Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan


(pengantar – bagian 2 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Tujuh bantahan dari Liberalis

Bantahan 1:

Sepertinya ada kontradiksi (pertentangan) antara 2 (dua) ajaran Kekristenan jaman dahulu: antara (1) teologi Kristen tentang neraka yang kaku, keras, sempit dan menghakimi — dengan mengatakan “hanya satu jalan ke surga”, kemurkaan abadi menanti dari Allah bagi tidak mengikuti jalan tersebut.  — (2) teologi Kristen tentang Allah yang maha pengasih, maha pengampun, dan maha pemurah. Untuk itu demi kemajuan moralitas kita harus mengkoreksi teologi yang dapat mengakibatkan kemunduran moralitas.

Tanggapan: Kita TIDAK boleh mengkoreksi teologi tentang penghakiman. Demi moralitas cinta kasih, sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengkoreksi teologi penghakiman, melainkan kita seharusnya menginterpretasikan (menafsirkan, mengartikan) teologi penghakiman tersebut. Penghakiman dan kemurkaan oleh Allah berakar dari cinta Allah. Kemurkaan dari Allah bagi kita merupakan rasa dari cinta Allah yang tidak kita sukai. Kita mengenakan kemurkaan (yang kita rasakan, yang kita tanggapi sebagai kemurkaan) dari sudut pandang kita sendiri kepada Allah yang mengasihi kita. Sama halnya dengan interpretasi (penafsiran) yang kelihatannya sah, tetapi sebenarnya tidak memadai dikatakan sah ketika bertentangan dengan sebagian data kita yang lain. Untuk itu lebih baik, kita harus menemukan suatu visi (pandangan) yang membantu kita menemukan arah tujuan, rekonsiliasi, mengesahkan dan menjelaskan SEMUA data yang kita punya.

Retorika tentang “kemajuan” dan “kemunduran” sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Mereka yang mengatakan kenyataan suatu kondisi dan menyatakan “kebenaran” yang sesuai karena berdasarkan waktu, atau kalender; dan tidak mempunyai pegangan dasar kebenaran terlepas dari waktu adalah orang-orang yang mempraktekan kesombongan kronologis.

Orang Kristen sebaiknya menjadi orang yang keras kepala tetapi berhati lembut. Jangan menjadi sebaliknya berkepala lembut tetapi berkeras hati. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang cerdik seperti ular tulus seperti merpati (Matius 10:16). Dua hal yang diperlukan yaitu: mencari Allah dan menemukan Allah; hal pertama kita perlu menanamkan dalam hati misi pencarian Allah, kemudian hal berikutnya adalah menemukan Allah dengan pikiran kita. Mulai dengan keinginan (hati) untuk mengenal Allah , kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan (pikiran) akan Allah. Keinginan untuk mengenal Allah adalah bersifat Subjektif; dan Pengetahuan akan Allah adalah bersifat Objektif. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah kebenaran. Cinta dan Kebenaran adalah adalah kesatuan mutlak sama halnya sifat Allah yang Maha Pengasih dan Sumber Kebenaran.

Teologi di satu sisi mempertebal pengetahuan objektif kita akan kebenaran Allah, kebenaran doktrin, yang menjadi dasar keteguhan pengetahuan kita sehingga kita dapat menjadi ‘keras kepala’. Dan disisi lainnya teologi juga memperjelas pandangan subjektif, yaitu cinta kasih,  kelembutan hati. Kedua sisi tersebut dibutuhkan agar diselamatkan. Ketaatan ajaran, pengetahuan akan Allah tidak dapat menyelamatkan kita jika hati kita penuh dengan kebencian. Dan cinta kasih tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak jujur dan tidak peduli dengan kebenaran, yang akhirnya membuat cinta kasih kita bukan cinta kasih yang sebenarnya.

Bantahan 2:

Kalau semua orang dapat diselamatkan cukup dengan pengetahuan akan mengenal sang Kristus sebelum inkarnasi (prainkarnasi) atau yang dikenal sebagai Logos, mengapa repot-repot orang Kristen mewartakan tentang Yesus Kristus (yang setelah inkarnasi)? Kalau kita bisa masuk surga melalui pintu belakang, mengapa kita harus repot melalui pintu depan?

Tanggapan: Hal pertama yang perlu diluruskan, sang Logos atau sang Kristus yang prainkarnasi bukanlah pintu belakang untuk masuk surga. Surga tidak mempunyai pintu belakang atau pintu lain. Hanya ada satu pintu surga, satu jalan, yaitu: Yesus Kristus yang menyatakan sendiri bahwa dirinya lah jalan untuk ke surga. Logos yang dikenal sebelum inkarnasi Kristus adalah Yesus Kristus yang sebelum dilahirkan. Dia-lah sang Kebenaran yang dicari oleh semua orang jujur yang belum percaya.

Hal kedua, kita mewartakan Yesus Kristus — dan semua orang yang mendengar seharusnya percaya Yesus Kristus — karena Yesus adalah Kebenaran. Itulah dasar yang sebenar-benarnya menjadi alasan bagi orang Kristen  mewartakan atau beriman.

Hal ketiga, Pengetahuan akan Yesus Kristus yang datang dunia sebagai manusia akan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua orang agar dapat diselamatkan, dibandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki orang yang belum mengenal Yesus yaitu pengetahuan yang tidak pasti dan tidak jelas dengan hanya mengandalkan akal budi dan kesadaran diri sendiri. Alasan yang dikatakan oleh Yesus sendiri yang tertulis pada Injil Yohanes 18:37; “… Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”, Yesus menawarkan alasan yang lebih jelas kepada manusia, alasan yang paling jelas. Umpakan tetangga anda seseorang yang mempunyai pengetahuan seadanya yang dapat membantu persalinan anak anda, kira-kira bukankah kita lebih memilih dokter persalinan yang lebih mantap pengetahuannya dalam persalinan?

Hal keempat, untuk mengasihi Allah kita perlu mengenal Dia lebih baik. Siapapun yang tidak peduli tentang pengetahuan akan Allah, tidak peduli juga untuk mencintai Allah. Cinta kasih selalu ingin tumbuh berkembang, dan tumbuh kembangnya melalui pengetahuan dan komunikasi. Prinsip itu serupa dengan memegang kebenaran cinta kepada Allah atau cinta kepada sesama. Mentalitas Ketidakpedulian adalah benar-benar moral tanpa cinta kasih, dan mental tersebut mengakibatkan hambatan bagi keselamatan.

Bantahan 3:

Doktrin yang mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat bersifat menghakimi

Tanggapan A: Yang mengatakan hal itu adalah Yesus Kristus sendiri, bukan berasal dari pengajar Katolik. Pengajar Katolik hanya meneruskan doktrin tersebut.

Tanggapan B: Doktrin itu menghakimi terhadap dosa-dosa, tetapi mengampuni para pelaku dosa. Yesus menghakimi perbuatan dosa dan mengampuni pendosa. Agar jelas kita harus membedakan mengasihi pendosa (manusia) dan membenci dosa (perbuatan yang salah).  (Dari semuanya itu, Allah mengajarkan umatnya hanya apa yang Dia lakukan oleh dirinya sendiri.) Jika kita mengenali diri kita sendiri berdosa, menolak untuk bertobat dan melekatkan diri pada kehidupan spiritual kita yang jelek, maka ketika Allah datang untuk memisahkan dosa dengan yang sudah memisahkan diri dengan dosa, kita akan terikat dengan dosa yang tidak mau kita lepaskan dan ikut terjatuh ke neraka.

Jika hanya satu hal di dunia ini yang dapat memisahkan perekat diri manusia dan dosa, apakah hal itu kita sebut “menghakimi”? Itulah keduniawian kita; jika kita tidak menyukai sesuatu hal, kita akan memperselisihkan dengan diri kita sendiri, bukan dengan suatu ideologi.

Tanggapan C: Apakah benar kita menginginkan Allah sepenuhnya bersifat “tidak menghakimi” dan tidak menghakimi dosa kita sama sekali? Apakah yang kita mau bahwa Keselamatan itu hanya menyelamatkan kita dari hukuman dan bukan dari dosa? Apakah kita juga mau Allah untuk mentoleransi adanya dosa di dalam Surga? Apakah kita mau semua orang membawa keburukan duniawi ke surga, semua hal dari perang hingga pemerkosaan? Apakah kita lebih memilih bahwa surga juga memiliki pengacara dan polisi?

Di sisi pengadilan yang terlalu teliti akan sulit membedakan dosa dengan pendosa; dan menjatuhkan hukuman kepada keduanya yaitu dosa dan pendosa. Sebaliknya di sisi liberal, mereka juga sulit membedakan dosa dengan pendosa, dan tidak menghakimi keduanya yaitu dosa dan pendosa. Tetapi jika kita tidak menghakimi dosa, maka kita juga tidak peduli terhadap pendosa bersangkutan. Sama halnya jika kita tidak membenci penyakit kanker, kita tidak mencintai (mengasihi) penderitanya.

