Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 2 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Tujuh bantahan dari Liberalis

Bantahan 1:

Sepertinya ada kontradiksi (pertentangan) antara 2 (dua) ajaran Kekristenan jaman dahulu: antara (1) teologi Kristen tentang neraka yang kaku, keras, sempit dan menghakimi — dengan mengatakan “hanya satu jalan ke surga”, kemurkaan abadi menanti dari Allah bagi tidak mengikuti jalan tersebut.  — (2) teologi Kristen tentang Allah yang maha pengasih, maha pengampun, dan maha pemurah. Untuk itu demi kemajuan moralitas kita harus mengkoreksi teologi yang dapat mengakibatkan kemunduran moralitas.

Tanggapan: Kita TIDAK boleh mengkoreksi teologi tentang penghakiman. Demi moralitas cinta kasih, sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengkoreksi teologi penghakiman, melainkan kita seharusnya menginterpretasikan (menafsirkan, mengartikan) teologi penghakiman tersebut. Penghakiman dan kemurkaan oleh Allah berakar dari cinta Allah. Kemurkaan dari Allah bagi kita merupakan rasa dari cinta Allah yang tidak kita sukai. Kita mengenakan kemurkaan (yang kita rasakan, yang kita tanggapi sebagai kemurkaan) dari sudut pandang kita sendiri kepada Allah yang mengasihi kita. Sama halnya dengan interpretasi (penafsiran) yang kelihatannya sah, tetapi sebenarnya tidak memadai dikatakan sah ketika bertentangan dengan sebagian data kita yang lain. Untuk itu lebih baik, kita harus menemukan suatu visi (pandangan) yang membantu kita menemukan arah tujuan, rekonsiliasi, mengesahkan dan menjelaskan SEMUA data yang kita punya.

Retorika tentang “kemajuan” dan “kemunduran” sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Mereka yang mengatakan kenyataan suatu kondisi dan menyatakan “kebenaran” yang sesuai karena berdasarkan waktu, atau kalender; dan tidak mempunyai pegangan dasar kebenaran terlepas dari waktu adalah orang-orang yang mempraktekan kesombongan kronologis.

Orang Kristen sebaiknya menjadi orang yang keras kepala tetapi berhati lembut. Jangan menjadi sebaliknya berkepala lembut tetapi berkeras hati. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang cerdik seperti ular tulus seperti merpati (Matius 10:16). Dua hal yang diperlukan yaitu: mencari Allah dan menemukan Allah; hal pertama kita perlu menanamkan dalam hati misi pencarian Allah, kemudian hal berikutnya adalah menemukan Allah dengan pikiran kita. Mulai dengan keinginan (hati) untuk mengenal Allah , kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan (pikiran) akan Allah. Keinginan untuk mengenal Allah adalah bersifat Subjektif; dan Pengetahuan akan Allah adalah bersifat Objektif. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah kebenaran. Cinta dan Kebenaran adalah adalah kesatuan mutlak sama halnya sifat Allah yang Maha Pengasih dan Sumber Kebenaran.

Teologi di satu sisi mempertebal pengetahuan objektif kita akan kebenaran Allah, kebenaran doktrin, yang menjadi dasar keteguhan pengetahuan kita sehingga kita dapat menjadi ‘keras kepala’. Dan disisi lainnya teologi juga memperjelas pandangan subjektif, yaitu cinta kasih,  kelembutan hati. Kedua sisi tersebut dibutuhkan agar diselamatkan. Ketaatan ajaran, pengetahuan akan Allah tidak dapat menyelamatkan kita jika hati kita penuh dengan kebencian. Dan cinta kasih tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak jujur dan tidak peduli dengan kebenaran, yang akhirnya membuat cinta kasih kita bukan cinta kasih yang sebenarnya.

Bantahan 2:

Kalau semua orang dapat diselamatkan cukup dengan pengetahuan akan mengenal sang Kristus sebelum inkarnasi (prainkarnasi) atau yang dikenal sebagai Logos, mengapa repot-repot orang Kristen mewartakan tentang Yesus Kristus (yang setelah inkarnasi)? Kalau kita bisa masuk surga melalui pintu belakang, mengapa kita harus repot melalui pintu depan?

