Apa itu Keselamatan

Keselamatan adalah (1) suatu kenyataan yang  menjadi latar belakang banyak frasa di Kitab Suci yang berbeda-beda dan terkadang membingungkan, (2) salah satu dari dua kemungkinan dari suatu akhir, (3) Kebahagiaan kekal, dan (4) dapat berarti secara bersamaan “pembenaran” dan “pengudusan”.

Perbedaan Gambaran dan Istilah dalam Kitab Suci mengenai Keselamatan

Seperti yang telah ditulis pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa banyak gambaran dan frasa (ungkapan) mengenai Keselamatan, ada beberapa dalam Injil, dan ada juga yang tidak tertulis langsung ‘keselamatan’ (Yesus sering menggunakan penggambaran untuk mengajarkan tentang keselamatan, yang sering Yesus sebut sebagai ‘Kerajaan Surga’, dalam perumpamaan-Nya). Istilah-istilah (terminologi) yang digunakan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Di kalangan Teolog Protestan terkenal menggunakan istilah ‘lahir kembali’ (regeneration), sedangkan di kalangan Gereja Katolik menggunakan istilah ‘rahmat pengudusan’ (sanctifying grace), yang keduanya merupakan hal yang sama. Dan selain itu masih ada lagi istilah-istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ‘Keselamatan’. Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, sama halnya seperti memperdebatkan istilah apa yang gunakan  antara ‘jaket pelampung’ dan ‘alat pengapung’ ketika ada orang membutuhkan pertolongan karena di tengah laut.

 Dua Jalan

Satu hal yang melatarbelakangi semua istilah dan gambaran yang berbeda-beda itu adalah bahwa ada dua penghujung yang menanti pada akhir jalan hidup manusia. Kitab Mazmur 1 meringkaskan; Ada satu jalan menuju Allah dan berakhir pada kebahagiaan, dan selain itu ada jalan lain yang arahnya menjauhkan manusia dari Allah dan berakhir pada kebinasaan. Dalam dunia fisik, semua jalan tidak dapat menuju kepada satu tempat. Kita tidak dapat jalan dari Jakarta ke Jayapura dengan bergerak dari arah timur ke barat, hanya dari arah barat ke timur yang benar. Kita dapat menyimpulkan bahwa semua A adalah C dari pendasaran alasan bahwa semua A adalah B dan semua B adalah C; kita tidak dapat mendapat kesimpulan lain berdasarkan alasan tersebut. Atau dengan kata lain, kita tidak dapat mencapai tujuan keadilan dan kebenaran dengan melalui cara yang salah seperti mencuri, dan kita juga tidak dapat mencapai tujuan ketidak jujuran apabila kesetiaan dan ketaatan dari kesadaran kita.

Dunia jasmani, dunia intelektual, dan dunia moral semuanya mempunyai sasaran pencapaian yang tersusun sesuai dengan dunianya masing-masing, dengan batasan yang jelas. Sasaran tujuan pencapaian tiap dunia itu bukanlah dirancang tau dibuat oleh kita, tapi untuk dicari dan ditemukan oleh kita. Jika hidup kita sesuai dengan jalan yang benar, maka kita akan berhasil; jika tidak, kita akan gagal. Begitu juga halnya dalam keagamaan. Jika memang ada Allah yang sebenarnya (dan jika ada agama yang mengatakan bahwa tidak ada Allah yang sebenarnya, agama itu adalah suatu kebohongan dan kepalsuan), maka pastinya ada jalan yang mengarahkan kepada Allah yang sebenarnya dan ada juga jalan lain yang menjauhkan kepada Allah. Jadi gambaran yang sangat populer yang menyatakan bahwa semua jalan pada akhirnya akan bertemu pada puncak gunung adalah tidak benar. Bukan hanya ketidakbenaran yang sederhana, tapi kesalahan yang dapat menyebabkan malapetaka. Kebohongan itu mengorbankan jiwa. Ada beberapa jalan yang mengarah  ke bawah, bukannya ke atas.

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang yang telah mempelajari secara luas dan dalam mengenai tingkah laku manusia, mulai dari Aristoteles hingga Freud, memberikan catatan tersendiri bahwa kita bertindak untuk tujuan akhir yang ingin dicapai; dan juga itulah satu-satunya akhir dan tujuan yang selalu memotivasi semua orang. Jadi alasan kenapa Keselamatan itu penting karena Keselamatan sama dengan kebahagiaan, kebahagiaan kekal.

Kebahagiaan yang dibahas disini bukan dalam arti dangkal, subjektifitas, dan realitifitas pada pengertian moderen, yang terkesan kebahagiaan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan, tetapi yang dimaksud Kebahagiaan tersebut adalah dalam arti jaman dahulu akan pengertian “Terberkati”: nyata, keberhasilan pada akhir perjalanan, kesempurnaan manusia, kesuksesan yang sebenarnya, kesehatan jiwa. Terberkati adalah kepuasaan yang sebenarnya dari keinginan yang benar, bukan hanya sekedar kepuasaan atas perpenuhinya suatu keinginan sesuai  dengan yang kita harapkan, atau Terberkati juga bukan perasaan kepuasan subjektif. Dalam pengertian jaman dahulu, pemahaman mendalam mengenai kebahagiaan, Keselamatan sama dengan Kebahagiaan Kekal.

