Perjalanan mengenal Iman Katolik melalui tulisan Santo Ignasius

Ada sebuah cerita yang mengenai pengalaman perjalanan seorang pemuda yang menemukan Iman Katolik. Ia mengenal Yesus pertama kali ketika masih remaja, dan sejak itu dia memulai hidup dengan perasaan mantap, bahagia, dan bersemangat dalam pewartaan sebagai orang Kristen. Dan walaupun dia seorang Kristen non-katolik; dia tidak menolak ajaran-ajaran Gereja Katolik karena memang saat itu dia belum mengetahui banyak mengenai ajaran-ajaran Katolik, dan jika pun ada sedikit yang diketahui mengenai ajaran Katolik itu berasal dari sumber yang kurang memadai yaitu umat Katolik yang kurang mengetahui ajaran Katolik.

Pada suatu hari ada seorang temannya dari gereja yang sama (non-katolik) bertanya kepadanya: “Manakah yang lebih penting, Kitab Suci atau Tradisi?” Pertanyaan itu membuatnya tertegun lama, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sangat besar.

Dari pertanyaan itu dia mulai melakukan perjalanan mencari jawaban yang mengarahkan dia untuk membaca mengenai ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada awal dia memulai mengenal ajaran-ajaran Gereja Katolik, dia melakukan kesalahan fatal dan baru dia sadari kemudian setelah bergumul. Kesalahan yang dia sadari itu adalah dia tidak adil, tidak fair, ketika memulai mengenal ajaran Katolik. Dia akhirnya menyadari bahwa sebelum memulai mengenal ajaran Katolik dia harus membaca tulisan-tulisan dari penulis Katolik, ajaran Gereja Katolik Resmi, atau buku-buku dari pihak Katolik. Karena untuk menjadi “adil” mengetahui dia harus mendapati dari sumbernya dan memahami maksud yang sebenarnya dari pihak Katolik.

Ada satu tulisan yang membuat dia memantapkan keyakinannya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik adalah tulisan yang bersumber dari Gereja Perdana pada masa awal setelah Kitab Suci Perjanjian Baru. Sepenggal tulisan oleh Bapak Gereja Santo Ignasius, Uskup dari Antiokhia membuat dia yakin untuk mengikuti Gereja Katolik.

Santo Ignasius, Uskup Antiokhia.

Santo Ignasius dari Antiokhia semasa hidupnya yaitu sekitar tahun 35 hingga 107, merupakan murid dari Santo Yohanes Rasul (murid Yesus). Santo Yohanes Rasul adalah salah satu penulis penting dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga yang menuliskan Kitab Wahyu. Santo Yohanes Rasul lah yang dipercayakan kepadanya oleh Yesus, Maria Ibu Yesus; ketika Yesus memberikan wasiat untuk menyerahkan Maria Ibu Yesus kepada Santo Yohanes Rasul.

Tulisan-tulisan dari Santo Ignasius tidaklah terlalu banyak dan lengkap, namun bagi pemuda tersebut tulisan-tulisan itu bermakna sangat dalam.

Dia pernah membaca riwayat mengenai Santo Ignasius ketika dipenjara dan beberapa surat kepada komunitas Kristen dalam kapasitasnya sebagai Uskup Gereja. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru mengenai Santo Yohanes, Paulus, atau Petrus; Santo Ignasius juga mengajar, mengoreksi, dan memberi semangat kepada komunitas dengan otoritas kerasulan (Apostolik).

Di situ dia melihat bahwa tidak bisa mengabaikan ada kemiripan dengan realitas Gereja Katolik. Pada salah satu tulisan dari Santo Ignasius yaitu surat kepada umat Kristen di Filadelfia, sebuah kutipan yang sangat mempengaruhi pemuda tersebut berbunyi:

“Janganlah tersesat, saudara-saudaraku, jika ada yang ikut turut serta dalam skismatik (menciptakan atau menghasut perpecahan) ia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Berhati-hatilah, dan cermatlah mengamati prosesi Ekaristi. Karena hanya ada satu daging, daging dari Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu cawan yang berisikan Darah-Nya yang menyatukan kita menjadi satu, dan satu Altar, sama halnya ada satu Uskup bersama dengan pastoran dan diakon, beserta umat. Dengan cara seperti itu lah untuk semua apa pun yang kamu lakukan adalah sejalan dengan kehendak Tuhan.”

Perpecahan dan Bidaah

Mengapa kutipan dari surat Santo Ignasius itu begitu benar-benar meyakinkan pemuda itu sehingga dia memutuskan menjadi seorang Katolik?

Karena cara Santo Ignasius dengan kapasitasnya sebagai Uskup Antiokhia, menulis dengan kewenangan melawan pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan oleh Yesus. Dengan tegasnya Santo Ignasius memperingatkan bahwa bahwa siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Ketegasan tersebut memberikan gambaran luar biasa suatu demonstrasi otoritas, suatu praktek kewenangan, dan ini berarti bahwa Uskup-uskup pada Gereja jaman awal mempunyai sebuah kewenangan, kuasa yang berasal dari Kristus.

Dan hal yang diperingatkan oleh Santo Ignasius dalam suratnya, bahwa yang memisahkan diri dari persatuan umat yang bersama struktur kewenangan yang diturunkan oleh Yesus Kristus – dengan menegakkan pendapat pribadi dan menyimpang dari ajaran Gereja – adalah perbuatan yang sangat salah. Dengan demikian pemuda itu merasa jelas bahwa umat Kristen yang berpisah dari Gereja awal akan dianggap telah “keluar dari kasih” Kristus dan struktur otoritas yang telah didirikan oleh Kristus.

Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus

Selanjutnya, dia memahami lebih lagi tulisan dari Santo Ignasius yang secara tegas membahas mengenai Ekaristi sebagai “satu Tubuh Kristus” dan “satu Darah Kristus”.

Tulisan dari santo Ignasius mengenai ini tidak bisa disalahartikan.

Sama halnya seperti Bapa-bapa Gereja awal – dalam hal ini mereka sepakat dan satu suara – Santo Ignasius juga menulis apa yang Katolik maksud, secara teologi, “Kristus benar-benar hadir”.

Teologi “Kristus benar-benar hadir” dalam Ekaristi yang diajarkan oleh Gereja Katolik seperti yang ditulis juga oleh Santo Ignasius ternyata sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia pahami. Teologi “Kristus benar-benar hadir” menekankan bahwa Yesus Kristus sendiri benar-benar secara nyata dan mukjizat hadir dalam elemen-elemen Ekaristi yaitu Tubuh Kristus dalam rupa Roti, Darah Kristus dalam rupa Anggur. Dalam Teologi ini, Roti dan Anggur bukan simbol, dan kehadiran Kristus bukan diartikan secara simbolik dalam perayaan Ekaristi, namun “benar-benar hadir”.

Hal ini menambah keyakinan pemuda itu untuk menjadi Katolik karena melalui tulisan dari Santo Ignasius, dia seperti menemukan salah satu ajaran Katolik juga, yang sangat jelas sudah ada sejak awal Gereja didirikan oleh Kristus.

Satu Uskup

Perjalanan pengenalan ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh pemuda itu kemudian menemukan satu topik yang agak berbeda dengan apa sebenarnya dia pahami ketika masih sebagai orang Kristen non-katolik. Dalam benaknya pemuda itu, dia membayangkan bahwa Gereja Perdana, gereja masa awal kekristenan berdasarkan baca Kitab Para Rasul. Pemuda itu selama ini mengira, dan juga karena diajari oleh pembina Kristen non-katolik bahwa Gereja Perdana adalah kumpulan gereja-gereja dalam komunitas rumah yang tidak terlalu tertata rapi terstruktur, dimana pengikut Kristus berkumpul dalam persaudaraan untuk mempelajari Kitab Suci.

Pemuda itu baru menyadari memang ada sebagian pemahamanya yang benar namun ada ganjalan yang agak mengganggu karena setelah mempelajari tulisan dari Santo Ignasius.

Dalam tulisan-tulisan Santo Ignasius ada sebuah struktur otoritas atau kewenangan, dan seperti kutipan dari tulisan surat Santo Ignasius kepada jemaat Filadelfia adalah salah satu contoh yang sangat jelas.

Santo Ignasius melalui surat itu menekankan bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah satu Struktur Otoritas yang berasal dan melalui Kristus.

Gambaran dalam tulisan Santo Ignasius bermakna: Hanya ada satu Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus – dan hanya karena ada satu kurban persembahan, maka hanya ada satu Uskup, dan di bawah Uskup adalah pengajar dan pembantu yang ditunjuk oleh Uskup tersebut. Dari gambaran itulah pemahaman Pemuda tersebut bertambah dan menyadari bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah Uskup, selayaknya di bawah Kristus (Imam Agung), atau dalam pemahaman lain “di bawah Kristus dalam persatuan dengan Uskup”.

