Doa-doa Liturgis

Salah satu kegiatan pokok orang beriman, terutama sebagai anggota Gereja, adalah berdoa. Ada pelbagai jenis doa, yakni: doa liturgis, doa pribadi, dan doa devosi (lihat KL 11-13). Yang termasuk dalam doa-doa liturgis adalah perayaan sakramen-sakramen, perayaan sakramentali, dan Ibadat Harian. Doa-doa ini bersifat liturgis karena ada unsur “resmi” (selaras dengan kesepakatan Gereja) dalam unsur-unsur yang dipakai: barang/benda, gerak, kata, nyanyian, peserta, petugas, pakaian, warna, ruang, dan waktu. Lebih dari itu semua, doa-doa disebut liturgis karena merupakan pelaksanaan karya penebusan manusia (lihat KL 2) dan menjadi pujian-syukur bagi Allah serta pengudusan untuk manusia (lihat KL 7). Doa-doa liturgis bukanlah tindakan perorangan melainkan merupakan tindakan Gereja (lihat KL 26).

Lingkaran Harian

Menurut kebiasaan Gereja, ada tata waktu dalam pengaturan doa. Tata waktu ini mengingatkan kita akan karya penyelamatan Allah. Waktu pagi kita berdoa sambil mengenang penciptaan alam semesta dan kebangkitan Tuhan Yesus. Menjelang siang, waktu mulai bekerja, kita mengenang turunnya Roh Kudus atas para rasul. Pada tengah hari kita mengenang Kristus yang bergantung di salib. Pada petang hari kita mengenang Kristus yang wafat demi keselamatan kita, Pada malam hari kita bersyukur atas segala anugerah Allah bagi kita, dan kita menyerahkan diri ke dalam tangan-Nya.

Ibadat Pagi

Ibadat Pagi dimaksudkan dan diatur untuk menguduskan pagi hari. Hal ini nyata dari kebanyakan unsur-unsurnya. Sifat pagi ini diungkapkan dengan sangat baik oleh kata-kata S. Basilius Agung (abad ke-5), “Maksud Ibadah Pagi ialah supaya gerakan pertama hati dan budi kita disucikan bagi Allah. Janganlah kita menerima suatu tugas apa pun sebelum kita disegarkan oleh pemikiran akan Allah, seperti tertulis: ‘Apabila aku ingat akan Allah, aku disegarkan’ (Mm. 77:4). Jangan sampai badan kita digerakkan untuk bekerja, sebelum kita melakukan yang dikatakan dalam mazmur, ‘Kepada-Mu aku berdoa, ya Tuhan, waktu pagi Engkau mendengarkan seruanku, sejak pagi aku mengharapkan belas kasih-Mu” (Mzm 5:4-7).

Ibadat Pagi didoakan waktu fajar menyingsing dan mengingatkan kita akan kebangkitan Tuhan Yesus. Dialah cahaya sejati yang menerangi semua orang, dan “matahari keadilan” (Mal 4:2), yang terbit laksana fajar cemerlang” (Luk 1:78). Maka dari itu sungguh tepat pernyataan S. Siprianus, “Kita harus berdoa pagi hari, guna merayakan kebangkitan Tuhan dengan doa pagi.” (PIH 38) Ibadat pagi Juga mengenang penciptaan dan memuji Sang Pencipta.

Kerangka Ibadat Pagi: Pembukaan, Ajakan Memuji Allah, Madah, Pendarasan Mazmur, Bacaan Singkat, Lagu Singkat, Kidung Zakharia, Doa Permohonan, Bapa Kami, Doa Penutup, Penutup.

Pembukaan :

Ya Tuhan, sudilah membuka hatiku.
Supaya mulut ku mewartakan pujian-Mu.

Ajakan Memuji Allah (Ulangan, 1-4: pilih salah satu) :

  1. Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita (Alleluya).
  2. Marilah menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, menghormati-Nya dengan pujian (Alleluya).
  3. Mari bersujud dan menyembah, berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita (Alleluya).
  4. Hari ini dengarkanlah suara-Nya: Janganlah bertegar hati! (Alleluya).

Ya Bapa, utuslah santo/a pelindungku, para malaikat pelindung, dan Bunda Maria sendiri, supaya mendampingi aku sepanjang hari ini. Ini semua aku mohon dengan pengantaraan Yesus, Tuhanku. (Amin.)

