Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)


..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Makna dan Penghayatan Hidup


Pertanyaan mengenai makna hidup bukanlah hal yang baru. Pertanyaan itu selalu ada. Namun demikian, tampaknya pertanyaan itu menjadi jauh lebih sulit bagi manusia dewasa ini, sebab kini manusia hidup di tengah-tengah lingkungan dunia yang terlampau luas. Lain dari dulu, kini ia harus hidup dalam lingkungan yang tak terjangkau lagi olehnya. Terlebih lagi, dewasa ini banyak sekali tawaran yang ternyata menyodorkan jawaban berbeda-beda. Bidang-bidang kehidupan seperti kerja, keluarga, rekreasi, politik, ilmu, agama, dan sebagainya sering terasa tidak berhubungan lagi satu dengan lainnya.

Manusia seakan harus bernasib seperti binatang “yang dikendalikan dengan kekang” (Mzm 32:9), bukan karena manusia harus mati, melainkan karena ia tidak lagi dapat memilih arah hidupnya sendiri. Dalam sistem sosial-ekonomi, manusia hanyalah salah satu unsur yang harus menyesuaikan diri dengan putaran seluruhnya. Adat-istiadat serta tradisi tak lagi menjadi pegangan yang dapat memberi arti kepada hidup manusia. Banyak orang cenderung ke arah nostalgia atau pesimisme yang kelam.

Makna hidup tidak dapat ditemukan di dalam masa lampau, tidak juga di dalam rumusan-rumusan yang diberikan oleh orang lain. Hidup mendapat maknanya dalam penghayatan hidup sendiri. Hidup mempunyai arti bagi orang yang menghayati hidupnya sendiri. Karena itu, pertanyaan tentang makna hidup sebenarnya baru muncul bila manusia mulai sangsi atas kemampuan dirinya untuk menghayati hidupnya sendiri. Makna hidup juga tidak tergantung pada keuntungan atau keberhasilan. Bahkan dalam penderitaan pun hidup mempunyai makna. Manusia harus percaya dan menerima hidupnya. Baru dengan demikian, manusia dapat mengartikan dan memberi makna kepada hidup. Pertanyaan yang sama akan muncul, bila manusia hanya mencari sukses atau mengidentikkan dirinya dengan proyek hidup dan cita-cita tertentu. Bagi orang seperti itu, kegagalan untuk meraih cita-cita yang diinginkannya berarti kehilangan makna hidup. Padahal di pihak lain, cinta dan kesetiaan seorang ibu bagi anaknya tetap mempunyai makna, juga bila anak itu tidak mencapai umur dewasa atau tidak berkembang sebagai-mana diharapkan.

Bersama-sama Mencari Arah hidup


Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah “segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubah-ubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup” yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak semula.

Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya.

Pengalaman akan Roh


Roh Kudus itu Roh Allah, maka dikatakan “tak tercipta”. Tetapi hasil karya Roh, yang disebut “rahmat”, adalah kenyataan hidup manusia. Timbul pertanyaan, “sejauh mana manusia dapat merasakan atau mengalami rahmat itu?” Atas pertanyaan sulit ini diberikan jawaban yang berbeda-beda. Pernah ada orang yang begitu menekankan perbedaan antara rahmat dan hidup manusia yang biasa (kodrat), sehingga pengalaman rahmat dianggap tidak mungkin. Dewasa ini pada umumnya rahmat dilihat sebagai sentuhan manusia oleh Roh; oleh karena itu tidak terjadi di luar pengalaman manusia. Namun pengalaman rahmat juga bukan pengalaman biasa, sebab rahmat berarti sentuhan oleh Roh Allah, yang “tak-tercipta”.

Dalam arti sesungguhnya rahmat pertama-tama adalah Allah sendiri, yang menghubungi manusia, dan manusia tentu tidak mampu “menjangkau” Allah. Namun kalau Allah memberikan diri kepada manusia dalam suatu pertemuan pribadi, Ia juga dapat dikenal dan dicintai oleh manusia. Untuk itu perlu “suatu” pengalaman akan Allah, khususnya akan Roh Allah.

