dialami bersama-sama dalam setiap langkah hidup manusia, tetapi teristimewa dalam kematian, sebab di situ manusia harus bertanggung jawab atas saatnya yang terakhir, Dasar bertanggung jawab ialah kehidupan sendiri. Tetapi tidak hanya dalam kematian manusia mengalami dua pola kehidupan itu. Dalam semua pengalaman hidup sehari-hari, manusia harus mengakui bahwa hidupnya sekaligus terbatas dan tak-terbatas, Cita-cita dan keterarahannya ke masa depan yang gemilang tidak mengenal batas; tetapi dalam pelaksanaan, dalam pengetahuan dan usaha-usaha, manusia selalu ditentukan oleh sasaran yang terbatas. Malahan kita terpaksa harus mengakui sering kali tidak mampu melaksanakan cita-cita yang luhur itu. Dalam saat-saat tertentu manusia mengalami dengan pahit sekali, bahwa ia tidak mampu melakukan yang ingin dibuatnya, entah karena keterbatasan fisik atau psikis, entah karena ketidakberdayaan moral (bdk, Rm 7:15). Mau tidak mau, manusia harus mengakui bahwa ia mempunyai hidup, tetapi tidak berkuasa atas hidup.

Manusia bukan tuan atas hidupnya. Ia harus mengakui bahwa hidup ini diberikan kepadanya. Memang benar, manusia boleh mengalami hidup sebagai hidupnya sendiri dan merasakan kekuatannya sebagai kekuatannya sendiri. Akan tetapi, sekaligus ia harus mengakui keterbatasannya. Ia tidak dapat melaksanakan hidup menurut kehendak dan cita-citanya sendiri saja. Dari pengalaman bahwa hidup ini di satu pihak benar-benar hidup manusia sendiri namun di pihak lain hidup itu tidak ada dalam kuasanya sendiri, manusia harus mengakui hidup ini sebagai pemberian, anugerah, dan rahmat, Dan dari mana sebetulnya hidup ini diberikan, itulah misteri hidup sendiri. Pemberi hidup, yang disebut Allah, adalah kepenuhan misteri, Dengan nama Allah terungkap misteri segala misteri. Hidup manusia berakar dalam misteri, dan misteri itu harus diakui dan disembah, dalam kehormatan bagi hidup. Karena itu, “Hormatilah nama Allah.”

3. Akulah yang Selalu Hadir

Ketika Musa dipanggil, Tuhan menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Itu terjadi di padang gurun dekat gunung Horeb. Semula Musa tidak mengetahui apa yang terjadi. Tetapi ketika disuruh melepaskan sandalnya, ia mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan Yang Mahatinggi. Tuhan memang memperkenalkan diri: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:1-6). Lalu Tuhan mengutus Musa mengantarkan umat Israel keluar dari Mesir, Pada waktu itu Musa menjadi takut dan meminta tanda bukti: “Apabila aku berkata kepada orang Israel: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya: Siapa nama-Nya, apa yang harus ku jawab?” (ay. 13). Lalu Tuhan menjawab, “Aku adalah Aku; beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu”,

Apa maksud jawaban itu? Apakah Tuhan mau menyingkapkan misteri-Nya atau justru menyembunyikannya? Kalau diterjemahkan “Aku adalah Aku”, tampaknya Tuhan mau menyembunyikan misteri-Nya. Tetapi dalam ayat sebelum dan sesudahnya Tuhan menyebut diri “Allah nenek moyang”, yakni “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”. Tuhan tidak memperkenalkan diri sebagai Allah tersembunyi, melainkan sebagai Tuhan yang sudah mewahyukan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, dan melalui mereka sudah dikenal oleh seluruh bangsa Israel. Khususnya kepada Musa sudah dikatakan sebelumnya: “Aku menyertai engkau’’ yang secara harfiah berarti “Aku hadir padamu”, Sekarang ditegaskan: “Aku akan hadir sebagaimana Aku sudah hadir”; atau seperti dikatakan dalam kitab Wahyu: Aku “Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Why 1:4.8). Jadi, Tuhan itu senantiasa beserta kita, selalu hadir dan tidak akan meninggalkan kita. Sungguh suatu misteri, karena kita tidak mengetahui bagaimana Ia hadir, sementara kita tetap yakin dengan pasti bahwa Ia selalu hadir dan tidak akan melepaskan kita. Itulah Tuhan, Allah kita.

