Menjawab keberatan-keberatan lain mengenai tanggapan argumen Kebangkitan Yesus Kristus

Setelah adanya tanggapan-tanggapan yang dapat kita beri mengenai argumen-argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus pada halaman-halaman sebelumnya;

1. Kebangkitan Yesus Kristus
2. Arti dari Kebangkitan
3. Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus
4. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya pingsan di kayu salib)
5. Tanggapan atas Teori Konspirasi
6. Tanggapan atas Teori Halusinasi
7. Tanggapan atas Teori Mitos

maka tidak ada alternatif lain selain pemahaman Kekristenan mengenai kebangkitan Yesus Kristus benar-benar terjadi yang dapat menjelaskan: keberadaan Injil, asal iman Kristen, kegagalan musuh Kristus untuk memunculkan tubuhnya kembali sebagai bukti bahwa Yesus tidak bangkit, kubur tempat Yesus dimakamkan kosong, batu kuburan Yesus yang berguling jauh, atau mengenai kesaksian penampakan Yesus Kristus setelah kebangkitan. Teori-teori Swoon, Konspirasi, Halusinasi dan Mitos telah terbukti menjadi deretan alternatif yang mencoba menjelaskan kebangkitan Yesus Kristus yang nyata, dan masing-masing teori tersebut telah dibantah dengan penjelasan yang memadai.

Alasan apa yang dapat diberikan pada saat ini bagi siapa saja yang masih menolak untuk percaya? Pada titik ini, keberatan yang muncul lebih bersifat umum daripada keberatan secara khusus. Sebagai contoh :

Keberatan 1 : Sejarah bukanlah ilmu pasti. Sejarah tidak menghasilkan kepastian yang mutlak seperti matematika.

Tanggapan : Ya benar sejarah bukanlah ilmu pasti, tapi mengapa baru sekarang ada yang memberikan penekanan terhadap fakta mengenai sejarah bukanlah ilmu pasti, dan bukan ketika kita berbicara tentang Caesar atau Luther atau George Washington? Sejarah memang tidak tepat, tapi itu sudah cukup. Tidak ada yang meragukan bahwa Caesar menyeberangi Rubicon, mengapa banyak keraguan bahwa Yesus bangkit dari kematian? Bukti yang ada untuk yang Yesus bangkit dari kematian jauh lebih baik daripada untuk bukti dari kisah lainnya seperti Caesar menyeberangi Rubicon.

Keberatan 2 : Kita tidak bisa mempercayai dokumen. Kertas tidak membuktikan apa-apa. Apa pun yang berupa dokumen dapat dipalsukan.

Tanggapan : Keberatan seperti ini hanyalah kebodohan. Tidak mempercayai apa yang dinyatakan dalam dokumen itu seperti tidak mempercayai apa yang ditampilkan oleh teleskop. Bukti tertulis di atas kertas sudah cukup untuk sebagian besar dari apa yang kita percaya, mengapa harus bukti peninggalan dokumen kertas tiba-tiba menjadi yang dipertanyakan di sini?

Keberatan 3 : Karena kebangkitan adalah ajaib, suatu peristiwa mukjizat. Mukjizat adalah inti dari bukti-bukti dalam kisah tersebut yang membuat kisah tersebut menjadi luar biasa.

Tanggapan : Sekarang kita akhirnya memiliki keberatan yang langsung dan terarah – bukan lagi keberatan atas bukti dokumenter, dokumen, atau teks tetapi keberatan atas adanya mukjizat. Keberatan ini merupakan pertanyaan filosofi, bukan ilmiah, bukan pertanyaan sejarah atau tekstual. (akan ada pembahasan lanjut mengenai ini) .

Keberatan 4 : Kebangkitan bukan hanya mukjizat biasa tetapi keajaiban yang sangat khusus dan tidak mudah diterima. Kebangkitan dari kematian adalah peristiwa kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Agama seharusnya lebih mengarah dan bersifat spiritual, bersifat ke dalam, dan etika.