Iman dan Perbuatan

Munculnya perdebatan dan adanya perbedaan pemahaman mengenai Keselamatan dimulai oleh Reformasi Protestan dan memisahkan diri dari Gereja. Perdebatan mengenai hal Keselamatan oleh Protestan dan Katolik pada saat itu terlihat bahwa adanya perbedaan pengajaran injil, dua agama, dua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Apa yang saya lakukan agar dapat selamat? Jawaban untuk pertanyaan itu dari pihak Katolik, bahwa untuk selamat anda perlu melakukan dua hal secara bersamaan yaitu percaya (iman) dan melakukan pekerjaan yang baik (perbuatan). Sedangkan oleh Luther, Calvin, Wycliffe, dan Knox (pihak Protestan) berkeras bahwa hanya percaya (iman) yang menyelamatkan. Perdebatan ini telah berlangsung dari 450 tahun yang silam. Tetapi ada ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa secara prinsip (esensinya) perbedaan ini dikarenakan kesalahpahaman dan dari bukti-bukti tersebut telah dimulai usaha untuk mencari penjelasannya.

Kedua pihak baik dari pihak Katolik maupun Protestan, menggunakan istilah-istilah penting yaitu Iman dan Keselamatan, tetapi dalam pemahaman yang berbeda.

  1. Katolik menggunakan istilah Keselamatan untuk merujuk kepada keseluruhan proses, mulai dari awal munculnya kepercayaan manusia kepada Allah, kemudian melalui hidup Kristiani karya cinta di bumi, hingga akhirnya di Surga. Bagi Luther, Keselamatan yang dia maksud adalah langkah inisiasi (langkah awal) – seperti di kisah Nabi Nuh; memasuki bahtera Nuh agar selamat – bukan merujuk ke keseluruhan perjalanan.
  2. ‘oleh Iman’ yang dimaksud oleh Katolik adalah salah satu dari tiga yang diperlukan “Keutamaan Teologi” (iman, kasih, dan pengharapan), iman merupakan keyakinan intelektual. Bagi Luther, iman berarti menerima Yesus dengan sepenuh hati dan jiwa.

Dengan demikian sejak Katolik menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih besar dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih kecil, di lain pihak Luther menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih kecil dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih besar; oleh karena itu pemahaman yang mengatakan “kita diselamatkan hanya oleh iman” sudah sepatutnya tidak menerima oleh kalangan Katolik, sedangkan diterima oleh Luther.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Keselamatan bukan hanya mencakup iman, sama halnya seperti sebuah tumbuhan yang bukan hanya terdiri dari akar. Seumpamanya tumbuhan hidup terdiri dari akar, batang, dan buah; Keselamatan terdiri dari iman, harapan, dan kasih. Sedangkan Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak dapat membeli (mendapatkan upah) Keselamatan, semua yang perlu diperlukan dan semua yang dapat dilakukan agar selamat adalah menerima Keselamatan itu, menerima Sang Penyelamat, dengan beriman.

Kedua pihak mengatakan kebenaran. Dan karena kebenaran tidak dapat berlawanan dengan kebenaran, dua sisi itu sebenarnya tidak benar-benar saling bertentangan pada pertanyaan mengenai Keselamatan. Penaksiran mungkin terdengar terlampau optimistik, tetapi apa yang dikemukakan secara esensi oleh teolog-teolog Katolik dan Lutheran pada Pernyataan Bersama secara terbuka mengenai Dasar Kebenaran ketika Paus Paulus Yohanes II mengatakan hal yang serupa kepada Uskup Lutheran Jerman; kedua pihak  tercengang dan gembira.

Sama halnya kesepahaman antara Katolik dan Protestan walaupun terlihat adanya ketidakcocokan merupakan bukan hal aneh. Karena keduanya menerima data masukan yang sama, yaitu Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan dua   pokok hal mengenai Keselamatan: Protestan menitik beratkan pada Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, yang bukan didapat dari perbuatan baik dengan taat terhadap hukum, dan Katolik memahami bahwa iman merupakan awal/pencetus/pendorong perbuatan baik dari kehidupan kristiani, yang mengarahkan perbuatan tersebut menjadi benar (karena dengan Allah perbuatan manusia dibenarkan/dibetulkan/diarahkan menjadi benar), jika perbuatan itu nyata maka akan mengarahkan “pengudusan” orang tersebut (menjadi bersih, kudus, dan baik), itulah “Iman tanpa Perbuatan adalah mati

Sehubungan dengan point terakhir, Pengkotbah Presbyterian Skotlandia George MacDonald pernah menulis bahwa pemahaman keselamatan oleh Yesus merupakan keselamatan dari hukuman atas dosa kita adalah pemahaman yang jahat, pemahaman yang egois, dan pemikiran yang dangkal. Yesus disebut Penyelamat karena dia mau menyelamatkan kita dari dosa kita.

Ajaran resmi dari pemahaman Katolik (untuk membedakan dengan pemahaman yang salah) menyatakan bahwa Keselamatan adalah suatu pemberian cuma-cuma (tanpa syarat) yang kita peroleh tanpa harus melakukan sesuatu.