Tidak ada kontradiksi antara doktrin Kristen yang keras dan tegas dengan kelembutan cinta kasih. Sama halnya tidak adanya kontradiksi antara dokter yang keras dan tegas mengetahui seluk beluk tubuh manusia, mengobati dan mencegah penyakit dengan (kasihnya) pengabdiannya untuk menyelamatkan pasien.

Bantahan 4:

“Hanya Kristus satu-satunya jalan” adalah ajaran yang sangat sempit.

Tanggapan: Ya benar. Kenyataannya jalan menuju keselamatan sangat sempit. Hanya satu cara yang dapat menyelamatkan kita, hanya satu jalan untuk keluar dari ketidakpastian, hanya satu jawaban dari tiap rumusan, hanya satu pasang yang dapat menikah dengan sebenarnya. Penyelamat yang lain selain Yesus dapat menyelamatkan kita dari semua hal kecuali dari dosa – jika mereka memang dapat menyelamatkan.

Bantahan 5:

Doktrin “jalan yang sempit” adalah doktrin yang tidak sesuai dengan gambaran Allah, gambaran yang tidak suci; karena sifat Allah bukanlah sempit tetapi sangat luas.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengenal sifat Allah? Seorang Kristen akan memberikan jawaban: kita mengenal sifat Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sepenuhnya wahyu, gambaran  dari Allah Bapa bagi manusia  (Yohanes 14:9; Kolose 1:15.19). Yesus Kristus yang menyatakan hati Allah sangat tidak terbatas luasnya (Matius 18:14; bandingkan 1 Petrus 3:9) dan jalan menuju kehidupan sempit (Matius 7:14). Kita dapat mengenal lebih dekat bagaimana sifat Allah melalui wahyu dari Allah itu sendiri, lebih jelas dibandingkan dengan asumsi-asumsi (rekaan) dari kita yang dipengaruhi oleh kondisi sosial sekitar.

Bantahan 6:

Allah mengampuni semua orang; oleh karena itu semua orang sudah diampuni dan diselamatkan.

Tanggapan: Allah mau memberikan ampunan kepada semua orang; Dia menawarkan pengampunan sebagai pemberian yang cuma-cuma kepada semua orang; tetapi sebuah pemberian yang cuma-cuma itu seharusnya juga diterima dengan bebas (iklas). Bagaimana kita dapat menerima suatu pemberian cuma-cuma tetapi tidak mempercayai Dia yang memberi dan tidak yakin dengan apa yang diberi.

Bantahan 7:

Mungkin benar agama tidak lebih dari sesuatu yang sifatnya subjektif. Ilmu pengetahuan (science) telah mengambil alih semua eksistensi pengetahuan objektif di dunia, dan yang tersisa bagi agama hanyalah jiwa subjektif kita? dan secara subjektif, ketulusan dari setiap orang sudah cukup.

Tanggapan A: Jika agama hanya subjektif, maka Kekristenan bukanlah suatu agama, karena Kekristenan mencakup klaim kebenaran yang objektif.

Tanggapan B: Ilmu pengetahuan belum mengambil alih semua bidang pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan hanya mengetahui sangat sedikit dari kenyataan yang sebenarnya, seperti seberkas cahaya dari lampu sorot, atau sinar laser hanya menerangi sebagian kecil dari kenyataan suatu ruangan.

Tanggapan C: Ilmu pengetahuan tidak menyangkal, menggantikan, atau mengurangi nilai agama dalam cara apapun.

Tanggapan D: Allah yang digambarkan di dalam Kitab Suci selalu mencengangkan kita, dalam banyak cara; mencengangkan kita karena tidak sesuai dengan perkiraan kita, tidak sesuai dengan subjektifitas kita. Sesuatu yang bersifat subjektif menurut kita tidaklah asing bagi kita, tidak mengcengangkan kita karena subjektif itu adalah sudut pandang dari kita. Tetapi Allah bukanlah sesuatu yang subjektif, begitu juga agama, karena kebenaran kenyataan itu bukan berasal dari subjektif manusia, melainkan kebenaran objektif dari Allah.

Empat Bantahan dari Fundamentalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan


(pengantar – bagian 1 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Empat bantahan dari Fundamentalis

Bantahan 1:

Sepertinya, Allah terlalu liberal.

Tanggapan: Allah tidak mungkin terlalu liberal. Allah memang maha pengasih, memberikan ruang kebebasan bagi manusia namun bagaimana pun juga Allah berkehendak, dan kehendak Allah adalah Kebenaran. Kasih Allah dan Kebenaran Allah tidaklah terbatas dan tidak mengenal kompromi.

Bantahan 2:

Dengan mengatakan bahwa kaum/penganut pagan dapat diselamatkan tanpa menjadi Kristen, berarti bertolak belakang dengan Kitab Suci.

Tanggapan: Penganut pagan tidak dapat diselamatkan dengan penyembahan berhala, melainkan hanya dapat diselamatkan oleh Kristus.

Jika yang dimaksud dengan”pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang menerima Kristus yang sebenarnya (Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga), Yesus Kristus yang Objektif, maka benar bahwa satu-satunya jalan agar diselamatkan adalah menjadi pengikut Yesus. Dan untuk kasus si Socrates, kita tidak mengetahui ada bukti dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Socrates itu adalah bukan pengikut (dalam arti segala jaman) Kristus.

Di lain sisi, jika yang dimaksud “pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang harus memiliki pengetahuan untuk menganut keimanan ortodoks akan Yesus, maka kita tidak harus menjadi seorang Kristen agar dapat diselamatkan, karena jika menjadi suatu keharusan maka Abraham tidak dapat diselamatkan, dan begitu juga semua generasi sebelum Yesus (Yesus yang mulai dikenal sejak dilahirkan oleh Maria) akan tidak dapat diselamatkan karena mempercayai keyakinan yang tidak ortodoks. Keyakinan yang tidak ortodoks yang bagaimana yang akan menyebabkan kita terjatuh ke Neraka? Dimana dapat dilihat batasan jelas antara keyakinan yang ortodoks dan keyakinan yang tidak ortodoks? Allah tidak mengajukan ujian teologi kepada kita agar masuk surga atau jatuh ke neraka?

Bantahan 3:

Dengan mengatakan penganut pagan dapat diselamatkan berarti mengarahkan ketidakpedulian, dan oleh karena itu sepertinya pewartaan Injil tidaklah terlalu penting karena tidak membawa perubahan.

Tanggapan: Tidak benar seperti itu. Baca kembali tentang pembahasan tiga alasan yang mendorong misi pewartaan Injil.

Bantahan 4:

Jika Allah menyelamatkan Socrates, kenapa tidak menyelamatkan orang lain juga? Apakah ada batasan bagi Allah berhenti menyelamatkan manusia? Apakah ada kondisi tertentu bagi Allah untuk menyelamatkan manusia? Tidak ada batasan yang jelas dan tegas. Tapi kalau ukurannya adalah agar diselamatkan harus menjadi Kristen, batasan itu terlihat jelas.

Jawaban: Tidak ada kondisi, syarat, atau batasan bagi Allah untuk berhenti untuk menyelamatkan Manusia. Allah mau menyelamatkan semua orang, walaupun tidak semua orang mau diselamatkan. Batasan objektif dapat dilihat jelas antara orang yang “mau” dan “tidak mau” diselamatkan yaitu menerima Kristus (Yesus Kristus yang Objektif: Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga). Sedangkan batasan subjektif (berdasarkan penilai manusia) tidak dapat dilihat dengan jelas dengan mengukur seberapa eksplisitnya, seberapa lengkapnya imannya seseorang agar dapat diselamatkan. Dan bagi kita manusia batasan itu tidak menjadi keharusan menjadi jelas untuk kita. Hanya Allah yang dapat menilai hati seseorang.

Lalu siapa yang diselamatkan?


Kita telah berargumen menjawab pertanyaan “Siapa yang menyelamatkan?”, dan jawabannya adalah hanya Kristus sang Penyelamat. Kita juga telah berargumen bahwa jawaban “hanya Kristus sang Penyelamat” bukanlah menjadi keharusan menyimpulkan bahwa orang lain (atau pun penganut pagan seperti Socrates) tidak dapat diselamatkan. Kemudian sekarang muncul pertanyaan: Apakah Socrates diselamatkan? dan jika benar dia diselamatkan, pengecualian bagaimana yang berlaku untuk dia? Berapa banyak yang diselamatkan?

Jawaban pastinya adalah kita sebenarnya tidak tahu. Kita tidak menghakimi apa yang kita tidak bisa nilai.

Tetapi bukankah Yesus mengatakan bahwa hanya sedikit yang dapat diselamatkan dan jalan yang menuju ke kehidupan kekal adalah sempit, sementara jalan menuju ke kebinasaan sangat terbuka lebar (Matius 7:13-14)?

