Tanggapan atas Teori Swoon (hanya pingsan) terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Berikut adalah 9 (sembilan) tanggapan yang dapat dikemukakan untuk membuktikan teori Swoon tidak benar; teori Swoon yang mengatakan bahwa sebenarnya Yesus Kristus tidaklah mati di kayu salib, hanya pingsan, dengan demikian Yesus Kristus setelah dibawa ke kubur, Dia bangun sadar dan berdiri, bukan bangkit dari mati.

  1. Yesus disalibkan, dan mati di kayu salib, Yesus tidak dapat bertahan hidup pada penyaliban itu.  Prosedur pemerintahan Romawi pada masa itu sangat teliti untuk meniadakan kemungkinan bahwa ada Penyaliban yang gagal. Hukum pemerintahan Romawi bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada setiap prajurit Romawi yang membiarkan atau mengatur pelarian tahanan dalam cara apapun, termasuk kecerobohan dalam mengeksekusi penyaliban. Hal kegagalan/kecorobohan dalam penyaliban oleh prajurit Romawi tidak pernah terjadi.
  2. Fakta bahwa prajurit Romawi yang menyalibkan Yesus tidak mematahkan kakinya Yesus, seperti yang dilakukan kepada dua tahanan lain yang ikut disalibkan di sebelah Yesus (Yohanes 19:31-33), yang berarti bahwa prajurit tersebut yakin Yesus telah mati. Mematahkan kaki tujuannya adalah mempercepat kematian (jika belum mati), agar tubuh tahanan yang telah mati dapat diturunkan dari salib sebelum hari sabat (Yohanes 19:31).
  3. Yohanes, seorang saksi mata, yang memastikan bahwa dia melihat darah dan air mengucur dari lambungnya Yesus (Yohanes 19:34-35). Hal ini menunjukkan bahwa lambungnya Yesus sudah rusak dan Yesus telah mati dengan sesak nafas. Ahli medis dapat mengkonfirmasikan situasi keadaan itu dari gambaran keadaan tubuh Yesus.
  4. Seluruh Tubuh Yesus terbungkus rapi di dalam lilitan kain kafan dan dimakamkan (Yohanes 19:38-42).
  5. Penampakan Yesus setelah Kebangkitan kepada murid-murid, termasuk “Tomas yang tidak percaya”, menyakinkan kepada mereka bahwa Yesus telah bangkit dan hidup dalam kemuliaan (Yohanes 20:19-29). Secara psikologi tidak mungkin para murid berubah dari takut menjadi pemberani dan percaya diri mewartakan Kebangkitan Yesus jika Yesus yang hadir di depan mereka harus berjuang keluar dari kubur setelah sadar dari pingsan, dan penuh dengan luka bekas penyiksaan penyaliban yang seharusnya membutuhkan pertolongan dokter untuk mengobati.
  6. Bagaimana mungkin prajurit Romawi yang menjaga kubur dapat dikalahkan oleh seseorang yang baru sadar dari pingsan? Atau bagaimana mungkin prajurit Romawi tersebut dapat dikalahkan oleh para murid yang tidak bersenjata. Dan jika diandaikan para murid benar melakukan penyerangan terhadap prajurit Romawi maka para murid telah melakukan penipuan ketika mereka menuliskan kitab, dan kita akan mengarahkan ke teori konspirasi (teori 4), yang akan dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  7. Bagaimana mungkin Yesus yang dianggap baru sadar dari pingsan seorang diri dapat menggeser batu di depan kubur? Siapakah yang dapat menggesernya jika bukan malaikat? Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu. Baik dari pihak Yahudi maupun pihak prajurit Romawi tidak ada yang mau menggeser batu penutup kubur, karena kedua pihak tersebut hanya menginginkan agar kubur itu tetap tertutup; bagi Yahudi seharusnya batu tersebut tetap terletak di sana tidak bergeser, dan bagi prajurit Romawi hukuman mati menanti apabila mereka membiarkan orang yang dihukum “melarikan diri”.
    Cerita yang beredar di kalangan Yahudi, mengatakan bahwa para prajurit Romawi yang menjaga kubur lalai dan ketiduran, dan kemudian para murid datang mencuri tubuh Yesus keluar dari kubur (Matius 28:11-15); cerita tersebut tidak dapat dipercaya. Prajurit Romawi tidak akan lalai dan ketiduran ketika diberi tugas penting seperti menjaga kubur; dan jikapun mereka benar lalai dan tertidur mereka akan kehilangan nyawa mereka. Dan jika pun benar para prajurit Romawi yang menjaga tertidur saat itu, suara berisik dari para murid yang berusaha menggeser batu pasti kedengaran jelas dan membangunkan para prajurit Romawi tersebut. Dan ini mengarahkan ke teori konspirasi juga (teori 4), yang akan  dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  8. Jika Yesus sadar dan bangun dari pingsan, kemana Dia pergi? Karena dengan logika: Yesus dengan tubuh hidup yang sama sebelum disalibkan, bukan tubuh yang mati, bagaimana mungkin bisa menghilang? Tidak satu pun data yang memberikan informasi keberadaan tubuh Yesus setelah disalibkan dan dikubur, baik data dari sepihak atau pun dari pihak yang berseberangan. Bagi seorang tokoh masyarakat yang penting pada masa itu, dengan sejarah perjalanan yang sangat menyedot perhatian banyak pihak, pasti akan meninggalkan jejak yang dapat ditemukan.
  9. Singkatnya, teori Swoon (Pingsan) kesannya beralih menjadi teori konspirasi atau teori halusinasi, karena adanya fakta kesaksian dari para murid Yesus yang membenarkan bahwa Yesus bukan pingsan, melainkan Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit.