Pemuda itu baru memahami bahwa apa yang ditulis Santo Ignasius sangat mirip dan sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang ditemui dalam doa Syukur Agung (dapat dibaca juga dalam buku Madah Bakti dan Puji Syukur):

“Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami … dan Uskup kami … serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”

Sekian sepenggal kisah dari pengalaman perjalanan seorang Pemuda hingga menemukan iman Katolik.

Salam, Tuhan memberkati.

Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Berikut beberapa data (21 poin) yang terdapat di dalam Kitab Suci yang menyatakan Keilahian Kristus:

  1. Rumusan Kredo atau Syahadat pada Gereja Perdana “Yesus adalah Tuhan [kyrios]”:

    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
    (1 Korintus 12:3)

    dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
    (Filipi 2:11)

  2. Gelar, atau sebutan “Putra Allah” (“Putra (dari)” mengartikan “mempunyai sifat yang sama (dari)”):

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    (Matius 11:27)

    Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
    (Markus 12:6)

    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
    (Markus 13:32)

    Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
    Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
    (Markus 14:61-62)

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
    (Lukas 10:22)

    Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    (Lukas 22:70)

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    (Yohanes 14:9)

  3. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada tertulis yang menyebut Kristus sebagai “Allah”:

    dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
    (Titus 2:13)

    Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
    (1 Yohanes 5:20)

    Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
    (Roma 9:5)

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1:1)

  4. Keabsolutan Kristus, Kekuasaan yang tertinggi dan menyeluruh:

    Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
    (Kolose 1:15-20)

  5. Keabadian Kristus yang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia:

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1.1)

    yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
    (Filipus 2:6)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

    Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
    (Wahyu 22:13)

  6. Kristus yang Maha-hadir, kehadiran-Nya dapat dimana saja dan kapan saja:

    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
    (Matius 18:20)

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
    (Matius 28:20)

  7. Kristus yang Maha-kuasa:

    Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
    (Matius 28:18)

    Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    (Ibrani 1:3)

    “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
    (Wahyu 1:8)

  8. Kristus yang Kekal-abadi:

    Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    (Ibrani 1:11-12)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

  9. Kristus sang Pencipta (Hanya Allah yang dapat menciptakan):

    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    (Kolose 1:16-17)

    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    (Yohanes 1:3)

    namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
    (1 Korintus 8:6)

    Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    (Ibrani 1:10)

  10. Kristus tidak berdosa. Suci, dan Sempurna

    Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
    (Ibrani 7:26)

    Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
    (Yohanes 8:46)

    Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
    (2 Korintus 5:21)

  11. Kristus mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menghapus dosa:

    Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
    Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
    Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
    Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
    Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
    Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
    (Markus 2:5-12)

    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
    Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
    (Lukas 24:45-47)

    Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
    (Kisah Para Rasul 10:43)

    Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
    Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
    Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
    Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    (1 Yohanes 1:5-9)

  12. Kristus sudah selayak dan sepantasnya disembah:

    Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
    (Matius 2:11)

    Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
    (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
    (Matius 28:9)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
    (Yohanes 20:28)

    Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    (Ibrani 1:5-9)

  13. Kristus menyatakan hal yang sangat khusus:

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
    (Yohanes 8:58)

  14. Kristus disebut “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”:

    yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    (1 Timotius 6:15)

    Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
    (Wahyu 17:14)

  15. Kristus adalah satu dengan Bapa:

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
    (Yohanes 12:45)

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
    (Yohanes 14:8-10)

  16. Kristus melakukan mujizat-mujizat:

    Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
    (Yohanes 10:37-38)

    dan mujizat lainnya yang dapat dibaca di keempat Injil.

  17. Kristus mengutus Roh Kudus:

    Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
    (Yohanes 14:25-26)

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
    akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
    akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
    akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
    Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
    Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
    Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
    (Yohanes 16:7-15)

  18. Allah Bapa memberikan kesaksian atas Kristus:

    lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (Matius 3:17)

    Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
    (Matius 17:5)

    Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
    (Yohanes 8:18)

    Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
    (1 Yohanes 5:9)

  19. Kristus memberikan kehidupan kekal:

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    (Yohanes 3:16)

    Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
    (Yohanes 5:39-40)

    Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
    (Yohanes 20:30-31)

  20. Kristus mengetahui masa atau kejadian yang akan datang:

    Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
    (Markus 8:31)

    Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
    (Lukas 9:21-22)

    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
    Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
    Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
    Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
    (Lukas 12:49-53)

    Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
    Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”
    (Lukas 22:35-37)

    tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
    Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
    Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
    Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
    (Lukas 24:1-7)

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
    Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
    Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
    Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
    (Yohanes 3:11-14)

    Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
    Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
    Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.
    (Yohanes 14:27-29)

    Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
    Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
    Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?
    (Yohanes 18:1-4)

    Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
    Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”
    Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
    Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    (Yohanes 19:26-30)

  21. Kristus adalah Tuhan di atas segala hukum:

    Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
    (Lukas 6:1-5)

Poin-poin di atas adalah data untuk pembahasan dalam tulisan yang akan datang. Salam.

Tanggapan atas Teori Mitos terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Teori Mitos merupakan salah satu teori yang paling populer sering dikemukakan oleh para moderenis dalam membahas kejadian-kejadian yang tertulis dalam Alkitab, baik dalam Kitab Perjanjian Lama atau Kitab Perjanjian Baru. Para Moderenis mencoba mengarahkan bahwa yang tertulis di dalam Alkitab merupakan hanya berupa mitos, sembari menjelaskan argumen mereka kejadian yang ‘sebenarnya’ yang dihubungkan dengan pendapat mereka sendiri seperti Alien dan lain-lain. Dalam pembahasan ini khusus dibahas tanggapan yang dapat kita beri mengenai Kebangkitan Yesus Kristus yang disangkakan merupakan hanya mitos oleh pihak-pihak yang mengemukakan teori mitos.

1. Gaya penceritaan dan penggambaran kejadian-kejadian dalam Alkitab sangat radikal dan jelas berbeda dengan gaya penceritaan semua mitos.

Alkitab menceritakan suatu kejadian dengan tidak secara membesar-besarkan, dan tidak secara kekanak-kanakan. Tidak secara bebas. Semua yang diceritakan di Alkitab sesuai dengan situasi saat itu. Semuanya mempunyai makna. Setiap cerita di Alkitab mempunyai kedalaman makna psikologis yang sangat dalam. Sedangkan cerita dalam mitos mempunyai makna psikologi yang dangkal. Gaya penceritaan dalam Alkitab juga memiliki ciri-ciri penggambaran kesaksian, gambaran kejadian oleh saksi mata penulis Kitab. Seperti sedikit detil pada kisah ketika Yesus menulis, menggores pasir ketika Dia ditanya ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi mengenai pendapatnya untuk melempari perempuan yang berbuat zinah. Tidak ada yang tahu mengapa ada tertulis mengenai Yesus menulis di atas pasir; tidak ada kelanjutan dari detail yang kecil itu. Satu-satunya penjelasan adalah penulis menuliskan apa yang dia lihat, apa yang dia saksikan.

2. Masalah ke-2 bagi teori mitos adalah bahwa tidak ada waktu yang cukup bagi mitos terbentuk.

Para de-mitologi pada masa awal, menitikkan pekerjaan mereka pada penanggalan masa akhir abad ke-2 untuk penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru; sedangkan agar suatu elemen mitologi dapat ditambahkan, kemudian disalahpahami dan dapat dipercaya sebagai suatu fakta harus melalui beberapa generasi saksi mata dahulu. Jika terdapat kisah yang versinya mengandung elemen mitos, saksi mata pada waktu itu di sekitar itu akan mendiskreditkan dan menolak versi tersebut. Pada kasus lain dimana mitos dan legenda dari suatu keajaiban terbentuk pada masa yang sama pendiri suatu agama – contohnya: Budha, Lao-tzu, dan Muhammad. Dimana setiap kasus lain tersebut, mitos-mitos tersebut yang terbentuk telah melalui banyak generasi terlebih dahulu. Penelitian waktu (penanggalan) penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru telah digeser mundur hingga mendekati waktu masa hidup Yesus dengan ditemukannya naskah-naskah secara empiris; hanya hipotesis abstrak yang memajukan penanggalan ke depan. Hampir tidak ada peneliti yang berpendidikan pada saat ini yang masih sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Bultmann, yaitu agar dapat mempercayai bahwa kisah yang pada Kitab Perjanjian Baru adalah teori mitos, bahwa tidak ada bukti suatu teks, naskah pada abad ke-1 mengenai Kekristenan yang dimulai dari keilahian dan kebangkitan Yesus Kristus, bukan sebagai manusia biasa yang telah mati.

