7 Teori Alternatif mengenai Kehidupan setelah Kematian

Pada dasarnya ada 7 (tujuh) teori non-kristen yang berpendapat mengenai apa yang terjadi setelah kematian. Tujuh pendapat ini terbentuk berdasarkan pikiran manusia dalam rentang waktu, tempat, dan kultur yang berbeda. Pendapat Gereja mengenai kehidupan setelah kematian berbeda dengan ke-tujuh teori tersebut.

  1. Materialisme-Ateistik: Sebab Tuhan itu tidak ada, maka tidak ada gambaran Tuhan, atau jiwa. Oleh karena itu menurut pendapat ini, kita manusia hanya organisme material, dan ketika tubuh/badan kita mati, semua bagian dari kita mati dan tetap mati, selamanya.
  2. Ada Tuhan tetapi tidak ada kehidupan setelah kematian: Pendapat ini tidak umum, tetapi mungkin ada kepercayaan seperti ini. Pendapat ini muncul karena mungkin ada keyakinan bahwa ada Tuhan yang kurang mengasihi manusia sehingga tidak menyelamatkan mereka, atau karena kurangnya kuasa Tuhan untuk menyelamatkan manusia.
  3. Skeptisme: Pendapat yang memahami bahwa tidak ada yang pernah dapat mengetahui apa yang terjadi setelah kematian.
  4. Pagan jaman kuno: Setelah manusia mati, sifat kemanusiaannya menjadi pudar, berupa bayangan serupa manusia yang masih hidup: hantu, penghuni dunia yang suram, dunia bawah yang gelap.
  5. Platoisme: Berpendapat bahwa hanya jiwa yang tersisa setelah kematian; tubuh manusia mati untuk selamanya, dan jiwa atau roh manusia hidup selamanya. Pendapat Platoisme sering disalahpahami dan dikira sama dengan Kekristenan, tapi paham Kekristenan mengenai ini jelas berbeda dengan Platoisme; akan dibahas mengenai ini pada tulisan Analogi duniawi tentang surga.
  6. Panteisme: Pendapat yang berdasarkan pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, seperti tetesan butiran air dari lautan kosmik, partikel kecil dari Tuhan. Sehingga setelah manusia mati mereka kembali ke alam semesta, seperti tetesan butiran air yang kembali ke lautan kosmik. Yang perlu diperhatikan dalam paham panteisme adalah tidak adanya pribadi, tidak adanya sifat individu nyata pada setiap manusia, sehingga ketika manusia setelah mati, pribadi/sifat individu manusia tidak ada.
  7. Reinkarnasi: Pemahaman yang berpendapat bahwa setelah badan/tubuh manusia mati, jiwa atau roh manusia tersebut akan mendapatkan tubuh/badan lain di bumi, tubuh duniawi. Roh manusia itu berpindah ke tubuh orang yang lain seumpama seperti seorang pemasaran berpindah-pindah dari suatu ruangan ke ruangan lain. (Reinkarnasi biasanya disatukan dengan Panteisme atau Platoisme. Dimana setelah suatu jiwa/roh itu cukup mengalami reinkarnasi sehingga roh mendapat ‘pencerahan’, roh tersebut akan terbebas selamanya dari penjara badan/tubuh). Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi.

Surga dan Neraka

… baca juga Apa itu Surga?

Kita mengetahui, “bila kemah kediaman kita di bumi telah dibongkar, Allah menyediakan bagi kita suatu tempat kediaman di surga” (1Kor 5:1). Tetapi tidak ada yang mengetahui rupa surga. Barangkali juga kurang tepat berbicara mengenai “rupa” surga, sebab surga berarti kebahagiaan manusia dalam kesatuan dengan Allah. Bahwa surga digambarkan bagaikan sebuah tempat, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Kalau tidak ada badan, tidak perlu tempat. Di surga memang ada badan, yaitu tubuh Kristus. Tetapi itu adalah tubuh yang mulia dan tidak bisa dibandingkan dengan tempat dan waktu kita sekarang. Yang pokok dari surga ialah bahwa itu tempat Allah (lih. Mzm 2:4; Why 11:13; 16:11).

Dalam agama Yahudi “surga” malah dapat menggantikan nama Tuhan (sebagaimana masih kelihatan dari perbandingan “Kerajaan Allah” dan “Kerajaan surga”). Maka mengenai Kristus dikatakan bahwa Ia “duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga” (Ibr 8:1), dan kita “menantikan kedatangan Anak Allah dari surga” (1Tes 1:10). Secara konsekuen dikatakan bahwa “kewargaan kita ada di surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21). Lukas malah melukiskan kemuliaan Yesus dengan berkata bahwa Ia naik ke surga (Luk 24:50-53; Kis 1:6-11). Yohanes mengungkapkan keallahan Kristus dengan berkata bahwa Ia “turun dari surga” (Yoh 3:13; lih. 6:38.42), dalam arti bahwa “yang datang dari atas, adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31).