Ibadat Sore

Ibadat Sore dirayakan waktu matahari terbenam. Bila hari sudah senja lewat ibadat ini kita “bersyukur atas anugerah yang telah kita terima pada hari ini atau atas kebaikan yang telah kita perbuat”. Kita juga mengenang kembali karya penebusan dengan doa yang kita panjatkan ‘bagaikan dupa yang membumbung ke hadirat Tuhan, dengan tangan yang kita tadahkan bagaikan kurban petang” (Mzm 141: 2). Ini juga dapat diartikan sebagai “kurban petang sejati, yang diwariskan oleh Tuhan, Penyelamat, waktu sore ketika sedang mengadakan perjamuan dengan para rasul untuk memulai misteri suci Gereja. Dapat juga diartikan sebagai kurban pada petang berikutnya, ketika Penyelamat kita menadahkan tangan untuk mempersembahkan diri kepada Bapa demi keselamatan seluruh dunia”. Untuk mengarahkan perhatian kita kepada cahaya yang tak kunjung terbenam, “kita berdoa dan memohon, agar cahaya terbit lagi bagi kita; kita berdoa untuk kedatangan Kristus, yang akan menganugerahkan rahmat cahaya kekal”. Pada waktu Ibadat Sore ini pun kita menggabungkan diri dengan Gereja-gereja Timur sambil berseru: “Terang kegembiraan Bapa surgawi yang suci, mulia dan kekal, yaitu Yesus Kristus: pada waktu matahari terbenam kami memandang terang senja dan bermadah kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai Allah …. .” (lihat PIH 39).

Kerangka Ibadat Sore adalah sebagai berikut: Pembukaan Madah – Pendarasan Mazmur – Bacaan Singkat – Lagu Singkat Kidung Maria – Doa Permohonan – Bapa Kami – Doa Penutup Penutup.

Sakramen Tobat

Dengan Pembaptisan, dan Krisma, orang menjadi anggota Gereja. Ia tidak dapat kehilangan keanggotaan itu. Tetapi bisa terjadi bahwa seseorang, karena tindakan kejahatan yang amat besar, terkena hukuman Gereja, yaitu “pengucilan” atau “ekskomunikasi“. Orang itu tetap anggota Gereja, namun ia dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi serta dalam perayaan sakramen atau sakramentali yang lain, dan tidak boleh melakukan tugas gerejawi manapun (KHK kan. 1331). Larangan itu sebetulnya dikenakan pada setiap orang yang melakukan dosa besar. Orang itu pun tidak boleh menerima sakramen, kecuali sakramen baptis dan pengurapan orang sakit, karena mempunyai dosa besar. Dengan sakramen tobat tidak hanya dosanya diampuni, tetapi ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja.

(a) Kebiasaan Gereja yang Berubah-ubah

Yohanes Pembaptis tampil dengan seruan, “Bertobatlah!” (Mat 3:2; Luk 3:3) dan awal pewartaan Yesus pun berbunyi, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalkan para rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya jadi diampuni” (Yoh 20:23). Tetapi tidak ada berita mengenai suatu “upacara pengampunan dosa”.

Yang ada hanyalah petunjuk tentang pengucilan, dalam Mat 18:15-20. Pokok petunjuk itu ialah jangan terlampau mudah mengucilkan seseorang: pertama tegurlah dia “di bawah empat mata” dahulu. Kalau itu tidak berhasil, sekali lagi, tetapi dengan satu atau dua saksi; jadi lebih resmi. Kalau itu pun tidak berhasil, baru dikucilkan. Wewenang untuk itu ditegaskan: “Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini, akan terlepas di surga” (ay. 18). Rupa-rupanya dalam hal pengucilan, Gereja perdana mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Tetapi tidak dikatakan apa-apa mengenai cara bagaimana menerima kembali orang yang dikucilkan itu. Hanya dikatakan bahwa pimpinan jemaat berwewenang mengucilkan (“mengikat”, sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan jemaat) dan menerima kembali (“melepaskan” ikatan itu). Dalam 1Kor 5:1-13 St. Paulus rupa-rupanya juga hanya berbicara mengenai pengucilan, “Orang itu diserahkan kepada Iblis”.

Tidak dikatakan apa-apa mengenai suatu upacara penerimaan kembali, hanya diharapkan bahwa “rohnya diselamatkan pada hari Tuhan”, artinya pada hari kiamat. Apa yang terjadi dengan orang itu sekarang tidak jelas. Barangkali boleh diandaikan bahwa orang itu, kalau memperlihatkan tanda-tanda pertobatan, akan diterima kembali. Tetapi tidak ada berita mengenai peristiwa itu, apa lagi mengenai “upacara penerimaan kembali”. Kalau di sini sudah ada awal sakramen tobat, maka barangkali harus disebut “sakramen mengikat dan melepaskan”, yang hanya menyangkut dosa dan kesalahan yang merugikan jemaat, bukan kesalahan pribadi atau sengketa pribadi antara dua orang. Di situ berlaku nasihat Yesus, bahwa orang harus mengampuni “sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22), berarti tanpa batas. Maka sikap St. Paulus dalam 1Kor 5:1- 13 dan dalam 2Kor 2:5-11 lain. Pengucilan tidak dimaksudkan sebagai hukuman bagi dosa, melainkan sebagai perlindungan untuk jemaat yang adalah umat Allah yang suci.

Kebiasaan Gereja perdana diteruskan dalam Gereja kuno pada zaman para Bapa Gereja. Pada masa itu dikembangkan suatu upacara khusus, baik untuk mengucilkan seseorang maupun untuk menerimanya kembali di kalangan Gereja. Orang yang memberi sandungan karena perbuatan jahat (membunuh, merampok, zinah, dan murtad), bila mengaku dosanya di hadapan uskup, ditempatkan di kalangan orang yang menjalankan laku tapa. Mereka mempunyai tempat khusus di gedung gereja (atau di mukanya), mempunyai pakaian khusus dan diwajibkan berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah. Mereka tidak boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, dan diperlakukan sebagai “katekumen”, yakni orang yang belum dibaptis dan belum menjadi anggota Gereja.