3. Teori Mitos mempunyai dua lapisan.

Lapisan pertama adalah historis Yesus, Yesus yang tidak ilahi, Yesus yang tidak mengklaim keilahian, Yesus yang  tidak mengadakan mujizat, dan Yesus yang tidak bangkit dari kematian. Lapisan yang kedua dari teori mitos adalah lapisan berikutnya yang ‘di-mitos-kan’ yaitu Injil seperti yang kita miliki, yaitu Yesus yang mengaku sebagai Tuhan, Yesus yang mengadakan mujizat dan bangkit dari kematian. Permasalahan teori mitos ini adalah bahwa tidak ada sedikit pun bukti nyata mengenai keberadaan yang mendukung teori mitos seperti yang ada pada lapisan pertama. Teori dua-lapisan ini seperti teori kue yang terdiri dari dua lapisan dimana lapisan pertama yang seluruhnya terbuat dari udara dan lapisan lapisan kedua terbuat dari udara panas pada saat itu. Teori mitos merupakan suatu teori yang terdiri dari kedua lapisannya yang tidak mempunyai bukti nyata.Teori Mitos berbeda dengan Injil, Injil selain memiliki merupakan bukti tulisan dari saksi mata terdapat juga bukti lain yang memperkuatnya.

Injil adalah kisah yang luar biasa, dan kita tidak memiliki kisah lain yang diturunkan kepada kita selain yang terkandung dalam Injil ….Surat-surat Barnabas dan Clement mengacu mujizat dan kebangkitan Yesus. Polikarpus menyebutkan kebangkitan Kristus, dan Irenaeus menceritakan bahwa ia mendengar Polikarpus menceritakan mukjizat Yesus. Ignatius berbicara tentang kebangkitan. Quadratus melaporkan bahwa orang-orang yang masih hidup yang telah disembuhkan oleh Yesus. Justin Martyr menyebutkan mukjizat Kristus. Tidak pernah ada kisah non-ajaib (kisah yang biasa-biasa) yang mempunyai peninggalan (relik). Sedangkan agar suatu kisah mengalami korupsi (atau pengurangan) mengharuskan cerita asli terlebih dahulu hilang dan kemudian digantikan oleh yang lain, bahkan prinsip ini juga berlaku bagi tradisi lisan. Namun fakta-fakta yang disebut di atas menunjukkan bahwa kisah dalam Injil adalah substansi kisah yang sama yang dialami oleh orang Kristen masa awal. Ini berarti … bahwa kebangkitan Yesus selalu menjadi bagian dari kisah tersebut.”

4. Sebuah detail kecil, yang jarang diperhatikan, namun hal yang signifikan dalam membedakan Injil dari Mitos yaitu: saksi pertama yang mengetahui kebangkitan Yesus Kristus adalah perempuan.

Pada abad pertama Yudaisme, perempuan memiliki status sosial yang rendah dan tidak ada berhak untuk melayani sebagai saksi. Jika kubur yang kosong adalah suatu legenda dikarang, maka pengarangnya pasti akan tidak mengarang bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pertama kali ditemukan oleh perempuan, yang kesaksian dari perempuan itu akan dianggap tidak berharga. Namun jika di sisi lain, para penulis itu hanya melaporkan apa yang mereka lihat, mereka harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, walaupun yang terjadi tersebut di luar dari kebiasaan sosial dan hukum pada saat itu.

5. Kitab Suci Perjanjian Baru tidak bisa disalahartikan sebagai mitos dan dibingungkan dengan kenyataan karena secara khusus Kitab Suci Perjanjian Baru membedakan fakta dan mitos dan tak mau mengakui interpretasi mitos/dongeng (2 Petrus 1:16).

Karena secara eksplisit dalam 2 Petrus 1:16 mengatakan bahwa yang ditulis adalah bukan mitos, jika tulisan tersebut adalah mitos maka tulisan itu sebenarnya adalah suatu kebohongan yang disengaja dan bukan mitos. Ini merupakan suatu dilema. Apakah kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Baru itu suatu kebenaran atau kebohongan, apakah disengaja (konspirasi) atau tidak-disengaja (halusinasi). Tidak ada jalan keluar dari titik dilema ini. Sama halnya; sekali seorang anak menanyakan apakah Santa Claus adalah nyata, jawaban ‘Ya’ dari Anda akan menjadi sebuah kebohongan, jawaban tersebut bukan menjadikan Santa Claus sebagai mitos, jika ia tidak benar-benar nyata. Begitu juga pada Kitab Perjanjian Baru, sekali Perjanjian Baru dipilah-pilah bahwa ada sebagian kisah adalah mitos dan sebagian adalah kenyataan, maka Kitab Suci Perjanjian Baru akan menjadi suatu kebohongan jika kebangkitan tidak benar-benar nyata.

6. William Lane Craig telah merangkum argumen tradisi tertulis dengan penjelasan, yang dikutip disini. Berikut adalah argumen (untuk Mengetahui Kebenaran Tentang Kebangkitan) membuktikan dua hal: pertama, bahwa Injil ditulis oleh para murid, bukan oleh pembuat-mitos setelahnya, dan kedua, bahwa Injil yang kita miliki saat ini pada dasarnya sama dengan aslinya.

6.A. Bukti bahwa Injil ditulis oleh saksi mata:

6.A.1. Bukti internal, yang terdapat di dalam Injil itu sendiri:

  1. Gaya penulisan dalam Injil sifatnya sederhana dan hidup, apa yang kita harapkan dari penulis mereka diterima secara tradisional.
  2. Selain itu, karena Injil Lukas ditulis sebelum Kitab Kisah Para Rasul, dan karena Kitab Kisah Para Rasul ditulis sebelum kematian Paulus, maka Lukas memiliki penanggalan yang lebih awal, yang menunjukkan ke-otentikannya.
  3. Kitab Injil juga menunjukkan pengetahuan yang mendalam tentang Yerusalem sebelum kehancurannya pada tahun 70. Kitab Injil penuh dengan nama-nama yang tepat, tanggal, rincian budaya, peristiwa sejarah, dan adat istiadat, dan opini-opini yang beredar pada saat itu.
  4. Nubuat Yesus tentang peristiwa (kehancuran Yerusalem) sudah pasti telah ditulis sebelum jatuhnya Yerusalem, karena kalau tidak demikian maka gereja akan memaknai unsur apokaliptik terpisah dari nubuat Yesus itu, sehingga seolah-olah nubuat tersebut hanya menyangkut akhir dunia. Dan karena akhir dunia tidak terjadi ketika Yerusalem dihancurkan, maka jika nubuat Yesus tentang kehancuran Yerusalem tersebut benar-benar tertulis setelah kota Yerusalem hancur maka nubuat tersebut tidak memperlihatkan kejadian kehancuran Yerusalem itu berhubungan erat dengan akhir dunia. Oleh karena itu, Injil sudah pasti ditulis sebelum tahun 70.
  5. Kisah-kisah mengenai kelemahan sisi manusia Yesus dan kesalahan para murid juga menyatakan keakuratan Injil.
  6. Dengan demikian, tidak mungkin bagi pemalsu untuk memasukkan hal-hal yang tidak sesuai bersama dengan narasi yang sangat konsisten seperti yang kita temukan di dalam Injil. Kitab-kitab Injil tidak mencoba untuk mensamarkan perbedaan antara Kitab-kitab Injil, hal tersebut menunjukkan orisinalitas kitab (ditulis oleh masing-masing saksi mata). Tidak ada upaya harmonisasi antara Injil, seperti yang kita harapkan jika berasal dari pemalsu.
  7. Kitab-kitab Injil tidak mengandung anakronisme, tidak ditemukan ketidaksesuaian baik pada setiap tokoh, atau latar. Para Penulis kitab Injil dapat dikenali sebagai kaum Yahudi abad pertama yang menjadi saksi peristiwa.

Kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada alasan lagi untuk meragukan bahwa Injil berasal dari penulis tradisional, yang mengandung kisah kesaksian peristiwa-peristiwa supranatural.