4. Kerelaan Menerima Hidup dari Tangan Allah

“Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah,” kata St. Yohanes, “tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Ini tidak berarti bahwa Yesus pernah membeberkan faham Allah bagi manusia Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya (Yoh 5:18). Kepada orang Yahudi Ia menjelaskan: “tentang Dia kamu berkata: Dia adalah Allah kami” (Yoh 8:54). Sebelum Yesus berbicara mengenai Bapa-Nya, orang sudah harus mengetahui dari dirinya sendiri siapa Allah. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari orang lain, juga tidak dari Yesus. Pengetahuan ini berasal dari pengenalan diri kita sendiri, dari pengakuan misteri hidup kita sendiri. Dengan menerima hidup sebagai pemberian dan anugerah, secara tidak langsung kita mengakui Sang Pemberi. Jadi, manusia tidak langsung mengenal Allah. Ia terlebih dahulu mengenal dirinya sendiri sebagai anugerah dari Dia yang diakui sebagai Allah. Mau menerima hidup dari tangan Allah merupakan kepercayaan dasar yang kemudian menjadi asas segala pembicaraan mengenai Allah. Hanya dengan masuk ke dalam diri kita sendiri, kita mengetahui apa yang dimaksud dengan nama “Allah”. Demikianlah, kerelaan menerima hidup dari tangan Allah adalah kepercayaan dasar, sebab kepercayaan yang terbentuk dalam prakarsa yang merdeka ini merupakan dasar bahasa kita untuk selanjutnya berbicara dengan Allah.

Allah sendiri dan rencana keselamatan-Nya tetap tidak terjangkau, sebagaimana dikatakan baik oleh Kitab Suci maupun oleh Tradisi Gereja. Paulus dengan penuh raga kagum berseru: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Rm 11:33). Dengan resmi pada tahun 1870 Konsili Vatikan I menyatakan, “Gereja percaya dan mengaku bahwa ada satu Allah yang mahakuasa, abadi, tak-terukur, tak-terjangkau, tak-terbatas pengetahuan dan kehendak-Nya serta segala kesempurnaannya” (DS 3001). Kesatuan dengan Allah inilah yang menjadi tujuan hidup manusia. Oleh karena itu, manusia diciptakan secara tak-terbatas, dan dalam keterbukaan seluas-luasnya. Kendati demikian, tak pernah ia akan mencapai Misteri tak-terbatas itu. Selama-lamanya ia terarah kepada Allah yang tak-terbatas, dan tak pernah perkembangan pengetahuan dan kebahagiaannya akan habis, karena telah mencapai apa yang dikejarnya. Baginya Allah senantiasa baru, dan “rahmat-Nya pun baru, setiap pagi” (Rat 3:23). Pengetahuan manusia akan Allah adalah keterbukaannya untuk misteri, penuh cinta dan hormat.

Sering kali manusia takut dan enggan menghadapi misteri Allah. Ia menghendaki kepastian dan pegangan. Itu sebabnya ada orang yang menyangkal misteri Allah demi kepastian ilmu, ada juga yang berusaha “memanipulasikan” misteri atau kekuatan Allah dengan magi atau takhayul. Dengan upacara-upacara, yang rahasia dan sering berbelit-belit, dicoba menguasai daya kekuatan ilahi yang mengatasi manusia, Barang-barang seperti batu, keris, mata air, dan pohon dianggap mempunyai kuasa yang mengatasi kekuatan manusia, dan dengan barang-barang itu mereka mencoba membela diri terhadap segala kekuatan gaib yang mengatasi kemampuan manusia. Dengan sendirinya jelas bahwa manusia menipu diri kalau mengira bahwa dengan sarana-sarana itu – ciptaan manusia sendiri – ia dapat menguasai misteri Allah. Di hadapan keagungan Allah, manusia harus mengakui keterbatasannya dan dengan diam menyembah Allah yang Mahaagung.

