Kapan dan Dimana Keselamatan itu?


Sebelum menjawab pertanyaan ‘Kapan dan Dimana Keselamatan itu?’ ada baiknya kita menanggapi suatu ejekan yang telah lama dikenal menyinggung dan tanggapan atas ejekan ini berhubungan dengan pertanyaan di atas. Ejekan tersebut dikenal dengan kalimat “pie in the sky bye and bye” yang muncul pada tahun 1911 untuk menyinggung secara langsung kepada kelompok ‘bala keselamatan’ (salvation army) yaitu gerakan kristen pada masa itu. Ejekan itu secara tidak langsung juga mengejek ajaran Kristen yang mengajarkan bahwa: perjalanan manusia dalam hidup yang taat kepada Tuhan terutama yang pada saat berat/pahit/susah akan mendapat upahnya yaitu kehidupan kekal setelah melewati kehidupan di dunia. Ada dua tanggapan mengenai ejekan ini;

pertama (seperti yang pernah dikatakan oleh C. S. Lewis); Entah ejekan tersebut benar atau tidak, namun pertanyaan yang sebenarnya adalah ‘apakah  upah (atau ‘pie’ yang diejekan itu) itu ada?’.

Kedua, ‘di langit’ seperti yang dikatakan pada ejekan ‘in the sky bye and bye’ sebenarnya bukanlah hanya satu arti saja, melainkan yang dimaksud ‘di langit’ itu merujuk ke ‘Kerajaan Surga’, ‘Kerajaan Allah’, ‘Kehidupan Kekal’, ‘Rahmat’, ‘Dilahirkan kembali baru’, ‘Bangkit Kembali’, ‘Penciptaan Kembali’, atau ‘Hidup dalam Roh’, dimana semuanya itu merujuk ke hal yang sama yaitu Keselamatan. Dan Keselamatan itu dimulai sebelum kematian bukan setelah kematian. Untuk melihat ini, kita dapat membaca dan melihat keselarasan setiap bagian Kitab Perjanjian Baru yang menggunakan frasa  yang disebut diatas. Perhatikanlah konteks setiap waktu.

Kerajaan Surga saat ini bermula seperti benih; bermekar setelah mati menjadi tumbuhan yang tumbuh sempurna. Kerajaan Surga dimulai seumpama seperti janin spiritual yang masih dalam kandungan, dan ‘kematian’ bagi janin itu adalah kelahirannya sebagai bayi ke dunia yang lebih luas. Seperti janin, dia telah hadir sekarang, telah berdiam di dalam, telah menjadi bagian dari mahluk hidup, telah menjadi bagian dari keluarga, tapi dia belum mampu bertindak sebagian besar fungsi dan aksi yang akan terbentuk seiring dengan tahap hidupnya. Tapi janin dapat melakukan gerakan tertentu. Janin itu berlatih. Bahkan sebelum lahir, janin melakukan gerakan kaki, menelan, dan menggerakan tangan. Hidup adalah serangkaian latihan janin spiritual, serupa pada kehamilan yang merupakan rangkaian latihan janin fisik. (Perumpamaan ini bukanlah baru dibuat, tetapi berasal dari Kitab Suci: lihat Yohanes 16:21 dan Roma 8:22).

Janin yang kurang pengetahuan mungkin akan skeptis terhadap apa yang akan terjadi setelah kelahiran, dan janin tersebut akan berpendapat bahwa hidup di dalam kandungan sebagai latihan atau persiapan untuk kehidupan nanti setelah lahir seperti orang yang berkata “pie in the sky bye and bye”.

Bermegah dalam Pengharapan


Mengenai “dunia baru dan surga baru” Konsili Vatikan II menyatakan:

Kita tidak mengetahui, kapan dunia dan umat manusia akan mencapai kepenuhannya; tidak mengetahui pula, bagaimana alam semesta akan diubah. Dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan yang telah rusak akibat dosa, akan berlalu. Tetapi kita diberi ajaran, bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru dan bumi yang baru, kediaman keadilan dan kebahagiaan, yang memenuhi, bahkan melampaui segala kerinduan akan kedamaian, yang pernah timbul dalam hati manusia (GS 39).