Setelah selesai masa tobat, yang ditetapkan oleh uskup, mereka – biasanya pada Kamis Putih – diterima kembali di kalangan Gereja, oleh uskup juga. Maka jelas ada suatu upacara khusus, baik untuk pengucilan maupun untuk penerimaan kembali. Yang pokok dalam ibadat suci itu ialah tobat sendiri atau laku tapa. “Sakramen mengikat dan melepaskan” terang berkembang menjadi sakramen tobat. Yang khusus di dalamnya ialah bahwa:

  1. dilakukan secara publik dan terbuka;
  2. dipimpin oleh uskup sendiri; dan 
  3. dibatasi pada dosa-dosa yang memberi sandungan (mungkin hal itu sudah berlaku pada zaman Gereja perdana).

Masih ada satu ciri lain yang perlu diperhatikan, bahwa orang hanya satu kali saja dapat menjalani tobat seperti itu. Seandainya sesudah itu ia jatuh lagi, ia tidak diberi kesempatan kembali menjadi anggota aktif dalam Gereja. Kiranya hal itu pun sudah menjadi kebiasaan dalam Gereja perdana, sebab dalam Ibr 6:4-6 dikatakan:
“Mereka yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibarui lagi, hingga bertobat” (lih. juga 10:26-29; 12:15-17). Satu kali saja, tidak lebih. “Tobat publik” itu sungguh serius, bahkan terasa amat berat dan laku-tapa yang diwajibkan sering kali amat sulit dan lama.

Tobat seperti itu menjadi kebiasaan di daerah sekitar Laut Tengah, tempat Paulus pernah mewartakan Injil. Dari situ tersebar ke seluruh Eropa Selatan dan lebih jauh lagi. Tetapi di Inggris dan Irlandia orang mempunyai kebiasaan lain. Di situ pokok sakramen tobat juga laku tapa, tetapi yang menetapkan laku tapa itu, dan yang sesudahnya menerima kembali dalam Gereja, bukanlah uskup melainkan seorang imam biasa. Laku tapa tidak dilakukan secara terbuka lagi (walaupun biasanya orang mengetahui juga, karena beratnya laku tapa yang harus dilakukan). Karena tidak lagi bersifat publik secara penuh, laku tapa dilakukan juga untuk dosa (berat) pribadi dan boleh diulangi. Kebiasaan yang cukup berbeda ini, kiranya harus diterangkan dari sifat khusus Gereja di Inggris dan Irlandia yang berkembang di sekitar biara-biara. Dalam biara sedari semula orang biasa menjalani laku tapa, juga untuk dosa yang tidak memberi sandungan, bahkan yang tidak diketahui umum. Tobat dan laku tapa itu dibimbing oleh seorang rahib lain bukan oleh uskup. Praktik tobat yang juga dilakukan di luar tembok biara, di antara umat yang biasa, kemudian oleh para misionaris Inggris dan Irlandia dibawa ke Eropa Utara. Dengan demikian ada dua macam sakramen tobat. Karena tobat publik makin terasa terlalu berat, akhirnya tobat privat menjadi umum.

(b) Tobat Publik dan Tobat Privat

Pada pokoknya “tobat privat” tetap sakramen tobat, yang inti pokoknya adalah laku tapa. Semula laku tapa dalam tobat privat tidak kalah berat dengan tobat publik. Yang istimewa hanyalah, bahwa sakramen itu dilayani oleh seorang imam, untuk dosa pribadi juga (tidak hanya untuk yang memberi sandungan), dan boleh diterima lebih dari satu kali. Untuk menghindari kesewenangan dalam menentukan laku tapa, ditetapkan “tarip” yang berlaku untuk seluruh daerah: untuk dosa ini, laku tapanya itu. Orang bertanggung jawab sendiri untuk pelaksanaan laku tapanya. Tetapi bila selesai, sering kali sulit menemukan kembali imam yang menetapkannya. Maka lama kelamaan orang langsung diterima kembali secara “bersyarat”, yakni kalau sudah menyelesaikan laku tapanya. Bahkan lebih kemudian lagi, sudah cukup kalau dia berjanji dan mempunyai niat sungguh untuk melakukan dendanya itu. Pada waktu itu laku tapa sudah bukan pokok lagi, melainkan syarat. Dengan demikian, sebenarnya sakramen tobat sudah berubah menjadi sakramen pengampunan dosa.

Langkah berikutnya ialah bahwa laku tapa atau denda juga tidak lagi seberat zaman dahulu, biasanya berupa doa saja, sebab mengaku dosa sendiri sudah dianggap cukup berat. Sejak itu orang berbicara mengenai sakramen pengakuan dosa. Dari pihak orang yang menerima sakramen, yang pokok adalah pengakuan, sebab yang dipandang sebagai “pelaku utama” bukan lagi orang yang bertobat, tetapi imam yang memberi absolusi sebagai tanda pengampunan dosa. Hanya saja, supaya dapat memberikan denda yang sesuai, imam harus tahu dosanya. Untuk itu perlu pengakuan. Titik berat tergeserkan dari tobat kepada pengakuan, dan dari orang yang bertobat kepada imam yang memberikan pengampunan.