Yang dialami oleh manusia sebetulnya bukan Allah sendiri atau Roh-Nya, melainkan kebahagiaan yang dianugerahkan oleh Allah. Oleh karena itu di dunia ini pengalaman itu senantiasa kurang sempurna, karena kebahagiaan belum mencapai kesempurnaannya. Yang sebenarnya dialami oleh manusia adalah kerinduannya akan Allah dan juga kenyataan pertemuan dengan Allah, yang merupakan pemenuhan diri manusia oleh Roh Allah. Allah serta Roh-Nya tetap merupakan misteri, yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Oleh wahyu dan iman manusia dimampukan supaya menghayati pertemuan dengan Allah secara pribadi. Dalam arti sesungguhnya manusia mengalami dan merasakan dirinya sendiri, tetapi digerakkan dan diangkat oleh Roh Allah.

Rahmat juga tidak dialami tersendiri, melainkan dalam aneka ragam kegiatan keagamaan, yang menunjuk kepada Allah dan Roh-Nya. Yang dimaksud bukan hanya sakramen, melainkan juga segala ajaran dan perwartaan Gereja mengenai Allah, dan segala kegiatan Gereja yang lain. Semua itu merupakan tanda yang memungkinkan dan membantu manusia menghayati pertemuan dengan Allah dengan lebih sadar dan lebih hidup. Namun perlu disadari bahwa kenyataan Allah dan rahmat-Nya tidak sama dengan tanda-tanda keagamaan itu. Bahkan harus dikatakan bahwa segala sesuatu, seluruh alam ciptaan, dapat menjadi tanda bagi Allah yang mencari manusia secara pribadi. Tetapi hanya dengan wahyu Allah, yang dikenal melalui Kitab Suci dan ajaran Gereja, tanda-tanda itu dapat menjadi sungguh jelas.

Selalu ada bahaya bahwa manusia, bila menafsirkan pengalaman hidupnya, tersesat oleh pengalaman itu sendiri dan menyamakan Allah dengan (pengalaman) manusia. Karena sifat ilahi rahmat, pengalaman akan rahmat dan akan Roh Allah selalu bersifat “tidak langsung”. Bisa terjadi bahwa manusia, khususnya dalam pengalaman yang disebut “mistik”, amat merasakan kedekatan Allah, seolah-olah tidak ada apa-apa lagi antara Allah dan manusia. Namun sekaligus ia mengalami bahwa itu terjadi hanya karena rahmat Tuhan, yang tidak dapat ditangkap dalam dirinya sendiri.

Cinta Kasih Kepada Manusia


Semua agama mengajarkan kasih kepada Allah dan menyatakannya dalam ibadah dan upacara keagamaan. Semua agama mengajarkan pula kasih kepada sesama. Agama-agama memang berusaha membantu manusia menemukan makna hidupnya. Kita sudah melihat bahwa makna hidup itu antara lain ditemukan kalau manusia membuka diri kepada yang transenden dan membangun solidaritas dengan sesama. Bentuk solidaritas yang paling intensif ialah kalau manusia bisa mencintai sesamanya. Maka ajaran tentang cinta kepada sesama merupakan hal yang fundamental dari semua agama.

Manusia dan Ekologi


Kesadaran manusia sebagai “gambar Allah”, “wakil Allah”, “pusat dunia” ini dapat menyeret manusia menjadi pengisap alam semesta, penguasa sewenang-wenang terhadap ciptaan lain. Kesadaran itu seharusnya mengundang manusia ikut serta mengatur, memelihara, menciptakan kembali dunianya. Manusia hanyalah bagian dari seluruh ciptaan dan hidupnya disangga oleh alam semesta. Maka dari itu perlulah “gambar Allah” tidak hanya dimengerti secara personal, melainkan juga sosial dan ekologis, dalam hubungan dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama dan kehidupan alam semesta. Dengan demikian manusia menjadi pelayan dalam keterarahan dunia kepada Allah. Tetapi ternyata, khususnya dalam abad ke-20 ini, manusia tidak menjalankan tugas ini dengan baik. “Keseimbangan lingkungan yang halus, dijungkirbalikkan dengan menghancurkan secara membabi buta hidup binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan atau dengan menghabiskan sumber-sumber alam secara tak bertanggungjawab,” kata Paus (Amanat bagi Hari Perdamaian Dunia, 8 Desember 1989).