Dekrit tentang pembenaran yang disahkan oleh Konsili Trente pada tanggal 13 Januari 1547, dimaksudkan sebagai penolakan posisi para reformator sekaligus penjelasan tentang pembenaran dan peranan iman di dalam pembenaran. Mengenai pembenaran, Trente menegaskan (sama seperti pendapat para reformator; Luther) bahwa pembenaran sungguh-sungguh merupakan karya Allah demi keselamatan manusia, tetapi Konsili tidak menerima kesimpulan bahwa manusia sama sekali pasif dan tidak turut serta dalam proses pembenaran. Manusia juga terlibat secara aktif sebab ia menerima hadiah dari Allah itu secara bebas. Dengan kata lain, ia juga bisa menolaknya (bdk. Dekrit Konsili Trente no. 1929). “Siapa yang percaya dan dibaptis diselamatkan dan siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16).

Dan mengenai iman, Konsili sepaham dengan kaum Skolastik (Thomas Aquinas) yang mengerti iman sebagai persetujuan intelek kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Iman itu perlu demi pembenaran, tetapi iman itu saja tidak cukup. Pembenaran tidak menjadi sola fide, melainkan iman harus dilengkapi dengan harapan dan cinta.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa “keselamatan adalah pemberian cuma-cuma” untuk diterima dengan iman dan “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan yang dimaksud adalah “kasih”, dan kasih berarti “tindakan karena cinta”, bagi orang Kristen kasih (agape) bukanlah suatu perasaan, seperti berupa kata cinta (eros, storage, philia); karena jika kasih itu yang dimaksud hanya berupa perasaan maka kasih itu tidak dapat diperintahkan (oleh Yesus: kasihilah sesamamu).

Bermegah dalam Pengharapan

Mengenai “dunia baru dan surga baru” Konsili Vatikan II menyatakan:

Kita tidak mengetahui, kapan dunia dan umat manusia akan mencapai kepenuhannya; tidak mengetahui pula, bagaimana alam semesta akan diubah. Dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan yang telah rusak akibat dosa, akan berlalu. Tetapi kita diberi ajaran, bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru dan bumi yang baru, kediaman keadilan dan kebahagiaan, yang memenuhi, bahkan melampaui segala kerinduan akan kedamaian, yang pernah timbul dalam hati manusia (GS 39).

Akhirat oleh Konsili dilihat sebagai “penyelesaian” seluruh sejarah dunia, dengan segala cita-cita dan kerinduannya. Memang tidak diketahui cara dan waktunya, tetapi diketahui bahwa semua itu akan datang dari Allah. “Dunia ini dengan keinginannya akan lenyap” (1Yoh 2:17; lih. 1Ptr 1:24; 4:7), tetapi Allah akan menciptakan dunia yang baru. Dunia baru itu akan mengatasi segala cita-cita dan harapan kita: “Yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: itulah yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9).

Pengharapan kita tidak berdasarkan keinginan kita sendiri, tetapi berpangkal pada kebaikan Tuhan. Kasih Allah akan melampaui segala harapan dan dugaan kita. Maka yang pokok adalah iman akan kebaikan Tuhan, seperti dikatakan oleh St. Paulus: “Kita, yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia, kita juga beroleh jalan masuk – oleh iman – kepada kasih-karunia ini. Di dalam kasih-karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita malah juga bermegah dalam kesengsaraan” (Rm 5:1-2). Sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Keterarahan kepada Kerajaan Allah mendasari pengharapan dan kemantapan kita. “Ia yang memanggil kamu adalah setia” (1Tes 5:24). Kesetiaan Tuhan merupakan dasar pengharapan kita. Yang diimani adalah Tuhan, bukan perkembangan dunia, maka segala perubahan dan ketidakjelasan tidak dapat menggoncangkan iman dan pengharapan kita.

Dunia baru tidak hanya memenuhi pengharapan orang perorangan, tetapi kecenderungan dan dinamika dunia seluruhnya. Manusia tidak dapat hidup dan berkembang lepas dari dunia sekitarnya, dan manusia juga tidak dapat beriman sendirian, tetapi dalam Gereja. Maka dengan pengharapannya akan Kerajaan Allah manusia menempatkan diri dalam gerakan Gereja dan dunia. Allah dan Kerajaan-Nya lebih besar dan lebih luas daripada keinginan hati orang perorangan. Penciptaan baru lebih besar dan lebih agung daripada yang pertama. Maka janganlah hidup orang individu dipakai sebagai ukuran bagi Kerajaan Allah. Yang direncanakan Tuhan dan yang dalam kasih-Nya yang besar mau dilaksanakan-Nya itulah pedoman bagi iman dan pengharapan orang.

Pengharapan akan Kerajaan tidak menghilangkan segala pertanyaan dan kesulitan. Manusia harus tetap berjuang dalam dunia ini. Tetapi kita tidak berjuang tanpa motivasi, atau tanpa pengharapan. “Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Dan “Roh itu, bersama dengan roh kita, memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14). Tuhan sendiri meletakkan kerinduan itu dalam hati kita. Karena Roh-Nya, kita terus-menerus ditarik ke arah rumah Bapa. Itu bukan suatu kerinduan kosong, melainkan gerakan hati yang memampukan kita bertahan dalam perjuangan di dunia ini. Pegangan manusia dalam perjalanan hidup di dunia ini ialah hatinya sendiri, tempat ia bertemu dengan Tuhan yang memanggilnya. Itulah daya-tarik dan dinamika hati, yang hanya diketahui oleh Allah dan oleh orang yang dipanggil-Nya. “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan karena Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah wafat bagi kita, supaya kita, entah masih hidup entah sudah meninggal, hidup bersama-sama degan Dia. Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan ini” (1Tes 4:18; 5:10).