(c) Ajaran Gereja tentang Sakramen Tobat

Konsili Vatikan II meninjau kembali sakramen tobat. Pertama-tama, Konsili memakai lagi istilah “sakramen tobat”. Sebab yang terpenting memang tobat dan “orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan dengan Gereja juga ditekankan, “Mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja” (LG 11). Oleh karena itu, Konsili juga menghendaki supaya “upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat ditinjau kembali” (SC 72). Itu dilakukan pada tahun 1973.

Dalam pengantar buku “Liturgi Tobat” yang baru itu antara lain dikatakan bahwa orang yang datang ke Sakramen Tobat “pertama-tama harus berpaling kepada Allah dengan segenap hati. Pertobatan batiniah ini dinyatakan lewat pengakuan kepada Gereja, pelaksanaan penitensi (denda) yang ditetapkan dan pembaruan hidup”. Yang pokok adalah tobat. Pengakuan serta denda tidak lain daripada pernyataan sikap tobat itu. Dari pihak lain, “lewat tanda absolusi Allah memberikan ampun kepada si pendosa, yang dengan pengakuan sakramental menyatakan pertobatannya kepada pelayan Gereja”. Tetapi ditegaskan, bahwa “yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh orang beriman sendiri, selaku pentobat” dan “bersama dengan imam ia merayakan liturgi Gereja, yang terus-menerus membarui diri”. Maka sakramen ini tidak lagi disebut “sakramen pengampunan”, tetapi sakramen tobat.

Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam sakramen tobat dua hal: pengakuan dan penitensi (denda). Tetapi hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku-tapa dan matiraga sukarela. Dalam hal ini ia dapat dibantu oleh indulgensi, yakni penghapusan dari hukuman-hukuman sementara karena jasa-jasa anggota Gereja yang lain, khususnya para santo dan santa, bahkan juga karena karya Tuhan Yesus sendiri. Supaya orang dapat mengambil bagian dari khazanah rohani Gereja itu, ditetapkan syarat-syarat tertentu, yang biasanya bersifat doa.

Sakramen tobat tetap terarah kepada penerimaan kembali oleh Allah di dalam Gereja. Tetapi ditekankan bahwa “perayaan Sakramen Tobat selalu merupakan pengakuan iman Gereja”. Sakramen tobat itu “sakramen iman”, di dalamnya secara khusus terungkapkan iman orang berdosa. Ini sebenarnya tidak berbeda total dengan pandangan sebelum Konsili, sebab Gereja selalu sudah yakin, bahwa tobat sungguh merupakan anugerah Allah dan dorongan Roh Kudus.

Oleh rahmat Allah orang sadar akan kemalangannya sendiri, dan menyatakan kelemahannya di hadapan Allah. Allah sendiri menarik orang berdosa. Dengan mengaku diri orang berdosa, maka manusia menyerahkan diri lagi kepada Allah yang maharahim. Apa yang disebut “pengakuan dosa”, sebetulnya tidak lain daripada mengaku diri orang berdosa. Yang pokok bukan dosa-dosa, melainkan diri orang yang sebagai pendosa mohon belaskasihan Tuhan. Allah senantiasa menawarkan rahmat-Nya kepada pendosa, tetapi manusia harus mau menerimanya. Itu terjadi dalam sakramen tobat. Iman dan tobat tidak dapat dipisahkan. Tobat itu iman orang berdosa. Dan walaupun “Gereja adalah suci, namun sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (LG 8).

Oleh karena itu, iman Gereja selalu berupa tobat. Kalaupun orang tidak selalu terpisah dari Allah karena dosa-dosa yang besar, dosa kecil pun memperlihatkan kedosaan manusia. Maka dengan sewajarnya manusia terus-menerus mengembangkan sikap tobat dalam dirinya, karena dengan demikian ia makin sadar bahwa “karena kasih karunia ia diselamatkan, oleh iman; itu bukan hasil usaha manusia sendiri, tetapi pemberian Allah. Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef 2:8-10). Pokok sakramen tobat ialah pengakuan iman terhadap belas kasihan Tuhan. Di samping itu, praktik kehidupan sakramen tobat juga merupakan kesempatan baik untuk meminta bimbingan dan pengarahan dalam menjalankan hidup Kristiani.

Menghayati Sakramen Mahakudus

Dari ajaran Konsili Vatikan II jelaslah bahwa penghayatan Ekaristi tidak sama dengan menyambut komuni atau menghormati Yesus dalam tabernakel. Yang pokok adalah mengambil bagian dalam perayaan. Komuni berarti ikut serta secara sakramental (artinya melalui “tanda dan sarana”) dengan Doa Syukur Agung, yang mengungkapkan iman Gereja akan wafat dan kebangkitan Kristus. Maka dari umat pertama-tama diharapkan sikap iman yang sama.

Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi – dalam iman – dengan Kristus. St. Paulus menulis, “Bukankah piala ucapan syukur, yang di atasnya kita ucapkan syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan berarti persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Ekaristi berarti “persekutuan dengan Kristus”. Dan memang, kita “dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita” (1Kor 1:9). Hal itu berarti pertama-tama “persekutuan Roh Kudus” (2Kor 13:13), sebab kesatuan dengan Kristus berarti “persekutuan iman” (Flm 6). Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang – karena iman – hadir dalam seluruh umat.

Dari pihak lain, tradisi Gereja juga tidak mau membatasi kebaktian kepada sakramen mahakudus pada perayaan liturgis saja. Ada perarakan, pentakhtaan sakramen mahakudus, kunjungan di muka tabernakel, pujian dan berkat meriah.

“Komuni orang sakit” tidak termasuk devosi-devosi, sebab dengan jalan menyambut komuni orang sakit, yang terhalang mengikuti perayaan, toh diberi kesempatan ikut serta dalam perayaan itu. Maka perlu diperhatikan bahwa komuni orang sakit tidak dapat dilepaskan dari perayaan Ekaristi sendiri.

“Komuni di stasi” serupa dengan itu, sebab di situ pun ada orang yang terhalang mengambil bagian dalam perayaan bersama di gereja pusat. Oleh karenanya, perlu diingat bahwa sesungguhnya orang itu mengambil bagian dalam perayaan, di mana hosti-hosti itu dikonsekrasi. Khususnya untuk komuni di dalam gereja biasa, perlu diingat ketetapan Pedoman Umum Buku Misa (no. 56h), “agar umat menyambut Tubuh Tuhan dari hosti-hosti yang diberkati dalam misa yang sedang dirayakan itu”. Kalau pada hari Minggu diberkati hosti-hosti untuk seluruh minggu, itu kurang menghormati sakramen mahakudus.

Apa yang dikatakan oleh Konsili Vatikan II mengenai devosi-devosi pada umumnya, berlaku terutama untuk devosi-devosi ekaristis: “ulah kesalehan itu perlu diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan liturgi suci, sedikit banyak bersumber padanya dan menghantar umat kepada liturgi; sebab menurut hakikatnya liturgi memang jauh lebih unggul dari semua ulah kesalehan itu” (SC 13). Kalau demikian, mengapa “hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut serta dalam liturgi” (SC 12)? Karena liturgi menurut hakikatnya berupa perayaan bersama. Bisa terjadi penghayatan pribadi tidak mendapat perhatian secukupnya. Padahal, Ekaristi (dan liturgi pada umumnya) tidak mungkin menjadi pengungkapan iman tanpa penghayatan iman secara pribadi. Oleh sebab itu devosi-devosi dimaksudkan untuk menunjang dan memperkuat semangat iman, demi perayaan bersama yang resmi dan gerejawi.

Bagian Ekaristi yang Lain

20130603144701861_0001Pokok perayaan Ekaristi adalah Doa Syukur Agung dan komuni, sebagai partisipasi pada doa yang dibawakan oleh imam. Di samping itu berkembanglah banyak doa dan upacara yang lain, yang mendukung dan memeriahkan perayaan. Yang pertama adalah liturgi sabda, yang juga diambil alih dari ibadat Yahudi. Doa Syukur dan komuni berasal dari kebaktian di rumah, khususnya dari doa sebelum dan sesudah makan, sedangkan liturgi sabda berasal dari kebaktian di sinagoga atau pertemuan jemaat lokal. Dalam perayaan Ekaristi kedua hal itu tidak hanya menjadi satu, tetapi biasanya juga tidak lagi dirayakan dalam keluarga, melainkan dalam ibadat bersama.

Mulai abad ke-4 diadakan doa umat antara liturgi sabda dan Doa Syukur Agung. Tidak lama kemudian Doa Syukur Agung, yang sampai waktu itu selalu dibawakan dengan bebas, mulai diseragamkan. “Tuhan, kasihanilah kami” dan “Bapa kami” masuk pada zaman Paus Gregorius Agung (540-604), yang juga menambahkan banyak nyanyian. Seratus tahun kemudian dimasukkan “Anak Domba Allah” (yang sebetulnya sangat mirip dengan “Tuhan, kasihanilah kami”). Doa-doa pada persembahan dan komuni, dan kebanyakan doa kecil yang lain, baru ada sejak tahun 900, dan baru pada tahun 1570 ada buku “missale“, yang empat ratus tahun kemudian (1970) diganti dengan buku misa yang dipakai sekarang. Secara liturgis semua itu bersama merupakan perayaan Ekaristi. Di dalamnya dapat dibedakan apa yang dalam arti sesungguhnya merupakan sakramen, yaitu Doa Syukur Agung dan komuni, dan doa-doa serta upacara lain yang mendukung yang pokok itu.

Sejak Konsili Vatikan II “upacara-upacara disederhanakan, dengan tetap mempertahankan yang pokok. Dihilangkan semua pengulangan dan tambahan yang kurang berguna, yang muncul dalam perjalanan sejarah. Dengan demikian umat beriman lebih mudah ikut-serta dengan khidmat dan aktif’ (SC 50).