Tanggapan: Hal pertama yang perlu diluruskan, sang Logos atau sang Kristus yang prainkarnasi bukanlah pintu belakang untuk masuk surga. Surga tidak mempunyai pintu belakang atau pintu lain. Hanya ada satu pintu surga, satu jalan, yaitu: Yesus Kristus yang menyatakan sendiri bahwa dirinya lah jalan untuk ke surga. Logos yang dikenal sebelum inkarnasi Kristus adalah Yesus Kristus yang sebelum dilahirkan. Dia-lah sang Kebenaran yang dicari oleh semua orang jujur yang belum percaya.

Hal kedua, kita mewartakan Yesus Kristus — dan semua orang yang mendengar seharusnya percaya Yesus Kristus — karena Yesus adalah Kebenaran. Itulah dasar yang sebenar-benarnya menjadi alasan bagi orang Kristen  mewartakan atau beriman.

Hal ketiga, Pengetahuan akan Yesus Kristus yang datang dunia sebagai manusia akan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua orang agar dapat diselamatkan, dibandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki orang yang belum mengenal Yesus yaitu pengetahuan yang tidak pasti dan tidak jelas dengan hanya mengandalkan akal budi dan kesadaran diri sendiri. Alasan yang dikatakan oleh Yesus sendiri yang tertulis pada Injil Yohanes 18:37; “… Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”, Yesus menawarkan alasan yang lebih jelas kepada manusia, alasan yang paling jelas. Umpakan tetangga anda seseorang yang mempunyai pengetahuan seadanya yang dapat membantu persalinan anak anda, kira-kira bukankah kita lebih memilih dokter persalinan yang lebih mantap pengetahuannya dalam persalinan?

Hal keempat, untuk mengasihi Allah kita perlu mengenal Dia lebih baik. Siapapun yang tidak peduli tentang pengetahuan akan Allah, tidak peduli juga untuk mencintai Allah. Cinta kasih selalu ingin tumbuh berkembang, dan tumbuh kembangnya melalui pengetahuan dan komunikasi. Prinsip itu serupa dengan memegang kebenaran cinta kepada Allah atau cinta kepada sesama. Mentalitas Ketidakpedulian adalah benar-benar moral tanpa cinta kasih, dan mental tersebut mengakibatkan hambatan bagi keselamatan.

Bantahan 3:

Doktrin yang mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat bersifat menghakimi

Tanggapan A: Yang mengatakan hal itu adalah Yesus Kristus sendiri, bukan berasal dari pengajar Katolik. Pengajar Katolik hanya meneruskan doktrin tersebut.

Tanggapan B: Doktrin itu menghakimi terhadap dosa-dosa, tetapi mengampuni para pelaku dosa. Yesus menghakimi perbuatan dosa dan mengampuni pendosa. Agar jelas kita harus membedakan mengasihi pendosa (manusia) dan membenci dosa (perbuatan yang salah).  (Dari semuanya itu, Allah mengajarkan umatnya hanya apa yang Dia lakukan oleh dirinya sendiri.) Jika kita mengenali diri kita sendiri berdosa, menolak untuk bertobat dan melekatkan diri pada kehidupan spiritual kita yang jelek, maka ketika Allah datang untuk memisahkan dosa dengan yang sudah memisahkan diri dengan dosa, kita akan terikat dengan dosa yang tidak mau kita lepaskan dan ikut terjatuh ke neraka.

Jika hanya satu hal di dunia ini yang dapat memisahkan perekat diri manusia dan dosa, apakah hal itu kita sebut “menghakimi”? Itulah keduniawian kita; jika kita tidak menyukai sesuatu hal, kita akan memperselisihkan dengan diri kita sendiri, bukan dengan suatu ideologi.

Tanggapan C: Apakah benar kita menginginkan Allah sepenuhnya bersifat “tidak menghakimi” dan tidak menghakimi dosa kita sama sekali? Apakah yang kita mau bahwa Keselamatan itu hanya menyelamatkan kita dari hukuman dan bukan dari dosa? Apakah kita juga mau Allah untuk mentoleransi adanya dosa di dalam Surga? Apakah kita mau semua orang membawa keburukan duniawi ke surga, semua hal dari perang hingga pemerkosaan? Apakah kita lebih memilih bahwa surga juga memiliki pengacara dan polisi?