Akhir Zaman

Bagi manusia perorangan kematian merupakan akhir hidup di dunia ini. Akan tetapi, seluruh dunia pun akan mati. Itu disebut “akhir zaman”. Sebagaimana manusia perorangan baru mencapai tujuan hidupnya dalam pertemuan dengan Allah, begitu juga dunia. Dengan bagus sekali Paulus melukiskan hal itu dalam Rm 8:19-26:

“Dengan sangat rindu makhluk-makhluk menantikan anak-anak Allah dinyatakan. Sebab makhluk-makhluk ditaklukkan kepada kesia-siaan – bukan dengan sukarela, tetapi terpaksa ditaklukkan – namun tidak tanpa pengharapan. Karena juga makhluk-makhluk akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, menuju ke kebebasan kemuliaan anak-anak Allah. Jadi, kita mengetahui bahwa segala makhluk sama-sama mengeluh dan sakit bersalin sampai sekarang. Tetapi tidak hanya itu. Kita sendiri pun, yang telah menerima karunia-sulung Roh, kita sendiri dalam batin juga mengeluh dan menantikan pengangkatan-sebagai-anak, pembebasan tubuh kita. Sebab baru dalam pengharapan kita diselamatkan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. Sebab siapa masih mengharapkan, apa yang dilihat? Tetapi, bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Begitu juga Roh membantu dalam kelemahan kita. Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan.”

Yang mencolok adalah kata “mengeluh”. Makhluk-makhluk mengeluh, kita mengeluh, Roh Kudus pun “berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan”. Keluhan ini dihubungkan dengan “menantikan” dan “pengharapan”. Dari satu pihak kita sadar bahwa dunia ini seluruhnya fana dan bersifat sementara, tetapi dari pihak lain kita mengetahui juga bahwa hidup ini menjurus ke hidup yang sejati, yakni “pengangkatan sebagai anak”, sebab hidup yang sejati ialah “mengenal satu -satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya” (Yoh 17:3). Dan “apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Mengenal Allah, dan mengenal-Nya sungguh-sungguh, “muka dengan muka” (1Kor 13:12), hanya mungkin kalau kita diperbolehkan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

Yang akan masuk ke dalam dunia Allah, bukan hanya kita, melainkan seluruh ciptaan. Sebagaimana makhluk-makhluk mengambil bagian dalam kedosaan manusia, begitu juga dalam pengharapan. Makhluk-makhluk masih berada dalam keadaan kemalangan. Orang beriman sudah diselamatkan, “telah menerima karunia-sulung Roh” , namun semua sama-sama mengeluh dan menantikan. Sebab kita memang diselamatkan, tetapi “baru dalam pengharapan”.

Pada ayat 15 Paulus berkata, “kamu telah menerima Roh pengangkatan-sebagai-anak”, tetapi hanya “sebagai jaminan untuk semua yang disediakan bagi kita” (2Kor 1:22; 5:5). Dengan “pembebasan tubuh kita” baru akan tercapai “kebebasan kemuliaan anak-anak Allah”, dan tidak hanya bagi kita, tetapi bagi seluruh ciptaan, yang juga “akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan”. Keselamatan yang masih tersembunyi sudah merupakan dinamika hidup, karena pengharapan, bagi seluruh ciptaan. Yohanes berkata, “Sekarang kita sudah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita mengetahui, bahwa, apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Pada saat itu “Allah menjadi semua dalam semua” (1Kor 15:28). Segala-galanya menuju Allah, tetapi menurut suatu proses historis, langkah demi langkah. Maka dilihat dari sudut dunia, pertemuan penuh dengan Allah disebut “akhir zaman”. Tetapi, “selama kita mendiami tubuh ini, kita masih jauh dari Tuhan; sebab hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor 5:6).

Di dunia ini hidup kita masih bersifat perjuangan. Kita memang merasa pasti mengenai tujuan, tetapi sering ragu-ragu mengenai jalannya. Lebih kerap lagi, ketidakjelasan itu menjadi alasan kita menyimpang dari jalan dan tidak lagi terarah kepada pertemuan dengan Allah. Justru karena kepenuhan ini adalah tahap yang terakhir, maka mudah hilang dari pandangan. Orang lebih terpikat oleh yang sekarang terjadi di sekitarnya daripada oleh yang akhirnya dituju. Memang benar bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun, tetapi praktiknya sulit.

“Tuhan-lah tujuan sejarah manusia, titik sasaran segala dambaan sejarah dan kebudayaan manusia; kita yang dihidupkan dan dihimpun dalam Roh-Nya, berziarah menuju pemenuhan sejarah manusia” (GS 45). Maka yang paling penting dalam hidup sekarang ialah mencari keterarahan kepada Tuhan. Pada akhir Kitab Suci dikatakan: “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang awal dan Yang akhir” (Why 22:13). Dunia mulai dengan Kristus, “yang sulung dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15), dan sejarah dunia akan mencapai tujuannya bila Kristus “menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan” (1Kor 15:24).