Segala ketentuan konkret dalam Kitab Suci mengenai surga sebagai tempat kediaman Allah, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Yang pokok adalah Allah dan kesatuan dengan-Nya.

Itulah arti dari kata-kata seperti: “upahmu besar di surga” (Mat 5:12); “kumpulkanlah bagimu harta di surga” (Mat 6:20); “namamu sudah terdaftar di surga (Luk 10:20); “pengharapan disediakan bagi kamu di surga” (Kol 1:5); “bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, tersimpan bagimu di surga” (1Ptr 1:4). Begitu juga ”Yerusalem baru turun dari surga” (Why 3:12; 21:2.10).

Oleh karena itu pantas ditanyakan sejauh mana surga berbeda dengan kebangkitan? Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Kristus. Paulus bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” (1Kor 15:35). Lalu dijawab: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” (1Kor 15:42- 44). Bagaimana semua itu akan terjadi, Paulus juga tidak tahu. Sebab “apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati orang: semua itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” (1Kor 2:9).

Tetapi jelaslah apa yang dikatakan Yesus: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Jalan kepada Bapa melalui Yesus. Yesus sudah “meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28). Ia berjanji bahwa “akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Yesus masuk ke tempat Bapa dengan kebangkitan-Nya. Maka bagi kita pun surga tidak lain dari ikut dibangkitkan bersama Kristus. Tetapi sebagaimana Kristus bangkit dari maut, begitu juga bagi kita jalan ke surga melalui maut. Kebangkitan berarti bahwa sesudah hidup ini kita menerima kebahagiaan dari Allah.

Di sini tentu timbul kesulitan bahwa ada waktu yang cukup lama antara kematian dan kebangkitan, yang akan terjadi pada akhir zaman. Maka biasanya dikatakan, bahwa sebelum badan dibangkitkan, jiwa sudah masuk surga dan dapat memandang Allah. Tetapi, kalau jiwa terpisah dari badan, maka orangnya mati. Kerohanian manusia tidak berarti bahwa jiwanya dapat berjalan sendirian, dan kebangkitan juga tidak hanya menyangkut badan. Kebangkitan badan berarti mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus. Kristus adalah “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20; lih. Kol 1:18). Dan “semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22; lih. 2Kor 4:11). Maka di sini pun yang pokok adalah kesatuan dengan Kristus. Masalah kebangkitan badan menyangkut perbedaan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita. Barangkali rumus yang paling tepat terdapat dalam Kol 3:3: “Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus dalam Allah”.

Mengenai hal ini, pada tahun 1979 Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan penjelasan sebagai berikut.: “Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian unsur rohani dalam manusia terus hidup sendiri, dengan sadar dan berkemauan, sehingga diri manusia, biarpun tidak lengkap karena tidak ada tubuh, berada terus. Unsur rohani ini oleh Gereja disebut “jiwa”, sesuai dengan kebiasaan berbicara berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi”.

Kebangkitan itu karya Allah. Juga mengenai Yesus tidak pernah dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Ia bangkit sendiri; melainkan “dibangkitkan”. Yang membangkitkan ialah Allah Bapa. Kebangkitan itu rahmat, anugerah dari Allah, “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Oleh sebab itu manusia sebenarnya tidak dapat menangkap dan memahami arti kebangkitan. Kebangkitan tidak dapat dimengerti berpangkal pada hidup manusia di dunia ini. Kebangkitan tidak berarti”: hidup kembali, seperti yang terjadi dengan putri Yairus, pemuda dari Nain dan Lazarus yang kemudian hari akan meninggal lagi, Mereka belum menerima “tubuh rohani” (1Kor 15:45), tetapi dikembalikan kepada hidup yang fana ini dan harus mati lagi.

Lain halnya dengan kebangkitan Yesus. “Sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, Ia tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm 6:9). Ia “beralih dari dunia ini kepada Bapa” (Yoh 13:3), masuk ke dalam dunia ilahi. Itulah sebetulnya kebangkitan. Dengan kematian dialami suatu perubahan dalam hubungan antara jiwa dan badan, dan perubahan itulah yang disebut kebangkitan, sebab dalam hidup sekarang jiwa ditentukan oleh badan (khususnya dalam perbatasan waktu dan tempat). Dalam kebangkitan hal itu dibalik: badan ditentukan oleh jiwa, yang dipenuhi oleh Roh. Oleh karena itu, dengan kebangkitan diciptakan waktu dan tempat yang baru: “surga yang baru dan dunia yang baru” (Why 21:2). Maksudnya, dunia materiil ini diangkat seluruhnya ke dalam dunia Roh. Materi tidak lagi berarti hidup sementara dan fana. Dalam kebangkitan, tubuh mencapai kebakaan, menjadi penampakan kesatuan dengan Allah. Pada Yesus (dan Maria) perubahan itu sudah terlaksana. Manusia yang lain harus menunggu sampai perubahan dunia seluruhnya pada hari kiamat. Sementara itu ia dapat tetap hidup dalam kesatuan dengan Allah, sebab ia “mati dalam Kristus” (1Tes 4:16). Kesatuan dengan Kristus dalam kematian menjamin partisipasi dalam kebangkitan. Dasarnya jelas, tetapi bagaimana akan terlaksana kelak, tidak diwahyukan.