Ya benar Yesus mengatakan itu, tetapi “sedikit” dan “banyak” yang dimaksudkan di sini adalah bukan persentase matematika. Yesus adalah seorang pengasih, penyayang, bukan seorang matematikawan; Ia seorang pengembala, bukan seorang statistakawan. Pengembala yang baik dapat merasakan dombanya sama halnya orang tua yang baik dapat merasakan anak-anaknya: bahkan kehilangan satu pun adalah terlalu “banyak”, dan bahkan 99 yang terselamatkan dari 100 adalah terlalu “sedikit”. Ketika seorang murid bertanya kepada Yesus tentang perbandingan jumlah statistik yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka (“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”), jawab Yesus bukan “ya” atau “tidak”, tetapi “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk 13:23-24). Dengan kata lain, “Pikirkan urusanmu sendiri!” Yesus tidak menanggapi atau membenarkan atau menolak pertanyaan itu tapi menekankan bahwa yang dimaksud adalah kita perlu berusaha walaupun sulit untuk masuk ke surga. Yesus tidak mau muridnya mengolah pertanyaan itu untuk mengira-ngira atau mengukur orang lain, karena selain tidak berguna juga berbahaya. Sama halnya mengenai kapan tepatnya hari kiamat terjadi – merupakan salah satu subjek lain yang dengan Kebijaksanaan Allah tidak memberitahukan kepada kita tentang itu (Matius 24:36).

Sehingga dengan demikian kita tidak akan tahu. Tapi kita dapat berusaha, dapat berkerja. Kristus tidak menjawab pertanyaan teori dari kita, tetapi Dia memberikan kita tugas praktek. Tugas yang mengutus kita untuk: mewartakan Injil ke segala makhluk. Apologetik seperti yang saya tulis ini juga merupakan bagian dari tugas saya, tugas kita, menjernihkan jebakan-jebakan intelektual yang menghalangi arah kita untuk beriman.

Cara yang paling efektif untuk mengimplementasikan (melaksanakan) perutusan kita adalah melalui kesucian, kemurnian. Kesucian, kemurnian membuktikan kenyataan dari Injil. “Setiap orang menyukai seorang yang penuh cinta kasih.” Yesus memenangkan banyak jiwa dengan cinta kasih-Nya, bukan dengan “teologi”. Jadi kita harus berkarya dengan kemurnian cinta kasih.

Dan para murid Yesus menuliskan buku-buku, menuliskan kitab-kitab (Kitab Perjanjian Baru) yang memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan siapa yang menyelamatkan secara umum tetapi tidak memberikan jawaban yang jelas bagi pertanyaan yang tertentu.

Jawaban pertanyaan “Siapakah yang diselamatkan?” adalah jelas: “Dia yang haus” (Wahyu 22:17). Pintu surga selalu terbuka (Wahyu 21:25; 3:7-8; 4:1), dan pintu neraka terkunci dari dalam. Itu karena jika Allah adalah kasih yang murni, maka Keselamatan adalah murni pemberian. Jika Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, pemberian gratis, maka semua akan menerimanya kecuali mereka yang menolak pemberian itu. Allah tidak menolak siapapun orangnya, tetapi ada orang yang menolak Allah.

(sekian).

Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?


Pertanyaan judul di atas merupakan pertanyaan selanjutnya menanggapi pemahaman maksud dari Keselamatan yang sudah dibahas sebelumnya. Maka pertanyaan ini diajukan untuk mencoba menggugat pemahaman yang telah terbentuk, yaitu: Siapakah yang Menyelamatkan? (atau setara dengan pertanyaan ‘Siapa Penyelamat?’) Apakah hanya Yesus yang menyelamatkan? Jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’ bahwa Yesus-lah yang menyelamatkan, atas pertanyaan itu kedua jawaban tersebut sepertinya menjadi dilema (serba kurang tepat).

Jika kita menjawab ‘Ya, hanya Yesus-lah Sang Penyelamat’ maka keberatan akan muncul: Berarti semua orang yang non-kristen akan masuk neraka, bahkan seorang pagan yang baik seperti Socrates. Apakah ada kesalahan Socrates (contoh dari kelompok orang baik pagan) yang tidak hidup pada waktu yang tepat sehingga tidak bertemu Yesus atau tidak mendapat pewartaan tentang Yesus? tidak ada kesalahan pada Socrates yang pada masa hidupnya tidak bertemu Yesus atau mendapatkan pewartaan tentang Yesus. Maka akan muncul pendapat bahwa Allah itu sangat tidak adil dan tidak mengasihi bagi kelompok non-Kristen ini, sehingga sebagian besar akan masuk neraka.

Tetapi jika kita memberikan jawaban lain yaitu bahwa orang-orang non-Kristen yang baik seperti Socrates akan diselamatkan juga, lalu akan muncul lagi pertanyaan baru: lalu mengapa perlu menjadi Kristen? Karena jika si Socrates sudah cukup melakukan perbuatan baik agar dapat diselamatkan dan masuk ke Surga, mengapa harus menambah sempit klaim bahwa hanya Yesus-lah jalan Keselamatan?

Dengan kata lain jika si Scorates benar tidak diselamatkan, maka Allah bukanlah seperti yang diyakini bahwa Allah maha pengasih dan adil. Di lain sisi jika si Scorates benar diselamatkan, maka Yesus bukanlah satu-satunya jalan Keselamatan.

Untuk membahas lebih lanjut maka perlu dibahas kembali apa yang dimaksud sebenarnya Penyelamatan secara objektif berdasarkan data (Kitab Suci); dan menakar subjektifitas atau seberapa jauh pemahaman yang berkembang dari sisi orang kristen dan non-kristen.


Objektif Keselamatan dibandingkan dengan Sukjektif Pemahaman akan Keselamatan

Dilema jawaban di atas bukan hanya rumit, teknikal, masalah teologi, dan bukan juga mengenai Socrates. Ini merupakan hal penting bagi semua pertanyaan dan semua orang. Untuk menjawab ini, kita perlu membuat pemisahaan yang krusial (sangat teliti) antara dimensi objektif dan dimensi subjektif dari pertanyaan tersebut. Kitab Suci Perjanjian Baru memberikan kejelasan, yang pasti dan tidak dapat dikompromikan, memberikan jawaban yang sangat spesifik (khusus) bagi pertanyaan yang objektif, tetapi tidak kepada pertanyaan yang subjektif.

Secara objektif, Kitab Suci Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12). Yesus sendiri menegaskan: “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’” (Yohanes 14:6). Orang Kristen percaya Yesus adalah sang Penyelamat dan satu-satunya karena Yesus yang mengatakan demikian. Jika hal tersebut tidak benar maka, Ia bukan Penyelamat, tapi semua adalah kebohongan, penghujatan dan penipuan yang sangat egois.

Secara subjektf (menurut pandangan dari kita masing-masing), apakah benar kita perlu diselamatkan? Kitab Suci Perjanjian Baru menyatakan kita memerlukan iman dalam Dia (Yesus) agar dapat diselamatkan, tetapi apa yang dimaksud dari pernyataan itu? Jenis iman yang bagaimana yang dimaksud? Yang pasti; tidak ada Yesus lain yang dimaksud, hanya satu Yesus, tapi banyak keyakinan iman yang berbeda-beda. Batasan pembeda antara Yesus dan orang lainnya jelas digambarkan, dapat diketahui dengan jelas perbedaan Allah-manusia dan manusia fana. Namun perbedaan antara Kepastian iman yang dimiliki oleh Petrus dan Ketidakpastian iman yang dimiliki Socrates tidak dapat dilihat dengan jelas.

Apakah itu berarti ada kemungkinan si Socrates sebenarnya memiliki iman dalam Kristus? Bukankah untuk beriman dalam Kristus harus diawali dengan pengenalan akan Kristus? Bagaimana mungkin si Socrates pernah mengenal Kristus? Ada jawaban yang berlaku untuk kasus Socrates dan juga untuk semua orang, yaitu seperti yang tertulis di Kitab Suci Perjanjian Baru: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:8). Yang maksudnya adalah Yesus sudah hadir sebelumnya, sebelum inkarnasi sabda menjadi daging; menjadi Allah-manusia yang dikenal bernama Yesus Kristus; Yesus Kristus sebelumnya adalah Logos (dari bahasa Yunani yang berarti sabda) Allah, Kata Ilahi (Firman), Terang, atau Sumber Kebenaran.

Tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali melalui Kristus (Yohanes 1:18; Lukas 10:22). Tetapi kaum pagan telah mengenal Allah (Kisah Para Rasul 17:28; Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 1:19-20; 2:11-16). Dengan demikian dapat diketahui bahwa pagan mengenal Kristus, yang dikenal sebelum kelahiran bayi Yesus, yang dikenal sebagai Terang, sebagai Firman, sebagai Alasan Kebenaran; yang pada masa pagan yang diceritakan di Kisah Para Rasul, dan Surat Paulus, mereka kelompok pagan belum mengetahui ‘nama’, atau ‘Logos’, atau ‘gambaran’ (wujud) Allah inkaranasi sebagai manusia yaitu Yesus.

Kristus bukanlah hanya seorang Yahudi yang berumur 33 tahun dan dikenal sebagai tukang kayu. Dia adalah yang Kedua dari Tritunggal Maha Agung, secara penuh, melalui wahyu, atau gambaran, dari sang Bapa (Kolose 1:15, 19; Yohanes 14:9). Hubungan dia dengan Allah seumpama sinar matahari dengan sang matahari. Dia bagaikan “cahaya yang menerangi setiap manusia” melalui akal budi dan suara hati. Oleh karena itulah doktrin dari Keilahian Kristus – diklasifikasikan  sebagai “konservatif” atau “tradisional” oleh kelompok liberal – sebab doktrin inilah yang mendasar harapan yang dimiliki oleh kelompok liberal bahwa penganut pagan juga mungkin dapat diselamatkan.