Tanggapan : Jika agama adalah sesuatu yang kita ciptakan, kita bisa membuatnya sesuai dengan yang kita suka. Tetapi jika Agama diciptakan oleh Allah, maka kita harus menerima Agama seperti apa adanya saat kita menemukannya, seperti kita harus menerima alam semesta apa adanya sesuai temuan kita, bukan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Kematian adalah kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Peristiwa Kebangkitan mengimbangi Peristiwa Kematian dimana Kebangkitan dan melampaui Kematian, mengalahkan Kematian, dan mengabstraksikan tentang spiritualitas. Kebangkitan adalah hal yang vulgar sesuai dengan yang dilakukan oleh Allah. Allah juga lah yang membuat lumpur, serangga dan kuku.

Keberatan 5 : Tapi interpretasi harfiah dari kebangkitan mengabaikan dimensi yang mendalam dari makna suatu simbolik, spiritual dan alam mistik yang telah dieksplorasi secara luas dan mendalam oleh agama-agama lain. Mengapa orang Kristen begitu sempit dan eksklusif? Mengapa mereka tidak dapat melihat simbolisme yang mendalam dalam gagasan kebangkitan?

Tanggapan : Orang Kristen dapat melihat simbolisme itu. Namun permasalahannya bukan soal dapat atau tidak-dapat. Kekristenan tidak membatalkan atau meniadakan mitos, melainkan kekristenan mem-validasi mitos, dengan meng-inkarnasikan (inkarnasi tidak sama dengan reinkarnasi, banyak orang yang keliru mengenai ini) mitos. Maka adalah “Mitos menjadi Kenyataan”, seperti judul esai oleh CS Lewis. Mengapa lebih memilih hanya satu lapisan dari suatu kesatuan yang sebenarnya terdiri dari 2 lapisan yang utuh? Mengapa menolak aspek literal-historis atau menolak aspek mistis-simbolis dari peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus? Pihak fundamentalis menolak aspek mistis-simbolis karena mereka telah melihat apa yang telah dilakukan oleh pihak modernis terhadap aspek mitis-simbolis: yaitu menggunakan aspek mistis-simbolis untuk meniadakan aspek literal-historis. Maka muncullah pertanyaan mengapa pihak modernis melakukan itu? Apakah karena menurut mereka ada nasib yang mengerikan menanti mereka jika mereka mengikuti data yang sangat banyak dan berbobot, dan argumen-argumen yang secara alami muncul dari data -data tersebut, seperti yang kita telah dirangkum di sini beberapa tulis sebelum ini?

Sementara jawaban dari pihak modernis tidak jelas, pihak Kristen tradisional sudah mempunyai pegangan, lengkap dengan adorasi Kristus sebagai Tuhan, ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan, ketergantungan pada Kristus sebagai Juru selamat, pengakuan rendah hati akan dosa yang telah mereka perbuat dan upaya yang sungguh-sungguh menghidupi hidup Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya, terlepas dari keinginan duniawi, kebenaran, kekudusan, dan kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan. Bukti sejarah cukup memadai untuk meyakinkan para penanya yang berpikiran terbuka. Dengan analogi dengan peristiwa sejarah lainnya, Kebangkitan  Yesus Kristus memiliki bukti nyata yang sangat kredibel yang menjadi penyokong. Dan bagi orang yang tidak percaya, mereka harus sengaja membuat pengecualian aturan, aturan berstandar ganda untuk digunakan di tempat lain dalam sejarah. Dengan demikian mengapa orang yang tidak percaya ingin melakukan itu?

Bagi orang yang tidak percaya, mereka perlu bertanya kepada diri mereka sendiri; jika mereka berani, dan melihat dan menerima secara jujur ​​dalam hati mereka sebelum mereka menjawab.

Sekian.