Hubungan manusia dengan Allah mulai dalam keheningan hatinya sendiri. Tuhan tidak ada dalam angin besar dan kuat. Tuhan juga tidak ada dalam gempa bumi atau dalam api. Elia menyadari kehadiran-Nya dalam sentuhan angin yang halus (1Raj 19:12). Orang hanya dapat mengenal kasih Allah “yang melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:19) dalam lubuk hatinya yang bebas dan terbuka. Perjumpaan ini dapat terjadi dalam kegelapan malam yang pekat atau dalam keriangan hari yang cerah. Tetapi perjumpaan itu tidak pernah akan terjadi dalam keributan yang menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, Orang tidak akan berjumpa dengan misteri Allah, kalau tidak mau melihat misteri hidupnya sendiri. Ini bukan ajaran yang khas Kristiani saja, melainkan pengalaman hidup semua orang yang dengan sungguh-sungguh mencari Allah.

Misteri dan Makna Hidup

Kalau dilihat dari luar, seolah-olah “nasib manusia sama dengan nasib binatang; sebagaimana yang satu mati, begitu juga yang lain” (Pkh 3:19). Akan tetapi, manusia bukan binatang. Ia mempunyai cita-cita, ia mempunyai rencana, ia tahu mau ke mana. Memang sering hidupnya berjalan lain daripada rencananya, dan nasibnya berbeda dengan cita-citanya. Manusia menyadari hal itu, justru karena ia tahu kemana sebetulnya arah yang ditujunya. Bagaimanapun juga, manusia mengalami hidupnya seakan hanya berjalan dari kemarin ke esok. Dari esok ke lusa. Ia berjalan terus, entah sampai ke mana. Hidup itu sungguh suatu misteri. Karena itu pulalah, manusia selalu bertanya tentang dan mencari makna hidupnya.

Hormat terhadap Misteri

Hormat terhadap Misteri
 
Kita sudah melihat bahwa hidup kita merupakan suatu misteri. Allah sebagai sumber, penopang, dan tujuan hidup kita merupakan misteri pula. Kalau kita mencintai dan menghormati hidup kita, maka kita pun harus menghormati sumber dan penopang hidup kita, yaitu dengan menghormati nama-Nya.
 
Dalam Kitab Suci firman kedua dirumuskan sebagai berikut: “Jangan menyebut nama Yahwe, Allahmu, dengan sembarangan” (Kel 20:7; Ul 5:11). Jadi, orang boleh menyebut nama Tuhan, asalkan tidak “dengan sembarangan”, Dengan kata lain, orang tidak boleh menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat, tidak dengan maksud yang baik, begitu saja seperti omong kosong, singkatnya menyalahgunakan nama Tuhan. Itu dapat berarti sumpah palsu, magi, kutukan, hujat, nubuat penipu, janji kosong, pendek kata segala omongan yang menipu, menyesatkan, atau merugikan. Namun selanjutnya firman ini mempunyai arti yang lebih luas: melarang segala penggunaan nama Tuhan tanpa menghormati kedaulatan-Nya, sebab nama Tuhan itu suci. “Jika engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan Tuhan Allahmu, maka Tuhan akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu” (Ul 28:58). Hormat akan nama Tuhan berarti hormat kepada Tuhan sendiri, dengan sujud dan kagum, dengan tunduk dan cinta.
 
