Arti dari Kebangkitan

Apa artinya mempercayai bahwa Yesus “bangkit dari mati”? Salah satunya pengertian yang pasti adalah, bahwa siapa yang mengikuti Dia akan mengalami hal yang sama. Kitab Perjanjian Baru jelas memuat hal itu (lihat, contoh, 1 Korintus 15:12-23.).

Tetapi apa arti dari kata-kata itu? Di satu sisi, kata-kata itu berarti sangat sederhana: Yesus bangkit “dari mati” (atau dengan kata lain, “dari jenazah”, tubuh yang telah mati). Kata-kata yang terdapat di dalam kredo (syahadat) pada masa awal adalah anastasis sarkos dan  anastasis nekron, yang artinya “berdirinya [atau bangunnya] daging” dan “berdirinya tubuh jenazah”. Kedua ekspresi tersebut berusaha menyatakan kenyataan sebisanya. Anastasis merupakan kata untuk merujuk postur badan. Sarkos dan nekron berarti bahwa tubuh yang nyata secara konkrit dari yang telah mati akan bangkit.

Namun muncul pertanyaan yang tidak sederhana; Jenis badan/tubuh yang bagaimana yang dimaksud dalam kebangkitan badan? Kebangkitan badan Yesus menunjukkan bukti yang sangat lain, bagi para muridnya dan teman-teman dekat Yesus pada awalnya mereka tidak mengenali Yesus yang tampak dengan badan yang telah bangkit, tetapi kemudian mengenali setelah Yesus menyatakan kepada mereka. Paulus mengemukakan analogi untuk menjelaskan ini, walaupun tidak dapat menghilangkan misteri yang terkandung. Pada 1 Korintus 15, Paulus menganalogikan tubuh (badan) baru kita, seperti tubuh baru Yesus, adalah berbeda dengan tubuh yang lama yang kita miliki, perbedaan itu layaknya seperti matahari berbeda dengan bulan, hewan berbeda dengan tumbuhan, tumbuhan berbeda dengan benih. Bentuk baru tersebut tidak sesuai dengan kategori dari bentuk yang lama. Namun analogi ini hanya untuk persiapan bagi kita untuk menghadapi jika bentuk baru tersebut adalah karya penciptaan baru dari Allah.

Kita juga tidak mengetahui bagaimana sebenarnya Yesus bangkit. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian itu secara langsung, yang ada banyak orang yang mengalami dan menyaksikan kejadian setelah Yesus yang bangkit. Tidak ada yang mengetahui teknologi bagaimana yang digunakan Allah. Dalam pengertian ini kita tidak dapat mendefiniskan Kebangkitan. Tetapi kita dapat membedakan Kebangkitan dari 10 (sepuluh) alternatif yang terkadang dapat membingungkan kita.

