Mengapa Santo Petrus menyangkal Yesus?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy

Satu peristiwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling sering kurang dipahami oleh banyak orang adalah Penyangkalan terhadap Yesus oleh Petrus. Tidak sedikit orang yang mengomentari kejadian ini menunjukkan ketakutan — kepengecutan dari murid Yesus yaitu Petrus yang menyangkal Yesus agar diri sendiri (Petrus) tidak tertangkap.

Penolakan itu sebenarnya untuk alasan yang sangat berbeda.

Kita dapat menelaah kembali dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.

Santo Petrus sama halnya seperti murid Yesus lainnya meyakini bahwa Yesus keturunan Raja Daud adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan pagan. Petrus berharap Yesus untuk memimpin orang-orang Yahudi untuk kemenangan atas pendudukkan oleh bangsa Romawi.

Ketika Yesus mengatakan kepada Petrus yang adalah perlu bagi-Nya untuk menderita dan mati, percakapan seperti ini:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 16:21-25

dan Perjamuan Terakhir, Yesus dan Santo Petrus memiliki percakapan terakhir mereka sebelum kematian Yesus. Yesus menubuatkan bahwa:

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Matius 26:31-34

“Tergoncang” yang dimaksud disini adalah keadaan para murid-murid Yesus yang mulai kehilangan keyakinan dan meninggalkan Yesus yang seharusnya mereka percaya dan taati.

Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus dan beberapa murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Lukas 22:38 menjelaskan bahwa para murid memiliki dan membawa dua pedang. Ketika mereka dikepung oleh Penjaga Bait Suci – setidaknya ada selusin tentara bersenjata – datang untuk menangkap Yesus, hanya satu murid Yesus yang mengangkat pedang dalam pembelaannya: yaitu Petrus (Yohanes 18:10). Murid lainnya yang juga memegang pedang melarikan diri. Petrus sendiri lah yang mengangkat senjata dan melawan sekelompok tentara profesional untuk membela Yesus. Saat itu hanya karena Yesus menyuruhnya meletakkan pedang maka Petrus mau mundur (Mat 26:52). Tindakan Petrus ini hampir tidak dapat dikatakan tindakan pengecut yang takut untuk menyelamatkan keselamatan pribadinya.

Begitu juga tindakan yang dilakukan Petrus setelah kejadian itu, tidak menunjukkan seorang pengecut. Ketika murid lainnya bersembunyi dalam ketakutan, Santo Petrus dan Santo Yohanes mengikuti kerumunan orang yang membawa Yesus ke rumah Imam Besar (Yohanes 18: 15). Mengapa Petrus mengikuti mereka? Apakah dia berniat untuk bersaksi atas nama Yesus, membela Yesus? TIDAK! Dia merahasiakan identitas dirinya sendiri. Apakah dia takut ditangkap? TIDAK! Sebab jika Petrus takut ditangkap, ia tidak akan mengikuti Yesus sepanjang jalan ke rumah Imam. Tindakan yang Petrus ambil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Satu-satunya penjelasan yang logis untuk tindakan yang Petrus lakukan adalah bahwa dia ada di sana menunggu kesempatan untuk membebaskan Yesus secara sembunyi-sembunyi atau dengan kekerasan. Dia percaya Yesus sebagai Raja Israel yang sejati dan Petrus siap untuk berjuang untuk membebaskan Yesus sehingga Yesus bisa menggulingkan Roma dan Pemerintahan boneka mereka di Yudea.

Yesus sendiri mengatakan kepada kita sesuatu yang penting:

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yohanes 18:36

Petrus bertindak PERSIS seperti tindakan seorang hamba yang setia kepada rajanya (seperti raja dunia lainya).

Tetapi untuk melakukan ini, Petrus harus melakukan dengan penyamaran. Karena jika semua orang tahu siapa dia, dia tidak akan bisa bertindak diam-diam. Jadi, ketika orang-orang mulai mengenali dia sebagai salah satu pengikut Yesus, Petrus harus menyangkalnya. Petrus tidak bisa menyelamatkan Yesus jika identitasnya diketahui. Bagi Petrus itulah tugasnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada rajanya, yaitu untuk menyamarkan dirinya agar dapat membebaskan Yesus. Dan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan pada penyangkalan Petrus yang terakhir kali:

Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Matius 26:73-75

Mengapa Petrus kemudian pergi keluar dan meninggalkan rencananya? Mengapa dia menangis? Apakah itu karena dia takut. Tidak.

Petrus menyadari bahwa Yesus telah memperingatkan bahwa Yesus bukan Mesias Penakluk, Anak Daud, tetapi Mesias yang menderita sengsara, Anak Yusuf, dari Yahudi yang akan menderita dan mati bagi umat-Nya seperti dikatakan dalam Kitab Yesaya 53. Petrus berpegangan impian mesianis yang berkuasa atas monarki dan kemuliaan, namun impian bagi Petrus tidak digenapi pada saat itu.

Dilema yang dialami oleh Petrus sangat rumit karena bagi Petrus penting baginya untuk menyangkal Tuhannya dalam rangka untuk menyelamatkan-Nya. Petrus menyadari kontradiksi dalam hal itu. Jika Petrus benar-benar percaya kepada Yesus, ia harus membiarkan Yesus menderita dan mati. Satu-satunya yang dapat menggganggu pikiran Petrus untuk meng-intervensi kejadian penangkapan Yesus adalah jika ia tidak percaya semua hal yang telah Yesus katakan kepadanya.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini …” Itulah sebabnya para pengikut Yesus tidak bisa berjuang untuk membebaskan Yesus.

Dan Petrus menyadari bahwa rencananya untuk menyelamatkan Kristus akan menjadi kehancuran rencana Allah. Dan untuk melakukannya rencananya itu Petrus akan menolak imannya sendiri dalam Yesus. Dia menyadari seberapa dekatnya, seberapa ‘hampirnya’, ia untuk menjadikan semua itu sia-sia.