Tanggapan atas Teori Konspirasi terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Tanggapan yang dapat dikemukakan mengenai teori Konspirasi, teori yang menuduh bahwa Kebangkitan Yesus Kristus adalah konspirasi, atau sesuatu yang diatur secara bersama oleh para murid Yesus dengan mengajarkan hal yang tidak sebenarnya kepada orang lain. Berikut adalah tanggapan-tanggapan yang menjelaskan mengapa para murid tidak dapat mengarang, tidak dapat berkonspirasi mengenai peristiwa ini:

  1. Secara psikologi hal konspirasi ini adalah sesuatu yang tidak terpikirkan oleh para murid, seperti yang dikemukakan oleh seorang matematikawan Blaise Pascal dalam tulisannya The “Pensées”. Dengan beranggapan bahwa para Murid Yesus adalah orang-orang yang tersesat atau yang orang-orang yang menyesatkan, kedua hal tersebut membawa suatu pemikiran yang sulit diterima oleh orang lain untuk membayangkan bahwa seorang manusia telah bangkit dari mati.
    Kalau Yesus masih hidup bersama mereka, mungkin hal ini memungkinkan para murid untuk berwarta dan mengajarkan bahwa Yesus benar bangkit, karena Yesus ada bersama mereka dan dapat menjadi dasar  bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Namun sebaliknya, jika Yesus tidak bersama mereka, siapa dan apakah yang membuat para murid berwarta bahwa Yesus telah bangkit dari mati?
    Pemikiran yang menyudutkan para murid Yesus adalah penipu sebenarnya tidaklah mendasar. Coba ikuti dan bayangkan alur logika, kedua belas orang ini berkumpul setelah kematian Yesus dan berkonspirasi untuk mewartakan bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Hal ini berarti menyerang semua pihak yang berkuasa yang ada, dan bagi para murid hal ini bukanlah perkara yang mudah karena akan mendapat pertentangan yang berat. Dalam pewartaan mengenai kebangkitan Yesus para murid mendapat banyak tekanan, mengingat para murid adalah manusia biasa dan hati mereka rentan terhadap hal yang tidak pasti, terhadap perubahan, terhadap janji, terhadap penyuapan. Seandainya benar hal konspirasi dilakukan oleh para murid, mereka hanya perlu menyangkal pewartaan mereka untuk lari dari tekanan-tekanan pihak lain, dari dorongan/bujukan, dari hukuman penjara, penyiksaan, kematian, dan ancaman kehilangan semua milik mereka.
    Kunci  penentu dari argumen ini adalah fakta sejarah yang tidak mencatat satu pun orang yang mengatakan bahwa warta akan Kebangkitan Yesus Kristus tersebut adalah palsu/hoax, baik dari orang yang kuat atau lemah, santo atau pendosa, Kristen atau penghujat; atau orang yang pernah mengaku secara bebas atau dibawah tekanan, karena disuap atau disiksa. Bahkan ketika para orang-orang yang telah menyerah karena disiksa, orang tersebut akhirnya menyangkal Kristus dan menyembah Kaisar, namun dari orang-orang tersebut tidak pernah didapatkan bahwa Kebangkitan Yesus itu adalah suatu kebohongan atau konspirasi mereka. Karena hal itu dari awal bukanlah kebohongan atau konspirasi. Tidak ada pengikut Kristus (Kristen) yang mempercayai Kebangkitan Yesus adalah konspirasi; jika ada di antara mereka demikian maka mereka tidak akan menjadi Kristen.
  2. Seandainya para murid mengarang semua cerita, mereka haruslah sangat kreatif, cerdas, memiliki intelegensi yang fantastis sepanjang sejarah, jauh melampaui Shakespear atau Dante atau Tolkien. “Cerita nelayan” oleh para murid yang pekerjaan semulanya adalah nelayan ikan tidak pernah seterperinci kisah yang diceritakan di kitab perjanjian baru, tidak menyakinkan, tidak mengubah hidup, mempengaruhi, dan memberikan semangat kepada banyak orang.
  3. Karakter dari setiap para murid sangat keras berpendapat dan hal itu sangat sulit jika dikatakan mereka dapat berkonspirasi, tanpa ada yang membangkang atau melawan. Karakter mereka sederhana, jujur, kampungan, tidak licik, bukan komplotan pembohong. Mereka juga bukan ahli hukum. Ketulusan mereka terbukti dari perkataan dan perbuatan mereka. Mereka mewartakan kebangkitan Yesus Kristus, dan hidup dalam kebangkitan Yesus Kristus. Mereka mau mati demi “konspirasi” mereka (jika itu yang dituduhkan). Kemartiran adalah bukti  dari ketulusan, dan tidak ada bukti yang lebih baik dari kemartiran itu.