Dari kesembilan tanggapan di atas sepertinya melanggar prinsip awal yaitu untuk tidak melakukan asumsi bahwa teks pada kitab menceritakan hal yang sebenarnya, karena kita berargumen berdasarkan data yang ada di teks kitab. Tetapi teori Swoon tidak membenarkan atau menyalahkan cerita yang termuat di dalam teks kitab; teori Swoon hanya menggunakan data tersebut dan menjelaskan (dengan menekankan ‘pingsan’ daripada kebangkitan). Dengan demikian tanggapan kita juga menggunakan teks tersebut.

Kebangkitan Yesus Kristus

Setiap pewartaan yang dikabarkan oleh setiap pengikut Kristus yang diceritakan dalam Kitab Perjanjian Baru selalu berkisar mengenai hal Kebangkitan Yesus Kristus. Injil atau Kabar Baik, intinya merupakan berita (kabar baru) mengenai Kebangkitan Kristus. Suatu pesan yang terdengar dengan lantang dari jaman dahulu kala, yang membakar semangat, mengubah hidup setiap manusia dan memutarbalikkan dunia bukanlah hanya berupa berita dengan isi pesan “kasihilah sesamamu”. Karena setiap orang yang moralnya baik telah mengetahui hal mengenai “kasihilah sesamamu”; dan hal itu bukanlah berita yang baru. Yang dimaksud berita baru, Kabar Baik, adalah bahwa ada seorang manusia yang menyatakan dirinya Anak Allah dan sang Penyelamat dunia, dan yang telah bangkit dari mati.

Ada satu pewartaan kebangkitan Yesus Kristus yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 17:18) oleh Paulus yang mewarta kepada golongan filsafat Stoa dan Epikuros di Atena. Kedua golongan filsafat itu mengira Paulus mewarta mengenai 2 (dua) Dewa yang baru yaitu Yesus dan Anastasis (Kebangkitan dalam bahasa Yunani).  Pada Kisah Para Rasul 17:18 itu terdapat pewartaan yang penting oleh Paulus mengenai Kebangkitan, dan pertentangan oleh para filsuf dan cendikiawan Atena karena pewartaan itu membingungkan bagi mereka. (Dan mungkin sampai sekarang).

Tantangan logika yang dihadapi oleh para filsuf dan cendekia pada kisah itu (dapat kita golongkan mewakili orang-orang yang skeptis) adalah: Jika pewartaan oleh Paulus itu dapat dibuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari mati, apakah kita dapat mempercayai dalam Dia kita juga akan diselamatkan? Karena jika Yesus benar-benar bangkit, hal itu mengesahkan, membuktikan bahwa ke-illahian-Nya benar bukan hanya manusia biasa, tetapi juga Allah (100% Manusia, 100% Allah), karena kematian di kayu salib membuktikan Dia adalah Manusia, dan kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Allah, dan ke-illahian-Nya itu mengesahkan semua hal yang pernah Dia katakan, sebab Allah tidak berkata bohong.