Antara awal dan akhir, antara alfa dan omega, ada jarak yang jauh. Bukan hanya jarak, melainkan juga perbedaan yang dahsyat. Dengan tegas Konsili Vatikan II berkata, “kemajuan duniawi harus dibedakan dengan cermat dari pertumbuhan Kerajaan Kristus” (GS 39). Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah bukanlah hasil evolusi atau perkembangan dunia. Gereja tidak menolak secara prinsipiil ajaran teori evolusi, tetapi Kerajaan Allah janganlah dilihat sebagai puncak perkembangan dunia. Seperti halnya kebangkitan adalah karya Allah, dan dengan sewajarnya disebut “ciptaan baru” (lih. 2Kor 5:17), begitu juga akhir zaman. Yohanes menyebutnya bukan hanya “bumi yang baru”, tetapi juga “surga yang baru” (Why 21:1; lih. juga 2Ptr 3:13), sebab “yang duduk di atas takhta, berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (ay. 5). Ciptaan pertama berkembang secara evolutif. Ciptaan baru ialah “Yerusalem yang baru, yang turun dari surga, dari Allah” (ay. 2).

Dunia baru bukanlah pertama-tama pembaruan dunia, melainkan pertemuan seluruh ciptaan dengan Tuhan. Apa yang terjadi dengan manusia dalam kebangkitan, akan menjadi kenyataan dalam seluruh ciptaan: Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya dalam makhluk-makhluk-Nya. Pertemuan dengan Tuhan adalah pertemuan dalam cinta kasih. Maka tidak mungkin menuju Kerajaan Allah, kalau tidak dikembangkan lebih dahulu semangat cinta kasih, yang diwujudnyatakan dalam pelayanan. Itulah sebabnya di dunia ini sikap Gereja yang pokok adalah pelayanan.

Tanggung Jawab

Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa penguasa. Pelayanan berarti mengikuti jejak Kristus. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya” (Mat 10:24). Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, “barangsiapa meninggikan dirinya, akan direndahkan” (Mat 23:12 dsj.).

Iman Kristen adalah rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah barang yang harus dibanggakan. Paulus berkata, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1Kor 4:7). Dan Yesus berkata: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Pelayanan Kristiani yang termasuk sikap pokok para pengikut Kristus bukan sesuatu yang sangat istimewa.

Namun itu tidak berarti bahwa orang Kristen adalah orang bodoh saja, yang hanya menjalankan tugas yang kebetulan jatuh pada mereka. Konsili Vatikan II menyatakan “Menyimpanglah dari kebenaran, mereka yang mengira bahwa boleh melalaikan tugas kewajiban di dunia (karena kita mencari dunia yang akan datang), dan tidak mengindahkan, bahwa justru karena iman sendiri kita lebih terikat untuk menjalankan tugas-tugas itu, menurut panggilan masing-masing” (GS 43). Sebab, “manusia, yang diciptakan menurut citra Allah, diberi titah supaya menaklukkan bumi dalam keadilan dan kesucian” (GS 34).

Dalam usaha pembangunan itu perlu diperhatikan, bahwa “keadilan yang lebih sempurna, persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial yang lebih manusiawi, semua itu lebih berharga daripada kemajuan di bidang teknologi” (GS 35). Maka justru dalam bidang pembangunan tampillah kebutuhan akan pelayanan, sebab “hubungan persaudaraan antara manusia hanya akan tercapai dalam kebersamaan pribadi dengan sikap saling menghormati” (GS 23). Oleh karena itu Gereja menegaskan supaya “setiap orang memandang sesamanya, tanpa kecuali, sebagai ‘dirinya yang lain’ dan mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan supaya hidup secara layak” (GS 27).

Konsili memakai kata “mementingkan”, mengindahkan, dan bukan mengurusi. Maksudnya, orang yang satu harus memberi kesempatan hidup kepada orang lain, mengakui haknya, baik pribadi maupun sosial, membiarkan orang lain hidup dengan caranya sendiri, mengakui kebebasan dan kemerdekaannya. Tetapi itu tidak sama dengan sikap acuh tak-acuh. Orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, tetapi juga terhadap orang lain itu, dengan menjadi sesamanya (bdk. Luk 10:25-37).

Tanggung jawab selalu bersifat pribadi, dan itu kewajiban orang perorangan. Yang mempunyai tanggung jawab bukan lembaga, juga bukan masyarakat dan negara, melainkan orang-orang yang mengarahkannya. Bahkan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk masyarakat sebagai anggotanya. Tentu saja, masing-masing menurut kedudukan dan kemampuannya: ”Yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi” (Luk 12:48). Tetapi semua ikut bertanggung jawab bersama. Maka tanggung jawab itu tidak pertama-tama bersifat materiil, sebab tidak semua orang mampu mengusahakan dan menjamin kesejahteraan materi. Tetapi setiap orang bertanggung jawab atas kehormatan bagi pribadi manusia.

Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana juga penting, dan tidak bisa dilewatkan begitu saja, namun yang pokok ialah sikap pelayanan itu sendiri. Orang Kristen dituntut supaya mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan hanya dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani, membantu orang supaya menyadari dan menghayati, bahwa kemerdekaan itu kesempatan melayani seorang akan yang lain (lih. Gal 5: 13). Saling melayani, sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat itu tidak gampang. Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai sesamanya. Itulah hidup Kristus, itulah panggilan Gereja.

Bersama-sama Mencari Arah hidup

Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah “segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubah-ubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup” yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak semula.

Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya.

