Rabu Abu di dalam Gereja Katolik

Rabu Abu: Hari Pertama masa pra-Paskah.

Di dalam Gereja Katolik, Rabu Abu adalah hari pertama dimulainya masa pra-Paskah (dalam bahasa inggris: Lent), yaitu masa persiapan menyambut hari raya Paskah, hari Kebangkitan Yesus Kristus pada hari Minggu Paskah. (dalam tradisi Gereja Katolik ritus Timur, masa pra-Paskah dimulai lebih awal 2 hari yaitu hari senin – Clean Monday).

Rabu Abu selalu diperingati pada 46 hari sebelum Paskah. Karena Paskah selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, maka begitu juga dengan hari Rabu Abu. Walaupun hari Rabu Abu bukanlah hari raya yang wajib bagi umat Katolik, namun Gereja Katolik sangat mendorong umatnya untuk mau menghadiri misa pada hari Rabu Abu agar menandai dimulainya pekan suci pra-Paskah.

Pembagian, Pemberian Abu:

Dalam misa Rabu Abu, abu diberikan kepada umat. Abu tersebut diperoleh dari hasil pembakaran daun palem yang telah diberkati dan dibagikan pada minggu palma pada 1 tahun sebelumnya; banyak Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia meminta umatnya untuk mengembalikan daun palem yang dibawa pulang ke rumah, daun palem yang sudah mengering agar dapat dibakar dan dijadikan Abu.

Abu itu pada misa Rabu Abu setelah diberkati oleh Pastor dan diperciki dengan air suci, para umat diperbolehkan untuk maju menerima Abu. Pastor mencelupkan ibu-jari ke dalam abu dan memberikan abu tersebut dengan tanda salib pada setiap dahi umat, seraya berkata: “Ingatlah, manusia dari abu kembali menjadi abu, dari debu kembali menjadi debu” (atau ungkapan sejenisnya yang mirip).

Hari Tobat:

Pemberian Abu mengingatkan kita mortalitas (hidup duniawi yang akan berakhir nanti) kita, dan mengajak kita untuk bertobat. Pada masa Gereja awal, Rabu Abu adalah hari yang diperuntukkan bagi para pendosa dan orang-orang yang ingin kembali ke pangkuan Gereja, untuk memulai pertapaan sebagai wujud penyesalan dan tanda tobat. Abu yang kita terima merupakan pengingat akan kedosaan kita, dan banyak umat Katolik yang membiarkan tanda salib dari Abu di dahi kepala mereka sebagai tanda kerendahan hati.

Berpuasa dan berpantang diperlukan:

Gereja Katolik menekankan bahwa pentingnya bentuk penyesalan akan dosa kita nyatakan juga dengan puasa dan berpantang memakan daging. Umat Katolik yang berumur 18 tahun hingga 60 diminta untuk berpuasa, yaitu mereka hanya boleh makan malam dengan lengkap (minus daging) dan hanya 2 porsi yang sedikit pada pagi dan siang hari; dan tidak boleh ada makanan lain selain dari pada itu. Dan bagi umat di atas umur 14 tahun untuk menahan diri untuk memakan daging, atau makanan yang mengandung daging pada hari Rabu Abu.

Mengambil persediaan untuk kehidupan spiritual kita:

Berpuasa dan berpantang bukanlah bentuk sederhana dari penyesalan akan dosa kita, namun; keduanya mengajak kita untuk mengambil persediaan untuk kehidupan spiritual kita. Dengan masa pra-Paskah, kita seharusnya memberi suatu poin yang perlu kita capai sebelum hari raya Paskah tiba, dan kita memutuskan bagaimana kita akan mencapainya – sebagai contoh: dengan pergi setiap hari jika ada misa jika kita dapat dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa lebih sering.

Mengapa orang Katolik membuat abu di dahi ketika Rabu Abu?

Ash-Wednesday‘Maaf, mengapa ada kotoran abu di dahi kepala kamu?’

Pertanyaan ini mungkin pernah ditanyakan oleh teman-teman kita yang non-Katolik, ketika rabu abu, awal pra-Paskah setiap tahun. Pertanyaan ini mungkin muncul karena rasa ingin tau teman kita, dan bagi kita pertanyaan ini kesempatan kita untuk menjadi ‘pewarta kecil’ dalam memperkenalkan sosok yang terpenting dalam hidup kita: Yesus Kristus.