  1. Yesus yang bangkit bukanlah berupa roh atau hantu. Kebingungan dalam hal ini adalah hal yang pertama muncul di benak para rasul (Lukas 24:36-43). Yesus membuktikan bahwa anggapan di benak para rasul salah dengan menunjukkan luka pada tangan dan kaki-Nya yang berupa daging, dan Yesus juga ikut memakan ikan yang disediakan pada murid-Nya. Roh atau hantu tidak mempunyai wujud badan atau daging; tetapi Yesus yang telah bangkit memiliki tubuh yang nyata; oleh karena itu Yesus yang telah bangkit bukanlah hantu.
  2. Kebangkitan Yesus Kristus (Resurrection) bukanlah resusitasi (Resuscitation), bukan seperti pengembalian tidak sadar menjadi sadar, atau bukan seperti kejadian ‘kebangkitan’ Lazarus yang tertulis di Kitab Perjanjian Baru. Tubuh Lazarus yang keluar dari kuburannya adalah tubuh yang sama ketika Lazarus diantar ke dalam kuburannya. Dia masih tetap mengenakan kain kafan (Yohanes 11:44). Sedangkan kain kafan yang dikenakan Yesus, terlipat rapi di dalam kubur Yesus (Yohanes 20:6-7). Lazarus pada akhir usia tuanya akan meninggal, mati lagi. Sedangkan Yesus tidak (Roma 6:9). Lazarus mirip seperti kebanyakan pasien pada jaman sekarang yang mengalami resusitasi dan kembali sadar dari “pengalaman hampir-mati” atau “pengalaman keluar-dari-tubuh”. Apapun kejadian resusitasi tersebut, adalah bersifat sementara. Sedangkan Kebangkitan Yesus bersifat permanen, kekal, abadi.
  3. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah Reinkarnasi. Reinkarnasi mirip dengan Resusitasi, yang hanya memberikan tubuh yang lain tetapi tetap berupa tubuh  duniawi. Kebangkitan badan/tubuh Yesus adalah kekal, abadi. Tubuh yang dimaksud dalam kebangkitan adalah tubuh yang lama dan sekaligus tubuh yang lebih baru daripada tubuh Yesus ketika dibangkitkan. Tubuh Yesus disebut tubuh yang lama, karena tubuh Yesus masih dapat dikenali oleh para muridnya, dan Tubuh Yesus disebut tubuh yang baru karena tubuh tersebut abadi, kekal.
  4. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari pemahaman mengenai keabadian (immortality) oleh paham plato atau gnostik. Dimana paham plato atau gnostik memahami keabadian/kekekalan sebagai terbebasnya jiwa dari keterikatan dari tubuh. Kebangkitan Yesus bukan untuk dipahami sebagai pencapaian keabadian/kekekalan jiwa. Karena jika kebangkitan Yesus dipahami seperti demikian maka hal tersebut tidak berbeda dengan pemahaman yang sudah biasa dimiliki oleh budaya/daerah pada jaman dahulu seperti Yahudi dan Yunani; yaitu manusia dirasuki oleh suatu “jiwa” yang kemudian nantinya pada saat hidup dari manusia tersebut berakhir “jiwa” tersebut keluar dan menuju suatu dunia bayangan yang dinamakan Sheol (Yahudi) … atau Hades (Yunani) .. atau “heaven” (Budaya saat ini). Doktrin-doktrin yang dipahami oleh pada masa awal budaya Yahudi dan Yunani ini dikenal sebagai doktrin “Keabadian Jiwa” berbeda dan tidak ada hubunganya dengan kisah Kebangkitan Yesus. Kita harus memahami perbedaan pemahaman ini, bahwa Kebangkitan Yesus adalah suatu kejadian yang baru, bukti/fakta yang baru terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus lah yang disebut “buah yang pertama”, “sulung, yang bangkit dari antara orang mati”. Yesus berkuasa membuka pintu yang terkunci sejak kematian manusia yang pertama. Yesus telah bertemu, menghadapi, dan mengalahkan Maut. Dan setelah kemenangan Yesus itu, semua menjadi berbeda karena Dia telah melakukannya.
  5. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Penerangan Jiwa (Enlightenment), atau Nirvana, atau satori, atau moksha — hal-hal serupa yang dikenal dalam agama Hindu atau Budha sebagai hal yang diharapkan sesudah kematian: yaitu hilangnya pribadi individu dan suatu penyerapan kembali ke dalam yang Satu, sang Semesta. Sedangkan Yesus yang telah bangkit adalah individu yang benar-benar berbeda.
  6. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari ‘perpindahan’, ‘pengangkatan’, atau ‘penerimaan’ ke dalam surga. Perpindahan, pengangkatan, dan penerimaan ke dalam surga dalam perjanjian lama terjadi pada nabi Henokh (kakek buyut nabi Nuh), Elia, dan Musa. Gereja Katolik mempercayai hal ini juga terjadi pada Maria ibu Yesus, Maria diangkat ke dalam surga. Tetapi Yesus bukanlah dibawa dari bumi ke surga dengan Kebangkitan-Nya, melainkan dari dunia orang mati Dia kembali ke dunia, dunia orang hidup.