6.A.2 Bukti eksternal:

  1. Para rasul pastinya meninggalkan beberapa tulisan, berhubung karena mereka dalam memberikan pelajaran dan konseling kepada orang-orang percaya yang secara geografis letaknya jauh, dan tulisan-tulisan tersebut berisikan apa jika bukan Injil dan surat-surat dari para rasul itu sendiri? Karena bagaimana pun juga para rasul perlu dan harus mempublikasikan narasi akurat mengenai sejarah Yesus, sehingga setiap upaya pemalsuan dapat didiskreditkan, disingkirkan dan keaslian Injil dapat dijaga.
  2. Ada banyak saksi mata yang masih hidup ketika buku-buku itu ditulis, dan mereka bisa bersaksi apakah buku-buku tersebut berasal dari penulis yang diakui mereka atau tidak.
  3. Kesaksian-kesaksian di luar alkitabiah menjadi pelengkap Injil akan ke-tradisional para penulis kitab, seperti:  Surat Barnabas, Surat Clement, Gembala Hermes, Teofilus, Hippolytus, Origen, Quadratus, Irenaeus, Melito, Polikarpus, Justin Martyr, Dionysius, Tertullian, Siprianus, Tatian, Caius, Athanasius, Cyril, hingga Eusebius di AD 315; bahkan juga kesaksian-kesaksian dari lawan kekristenan yang mengakui ke-tradisionalan para penulis, seperti: Celsus, Porphyry, Kaisar Julian.
  4. Dengan satu pengecualian, tidak ada Injil apokrif yang pernah dikutip oleh penulis kitab Injil selama tiga ratus tahun setelah Kristus. Pada kenyataannya tidak ada ditemukan bukti yang menunjukan adanya keberadaan Injil yang tidak otentik di abad pertama, di mana keempat Injil dan Kisah Para Rasul ditulis.

6.B. Bukti bahwa Injil yang kita miliki saat ini adalah sama dengan Injil asli yang pernah ditulis:

  1. Karena keperluan untuk memberikan petunjuk dan kebaktian pribadi, tulisan-tulisan Injil pasti disalin berkali-kali, yang meningkatkan kemungkinan teks asli dapat terlestari.
  2. Bahkan, tidak ada karya tulisan kuno selain Injil yang salinannya tersebar begitu banyak dan dalam berbagai bahasa, dan semua salinan dalam berbagai versi itu mempunyai kesamaan isi.
  3. Teks-teks Injil juga tetap terjaga keasliannya dari penambahan-penambahan yang sesat. Salinan-salinan Injil begitu banyak terdistribusi secara geografis yang luas, dan salinan-salinan itu menunjukkan bahwa teks tersebut hanya mengalami perbedaan yang sangat kecil ketika ditransmisikan. Perbedaan yang memang ada cukup kecil dan merupakan hasil dari kesalahan yang tidak disengaja.
  4. Kutipan-kutipan dari kitab-kitab Perjanjian Baru oleh para Bapa Gereja masa awal semuanya serupa, cocok, dan tepat.
  5. Injil tidak dapat dirusak, dirubah, atau dikorupsikan tanpa protes besar dari sebagian besar pihak Kristen ortodoks.
  6. Tidak ada yang dapat merusak, merubah, atau mengorupsikan semua naskah kitab.
  7. Tidak ada celah waktu yang bagi pemalsuan bisa terjadi, karena seperti yang telah kita lihat, kitab-kitab Perjanjian Baru yang dikutip oleh para Bapa Gereja dalam deret rentang waktu yang rapat. Teks tidak mungkin dipalsukan di masa sebelum ada banyak kesaksian eksternal yang muncul, dan pada masa itu para rasul masih hidup dan bisa menolak gangguan percobaan pemalsuan jika ada.
  8. Setiap penggalan Naskah Perjanjian Baru layaknya sama seperti teks dari karya-karya klasik kuno. Untuk menanggalkan sepenggal tekstual dari Injil akan membalikkan semua aturan kritik dan menolak semua karya kuno, karena teks dari karya-karya kuno kurang pasti dibandingkan dengan Injil.

… untuk disimpulkan.

Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif

Pewartaan para rasul ternyata mengalami proses peralihan kepada pewartaan Gereja. Proses itu dibarengi dengan suatu proses yang penting sekali untuk kehidupan Gereja, yakni Sabda Allah menjadi “Kitab Suci”.

Proses pembentukan Kitab Suci Perjanjian Baru itu berlangsung selama zaman apostolik. Di mana-mana muncul tulisan-tulisan yang berisikan pewartaan mengenai Yesus Kristus, Tuhan kita, Sabda Allah yang mempribadi. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan Gereja dalam suatu proses yang agak lama dan dijadikan kanon Kitab Suci yang melengkapi Kitab Suci Perjanjian Lama yang sudah sejak semula dihargai Gereja sebagai Sabda Allah.

Dengan demikian, wahyu Allah melalui Yesus Kristus sungguh selesai dengan kematian rasul terakhir, meskipun sebagian kitab-kitab Perjanjian Baru menurut kanon, barangkali baru ditulis setelah kematian rasul terakhir. Namun Gereja yakin, tulisan-tulisan itu berisikan pewartaan para rasul yang asli. Gereja bisa mengetahuinya karena kesadaran iman yang tetap hidup di dalamnya yang juga berasal dari pewartaan para rasul.

Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Allah Tritunggal Maha Esa

Sesudah hari raya Pentekosta Gereja Katolik merayakan pesta Tritunggal Mahakudus. Pesta itu merupakan rangkuman seluruh tahun liturgi. Dan memang tepat, sebab dogma atau ajaran mengenai Allah Tritunggal merupakan rangkuman seluruh iman dan ajaran Kristen. Iman akan Allah Tritunggal bukanlah titik pangkal, melainkan kesimpulan dan rangkuman dari seluruh sejarah pewahyuan Allah, serta tanggapan iman manusia,

Cukup menarik bahwa semula Paus Alexander II (1061-1073) menolak mengadakan hari raya khusus bagi Tritunggal Mahakudus. Alasannya, bahwa Gereja sudah setiap hari menghormati Tritunggal Mahakudus, khususnya dalam doa “Kemuliaan”. Kendati demikian pada tahun 1334 diadakan hari raya khusus. Iman akan Allah Tritunggal yang memang terungkap dalam seluruh hidup Gereja, begitu penting, sehingga pantas diberi perhatian khusus. Namun perlu diperhatikan bahwa pada hari raya ini tidak ada peristiwa keselamatan yang dirayakan (seperti pada Natal dan Paskah), melainkan suatu dogma atau ajaran.

Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia. Maka sebaiknya uraian tidak mulai dengan rumus “satu Allah, tiga pribadi”, tetapi dengan Kitab Suci, karena kata (modern) “pribadi” tidak seluruhnya tepat. Bila diartikan menurut paham modern, arti rumus ini tidak jauh dari triteisme atau tiga Allah.

Dalam teks-teks resmi Gereja dipakai kata Yunani (prosopon dan hypostasis) dan Latin (persona). Kata-kata itu tidak mempunyai arti yang tepat sama dengan kata “pribadi”. Bahkan dalam bahasa kuno tidak seluruhnya jelas pembatasan kata itu. Semua kata itu mempunyai arti khusus, sama seperti kata Bapa dan Putra, yang diambil dari bahasa manusia tetapi punya arti yang lain sama sekali kalau dipakai untuk Allah. Titik pangkal bukan kata atau rumus, melainkan fakta sejarah keselamatan, yang kemudian mau dirumuskan sebaik mungkin.


A. Ajaran Kitab Suci

Dalam 2Kor 5:19 Paulus berkata, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus” dan dalam Rm 5:5, “Kasih Allah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita”. Allah bertindak, dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Karya Kristus, dan karya Roh Kudus, merupakan karya Allah. Gereja perdana yakin bahwa dalam diri Kristus, dan dalam Roh Kudus, karya keselamatan Allah terlaksana. Dengan singkat seluruh karya Allah ini dirumuskan dalam Ef 1:3-14:

(3)”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga dalam Kristus.
(4)”Sebab dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih;
(5)dengan menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
(6)supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya,
(7)Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa – menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
(8)yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
(9)Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita – sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus,
(10)sebagai persiapan kegenapan waktu – untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.
(11)Di dalam Dialah kami [turunan Yahudi] mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya –
(12)supaya kami ini, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus [karena ajaran Perjanjian Lama], boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya,
(13)Di dalam Dia kamu [turunan Yunani] juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – ketika kamu percaya, kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu.
(14)Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh keseluruhannya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Jelaslah bahwa yang melakukan karya keselamatan adalah Allah, yang di sini disebut “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Karya keselamatan itu secara konkret-historis terlaksana dalam Kristus. Sebelum pengarang berbicara mengenai penebusan yang diperoleh karena salib Kristus (ay, 7), dikatakan lebih dulu bahwa “dari semula”, yaitu “sebelum dunia dijadikan” Allah sudah menetapkan rencana keselamatan itu “dalam Kristus”. Kristus itu jalan keselamatan Allah menurut rencana dari semula. Sebagai inti karya Allah itu disebut pewahyuan rencana Allah dalam Kristus (ay. 9). Tetapi dengan karya Kristus saja, karya Allah belum lengkap. Karya itu diteruskan oleh Roh Kudus yang merupakan “jaminan” kepenuhan penebusan pada akhir zaman.