Di sisi pengadilan yang terlalu teliti akan sulit membedakan dosa dengan pendosa; dan menjatuhkan hukuman kepada keduanya yaitu dosa dan pendosa. Sebaliknya di sisi liberal, mereka juga sulit membedakan dosa dengan pendosa, dan tidak menghakimi keduanya yaitu dosa dan pendosa. Tetapi jika kita tidak menghakimi dosa, maka kita juga tidak peduli terhadap pendosa bersangkutan. Sama halnya jika kita tidak membenci penyakit kanker, kita tidak mencintai (mengasihi) penderitanya.

Tidak ada kontradiksi antara doktrin Kristen yang keras dan tegas dengan kelembutan cinta kasih. Sama halnya tidak adanya kontradiksi antara dokter yang keras dan tegas mengetahui seluk beluk tubuh manusia, mengobati dan mencegah penyakit dengan (kasihnya) pengabdiannya untuk menyelamatkan pasien.

Bantahan 4:

“Hanya Kristus satu-satunya jalan” adalah ajaran yang sangat sempit.

Tanggapan: Ya benar. Kenyataannya jalan menuju keselamatan sangat sempit. Hanya satu cara yang dapat menyelamatkan kita, hanya satu jalan untuk keluar dari ketidakpastian, hanya satu jawaban dari tiap rumusan, hanya satu pasang yang dapat menikah dengan sebenarnya. Penyelamat yang lain selain Yesus dapat menyelamatkan kita dari semua hal kecuali dari dosa – jika mereka memang dapat menyelamatkan.

Bantahan 5:

Doktrin “jalan yang sempit” adalah doktrin yang tidak sesuai dengan gambaran Allah, gambaran yang tidak suci; karena sifat Allah bukanlah sempit tetapi sangat luas.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengenal sifat Allah? Seorang Kristen akan memberikan jawaban: kita mengenal sifat Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sepenuhnya wahyu, gambaran  dari Allah Bapa bagi manusia  (Yohanes 14:9; Kolose 1:15.19). Yesus Kristus yang menyatakan hati Allah sangat tidak terbatas luasnya (Matius 18:14; bandingkan 1 Petrus 3:9) dan jalan menuju kehidupan sempit (Matius 7:14). Kita dapat mengenal lebih dekat bagaimana sifat Allah melalui wahyu dari Allah itu sendiri, lebih jelas dibandingkan dengan asumsi-asumsi (rekaan) dari kita yang dipengaruhi oleh kondisi sosial sekitar.

Bantahan 6:

Allah mengampuni semua orang; oleh karena itu semua orang sudah diampuni dan diselamatkan.

Tanggapan: Allah mau memberikan ampunan kepada semua orang; Dia menawarkan pengampunan sebagai pemberian yang cuma-cuma kepada semua orang; tetapi sebuah pemberian yang cuma-cuma itu seharusnya juga diterima dengan bebas (iklas). Bagaimana kita dapat menerima suatu pemberian cuma-cuma tetapi tidak mempercayai Dia yang memberi dan tidak yakin dengan apa yang diberi.

Bantahan 7:

Mungkin benar agama tidak lebih dari sesuatu yang sifatnya subjektif. Ilmu pengetahuan (science) telah mengambil alih semua eksistensi pengetahuan objektif di dunia, dan yang tersisa bagi agama hanyalah jiwa subjektif kita? dan secara subjektif, ketulusan dari setiap orang sudah cukup.

Tanggapan A: Jika agama hanya subjektif, maka Kekristenan bukanlah suatu agama, karena Kekristenan mencakup klaim kebenaran yang objektif.

Tanggapan B: Ilmu pengetahuan belum mengambil alih semua bidang pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan hanya mengetahui sangat sedikit dari kenyataan yang sebenarnya, seperti seberkas cahaya dari lampu sorot, atau sinar laser hanya menerangi sebagian kecil dari kenyataan suatu ruangan.

Tanggapan C: Ilmu pengetahuan tidak menyangkal, menggantikan, atau mengurangi nilai agama dalam cara apapun.