Tapi bagi Petrus semua sudah terlambat. Petrus sadar bahwa ia telah menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam budaya Semit, tiga kali penolakan berarti tidak bisa ditarik kembali. Petrus yang telah menjadi teman Yesus dan telah dianggap sebagai tangan kanan Yesus, telah menyangkal Yesus selamanya. Tidak heran Petrus menangis tersedu-sedu.

Tapi kemudian setelah beberapa minggu ia kembali ke penangkapan ikan – kembali menjadi nelayan menjala ikan, Petrus saat itu sedang mengalami hari penangkapan ikan yang buruk (Yohanes 21), dan ada seseorang di pinggir pantai menyuruhnya untuk menebar jalanya sekali lagi di sisi kanan perahu. Ketika Petrus melakukannya, jalanya nyaris terlalu berat dipenuhi ikan untuk ditarik. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus (Lukas 5: 4). Petrus teringat dan segera mengenali tuannya, dan secara spontan Petrus melompat ke dalam air dan berenang ke pantai.

Dalam pertemuan terakhir itu, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus mengatakan “Ya, Tuhan, kau tahu aku mencintaimu” sebanyak tiga kali.

Itu seperti mereka mulai dari lagi dari awal. Dengan deklarasi tiga kali ini, tiga penyangkalan Petrus dibatalkan. Dan Gembala yang Baik, bernama Santo Petrus menjadi vikaris-Nya, sebagai SATU gembala dari kawanan SATU (Yohanes 10:16).

Ada peringatan dan pelajaran di kejadian ini. Sering kali kita berusaha mencari ‘tuhan’ yang diciptakan menurut gambar kita sendiri. Sulit untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan yang Sejati. Tapi kesetiaan kepada-Nya adalah ukuran dari kebijaksanaan sejati. Dan Allah tidak terikat pada pikiran kita, tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh kita. Tetapi Allah itu baik dan benar dan apa yang Allah nyatakan kepada kita pasti bisa dipercaya.

Banyak dari kita belajar dengan cara yang sulit seperti Santo Petrus alami. Inilah salah satu alasan mengapa kita menghormati orang-orang kudus, para Santo dan Santa: adalah untuk mempelajari kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Mari kita belajar tunduk pada kehendak Allah dari pengalaman Santo Petrus.

Salam…

Doa orang yang Skeptis

Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Lukas 11:9

Perkataan Yesus di atas yang mengajak semua orang yang sedang mencari-cari Allah, dan semua hal yang berhubungan dengan Allah akan menemukannya. Hal itu dapat kita coba dengan pengalaman melalui percobaan. Jika kita adalah seorang ilmuan yang jujur, ada satu cara untuk mengetahui apakah Kekristenan itu benar atau tidak. Lakukanlah suatu percobaan. Untuk mengetahui apakah benar hipotesis bahwa seseorang di balik pintu yang kita ketuk. Untuk mengetahui apakah benar hipotesis Kekristenan bahwa Kristus yang berada di balik pintu, siap membukakan pintu jika kita mengetuknya.

Lalu bagaimanakah kita mengetuknya? Doa! Katakanlah kepada Kristus bahwa kita sedang mencari kebenaran – mencari DIA, jika DIA-lah sang kebenaran. Mintalah kepada Kristus untuk memenuhi janji-Nya bahwa semua orang yang mencari DIA akan menemukan DIA. ‘akan’, berarti sesuai dengan waktu yang DIA tentukan, pastinya. Kristus berjanji bahwa kita akan menemukan, bukan menjadwalkan kapan akan menemukan. Kristus adalah seorang pengasih, bukan sebuah mesin.

Namun kita mungkin berkilah – “Saya tidak tahu apakah benar atau tidak Kristus itu Tuhan. Saya bahkan tidak tahu apakah benar atau tidak bahwa Tuhan itu ada.” Pemikiran itu normal dan biasa kita temukan dari banyak orang. Oleh karena itu untuk percobaan yang dapat kita lakukan adalah dengan berdoa seperti Doa orang yang skeptis:

Tuhan, saya tidak tahu apakah Kau ada atau tidak. Saya seorang yang tidak percaya, dan meragukan banyak hal. Saya ragu. Saya berpikir mungkin Kau hanyalah sebuah mitos. Namun saya tidak pasti juga (paling tidak kalau kepada diri saya sendiri saya berani berkata jujur). Jadi, jika benar Kau adalah Tuhan dan ada, dan jika Kau benar-benar menjanjikan untuk memberikan hadiah bagi setiap orang yang mencari Engkau, para pencari Kebenaran, apapun itu dan dimanapun itu. Saya ingin mengetahui Kebenaran dan hidup dengan Kebenaran. Jika Engkau adalah kebenaran, tolonglah Saya. Amin.

Jika hipotesis Kekristenan adalah benar, maka DIA akan membantu kita. Sama seperti doa di atas yang tersirat suatu percobaan keilmiahan terhadap hipotesis ‘ajaran’ Kekristenan — yaitu: kita jangan meletakkan atau membuat suatu batasan yang tidak fair, yang tidak netral kepada Tuhan; seperti menuntut adanya suatu pertanda atau mujizat (sesuai dengan ekspetasi, harapan kita, cara kita; bukan karena dan oleh Tuhan, cara Tuhan) atau dengan menentukan deadline, batas waktu — “kalau Tuhan benar ada, besok harus ada jawaban” (sesuai dengan waktu kita; bukan waktu Tuhan). Tuntutan-tuntutan seperti itu yang mengira bahwa Tuhan adalah seperti pelayan kita merupakan percobaan yang tidak fair, yang tidak netral secara ilmiah terhadap suatu hipotesis yang mengajarkan bahwa Tuhan yang ada itu adalah Raja kita, bukan sebaliknya.