  7. Kebangkitan Yesus Kristus dibedakan dari sebuah ‘pandangan’, ‘penglihatan’ (vision, pengalaman spiritual). Walaupun suatu penglihatan yang diadakan oleh Allah, atau oleh alam bawah sadar kita sendiri, atau oleh roh jahat, sebuah penglihatan pada prinsipnya tetaplah bersifat spiritual dan subjektif; yaitu berada di dalam kesadaran kita sendiri. Tetapi yang terjadi pada Kebangkitan Yesus bukanlah suatu ‘pandangan’ atau ‘penglihatan’, Kebangkitan Badan Yesus telah disaksikan oleh orang-orang banyak, secara terbuka, pada saat yang sama. Bahkan Yesus dapat disentuh dan makan bersama dengan murid-muridnya.
  8. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Legenda. Legenda, walaupun ada bobot nilai kebijaksanaan di dalamnya, adalah tetap suatu fiksi belaka (tidak nyata) yang dibuat oleh pikiran manusia biasa, bukan oleh Allah, dan bukan oleh alam.
  9. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah mitos. JIka kita ingin membedakan mitos dengan legenda, kita dapat menganggap mitos secara simbolik adalah benar. Sebagai contoh, ada suatu agama di Timur Dekat (kawasan Levant atau Sham, Anatolia, Mesopotamia, dan Plato Iran) yang mempercayai adanya banyak dewa gandum, dewa jagung, dan dewa buah-buahan lainnya yang bangkit dari kematian setiap musim semi. Dewa-dewa ini tidak ada sebenarnya, tetapi kehidupan baru buah yang baru benar-benar ada. Dan jika dihubungkan dengan kisah Kebangkitan Yesus, kelihatannya mirip dan pemikiran yang keliru ini dapat menarik kesimpulan bahwa Kebangkitan Yesus juga adalah mitos. Tetapi Kebangkitan Yesus yang sebenarnya tidaklah mirip dengan mitos. Kebangkitan Yesus punya poin-poin penekanan yang merupakan kenyataan, secara spesifik, benar-benar terjadi pada waktu dan tempat sejarah dan dibenarkan oleh saksi mata. Perjanjian baru secara eksplisit membedakan Kebangkitan Yesus dari mitos dan legenda: “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” (2 Petrus 1:16).Para demitolog moderen yang mengatakan bahwa mereka mempercayai Kebangkitan Yesus, tetapi hanya sebatas mitos, melakukan peniadaan klaim, mengaburkan data — sama halnya seperti jika ada orang yang mengklaim sebagai seorang Nazi, dan percaya bahwa ras Aria adalah ras yang unggul dari pemahaman mitologi sementara mereka membantah bahwa ras Aria adalah benar-benar unggul.Para demitolog berusaha membantah ini dengan membedakan heilsge-schichte (sejarah suci) dari yang biasanya, sejarah (sekular); dengan mengatakan bahwa Kebangkitan Yesus benar-benar terjadi pada awalnya (sejarah suci), dan tidak terjadi pada sejarah (sekular). Namun usaha ini tidak memadai karena jika hal itu benar terjadi, maka hal tersebut benar-benar terjadi waktu lampu sama halnya dengan kelahiran, perang, baik hal yang buruk atau baik. Dan jika tidak benar terjadi, jangan mengatakan hal tersebut sebagai suatu istilah dengan ‘sejarah’, melainkan cukup dengan mengatakan hal tersebut adalah fiksi.
  10. Kebangkitan Yesus Kristus harus benar-benar jelas dibedakan dari apa yang dikemukakan oleh moderenis dalam baris kalimat: “kebangkitan akan iman kebangkitan” dalam hati dan kehidupan para murid. “Iman Kebangkitan ” tanpa Kebangkitan yang sebenarnya adalah suatu kontrakdiksi dan menipu diri sendiri. Iman tersebut adalah iman akan sesuatu yang tidak lebih dari iman itu sendiri. Dan jika hal itu adalah iman, maka kita perlu bertanya: Iman akan iman apa? Iman itu seperti pengetahuan; perlu suatu objek. Jika tidak ada objek, dan hanya iman akan iman itu saja; maka iman itu seperti cermin yang memantulkan cermin yang dihadapannya. Iman dalam iman adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak normal. Sama seperti ingin merasakan daging ayam tanpa memakan daging ayam. Para murid tidak dapat mengalami kebangkitan iman dan harapan tanpa suatu kebangkitan yang nyata. Oleh karena itu, Jika bukan karena Kebangkitan Yesus, lalu siapa yang merubah para murid dari takut jadi pemberani dan mengubah dunia?