Kiranya perlu diingat bahwa dalam Kitab Suci kebangkitan orang mati selalu menyangkut keselamatan. Orang berdosa sebetulnya tidak bangkit. Memang semua orang mati tampil dalam pengadilan (lih. Mat 25:31-46), tetapi hanya sebagian diterima ke dalam Kerajaan. Yang lain “masuk ke tempat siksaan yang kekal”, yang oleh Yohanes disebut “kematian kedua” (lih. Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Kebangkitan tidak lepas dari Kristus, yang adalah”yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Orang lain “dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22). Dan itu berarti bahwa mereka mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus di dalam Kerajaan Allah.

Neraka harus dimengerti sebagai lawan surga. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka neraka berarti keterpisahan dari Allah. Semua hal lain mengenai api dan siksaan badan juga bersifat bahasa kiasan, Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka bukan siksaan, sebab setiap orang mendambakan kesatuan dengan Allah. Tanpa Allah orang tidak dapat hidup bahagia. Di dunia ini mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut. Oleh karena itu Yohanes menyebut neraka “kematian kedua” (Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Tidak dapat dibayangkan, apa arti mati terus-menerus. Itu memang bahasa kiasan juga. Tetapi, kalau Tuhan “memberikan hidup dan nafas kepada semua orang” (Kis 17:25; bdk. Ayb 12:10; Yes 42:5), maka jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut. Tidak dapat dibayangkan; namun itulah kata yang tepat untuk neraka.

Banyak orang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah yang baik dan maharahim menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka?” Bagaimanapun bentuknya, neraka tampaknya tidak cocok dengan Allah sendiri dan karya keselamatan-Nya. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diperhatikan bahwa surga dan neraka tidak bisa disejajarkan begitu saja, bagaikan dua pintu yang bebas dipilih. Kemungkinan bahwa manusia gagal secara total tidak sama dengan kemungkinan mencapai keselamatan. “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih-karunia berlimpah-limpah” (Rm 5:20). Kristus sudah mengalahkan dosa dan maut, “dengan memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1Ptr 2:24).

Wafat dan kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka sebetulnya tidak ada. Neraka berarti penolakan total terhadap Allah. Itu mungkin. Kapan terjadi, tidak ada orang yang mengetahuinya. Orang Yahudi pernah bertanya kepada Yesus: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak memberi jawaban; Ia hanya berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” (Luk 13:23- 24). Neraka tidak mustahil. Manusia dapat menutup diri untuk rahmat dan belas kasihan Tuhan. Ini bukan sesuatu yang “kebetulan” terjadi, dan mempunyai akibat abadi karena kematian. Sikap ini menyangkut sikap dasar manusia, dan diteguhkan oleh kematian.

Mengapa Yesus dihukum Mati ?

“Yesus berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia”, kata Kitab Suci (Kis 10:38). Namun Ia disalibkan sekitar umur 30 tahun sebagai seorang “pemberontak” dan “perampok”. Padahal, Yesus tidak pernah mencita-citakan kekuasaan politik (lih. Yoh 6:15; Mrk 8:29-30). Maka perlu ditanyakan bagaimana mungkin Yesus dihukum mati sebagai tahanan politik? Untuk itu perlu diperhatikan pengadilan Yesus sendiri dan apa yang dituduhkan terhadap Yesus.

Adakah pertemuan Mahkamah Agung merupakan sidang resmi atau tidak, kurang jelas. Dalam Mat 26:3-4 dikatakan, “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia” (lih. juga Mrk 14:1; Luk 22:2). Pertemuan yang terjadi beberapa waktu sebelum Yesus dihukum mati ini rupanya bersifat tidak resmi. Namun mengenai perundingan itu Yohanes (11:47) sudah berkata: “Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul”. Sebetulnya orang Farisi tidak berhak ikut Mahkamah Agung. Maka barangkali Yohanes tidak terlalu membedakan antara sidang resmi dan tidak resmi. Begitu juga sidang berikut yang disebut oleh Injil sinoptik (Mat 26:57, Mrk 14:53, Luk 22:66) belum tentu sidang resmi.