Jelas sekali bahwa ajaran mengenai Allah Tritunggal bukanlah suatu teori, yang diwahyukan secara lengkap oleh Yesus atau para rasul, melainkan rangkuman karya Allah yang dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus. Oleh karena itu perlu diperhatikan secara lebih rinci, bagaimana Allah berkarya dalam Kristus dan Roh Kudus. Lalu kelihatan juga bagaimana hubungan Kristus, dan Roh Kudus, dengan Allah yang mengutus dan melaksanakan karya keselamatan-Nya.

1. Yesus

Yesus tidak pernah “menerangkan” diri sendiri. Pewartaan Yesus tidak mengenai diri-Nya sendiri, melainkan mengenai Allah, khususnya mengenai Kerajaan Allah. Mengenai Kerajaan Allah Yesus juga tidak memberi banyak keterangan. Pembicaraan Yesus mengenai Kerajaan adalah pewartaan yang bukan sekadar keterangan, melainkan yang menantang dan mengejutkan. Pewartaan itu didukung dan diisi oleh seluruh penampilan Yesus, baik sewaktu hidup-Nya maupun sesudah wafat-Nya, ketika Ia menampakkan diri dalam kemuliaan. Malah sebetulnya Yesus dikenal terutama dari penampakan sesudah kebangkitan. Penampakan itu berarti bahwa para murid mengenal-Nya kembali. Dengan demikian penampakan itu tidak bisa dilepaskan dari seluruh pergaulan Yesus dengan mereka, “mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang dimaklumkan oleh Yohanes” (Kis 10:37). Oleh karena itu perlu diingat kembali semua yang telah diuraikan oleh Gereja mengenai hidup dan karya Yesus.

Dua hal yang hendak digarisbawahi di sini ialah pergaulan Yesus dengan orang berdosa dan pandangan Yesus sendiri terhadap kematian-Nya, sebagaimana terungkapkan terutama pada perjamuan terakhir.

Seluruh penampilan Yesus terutama pergaulan-Nya dengan orang berdosa menimbulkan protes dari pihak orang Yahudi, khususnya kaum Farisi. Dengan demikian Yesus sungguh menyimpang dari adat kebiasaan. Yesus bergaul dengan “orang pinggiran”, yang tidak terpandang dalam masyarakat Yahudi; dengan orang miskin, orang kusta, orang kerasukan setan, dengan wanita dan anak kecil, dan juga dengan pemungut bea dan orang berdosa. Ia malah makan bersama mereka (Mrk 2:16-17 dsj.; lih. Mat 11:19 dsj.; Luk.15:1; 19:7).

Dengan demikian Ia memperlihatkan suatu “solidaritas” dengan mereka, yang oleh Paulus akan dikembangkan sebagai pokok karya penebusan. Dengan demikian Ia juga memperlihatkan sikap-Nya terhadap peraturan mengenai tahir dan najis: Yesus tidak merasa diri terikat pada peraturan Yahudi itu. Malahan lebih daripada itu, dengan bergaul bersama orang yang terang-terangan melanggar hukum, Yesus menawarkan rahmat dan pengampunan Allah sebelum orang itu memperlihatkan tanda-tanda pertobatan yang meyakinkan (bdk. Luk 15:11-32; juga 7:41-43). Yesus datang membawa belas-kasihan Allah kepada manusia. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan; karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13 dsj.; 12:7). Bukan hanya Paulus, melainkan Yesus sendiri berkata bahwa di dalam diri-Nya rahmat Allah ditawarkan kepada manusia. Tawaran itu hanya dalam Dia, sehingga “barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33 dsj.; Mrk 8:38 dsj.).

Solidaritas Yesus dengan kaum pendosa mencapai puncaknya dalam wafat-Nya di kayu salib, sebagaimana berulang kali dan dengan amat jelas dikatakan oleh St. Paulus (lih. 1Kor 15:3). Yesus sendiri telah membicarakan arti kematian-Nya dengan cukup jelas. Dari satu pihak Yesus tidak menghindari konfrontasi dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi (lih. Mrk 11:27-33 dsj.); dari pihak lain Ia juga tidak mencari kuasa, tetapi datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45; lih. Luk 22:27). Maka tidak mengherankan bahwa Yesus menyadari sepenuhnya “bahwa seorang nabi harus dibunuh di Yerusalem” (Luk 13:33; bdk. 11:47-51). Pada perjamuan terakhir Ia juga menyatakan nasib-Nya dengan terus terang.

Pada pertemuan terakhir dengan para murid-Nya itu Yesus tetap menunjuk pada pokok pewartaan-Nya, yaitu Kerajaan Allah: “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang” (Luk 22:18; lih. 22:30 dan Mrk 14:25). Sabda-Nya kepada Yudas (Luk 22:21-23) memperlihatkan bahwa Yesus sadar akan situasi yang gawat. Tetapi itu tidak mengubah keyakinan-Nya bahwa Kerajaan Allah sedang datang. Oleh karena itu Ia juga berani berbicara mengenai “perjanjian baru oleh darah-Ku” (Luk 22:20; 1Kor 11:25; lih. Mrk 14:24 dsj.). Wafat-Nya akan menjadi awal tata keselamatan yang baru. Di muka ancaman maut Yesus tetap berani berbicara mengenai keselamatan dan menawarkannya dalam bentuk roti dan anggur. Darah-Nya “ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:24 dsj.), dan Matius menambahkan: “untuk pengampunan dosa” (26:28). Yesus sadar bahwa Ia bukan hanya pewarta keselamatan seperti nabi-nabi yang lain (lih. Mat 11:41-42 dsj.), melainkan pembawa dan penawar keselamatan. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20 dsj.). Tindakan penyelamatan Yesus bukan hanya tanda kehadiran Allah, melainkan bentuk penampakan Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus Allah mendatangi umat-Nya.

2. Roh Kudus

Oleh Roh-Nya Allah hadir di dalam kita. “Kita ketahui, bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam kita, karena Allah telah memberikan dari Roh-Nya sendiri kepada kita” (1Yoh 4:13). Kristus disebut “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24), tetapi Kristus tidak pernah disebut “Roh Allah”, walaupun Paulus mengakui bahwa “Tuhan (yang mulia) adalah Roh” (2Kor 3:17; lih. 1Kor 15:45; Rm 8:9.10). Oleh karenanya ia juga tidak terlalu membedakan antara “Roh Allah” dan “Roh Kristus” (Rm 8:9). Bahkan “dalam Kristus” (Rm 8:1) rupa-rupanya sama dengan “dalam Roh” (ay. 9; lih. 9:1; 1Kor 6:11).

Sesuai dengan pikiran Perjanjian Lama (lih. Mzm 51:13; 139:7; Yes 11:2; 61:1; Yeh 36:26-27; 37:5.14) Roh Allah diartikan sebagai kehadiran Allah yang menggerakkan dan membarui manusia. Lebih khusus lagi dapat dikatakan bahwa Roh Allah merupakan lingkup karya Allah, khususnya dalam Kristus. Karya Allah di dalam manusia dilaksanakan “dengan pertolongan Roh Yesus Kristus” (Flp 1:19). Atau dengan kata lain, karya Allah dalam Kristus mencapai sasarannya dalam diri manusia oleh Roh. “Rahasia Kristus dinyatakan dalam Roh” (Ef 3:4-5). Bagi Paulus “Kerajaan Allah” adalah “kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Roh Kudus “diam” dalam orang beriman (Rm 8:9.11; 1Kor 3:16; 6:19); oleh karena itu hidup iman tidak lain dari “buah Roh” (Gal 5:22). Beriman sama dengan “hidup dalam Roh” (Rm 8:9; lih. 15:13), “dalam kebenaran Roh” (Rm 7:6), “disucikan dalam Roh Kudus” (Rm 15:16; 1Kor 6:11).

Pandangan ini tidak terbatas pada surat-surat Paulus saja. Dengan lebih jelas Yohanes dan Lukas berbicara mengenai karya Roh. Oleh Yohanes ditekankan secara khusus hubungan Roh Kudus dengan Kristus (lih. Yoh 7:39; 14:26; 16:13; 1Yoh 5:7-8). Roh Kudus adalah “Roh kebenaran” (Yoh 14:17; 15:26; 1Yoh 4:6), yang memampukan orang beriman masuk ke dalam misteri Allah (16:13; 1Yoh 5:6). Serupa dengan sabda Yesus dalam Injil Yohanes (14:16). Akhir Injil Lukas: “Aku akan mengirim kepadamu yang dijanjikan Bapa-Ku” (Luk 24:49), yakni “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kis 1:8). Yesus yang dimuliakan mengutus Roh-Nya kepada Gereja (Kis 2:33). Roh Kristus itu memimpin Gereja dalam seluruh perjalanannya. Secara khusus Lukas menekankan karya Roh dalam Gereja.