Surga dan Neraka

… baca juga Apa itu Surga?

Kita mengetahui, “bila kemah kediaman kita di bumi telah dibongkar, Allah menyediakan bagi kita suatu tempat kediaman di surga” (1Kor 5:1). Tetapi tidak ada yang mengetahui rupa surga. Barangkali juga kurang tepat berbicara mengenai “rupa” surga, sebab surga berarti kebahagiaan manusia dalam kesatuan dengan Allah. Bahwa surga digambarkan bagaikan sebuah tempat, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Kalau tidak ada badan, tidak perlu tempat. Di surga memang ada badan, yaitu tubuh Kristus. Tetapi itu adalah tubuh yang mulia dan tidak bisa dibandingkan dengan tempat dan waktu kita sekarang. Yang pokok dari surga ialah bahwa itu tempat Allah (lih. Mzm 2:4; Why 11:13; 16:11).

Dalam agama Yahudi “surga” malah dapat menggantikan nama Tuhan (sebagaimana masih kelihatan dari perbandingan “Kerajaan Allah” dan “Kerajaan surga”). Maka mengenai Kristus dikatakan bahwa Ia “duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga” (Ibr 8:1), dan kita “menantikan kedatangan Anak Allah dari surga” (1Tes 1:10). Secara konsekuen dikatakan bahwa “kewargaan kita ada di surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21). Lukas malah melukiskan kemuliaan Yesus dengan berkata bahwa Ia naik ke surga (Luk 24:50-53; Kis 1:6-11). Yohanes mengungkapkan keallahan Kristus dengan berkata bahwa Ia “turun dari surga” (Yoh 3:13; lih. 6:38.42), dalam arti bahwa “yang datang dari atas, adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31).

Segala ketentuan konkret dalam Kitab Suci mengenai surga sebagai tempat kediaman Allah, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Yang pokok adalah Allah dan kesatuan dengan-Nya.

Itulah arti dari kata-kata seperti: “upahmu besar di surga” (Mat 5:12); “kumpulkanlah bagimu harta di surga” (Mat 6:20); “namamu sudah terdaftar di surga (Luk 10:20); “pengharapan disediakan bagi kamu di surga” (Kol 1:5); “bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, tersimpan bagimu di surga” (1Ptr 1:4). Begitu juga ”Yerusalem baru turun dari surga” (Why 3:12; 21:2.10).

Oleh karena itu pantas ditanyakan sejauh mana surga berbeda dengan kebangkitan? Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Kristus. Paulus bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” (1Kor 15:35). Lalu dijawab: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” (1Kor 15:42- 44). Bagaimana semua itu akan terjadi, Paulus juga tidak tahu. Sebab “apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati orang: semua itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” (1Kor 2:9).

Tetapi jelaslah apa yang dikatakan Yesus: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Jalan kepada Bapa melalui Yesus. Yesus sudah “meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28). Ia berjanji bahwa “akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Yesus masuk ke tempat Bapa dengan kebangkitan-Nya. Maka bagi kita pun surga tidak lain dari ikut dibangkitkan bersama Kristus. Tetapi sebagaimana Kristus bangkit dari maut, begitu juga bagi kita jalan ke surga melalui maut. Kebangkitan berarti bahwa sesudah hidup ini kita menerima kebahagiaan dari Allah.

Di sini tentu timbul kesulitan bahwa ada waktu yang cukup lama antara kematian dan kebangkitan, yang akan terjadi pada akhir zaman. Maka biasanya dikatakan, bahwa sebelum badan dibangkitkan, jiwa sudah masuk surga dan dapat memandang Allah. Tetapi, kalau jiwa terpisah dari badan, maka orangnya mati. Kerohanian manusia tidak berarti bahwa jiwanya dapat berjalan sendirian, dan kebangkitan juga tidak hanya menyangkut badan. Kebangkitan badan berarti mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus. Kristus adalah “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20; lih. Kol 1:18). Dan “semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22; lih. 2Kor 4:11). Maka di sini pun yang pokok adalah kesatuan dengan Kristus. Masalah kebangkitan badan menyangkut perbedaan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita. Barangkali rumus yang paling tepat terdapat dalam Kol 3:3: “Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus dalam Allah”.