 
1.  Tuhan itu Misteri
 
Perintah kedua bukanlah larangan saja, Di dalamnya terkandung perintah dan desakan agar senantiasa menghormati Tuhan. Allah adalah sumber, penopang, dan tujuan hidup. Dengan mengakui dan menghormati Allah, manusia mengakui dasar hidupnya sendiri. Hormat manusia kepada Allah bukan soal kata-kata saja, melainkan benar-benar berasal dari pengalaman hidup itu. Hormat kepada Allah bukan soal adat dan kebiasaan, melainkan sikap pribadi. Janganlah kata Allah menjadi kata hampa, rumus tanpa isi. Memang benar, “tidak seorang pun yang pernah melihat Allah” (Yoh 1:18); Ia “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1Tim 6:16). Tetapi Dia itu Pencipta dan Penguasa hidup kita. Dan “apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak pada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Hormat kepada Allah menuntut hormat kepada hidup, khususnya akan misteri hidup. Dengan mendalami hidupnya sendiri, manusia dapat meraba dan merasakan misteri Allah sendiri.
 
Misteri tidak sama dengan rahasia, Misteri tidak seluruhnya tersembunyi. Misteri dapat dijangkau dan didalami, tetapi tidak pernah dapat dipahami atau dijelaskan dengan tuntas, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab misteri menyangkut pribadi, person, baik pribadi manusia maupun – terutama – pribadi Allah. Oleh karena itu misteri bukan hanya soal budi dan pengetahuan, melainkan lebih-lebih soal hati dan cinta kasih. Manusia, kalau masuk dalam hatinya sendiri, mengetahui bahwa hidupnya tidak dapat diterangkan dengan beberapa rumus. Hidup bukan hanya hasil proses biologis, aturan sosial, atau sejumlah hukum psikologi. Hidup adalah pertama-tama sesuatu yang dialami dan dihayati dalam kedaulatan pribadi.
 
Oleh karena itu, manusia mengetahui bahwa ia hidup tetapi ia tidak dapat merumuskan pengetahuan itu secara tuntas. Hidup adalah “misteri”, lebih luas dan lebih besar daripada rumus-rumus ilmiah. Banyak ilmu mencoba menangkap hidup manusia dalam sistem kata dan angka. Tetapi yang ada dalam hati orang mengatasi keterbatasan kata dan angka. Sering dia sendiri tidak menangkap misteri hatinya, apalagi orang lain. Yang paling khas dari hidup manusia adalah transendensinya: ia mengungguli segala rumus dan paham yang terbatas. Hidup tak pernah ditangkap penuh dengan bahasa dan rencana orang, Segala pengetahuan manusia yang konkret dengan sendirinya terbatas, Tetapi keterbukaan manusia, baik budi maupun hatinya, tidak mengenal batas. Dalam transendensinya manusia terbuka terhadap seluruh. kebenaran dan segala kebaikan hidup, Ia selalu dapat bertanya lagi, dan senantiasa mengejar tujuan yang lebih luhur lagi. Keterbukaan tanpa batas ke dalam dunia adalah keterarahan manusia kepada misteri.
 
 
2. Mengalami Yang Tak Terbatas
 
Hidup manusia sekaligus terbatas dan tak terbatas. Terbatas dalam pengalaman yang konkret, tak terbatas dalam keterbukaan kepada misteri. Keduanya dialami bersama-sama dalam setiap langkah hidup manusia, tetapi teristimewa dalam kematian, sebab di situ manusia harus bertanggung jawab atas saatnya yang terakhir, Dasar bertanggung jawab ialah kehidupan sendiri. Tetapi tidak hanya dalam kematian manusia mengalami dua pola kehidupan itu. Dalam semua pengalaman hidup sehari-hari, manusia harus mengakui bahwa hidupnya sekaligus terbatas dan tak-terbatas. Cita-cita dan keterarahannya ke masa depan yang gemilang tidak mengenal batas; tetapi dalam pelaksanaan, dalam pengetahuan dan usaha-usaha, manusia selalu ditentukan oleh sasaran yang terbatas. Malahan kita terpaksa harus mengakui sering kali tidak mampu melaksanakan cita-cita yang luhur itu. Dalam saat-saat tertentu manusia mengalami dengan pahit sekali, bahwa ia tidak mampu melakukan yang ingin dibuatnya, entah karena keterbatasan fisik atau psikis, entah karena ketidakberdayaan moral (bdk, Rm 7:15). Mau tidak mau, manusia harus mengakui bahwa ia mempunyai hidup, tetapi tidak berkuasa atas hidup.
 