    Perubahan dalam hidup para murid dari ketakutan menjadi beriman, dari keputusasaan menjadi percaya-diri, dari kebingungan menjadi pasti, dari pengecut menjadi pemberani yang mantap bertahan walaupun ditekan ancaman dan penyiksaan, bukan hanya membuktikan ketulusan mereka tetapi juga membuktikan kekuatan yang menjadi pendorong mereka. Apakah suatu kebohongan dapat menyebabkan perubahan dalam diri mereka? Apakah kebenaran dan kebaikan dianggap sebagai musuh yang memberikan dampak besar dalam sejarah – yaitu kesucian – berasal dari suatu kebohongan?
    Jika kita bayangkan dan kita nilai dari pandangan kita sendiri, apakah kedua belas orang itu (murid-murid Yesus) yang miskin, selalu dibayangi ketakutan, kebingungan (menurut yang tertulis di kitab) dapat merubah dunia Romawi yang sangat kaku dan keras dengan suatu kebohongan? Hal tersebut sangat sulit diterima.
  4. Tidak ada motif yang melatarbelakangi warta Kebangkitan Yesus Kristus. Kebohongan selalu dikatakan untuk suatu tujuan menguntungkan diri sendiri. Keuntungan apa yang didapat oleh para konspirator, para murid Yesus dengan mewartakan Kebangkitan Yesus Kristus? Yang mereka dapat dari pewartaan itu adalah mereka dibenci, dicemooh, dianiaya, diasingkan, dipenjara, disiksa, dibuang, disalibkan, direbus/dibakar hidup-hidup, dipenggal, dibedah dan dijadikan makanan untuk singa — sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkan dari suatu penipuan.
  5. Jika warta Kebangkitan Yesus Kristus adalah kebohongan, orang Yahudi dapat saja menghentikan takhyul yang menghantui mereka dengan mengeluarkan tubuh Yesus dari kubur dan membuktikan Yesus tidak bangkit. Orang Yahudi dapat melakukan ini dengan mudah karena pimpinan Yahudi sepihak dengan tentara Romawi, mereka hanya perlu ke kubur dan bersama dengan tentara Romawi membuka kubur Yesus. Orang Yahudi tidaklah sepihak dengan pengikut Yesus (Kristen). Dan jika ternyata orang Yahudi tidak dapat menemukan tubuh Yesus di kubur karena para murid Yesus yang mencuri, maka muncul pertanyaan bagaimana para murid Yesus melakukannya? Argumen yang menjawab teori Swoon berlaku juga di sini: para murid Yesus yang bukan tentara dan tidak terampil berperang tidak dapat mengalahkan tentara Romawi, atau menggeser batu besar penutup kubur ketika para tentara Romawi tertidur tanpa ketahuan.
  6. Jika Kebangkitan Yesus tersebut adalah kebohongan maka para murid tidak dapat menyatakan Kebangkitan Yesus Kristus terjadi di Yerusalem – pada rentang waktu yang sama, tempat yang sama, dan penuh dengan saksi mata. Seperti yang dikemukakan oleh penulis William Craig dalam bukunya “Knowing the Truth about the Resurrection“:Teks Perjanjian Baru yang berisikan catatan-catatan ditulis pada selang waktu yang sangat dekat dengan kejadian Kebangkitan Yesus dan secara geografi teks-teks tersebut ditemukan dekat dengan lokasi kejadian, hal tersebut menunjukkan bahwa hampir tidak memungkinkan bahwa teks-teks tersebut adalah hasil karangan kejadian-kejadian tersebut. Fakta menunjukkan bahwa para murid dapat menyatakan Kebangkitan Yesus Kristus secara terbuka di muka umum, juga di depan orang-orang yang memusuhi mereka setelah Yesus disalibkan (seharusnya jika Yesus tidak bangkit maka para murid akan lari, ketakutan, dan sembunyi dari kejaran orang Yahudi dan tentara Romawi) menunjukkan bahwa apa yang mereka nyatakan adalah benar.
  7. William Craig juga mengemukakan jika benar ada konspirasi mengenai Kebangkitan Yesus Kristus, seharusnya konspirasi tersebut telah terbongkar oleh pihak-pihak yang menentang pewartaan ini, pihak yang mempunyai kepentingan dan kekuasaan untuk menguak semua kebohongan.