Namun keseluruhan percobaan di atas, baik doa, pemahaman, dan pemikiran kita haruslah kita lakukan dengan jujur. Karena hal utama yang diminta oleh Tuhan, Raja itu.. adalah kejujuran kita, bukan kebohongan, bukan pura-pura beriman yang ternyata kita tidak memiliki iman itu sebenarnya. Kejujuran adalah pilihan dari kehendak — pilihan untuk mencari Kebenaran, tidak peduli apa, bagaimana, dan dimana. Pilihan inilah yang merupakan hal yang paling menentukan, paling momentum yang dapat kita lakukan. Pilihan ini merupakan tindakan berpihak kepada terang daripada kegelapan, memilih untuk menuju surga daripada neraka.

Kejujuran merupakan hal yang tidak terbatas dan sangat menentukan dan dapat menjadi pendorong kita, melampaui yang kita perkirakan. Kejujuran juga lebih berat dan susah dari yang kita bayangkan. Karena budaya kita memahami dan membelokkan makna Kejujuran yang sebenarnya menjadi “bagikan pendapat dan perasaan kamu”, dengan mengatakan kepada orang lain tentang hal yang tidak membuat nadi dan hati kita tidak berdebar (kalau menyatakan sesuatu dengan hati berdebar, dan tekanan darah naik berati tidak jujur). Hal yang diyakini dan dipahami oleh budaya kita itu bukanlah bertolak belakang dengan dengan makna sebenarnya dari Kejujuran; melainkan yang dipahami budaya tersebut adalah kebalikan dari rasa malu, atau ketidakmaluan. Kejujuran yang dipahami secara dangkal mengarah ke “berbagi”; Kejujuran yang dipahami secara dalam akan mengarah ke Kebenaran. Kejujuran yang dipahami secara dangkal dinyatakan dihadapan kehadiran orang lain; sedangkan Kejujuran yang dipahami secara dalam dinyatakan dihadapan kehadiran Tuhan (dan sudah pasti dihadapan hati kita sendiri masing-masing).

Menghadapi permasalah kejahatan dengan Pengorbanan

Jika hati kita tidak mencintai apa yang kita persembahkan (apa yang kita kurbankan) kepada Allah, maka persembahan kita tidak mempunyai nilai atau makna, karena hati kita tidak ada dalam persembahan itu. Namun jika hati kita benar-benar mencintai sesuatu, dan setelah melalui pertimbangan, pergumulan, dan pada akhirnya walaupun ‘berat hati’ kita memilih untuk menyangkal keinginan pribadi kita dan mempersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai itu kepada Allah, maka kita menyerahkan (memasrahkan) kepada Allah …

Ada dua permasalahan kejahatan yang kita hadapi dalam kehidupan kita, dimana kejahatan yang dimaksud adalah tindakan yang bertentangan dengan kebenaran yang dilakukan oleh kita sendiri atau orang lain. Permasalahan yang pertama adalah permasalahan teologi, yaitu: Bagaimana bisa ada kejahatan JIKA ada Allah yang hadir dalam kehidupan adalah Allah yang maha baik, maha bijaksana, dan maha kuasa? Permasalahan teologi ini bagi umat Kristen pada umumnya tidak mempunyai jawaban berbeda secara jelas, dan khususnya tidak menyebabkan perbedaan antara pemahaman ajaran Gereja Katolik dan Kristen non-Katolik. Tetapi Permasalahan yang kedua lah yang menunjukkan adanya perbedaan yang sangat jelas antara pemahaman ajaran Gereja Katolik dan Kristen non-Katolik, yaitu: Apa yang seharusnya kita lakukan terhadap kejahatan itu? Bagaimana cara kita menghadapi kejahatan itu? Pada sisi ajaran Gereja Katolik kita dapat menemukan banyak perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ untuk menghadapi Kejahatan; yang bagi umat Kristen non-Katolik perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ tersebut tidak familiar (kurang dikenal) dan jika pun ada umat Kristen non-Katolik yang mau menggunakan hal-hal tersebut, mereka hanya dapat menggunakan dengan perasaan kurang percaya diri.

Perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ yang dimaksud melingkupi semua hal objek-objek fisik yang berpangkal dari semua sakramen dan sakramentali, yaitu: Misa Ekaristi, Air Suci, Anggur, Roti/Hosti, Minyak Urapan, Liturgi, Doa Orang Kudus, Maria, Biara, Ruang pengakuan Dosa, Altar, Patung, dan juga Prosesi Pengusiran Roh Jahat. Dan selain itu Gereja Katolik juga mengajarkan banyak ‘senjata’ rohani, ‘senjata’ spiritual dan yang ‘senjata’ yang terkuat dari semua adalah Pengorbanan. (umat Katolik melihat Misa Ekaristi secara esensi merupakan sebuah pengorbanan, me-respresentasikan – mengenangkan kembali pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus sendiri di Kalvari.)

Sebuah Pengorbanan, baik yang dilakukan oleh Kristus untuk kita atau yang dilakukan oleh kita untuk Kristus – keduanya adalah suatu transaksi yang nyata. Pengorbanan itu benar-benar menjadikan suatu hal. Pengorbanan tersebut bukan hanya merupakan praktek penyangkalan diri sendiri oleh setiap individu umat Kristen. Namun lebih dari itu, Pengorbanan bermakna penyerahan, persembahan, pemberian.