Tanggapan D: Allah yang digambarkan di dalam Kitab Suci selalu mencengangkan kita, dalam banyak cara; mencengangkan kita karena tidak sesuai dengan perkiraan kita, tidak sesuai dengan subjektifitas kita. Sesuatu yang bersifat subjektif menurut kita tidaklah asing bagi kita, tidak mengcengangkan kita karena subjektif itu adalah sudut pandang dari kita. Tetapi Allah bukanlah sesuatu yang subjektif, begitu juga agama, karena kebenaran kenyataan itu bukan berasal dari subjektif manusia, melainkan kebenaran objektif dari Allah.

Keadilan dengan Hormat akan Kerja

Dengan Rerum Novarum (1891), Paus Leo XIII ingin membela kaum buruh dan oleh sebab itu, kerja dan permasalahan kaum buruh menjadi tema perdana dalam ajaran sosial Gereja. Guna mengatasi kemiskinan kaum buruh dan guna membebaskan mereka dari penindasan, Paus Leo XIII mengemukakan ajaran moral: (1) majikan-majikan tidak boleh memperlakukan buruh-buruh sebagai budak. Oleh sebab itu, mereka terutama wajib membayar upah yang adil, yang menjamin hidup layak para buruh; (2) para buruh berhak bergabung dalam perserikatan buruh, supaya dapat mengemukakan tuntutan mereka yang wajar dengan lebih tegas, dan supaya dapat mendesak pelaksanaannya bahkan dengan pemogokan.

Paus Leo XIII yakin, asal semua pihak yang bersangkutan (terutama kaum buruh dan majikan, namun juga pemerintah) menjalankan kewajiban masing-masing, masalah sosial dengan sendirinya akan selesai. Melawan pandangan liberalis, paus mengingatkan kewajiban pemerintah melindungi kepentingan para buruh; melawan tuntutan sosialisme untuk meniadakan hak milik pribadi, paus membela hak buruh akan milik, sebagai hasil kerja dan tabungan mereka. Paus mengecam sosialisme (marxis) karena materialismenya.

Empat puluh tahun sesudah itu, Paus Pius XI menjelaskan lebih lanjut ajaran Paus Leo XIII itu. Pertama-tama, soal upah yang adil: tidak setiap kontrak kerja dengan sendirinya adil meskipun sudah disetujui oleh buruh. Kontrak kerja antara pemilik modal, majikan, dan buruh baru dapat disebut adil kalau ada kesepakatan mengenai upah yang adil, dan kalau para buruh diberi kesempatan ikut menentukan arah kebijakan perusahaan. Menurut Quadragesimo Anno, upah harus mencukupi kebutuhan buruh sendiri dan keluarganya, kebutuhan material (seperti makan dan kesehatan) maupun kebutuhan budaya (seperti pendidikan dan rekreasi).

Upah mendapat perhatian utama sebab hanya melalui kerja dan upah, orang kebanyakan dapat mengambil bagian dalam kekayaan dunia yang diperuntukkan bagi semua orang. Selain itu, mulai disadari pula bahwa masalah sosial hanya dapat diatasi, kalau pertentangan antara kelas buruh dan pemilik modal dapat diatasi sehingga mereka dapat membina kerjasama. Untuk itu, Quadragesimo Anno mengusulkan supaya dalam masyarakat industri dibentuk institusi-institusi pengantara yang menjalin kerjasama antara buruh dan majikan dalam satu proyek. Paus Pius XI juga mengoreksi salah paham, seakan-akan menurut ajaran sosial Gereja hak milik itu suci. Ditegaskannya bahwa hak milik bersifat sosial. Khususnya modal besar harus dipakai demi kesejahteraan umum dan negara, dan pemerintah harus mengawasi hal itu. “Modal tidak boleh dipakai melawan kepentingan kerja” (LE).

Konsili Vatikan II juga berbicara mengenai kerja, namun terutama mengenai nilai “kegiatan manusia, baik perorangan maupun kolektif, yaitu usaha raksasa yang dari zaman ke zaman dikerahkan oleh banyak orang untuk memperbaiki kondisi hidup manusia”. Usaha manusia itu “sesuai dengan rencana Allah” dan “kemenangan-kemenangan bangsa manusia menandakan keagungan Allah” (GS 34). Kerja manusia itu luhur, juga kerja para buruh. Maka sambil memuji prestasi kemajuan ekonomi, Konsili menegaskan bahwa dalam usaha-usaha ekonomi “kerja manusia … lebih unggul daripada faktor-faktor ekonomi lainnya yang hanya bersifat sarana” (GS 67). Oleh sebab itu, harus diusahakan kondisi kerja yang sesuai dengan martabat manusia, upah yang memadai, dan partisipasi karyawan dalam menentukan kebijakan perusahaan dan ekonomi nasional.