Tanggapan atas Teori Swoon (hanya pingsan) terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Berikut adalah 9 (sembilan) tanggapan yang dapat dikemukakan untuk membuktikan teori Swoon tidak benar; teori Swoon yang mengatakan bahwa sebenarnya Yesus Kristus tidaklah mati di kayu salib, hanya pingsan, dengan demikian Yesus Kristus setelah dibawa ke kubur, Dia bangun sadar dan berdiri, bukan bangkit dari mati.

  1. Yesus disalibkan, dan mati di kayu salib, Yesus tidak dapat bertahan hidup pada penyaliban itu.  Prosedur pemerintahan Romawi pada masa itu sangat teliti untuk meniadakan kemungkinan bahwa ada Penyaliban yang gagal. Hukum pemerintahan Romawi bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada setiap prajurit Romawi yang membiarkan atau mengatur pelarian tahanan dalam cara apapun, termasuk kecerobohan dalam mengeksekusi penyaliban. Hal kegagalan/kecorobohan dalam penyaliban oleh prajurit Romawi tidak pernah terjadi.
  2. Fakta bahwa prajurit Romawi yang menyalibkan Yesus tidak mematahkan kakinya Yesus, seperti yang dilakukan kepada dua tahanan lain yang ikut disalibkan di sebelah Yesus (Yohanes 19:31-33), yang berarti bahwa prajurit tersebut yakin Yesus telah mati. Mematahkan kaki tujuannya adalah mempercepat kematian (jika belum mati), agar tubuh tahanan yang telah mati dapat diturunkan dari salib sebelum hari sabat (Yohanes 19:31).
  3. Yohanes, seorang saksi mata, yang memastikan bahwa dia melihat darah dan air mengucur dari lambungnya Yesus (Yohanes 19:34-35). Hal ini menunjukkan bahwa lambungnya Yesus sudah rusak dan Yesus telah mati dengan sesak nafas. Ahli medis dapat mengkonfirmasikan situasi keadaan itu dari gambaran keadaan tubuh Yesus.
  4. Seluruh Tubuh Yesus terbungkus rapi di dalam lilitan kain kafan dan dimakamkan (Yohanes 19:38-42).
  5. Penampakan Yesus setelah Kebangkitan kepada murid-murid, termasuk “Tomas yang tidak percaya”, menyakinkan kepada mereka bahwa Yesus telah bangkit dan hidup dalam kemuliaan (Yohanes 20:19-29). Secara psikologi tidak mungkin para murid berubah dari takut menjadi pemberani dan percaya diri mewartakan Kebangkitan Yesus jika Yesus yang hadir di depan mereka harus berjuang keluar dari kubur setelah sadar dari pingsan, dan penuh dengan luka bekas penyiksaan penyaliban yang seharusnya membutuhkan pertolongan dokter untuk mengobati.
  6. Bagaimana mungkin prajurit Romawi yang menjaga kubur dapat dikalahkan oleh seseorang yang baru sadar dari pingsan? Atau bagaimana mungkin prajurit Romawi tersebut dapat dikalahkan oleh para murid yang tidak bersenjata. Dan jika diandaikan para murid benar melakukan penyerangan terhadap prajurit Romawi maka para murid telah melakukan penipuan ketika mereka menuliskan kitab, dan kita akan mengarahkan ke teori konspirasi (teori 4), yang akan dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  7. Bagaimana mungkin Yesus yang dianggap baru sadar dari pingsan seorang diri dapat menggeser batu di depan kubur? Siapakah yang dapat menggesernya jika bukan malaikat? Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu. Baik dari pihak Yahudi maupun pihak prajurit Romawi tidak ada yang mau menggeser batu penutup kubur, karena kedua pihak tersebut hanya menginginkan agar kubur itu tetap tertutup; bagi Yahudi seharusnya batu tersebut tetap terletak di sana tidak bergeser, dan bagi prajurit Romawi hukuman mati menanti apabila mereka membiarkan orang yang dihukum “melarikan diri”.
    Cerita yang beredar di kalangan Yahudi, mengatakan bahwa para prajurit Romawi yang menjaga kubur lalai dan ketiduran, dan kemudian para murid datang mencuri tubuh Yesus keluar dari kubur (Matius 28:11-15); cerita tersebut tidak dapat dipercaya. Prajurit Romawi tidak akan lalai dan ketiduran ketika diberi tugas penting seperti menjaga kubur; dan jikapun mereka benar lalai dan tertidur mereka akan kehilangan nyawa mereka. Dan jika pun benar para prajurit Romawi yang menjaga tertidur saat itu, suara berisik dari para murid yang berusaha menggeser batu pasti kedengaran jelas dan membangunkan para prajurit Romawi tersebut. Dan ini mengarahkan ke teori konspirasi juga (teori 4), yang akan  dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  8. Jika Yesus sadar dan bangun dari pingsan, kemana Dia pergi? Karena dengan logika: Yesus dengan tubuh hidup yang sama sebelum disalibkan, bukan tubuh yang mati, bagaimana mungkin bisa menghilang? Tidak satu pun data yang memberikan informasi keberadaan tubuh Yesus setelah disalibkan dan dikubur, baik data dari sepihak atau pun dari pihak yang berseberangan. Bagi seorang tokoh masyarakat yang penting pada masa itu, dengan sejarah perjalanan yang sangat menyedot perhatian banyak pihak, pasti akan meninggalkan jejak yang dapat ditemukan.
  9. Singkatnya, teori Swoon (Pingsan) kesannya beralih menjadi teori konspirasi atau teori halusinasi, karena adanya fakta kesaksian dari para murid Yesus yang membenarkan bahwa Yesus bukan pingsan, melainkan Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit.