Hal utama dari pengorbanan, penyerahan, persembahan, dan pemberian bukanlah dalam bentuk materi/fisik, melainkan hati dari yang melakukan pengorbanan, penyerahan, persembahan, atau pemberian itu. Jika kita mengamati ibadah oleh kaum pagan yang mempersembahkan anggur kepada dewa mereka, hanya orang yang berpandangan materialistis sangat dangkal mengira bahwa dewa mereka haus akan minuman alkohol. Sebenarnya yang diinginkan oleh dewa mereka adalah kesetiaan dan kepatuhan dari pemuja mereka. Dan hal mengenai pemberian seperti itu juga benar di dalam Kekristenan, yaitu: Ketika kita mempersembahkan sesuatu yang berharga dan hati kita sangat mencintai sesuatu itu (bahkan sering hati kita ada sedikit ‘berat’ melepaskan sesuatu yang sangat berharga itu) kepada Allah, sebenarnya kita mempersembahkan sesuatu dari hati kita kepada Allah. Jika hati kita tidak mencintai apa yang kita persembahkan (apa yang kita kurbankan) kepada Allah, maka persembahan kita tidak mempunyai nilai atau makna, karena hati kita tidak ada dalam persembahan itu. Namun jika hati kita benar-benar mencintai sesuatu, dan setelah melalui pertimbangan, pergumulan, dan pada akhirnya walaupun ‘berat hati’ kita memilih untuk menyangkal keinginan pribadi kita dan mempersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai itu kepada Allah, maka kita menyerahkan (memasrahkan) kepada Allah; mempersembahkan cinta kita yaitu mempersembahkan hati kita. (Hati dalam bahasa biblis bermakna ‘keinginan’/’kehendak’, bukan ‘perasaan’.) Dengan demikian pengorbanan dan persembahan adalah suatu cara mematuhi perintah Yesus Kristus yang paling pertama dan yang paling besar, yaitu: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.”

Pengorbanan selalu mengakibatkan beban berat bagi kita, penderitaan bagi kita (walaupun demikian pengorbanan itu juga menyebabkan perasaan bahagia yang sangat dalam jika benar-benar pengorbanan dimotivasi oleh iman dan cinta). Namun bukan penderitaan yang menjadi tanda bahwa persembahan kita bernilai, bukan penderitaan yang memberi nilai/makna terhadap suatu pengorbanan; melainkan pengorbanan lah yang memberikan makna terhadap penderitaan kita. Pengorbanan adalah pilihan hati untuk memilih menyerahkan harta hati kepada Allah, melampaui semua hal-hal lain.

Lalu apa hubungannya Persembahan dan Pengorbanan dalam menjawab permasalahan kejahatan yang kita hadapi dalam kehidupan kita?

Dalam ajaran Gereja Katolik, kita diajarkan bahwa penderitaan manusia bersumber dari 3 hal, yaitu: Dunia, Daging, dan Iblis.

“Dunia” yang dimaksud di sini adalah terpuruknya hubungan sosial antara manusia di dunia. Keterpurukan ini adalah sumber kejahatan sosial dan emosional yang berasal dari masyarakat, hubungan sosial, dan institusi-institusi; kejahatan tersebut yang awalnya hanya kesalahpahaman terhadap sesama, berkembang menjadi kebencian terhadap sesama, berkembang lagi menjadi penganiayaan terhadap sesama, pembunuhan terhadap sesama atas nama keyakinan.

“Daging” yang dimaksud di sini adalah kejahatan yang bersumber dari penderitaan yang dialami secara fisik; dan penderitaan yang diakibatkan dari kelemahan kita sendiri, penderitaan dikarena penyakit yang di-‘wariskan’ oleh daging seperti: kanker, kecelakaan, senjata tajam, dan kematian yang perlahan-lahan.

“Iblis” adalah penyebab kejahatan spiritual, terutama mempengarahui manusia ketika menghadapi godaan sehingga menyebabkan manusia itu berbuat dosa. Hal ini juga merupakan penderitaan bagi kita, karena untuk menolak dan menyatakan ‘tidak’ terhadap godaan, kita harus (seperti ada kesan ‘terpaksa’) menyerahkan hal-hal yang tampaknya membahagiakan – yang ditawarkan oleh godaan itu. Karena semua dosa ‘kelihatannya’ adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan ketika kita mulai tergoda; oleh karena itulah makanya kita sering terjatuh dan berbuat dosa. Bila saja dosa tidak terlihat sebagai sesuatu yang membahagiakan/ menyenangkan bagi kita, sudah pasti kita semua akan menjadi santo atau santa. 🙂

Agar manusia dapat menghadapi dan dapat melalui penderitaan-penderitaan tersebut, terdapat rumusan ajaran Gereja Katolik yang telah diajarkan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu: “Persembahan” atau lebih pas jika disebut “Pengorbanan”. Rumusan itu mengajarkan agar umat Katolik menggunakan pengorbanan sebagai senjata untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ajaran rumusan ini mungkin jarang didengar di luar lingkungan Gereja Katolik. Namun Gereja Katolik tetap mengajarkan dan akan terus memperbaharui pemahaman umatnya agar tidak lupa.

“Penyangkalan Diri” merupakan nama lain dari rumusan ajaran Gereja Katolik untuk menghadapi ketiga kejahatan yang telah disebut di atas. Apa yang sebenarnya kita sangkal? Gereja Katolik mengajarkan agar umatnya ‘sangkalkan’ atau ‘menolak’, atau me-‘matikan’ keinginan/hasrat dari hati manusia yang buruk. Dan mempersembahkan apa yang ada di hati kita kepada Allah, bukan sebagai ‘pembayaran’ agar Allah mau campur tangan atau karena pengorbanan darah Yesus Kristus ‘kurang’ cukup; melainkan sebagai cara untuk mempersatukan diri kita dengan tangan Allah (kehendak Allah), dan dengan kurban darah Yesus Kristus dan semua itu berkenan bagi Allah.

Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!

Katolik dan uraian biblis Protestan mempunyai penekanan yang sama pada hal Kebangkitan badan Yesus Kristus secara harfiah. Namun untuk kesekian kalinya lagi, hanya Katolik yang mengikuti alur tersebut, konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus Kristus. Konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus adalah Kehadiran Yesus Kristus secara nyata, kehadiran badan-Nya yang telah bangkit sebenar-benarnya.