Ajaran sosial Gereja tidak mengutuk ekonomi kapitalis, beserta bentuk perusahaan, manejemen dan cara kerjanya. Namun ditegaskan bahwa perusahaan merupakan persatuan manusia, bukan persatuan uang saja. Ajaran sosial Gereja mengecam pemikiran kapitalis yang mengutamakan kepentingan modal di atas kepentingan buruh, politik kapitalis yang mempekerjakan buruh guna meraih keuntungan semata-mata, sehingga buruh dianggap sebagai “tenaga kerja” saja. Maka masalah kerja lebih luas daripada masalah upah. Sistem kerja dan sistem berpikir harus diubah, supaya dunia kerja menjadi lebih demokratis.

“Kepentingan kerja di atas kepentingan modal” menjadi semboyan dalam ensiklik Laborem Exercens. Di sini Paus Yohanes Paulus II mengajak agar manusia mengatasi cara pikir dan sistem ekonomi kapitalis, yang memperlawankan modal dan kerja, sebab dalam bentuk mana pun (entah sebagai uang atau mesin, entah sebagai pengetahuan atau sebagai ketrampilan) modal adalah hasil kerja. Maka tata perusahan hanya tepat (artinya: benar dan secara moral baik) kalau pada dasarnya mengatasi pertentangan antara kerja dan modal, dan kalau terarah guna mewujudkan prinsip yang disebut di atas. Kepentingan kerja ditempatkan di atas kepentingan modal.

Modal tidak pernah dapat dilawankan dengan kerja. Hak milik pribadi ditempatkan di bawah hak umum atas kesejahteraan. Namun, dari pihak lain dipegang teguh prinsip bahwa manusia bukan alat masyarakat. Kesejahteraan umum harus memberi tempat dan peluang untuk perkembangan pribadi dan inisiatif manusia. Paus Yohanes Paulus II mengembangkan semacam pluralisme dalam tata ekonomi: tidak segala keputusan dalam tangan pemilik kapital (modal), tetapi juga tidak semua diatur oleh pemerintah. Di samping peranan majikan, diperhatikan juga pengaruh dari apa yang oleh Paus Yohanes Paulus disebut “majikan-tidak-langsung”, yakni segala peraturan kerja, kondisi produksi, pemasaran, pendidikan, pendeknya segala faktor kemasyarakatan yang mempengaruhi situasi kerja dan untuk sebagian harus diarahkan atau diatur oleh pemerintah. Oleh sebab itu, dalam hal kerja dan modal tidak lagi berlaku keadilan individual, melainkan segalanya ditentukan dalam rangka hidup bersama oleh manusia yang berdaulat dalam masyarakat.

Nilai kerja tidak hanya dikhianati dengan upah yang tidak cukup untuk hidup. Nilai kerja dikhianati lebih keras lagi, kalau orang yang mencari kerja tidak mendapat tempat kerja. Terutama bagi orang yang tidak mempunyai ketrampilan khusus, tertutuplah pintu pada dunia kerja dan dengan demikian juga pada kekayaan bumi yang dimaksudkan untuk semua. “Sementara kekayaan alam yang raksasa tidak dimanfaatkan, ada lautan orang yang menganggur atau setengah menganggur dan yang menderita kelaparan. Hal itu membuktikan dengan jelas, bahwa dalam negara-negara kita dan dalam hubungan antar-negara, pada tingkat kontinental dan tingkat dunia, ada sesuatu yang tidak tepat dalam tata kerja dan hubungan kerja” (LE 18). Ajaran sosial Gereja mengajak semua, supaya mengerahkan keahlian ekonomi dan inisiatif para usahawan bersama keinginan kaum buruh untuk maju. Dengan demikian, diharapkan bahwa orang yang mau bekerja memperoleh pekerjaan dan jaminan hidup. Kesempatan kerja adalah tuntutan keadilan yang dasariah.