Rumus Mat 26:57, Mrk 14:55, “imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agung”, agak kabur; dan sidang resmi pada malam hari (lih. Mat 26:20, Mrk 14:17; Mat 27:11 Mrk 15:1) tidak sah. Maka Lukas (22:66) memindahkannya ke siang hari. Kemungkinan besar bahwa “sidang Mahkamah Agung” tidak lain daripada pertemuan beberapa orang (penting) saja di tempat Kayafas (menurut Yohanes, 18:13-24, “mula-mula kepada Hanas”, sesudah itu “Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas”). Sifat tidak resmi mungkin dapat disimpulkan juga dari jawaban orang Yahudi kepada Pilatus: “Kami tidak diperbolehkan membunuh orang” (Yoh 18:31). Maksudnya mungkin: Kami tidak diperbolehkan menyalibkan orang. Hukuman mati cara Yahudi berarti rajam. Mungkin juga, bahwa Pilatus mau mengontrol hukuman mati. Pendek kata, kemungkinan besar bahwa sidang orang Yahudi bersifat “sementara” saja.

Sama halnya dengan sidang di hadapan Pilatus. Terhadap seorang terdakwa yang bukan warga-negara Roma, Pilatus bisa bertindak menurut kebijakannya sendiri, tidak perlu banyak prosedur. Kalau Pilatus berpendapat bahwa tuduhan terhadap Yesus mempunyai dasar, ia dapat menjatuhkan hukuman. Dari papan di atas salib, jelaslah bahwa Yesus memang dihukum mati oleh Pilatus, dan bahwa alasan yang dibawakan bersifat politik “Raja orang Yahudi”.

Bagaimana Yesus dapat dihukum mati atas tuduhan politik, kalau Ia sendiri menolak segala kehormatan dan kegiatan politik? Kiranya jawaban terdapat dalam pertanyaan imam agung: “Apakah Engkau Mesias?” (Mat 26:63 dst.), artinya “raja Israel” (Mrk 15:30). Gelar “Mesias” mempunyai arti ganda, arti keagamaan dan arti politik. Hal itu ditunjukkan oleh jawaban Yesus kepada Pilatus dalam Injil Yohanes (18:34). Tetapi apa alasan imam agung bertanya kepada Yesus perihal Mesias, itu tidak jelas.

Sebagai suatu hipotesis, mungkin dapat diberikan keterangan yang berikut ini: Yesus mengusir orang dari kenisah (Mrk 11:15-17 dst.; lihat juga Yoh 2:13-17). Hal itu diketahui oleh Pilatus (yang mempunyai istana tepat di samping kenisah). Karena perayaan Paska, yang mengenangkan pembebasan Israel dari Mesir, adalah “hari kemerdekaan” orang Yahudi, maka tidak jarang terjadi unjuk rasa pada hari itu. Bisa jadi bahwa huru-hara di kenisah, yang disebabkan oleh kelompok orang Galilea itu, yakni Yesus dan para rasul-Nya, memberi kesan bahwa ada unjuk rasa atau bahkan pemberontakan. Waktu itu ada suatu persetujuan antara para penjajah dan orang Yahudi, bahwa orang Roma (yang najis dalam pandangan Yahudi) tidak akan menginjak tempat suci. Maka wewenang atas kenisah atau bait Allah telah diserahkan kepada imam agung. Oleh karena itu mungkin sekali bahwa Pilatus minta pertanggung-jawaban dari Kayafas atas huru-hara yang terjadi di kenisah. Kalau demikian, maka pertemuan Kayafas dan kawan-kawannya (Yoh 11:47-50; juga Mrk 11:18 dst.) dimaksudkan untuk membicarakan masalah ini. Mereka mengambil keputusan menyerahkan Yesus kepada Pilatus, sebab sudah lama “mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak menganggap Dia nabi” (Mat 21:46 dst.). Sekarang ada kesempatan: Tentara Pilatus telah menangkap seorang pemberontak, yang namanya Barabas. Mereka minta (barangkali diam-diam) “supaya Barabas dibebaskan” (Mat 27:20 dst.), dan sebagai ganti Barabas mereka menyerahkan Yesus. Mungkin sekali bahwa tuduhan di atas salib semula dimaksudkan untuk Barabas, dan kemudian dikenakan kepada Yesus karena permainan orang Yahudi. Alasannya adalah pembersihan kenisah. Tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap Yesus serta pertanyaan imam agung sebenarnya berhubungan dengan perlawanan yang sudah lama ada antara Yesus dan para pemimpin Yahudi.

Akhirnya harus dikatakan bahwa Yesus menjadi kurban kebencian dan permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama hukum Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan. Mungkin alasan konkret bertindak melawan Yesus adalah pembersihan kenisah (lih. Mrk 11:28 dst.). Tetapi dasar yang sesungguhnya ialah pewartaan Yesus yang dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin agama Yahudi.

Baca juga : Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata? atau dengan kasih, ketaatan, dan menyerahkan hidupnya