“Sumber-sumber alam seperti minyak, logam, mineral, dihabiskan tanpa memikirkan masa depan, Produksi barang-barang kimia, seperti plastik, tetapi juga pestisida, meracuni alam dan memenuhi dunia dengan sampah yang bertimbun-timbun. Pencemaran oleh industri dan pupuk buatan merusak tanah, air dan juga udara. Segala macam obat untuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, mempunyai aneka macam akibat-samping yang tak terkendalikan. Energi atom dan terutama senjata-senjata nuklir merupakan ancaman terus-menerus bagi kehidupan dunia. Banyak tindakan manusia mengubah struktur alam, tidak hanya di tempat yang bersangkutan tetapi di seluruh dunia, bahkan sering tanpa diketahui orang. Seluruh alam semesta, sampai lapisan ozon yang meliputi dunia, telah terkena pencemaran lingkungan. Malahan, kata Paus Yohanes Paulus II, “tidak cukup menyebut hanya kerugian besar yang sudah dibuat terhadap lingkungan alam. Kita harus memberi perhatian, dan malah lebih banyak, kepada apa yang setiap hari harus diderita oleh orang-orang karena segala macam pencemaran, makanan buatan atau yang berbahaya, lalu-lintas yang tak terkendalikan yang membuat udara tidak sehat lagi” (Peringatan Rerum Nooarum, 15 Mei 1991).

Dengan tegas Paus Yohanes Paulus II meneruskan,

“Manusia, yang menemukan kemampuannya untuk mengubah dan dalam arti tertentu menciptakan dunia dengan usahanya sendiri, lupa bahwa semua itu berdasarkan karya Allah yang sebelumnya secara dasariah menyediakan semua hal yang ada, Manusia mengira bahwa ia dapat memanfaatkan dunia semaunya, dengan menundukkannya tanpa batas pada kehendaknya sendiri; seolah-olah tidak ada syarat-syarat tertentu dan tujuan yang oleh Tuhan sendiri diletakkan di dalamnya, dan yang memang dapat dikembangkan oleh manusia, tetapi tidak boleh disangkal. Manusia tidak mau memainkan peranannya dengan bekerja sama dengan Allah, tetapi mau menduduki tempat Allah sendiri dan dengan demikian malah menimbulkan semacam pemberontakan pada pihak alam, yang lebih dijajah olehnya daripada diatur” (Centesimus Annus, 2 Mei 1991).

Tentu saja bukan hanya Paus Yohanes Paulus II yang melihat masalah ini. Semua orang sadar akan bahaya yang mengancam umat manusia dewasa ini. Disadari pula secara umum, bahwa manusia bekerja dengan tidak bertanggungjawab. Tetapi juga hampir seluruh dunia tidak mengetahui bagaimana dapat keluar dari ancaman ini. “Masalah lingkungan sekarang menjadi begitu luas, sehingga tidak hanya dituntut perhatian kita yang penuh, tetapi juga keterlibatan total, baik pada taraf .ilmu maupun dalam keputusan-keputusan politik. Penemuan kembali keseimbangan dalam lingkungan hanya dapat terjadi kalau mau kembali kepada pemahaman yang benar mengenai kuasa manusia atas alam” (Sambutan Paus Yohanes Paulus II pada Kongres Internasional mengenai Ekologi, 25 Agustus 1990). Itu berarti “prioritas etika atas teknologi, prioritas pribadi manusia atas benda-benda, dan keunggulan roh atas materi’ (RR 16), Lalu, ditarik kesimpulan:

” … tidak mungkin memakai seenaknya aneka macam makhluk, entah hidup entah tidak – binatang, tumbuh-tumbuhan, bahan-bahan mentah – menurut kehendaknya sendiri, sesuai dengan kebutuhan ekonomis sendiri, Sebaliknya, harus diperhitungkan kekhususan masing-masing dan hubungan timbal-balik dalam suatu sistem tersusun, yang disebut ‘kosmos’.

Kedua, perlu disadari, bahwa sumber-sumber alam terbatas; dan ada yang tidak dapat diperbaharui lagi. Kalau dipakai seolah-olah tidak dapat habis, dengan semacam penguasaan mutlak, maka akan ada bahaya sungguh-sungguh bahwa tidak lagi tersedia, bukan hanya untuk angkatan ini, tetapi terutama untuk angkatan-angkatan yang akan datang.