Ada seseorang filsuf  (Rudolf Bultmann) berlatarbelakang lutheran yang mengatakan seandainya ditemukan suatu bukti yang menunjukan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit; bukti objektif semisalnya tulang-belulang dari tubuh Yesus, hal tersebut tidak akan mengubah inti dari Kekristenan (dia menulis Demitologisasi terhadap Pesan Perjanjian Baru, berupa kritik yang upaya untuk membuat realitas ajaran-ajaran Yesus lebih dapat dipahami oleh para pembaca modern yang terdidik). Pemikiran dari Rudolf Bultmann ini bertolakbelakang dengan Paulus, dan kurang memahami kenapa begitu penting bukti kebangkitan Yesus Kristus bagi iman dan ajaran Kristen.

Karena menurut Paulus, Jika Kristus tidak bangkit, maka :

  1. Pewartaan kita akan Yesus Kristus akan sia-sia.
  2. dan Iman kita akan Yesus Kristus akan sia-sia
  3. Kita bahkan akan dikenal sebagai orang yang salah mengrepresentasikan Allah; karena kita bersaksi bahwa Allah telah membangkitkan Kristus, tetapi jika bukti menunjukan Dia tidak bangkit memberi kenyataan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit.
  4. Pengharapan kita dalam Yesus Kristus untuk dapat diselamatkan dari dosa dan kebinasaan juga sia-sia.
  5. Semua orang yang meninggal dalam iman akan Yesus Kristus juga akan sia-sia.

Membandingkan pendapat Rudolf Bultmann dengan Paulus, maka kita dapat mengetahui bahwa Rudolf Bultmann keliru menilai Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang kurang penting. Apakah menurut kita, Rudolf Bultmann seorang yang hidup pada masa jauh setelah Yesus dan bukan seorang Yahudi (melainkan Jerman) lebih mengetahui Yesus berdasarkan buku lebih menyakinkan daripada Paulus seorang Pewarta Yahudi yang hidup pada masa Yesus?

Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang sangat penting karena hal tersebut melengkapi keselamatan kita. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian (kematian adalah konsekuensi dari dosa). (Roma 6:23).

Kebangkitan juga merupakan pembeda yang jelas antara Yesus dengan tokoh agama lainnya. Relik tulang dari tubuh Abraham, Muhammad, Budha, dan Confusius, Lao-tzu, dan Zoroaster masih tetap berada di bumi, sedangkan Kubur Yesus kosong.

Konsekuensi adanya kebangkitan Yesus Kristus berimbas ke kehidupan manusia tidak dapat diukur. Kebangkitan Yesus tersebut merupakan bukti empiris, konkrit, dan faktual bahwa kehidupan mempunyai harapan dan makna; “cinta kasih lebih besar dari kematian”; kebaikan dan kekuatan saling bersatupadu, bukan bertentangan; kehidupan kekal merupakan kemenangan pada akhir jaman; Allah telah mengulurkan tanggan-Nya kepada kita dan mengalahkan musuh terakhir kita yaitu maut; dan kita bukanlah ‘yatim piatu’ di semesta alam karena Dia-lah Allah Bapa kita. Dan konsekuensi adanya kebangkitan Yesus ini juga dapat dilihat dengan membandingkan keberadaan para murid sebelum dan sesudah kebangkitan Yesus. Sebelum kebangkitan (dimulai ketika Yesus ditangkap dan didera) para murid dipenuhi rasa ketakutan, menyangkal Guru (Yesus), dan bersembunyi di balik pintu yang terkunci rapat. Dan setelah kebangkitan Yesus Kristus, para murid berubah dari sekelompok orang yang ketakutan menjadi orang suci (santo) yang penuh percaya diri, misionaris yang merubah dunia, martir yang gagah berani dan penuh kebahagiaan mewartakan Yesus Kristus.

Hal yang terpenting dari kebangkitan Yesus Kristus bukan terletak pada masa lampau – “Kristus telah bangkit” – tetapi pada saat ini – “Kristus bangkit.” Malaikat yang muncul di kubur Yesus bertanya kepada para wanita yang mencari Yesus, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Pertanyaan yang sama dapat juga ditanyakan kepada sejarahwan dan peneliti jaman ini. Jika kita tidak menyimpan kabar gembira, tidak membiarkan “Dia” hanya dalam catatan “sejarah” atau “Apologetik”, dan kita tidak berdiam diri, DIA saat ini dapat membebaskan dan memberi semangat hidup kita sedasyat yang pernah Dia lakukan  pada 2000 tahun yang lalu; dan dengan kebebasan dan semangat yang diberikan kepada kita dapat mencengangkan dan menarik perhatian semua orang yang belum mengenal Dia, mengembalikan kepercayaan orang-orang yang pernah berbalik dan takut. Itulah pentingnya adanya Kebangkitan Yesus Kristus.