Akhirat oleh Konsili dilihat sebagai “penyelesaian” seluruh sejarah dunia, dengan segala cita-cita dan kerinduannya. Memang tidak diketahui cara dan waktunya, tetapi diketahui bahwa semua itu akan datang dari Allah. “Dunia ini dengan keinginannya akan lenyap” (1Yoh 2:17; lih. 1Ptr 1:24; 4:7), tetapi Allah akan menciptakan dunia yang baru. Dunia baru itu akan mengatasi segala cita-cita dan harapan kita: “Yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: itulah yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9).

Pengharapan kita tidak berdasarkan keinginan kita sendiri, tetapi berpangkal pada kebaikan Tuhan. Kasih Allah akan melampaui segala harapan dan dugaan kita. Maka yang pokok adalah iman akan kebaikan Tuhan, seperti dikatakan oleh St. Paulus: “Kita, yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia, kita juga beroleh jalan masuk – oleh iman – kepada kasih-karunia ini. Di dalam kasih-karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita malah juga bermegah dalam kesengsaraan” (Rm 5:1-2). Sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Keterarahan kepada Kerajaan Allah mendasari pengharapan dan kemantapan kita. “Ia yang memanggil kamu adalah setia” (1Tes 5:24). Kesetiaan Tuhan merupakan dasar pengharapan kita. Yang diimani adalah Tuhan, bukan perkembangan dunia, maka segala perubahan dan ketidakjelasan tidak dapat menggoncangkan iman dan pengharapan kita.

Dunia baru tidak hanya memenuhi pengharapan orang perorangan, tetapi kecenderungan dan dinamika dunia seluruhnya. Manusia tidak dapat hidup dan berkembang lepas dari dunia sekitarnya, dan manusia juga tidak dapat beriman sendirian, tetapi dalam Gereja. Maka dengan pengharapannya akan Kerajaan Allah manusia menempatkan diri dalam gerakan Gereja dan dunia. Allah dan Kerajaan-Nya lebih besar dan lebih luas daripada keinginan hati orang perorangan. Penciptaan baru lebih besar dan lebih agung daripada yang pertama. Maka janganlah hidup orang individu dipakai sebagai ukuran bagi Kerajaan Allah. Yang direncanakan Tuhan dan yang dalam kasih-Nya yang besar mau dilaksanakan-Nya itulah pedoman bagi iman dan pengharapan orang.

Pengharapan akan Kerajaan tidak menghilangkan segala pertanyaan dan kesulitan. Manusia harus tetap berjuang dalam dunia ini. Tetapi kita tidak berjuang tanpa motivasi, atau tanpa pengharapan. “Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Dan “Roh itu, bersama dengan roh kita, memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14). Tuhan sendiri meletakkan kerinduan itu dalam hati kita. Karena Roh-Nya, kita terus-menerus ditarik ke arah rumah Bapa. Itu bukan suatu kerinduan kosong, melainkan gerakan hati yang memampukan kita bertahan dalam perjuangan di dunia ini. Pegangan manusia dalam perjalanan hidup di dunia ini ialah hatinya sendiri, tempat ia bertemu dengan Tuhan yang memanggilnya. Itulah daya-tarik dan dinamika hati, yang hanya diketahui oleh Allah dan oleh orang yang dipanggil-Nya. “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan karena Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah wafat bagi kita, supaya kita, entah masih hidup entah sudah meninggal, hidup bersama-sama degan Dia. Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan ini” (1Tes 4:18; 5:10).