B. Ajaran Gereja

Dasar ajaran Gereja adalah ajaran Kitab Suci, khususnya bahwa dalam Kristus dan dalam Roh-Nya Allah hadir. Ajaran mengenai Allah Tritunggal mau mengungkapkan iman akan kasih Allah. Dalam Kristus dan dalam Roh-Nya, Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Allah tidak menganugerahkan “sesuatu” kepada manusia, Ia memberikan diri-Nya sendiri. Hakikat wahyu ialah bahwa “dari kelimpahan cinta kasih-Nya Allah menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka didalamnya”; “dengan wahyu ilahi Allah mau menampakkan dan membuka diri-Nya sendiri serta keputusan kehendak-Nya yang abadi tentang keselamatan manusia, untuk mengikut-sertakan manusia dalam harta-harta ilahi” (DV 2 dan 6).

Pada hakikatnya wahyu ilahi tidak lain dari Allah yang menghubungi manusia. Maka Konsili Vatikan II juga mengajarkan bahwa Kristus “menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita” (DV 4). Yesus adalah “Immanuel, yang berarti Allah beserta kita” (Mat 1:23). Inilah kebenaran pokok. Mengenai Roh Kudus dapat dikatakan hal yang serupa. Kebenaran pokok ini dirumuskan secara khusus mengenai Kristus dahulu, baru kemudian mengenai Roh Kudus.

1. Kristus

Kesadaran bahwa Allah hadir dalam Kristus, seolah-olah dengan sendirinya menimbulkan suatu konflik dengan iman akan Allah yang esa. Murid-murid Yesus yang pertama semua dididik dalam agama Yahudi dan mengakui bahwa “Tuhan (YHWH) adalah Allah kita, dan hanya Tuhan (YHWH) saja”; “jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Ul 6:4; 5:7). Maka kesulitan mereka ialah merumuskan keunikan Kristus dengan tetap mempertahankan monoteisme (kepercayaan akan satu Allah). Pokok persoalan ialah bahwa dari satu pihak mau dipertahankan keilahian wahyu: Allah sungguh mewahyukan diri dalam Kristus. Tetapi dari pihak lain tidak mau disangkal pula perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan Yesus Kristus. Usaha perumusan yang pertama menekankan perbedaan itu dan praktis menyangkal keilahian Kristus.

Di atas sudah dijelaskan yang disebut Arianisme yang merupakan bidaah yang paling besar pengaruhnya. Masih ada ajaran lain, yang serupa. Misalnya, monarkianisme yang mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah “penampakan” dari keallahan yang abstrak dan transenden. Serupa dengan itu adalah modalisme, yang membedakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai “cara” Allah menampakkan diri. Modalisme itu juga disebut sabelianisme. Sebelum Arius banyak orang sudah mengajarkan suatu subordinasianisme, yakni bahwa ada tingkatan dalam Allah: Yang sungguh, dengan sepenuhnya Allah, hanyalah Bapa; Putra dan Roh Kudus ada pada taraf yang lebih rendah (jadi bukan Allah dalam arti penuh).

Konsili Nisea (325) menegaskan keilahian Kristus itu dengan rumus “sehakikat dengan Bapa”. Tidak ada “Allah tingkat dua”. Tetapi dengan menekankan kesamaan, kurang jelas perbedaan dan kekhasan Bapa dan Putra. Maka dalam surat yang setahun sesudah Konsili Konstantinopel I (381) oleh para uskup dikirim ke Roma, dikatakan: “Kami percaya bahwa Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus mempunyai satu keilahian dan kuat-kuasa dan hakikat (ousia), mempunyai keluhuran yang harus diberi kehormatan yang sama, dan sama abadi dalam kekuasaan, dalam tiga pribadi (hypostasis) atau tiga penampakan (prosopon) yang sempurna”. Sejak itu misteri Allah Tritunggal dirumuskan secara singkat: “Satu Allah, tiga pribadi”. Tetapi tetap ada pertanyaan, yaitu apa yang dimaksudkan dengan “pribadi”? Lebih-lebih karena dalam Tritunggal “pribadi” mengungkapkan kekhasan dan keunikan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam diri Kristus paham “pribadi” dipakai sebagai dasar kesatuan untuk kodrat ilahi dan insani.

2. Roh Kudus

Yang diajarkan mengenai Kristus dalam arti tertentu juga berlaku untuk Roh Kudus, sebab dari satu pihak juga karya Roh Kudus adalah karya Allah (lih. Rm 5:5) dan dari pihak lain Roh Kudus tidak sama dengan Kristus (lih. Yoh 16:7-15 dan Mat 28:19). Maka dari itu Roh Kudus terbedakan dari Kristus (dan tentu juga dari Allah Bapa), tetapi Roh Kudus juga harus dikatakan Allah, sama seperti Kristus. Keallahan-Nya sama, kepribadian-Nya lain. Sebab, seandainya Roh Kudus hanya makhluk saja atau “sesuatu” yang bukan ilahi, maka manusia sesungguhnya tidak benar-benar tersentuh oleh Allah melalui Roh Kudus. Rahmat Allah berarti bahwa kita sungguh-sungguh bertemu dengan Allah. Kalau dikatakan, dalam Kitab Suci, bahwa pertemuan itu terjadi oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus sendiri bersifat “tak tercipta” atau ilahi. “Allah telah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita” (2Kor 1:22).

Oleh karena itu Konsili Konstantinopel I (381) menambahkan pada syahadat Konsili Nisea (325) kata-kata ini: “[dan akan Roh Kudus], Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan, yang bersabda dengan perantaraan para nabi”. Di kemudian hari, di Barat (dalam bahasa Latin), masih ditambahkan satu kata lagi: “berasal dari Bapa dan Putra”. Tambahan ini menimbulkan banyak kesulitan dan pertikaian antara Gereja Barat dan Gereja Timur (Ortodoks). Soal ini rumit sekali dan tidak dari semula disadari arti dan akibatnya. Para ahli teologi Barat, mulai dengan St. Agustinus (354-430), biasanya mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra (karena hubungan antara Roh Kudus dan Kristus). Tetapi secara resmi hal itu dimasukkan ke dalam syahadat (bahasa Latin) baru oleh Konsili Lyon II (1274). Pada tahun 1981 (perayaan 1600 tahun Konsili Konstantinopel 1) Paus Yohanes Paulus II memberi izin menghilangkan kata-kata “dan Putra” dari syahadat Latin itu. Sebab dalam syahadat Yunani (dari 381 itu) memang tidak ada kata “dan Putra”. Gereja Timur berpegang teguh pada pendapat bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, sama seperti Putra.

Sebetulnya Gereja Barat secara prinsip juga tidak berkeberatan terhadap rumus Timur. Konsili Florence (1442) menyatakan: “Apa pun Bapa dan apa pun milik-Nya, Ia tidak punya dari yang lain, tetapi dari diri-Nya sendiri, Ia adalah dasar tanpa dasar. Apa pun Putra dan apa pun milik-Nya, Ia punya dari Bapa, Ia adalah dasar dari dasar. Apa pun Roh Kudus dan apa milik-Nya, Ia punya dari Bapa bersama dengan Putra. Tetapi Bapa dan Putra bukanlah dua dasar bagi Roh Kudus, melainkan satu dasar”.


C. Soal Perumusan

Seluruh persoalan mengenai dogma Allah Tritunggal sebenarnya menyangkut perumusan. Bukan soal kata-kata saja, sebab kata-kata dipilih (dengan saksama) untuk mengungkapkan dan merumuskan pandangan dan keyakinan tertentu. Keyakinan iman itu menyangkut Allah dan pewahyuan-Nya. Dan karena itu sebetulnya di luar jangkauan bahasa manusia. Namun, seandainya manusia sama sekali tidak dapat berbicara mengenai wahyu Allah, wahyu itu sesungguhnya tidak mempunyai arti, karena tidak (bisa) dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu manusia tidak hanya boleh, tetapi harus berusaha mencari kata-kata yang kiranya cocok guna mengungkapkan dan merumuskan pandangan iman. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa rumus-rumus itu mencoba merumuskan keyakinan iman, yang lebih luas daripada keterbatasan kata-kata dan bahasa. Maka selalu harus ditanyakan, apa latarbelakang dan apa maksud mereka yang merumuskan iman dengan kata-kata itu? Titik pangkal bukanlah kata atau pembatasan kata, baik dalam bahasa kuno maupun dalam pengertian modern, melainkan keyakinan iman mereka yang menciptakan rumusan iman ini.

1. Pribadi

Masalah rumusan dogma Allah Tritunggal yang pertama menyangkut istilah “pribadi”. Kata itu sekarang mempunyai arti lain dibandingkan dengan arti pada zaman Konsili Konstantinopel dan Kalsedon. Sekarang pun kala itu di Barat (Latin) dan di Timur (Yunani) lain artinya.