Manusia bukan tuan atas hidupnya. Ia harus mengakui bahwa hidup ini diberikan kepadanya. Memang benar, manusia boleh mengalami hidup sebagai hidupnya sendiri dan merasakan kekuatannya sebagai kekuatannya sendiri. Akan tetapi, sekaligus ia harus mengakui keterbatasannya. Ia tidak dapat melaksanakan hidup menurut kehendak dan cita-citanya sendiri saja. Dari pengalaman bahwa hidup ini di satu pihak benar-benar hidup manusia sendiri namun di pihak lain hidup itu tidak ada dalam kuasanya sendiri, manusia harus mengakui hidup ini sebagai pemberian, anugerah, dan rahmat, Dan dari mana sebetulnya hidup ini diberikan, itulah misteri hidup sendiri. Pemberi hidup, yang disebut Allah, adalah kepenuhan misteri, Dengan nama Allah terungkap misteri segala misteri. Hidup manusia berakar dalam misteri, dan misteri itu harus diakui dan disembah, dalam kehormatan bagi hidup. Karena itu, “Hormatilah nama Allah.”
 
 
3. Akulah yang Selalu Hadir
 
Ketika Musa dipanggil, Tuhan menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Itu terjadi di padang gurun dekat gunung Horeb. Semula Musa tidak mengetahui apa yang terjadi. Tetapi ketika disuruh melepaskan sandalnya, ia mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan Yang Mahatinggi. Tuhan memang memperkenalkan diri: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:1-6). Lalu Tuhan mengutus Musa mengantarkan umat Israel keluar dari Mesir, Pada waktu itu Musa menjadi takut dan meminta tanda bukti: “Apabila aku berkata kepada orang Israel: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya: Siapa nama-Nya, apa yang harus ku jawab?” (ay. 13). Lalu Tuhan menjawab, “Aku adalah Aku; beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu”,
 
Apa maksud jawaban itu? Apakah Tuhan mau menyingkapkan misteri-Nya atau justru menyembunyikannya? Kalau diterjemahkan “Aku adalah Aku”, tampaknya Tuhan mau menyembunyikan misteri-Nya. Tetapi dalam ayat sebelum dan sesudahnya Tuhan menyebut diri “Allah nenek moyang”, yakni “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”. Tuhan tidak memperkenalkan diri sebagai Allah tersembunyi, melainkan sebagai Tuhan yang sudah mewahyukan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, dan melalui mereka sudah dikenal oleh seluruh bangsa Israel. Khususnya kepada Musa sudah dikatakan sebelumnya: “Aku menyertai engkau’’ yang secara harfiah berarti “Aku hadir padamu”, Sekarang ditegaskan: “Aku akan hadir sebagaimana Aku sudah hadir”; atau seperti dikatakan dalam kitab Wahyu: Aku “Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Why 1:4.8). Jadi, Tuhan itu senantiasa beserta kita, selalu hadir dan tidak akan meninggalkan kita. Sungguh suatu misteri, karena kita tidak mengetahui bagaimana Ia hadir, sementara kita tetap yakin dengan pasti bahwa Ia selalu hadir dan tidak akan melepaskan kita. Itulah Tuhan, Allah kita.
 