Pada masa lampau sering kali “persembahan” juga dilihat sebagai unsur pokok Ekaristi. Tetapi “persembahan” sebetulnya merupakan persiapan roti dan anggur. Dalam Gereja kuno persembahan itu tidak merupakan upacara khusus, melainkan dilakukan oleh koster atau seorang diakon. Baru di kemudian hari persiapan ini dibuat menjadi acara tersendiri, sering kali dengan sebuah arak-arakan. Karena menjadi upacara sendiri, lalu mendapat arti sendiri. Persembahan dilihat sebagai kurban umat, yang kemudian diubah menjadi kurban Kristus. Kristus tidak dikurbankan lagi dan umat hanya ikut serta dengan kurban Kristus, yang dikenangkan secara sakramental dan secara sakramental pula dipartisipasi oleh umat.

Alhasil, perayaan Ekaristi sekarang terdiri dari dua bagian pokok: liturgi sabda dan liturgi ekaristi. Yang utama tentu liturgi ekaristi, yakni Doa syukur Agung dan komuni. Dalam Doa Syukur Agung dimuliakan karya keselamatan Tuhan, sedangkan dalam liturgi sabda disadari kembali karya agung Allah yang kemudian akan disyukuri.

Liturgi sabda didahului dengan “pembukaan” untuk mempersiapkan hati bagi perayaan Ekaristi. Tekanan ada pada kesadaran diri sebagai orang berdosa yang lemah (terungkap dalam “pernyataan tobat” dan “Tuhan kasihanilah kami”). Sementara itu, sikap puji-syukur juga sudah dipersiapkan (“Kemuliaan”).

Walaupun Doa Syukur Agung dan komuni sebetulnya merupakan satu kesatuan, namun banyak doa sekitarnya menyebabkan komuni tampak seolah-olah suatu upacara yang berdiri sendiri. “Bapa Kami” dan “Salam Damai” menegaskan bahwa komuni berarti persekutuan (communio) antarumat. “Anak Domba Allah”, yang menegaskan lagi kelemahan dan kerapuhan orang, memusatkan perhatian pada komuni sebagai kesatuan dengan Tuhan. Doa-doa penutup dengan berkat mengantar orang kembali kepada hidup sehari-hari.

Liturgi Ekaristi Gereja

Dari Kisah para Rasul (2:42.46; 20:7.11) diketahui bahwa jemaat perdana dengan rajin merayakan Perjamuan Tuhan. Dari kesaksian Paulus (1Kor 11:17-34) dapat ditarik kesimpulan, bahwa mereka merayakannya serupa dengan Perjamuan Terakhir, artinya menurut adat-kebiasaan orang Yahudi. Hal itu tidak mengherankan, karena murid-murid yang pertama kebanyakan berasal dari kalangan Yahudi. Namun dari berita Paulus mungkin kelihatan bahwa perayaan bersama dengan orang lain (yang belum Kristiani) dapat menimbulkan kesulitan.

Bagaimanapun juga, sekitar tahun 200 (barangkali sudah sebelumnya), dalam kerangka perayaan Ekaristi sudah tidak lagi diadakan perjamuan sungguh (artinya, makan besar). Semua terbatas pada doa saja, yakni doa sebelum dan doa sesudah makan. Karena sudah tidak ada makan lagi, maka kedua doa itu tentu menjadi satu. Doa pendek sebelum makan diintegrasikan dalam doa yang disebut birkat ha-mazon menjadi Doa Syukur Agung seperti yang dikenal sampai sekarang.

Sakramen

Semua yang dikatakan mengenai liturgi sebagai doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus berlaku secara istimewa untuk upacara-upacara liturgi yang disebut “sakramen”. Boleh dikatakan bahwa tujuh sakramen merupakan liturgi dalam arti yang paling padat

Konsili Vatikan II mengajarkan juga bahwa “Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian” (SC 83). Artinya, liturgi tidak terbatas pada bidang sakramen saja, tetapi mencakup juga Ibadat Harian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa liturgi terdiri dari perayaan sakramen (lengkap dan dengan segala upacara-perayaan yang menyertainya) dan Ibadat Harian. Tetapi Ibadat Harian sesungguhnya tidak “umum” di dalam Gereja. Yang wajib merayakan Ibadat Harian dalam koor (bersama-sama), ialah

  1. dewan pembantu uskup, para rahib dan rubiah, serta para imam biarawan lainnya, yang terikat pada Ibadat Harian bersama menurut hukum atau konstitusi tarekat;
  2. dewan para imam katedral atau para penasihat uskup untuk sebagian (SC 95).

“Para rohaniwan, yang tidak terikat kewajiban doa koor (bersama), bila sudah menerima tahbisan tinggi, setiap hari wajib mendoakan seluruh Ibadat Harian, entah bersama-sama, entah sendiri-sendiri” (SC 96; KHK kan. 1174).