Jadi secara objektif, benarlah hanya Kristus yang dapat menyelamatkan penganut pagan juga. Tetapi secara subjektif, jenis keyakinan bagaimana yang mungkin menyelamatkan penganut pagan, atau penganut agama Hindu, atau penganut agnostik? Apakah seperti jenis keyakinan berikut?

  1. Keyakinan yang tidakjelas, samar, yang digeneralisasikan dengan kejujuran dan ketulusan?
  2. Keyakinan yang berkomitmen sepenuhnya terhadap Kebenaran, Kebenaran yang bukan sesuatu dapat ditemukan di beberapa hal, tetapi Kebenaran yang absolut, yang secara implisitnya merupakan sifat dari Allah?
  3. Keyakinan yang mencari bukan hanya Kebenaran tetapi juga Kebajikan, moral yang benar, secara garis besar keyakinan ini merupakan pilihan mendasar untuk kebaikan daripada kejahatan?
  4. Keyakinan atas kasih dari Kebaikan, yang bukan sesuatu berasal dari pihak lain, melainkan hanya sepenuhnya merupakan sifat dari Allah?
  5. Keyakinan akan pertobatan akan dosa, walaupun tidak ada kejelasan konsep Tuhan yang ditujukan oleh penganut pagan dengan melakukan penyesalan?
  6. Keyakinan dalam Tuhan, Allah dari ilham, Allah dari terang budi, sang Intelektual yang merancang alam dan sumber Kesucian suara hati?
  7. Keyakinan yang penuh dengan kehati-hatian, ketelitian, dimana kebebasan dan suara hati dipergunakan secara teliti menanggapi kasih Ilahi, akan tetapi samar-samar dimengerti oleh penganutnya?

Semua poin-poin tersebut diperlihatkan juga oleh Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru sebagai hal yang diperlukan juga.

Tetapi pengetahuan eksplisit (pengetahuan yang benar-benar mutlak menuntut kejelasan) akan Inkarnasi Yesus bukan suatu keharusan syarat untuk keselamatan. Contohnya adalah Abraham, Musa, dan Elia yang tidak memiliki pengetahuan eksplisit akan Yesus Kristus, dan mereka juga telah diselamatkan. (Kita dapat mengetahui itu dengan membaca Matius 17:3 dan Lukas 16:22-23.) Orang yang sama – Yang Kedua dari Tritunggal Maha Kudus – keduanya adalah Logos yang dikenal pada masa prainkarnasi (sebelum inkarnasi sabda menjadi daging), yang “menerangi setiap manusia”, dan berinkarnasi sebagai Yesus, yang telah dilihat oleh beberapa orang. Mereka mengenali salah satu dari kedua itu (Yesus; prainkarnasi dan setelah inkarnasi) mengenali yang satunya lagi, karena keduanya adalah orang yang sama.

Jika kita bertanya kepada Abraham, “Apakah kamu percaya dalam Yesus, Dia sebagai Penyelamatmu?” Abraham tidak dapat menjawab ‘ya’. Jawaban ‘ya’ dari Abraham hanya bersifat implisit dalam sebatas pengetahuan yang dipunya oleh Abraham, tetapi ‘ya’ dari Abraham adalah jawaban bahwa dia pernah benar-benar secara nyata bertatap muka dengan Yesus yang nyata. Dan karena Abraham menjawab ‘ya’ kepada Kristus dan demikian dia diselamatkan. Oleh karena itu ketidakmampuan Abraham menjawab ‘ya’ secara eksplisit terhadap pertanyaan tersebut bukan berarti otomatis kita tidak diselamatkan. Begitu juga bagi Socrates, dia tidak otomatis tidak diselamatkan. Apapun dan bagaimana Socrates memiliki hubungan kontak dengan Kristus selaku Logos adalah tetap masih pertanyaan yang belum terjawab. Secara abstrak, usaha pencapaian intelektual dari kebenaran tidaklah cukup untuk menyelamatkan kita. Namun kesalahan intelektual cukup untuk membuat kita gagal untuk mempersiapkan agar kita diselamatkan.

Allah tidak memberikan kita ujian akhir teologi layaknya ujian akhir sekolah ketika kita meninggal sebagai syarat untuk masuk ke surga. Jika Allah melakukan itu, kita semua akan gagal pada ujian itu. Dan kemudian akan muncul permasalahan kewenangan penentuan batas poin lulus atau gagal. Lalu apa yang menjadikan iman dari seorang seperti Socrates dapat membuat dia diselamatkan? Apa makna dari bagi Socrates untuk mengimani Kristus yang dia kenal sebagai Logos? Apa yang dapat dia lakukan agar diselamatkan?

Untuk itu kita perlu kembali mengkonsultasikan kembali data yang kita punya, yaitu Kitab Suci. Terdapat tiga jawaban dalam Kitab Suci: Kita harus mencari Allah, menyesali dosa kita, dan mengimani Allah. Lalu dari data itu dapat kita mengenali beberapa parameter dari tiga syarat yang sifat universal untuk Keselamatan.

1. Mencari Kebenaran sebagai Keilahian Mutlak dapat dengan mencari Allah karena Allah adalah Kebenaran.

Kebenaran adalah bagian dari Allah, seumpama Matahari terdiri dari sinar dan energi. Kebenaran ini lebih dari kebenaran mental biasa. Pencarian Kebenaran dimotivasi oleh keinginan, kehendak. Pencarian Kebenaran merupakan kebebasan kehendak dari keinginan, dari hati – cinta akan Kebenaran – itulah yang membuat orang mulai mencari Kebenaran. Dan pencarian sudah merupakan suatu jenis Iman. Pencarian adalah iman yang diarahkan untuk masa depan; yaitu dikenal sebenarnya sebagai Harapan. Harapan adalah suatu “nilai plus dari teologi”, sesuatu yang menghubungkan kita dengan Allah. Kita telah dijanjikan bahwa semua yang mencari (Allah), akan menemukan (Allah) (lihat Matius 7:7-8);

Dalam mencari Allah menunjukkan bahwa kasih ilahi telah hadir dalam jiwa setiap orang yang mencari. Santo Augustin menggambarkan bahwa Allah berkata kepadanya, “Ambil hati, anakku. Kamu tidak akan mencari saya sebelum Saya menemukan kamu terlebih dahulu.” Dan sebuah semboyan tua dalam bahasa Inggris pernah berbunyi: “I sought the Lord, and afterward I knew / He moved my soul to seek him, seeking me. / It was not I that found, O Savior true; / No, I was found Thee.”

Pascal pernah berkata bahwa ada tiga tipe orang di dunia: (1) mereka yang mencari Allah dan menemukan-Nya, (2) mereka yang mencari Allah tetapi belum menemukan-Nya, (3) mereka yang tidak mencari Allah dan tidak menemukannya. Pascal menyebut tipe yang pertama sebagai “menggunakan-akal (bijaksana) dan bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan bahagia karena menemukan apa yang mereka cari. Pascal menyebut tipe yang kedua sebagai “menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan tidak-bahagia karena mereka belum menemukan. dan Pascal menyebut tipe yang ke tiga sebagai “tidak-menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – tidak-menggunkan-akal karena mereka tidak mencari, dan tidak-bahagia karena mereka tidak menemukan.

Perbedaan yang terbesar adalah bukan antara mereka yang telah menemukan dan mereka yang belum menemukan. Perbedaan yang telah dan belum menemukan merupakan perbedaan yang sementara, karena semua yang tergolong tipe kedua akan naik menjadi tipe pertama; karena semua yang mencari akan menemukan. Dan yang menjadi perbedaan terbesarnya terletak antara mereka yang mencari dan yang tidak mencari, karena perbedaan itu merupakan perbedaan yang selamanya. Tidak ada tipe yang ke empat, dimana orang yang tidak mencari, tidak selamanya tidak menemukan.

2. Mengenai Penyesalan dosa, dalam Kitab Yesaya tertulis:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya”

Sehingga dapat kita ketahui bahwa pencarian harus disertai dengan penyesalan. Semua dapat menyesali, bagi semua orang yang mengenal hukum moral (Roma 1-2) dan demikian juga dosa milik mereka. Pada dasarnya pencarian kebenaran dan bahkan kebaikan saja tidak cukup, karena mungkin saja pencarian itu dimotivasi, didorong oleh rasa harga diri (kehormatan diri sendiri) dan pembenaran diri sendiri (mencari agar melihat diri sendiri sudah benar), agar menjadi baik sesuai dengan ukuran nilai baik oleh dirinya sendiri, bukan dimotivasi oleh kehormatan Allah, kebenaran menurut Allah, dan Nilai baik menurut Allah. Dan untuk menggarisbawahi mengenai penyesalan dosa, ada satu pertanyaan penting: Apakah saya (kita) akan menyerah (menyerahkan semua keinginan, kehormatan, kebenaran, kebaikan) kepada Allah, jika saya (kita) bertemu dengan Allah?