Pengikut Kristus (umat kristen) tidak menyatakan begitu saja bahwa “Kristus telah bangkit”, yang maknanya kejadian masa lampau, melainkan menyatakan “Kristus bangkit”, dengan makna bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu masih berlangsung dan terjadi pada saat ini. Dan konsekuensi Kebangkitan badan Yesus Kristus tersebut bukan hanya terhadap masa depan setelah akhir dari kehidupan kita, tetapi juga pada saat ini, saat hidup kita masih berlangsung kita bertemu dengan Dia (Yesus Kristus) dalam Ekaristi, dimana Dia dengan “tubuh dan darah, jiwa dan keilahian” hadir sebenar-benarnya, total, penuh dan secara harfiah nyata.

Jika doktrin ini tidak benar, maka Katolik dapat dianggap umat yang terbodoh di dunia dan yang paling menghujat Tuhan, karena membungkuk kepada persembahan roti dan anggur, tidak dapat membedakan ciptaan dan Pencipta – bahkan juga tidak dapat membedakan antara makanan (roti dan anggur) dengan Allah! Tetapi jika doktrin ini benar, maka sebagian besar umat Protestan yang tidak mempercayai kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi telah mengabaikan momen pertemuan dan kesatuan dalam kehidupan ini yang paling mendekati,  totalitas, dan paling intim, dengan Allah.

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

(Luk 22:19-20)

Bagi siapapun yang penuh semangat dalam mengasihi Yesus Kristus, inti dari doktrin kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi tidak lah sebanyak dan sekompleks argumen-argumen teologi untuk doktrin ini; melainkan yang paling penting bagi mereka adalah Eksistensi, Kehadiran, konsekuensi spirituality dari fakta bahwa: Kristus benar-benar hadir di sini, secara keseluruhan, secara total, secara literal! Yesus Kristus secara nyata hadir dalam Ekaristi. Tubuh dan Darah Kristus yang telah terpisah di Salib, dan di dalam Misa (secara simbolik); yang kemudian dihadirkan kembali untuk sebagai persembahan, persembahan yang telah dipersembahkan oleh Yesus Kristus sendiri – satu kali dan untuk selamanya bagi semua umat-Nya. Dalam ekaristi – perjamuan kudus – tubuh dan darah Kristus disatukan kembali, bukan hanya itu tapi juga jiwa Kristus, dengan kata lain jiwa manusia Yesus. Dan dalam kesatuan itu bukan hanya keseluruhan kodrat manusia Yesus yang hadir namun juga kodrat Ilahi, kedua kodrat yang bersatu sejak Inkarnasi, ketika Yesus dilahirkan oleh bunda Maria ke dunia. Pada tubuh dan darah Yesus lah Allah bersemayam dibalik kesederhanaan yang ditampilkan dalam rupa roti dan anggur, sama halnya ketika Allah yang mau menjadi anak manusia dilahirkan sebagai keluarga tukang kayu di Nazaret.

Apakah jika ada umat Protestan bertemu Yesus secara tatap muka di tengah jalan, apakah umat itu mau langsung menjatuhkan dirinya berlutut seperti “Tomas yang kurang percaya” dan berkata, “Ya Tuhanku dan ALLAHku”? Bukankah itu suatu keberuntungan yang sangat luar biasa di saat itu umat tersebut dapat melupakan diri sendiri secara total dan menyembah Yesus Kristus!? Tetapi itu bukan pengandaian atau hipotesis pemikiran – jika mengalami kejadian seperti itu -; itu adalah gambaran fakta. Hanya saja perbedaannya adalah pertemuan dengan Yesus Kristus itu bukan terjadi di sembarang tempat atau di jalan, namun pertemuan itu terjadi di Altar. Anda dan saya (kita umat Kristen) tidak dapat melihat Yesus Kristus di Altar, atau tidak bisa merasakan DIA di sana, tapi Iman bukanlah mengenai penglihatan atau perasaan.

Berikut adalah kutipan dari Santo Tomas Aquinas mengenai  Ekaristi,

Penglihatan, rasa, dan sentuhan kita kepada Allah dapat keliru;

Hanya pendengaran yang dapat dipercaya

Saya percaya Anak Allah telah berkata mengenai semuanya.

Tidak ada kebenaran lain yang lebih benar dari kata-kata dari Allah yang Benar.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)

..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)

Lambang atau ikon Katolik yang paling umum di dunia setelah Salib adalah Maria dan Yesus, Maria bersama Putranya. Terkadang kita sering menemukan gambar atau patung Yesus seorang diri tanpa bersama Maria, tetapi jarang menemukan Maria tanpa bersama Yesus. Dan jika pun kita menemukan Maria sedang sendirian, dia sedang menunjukkan kita kepada Yesus. Itulah yang seluruh hasrat hati Maria. Pihak Protestan khawatir kalau Maria akan mengalihkan perhatian umat Kristen dari Yesus Kristus, namun yang sebenarnya adalah tidak ada hal lain atau seorang pun yang lebih Kristus-sentris (berpusat kepada Kristus) dibandingkan dengan Maria. Dalam salam Elisabet yang diucapkannya kepada Maria, bagian dari salam itu yang menyenangkan hati Maria, dan yang paling diperhatikan adalah “diberkatilah buah rahimmu”; atau dalam doa dasar umat Katolik yaitu Salam Maria  ada pada bagian … “terpujilah  buah tubuh mu Yesus” ..

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. (Lukas 1:42-45)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin. (Doa Dasar – Salam Maria)

Oleh karena itu, bagaimana mungkin hal tersebut suatu kesalahan meminta Maria agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Yesus sebesar cintanya Maria kepada Yesus Putranya, atau meminta Yesus agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Maria seperti cinta Yesus kepada Ibu-Nya?

Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik, seperti Konsepsi Tidak Bernoda dan Maria diangkat ke Surga, adalah dogma-dogma yang menjadi batu sandungan yang terbesar dan yang terakhir bagi umat Kristen Protestan yang ingin bersatu kembali ke Gereja Katolik. Bagi umat Katolik hal ini cukup aneh, karena walaupun dogma-dogma tersebut dianggap oleh umat Protestan sebagai “tambahan-tambahan” dari pihak Katolik dan dapat disalahartikan sebagai hal penyebab terganggunya fokus umat kepada Kristus, “menyaingi” Kristus, atau menjadi “pengganti” Kristus; umat Katolik memahami bahwa tidak ada satu hal atau seorang pun yang paling dekat kepada Kristus selain Maria Ibu-Nya (kecuali Allah Bapa-Nya dan Roh Kudus).

Hal-hal alkitabiah yang diutarakan oleh pihak Protestan mengarahkan penegasan Kepenuhan Keilahian Kristus. Pihak Protestan adalah (condong) Kristus-sentris. Tetapi begitu juga dengan Maria, begitu juga doktrin dogma-dogma Gereja mengenai Maria. Satu demi satu dari sekian banyaknya gelar yang diberikan oleh Gereja kepada Maria adalah untuk menjaga dan sebagai pujian dan peng-agung-an terhadap Keilahian Anaknya. Contoh klasiknya adalah “Bunda Allah”. Jika Maria bukanlah “Bunda Allah”, maka begitu juga Kristus bukan Allah (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Keilahian Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Arian); atau jika Maria bukan Ibu dari Yesus Kritus (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Kemanusiaan Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Docetis).

Keagungan Maria adalah pengagungan materi, manusia, penciptaan, Gereja, dan alam. Keagungan tersebut adalah konsekuensi yang paling pertama dari Inkarnasi dan “prinsip inkarnasi” dimana Rahmat Allah menyempurnakan Alam. Konsekuensi ini seperti riak air pada suatu kolam, dimana riak tersebut berbentuk lingkaran dan bergelombang menyebar luas ke luar dari pusat lingkarannya; dan penyebab riak air tersebut adalah suatu Batu yang jatuh dari Surga. Riak air yang disebabkan Batu tersebut bergerak meluas ke luar dari Kristus kepada Maria; kemudian kepada bangsa Israel; kemudian kepada Israel yang Baru, yaitu Gereja; kemudian kepada semua umat manusia; kemudian kepada semua alam, kepada semua hal materi, kepada semua ciptaan, yang kesemuanya itu sejak mulanya dipenuhi oleh Allah dengan hidup-Nya, hidup Allah sendiri seperti yang dikatakan dalam Alkitab kepada kita pada Roma 8:18-23.

Malaikat Allah mendatangi dan menyatakan kepada Maria bahwa dia “yang dikaruniai” (lebih jelas dan tegas dalam Alkitab terjemahan versi Douay-Reihms “full of grace”, atau lebih dikenal oleh umat Katolik dengan istilah “penuh rahmat”). Lalu pertanyaanya adalah seberapa besar karunia yang diberikan? seberapa “penuh” rahmat yang diberikan? Ukuran karunia/rahmat bagaimanakah yang dapat diberikan oleh Allah kepada suatu ciptaan belaka? … untuk menjawab pertanyaan itu: Lihatlah kepada Maria, maka akan terjawab. Apakah benar Allah mau berbaik hati, bermurah hati sedemikian rupa? Lihatlah kepada Yesus Kristus untuk menjawab pertanyaan itu.

Yesus sendiri menyerahkan Ibu-Nya, Maria kepada kita, ketika Yesus disalib, ketika dia berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, dan Yesus menyerahkan kita kepada Maria pada waktu yang sama dengan berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26-27). Untuk mengikuti kehendak Yesus Kristus secara penuh adalah menuruti apa yang Yesus minta hingga pada permintaan-Nya yang terakhir sewaktu Dia masih di dunia sebelum Dia wafat.

Yesus Kristus sebenarnya telah memberikan Ibu-Nya, Maria, kepada kita ketika Kristus belum Inkarnasi (pra-Inkarnasi – Logos), atau Sabda (Pikiran) dari Allah; Kristus telah memilih, menentukan sejak awal (mentakdirkan) Maria untuk menjadi Ibu-Nya. Kristus lah satu-satunya dalam sejarah dapat memilih Ibu-Nya sendiri. Kemudian Maria dengan pernyataanya “menerima” (“…; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” [Lukas 1:38]) melahirkan Yesus ke dunia dan kemudian Yesus menjadi Juru Selamat untuk kita. Maria secara harfiah adalah juga “pembawa kebahagiaan kita”, dan juga pembawa keselamatan kita, karena: (1) Maria adalah Ibu dari Yesus Kristus, dan (2) seorang Ibu adalah pembawa, yang mendatangkan Yesus, dan (3) Yesus adalah Kebahagiaan kita dan Keselamatan kita.

..bersambung ke Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)..

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 3)

..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)..

Keberatan 18: Surga itu sifatnya kekal, abadi. Namun karena bersifat kekal abadi maka sepertinya surga itu tidak manusiawi, karena tanpa adanya waktu berjalan di sana maka tidak ada proses, tidak ada perkembangan, tidak ada perubahan, tidak ada karya. Pasif, ibadah penyembahan tanpa henti dan tanpa perubahan mungkin cocok bagi malaikat, tapi tidak cocok bagi kita manusia.

