Doa-doa Liturgis


Salah satu kegiatan pokok orang beriman, terutama sebagai anggota Gereja, adalah berdoa. Ada pelbagai jenis doa, yakni: doa liturgis, doa pribadi, dan doa devosi (lihat KL 11-13). Yang termasuk dalam doa-doa liturgis adalah perayaan sakramen-sakramen, perayaan sakramentali, dan Ibadat Harian. Doa-doa ini bersifat liturgis karena ada unsur “resmi” (selaras dengan kesepakatan Gereja) dalam unsur-unsur yang dipakai: barang/benda, gerak, kata, nyanyian, peserta, petugas, pakaian, warna, ruang, dan waktu. Lebih dari itu semua, doa-doa disebut liturgis karena merupakan pelaksanaan karya penebusan manusia (lihat KL 2) dan menjadi pujian-syukur bagi Allah serta pengudusan untuk manusia (lihat KL 7). Doa-doa liturgis bukanlah tindakan perorangan melainkan merupakan tindakan Gereja (lihat KL 26).

Lingkaran Harian

Menurut kebiasaan Gereja, ada tata waktu dalam pengaturan doa. Tata waktu ini mengingatkan kita akan karya penyelamatan Allah. Waktu pagi kita berdoa sambil mengenang penciptaan alam semesta dan kebangkitan Tuhan Yesus. Menjelang siang, waktu mulai bekerja, kita mengenang turunnya Roh Kudus atas para rasul. Pada tengah hari kita mengenang Kristus yang bergantung di salib. Pada petang hari kita mengenang Kristus yang wafat demi keselamatan kita, Pada malam hari kita bersyukur atas segala anugerah Allah bagi kita, dan kita menyerahkan diri ke dalam tangan-Nya.

Ibadat Pagi

Ibadat Pagi dimaksudkan dan diatur untuk menguduskan pagi hari. Hal ini nyata dari kebanyakan unsur-unsurnya. Sifat pagi ini diungkapkan dengan sangat baik oleh kata-kata S. Basilius Agung (abad ke-5), “Maksud Ibadah Pagi ialah supaya gerakan pertama hati dan budi kita disucikan bagi Allah. Janganlah kita menerima suatu tugas apa pun sebelum kita disegarkan oleh pemikiran akan Allah, seperti tertulis: ‘Apabila aku ingat akan Allah, aku disegarkan’ (Mm. 77:4). Jangan sampai badan kita digerakkan untuk bekerja, sebelum kita melakukan yang dikatakan dalam mazmur, ‘Kepada-Mu aku berdoa, ya Tuhan, waktu pagi Engkau mendengarkan seruanku, sejak pagi aku mengharapkan belas kasih-Mu” (Mzm 5:4-7).

Ibadat Pagi didoakan waktu fajar menyingsing dan mengingatkan kita akan kebangkitan Tuhan Yesus. Dialah cahaya sejati yang menerangi semua orang, dan “matahari keadilan” (Mal 4:2), yang terbit laksana fajar cemerlang” (Luk 1:78). Maka dari itu sungguh tepat pernyataan S. Siprianus, “Kita harus berdoa pagi hari, guna merayakan kebangkitan Tuhan dengan doa pagi.” (PIH 38) Ibadat pagi Juga mengenang penciptaan dan memuji Sang Pencipta.

Kerangka Ibadat Pagi: Pembukaan, Ajakan Memuji Allah, Madah, Pendarasan Mazmur, Bacaan Singkat, Lagu Singkat, Kidung Zakharia, Doa Permohonan, Bapa Kami, Doa Penutup, Penutup.

Pembukaan :

Ya Tuhan, sudilah membuka hatiku.
Supaya mulut ku mewartakan pujian-Mu.

Ajakan Memuji Allah (Ulangan, 1-4: pilih salah satu) :

  1. Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita (Alleluya).
  2. Marilah menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, menghormati-Nya dengan pujianĀ (Alleluya).
  3. Mari bersujud dan menyembah, berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita (Alleluya).
  4. Hari ini dengarkanlah suara-Nya: Janganlah bertegar hati! (Alleluya).

Ya Bapa, utuslah santo/a pelindungku, para malaikat pelindung, dan Bunda Maria sendiri, supaya mendampingi aku sepanjang hari ini. Ini semua aku mohon dengan pengantaraan Yesus, Tuhanku. (Amin.)

Ibadat Sore

Ibadat Sore dirayakan waktu matahari terbenam. Bila hari sudah senja lewat ibadat ini kita “bersyukur atas anugerah yang telah kita terima pada hari ini atau atas kebaikan yang telah kita perbuat”. Kita juga mengenang kembali karya penebusan dengan doa yang kita panjatkan ‘bagaikan dupa yang membumbung ke hadirat Tuhan, dengan tangan yang kita tadahkan bagaikan kurban petang” (Mzm 141: 2). Ini juga dapat diartikan sebagai “kurban petang sejati, yang diwariskan oleh Tuhan, Penyelamat, waktu sore ketika sedang mengadakan perjamuan dengan para rasul untuk memulai misteri suci Gereja. Dapat juga diartikan sebagai kurban pada petang berikutnya, ketika Penyelamat kita menadahkan tangan untuk mempersembahkan diri kepada Bapa demi keselamatan seluruh dunia”. Untuk mengarahkan perhatian kita kepada cahaya yang tak kunjung terbenam, “kita berdoa dan memohon, agar cahaya terbit lagi bagi kita; kita berdoa untuk kedatangan Kristus, yang akan menganugerahkan rahmat cahaya kekal”. Pada waktu Ibadat Sore ini pun kita menggabungkan diri dengan Gereja-gereja Timur sambil berseru: “Terang kegembiraan Bapa surgawi yang suci, mulia dan kekal, yaitu Yesus Kristus: pada waktu matahari terbenam kami memandang terang senja dan bermadah kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai Allah …. .” (lihat PIH 39).

Kerangka Ibadat Sore adalah sebagai berikut: Pembukaan Madah – Pendarasan Mazmur – Bacaan Singkat – Lagu Singkat Kidung Maria – Doa Permohonan – Bapa Kami – Doa Penutup Penutup.