Kekhususan sakramen kiranya dapat dimengerti dengan lebih jelas, bila dibandingkan dengan tugas pengajaran Gereja. Dikatakan bahwa “keseluruhan kaum beriman tidak dapat sesat dalam beriman” (LG 12). Ketidak-sesatan itu paling “terjamin” bila iman dirumuskan secara resmi oleh pimpinan Gereja menurut syarat-syarat tertentu. Begitu juga dengan liturgi. Liturgi senantiasa merupakan doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus. Dalam perayaan liturgi yang paling resmi, yakni dalam sakramen-sakramen, Kristus diimani kehadiran-Nya secara istimewa. St. Agustinus menyebut sakramen “rahmat yang tak kelihatan dalam bentuk yang kelihatan” (DS 1639).

Dalam bagian mengenai ‘rahmat‘ sudah dikatakan bahwa “rahmat” berarti kasih Allah kepada manusia. Dengan sewajarnya disebut “rahmat” atau kerahiman, karena dari pihak manusia tidak ada apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” untuk kasih Allah itu. Oleh dosanya manusia malah semakin tidak mempunyai dasar untuk mengharapkan sikap Allah yang luar biasa itu. Rahmat adalah misteri kasih pribadi Allah, yang mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia. Rahmat berarti manusia diterima sebagai anak dan dibuat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29), yaitu Yesus Kristus, dan selanjutnya bersatu-padu dengan Kristus – oleh Roh Kudus – dalam penyerahan-Nya kepada Bapa.

Justru karena merupakan kasih Allah, rahmat tidak pernah berarti paksaan, tetapi selalu mengandaikan jawaban bebas dari manusia terhadap kasih-kerahiman Allah. Jawaban manusia itu adalah iman. Maka dilihat dari sudut manusia, rahmat adalah iman. Tidak mengherankan bahwa Konsili Vatikan II memakai kata “sakramen iman”, sebab “sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan, dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda. Maka juga disebut sakramen iman” (SC 59; lih. PO 4). Entah dilihat sebagai pernyataan kasih Allah, entah sebagai pengungkapan iman manusia, sakramen selalu berarti penampakan kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya, dengan cara yang berbeda-beda, sehingga ada tujuh sakramen. Dalam arti sesungguhnya sebenarnya hanya ada satu sakramen saja, yakni Gereja sendiri.

Gereja sebagai keseluruhan “menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah kepada manusia” (GS 45). Yang disebut “tujuh sakramen” sebenarnya adalah upacara-perayaan yang di dalamnya Gereja mewujudkan diri secara khusus. Bidang liturgi pada umumnya, sakramen-sakramen pada khususnya adalah bidang penghayatan iman Gereja yang khusus (di samping bidang pewartaan dan bidang pelayanan). Gereja itu Gereja antara lain dengan mengungkapkan imannya dalam perayaan tujuh sakramen, khususnya sakramen Ekaristi.

Doa di dalam Gereja dan Doa Gereja

Perlu dibedakan antara doa pribadi dan doa bersama. Yang pertama dapat disebut “doa di dalam Gereja”, sedangkan yang kedua adalah “doa Gereja”. Dikatakan bahwa doa tidak sama dengan mendaraskan rumus-rumus hafalan melainkan pertama-tama dan terutama pernyataan iman di hadapan Allah. Doa berarti mengarahkan hati kepada Tuhan. Maka doa tidak membutuhkan banyak kata, dan tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang khusus. Yang berdoa adalah hati, bukan badan. Maka yang berdoa sebetulnya juga bukan manusia, melainkan Roh Allah sendiri (lih. Rm 8:26). Itu berlaku untuk doa pada umumnya, dan juga untuk doa di dalam Gereja. Tetapi untuk doa Gereja sebagai doa bersama, perlu sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan pengungkapan iman.

Doa Gereja merupakan doa resmi atau “liturgi”, yang dapat disebut “kebaktian” (sebab kata Yunani leitourgia berarti “kerja bakti”) atau lebih baik “ibadat resmi Gereja”. Yang pokok bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan demikian, liturgi adalah “karya Kristus Imam Agung, serta Tubuh-Nya, yaitu Gereja”. Oleh karena itu liturgi tidak hanya merupakan “kegiatan suci yang sangat istimewa”, tetapi juga wahana utama untuk menghantar umat Kristen ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus (SC 7). Memang, “liturgi suci tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja” (SC 9), tetapi dalam kerangka doa Gereja, liturgi merupakan pengantar utama ke dalam misteri Kristus, sebab dalam liturgi orang berdoa bersama Kristus, mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa-Nya.

Liturgi tidak hanya menawarkan aneka bentuk dan rumus doa, tetapi mau menjadi tempat orang merasakan dan menghayati komunikasi dengan Bapa, bersama Putra, dalam Roh Kudus. Inti pokok doa adalah kesatuan pribadi dengan Putra dalam penyerahan-Nya kepada Bapa. Itulah sebabnya Gereja selalu berdoa “dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus”. Itu tidak mungkin tanpa Roh Kudus. Maka doa Kristen adalah suatu gerakan dinamis: dalam Roh, bersama Kristus, menghadap Bapa.