3. Iman, yaitu; mempercayai dan menerima Allah, kasih Allah dan hidup Allah.

Iman merupakan hal yang ketiga yang diperlukan agar diselamatkan, tetapi bagaimana kita dapat mempercayai dan menerima Allah jika kita tidak mengenal Dia? Kita tidak bisa melakukan itu. Tetapi kita semua mengenal dia (Roma 1). Bagaimana kita bisa mengenal dia tanpa Kristus? Kita tidak bisa. Karena kita semua tahu bahwa Kristus lah Sang Terang, Firman, Logos (Yohanes 1:9).

Lalu harus seberapa banyak pengetahuan kita akan Allah agar dapat memiliki iman dan dapat diselamatkan? Jumlah atau besaran tidak menentukan, layaknya seperti fakta statistik. Namun, kita tahu  (Roma 1-2) bahwa kita semua mempunyai pengetahuan yang cukup akan Allah yang untuk membuat kita bertanggung jawab di hadapan Allah.

Pertanyaan mengenai pengetahuan akan Allah yang bagaimana yang memadai agar dapat memilih untuk mempercayai atau tidak dapat dijawab dengan memperhatikan perbedaan antara pemahaman kata ‘mengetahui’ dan ‘mengenal’. ‘Mengetahui’ berhubungan fakta, yang berkisar pengenalan secara objektif fakta-fakta yang dapat terukur. Sedangkan ‘Mengenali’ lebih bersifat subjektif. Seberapa banyak pun fakta yang kita ketahui (‘mengetahui’) tidak berpengaruh dengan pengenalan kita terhadap seseorang. Semua orang mengenal Allah, walaupun mereka tidak tahu banyak mengenai Allah (lihat Roma 1 dan Kisah Para Rasul 17).

Dengan demikian untuk meringkaskan kesimpulan: Socrates (atau penganut pagan manapun) dapat mencari Allah, dapat menyesali dosanya, dan tersirat bahwa ada kepercayaan dan penerimaan akan kehadiran Allah walaupun hanya sebagian dan agak kabur, dan karena itu dia dapat diselamatkan- atau sebaliknya dia akan binasa apabila dia menolak untuk mencari, menyesali dosa, dan mempercayai. Terdapat terang dan kesempatan yang mencukupi, pengetahuan dan kebebasan kehendak yang mencukupi, yang menjadikan setiap manusia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah. Allah mengadili manusia berdasarkan pengetahuan setiap manusia, bukan berdasarkan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh manusia itu.


<a href="

Keberatan terhadap “Keselamatan bagi penganut Pagan”

Kelompok konservatif sering keberatan atas penempatan pemahaman “Keselamatan bagi penganut Pagan”, dimana dalam pemahaman tersebut ada kemungkinan bagi penganut Pagan untuk diselamatkan, dan oleh karena pemahaman ini mengurangi motivasi usaha misi, misi pewartaan Injil. Karena pemahaman ini, muncul beberapa pertanyaan keberatan dari pihak konservatif: Kalau demikian mengapa kami harus menghabiskan hidup, mempertaruhkan hidup, untuk mewartaan Yesus Kristus kepada dunia jika mereka (orang yang belum mengenal Yesus) dapat diselamatkan tanpa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Yesus? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus dan penting. Kita perlu menanggapi pertanyaan ini dengan jawaban yang memuaskan dan jelas.

Terdapat tiga alasan yang mungkin mendorong misi pewartaan dilangsungkan; misi mengkabarkan kepada orang lain tentang Injil, kabar baik dari Yesus Kristus. (dan perlu kita ingat bahwa setiap umat kristen diutus untuk menjadi pewartaan (Matius 28:18-20), dan bukan hanya tugas para biarawan, bukan hanya tugas orang yang berlabel “pendeta” atau “pastor”.) Tiga alasan tersebut adalah:

  1. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok fundamentalis: Kami mengetahui bahwa dunia akan jatuh ke neraka, kecuali jika orang-orang menerima Kristus sebagai Penyelamatnya.
  2. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok moderen: “Kami hanya ingin mengasihi sesama (orang lain) dan membagikan apa yang kami punya kepada mereka (orang lain), melaksanakan tugas sosial yang sangat besar.” Kami tidak percaya akan adanya neraka, dan seandainya pun neraka itu ada, kami tidak percaya bahwa semua orang akan jatuh ke sana, dan apabila sekalipun benar ada yang jatuh ke neraka kami perkirakan hanya orang-orang tertentu seperti Hitler atau Stalin. Kami tidak mengurusi Keselamatan.
  3. Alasan yang sudah sering digunakan sejak Gereja Perdana (tradisi): “Kami tidak tahu dengan pasti siapa yang akan jatuh ke neraka; oleh karena itu kami mengkhawatirkan semua orang perlu diselamatkan.” Layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya yang bermain di dahan-dahan pohon, meneriaki mereka untuk segera turun dari pohon agar tidak celaka terjatuh. Bagi ibu tersebut yang terpenting bukanlah bagaimana anak-anak itu pandai memanjat atau dahan pohon yang kuat sehingga mereka tidak jatuh celaka; melainkan yang terpenting adalah bahwa biasanya kalau anak-anak itu jatuh, mereka celaka. Kelompok ini (kelompok tradisional/gereja perdana/tradisi) tahu bahwa semua orang dapat jatuh ke dalam neraka, karena Yesus yang mengatakannya. Jadi kelompok ini bukanlah kelompok moderen. Bagi kelompok ini tidak dapat diketahui dengan pasti siapa saja yang mungkin akan jatuh ke neraka, karena Yesus tidak mengatakan kepada kita. Oleh karena itu kelompok gencar menyerukan pewartaan agar semua orang mengenal Yesus agar diselamatkan, berusaha sebisa mungkin mencegah orang jatuh ke dalam neraka, menjauhkan orang dari jurang neraka, memelihara hidup setiap orang di dunia sama giatnya dan intensif seperti kelompok fundamentalis.

Tiga alasan di atas secara tidak langsung juga selaras dengan pandangan terhadap tindakan Aborsi (pengguguran kandungan).  Ada tiga kemungkinan etika di masyarakat dunia terhadap tindakan aborsi, yang selaras dengan tiga alasan yang telah dijelaskan di atas mengenai misi pewartaan keselamatan. Tiga kemungkinan etika yang sudah dikenal luas di masyarakat dunia:

  1. Etika yang mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia, dan oleh karena tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  2. Etika yang mengklaim bahwa tidak benar bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi maka tidak benar juga tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  3. Etika yang tidak mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia.

Dari ketiga etika di atas, yang paling sering diterima oleh kelompok skeptis (yang tidak ingin mengklaim) adalah etika yang ke tiga. Etika ketiga ini banyak diterima oleh kelompok orang mendukung kebebasan pilihan dari setiap orang, dan bagi etika ketiga ini juga menarik bagi kelompok orang yang mendukung mempertahankan-hidup (kandungan). Karena bagi kedua kelompok ini jika kita tidak mengetahui dengan pasti bahwa bayi yang belum lahir adalah bukan digolongkan manusia dan tidak mempunyai jiwa; maka berdasarkan alasan itu tindakan aborsi adalah dinilai sangat buruk dan tidak bertanggung jawab karena mempertaruhkan kemungkinan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan! Tindakan itu sama halnya seperti kita melempar batu bata dari gedung yang tinggi ke arah suatu pemukiman dengan mengharapkan bahwa batu itu tidak mengenai dan melukai orang yang mungkin ada atau tidak ada di bawah gedung.

Ketidakpedulian dan Kekhawatiran dapat mempengaruhi alasan kita atas suatu tindakan yang kita perbuat, sama halnya dengan Pengetahuan dan Kepastian juga dapat mempengaruhi alasan kita. Contohnya; Jika saya mengira bahwa anak saya yang sedang sakit mungkin (karena pengetahuan saya akan kemungkinan akibat penyakit tersebut) akan meninggal, saya akan dengan secepatnya mencari dokter; begitu juga sama cepatnya saya akan mencari dokter  jika saya mengetahui pasti (karena saya menyaksikan anak saya sedang sekarat). Dengan demikian, kelompok orang skeptis liberal yang berpikiran terbuka dan kelompok orang yang sepenuhnya membaktikan diri sebagai fundamentalis sangat bersesuaian.

Masih ada hal lain yang perlu diketahui mengenai motivasi misi pewartaan Injil, hal yang lebih penting dari perhitungan dan kemungkinan-kemungkinan yang telah dibahas di atas. Motivasi kita mewartakan Injil bukan hanya untuk menambah jumlah populasi penghuni Surga, dan mengurangi populasi penghuni Neraka; tetapi juga untuk mengundang orang lain untuk ikut hidup dalam rohani yang lebih mendalam: memahami hubungan khusus dan cinta dari Kristus yang membawa ke pendalaman iman, harapan, cinta kasih, kebahagiaan, dan kedamaian. Tanpa pengetahuan eksplisit (pewartaan) akan Kristus, hal pendalaman kehidupan rohani mungkin tidak akan tercapai. Dan tanpa pewartaan, walaupun masih ada kemungkinan keselamatan bagi orang lain yang tidak mengenal Kristus, tetapi jaminan bahwa keselamatan dapat terdengar oleh orang lain tidak mungkin tercapai tanpa pewartaan.