Mengenai hal ini, pada tahun 1979 Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan penjelasan sebagai berikut.: “Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian unsur rohani dalam manusia terus hidup sendiri, dengan sadar dan berkemauan, sehingga diri manusia, biarpun tidak lengkap karena tidak ada tubuh, berada terus. Unsur rohani ini oleh Gereja disebut “jiwa”, sesuai dengan kebiasaan berbicara berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi”.

Kebangkitan itu karya Allah. Juga mengenai Yesus tidak pernah dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Ia bangkit sendiri; melainkan “dibangkitkan”. Yang membangkitkan ialah Allah Bapa. Kebangkitan itu rahmat, anugerah dari Allah, “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Oleh sebab itu manusia sebenarnya tidak dapat menangkap dan memahami arti kebangkitan. Kebangkitan tidak dapat dimengerti berpangkal pada hidup manusia di dunia ini. Kebangkitan tidak berarti”: hidup kembali, seperti yang terjadi dengan putri Yairus, pemuda dari Nain dan Lazarus yang kemudian hari akan meninggal lagi, Mereka belum menerima “tubuh rohani” (1Kor 15:45), tetapi dikembalikan kepada hidup yang fana ini dan harus mati lagi.

Lain halnya dengan kebangkitan Yesus. “Sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, Ia tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm 6:9). Ia “beralih dari dunia ini kepada Bapa” (Yoh 13:3), masuk ke dalam dunia ilahi. Itulah sebetulnya kebangkitan. Dengan kematian dialami suatu perubahan dalam hubungan antara jiwa dan badan, dan perubahan itulah yang disebut kebangkitan, sebab dalam hidup sekarang jiwa ditentukan oleh badan (khususnya dalam perbatasan waktu dan tempat). Dalam kebangkitan hal itu dibalik: badan ditentukan oleh jiwa, yang dipenuhi oleh Roh. Oleh karena itu, dengan kebangkitan diciptakan waktu dan tempat yang baru: “surga yang baru dan dunia yang baru” (Why 21:2). Maksudnya, dunia materiil ini diangkat seluruhnya ke dalam dunia Roh. Materi tidak lagi berarti hidup sementara dan fana. Dalam kebangkitan, tubuh mencapai kebakaan, menjadi penampakan kesatuan dengan Allah. Pada Yesus (dan Maria) perubahan itu sudah terlaksana. Manusia yang lain harus menunggu sampai perubahan dunia seluruhnya pada hari kiamat. Sementara itu ia dapat tetap hidup dalam kesatuan dengan Allah, sebab ia “mati dalam Kristus” (1Tes 4:16). Kesatuan dengan Kristus dalam kematian menjamin partisipasi dalam kebangkitan. Dasarnya jelas, tetapi bagaimana akan terlaksana kelak, tidak diwahyukan.

Kiranya perlu diingat bahwa dalam Kitab Suci kebangkitan orang mati selalu menyangkut keselamatan. Orang berdosa sebetulnya tidak bangkit. Memang semua orang mati tampil dalam pengadilan (lih. Mat 25:31-46), tetapi hanya sebagian diterima ke dalam Kerajaan. Yang lain “masuk ke tempat siksaan yang kekal”, yang oleh Yohanes disebut “kematian kedua” (lih. Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Kebangkitan tidak lepas dari Kristus, yang adalah”yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Orang lain “dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22). Dan itu berarti bahwa mereka mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus di dalam Kerajaan Allah.

Neraka harus dimengerti sebagai lawan surga. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka neraka berarti keterpisahan dari Allah. Semua hal lain mengenai api dan siksaan badan juga bersifat bahasa kiasan, Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka bukan siksaan, sebab setiap orang mendambakan kesatuan dengan Allah. Tanpa Allah orang tidak dapat hidup bahagia. Di dunia ini mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut. Oleh karena itu Yohanes menyebut neraka “kematian kedua” (Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Tidak dapat dibayangkan, apa arti mati terus-menerus. Itu memang bahasa kiasan juga. Tetapi, kalau Tuhan “memberikan hidup dan nafas kepada semua orang” (Kis 17:25; bdk. Ayb 12:10; Yes 42:5), maka jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut. Tidak dapat dibayangkan; namun itulah kata yang tepat untuk neraka.