Kata Latin persona (seperti kata Yunani prosopon) semula berarti “topeng” (yang dipakai dalam sandiwara dan tarian) dan dengan demikian mengungkapkan sesuatu yang “khusus”, yang “unik”, keistimewaan peran yang mau dimainkan. Di Timur (Yunani) kata itu juga mempunyai arti “wajah”, “penampakan”. Di Barat (Latin) kata persona lebih mendapat arti hukum: subjek yang mempunyai hak dan kewajiban. Kadang-kadang di Timur kata prosopon dapat berarti “subjek”, dengan arti “individu”. Dan berkembanglah arti “penampilan”. Tetapi di Timur tekanan tetap ada pada arti “keunikan”, “kekhususan”. Dengan arti itu kata prosopon juga dipakai untuk membedakan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tetapi kata yang lebih biasa untuk Tritunggal adalah kata hypostasis, yang dengan lebih jelas mengungkapkan keunikan masing-masing; bukan hanya sebagai penampilan, melainkan sebagai kenyataan objektif yang khusus dalam menghayati keallahan bersama – yaitu “hakikat ilahi” (Yunani: ousia; Latin: substantia, essentia). Kekhasan itu adalah perbedaan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, sehingga sebetulnya hanya mau dikemukakan perbedaan atau kekhususan dalam hubungan antara ketiganya. Tetapi Kata hypostasis sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, maka di Barat tetap dipakai kata persona (Yunani: prosopon). Agustinus amat menyadari bahwa kata Latin persona sebetulnya kurang memadai; maka ia menekankan perbedaan dalam hubungan. Kata Yunani hypostasis dan Latin persona kemudian dipakai juga untuk menyatakan bahwa dalam Kristus kemanusiaan dan keallahan bertemu dalam satu subjek.

Kendatipun ada cukup banyak perbedaan dalam istilah yang dipakai di Timur dan di Barat, akhirnya orang terbiasa berbicara mengenai “satu Allah, tiga pribadi”, tanpa cukup memperhatikan ciri khas dan latar belakang istilah itu. Namun, bila kata “pribadi” dimengerti secara modern, sebagai subjek dan pusat kegiatan dan kehidupan, maka dengan demikian dinyatakan bahwa dalam Allah ada tiga pusat semacam itu. Itu tidak tepat, karena kalau demikian sebetulnya berarti bahwa ada tiga Allah. Kalau kata “pribadi” dipahami untuk tiga pribadi ilahi, tekanan memang ada pada keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. “Subjek” kegiatan adalah keallahan. Kendati demikian, walaupun juga dalam filsafat modern pribadi tidak diartikan sebagai sesuatu yang tertutup, melainkan yang mendapat kekhasannya dalam hubungan dengan pribadi lain, tidak dapat disangkal bahwa istilah “pribadi” mudah menimbulkan salah paham.

Kalaupun diakui bahwa komunikasi sosial antarmanusia mempunyai dasar dan titik pangkalnya dalam komunikasi Allah sendiri, tidak dapat disangkal pula bahwa hubungan dan komunikasi dalam Allah lain daripada antarmanusia. Dalam Allah tidak ada pertentangan antara kemandirian dan hubungan, karena Bapa, Putra dan Roh Kudus saling menerima dengan sempurna. Ketiga pribadi justru mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Allah tidak statis, tertutup. Allah mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dasar pemberian diri itulah “komunikasi” dalam diri Allah sendiri. Dalam mengkomunikasikan diri kepada manusia, Allah juga memperlihatkan sesuatu dari diri-Nya sendiri. Tetapi karena Allah tetap Allah, maka pewahyuan itu tetap sulit dirumuskan dengan kata-kata manusia.

2. Kristus dan Roh

Masalah kedua dalam perumusan dogma Allah Tritunggal menyangkut hubungan antara Kristus dan Roh Kudus. Masalah itu terungkap antara lain dalam perselisihan sekitar rumus “dan Putra”, tetapi sebetulnya soal itu lebih luas daripada sekadar rumus itu saja. Dalam Injil Yohanes (7:39) dikatakan: “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”. Itu berarti, kedatangan Roh Kudus menyusul sesudah kebangkitan Kristus. Tetapi Yesus sendiri “dikandung dari Roh Kudus” (syahadat, sesuai dengan Mat 1:18; Luk 1:35). Pada pembaptisan juga dikatakan bahwa “Roh turun atas-Nya dalam rupa burung merpati” (Mrk 1:10 dsj.).

Jadi lama sebelum Yesus dibangkitkan sudah ada Roh Kudus. Bahkan dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus sudah disebut. Menurut Injil sinoptik Roh Kudus tidak tergantung pada Yesus, tetapi justru sebaliknya: “Penuh Roh Kudus Yesus kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (Luk 4:1; lih. ay. 14). Surat Ibrani malah menggambarkan wafat Yesus sebagai “mempersembahkan diri kepada Allah oleh Roh yang kekal” (Ibr 9:14). Mengenai kebangkitan-Nya Paulus berkata: “menurut Roh kekudusan dinyatakan Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati” (Rm 1:4). Dan kalau dikatakan bahwa “semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14), maka jelaslah bahwa Roh menghubungkan kita dengan Allah serupa dengan karya-Nya yang menghubungkan kemanusiaan Kristus dengan Allah. Yesus dan semua manusia lain dipersatukan dengan Allah oleh Roh Kudus. Bagaimana lalu dapat dipertahankan bahwa Roh Kudus tergantung pada Kristus dan kedatangan-Nya baru mungkin, bila Yesus sudah dimuliakan?

Di sini kiranya perlu diperhatikan secara khusus Injil Yohanes. Pada perjamuan terakhir sampai tiga kali Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, tetapi setiap kali janji itu dirumuskan secara lain:

  1. “Roh Kudus akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (14:26; lihat juga ay. 16);
  2. “Penghibur akan Ku utus dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa” (15:26);
  3. “Aku akan mengutus Penghibur kepadamu” (16:7).

Dua kali dengan jelas dikatakan bahwa Yesus sendiri mengutus Roh Kudus, dan selanjutnya masih ditegaskan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu” (16:7). Namun dikatakan pula bahwa Yesus akan mengutus Roh Kudus “dari Bapa”, dengan keterangan “yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa”.

Yesus tidak mengutus Roh dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa. Oleh karena itu pada akhir dikatakan: “Ia (Roh Kudus) akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala yang dimiliki Bapa adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku” (16:14-15). Kristus mengutus Roh, yang diterima-Nya dari Bapa. Maka juga dapat dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh, tetapi tidak lepas dari Kristus juga. Bapa itu Bapa, karena ada Putra. Maka, kalau dikatakan bahwa Bapa yang mengutus Roh Kudus, itu tidak lepas dari Kristus; Ia mengutus Roh sebagai Bapa dari Putra. Bapa tidak pernah lepas dari Putra, dan Putra “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Putra” (Yoh 5:19).

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra, namun tidak sebagai dua sumber tersendiri, melainkan sebagai kesatuan dari Bapa dan Putra. Tetapi betul juga, bila dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh melalui atau oleh Putra, dan Yesus baru dapat ikut mengutus Roh Kudus, bila dengan sepenuhnya, juga dalam kemanusiaan-Nya, Ia dipersatukan dengan Bapa dalam kebangkitan, menjadi “Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:4).


D. Arti Dogma Allah Tritunggal

Kalau dogma Allah Tritunggal begitu sulit dirumuskan dan lebih sulit dimengerti, mengapa Gereja berpegang teguh pada dogma dan ajaran itu? Gereja berpegang teguh pada dogma ini karena ini merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah. Isi dogma ini bukan teori, melainkan praktik kehidupan. Isinya tidak pertama-tama mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai karya keselamatan Allah bagi manusia. Keyakinan pokok yang terungkap di sini ialah bahwa Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Kalau hanya “dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr 1:1), belum Allah sendiri. Maka akhirnya “dengan perantaraan Anak-Nya, yang ditetapkan-Nya sebagai pewaris segala-galanya, karena oleh Dia dibuat-Nya alam semesta” (ay. 2).

Keyakinan dasar ialah bahwa makhluk mana pun tidak dapat menjadi perantara. Harus ada hubungan langsung. Kalau tidak, manusia tidak sungguh “kena”. Oleh karena itu karya keselamatan Allah juga tidak selesai dengan perutusan Putra saja. Manusia baru sungguh dipersatukan dengan Allah, bila Allah sampai ke dalam lubuk hatinya. Itu terjadi oleh Roh “yang menghidupkan”: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lihat juga 6:19). Karena Allah memberikan diri, maka karya keselamatan Allah adalah sekaligus pewahyuan hidup Allah sendiri. Atas dasar yang dibuat Allah terhadap manusia dapat dimengerti (sedikit) bagaimana hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, tetapi yang pokok bukan itu. Wahyu bukan pertama-tama pembagian ilmu, melainkan pemberian hidup. Manusia dianugerahi mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri, yakni dalam cinta Bapa dan Putra dalam Roh Kudus.

Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa liturgi dan doa Gereja itu lebih daripada rumus-rumus ajaran. Gereja selalu berdoa kepada Bapa, dengan perantaraan Putra, oleh Roh Kudus. “Dengan perantaraan Putra” berarti bersama dengan Putra, dan dengan mengikuti teladan-Nya, Sebagaimana Kristus seluruhnya terarah kepada Bapa, begitu juga mereka yang percaya kepada-Nya. Tetapi itu hanya mungkin “oleh Roh Kudus”, sebab “Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan” (Rm 8:26), maksudnya dengan kata-kata ilahi yang tak mungkin dimengerti, jangan lagi diucapkan, oleh manusia. Tetapi “Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” (ay. 27), artinya untuk orang-orang beriman.


E. Tritunggal dan Agama-agama Lain

Trimurti dalam agama Hindu, yaitu penjelmaan Brahman dalam tiga dewa, Brahma, Siva dan Vishnu, kadang-kadang dibandingkan dengan Tritunggal. Kiranya itu tidak tepat, pertama-tama karena Trimurti bukanlah suatu rumusan dogmatis dari sejarah keselamatan. Terutama Trimurti sesungguhnya bukan Brahman (bukan Allah), tetapi penampakannya saja. Maka di sini ada sesuatu yang bisa dibandingkan, bukan dengan Tritunggal, melainkan dengan aneka bentuk modalisme. Selain itu hubungan antara ketiga dewa itu tidak berkaitan dengan karya atau sejarah keselamatan, melainkan masing-masing merupakan penampakan Brahman sendiri, tanpa hubungan jelas satu dengan yang lain. Khususnya antara Siva dan Vishnu tidak ada hubungan langsung. Sesungguhnya harus dikatakan bahwa keserupaan antara Trimurti dan Tritunggal tidak lebih daripada rumus “tri” yang terdapat dalam kedua kata itu. Kecuali itu harus diingat bahwa ajaran agama Hindu mengenai Trimurti berbeda-beda.

Agama Islam menolak mentah-mentah segala pikiran mengenai Allah Tritunggal. Ditolak bahwa Allah mempunyai Anak, dan lebih lagi bahwa ada lebih dari satu pribadi dalam Allah. Penolakan ini terdapat dalam Al-Qur’an sendiri, dan berkaitan dengan pokok iman agama Islam akan Tawhid, Allah wahid wa-ahad (Allah itu esa dan tunggal), yang berarti pula bahwa Allah terpisah total dari segala makhluk. Sejak zaman nabi Muhammad sampai hari ini, ajaran mengenai Tritunggal tetap merupakan titik perselisihan yang pokok antara kaum muslimin dan orang Kristen. Walaupun semula orang Islam hanya mengenal Tritunggal melalui rumusan populer, lama kelamaan mereka mulai memperhatikan latar belakang rumusan Konsili-konsili. Kendati demikian, diskusi sering kali tetap berpusat pada rumus saja, tanpa masuk ke dalam pokok persoalan. Padahal, sejauh ajaran mengenai Tritunggal mau merumuskan hubungan Allah dengan manusia, secara langsung menyangkut soal wahyu, dan mempunyai arti bagi kaum muslimin juga. Kiranya pokok persoalan terletak dalam “pengantara” antara Allah dan manusia. Agama Islam melihat Al-Qur’an sebagai pengantara itu, sedangkan bagi orang Kristen “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5).

Asal usul Yesus Kristus

Syahadat berbicara singkat sekali mengenai awal hidup Yesus di dunia, “Ia menjadi manusia oleh Roh Kudus dari Perawan Maria”. Syahadat panjang sebetulnya malah berkata “menjadi daging“; yang dimaksudkan “manusia lemah”. Arti kata “oleh Roh Kudus, dari Perawan Maria” menjadi jelas dari syahadat pendek: “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Yang dimaksudkan sudah jelas: Anak yang lahir dari Maria, bukan anak biasa, melainkan Anak Allah. Dan – seperti telah ditetapkan melawan Nestorius – itu tidak berarti bahwa Maria melahirkan seorang anak biasa, yang kemudian dimasuki Firman Allah. Anak yang lahir dari Santa Perawan, dari semula, artinya dari saat dikandungnya, sudah Anak Allah. Hal itu mau dinyatakan dengan kata-kata “dikandung dari atau oleh Roh Kudus”. Sama seperti semua kata lain dari syahadat, juga kata-kata ini hanya mau merumuskan apa yang sebetulnya sudah dikatakan di dalam Kitab Suci.

Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas (bab 1-2). Matius (bab 1-2) juga mengisahkan masa kanak-kanak Yesus, tetapi dengan lebih berpusat pada St. Yusuf. Di sana dibicarakan kebingungan Yusuf, ketika menyadari bahwa Maria mengandung; sementara kelahiran Yesus sendiri tidak diceritakan. Dalam cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kelahiran Yesus ada perbedaan antara Lukas dan Matius. Lukas menyebut kedatangan para gembala (Luk 2:8-20); penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah (Luk 2:21-40) dan Yesus yang pada umur dua belas tahun tinggal di kenisah (Luk 2:41-52). Sedangkan Matius menceritakan kunjungan para sarjana dari Timur (Mat 2:1-12), pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15.19-23), dan pembunuhan kanak-kanak di Betlehem (Mat 2:16-18).

Mat 1-2 dan Luk 1-2 mempunyai ciri-ciri sendiri. Keduanya tidak bermaksud memberikan informasi baru, melainkan menerangkan (dalam bentuk cerita) misteri Kristus sebagai manusia yang adalah Anak Allah. Hal itu sudah kelihatan dari fakta bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 baru ditulis lebih kemudian (Markus, sebagai Injil paling tua, tidak mempunyai kisah kanak-kanak Yesus; sedangkan Yohanes mempunyai suatu uraian lebih “teoretis” mengenai misteri pribadi Yesus pada awal Injilnya). Gereja pada waktu itu tidak hanya bertanya siapa Yesus, melainkan juga dari mana Ia datang dan bagaimana semua itu terjadi. Soal itu dijawab oleh Matius dan Lukas, masing-masing dengan caranya sendiri, kendati kedua-duanya mengajarkan yang sama, yakni:

  1. Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan (Mat 1:18.24-25; Luk 1:27.34; 2:4-7);
  2. Maria menerima kabar dari malaikat mengenai anak yang akan dilahirkannya (Mat 1:20-21; Luk 1:28-30);
  3. Maria akan mengandung karena Roh Kudus (Mat 1:18; Luk 1:35);
  4. Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Mat 1:16.20; Luk 1:27; 2:4), tidak tahu mengenai hal itu (Mat 1:18-25; Luk 1:34);
  5. Anak yang akan lahir harus diberi nama Yesus (Mat 1:21; Luk 1:31), sebab Ia Penyelamat (Mat 1:21; Luk 2:11), anak Daud (Mat 1:1; Luk 1:32).

Di samping lima hal pokok itu juga diceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (Mat 2:1; Luk 2:4-7); sesudah itu Maria dan Yusuf menetap di Nazaret (Mat 2:22-23; Luk 2:39.51). Hal itu terjadi pada zaman raja Herodes (Mat 2:1; Luk 1:5).

Semua peristiwa itu menceritakan kelahiran Yesus yang serba istimewa, mulai saat Ia dikandung oleh Perawan Maria. Peristiwa sesudah kelahiran-Nya dalam Injil Lukas tidak lain daripada yang lazim terjadi dalam suatu keluarga Yahudi, dengan ciri-ciri tertentu, yang menggarisbawahi misteri pribadi Yesus. Sebaliknya kisah mengenai sarjana dari Timur (Mat 2:1-12) serta pengungsian ke Mesir dan pembunuhan di Betlehem (Mat 2:13-23) mau memperlihatkan bahwa Yesus itu cahaya para bangsa dan Hamba Allah yang harus menderita untuk dan karena bangsa-Nya

Belum tentu semua itu terjadi tepat sebagaimana diceritakan, lengkap dengan semua detailnya. Kisah ini ditulis guna menjelaskan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, Anak Allah dan anak Maria. Khususnya kisah Lukas mengenai Maria, mengatakan hal itu dengan jelas sekali. Lima hal pokok yang disebut di atas semua memperlihatkan hal itu, terutama cerita mengenai kunjungan malaikat. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara lebih seksama: Maria yang mengandung dari Roh Kudus; dan Maria yang tetap perawan yang kait-mengait.