Dari kesembilan tanggapan di atas sepertinya melanggar prinsip awal yaitu untuk tidak melakukan asumsi bahwa teks pada kitab menceritakan hal yang sebenarnya, karena kita berargumen berdasarkan data yang ada di teks kitab. Tetapi teori Swoon tidak membenarkan atau menyalahkan cerita yang termuat di dalam teks kitab; teori Swoon hanya menggunakan data tersebut dan menjelaskan (dengan menekankan ‘pingsan’ daripada kebangkitan). Dengan demikian tanggapan kita juga menggunakan teks tersebut.

Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus

Kita percaya bahwa Kebangkitan Yesus Kristus dapat dibuktikan dengan merujuk kejadian-kejadian pada masa lampau yang dipercayai secara luas dan didokumentasikan dengan baik. Untuk membuktikan hal ini, kita tidak perlu membuat asumsi awal mengenai sesuatu yang bersifat kontroversi (misalnya, bahwa mujizat benar terjadi). Tetapi di lain pihak, para skeptis juga tidak membuat asumsi awal tentang sesuatu (misalnya, bahwa mujizat tidak benar terjadi). Kita tidak perlu mengasumsikan bahwa Kitab Perjanjian baru adalah sempurna (tidak salah), atau diinspirasi oleh Roh Kudus, atau bahkan kita tidak perlu mengasumsikan bahwa Kitab Perjanjian Baru adalah benar. Kita bahkan juga tidak perlu mengasumsikan bahwa sebenarnya kubur itu kosong, atau kejadian penampakan setelah Kebangkitan, seperti yang tertulis di kitab. Yang perlu kita asumsikan adalah 2 hal, yang keduanya merupakan data fisik, data empiris, yang tidak dapat dibantah oleh siapapun, yaitu: keberadaan Teks Perjanjian Baru yang dapat kita lihat lembar fisiknya; dan keberadaan agama Kristen sejak awal hingga hari ini. (tetapi tidak harus diterima sebagai Kebenaran).

Pertanyaannya adalah: Teori mana yang benar-benar terjadi di Yerusalem pada hari minggu paskah pertama dan dapat dijadikan data?