Banyak orang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah yang baik dan maharahim menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka?” Bagaimanapun bentuknya, neraka tampaknya tidak cocok dengan Allah sendiri dan karya keselamatan-Nya. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diperhatikan bahwa surga dan neraka tidak bisa disejajarkan begitu saja, bagaikan dua pintu yang bebas dipilih. Kemungkinan bahwa manusia gagal secara total tidak sama dengan kemungkinan mencapai keselamatan. “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih-karunia berlimpah-limpah” (Rm 5:20). Kristus sudah mengalahkan dosa dan maut, “dengan memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1Ptr 2:24).

Wafat dan kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka sebetulnya tidak ada. Neraka berarti penolakan total terhadap Allah. Itu mungkin. Kapan terjadi, tidak ada orang yang mengetahuinya. Orang Yahudi pernah bertanya kepada Yesus: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak memberi jawaban; Ia hanya berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” (Luk 13:23- 24). Neraka tidak mustahil. Manusia dapat menutup diri untuk rahmat dan belas kasihan Tuhan. Ini bukan sesuatu yang “kebetulan” terjadi, dan mempunyai akibat abadi karena kematian. Sikap ini menyangkut sikap dasar manusia, dan diteguhkan oleh kematian.

Kematian

“Di sini kita tidak mempunyai tempat-tinggal yang tetap” (Ibr 13:14). Ini bukan hanya iman Kristen. Semua orang mengetahui itu: “Masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kita kuat, delapan puluh” (Mzm 90:10). Cepat atau lambat, hidup kita berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, sekarang ini pun, setiap saat kehidupan, kita berada “dalam bahaya maut sepanjang hari” (Mzm 44:23) dan “menjadi incaran maut sejak kecil” (Mzm 88:16). Maut bukanlah sesuatu yang entah kapan akan menimpa kita. Maut itu kenyataan keterbatasan hidup kita. Hidup kita mempunyai awal dan mempunyai akhir. Dengan demikian segala sesuatu yang kita lakukan bersifat terbatas dan fana, tetapi tidak tanpa arti. Dalam hidup di dunia ini hidup rahmat yang abadi sudah dimulai. Kita harus “mempergunakan waktu yang ada” (Ef 5:16), sebab justru dalam waktu ini kita membentuk sikap kita terhadap Tuhan. Di dunia ini kita membuktikan kepercayaan kita, tanpa melihat (bdk. Rm 8:24-25).

Kesadaran akan kefanaan hidup ini dapat menjadi alasan sewaktu-waktu sadar bahwa kita hidup di hadapan Tuhan. Maut membawa ke dalam hidup kita kesadaran akan tujuan hidup yang sejati. Hidup ini memang bersifat sementara, tetapi sikap hidup yang kita ambil sekarang bersifat definitif. “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33). Arti hidup manusia ditentukan di dunia ini. Kematian berarti penyelesaian “pengembaraan” manusia (lih. Ibr 11:13; 1Ptr 1:1; 2:11).

Itu tidak berarti bahwa manusia mengambil keputusan definitifnya pada saat kematian. Selama seluruh masa “pengembaraan” ia mengambil sikap, lama sebelum kematian. Kematian memang penting dalam hidup manusia, tetapi bukan yang terpenting . Akhir hidup belum tentu sama dengan “penyelesaian hidup”. Bahkan sebaliknya, kalau manusia mulai surut kekuatannya, ia juga sulit mengambil keputusan dengan penuh kesadaran dan ketegasan. Paling-paling boleh diharapkan bahwa ia setia kepada keputusan yang telah diambil. Ia akan menyelesaikan hidupnya menurut arah dan dinamika yang sudah terletak di dalamnya. Tentu saja pelimpahan rahmat pertobatan pada akhir hidup tidak mustahil, tetapi juga bukan yang paling biasa.