Sakramen Tahbisan

Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan sakramental-liturgis Gereja. Sakramen-sakramen lain, dengan cara dan dasar yang berbeda-beda, merupakan syarat untuk dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan itu diangkat dengan sakramen tahbisan. Tanpa imam sebagai pemimpin, kebaktian umat tidak diakui sebagai perayaan resmi Gereja. Bukan dalam arti bahwa imamlah yang membuat Ekaristi, tetapi imam itu pemimpin umat yang membuat pertemuan menjadi resmi. Dengan demikian perayaan Ekaristi juga menjadi ibadat resmi Gereja atau sakramen.

Tahbisan Uskup, Imam, dan Diakon: Satu atau Tiga?

Dalam masa yang lampau sakramen tahbisan, yang dulu sering disebut “sakramen imamat”; terlampau dibatasi pada tugas dalam Ekaristi. Dikatakan bahwa dengan tahbisan, imam diberi kuasa membuat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, mempersembahkan kurban Kristus kepada Allah, dan untuk memberi absolusi dalam sakramen tobat. Ini kurang tepat. Sakramen tahbisan itu “sakramen wisuda”. Dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin dalam Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau dalam pelayanan sakramen lainnya, melainkan dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja (termasuk tentu juga sakramen-sakramen). Dengan sakramen tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah” (LG 11).

Maka dari itu sakramen tahbisan itu pertama-tama tahbisan uskup. Sebab “dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanya disebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Adapun para imam biasa, kendatipun “tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para uskup, namun mereka sama-sama imam seperti para uskup; dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka pun dikhususkan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru” (LG 28). Akhirnya, masih ada para diakon, yang juga “ditumpangi tangan, tetapi bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG 29). Ada tiga macam sakramen tahbisan: tahbisan uskup, tahbisan imam, dan tahbisan diakon. Jadi, ada tiga sakramen ataukah satu?

Di atas telah dikatakan bahwa imam dan diakon itu pembantu uskup, oleh karena itu juga ditahbiskan sebagai pembantu uskup, oleh uskup mereka sendiri. Pemimpin umat yang sesungguhnya ialah uskup, tetapi bukan dalam arti bahwa uskup berdiri sendiri. Yang memimpin Gereja itu dewan para uskup, dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai anggota dewan para uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG 21).

Itu tidak berarti bahwa tahbisan imam dan diakon bukan sungguh tahbisan. Mereka pun diangkat menjadi anggota hierarki atau pimpinan Gereja, biarpun sebagai pembantu saja. Maka dapat dibedakan antara uskup dan imam/diakon sebagai pemimpin dan pembantu pemimpin. Dapat dibedakan lagi antara imam dan diakon sebagai pembantu umum dan pembantu khusus. Kalau ditekankan perbedaan itu, maka harus disimpulkan bahwa ada tiga sakramen tahbisan. Akan tetapi, kalau melihat bahwa dengan sakramen tahbisan seseorang menjadi anggota hierarki guna menggembalakan umat, biarpun dengan pembagian tugas tersendiri, harus dikatakan bahwa ada satu sakramen tahbisan saja. Satu atau tiga tahbisan itu serupa dengan satu atau dua inisiasi. Kalau semua dikhususkan, maka ada sembilan sakramen, Kalau baik inisiasi maupun tahbisan dianggap satu, maka ada enam.

Struktur Sakramental

Yang penting bukan jumlah enam atau sembilan, melainkan hubungan antara sakramen atau “struktur sakramental” Gereja. Konsili Vatikan II berulang kali berkata bahwa Ekaristi adalah “pusat dan puncak” (CD 30; AG 9; lih. LG 11; PO 5). Boleh dikatakan bahwa Ekaristi itu pelaksanaan diri Gereja di bidang liturgis-sakramental. Semua sakramen lain adalah syarat atau lanjutan. “Syarat” entah untuk dapat berpartisipasi entah untuk membuat perayaan ini menjadi sah. Supaya perayaan sah, perlu ada pemimpin yang sah, yang diangkat dengan tahbisan, menurut tingkatan sendiri-sendiri.

Syarat untuk boleh ikut juga berbeda-beda: inisiasi merupakan syarat umum. Dengan pembaptisan dan krisma, orang menjadi anggota Gereja dan karena itu “berhak” ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Haknya itu tidak bisa dipergunakan, kalau ia mempunyai dosa besar atau bahkan diekskomunikasi (dikucilkan). Dengan sakramen tobat semua halangan itu dihapus dan orang dapat berpartisipasi penuh lagi. Tetapi halangan tidak hanya datang dari tindakan moral seseorang. Ia juga harus dilantik di dalam Gereja menurut status sosialnya. Dengan hidup berkeluarga status sosialnya berubah. Maka keanggotaan Gereja harus “disesuaikan”. Itulah fungsi sakramen perkawinan. Akhirnya, dengan sakramen pengurapan orang sakit orang dipersiapkan supaya bersatu dengan sengsara dan wafat Kristus, bukan hanya secara sakramental (dalam Ekaristi) melainkan juga secara eksistensial dengan mengalaminya sendiri.

Semua sakramen itu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan satu sama lain, dan bersama-sama membentuk struktur sakramental Gereja, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Struktur Sakramen
Struktur Sakramen

Dalam struktur ini jelas, bahwa inisiasi (dan juga tobat dan nikah) benar-benar terarah kepada Ekaristi sebagai “pusat dan puncak”-nya, Begitu juga para imam harus sadar, bahwa “tugas suci mereka laksanakan terutama dalam ibadat Ekaristi atau pertemuan (synaxis)” (LG 28). Dan mereka yang dipersatukan dengan sengsara Kristus hendaknya yakin, bahwa “kita adalah warga surga, dari mana kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21).