(sekian)

Bagaimana kita diselamatkan?


Setelah kita melihat dengan jelas bahwa Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma oleh Allah  agar kita terima dengan keyakinan, bukan dengan sesuatu yang kita usahakan dengan perbuatan baik dan berharap bahwa imbalan yang didapat adalah Keselamatan; maka secara wajar muncullah empat pendapat yang keberatan dengan pemahaman tersebut dan biasanya diajukan oleh kelompok orang yang tidak percaya.


Keberatan 1:

Keselamatan kelihatannya seperti kesewenangan. ” Jika kamu percaya, kamu akan diselamatkan; tetapi jika kamu tidak percaya, kamu akan binasa.” Baris tersebut jelas dan diambil dari Kitab suci. Tetapi hal itu kesannya sewenang-wenang seperti seorang bapak yang berkata kepada anaknya: “Jika kamu percaya bahwa saya berumur 3.000 tahun, memiliki darah berwarna hijau, dan datang dari Mars, maka saya akan memberikan sepuluh mobil mewah.” Dari contoh itu kelihatan bahwa tidak ada lagi makna, alasan atau hubungan antara mempercayai kebenaran mengenai Yesus dengan memperoleh upah Kebahagiaan Kekal dibandingkan dengan mempercayai hal yang serupa mengenai ‘bapak’ dan mendapatkan sepuluh mobil tadi.

Jawaban: Argumen keberatan di atas gagal mengenali dua istilah penting dari formulasi “iman -> keselamatan”. Iman bukan hanya kepercayaan intelektual, dan Keselamatan bukan hanya upah yang akan diterima. Iman adalah membiarkan Allah masuk ke jiwa kita; dan Keselamatan, atau Kehidupan Kekal adalah memiliki Allah di dalam jiwa kita.

Itulah sebabnya mengapa Keselamatan bukan mengenai ukuran: kecukupan karya, kecukupan ketulusan, kecukupan kekonservatifan. Tidak ada takaran dengan suatu kesewenangan, seperti sistem penilaian ujian di sekolah. Keselamatan itu seperti pengalaman seorang ibu sedang mengandung; seorang ibu tidak bisa mengandung setengah-setengah. Yang ada hanya kita mengalami hidup baru atau tidak. Hanya satu hal yang dapat memungkinkan kita tidak menerima berkat Kehidupan Kekal ini adalah: penolakan kita. Iman bukan hanya saja percaya kepada Allah tetapi juga menerima Allah (Yoh 1:12). Iman bukan seperti menyetujui suatu perjanjian atau lulus dari suatu ujian, tetapi lebih mirip seperti sedang mengandung.


Keberatan 2:

Sepertinya tidak adil bahwa upah kekal dan hukuman kekal ditentukan berdasarkan pilihan-pilihan sementara (duniawi). Bagaimana bisa sesuatu sebab yang keberlangsungannya hanya sementara dapat mengakibatkan efek yang harus ditanggung untuk selamanya?

Jawaban A: Sama halnya seperti membuka sebuah keran dapat mengalirkan air, atau membuat sebuah retakan pada bendungan dapat menyebabkan banjir, atau membuka jendela menyebabkan udara segar masuk ke ruangan. Iman adalah hanya membiarkan Allah untuk masuk ke jiwa manusia, dimana Allah sebenarnya sudah hadir “di luar” jiwa (karena manusia belum beriman, manusia belum menerima Allah).

Jawaban B: Kita dapat menggunakan dua metafora untuk Keselamatan (selama kita memahami dan mengingat bahwa itu metafora): kita dapat berbicara mengenai “masuk ke” surga atau “memasuki” surga, atau juga kita dapat berbicara mengenai Surga (atau hidup kekal, atau kehidupan Allah) yang dapat dipahami serupa halnya seperti “memasuki” jiwa kita. Kitab Perjanjian Baru menggunakan dua pernyataan: kita ada “di dalam” Kristus dan Kristus ada “di dalam” kita. Tidak jarang pernyataan kedua (Kristus ada “di dalam” kita) adalah cara untuk menjelaskan pernyatan pertama (kita ada “di dalam” kita). Dan mungkin cara ini juga dapat membantu untuk menjelaskan dalam jawaban ini. Keselamatan bukan seperti memasuki suatu arena/ruangan dengan membeli sebuah tiket jika kita mempunyai uang yang cukup (= keadilan); Keselamatan lebih dipahami seperti kita mengijinkan (membiarkan) seorang tamu untuk masuk ke rumah dengan mempercayai dia orang baik-baik (= iman) dengan membukakan pintu.

Jawaban C: Keselamatan itu seperti pernikahan. Pernikahan adalah komitmen permanen, dengan tidak adanya suatu perjanjian sebelumnya yang menentukan kapan berakhirnya atau lamanya suatu pernikahan. Dimana Pernikahan itu dapat terjadi karena suatu pilihan yang dalam rentang waktu tertentu namun menjadikan komitmen untuk selamanya. Begitu juga halnya persatuan kita dengan Allah, kita menerima kehadiran Allah di hati dan jiwa kita juga berdasarkan pilihan untuk suatu Kebahagiaan Kekal, atau sebaliknya.

Jawaban D: Dengan waktu hidup kita yang terbatas, Allah yang kita terima dengan iman atau menolaknya dengan dosa adalah Allah yang abadi, yang tidak terbatas. Penerimaan kita akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas, akan mengarahkan kita ke kekayaan yang tidak terbatas (bukan kekayaan materi, tetapi kekayaan rohani). Sedangkan penolakan akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas akan mengakibatkan kerugian yang tidak terbatas.


Keberatan 3:

Mengapa Allah menuntut kita harus beriman dalam Yesus agar dapat diselamatkan? Hampir semua orang merasa bahwa cukup hanya dengan ketulusan agar dapat diselamatkan oleh Allah, tidak harus beriman dalam Yesus. Karena sangat tidak toleran bagi si A ‘orang yang tidak percaya akan Allah tapi memiliki ketulusan berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di neraka; sedangkan si B ‘orang yang percaya akan Allah tapi kurang tulus berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di surga. Apa yang Allah harapkan dari manusia selain ketulusan hati manusia itu? Seandainya dilihat dari sisi manusia, itulah yang diharapkan. Nah kenapa Allah mempunyai moralitas, keinginan, tuntutan yang berbeda jika dibandingkan dengan kita.

Jawaban: Tidak ada bidang kehidupan selain dari bidang keagamaan yang dapat menerima bahwa cukup hanya dengan ketulusan dari manusia. Ketulusan mungkin dibutuhkan, tetapi itu tidak mencukupi. Sebagai contoh: Bagi anda cukupkah dengan hanya bermodalkan ketulusan dari seorang dokter bedah akan menjadmin anda dapat sembuh/selamat? atau cukupkah dengan hanya ketulusan dari seorang agen perjalanan anda yakin dapat sampai ditempat tujuan dengan selamat? Apakah cukup dengan hanya ketulusan kita dapat sembuh dari penyakit kanker, kebangkrutan, kecelakaan, atau kematian? dan kiranya jawaban yang sewajarnya adalah Tidak. Dengan demikian mengapa kita dapat mengira bahwa cukup hanya dengan ketulusan dapat menyelamatkan kita dari neraka.

Pendapat keberatan ini bermula dari suatu perubahan pola pikir yang terjadi pada akhir abad ke 1900+. Hampir semua kepercayaan kuno (bukan hanya Kristen) bahwa agama merupakan kebenaran objektif (kebenaran atas suatu kepercayaan), sama halnya kebenaran objektif pada bidang medis atau ekonomi atau geografi. Kebenaran Objektif yang merupakan kebenaran atas suatu objek atas keberadaan objek tersebut. Namun pada perubahan pola pikir yang pada masa akhir abad 1900+ tersebut yaitu pada kelompok moderen tidak melihat bahwa agama merupakan kebenaran objektif, melainkan sebaliknya dan  jauh berbeda dengan kelompok sebelumnya.

Berikut adalah tipe dari kelompok yang memiliki 4 (empat) cara radikal yang berbeda jauh daripada kelompok sebelum moderen.