Tanggapan: Siapa yang pernah mengatakan bahwa di surga tidak ada yang namanya waktu, karya, dan perubahan? Keabadian itu lebih dipahami sebagai sesuatu yang tidak terbatas mengcakup waktu, karya, dan perubahan saat ini, dan yang akan datang; bukan sebaliknya. Dan karena itu maka waktu yang kita kenal saat ini adalah hanya bagian kecil dari keabadian, dan semua waktu dapat diakses pada saat di surga. Sama halnya dengan ‘karya’, bahwa tetap ada karya yang dapat kita lakukan di Surga, dan karya itu adalah mencintai, mengasihi. Cinta kasih adalah Karya. Sebelum kejatuhan manusia pertama pada dosa asal, berkarya atau berkerja adalah suatu wujud cinta kasih. Hanya saja setelah kejatuhan itu berkarya atau berkerja menjadi hal yang berat, hal yang perlu diusahakan karena ada perasaan berat hati (Kejadian 3:17-19). Surga lah yang akan mengembalikan dan melimpahi semua hal yang baik di dalam taman firdaus (Eden), termasuk semua kebaikan yang ada di dalam karya, perubahan, dan waktu.

Keberatan 19: Jika semua rentang waktu adalah hal terjadi dan berlangsung pada saat itu di Surga, maka tidak ada masa depan, tidak ada hari esok, yang ada hanya saat ini, dan itu menyebabkan tidak ada yang tersisa untuk menjadi ‘bahan’ pengharapan. Dan kita tidak bisa hidup tanpa pengharapan. Karena kita merasa lebih baik ketika dalam perjalanan penuh pengharapan daripada ketika kita tiba pada tempat tujuan.

Tanggapan: Jika hal yang dikemukakan oleh keberatan poin 19 benar, dan pernah di-iyakan kebenarannya, lalu bagaimana bisa semua orang ketika sedang dalam perjalanan mempunyai pengharapan? Karena jika hal yang dikemukan benar maka hanyalah kehampaan yang diharapkan semua orang ketika dalam perjalanan. Untuk itu perlu kita teliti kembali jika “tiba pada tempat tujuan” adalah suatu hal yang membuat perasaan kita kurang lebih baik, menjadi membosankan, dan mengkhawatirkan dibandingkan ketika sedang “berjalan menuju”, maka kita sebaiknya jangan penuh berharap untuk tiba di tempat tujuan. Atau bisa kita andaikan seperti pada seekor harimau yang siap memangsa buruannya lebih baik menahan lapar daripada memakan mangsanya. Begitu juga dengan apakah lebih baik pada masa pacaran yang menahan diri untuk memiliki pasangan daripada menikah agar dapat bersatu seutuhnya? dan juga bagi rasa penasaran dan ketidakpedulian untuk mengetahui dibandingkan dengan rasa puas setelah memahami? Tidak ada lagi pengharapan di dalam Surga dan tidak ada juga di dalam Neraka. Sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan daripada pengharapan ada tersedia di dalam Surga: kepenuhan, penyempurnaan.

Keberatan 20: Hal-hal “Kebangkitan Badan” dan “Bumi Baru” terkesan sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena lebih bersifat mitologis dan antropomorfik (pelekatan ciri/sifat/atribut manusia kepada sesuatu yang lain daripada manusia).

Tanggapan A: Hal-hal itu tidaklah sesuatu yang mustahil, terlebih karena Allah adalah pencipta dari yang tidak ada menjadi ada secara tiba-tiba dan membuat segala sesuatu di semesta dari kehampaan, termasuk bumi ini, maka sudah pasti Allah dapat membuat bumi yang baru, “bumi baru”. Dan jika Allah dapat membuat bumi yang baru, Dia dapat menciptakan suatu keseluruhan tubuh yang baru bagi manusia, “kebangkitan badan”. (lihat 1Korintus 15.)

Tanggapan B: Hal-hal tersebut bukanlah mitologi melainkan kebenaran dari kekeliruan suatu mitos dalam mengenali hal tersebut.

Tanggapan C: Bumi baru dan Tubuh baru adalah kebalikan dari antropomorfik; karena bukannya atribut tubuh manusia atau bumi yang sekarang ini dilekatkan pada tubuh manusia atau bumi yang baru. Melainkan sebaliknya “tubuh baru” dan “bumi baru” sangatlah lebih melampaui kemampuan kita saat ini untuk memahami karena keberadaan kita pada saat ini yaitu tubuh dan bumi saat ini. “Tubuh baru” dan “Bumi baru” tidaklah mirip seperti yang saat ini tetapi merupakan hal yang baru dan sangat berbeda tetapi masih memiliki essensi yang sama; diumpamakan tubuh saat ini adalah tubuh manusia yang sudah dewasa sedangkan tubuh yang baru adalah tubuh manusia yang belum dilahirkan. Atau analogi pendekatan lainnya yang agak mirip: “Tubuh baru” bagi janin (fetus) adalah manusia dewasa, dan “Bumi baru” bagi janin tersebut adalah bumi yang memiliki cahaya, harum, dan memiliki suhu dingin dan panas – yang agak berbeda dengan “Bumi lama” bagi janin yang masih di dalam perut sang ibu.

Keberatan 21: Apakah ketika di Surga kita benar-benar bebas, bebas juga berbuat dosa? Jika benar kita tidak bebas, maka kita seperti sebuah robot yang tidak bebas, tidak memiliki kebebasan yang benar-benar, tidak memiliki kehendak-bebas manusia. Namun jika benar iya kita bebas, maka Surga adalah hal yang berbahaya, sama seperti bumi. Dan jika ada manusia yang memilih untuk berbuat dosa, maka taman Firdaus, kejatuhan manusia seperti dosa asal, dan bumi yang seperti saat ini akan berulang kembali.

Tanggapan: “bebas berbuat dosa” sama halnya seperti “penyakit yang menyehatkan”. Hal itu berarti “kebebasan dari perbudakan”.

Kebebasan berkehendak, atau kebebasan memilih, memiliki makna kebebasan yang jauh lebih tinggi, atau kemerdekaan. Kebebasan yang lebih rendah mempunyai makna kebebasan dari suatu tekanan, atau kondisi yang mengharuskan seseorang ‘terkekang’. Level kebebasan yang lebih tinggi, kebebasan yang paling puncak adalah kebebasan dari iblis.