Akhir Zaman


Bagi manusia perorangan kematian merupakan akhir hidup di dunia ini. Akan tetapi, seluruh dunia pun akan mati. Itu disebut “akhir zaman”. Sebagaimana manusia perorangan baru mencapai tujuan hidupnya dalam pertemuan dengan Allah, begitu juga dunia. Dengan bagus sekali Paulus melukiskan hal itu dalam Rm 8:19-26:

“Dengan sangat rindu makhluk-makhluk menantikan anak-anak Allah dinyatakan. Sebab makhluk-makhluk ditaklukkan kepada kesia-siaan – bukan dengan sukarela, tetapi terpaksa ditaklukkan – namun tidak tanpa pengharapan. Karena juga makhluk-makhluk akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, menuju ke kebebasan kemuliaan anak-anak Allah. Jadi, kita mengetahui bahwa segala makhluk sama-sama mengeluh dan sakit bersalin sampai sekarang. Tetapi tidak hanya itu. Kita sendiri pun, yang telah menerima karunia-sulung Roh, kita sendiri dalam batin juga mengeluh dan menantikan pengangkatan-sebagai-anak, pembebasan tubuh kita. Sebab baru dalam pengharapan kita diselamatkan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. Sebab siapa masih mengharapkan, apa yang dilihat? Tetapi, bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Begitu juga Roh membantu dalam kelemahan kita. Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan.”

Yang mencolok adalah kata “mengeluh”. Makhluk-makhluk mengeluh, kita mengeluh, Roh Kudus pun “berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan”. Keluhan ini dihubungkan dengan “menantikan” dan “pengharapan”. Dari satu pihak kita sadar bahwa dunia ini seluruhnya fana dan bersifat sementara, tetapi dari pihak lain kita mengetahui juga bahwa hidup ini menjurus ke hidup yang sejati, yakni “pengangkatan sebagai anak”, sebab hidup yang sejati ialah “mengenal satu -satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya” (Yoh 17:3). Dan “apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Mengenal Allah, dan mengenal-Nya sungguh-sungguh, “muka dengan muka” (1Kor 13:12), hanya mungkin kalau kita diperbolehkan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

Yang akan masuk ke dalam dunia Allah, bukan hanya kita, melainkan seluruh ciptaan. Sebagaimana makhluk-makhluk mengambil bagian dalam kedosaan manusia, begitu juga dalam pengharapan. Makhluk-makhluk masih berada dalam keadaan kemalangan. Orang beriman sudah diselamatkan, “telah menerima karunia-sulung Roh” , namun semua sama-sama mengeluh dan menantikan. Sebab kita memang diselamatkan, tetapi “baru dalam pengharapan”.

Pada ayat 15 Paulus berkata, “kamu telah menerima Roh pengangkatan-sebagai-anak”, tetapi hanya “sebagai jaminan untuk semua yang disediakan bagi kita” (2Kor 1:22; 5:5). Dengan “pembebasan tubuh kita” baru akan tercapai “kebebasan kemuliaan anak-anak Allah”, dan tidak hanya bagi kita, tetapi bagi seluruh ciptaan, yang juga “akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan”. Keselamatan yang masih tersembunyi sudah merupakan dinamika hidup, karena pengharapan, bagi seluruh ciptaan. Yohanes berkata, “Sekarang kita sudah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita mengetahui, bahwa, apabila Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2). Pada saat itu “Allah menjadi semua dalam semua” (1Kor 15:28). Segala-galanya menuju Allah, tetapi menurut suatu proses historis, langkah demi langkah. Maka dilihat dari sudut dunia, pertemuan penuh dengan Allah disebut “akhir zaman”. Tetapi, “selama kita mendiami tubuh ini, kita masih jauh dari Tuhan; sebab hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor 5:6).

Di dunia ini hidup kita masih bersifat perjuangan. Kita memang merasa pasti mengenai tujuan, tetapi sering ragu-ragu mengenai jalannya. Lebih kerap lagi, ketidakjelasan itu menjadi alasan kita menyimpang dari jalan dan tidak lagi terarah kepada pertemuan dengan Allah. Justru karena kepenuhan ini adalah tahap yang terakhir, maka mudah hilang dari pandangan. Orang lebih terpikat oleh yang sekarang terjadi di sekitarnya daripada oleh yang akhirnya dituju. Memang benar bila kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun, tetapi praktiknya sulit.