  1. Kelompok moderen melihat agama bersifat subjektif daripada subjektif, melihat lebih ke arah bahwa  agama merupakan sesuatu yang ada di dalam kita dan dibawah kesadaran kita; daripada melihat ke arah bahwa agama merupakan sesuatu yang menaungi (menjadi ruang) kita dimana keberadaan kita dan kesadaran kita berada di dalamnya. Pengajar keagamaan moderen lebih sedikit berbicara mengenai Allah, dan lebih banyak berbicara perilaku dan pengalaman kehidupan beragama.
  2. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai praktek daripada sebagai teori, hanya melihat ‘kebaikkan’ daripada ‘kebenaran’, hanya melihat sisi moral daripada teologika, hanya melihat ‘suatu cara menjalani hidup’ daripada ‘suatu peta fakta kenyataan’. Oleh karena itu bagi kelompok moderen, agama menjadi pragmatis dan relatif: ‘jika yang diajarkan agama itu berguna bagi kamu, gunakan itu’.
  3. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai hasil karya-manusia dariada hasil karya-Allah, lebih melihat agama sebagai ‘sesuatu yang kita ciptakan’ daripada ‘sesuatu yang kita temukan’, lebih melihat agama sebagai ‘jalan kita menuju kepada Allah’ daripada ‘Jalan Allah untuk menyelamatkan kita’.
  4. Kelompok moderen melihat agama sebagai pendukung keinginan manusia, bukan sebagai pengurang/pembatas keinginan manusia; lebih melihat agama sebagai pengembangan-diri (self-growth) daripada penyangkalan-diri (self-death); lebih melihat agama seperti ‘latihan’ untuk memyehatkan tubuh, bukan seperti ‘operasi/pengobatan’ untuk menyehatkan dari penyakit. Karena bagi kelompok moderen, tidak ada yang namanya penyakit (sesuatu yang buruk) di dalam diri manusia; yang disebut dosa.

Dari ke-4 (empat) cara radikal di atas, sebagian besar kelompok moderen berpendapat bahwa cukup hanya dengan ‘ketulusan’, manusia dapat selamat. Tetapi ada beberapa hal yang bertentangan dengan pendapat dari kelompok moderen ini yaitu:

  1. Ketulusan subjektif belaka dari seseorang tidak cukup bagi orang tersebut apabila berhadapan dengan sesuatu kenyataan secara objektif. Misalnya ketulusan dari seorang dokter ahli bedah tidaklah cukup untuk mengobati pasiennya, dokter tersebut harus benar-benar melakukan operasi bedah yang diperlukan agar pasien tersebut dapat sembuh. Dua hal yang kita butuhkan dalam menghadapi kenyataan secara objektif adalah: kita perlu ketulusan kehendak dalam pencarian, dan benar-benar menjalaninya, melakukan usaha menemukannya.
  2. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan juga tidak mencukupi untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan, dan seandainya jalan yang diajarkan itu tidak benar, tidak berguna juga.
  3. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan tidak dapat menemukan jalan yang telah dirintis oleh seseorang, namun dengan ketulusan itu dapat mengingatkan jalan apa yang telah ditempuh.
  4. Dan Ketulusan belaka tidak cukup untuk menghapus dosa, sama halnya ketulusan tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit kanker. Sebagai contoh: Kita memerlukan seorang dokter yang benar-benar dokter. Kita tidak dapat melakukannya sendiri. Tangan kita gemetar; bagaimana kita dapat membedah tangan kita sendiri? Atau seadainya kita terjatuh ke lumpur hidup yang menyedot kita tenggelam, tidak ada batu pijakan yang dapat membantu kita dapat menyelamatkan diri. Atau seandainya diri kita dijual sebagai budak dan kita tidak mempunyai uang untuk membayar pembebasan kita sendiri. Kita memerlukan lebih dari Ketulusan; kita memerlukan Penolong, Penyelamat. Ketulusan tetap diperlukan agar dapat selamat – karena hanya merekah yang tulus mencari akan menemukan – tetapi Ketulusan tidaklah mencukupi.

Keberatan 4:

Kelihatannya tidak adil bagi seorang penganut pagan untuk dapat Keselamatan, dia harus mengimani Yesus Kristus. Seharusnya seorang pagan yg baik seperti Socrates lebih pantas masuk Surga daripada orang kristen awam yang belum tentu baik.

Jawaban A: Bagaimana kita dapat mengetahui siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak masuk? Apakah kita Tuhan? Apakah Surga adalah hadiah yang dapat kita berikan kepada orang lain? Apakah hidup adalah suatu permainan yang peraturannya kita tentukan sendiri?

Jawaban B: Bagaimana kita tahu bahwa si Socrates tidak di dalam Surga? atau mengetahui bahwa orang kristen itu tidak di dalam Surga?

Jawaban C: Keberatan ini menolak data berdasarkan teori, menolak yang telah diketahui berdasarkan ketidaktahuan. Kita tidak tahu siapa yang pantas diselamatkan – kita tidak diberitahu mengenai ini – tetapi kita tahu bagaiman supaya diselamatkan – kita diberitahu mengenai ini, Kita juga mengatahui bahwa Allah tidak bermula. Kita mungkin tidak bisa mengenai Allah secara jelas, terang benerang, kita mengenal Allah sebatas kemampuan kita (karena kita terbatas). Kebijaksanaan Allah juga tampak samar-samar oleh kita karena kita dibatasi waktu dan melihat “melalui kacamata yang buram”. Hanya dari tempat maha tinggi dan sucilah yang dapat melihat keseluruhan dengan jelas.

(sekian)

Apa itu Keselamatan


Keselamatan adalah (1) suatu kenyataan yang  menjadi latar belakang banyak frasa di Kitab Suci yang berbeda-beda dan terkadang membingungkan, (2) salah satu dari dua kemungkinan dari suatu akhir, (3) Kebahagiaan kekal, dan (4) dapat berarti secara bersamaan “pembenaran” dan “pengudusan”.

Perbedaan Gambaran dan Istilah dalam Kitab Suci mengenai Keselamatan

Seperti yang telah ditulis pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa banyak gambaran dan frasa (ungkapan) mengenai Keselamatan, ada beberapa dalam Injil, dan ada juga yang tidak tertulis langsung ‘keselamatan’ (Yesus sering menggunakan penggambaran untuk mengajarkan tentang keselamatan, yang sering Yesus sebut sebagai ‘Kerajaan Surga’, dalam perumpamaan-Nya). Istilah-istilah (terminologi) yang digunakan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Di kalangan Teolog Protestan terkenal menggunakan istilah ‘lahir kembali’ (regeneration), sedangkan di kalangan Gereja Katolik menggunakan istilah ‘rahmat pengudusan’ (sanctifying grace), yang keduanya merupakan hal yang sama. Dan selain itu masih ada lagi istilah-istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ‘Keselamatan’. Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, sama halnya seperti memperdebatkan istilah apa yang gunakan  antara ‘jaket pelampung’ dan ‘alat pengapung’ ketika ada orang membutuhkan pertolongan karena di tengah laut.

 Dua Jalan

Satu hal yang melatarbelakangi semua istilah dan gambaran yang berbeda-beda itu adalah bahwa ada dua penghujung yang menanti pada akhir jalan hidup manusia. Kitab Mazmur 1 meringkaskan; Ada satu jalan menuju Allah dan berakhir pada kebahagiaan, dan selain itu ada jalan lain yang arahnya menjauhkan manusia dari Allah dan berakhir pada kebinasaan. Dalam dunia fisik, semua jalan tidak dapat menuju kepada satu tempat. Kita tidak dapat jalan dari Jakarta ke Jayapura dengan bergerak dari arah timur ke barat, hanya dari arah barat ke timur yang benar. Kita dapat menyimpulkan bahwa semua A adalah C dari pendasaran alasan bahwa semua A adalah B dan semua B adalah C; kita tidak dapat mendapat kesimpulan lain berdasarkan alasan tersebut. Atau dengan kata lain, kita tidak dapat mencapai tujuan keadilan dan kebenaran dengan melalui cara yang salah seperti mencuri, dan kita juga tidak dapat mencapai tujuan ketidak jujuran apabila kesetiaan dan ketaatan dari kesadaran kita.

Dunia jasmani, dunia intelektual, dan dunia moral semuanya mempunyai sasaran pencapaian yang tersusun sesuai dengan dunianya masing-masing, dengan batasan yang jelas. Sasaran tujuan pencapaian tiap dunia itu bukanlah dirancang tau dibuat oleh kita, tapi untuk dicari dan ditemukan oleh kita. Jika hidup kita sesuai dengan jalan yang benar, maka kita akan berhasil; jika tidak, kita akan gagal. Begitu juga halnya dalam keagamaan. Jika memang ada Allah yang sebenarnya (dan jika ada agama yang mengatakan bahwa tidak ada Allah yang sebenarnya, agama itu adalah suatu kebohongan dan kepalsuan), maka pastinya ada jalan yang mengarahkan kepada Allah yang sebenarnya dan ada juga jalan lain yang menjauhkan kepada Allah. Jadi gambaran yang sangat populer yang menyatakan bahwa semua jalan pada akhirnya akan bertemu pada puncak gunung adalah tidak benar. Bukan hanya ketidakbenaran yang sederhana, tapi kesalahan yang dapat menyebabkan malapetaka. Kebohongan itu mengorbankan jiwa. Ada beberapa jalan yang mengarah  ke bawah, bukannya ke atas.

Kebahagiaan Abadi

Setiap orang yang telah mempelajari secara luas dan dalam mengenai tingkah laku manusia, mulai dari Aristoteles hingga Freud, memberikan catatan tersendiri bahwa kita bertindak untuk tujuan akhir yang ingin dicapai; dan juga itulah satu-satunya akhir dan tujuan yang selalu memotivasi semua orang. Jadi alasan kenapa Keselamatan itu penting karena Keselamatan sama dengan kebahagiaan, kebahagiaan kekal.