Ketiga, dan ini menyangkut secara langsung akibat-akibat perkembangan mutu kehidupan dalam daerah-daerah industri: semua orang mengetahui bahwa akibat langsung atau tidak langsung dari industri, yang semakin kerap terjadi, ialah pencemaran lingkungan, dengan konsekuensi berat untuk kesehatan rakyat” (SRS 34).

Karena proses penyadaran ini harus terjadi pada taraf mondial atau global, maka di sini terdapat panggilan khusus umat beriman, yang mengakui bahwa “penguasaan yang diberikan kepada manusia oleh Sang Pencipta bukanlah suatu kuasa mutlak, dan juga tidak dapat dikatakan bahwa manusia bebas menggunakan dan menyalahgunakan atau memakai barang-barang sekehendak hatinya sendiri. Sebab jelas sekali bahwa perkembangan dan perencanaannya, serta cara memakai sumber-sumber, tidak dapat terjadi tanpa mengindahkan tuntutan moral” (SRS 34). Mewartakan dan memperlihatkan dalam praktik hidup tuntutan ini, merupakan tugas panggilan seluruh umat beriman. Untuk itu perlu juga kesatuan dan kerja sama semua orang yang taat kepada Sang Pencipta. Sebab kalau terisolasi di tempatnya sendiri manusia tidak atau kurang melihat akibat-akibat perbuatannya. Apa yang secara spontan diketahui dan diperhatikan para petani di ladang mereka sendiri, yakni bahwa tanah tidak boleh dibebani melampaui kemampuannya, tidak lagi dilihat dan disadari oleh mereka yang lahir dan dibesarkan di pusat-pusat industri atau di kota-kota besar. Globalisasi tidak hanya menyangkut masalah lingkungan, tetapi juga hubungan antara manusia. Orang bukan lagi penghuni sebuah desa atau kota saja. Sebagai penghuni dunia ia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap dunia seluruhnya. Segala sesuatu memang diciptakan untuk manusia, tetapi tidak untuk manusia individual saja. Ia tidak lepas dari dunia sekitarnya, melainkan dalam kesatuan organik dunia dengan manusia.

Pengalaman Religius


Menurut ajaran Konsili Vatikan II beriman berarti “dengan bebas menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah” (DV 5). Inti pokok iman terdapat dalam hubungan pribadi dengan Allah, bukan dalam pengetahuan mengenai Allah. Pengetahuan dan penyerahan terjadi bersama-sama, tetapi tidak berarti bahwa pengetahuan dan penyerahan sama saja. Dalam hal ini kita dapat membedakan pengalaman religius dan iman.

Kedua-duanya, baik iman maupun pengalaman religius, menyangkut hubungan manusia dengan Allah, tetapi arahnya berbeda. Pengalaman religius berpangkal pada manusia sendiri, sedangkan iman bertolak dari sabda Allah. Pengalaman religius mulai dengan kesadaran diri manusia sebagai makhluk, yang mengakui Allah sebagai dasar dan sumber hidupnya. Sebaliknya iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Dalam pengalaman religius manusia dalam keterbatasannya sadar bahwa ia terbuka terhadap Yang Tak Terbatas.

Pengalaman religius pada hakikatnya berarti bahwa manusia mengakui hidupnya sendiri sebagai pemberian dari Allah. Dengan mengakui hidup sebagai pemberian, ia mengakui Allah sebagai “Pemberi Hidup”. Pengalaman ini terjadi dalam kehidupan manusia di tengah-tengah dunia. Dalam pengalaman ini manusia mengalami dirinya sebagai makhluk yang sangat terbatas, yang tidak berdaya, bahkan bukan apa-apa di hadapan Yang Ilahi, Allah, yang menyentuhnya. Allah itulah segala-galanya, dasar dan sumber hidupnya, seluruh keberadaannya. Dalam keterbatasannya manusia merasa ditarik dan terpesona oleh Yang Ilahi, Yang Tak Terbatas, bahkan merasa ada ikatan dengan Yang Tak Terbatas itu, entah dalam bentuk apa.