“Tuhan-lah tujuan sejarah manusia, titik sasaran segala dambaan sejarah dan kebudayaan manusia; kita yang dihidupkan dan dihimpun dalam Roh-Nya, berziarah menuju pemenuhan sejarah manusia” (GS 45). Maka yang paling penting dalam hidup sekarang ialah mencari keterarahan kepada Tuhan. Pada akhir Kitab Suci dikatakan: “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang awal dan Yang akhir” (Why 22:13). Dunia mulai dengan Kristus, “yang sulung dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15), dan sejarah dunia akan mencapai tujuannya bila Kristus “menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan” (1Kor 15:24).

Antara awal dan akhir, antara alfa dan omega, ada jarak yang jauh. Bukan hanya jarak, melainkan juga perbedaan yang dahsyat. Dengan tegas Konsili Vatikan II berkata, “kemajuan duniawi harus dibedakan dengan cermat dari pertumbuhan Kerajaan Kristus” (GS 39). Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah bukanlah hasil evolusi atau perkembangan dunia. Gereja tidak menolak secara prinsipiil ajaran teori evolusi, tetapi Kerajaan Allah janganlah dilihat sebagai puncak perkembangan dunia. Seperti halnya kebangkitan adalah karya Allah, dan dengan sewajarnya disebut “ciptaan baru” (lih. 2Kor 5:17), begitu juga akhir zaman. Yohanes menyebutnya bukan hanya “bumi yang baru”, tetapi juga “surga yang baru” (Why 21:1; lih. juga 2Ptr 3:13), sebab “yang duduk di atas takhta, berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (ay. 5). Ciptaan pertama berkembang secara evolutif. Ciptaan baru ialah “Yerusalem yang baru, yang turun dari surga, dari Allah” (ay. 2).

Dunia baru bukanlah pertama-tama pembaruan dunia, melainkan pertemuan seluruh ciptaan dengan Tuhan. Apa yang terjadi dengan manusia dalam kebangkitan, akan menjadi kenyataan dalam seluruh ciptaan: Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya dalam makhluk-makhluk-Nya. Pertemuan dengan Tuhan adalah pertemuan dalam cinta kasih. Maka tidak mungkin menuju Kerajaan Allah, kalau tidak dikembangkan lebih dahulu semangat cinta kasih, yang diwujudnyatakan dalam pelayanan. Itulah sebabnya di dunia ini sikap Gereja yang pokok adalah pelayanan.

Gereja dan Kaum Miskin


Di dunia ini ada banyak orang miskin atau lebih tepat dimiskinkan. Khususnya Asia sangat diwarnai oleh kemiskinan struktural ini. Kehadiran Gereja hendaknya mempunyai makna bagi belahan dunia yang dicengkam oleh kemiskinan ini. Gereja dan pelayanannya harus membawa “kabar baik” bagi kaum miskin.

Yesus bersabda, bahwa Ia diurapi Allah dengan Roh Kudus “untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Selanjutnya pewartaan Injil kepada orang miskin memang disebut di antara tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah, di samping penyembuhan orang sakit dan pembangkitan orang mati (Luk 7:22). Kalau Yesus berkata kepada orang miskin: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin” (Luk 6:20), Ia tidak memuji kemiskinan. Mereka tidak disebut bahagia karena miskin, tetapi karena kemiskinan segera akan diambil dari mereka. Itu terjadi dengan pewartaan Injil, bukan dengan sedekah, tetapi dengan memberikan semangat hidup yang baru, sebab “Injil adalah kekuatan Allah” (Rm 1:16).