Kebahagiaan yang dibahas disini bukan dalam arti dangkal, subjektifitas, dan realitifitas pada pengertian moderen, yang terkesan kebahagiaan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan, tetapi yang dimaksud Kebahagiaan tersebut adalah dalam arti jaman dahulu akan pengertian “Terberkati”: nyata, keberhasilan pada akhir perjalanan, kesempurnaan manusia, kesuksesan yang sebenarnya, kesehatan jiwa. Terberkati adalah kepuasaan yang sebenarnya dari keinginan yang benar, bukan hanya sekedar kepuasaan atas perpenuhinya suatu keinginan sesuai  dengan yang kita harapkan, atau Terberkati juga bukan perasaan kepuasan subjektif. Dalam pengertian jaman dahulu, pemahaman mendalam mengenai kebahagiaan, Keselamatan sama dengan Kebahagiaan Kekal.

Iman dan Perbuatan

Munculnya perdebatan dan adanya perbedaan pemahaman mengenai Keselamatan dimulai oleh Reformasi Protestan dan memisahkan diri dari Gereja. Perdebatan mengenai hal Keselamatan oleh Protestan dan Katolik pada saat itu terlihat bahwa adanya perbedaan pengajaran injil, dua agama, dua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Apa yang saya lakukan agar dapat selamat? Jawaban untuk pertanyaan itu dari pihak Katolik, bahwa untuk selamat anda perlu melakukan dua hal secara bersamaan yaitu percaya (iman) dan melakukan pekerjaan yang baik (perbuatan). Sedangkan oleh Luther, Calvin, Wycliffe, dan Knox (pihak Protestan) berkeras bahwa hanya percaya (iman) yang menyelamatkan. Perdebatan ini telah berlangsung dari 450 tahun yang silam. Tetapi ada ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa secara prinsip (esensinya) perbedaan ini dikarenakan kesalahpahaman dan dari bukti-bukti tersebut telah dimulai usaha untuk mencari penjelasannya.

Kedua pihak baik dari pihak Katolik maupun Protestan, menggunakan istilah-istilah penting yaitu Iman dan Keselamatan, tetapi dalam pemahaman yang berbeda.

  1. Katolik menggunakan istilah Keselamatan untuk merujuk kepada keseluruhan proses, mulai dari awal munculnya kepercayaan manusia kepada Allah, kemudian melalui hidup Kristiani karya cinta di bumi, hingga akhirnya di Surga. Bagi Luther, Keselamatan yang dia maksud adalah langkah inisiasi (langkah awal) – seperti di kisah Nabi Nuh; memasuki bahtera Nuh agar selamat – bukan merujuk ke keseluruhan perjalanan.
  2. ‘oleh Iman’ yang dimaksud oleh Katolik adalah salah satu dari tiga yang diperlukan “Keutamaan Teologi” (iman, kasih, dan pengharapan), iman merupakan keyakinan intelektual. Bagi Luther, iman berarti menerima Yesus dengan sepenuh hati dan jiwa.

Dengan demikian sejak Katolik menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih besar dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih kecil, di lain pihak Luther menggunakan istilah Keselamatan dalam pemahaman yang lebih kecil dan istilah Iman dalam pemahaman yang lebih besar; oleh karena itu pemahaman yang mengatakan “kita diselamatkan hanya oleh iman” sudah sepatutnya tidak menerima oleh kalangan Katolik, sedangkan diterima oleh Luther.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Keselamatan bukan hanya mencakup iman, sama halnya seperti sebuah tumbuhan yang bukan hanya terdiri dari akar. Seumpamanya tumbuhan hidup terdiri dari akar, batang, dan buah; Keselamatan terdiri dari iman, harapan, dan kasih. Sedangkan Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak dapat membeli (mendapatkan upah) Keselamatan, semua yang perlu diperlukan dan semua yang dapat dilakukan agar selamat adalah menerima Keselamatan itu, menerima Sang Penyelamat, dengan beriman.

Kedua pihak mengatakan kebenaran. Dan karena kebenaran tidak dapat berlawanan dengan kebenaran, dua sisi itu sebenarnya tidak benar-benar saling bertentangan pada pertanyaan mengenai Keselamatan. Penaksiran mungkin terdengar terlampau optimistik, tetapi apa yang dikemukakan secara esensi oleh teolog-teolog Katolik dan Lutheran pada Pernyataan Bersama secara terbuka mengenai Dasar Kebenaran ketika Paus Paulus Yohanes II mengatakan hal yang serupa kepada Uskup Lutheran Jerman; kedua pihak  tercengang dan gembira.

Sama halnya kesepahaman antara Katolik dan Protestan walaupun terlihat adanya ketidakcocokan merupakan bukan hal aneh. Karena keduanya menerima data masukan yang sama, yaitu Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan dua   pokok hal mengenai Keselamatan: Protestan menitik beratkan pada Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, yang bukan didapat dari perbuatan baik dengan taat terhadap hukum, dan Katolik memahami bahwa iman merupakan awal/pencetus/pendorong perbuatan baik dari kehidupan kristiani, yang mengarahkan perbuatan tersebut menjadi benar (karena dengan Allah perbuatan manusia dibenarkan/dibetulkan/diarahkan menjadi benar), jika perbuatan itu nyata maka akan mengarahkan “pengudusan” orang tersebut (menjadi bersih, kudus, dan baik), itulah “Iman tanpa Perbuatan adalah mati

Sehubungan dengan point terakhir, Pengkotbah Presbyterian Skotlandia George MacDonald pernah menulis bahwa pemahaman keselamatan oleh Yesus merupakan keselamatan dari hukuman atas dosa kita adalah pemahaman yang jahat, pemahaman yang egois, dan pemikiran yang dangkal. Yesus disebut Penyelamat karena dia mau menyelamatkan kita dari dosa kita.

Ajaran resmi dari pemahaman Katolik (untuk membedakan dengan pemahaman yang salah) menyatakan bahwa Keselamatan adalah suatu pemberian cuma-cuma (tanpa syarat) yang kita peroleh tanpa harus melakukan sesuatu.

Dekrit tentang pembenaran yang disahkan oleh Konsili Trente pada tanggal 13 Januari 1547, dimaksudkan sebagai penolakan posisi para reformator sekaligus penjelasan tentang pembenaran dan peranan iman di dalam pembenaran. Mengenai pembenaran, Trente menegaskan (sama seperti pendapat para reformator; Luther) bahwa pembenaran sungguh-sungguh merupakan karya Allah demi keselamatan manusia, tetapi Konsili tidak menerima kesimpulan bahwa manusia sama sekali pasif dan tidak turut serta dalam proses pembenaran. Manusia juga terlibat secara aktif sebab ia menerima hadiah dari Allah itu secara bebas. Dengan kata lain, ia juga bisa menolaknya (bdk. Dekrit Konsili Trente no. 1929). “Siapa yang percaya dan dibaptis diselamatkan dan siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16).

Dan mengenai iman, Konsili sepaham dengan kaum Skolastik (Thomas Aquinas) yang mengerti iman sebagai persetujuan intelek kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Iman itu perlu demi pembenaran, tetapi iman itu saja tidak cukup. Pembenaran tidak menjadi sola fide, melainkan iman harus dilengkapi dengan harapan dan cinta.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa “keselamatan adalah pemberian cuma-cuma” untuk diterima dengan iman dan “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan yang dimaksud adalah “kasih”, dan kasih berarti “tindakan karena cinta”, bagi orang Kristen kasih (agape) bukanlah suatu perasaan, seperti berupa kata cinta (eros, storage, philia); karena jika kasih itu yang dimaksud hanya berupa perasaan maka kasih itu tidak dapat diperintahkan (oleh Yesus: kasihilah sesamamu).

Doa Keselamatan Perjalanan


Ya Allah, Engkau telah menghantar hamba-Mu Abraham keluar dari negerinya, dan melindungi dia di sepanjang perjalanannya. Engkau telah menghantar bangsa Israel ke Tanah Terjanji melalui padang gurun yang luas mencekam, penuh tantangan dan bahaya. Engkau telah mengutus malaikat-Mu menyertai Tobia dalam perjalanannya ke negeri yang asing baginya. Engkau pun telah menunjukkan jalan kepada ketiga sarjana dari Timur. Meski harus menempuh perjalanan yang lama dan berat, akhirnya mereka sampai kepada Yesus, tujuan perjalanan mereka.

Maka kami mohon, tuntunlah kami sepanjang perjalanan yang akan kami tempuh. Jadilah naungan kami di saat panas terik; tempat berteduh di kala hujan dan dingin. Jadilah penopang kami di waktu penat, penghiburan bila kami ditimpa kemalangan. Jadilah pula tongkat kami di jalan yang sulit, dan pelabuhan yang aman kalau bahtera kami terancam bahaya karam. Semoga di bawah pimpinan-Mu kami siap dan tabah menghadapi segala kesulitan, dan bahaya dalam perjalanan.

Ya Allah, semoga perjalanan ini mengingatkan kami akan perjalanan ke tanah air abadi. Semoga dalam ziarah hidup ini kami selalu tekun, tabah, dan setia. Semoga kami tiba dengan aman sentosa pada tujuan perjalanan hidup setiap insan, yakni Yesus Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)