Lalu jawaban apa yang akan kita katakan mengenai abu di dahi kita?

yang pasti bukan menjawab seperti di bawah ini:

Mama yang suruh saya ke Gereja untuk mendapatkan tanda ini. Saya tidak tau apa artinya tanda ini. (ketidak-pedulian)

Saya sedang protes kebiasaan mandi dengan shower adalah pemborosan air. Hari ini abu, besok lumpur (sarkastik)

Saya sedang menutup jerawat agar tidak kelihatan. Apakah jerawatnya masih kelihatan? (konyol)

Lebih baik kotor di luar daripada kotor di dalam (praktis tapi tidak tepat)

Sebaiknya kita memberi jawaban yang baik seperti:

  • Secara Kitab Suci:

Ada lebih dari 40-an ayat di Kitab Suci yang berhubungan dengan abu mengenai kesedihan dan kedukaan. Dalam Perjanjian Lama, orang pada saat itu menggunakan abu sebagai tanda pertobatan. Lihat kitab Daniel 9:3-6 sebagai contoh.

Rabu Abu adalah hari pertama masa pra-Paskah, saat dimana kita berhenti sejenak dan mengenakan abu di dahi tanda bahwa kita sedang memperbaharui kesadaran hidup kita berjalan bersama Allah. Masa pra-Paskah membantu kita mengenali kembali area spiritual tempat dimana kita dapat berkembang, dan area kedosaan mana yang harus kita jauhi. Untuk bertobat, sederhananya adalah berpaling dari dosa dan mengarah kepada Allah. Kita menggunakan abu sebagai ekspresi bahwa kita perlu memperbaharui kembali iman kita.

  • Secara Tradisi Gereja:

Abu adalah simbol kematian jasmani, fisik, seperti ‘abu menjadi abu, debu menjadi debu’. Kita diciptakan dari debu (eksistensi kita yang tidak ada sukacita dan hidup), dan akan kembali menjadi debu, hingga nanti kita dibangkitkan oleh Kristus. Dengan mengenakan abu di dahi dan berani membiarkan abu itu di dahi, kita menyatakan secara terbuka niat kita untuk mati terhadap keinginan duniawi dan lebih hidup dalam gambaran Kristus, dimana kita berfokus dalam masa pra-Paskah ini, masa kelahiran kita kembali (Lent, istilah Latin yang bermakna ‘bersemi kembali’).

  • Secara Historis:

Sudah lebih dari seribu dua ratus tahun, para pengikut, umat yang beriman melakukan hari rabu abu (dies cinerum), maju mendekati altar dan menerima abu di dahi mereka. Abu tersebut berasal dari daun palem yang dibakar, daun palem yang telah diberkati pada minggu palma tahun sebelumnya.

Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan dan pertapaan dapat ditelusuri prakteknya hingga masa lampau di dunia. Pada hari rabu abu, umat Katolik menerima abu dengan tanda salib di dahi mereka.

  • Secara simbolik:

Allah menciptakan adam dari ‘debu’ , dapat kita baca di kitab Kejadian 2:7. Dan ada juga kisah dimana Yesus menyembuhkan orang buta dengan mengoleskan tanah kepada mata orang buta, dapat kita baca di kitab Yohanes 9:6. Kita menandai diri kita dengan abu sebagai permulaan masa pra-Paskah, masa ‘bersemi-kembali’, menyambut hidup Yesus Kristus untuk memperbaharui dan menyempurnakan kita kembali.

  • Secara umum:

Jawaban yang mungkin paling umum, baik, mudah, dan bermakna untuk pertanyaan ‘mengapa Abu di dahi saya?’ adalah: Saya adalah orang berdosa. Saya tidak selalu mengasihi Allah, tidak segenap kemampuan saya, tidak selalu dengan hati saya, tidak seperti yang seharusnya saya lakukan. Rabu abu mengingatkan saya bahwa melalui Allah lah saya memperoleh hidup; Dia memberikan hidup kepada saya.

Rabu abu juga merupakan awal persiapan bagi saya untuk menyambut Pekan Suci, Jalan Salib, dan Kebangkitan Yesus Kristus. Karena Dia lah saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kehidupan kekal di Surga. Rabu abu adalah kesempatan baik untuk saya menjadi lebih baik. Terima kasih telah bertanya 🙂

Allah mengampuni. Dia mengasihi. Dia selalu memberikan kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat. Salam.