Dalam sabda Yesus kerajaan Allah hadir dan berkarya. Kaum miskin diajak menyadari kekuatan Allah di antara mereka. Segala sesuatu yang dikerjakan Yesus, tujuannya supaya orang sadar bahwa kekuatan Allah ada di dalam mereka. Itulah maksud mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Yesus tidak membuat mukjizat supaya membuat semua orang miskin menjadi kaya. Mukjizat-Nya mau memperlihatkan kepada mereka, bahwa Allah hadir dan menyertai mereka; bahwa perjuangan mereka didukung dan diperkuat oleh Allah; bahwa ada masa depan bagi mereka. Mukjizat Yesus pada dasarnya tanda kasih Allah bagi mereka.

Pelayanan Gereja pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah bagi manusia. Kerajaan Allah bukan obat penenang, bukan candu. Kerajaan Allah berarti perjuangan, kerja berat. “Jangan mengira bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Mat 10:34). Yesus memang membawa damai, tetapi bukan damai yang murahan, dengan diam dan menerima segala-galanya. Damai Yesus diperjuangkan, dan sering menimbulkan perlawanan. Yesus juga tidak datang hendak mendirikan suatu organisasi keagamaan, melainkan memberi inspirasi dan semangat. Gereja diharapkan dapat melakukan hal yang sama. Gereja dituntut supaya tidak menjadi himpunan saleh, tetapi persekutuan iman sebagai sumber inspirasi dan kekuatan.

Percaya kepada Yesus berarti ikut serta dengan gerakan Yesus, khususnya dalam sikap-Nya terhadap kaum miskin. Yesus tidak sekadar teori, melainkan praksis hidup. Gerakan yang telah dimulai oleh Yesus berjalan terus, oleh Roh-Nya, di dalam Gereja. Janganlah Gereja menjadi organisasi kemasyarakatan yang kekuatannya terletak dalam sistem organisasi dan dasar finansial-ekonomisnya. Kekuatan Gereja adalah Roh, yang memberikan semangat iman kepada manusia. Oleh karena itu Gereja pantas bertanya pada dirinya sendiri: Apa dasar dan tujuan segala kegiatan sosial dan karya amal kita? Apa hubungannya dengan perayaan dan pengakuan iman kita? Bagaimana kita berusaha memberi semangat dan kepercayaan diri kepada orang?

Gereja hanyalah sarana, bukan tujuan. Terutama dalam pelayanannya, janganlah Gereja menjadi tujuannya sendiri. Tujuan Gereja adalah “persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Yesus Mengadakan Mukjizat-Mukjizat


Dengan mengerjakan mukjizat, Yesus memperlihatkan dengan perbuatan, apa yang dalam pewartaan-Nya diperdengarkan-Nya dengan perkataan, yaitu bahwa kerajaan iblis berakhir dan kerajaan Allah mulai. Tanda-tanda mukjizat yang dikerjakan Yesus itu memperlihatkan bahwa dalam diri Yesus genaplah nubuat para nabi tentang Mesias yang kedatangan-Nya telah dijanjikan kepada para leluhur Israel. Seperti Injil yang diwartakan Yesus, begitu pula mukjizat yang dilakukan-Nya merupakan tanda-tanda zaman Mesias. Di dalam pemberitaan dan “pekerjaan” Yesus ini, pemerintahan Allah sedang menerobos masuk dunia.

Pada zaman Yesus, orang menghayati dunia kita ini sebagai medan pertempuran antara Allah dan si jahat, antara kuasa terang dan kuasa kegelapan. Penderitaan dan kejahatan dialami sebagai tanda bahwa dunia ini dikuasai kejahatan. Personifikasi kejahatan ialah setan atau iblis. Roh-roh jahat menyebabkan manusia menderita: roh yang “najis” itu berbuat jahat. Sebaliknya Yesus yang diurapi Allah dengan Roh Kudus (Kis 18:38), menyembuhkan orang, baik secara jasmani maupun rohani. Masuk akal bahwa kehadiran-Nya saja sudah cukup bagi roh-roh itu menganggapnya sebagai suatu serangan terhadap kerajaan kegelapan (Mrk 1:23; 5:7-13; 9:20- 26). Dengan mengerjakan mukjizat, dengan “menjadikan segala-galanya baik” (Mrk 7:37), Yesus menjelmakan pemerintahan Allah dan menghentikan pemerintahan setan. Bilamana Yesus muncul, si jahat menarik diri,