Ada lima (5) kemungkinan teori: Teori Kekristenan, Teori Halusinasi, Teori Mitos, Teori Konspirasi, dan Teori Swoon (Teori bahwa Yesus sebenarnya hanya ‘pingsan’, tidak mati di kayu salib).

5Teori

Teori nomor 2 dan 4 merupakan suatu dilema: jika Yesus tidak bangkit, tetapi para murid-Nya yang mengajarkan bahwa Yesus bangkit, maka entah apakah para murid tersesat (jika mereka berpikir bahwa Yesus bangkit) atau apakah para murid menyesatkan (jika mereka mengetahui bahwa Yesus tidak bangkit). Para moderenis yang mengemukakan bahwa ‘Yesus sebenarnya tidak bangkit’ tidak dapat mempertanggungjawabkan dilema ini sehingga mereka mengemukakan kategori lain, kategori yang mencoba menengahi dilema dengan teori Mitos (teori nomor 3). Teori alternatif inilah yang paling populer pada saat ini, yang berseberangan dengan ajaran resmi Gereja.

Dengan demikian baik apakah Kebangkitan Yesus Kristus benar-benar terjadi (teori 1), para murid yang tersesat oleh halusinasi yang mengira Yesus bangkit (teori 2), para murid yang menciptakan mitos (teori 3), para murid adalah penyesat yang berkonspirasi dalam penipuan yang paling terkenal dalam sejarah dunia (teori 4), atau Yesus hanya pingsan tidak sadarkan diri (teori 5), yang kemudian kembali sadar, bukan bangkit. Semua kelima kemungkinan tersebut secara logika dapat terjadi dan untuk itu perlu dicari tahu secara adil – bahkan untuk teori 1 (Yesus benar bangkit) merupakan hanya suatu kemungkinan, kecuali jika kita mengikutsertakan pemikiran yang jauh dan di luar yang dapat dipertanggung jawabkan, sejarahwan akan tidak menanggapi teori ini secara serius, seperti teori yang mengatakan bahwa Yesus adalah makhluk dari planet mars yang datang dengan pesawat piring terbang. Atau teori lain yang mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak ada; seluruh cerita adalah novel fantasi terbaik belaka, yang ditulis oleh para nelayan ikan; yang sebenarnya Yesus merupakan karakter dalam sejarah yang disalahpahami oleh semua orang yang mengira bahwa Yesus benar-benar orang nyata, termasuk umat Kristen dan musuh-musuhnya, sampai pada akhirnya setelah jaman berganti jauh dan munculah beberapa ilmuan yang menemukan sudut pandang baru yang ‘benar’ dari sumber yang tidak kenal.

Jika kita dapat membuktikan bahwa semua teori yang lain adalah tidak benar (teori 2 hingga teori 5), kita akan membuktikan kebenaran dari kejadian Kebangkitan Yesus Kristus yang sebenarnya. Bentuk argumen yang akan kita gunakan di sini mirip dengan argumen-argumen untuk membuktikan eksistensi Allah. Baik Allah dan Kebangkitan Yesus tidak dapat diteliti secara langsung, tetapi dari data yang ada dapat diteliti secara langsung dan memungkinkan kita beradu argumen dengan penjelasan yang memadai mengenai data tersebut adalah bukti-bukti dari teori Kristen yaitu Kebangkitan Yesus (teori 1).

Kita dapat mencoba menghadapi 4 (empat) teori ketidakpercayaan akan Kebangkitan Yesus Kristus; mulai dari teori yang paling sederhana, paling kurang populer, paling mudah disanggah hingga ke teori yang paling populer, paling kompleks untuk disanggah, yaitu dimulai dari: Teori Swoon (Yesus hanya Pingsan), kemudian Teori Konspirasi, kemudian Teori Halusinasi, dan kemudian yang paling akhir Teori Mitos.

Berikut adalah link untuk ke halaman :

1. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya Pingsan)

2. Tanggapan atas Teori Konspirasi

3. Tanggapan atas Teori Halusinasi

4. Tanggapan atas Teori Mitos