Liturgi “bukanlah seluruh kegiatan Gereja”. Liturgi selalu harus berhubungan dengan Kitab Suci, sebagai kesaksian pokok mengenai Allah dan karya penyelamatan-Nya, dengan ajaran Gereja dan terutama dengan kehidupan jemaat. Liturgi termasuk pengungkapan iman. Iman berarti hubungan dengan Allah. Maka pokok liturgi adalah pengungkapan hubungan dengan Allah, dengan tekanan pada kehormatan dan kemuliaan Allah. Oleh karena itu liturgi pertama-tama merupakan pujian Tuhan. Tetapi kemuliaan Allah tidak pernah lepas dari segi lain iman, yaitu pengudusan manusia, sehingga liturgi selalu mempunyai dua segi itu: kemuliaan Allah dan pengudusan manusia. Liturgi itu pertemuan keselamatan dengan Allah, dalam Kristus, oleh Roh Kudus. Maka doa “Bapa kami”, yakni doa Yesus kepada Bapa-Nya tetap merupakan suri-teladan segala doa liturgis. Tetapi struktur pokok liturgi terdapat dalam Ekaristi, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini.

Liturgi bukan hanya pengulangan doa Yesus atau lanjutan ibadah Yahudi. Liturgi berkembang dalam sejarah, dan seharusnya tetap berkembang, sesuai dengan kekhasan unsur-unsur perayaan dalam kebudayaan Gereja setempat, sebab walaupun kebersamaan bukan inti pokok liturgi, melainkan kebersamaan merupakan unsur penting juga, dan penghayatan iman bersama tidak mungkin tanpa pengungkapan yang sesuai. Dalam hal ini ajaran Konsili Vatikan II jelas sekali:

“Umat beriman janganlah menghadiri misteri iman sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan sedemikian rupa sehingga melalui upacara dan doa-doa mereka memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka dengan rela hati menerima pelajaran dari sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, dan bersyukur kepada Allah” (SC 48).

Dalam Konstitusi mengenai Liturgi, Konsili Vatikan II tidak hanya berbicara mengenai doa dan perayaan kebaktian, tetapi juga menyinggung masalah “musik liturgi” dan “kesenian religius dan perlengkapan ibadat”, karena “Gereja selalu berusaha memanfaatkan kesenian, supaya segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadat suci sungguh layak, indah dan permai, agar supaya dapat menjadi tanda dan lambang kenyataan surgawi” (SC 122). Semua itu tidak termasuk pokok liturgi, tetapi mendukung dan menyemarakkan. Hal itu tidak hanya menyangkut gambar dan patung serta gedung gereja sendiri. Gerak-gerik dan bahasa, pakaian dan musik mendapat perhatian khusus. Dalam hal ini Gereja mengharapkan perpaduan antara tradisi dan inspirasi kreatif yang baru, khususnya yang bersumber pada cita-cita inkulturasi.

Berhubung dengan hal ini tumbuh di dalam Gereja kebiasaan memakai warna-warna tertentu dalam perayaan liturgi, khususnya dalam Ekaristi. Putih. dipakai untuk semua hari besar, kecuali Pentekosta. Pada hari itu merah adalah warna liturgis sebagai lambang cinta kasih ilahi; maka merah juga dipakai untuk pesta para martir, termasuk Yesus sendiri pada Jumat Suci (Agung) dan Minggu Palma. Untuk para santo dan santa yang lain: putih. Untuk masa persiapan, yakni masa Adven dan Prapaska, warna ungu. Warna itu tidak begitu cerah dan gembira, maka cocok untuk masa renungan dan mati-raga karena dosa-dosa kita. Hitam lebih muram lagi; karena itu cocok untuk doa bagi arwah-arwah. Tetapi kalau mau tidak terlalu menonjolkan kedukaan, boleh memakai ungu juga. Untuk semua perayaan lain, yang tidak termasuk yang disebut di atas, dipakai warna hijau.

Liturgi bukan tontonan, melainkan perayaan. Melalui perayaan itu sebagai pengungkapan iman Gereja, orang mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan. Tentu saja bukan hanya dengan partisipasi lahiriah. Yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang diungkapkan dalam doa. Tetapi kekhasan doa Gereja ini merupakan sifat resminya, sebab justru karena itu Kristus bersatu-padu dengan umat yang berdoa. Dengan bentuk yang resmi doa umat menjadi doa seluruh Gereja yang, sebagai Mempelai Kristus, berdoa bersama Sang Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa pribadi setiap anggota jemaat. Liturgi baru menjadi doa dalam arti penuh, bila semua yang hadir secara pribadi dapat bertemu dengan Tuhan dalam doa bersama itu. Kalau demikian terjadi apa yang dikatakan Tuhan “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Atau dengan rumusan Konsili Vatikan II, “Di dalam jemaat-jemaat, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik” (LG 26). Karena kehadiran Kristus, liturgi membuat jemaat setempat menjadi Gereja dalam arti yang penuh, sebab di dalamnya setiap orang didorong ke arah kesatuan pribadi dengan Kristus dan bersama-sama mereka membentuk Gereja Kristus. Dengan demikian setiap “paroki dalam arti tertentu menghadirkan Gereja semesta” (SC 42).