Para pengarang Injil menceritakan mukjizat-mukjizat Yesus guna memaklumkan bahwa Yesus tidak hanya menyampaikan kabar yang menggembirakan itu, tetapi Ia sendirilah Kabar Gembira, “Injil”. Yesus sendirilah keselamatan, rahmat, dan penyembuhan bagi manusia yang sedang susah. Kalau begitu, pemerintahan Allah yang eskatologis itu betul-betul sedang mendobrak masuk ke dunia ini. ” … Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Melalui “amal kasih”-Nya, Kerajaan Allah benar-benar diambang pintu (Mrk 1:15; 7:37). Walaupun mukjizat ini belum merupakan manifestasi kosmik pemerintahan Allah, mukjizat itu lebih daripada sekedar janji tentang kedatangan-Nya, sebab pada hakikatnya menyatakan kuasa Allah yang berkarya dalam perbuatan Yesus itu.

Ketika Yohanes Pembaptis dari dalam penjara mengutus orang kepada Yesus untuk bertanya adakah Yesus betul-betul Mesias yang dinanti-nantikan itu, Yesus menjawab kepada para utusan, “Pergilah dan beritakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:4-5).

Dengan jawaban ini, Yesus menegaskan bahwa dengan tampil-Nya sendiri, zaman Mesias memang sudah mulai, sebab dalam jawaban di atas Yesus sebenarnya mengutip nubuat Yesaya tentang kedatangan Allah (Yes 35:4-6). Zaman Mesias adalah permulaan zaman penyelamatan yang eskatologis. Baru permulaannya, sebab zaman rahmat ini pun masih dalam perkembangan menuju taraf-tarafnya yang lebih tinggi, dan akhirnya kepenuhan rahmat sebagai puncaknya, yaitu bilamana Allah menjadi semua di dalam semua (lih. 1Kor 15:20-28).

Kesaksian Yesus tentang Kerajaan Allah


Yesus bukan saja berbicara tentang Kerajaan Allah, tetapi juga memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah dengan tindakan-tindakan-Nya. Memang ada kesatuan antara Sabda dan karya-Nya. Ia tampil sebagai nabi, tetapi juga sebagai tabib. Unsur hakiki nabi dan tabib, masing-masing mewakili unsur perkataan dan perbuatan, yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidup Yesus. Kesatuan antara Sabda dan karya Yesus itu bersifat sedemikian rupa sehingga kebenaran perkataan Yesus itu tampak dalam perbuatan-Nya; dan arti perbuatan Yesus diberitahukan dalam perbuatan-Nya.

Tuntutan Kerajaan Allah: Sabda Bahagia


Menurut intisarinya, Sabda Bahagia berasal dari Yesus sendiri. Versi yang tertua barangkali termaktub dalam Luk 6:20b-21:

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.”

Yang menarik perhatian yaitu intisari Sabda itu menyatakan sebagai “berbahagia” bukan orang-orang saleh melainkan orang miskin, orang lapar, dan orang yang menangis. Dengan demikian Yesus memaklumkan suatu “revolusi” yang membalikkan nilai-nilai dan tata hubungan. Maksud Sabda Bahagia itu dapat diuraikan sekitar pokok-pokok ini: ketegangan eskatologis yang mewarnainya, yang dituju oleh sabda-sabda ini, serta sikap hidup mereka, dan siapakah yang secara konkret termasuk golongan mereka yang dinyatakan berbahagia oleh Yesus. Dan akhirnya harapan yang beralasan.