Upacara Tahbisan

Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3. Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan imam berbunyi:

“Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.”

Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h   arus dijalankan dengan kata, tetapi terutama dengan “teladan hidup”.

Sakramen Perkawinan

Dengan sakramen tobat orang diterima kembali sebagai anggota Gereja; atau, kalau dibebani oleh dosa kecil saja, ia semakin menyadari rahmat boleh ikut dalam perayaan Gereja. Sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dan dalam arti itu merupakan syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Hal itu langsung kentara, kalau membandingkan dua pasang suami-istri: yang satu sudah dibaptis sebelum menjadi suami istri, yang lain sudah berkeluarga waktu menerima sakramen pembaptisan. Orang yang sudah berkeluarga waktu dibaptis, tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi; orang yang belum berkeluarga ketika dibaptis, perlu menerima sakramen perkawinan.

Perkawinan menurut Kitab Suci

Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam kitab Kejadian dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia). Dengan demikian mau diungkapkan kesatuan dalam perkawinan atau “monogami” (sebagaimana dengan jelas diungkapkan dalam Im 18:18). Itulah arti yang oleh Yesus diberikan kepada ayat ini dalam Mat 19:5 dan Mrk 10:7-8:

“Laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Suami-istri sungguh satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruhnya, jiwa dan badan. Oleh karena itu kesatuan suami-istri juga menyangkut iman mereka. Di hadapan Allah dan dalam persatuan dengan Kristus mereka itu satu. Maka hubungan dengan Kristus yang pernah diikat dalam pembaptisan sebelum nikah, lain daripada persatuan dengan Kristus sebagai suami-istri. Hubungan dengan Kristus sebagai bujang atau gadis tidak memadai lagi dan harus diganti dengan persatuan dengan Kristus selaku suami-istri.

Mereka yang dibaptis sebagai suami-istri langsung berhubungan dengan Kristus sebagai suami-istri. Maka mereka tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi. Mereka sudah menikah waktu dibaptis. Mereka dari semula menjadi anggota Gereja sebagai orang berkeluarga. Sebaliknya mereka yang pernah menjadi anggota sebagai anak atau sebagai pemuda dan pemudi harus “memperbarui” keanggotaan mereka dan menjadi anggota yang berkeluarga. Hal itu terjadi dengan sakramen perkawinan. Maka sakramen perkawinan juga menyangkut keanggotaan Gereja.

Tetapi janganlah sakramen perkawinan dianggap suatu formalitas saja guna membereskan “KTP gerejawi”, Surat Efesus menyebutnya “misteri agung”. Itulah penafsiran berhubungan dengan Kej 2:24, yang telah dikutip di atas.

“Karena itu laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dan keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar; aku memaksudkannya berhubung dengan Kristus dan jemaat” (Ef 5:31-32).

Sesudah kutipan Kej 2:24 dikatakan “Rahasia itu besar”, yang juga dapat diterjemahkan: Itu misteri agung. Kata “misteri”, khususnya dalam surat Efesus, berarti rencana keselamatan Allah, yang lama tersembunyi tetapi sekarang dinyatakan melalui Gereja (Ef 1:9; 3:3.9; 6:19). Kesatuan suami-istri termasuk misteri Allah itu. Kesatuan mereka mempunyai dasar dalam rencana Allah. Menurut ay. 32 rencana itu baru menjadi jelas dengan sepenuhnya, kalau dikaitkan dengan hubungan Kristus dan Gereja. Kesatuan suami-istri bukan hanya luhur dan mulia, tetapi bersifat ilahi, karena dikehendaki oleh Allah dan menunjuk kepada kesatuan Kristus dengan Gereja. Jelas sekali bahwa pengarang memakai bahasa kiasan, dan berbicara mengenai makna terdalam pernikahan. Ia tidak berbicara mengenai suatu upacara sakramental.

Namun tidak salah pula, kalau ajaran surat Efesus dihubungkan dengan sakramen perkawinan, sebab oleh kesatuan dengan Kristus hubungan suami-istri termasuk “misteri’ Allah. Artinya, karena kesatuan dengan Kristus karya Allah dinyatakan dan dilaksanakan dalam perkawinan. Sama seperti sakramen tobat begitu juga untuk sakramen perkawinan tidak ditentukan upacaranya dalam Kitab Suci. Bahkan mengenai inti perkawinan serta sifat sakramentalnya, jarang disebut. Tetapi dalam Ef 5:11-33 ditunjukkan bahwa cinta Kristus kepada Gereja-Nya merupakan dasar yang sesungguhnya bagi kesatuan suami-istri yang telah dibaptis. Cinta perkawinan mereka mengambil bagian dalam cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan demikian ditunjukkan yang paling pokok dalam setiap sakramen yaitu arti keselamatannya. Suami-istri dalam kesatuan dengan Kristus diselamatkan oleh cinta perkawinan mereka sendiri.

Perkembangan Upacara Sakramen Perkawinan

Selama kurang lebih seribu tahun Gereja tidak mempunyai pandangan lain dari yang terungkap dalam surat Efesus. Perkawinan orang Kristen terjadi dengan cara yang lazim dalam masyarakat. Tidak ada upacara khusus. Perkawinan sipil atau dalam kampung dan keluarga diakui oleh Gereja. Ada banyak nasihat dan petuah, tetapi tidak ada upacara khusus. Paling-paling diminta berkat dari Gereja.