 
4. Kerelaan Menerima Hidup dari Tangan Allah
 
“Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah,” kata St. Yohanes, “tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Ini tidak berarti bahwa Yesus pernah membeberkan faham Allah bagi manusia Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya (Yoh 5:18). Kepada orang Yahudi Ia menjelaskan: “tentang Dia kamu berkata: Dia adalah Allah kami” (Yoh 8:54). Sebelum Yesus berbicara mengenai Bapa-Nya, orang sudah harus mengetahui dari dirinya sendiri siapa Allah. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari orang lain, juga tidak dari Yesus. Pengetahuan ini berasal dari pengenalan diri kita sendiri, dari pengakuan misteri hidup kita sendiri. Dengan menerima hidup sebagai pemberian dan anugerah, secara tidak langsung kita mengakui Sang Pemberi. Jadi, manusia tidak langsung mengenal Allah. Ia terlebih dahulu mengenal dirinya sendiri sebagai anugerah dari Dia yang diakui sebagai Allah. Mau menerima hidup dari tangan Allah merupakan kepercayaan dasar yang kemudian menjadi asas segala pembicaraan mengenai Allah. Hanya dengan masuk ke dalam diri kita sendiri, kita mengetahui apa yang dimaksud dengan nama “Allah”. Demikianlah, kerelaan menerima hidup dari tangan Allah adalah kepercayaan dasar, sebab kepercayaan yang terbentuk dalam prakarsa yang merdeka ini merupakan dasar bahasa kita untuk selanjutnya berbicara dengan Allah.
 
Allah sendiri dan rencana keselamatan-Nya tetap tidak terjangkau, sebagaimana dikatakan baik oleh Kitab Suci maupun oleh Tradisi Gereja. Paulus dengan penuh raga kagum berseru: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Rm 11:33). Dengan resmi pada tahun 1870 Konsili Vatikan I menyatakan, “Gereja percaya dan mengaku bahwa ada satu Allah yang mahakuasa, abadi, tak-terukur, tak-terjangkau, tak-terbatas pengetahuan dan kehendak-Nya serta segala kesempurnaannya” (DS 3001). Kesatuan dengan Allah inilah yang menjadi tujuan hidup manusia. Oleh karena itu, manusia diciptakan secara tak-terbatas, dan dalam keterbukaan seluas-luasnya. Kendati demikian, tak pernah ia akan mencapai Misteri tak-terbatas itu. Selama-lamanya ia terarah kepada Allah yang tak-terbatas, dan tak pernah perkembangan pengetahuan dan kebahagiaannya akan habis, karena telah mencapai apa yang dikejarnya. Baginya Allah senantiasa baru, dan “rahmat-Nya pun baru, setiap pagi” (Rat 3:23). Pengetahuan manusia akan Allah adalah keterbukaannya untuk misteri, penuh cinta dan hormat.
 

Sering kali manusia takut dan enggan menghadapi misteri Allah. Ia menghendaki kepastian dan pegangan. Itu sebabnya ada orang yang menyangkal misteri Allah demi kepastian ilmu, ada juga yang berusaha “memanipulasikan” misteri atau kekuatan Allah dengan magi atau takhayul. Dengan upacara-upacara, yang rahasia dan sering berbelit-belit, dicoba menguasai daya kekuatan ilahi yang mengatasi manusia, Barang-barang seperti batu, keris, mata air, dan pohon dianggap mempunyai kuasa yang mengatasi kekuatan manusia, dan dengan barang-barang itu mereka mencoba membela diri terhadap segala kekuatan gaib yang mengatasi kemampuan manusia. Dengan sendirinya jelas bahwa manusia menipu diri kalau mengira bahwa dengan sarana-sarana itu – ciptaan manusia sendiri – ia dapat menguasai misteri Allah. Di hadapan keagungan Allah, manusia harus mengakui keterbatasannya dan dengan diam menyembah Allah yang Mahaagung.

 
Hubungan manusia dengan Allah mulai dalam keheningan hatinya sendiri. Tuhan tidak ada dalam angin besar dan kuat. Tuhan juga tidak ada dalam gempa bumi atau dalam api. Elia menyadari kehadiran-Nya dalam sentuhan angin yang halus (1Raj 19:12). Orang hanya dapat mengenal kasih Allah “yang melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:19) dalam lubuk hatinya yang bebas dan terbuka. Perjumpaan ini dapat terjadi dalam kegelapan malam yang pekat atau dalam keriangan hari yang cerah. Tetapi perjumpaan itu tidak pernah akan terjadi dalam keributan yang menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, Orang tidak akan berjumpa dengan misteri Allah, kalau tidak mau melihat misteri hidupnya sendiri. Ini bukan ajaran yang khas Kristiani saja, melainkan pengalaman hidup semua orang yang dengan sungguh-sungguh mencari Allah.