Di dalam Surga tidak ada seorang pun yang mau berbuat dosa. Semua yang ada di dalam Surga secara bebas sukarela memilih untuk tidak pernah berbuat dosa. Meskipun mereka mempunyai kemampuan, dapat berbuat dosa namun mereka tidak mempunyai motif yang mendorong untuk berbuat dosa. Contohnya: seorang penyanyi yang hebat tidak membuat kesalahan-kesalahan dasar ketika bernyayi dan tidak mau bernyanyi dengan nada yang fals, walaupun penyanyi tersebut mampu dan dapat melakukan jika dia menginginkannya. Pertanyaannya adalah mengapa seseorang berkehendak demikian? mengapa seseorang mau berbuat dosa? atau mau tergoda untuk berbuat dosa – di dalam Surga? Semua yang akan kita lihat dan alami di Surga adalah keindahan, kebahagiaan, dan ketertarikan kepada Allah dan kebaikan, sedangkan yang berasal dari dosa adalah segala sesuatu yang jelek, buruk, dan kebodohan; dengan demikian jelaslah bahwa di Surga tidak ada kemungkinan adanya motif untuk dosa.

Saat ini kita diperbudak oleh ketidakpedulian. Setiap dosa berasal juga dari ketidakpedulian (ketidakpedulian mengambil peran dalam setiap dosa). Kita mau berbuat dosa karena kita entah bagaimana melihat perbuatan dosa itu seperti sesuatu yang menarik (yang sebenarnya adalah sebaliknya) dan kita juga entah bagaimana melihat kebaikan sebagai sesuatu yang tidak menarik (yang sebanrnya adalah sebaliknya juga). Hal itulah yang dimaksud dengan ‘ketidakpedulian’. Ketidakpedulian merupakan tanggungjawab kita dan sebagai sesuatu dari kita sendiri yang dapat dituntut untuk menjadi kesalahan kita. Dan jika kita tidak melakukan ‘ketidakpedulian’ (kebalikan dari ketidakpedulian) maka akan tidak mau berbuat dosa. Di Surga nanti tidak ada ‘ketidakpedulian’; dengan demikian tidak ada keinginan untuk berbuat dosa. “Pencerahan penuh kebahagiaan” dari wajah Allah kepada setiap wajah di Surga akan meniadakan ‘ketidakpedulian’, selayaknya sinar matahari meniadakan kabut.

Keberatan 22: Jika kita akan menjadi orang kudus yang sempurna di Surga, dimana kepribadiaan kita akan berada? Jutaan jiwa yang merupakan ‘lembaran copy karbon – duplikat – tiruan’ dari Allah terkesan sangat membosankan.

Tanggapan A: Tiruan dari sesama orang lain lah yang membosankan; meniru Allah yang tidak terbatas lah yang sangat menarik. Allah bagaikan sebuah berlian yang mempunyai wajah potongan berbeda yang jumlahnya tidak terhingga. Setiap yang terberkati akan memantulkan dan memancarkan suatu wajah yang berbeda.

Tanggapan B: Bahkan saat ini pun, para orang kudus (santo) adalah individual yang benar-benar pekat dan kental.

Tanggapan C: Kesucian, yaitu membiarkan Allah untuk mengatur jiwa dan hidup kita, karya Allah itu serupa dengan garam: garam itu membuat setiap cita (individual) rasa setiap makanan yang berbeda semakin nyata, semakin pekat, semakin kental. Garam membuat rasa ikan semakin mantap terasa ikan, rasa daging semakin mantap terasa daging, rasa telur semakin mantap terasa telur. Allah lah yang membuat Agustinus menjadi Agustinus yang terkenal dan dicontohi banyak orang, Teresa menjadi Terasa yang terkenal dan dicontohi banyak orang, dan Maria menjadi Bunda Maria yang sangat terkenal dan dicontohi dan dihormati banyak orang.

Tanggapan D: Wahyu 2:17 mengatakan : ” … Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Individual kita di Surga adalah sangat nyata dan hanya Allah yang mengetahui rahasia tersebut.

Apakah ada hal lain yang lebih besar dimiliki seseorang daripada namanya yang baru dan hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri bahkan walaupun sudah berada di Surga nantinya untuk selamanya? Lalu apa artinya kerahasiaan nama barunya ini bagi orang tersebut?

Yang pasti, bahwa setiap orang yang menerima namanya masing-masing dari Allah akan selamanya mengetahui dan mengagungkan Allah dalam suatu aspek tertentu dari keindahan Ilahi, mengetahui dan mengagungkan Allah dengan cara yang lebih baik dari yang dapat dilakukan oleh makhluk lainnya.

Lalu mengapa ada individu lain yang diciptakan? … Jika individu yang lain itu tidak berguna untuk semua perbedaan yang ada ini, rasanya tidak ada alasan bagi individu lain diciptakan selain yang satu tadi… 

Jiwa setiap manusia itu seperti suatu bentuk rupa yang tertentu, relung yang unik dan dibentuk secara khusus untuk sesuai (cocok) dengan suatu substansi yang akan mengisi relung tersebut. Atau jiwa manusia itu digambarkan sebagai sebuah anak kunci yang dapat membuka sebuah pintu tertentu yang sesuai dengan kunci tersebut di dalam suatu rumah yang terdapat banyak ruangan… Tempat setiap manusia di dalam Surga akan terkesan diperuntukkan hanya untuk setiap manusia secara khusus, karena setiap manusia diciptakan untuk itu – diciptakan setiap bagian dan setiap lekuk selayaknya sebuah sarung tangan yang diciptakan secara khusus agar sesuai dengan tangan yang diperuntukkan.