Perkawinan itu urusan pemerintah atau masyarakat, yang diberi doa restu oleh Gereja. Baru ketika urusan pemerintah di Eropa Barat agak kacau, Gereja menjadi lebih aktif dalam mengatur perkawinan. Ini terjadi sekitar abad ke-12. Pada waktu itu juga dikembangkan pikiran mengenai sifat sakramental perkawinan. Baru pada tahun 1274, pada Konsili di Florence, untuk pertama kalinya dengan jelas perkawinan disebut di antara sakramen-sakramen Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa sejak Reformasi di kalangan Protestan perkawinan tidak diakui sebagai sakramen. Bukan hanya karena di dalam Kitab Suci tidak ada petunjuk yang jelas, tetapi juga karena dalam kehidupan Gereja sendiri berabad-abad lamanya tidak diketahui bahwa ada sakramen perkawinan. Perkawinan dipandang sebagai soal kemasyarakatan saja, oleh karena itu bersifat profan dan tidak sakral. Tetapi hal itu sebetulnya kurang sesuai dengan ajaran surat Efesus. Biarpun tidak dikenal suatu upacara khusus, tidak berarti bahwa tidak ada kesadaran mengenai arti rohani, bahkan ilahi, perkawinan.

Melalui cinta perkawinan, rahmat Allah diberikan kepada suami-istri dan anak-anak mereka. Sifat sakramental perkawinan tidak terbatas pada upacara saja, melainkan menyangkut hidup berkeluarga seluruhnya. Karena kesatuan suami-istri dengan Kristus, seluruh hidup mereka – yang adalah satu – menjadi perwujudan rahmat. Tanda rahmat ini ialah janji perkawinan, yang mengikat mereka untuk sehidup semati. Justru karena perkawinan itu semacam “peneguhan” pembaptisan, maka janji itu tidak hanya mengungkapkan kesetiaan mereka satu sama lain, tetapi juga terhadap Kristus.

Perkawinan juga “sakramen iman”, di dalamnya dinyatakan iman akan kasih Kristus sebagai dasar dan kekuatan ikatan perkawinan. Barangkali boleh dikatakan, bahwa bagi orang yang dibaptis waktu masih bayi atau anak, janji baptis menjadi lebih nyata dalam janji perkawinan, yang diucapkan di muka Gereja, yang diwakili oleh imam. Perkawinan dan keluarga menjadi tempat pengungkapan iman. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II berani berbicara mengenai “Gereja-keluarga” (LG 11). Perkawinan dan hidup keluarga sendiri bagi umat beriman menjadi sarana mengungkapkan imannya dan dengan demikian juga menghayatinya. Keistimewaan sakramen perkawinan tidak terletak dalam bentuk upacaranya, tetapi dalam pengungkapan iman itu.

Sebagai upacara ditetapkan dalam buku Upacara Perkawinan tahun 1976: “Pria dan wanita menyatakan saling menyerahkan diri secara bebas, seutuhnya dan untuk selama-lamanya”. Janji nikah adalah bentuk sakramen perkawinan di muka Gereja. Dan ditegaskan lagi: “Justru kesatuan dalam cinta setia yang diangkat oleh Kristus menjadi martabat sakramen”. Pada dasarnya upacara perkawinan orang beriman tidak berbeda secara prinsipial dari upacara perkawinan umum. Tetapi bentuk yang umum itu menjadi sarana pengungkapan iman bagi orang yang percaya akan Kristus. Sama seperti bagi orang lain, begitu juga bagi orang beriman “cinta perkawinan diarahkan kepada penyempurnaan suami-istri secara menyeluruh, termasuk pula kelahiran dan pendidikan anak demi kebahagiaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat”. Bagi orang beriman semua itu mendapat kesempurnaan dalam perkembangan hidup bersatu dengan Kristus, baik untuk suami-istri sendiri, maupun untuk anak-anak mereka.

Perkawinan Campur

Apa yang terjadi kalau orang Katolik menikah dengan pihak lain yang bukan Katolik? Kalau pihak lain itu sudah dibaptis, perkawinan mereka tetap merupakan sakramen karena kedua orang itu satu iman dalam Kristus (KHK kan. 1055). Gereja menegaskan bahwa perkawinan itu pun tidak dapat diceraikan (KHK kan. 1061, 1141). Hanya saja, karena salah satu pasangan belum bersatu penuh dengan Gereja Katolik, biasanya perkawinan itu tidak diteguhkan dalam perayaan ekaristi (meski dalam hal ini tidak ada peraturan atau ketetapan yang mutlak dan umum).

Lain halnya kalau pihak yang lain belum dibaptis. Dengan izin khusus dari pimpinan Gereja, perkawinan itu dimungkinkan. Namun demikian, karena tidak sepenuhnya dilakukan dalam lingkup Gereja, sulit ditentukan nilai gerejawi perkawinan itu. Kiranya perkawinan seperti itu tidak merupakan sakramen, karena tidak ada kesatuan iman. Akan tetapi, karena pihak yang Katolik bersatu dengan Kristus dan pihak yang lain umumnya juga percaya kepada Allah, perkawinan ini pun pasti tidak di luar rencana Allah. Bagaimana persisnya semua itu terjadi, hanya Allah yang tahu.