Memandang hidup sebagai pemberian merupakan penafsiran yang secara positif mengartikan hidup sebagai sesuatu yang pantas disyukuri, sebagai anugerah yang menggembirakan. Sikap positif terhadap hidup ini adalah suatu “pilihan”, suatu sikap yang diambil manusia dengan bebas. Manusia bebas, bebas menghargai hidup dan bebas menerimanya sebagai “nasib”. Pilihan bebas ini tentu amat dipengaruhi oleh pengalaman hidup sendiri. Pengalaman yang membahagiakan kiranya lebih mudah mendorong manusia ke arah sikap positif terhadap hidup. Sedangkan pengalaman kegagalan dan kekecewaan dapat membawa orang kepada keputusasaan dan pemberontakan terhadap hidup. Namun tidak jarang terjadi bahwa justru kesulitan dan perjuangan hidup membuat orang semakin sadar akan keterbatasannya dan mengarahkan hatinya kepada Dia yang diakui sebagai sumber hidup. Juga: dalam sengsara dan penderitaan manusia tetap bebas mengambil sikap positif terhadap hidup. Sikap ini mungkin lebih religius sifatnya daripada sikap yang lahir dari kegembiraan yang dangkal, sebab hanya kalau manusia dapat menerima hidup sebagai pemberian, secara implisit ia juga mengakui Sang Pemberi hidup.

Dengan berefleksi atas pengalamannya sendiri manusia harus mengakui bahwa ia memang mempunyai hidup, tetapi ia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri. Sering kali manusia mengalami dengan pahit sekali bahwa ia tidak dapat melakukan apa yang ingin dilakukan, entah karena kelemahan fisik atau psikis, entah juga karena ketidakberdayaan moral (seperti yang diakui Paulus dalam Rm 7:15). Banyak situasi hidup membuat manusia sadar bahwa ia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri.

Tetapi manusia tidak hanya “menemukan” hidupnya. Ia menerimanya sebagai hidupnya sendiri. Oleh karena itu ia juga mengembangkan dan mengarahkan hidup yang diterimanya. Manusia mengembangkan diri dan dunia sekitarnya. Dalam usaha itu ia mengikuti hati nurani atau suara hati. Hati nurani itu bukanlah perintah atau peraturan untuk pekerjaan manusia. Hati nurani adalah kesadaran akan kewajiban dalam mengembangkan hidup. Manusia sadar akan kewajibannya dan akan tuntutan hidup terhadap tindakannya yang konkret. Ia terikat pada arah hidupnya dan dalam tindakan yang konkret (secara implisit) ia mengakui arah hidupnya itu. Perbuatan yang bertanggung jawab berarti per buatan yang taat kepada tuntutan hidup. Pada dasarnya, hati nurani berarti ketaatan kepada hidup sendiri, maka refleksi atas hidup tidak hanya menyangkut persoalan “dari mana” asalnya, tetapi juga “ke mana” arahnya. Keduanya menunjuk kepada sesuatu yang mengatasi diri manusia sendiri.

Kita sering berpikir bahwa dengan cinta manusia untuk istrinya, untuk anak-anaknya, untuk sahabat-sahabatnya, dan dalam arti tertentu untuk negaranya, sudah habis bentuk-bentuk cinta yang biasa. Padahal belum disebut bentuk gairah yang paling asasi, yakni cinta yang mendorong semua unsur semesta satu kepada yang lain dalam gerakan universum yang sedang menuju ke kesempurnaan. Cinta universal tidak hanya mungkin secara psikologis; ini satu-satunya cara cinta penuh dan definitif, yang membuat kita mampu saling mencintai.

Dalam bukunya, Le Milieu Diuin, Teilhard de Chardin berkata, “Melihat Allah, yang hadir di mana-mana, itu berarti suatu visi, suatu perasaan mendalam, semacam intuisi, yang terarah kepada sifat-sifat luhur kenyataan hidup. Pandangan ini tidak mungkin dicapai langsung dengan pikiran atau keterampilan manusia. Sama seperti hidup sendiri begitu juga intuisi, yang merupakan puncak pengetahuan empiris, merupakan suatu anugerah.” Dalam rahim semesta alam, setiap jiwa hidup untuk Allah, dalam Tuhan kita. Tetapi dari pihak lain, segala sesuatu – juga barang material – yang ada di sekitar kita ada untuk jiwa kita, Demikianlah, di sekitar kita segala hal yang konkret – melalui jiwa kita – terarah kepada Allah dalam Tuhan kita,

Manusia mengalami hidupnya sendiri dalam keterarahan kepada kepenuhan, yang disebut Allah. Di situ setiap orang menyadari kehadiran Allah, bukan sebagai objek, melainkan sebagai jawaban terakhir bagi hidup sendiri.