Ketegangan eskatologis ini terungkap dalam pewartaan bahwa Kerajaan Allah “sudah dekat”. Ungkapan ini berarti rangkap: di satu pihak Kerajaan Allah sudah terasa sekarang ini, tetapi di pihak lain penyelesaiannya belum tiba dan kesempurnaannya masih dinanti-nantikan. Oleh karena itu, terdapat ketegangan antara “sudah” dan “belum”. Sekarang pemerintahan Allah sudah membayangi dunia kita ini, tetapi belum datang dalam kesempurnaannya. Dengan kata lain, masa depan sudah mulai.

Mengapa orang “miskin” atau “sengsara” ini dinyatakan berbahagia oleh Yesus? Ucapan “berbahagialah, hai kamu … ” ada sangkut pautnya dengan sikap hidup atau cara hidup yang dapat dimiliki justru oleh orang-orang semacam itu. Justru mereka yang miskin dan menderita, singkatnya yang tidak memiliki apa-apa dan tak berdaya di dunia ini, paling condong mengharapkan segalanya dari Tuhan. Satu-satunya sandaran mereka ialah Tuhan. Satu-satunya kekayaan dan kekuatan mereka adalah Tuhan. Tuhan adalah segala-galanya untuk mereka. Mereka inilah yang dinyatakan berbahagia oleh Yesus. Sebaliknya mereka yang merasa diri mempunyai andil dan mempunyai kekuatan sendiri, misalnya karena kesalehannya, tak terpikirkan oleh Yesus untuk disapa “berbahagia”.

Kiranya jelas yang berbahagia ialah mereka yang menerima Allah sebagai satu-satunya raja mereka. Untuk itu mereka rela melepaskan raja-raja yang lain, seperti harta dan kehormatan, dan rela pula mempertaruhkan segala-galanya, termasuk diri mereka sendiri, demi Sang Raja. Bukankah sikap ini sikap yang dihayati oleh Yesus sendiri? Sikap hidup ini memang menjungkirbalikkan ukuran-ukuran duniawi. Kepada orang-orang yang cara hidupnya sama dengan cara hidup yang dipilih Yesus inilah yang dinyatakan berbahagia. Mengapa? Karena sikap orang-orang ini cocok untuk menantikan kerajaan Allah, malah untuk sekarang pun sudah dibayangi oleh sukacita besar di tengah-tengah lembah duka kehidupan mereka. Allah akan menghibur, memuaskan dan menjadikan mereka anak-anak-Nya.

Tetapi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal, Adakah dengan kedelapan Sabda Bahagia-Nya Yesus mau menganjurkan dan mempertahankan kemiskinan, kelaparan, pengangguran, dan penderitaan di bumi ini? Jelas tidak. Dengan kedelapan Sabda Bahagia-Nya, Yesus mau mengatakan bahwa kekayaan dan kekuatan kita hanya terletak pada Allah. Dengan bersandar pada kekuatan Allah itu, kita harus berjuang menyingkirkan semua penderitaan di dunia ini. Dalam diri Yesus, Allah yang menjadi manusia, Allah mulai mengubah sejarah umat manusia menjadi lebih sejahtera. Yesus berkeliling di Palestina sambil menyembuhkan orang sakit, melegakan orang cemas dan gelisah, membebaskan orang yang tertekan jiwa raganya, bahkan membangkitkan orang mati, dan sebagainya.

Akan tetapi, kapan suasana kasih, adil, dan damai itu tercipta? Ada kesan Allah tidak atau belum memerintah di bumi ini. Ada pembunuhan, pemerkosaan, penindasan, korupsi, perkelahian, dan sebagainya. Ada perang antar negara, pesawat yang dibajak, orang- orang yang lapar, kecelakaan lalu lintas, banjir dan tanah longsor yang menelan ratusan jiwa, dan sebagainya. Melihat semua itu, kita bisa berkesimpulan: tidak ada kerajaan Allah di bumi ini. Sekurang-kurangnya belum ada.

Memang kerajaan Allah belum terlaksana dengan sepenuh-penuhnya, tetapi sudah mulai nyata. Sebab melalui Yesus, pemerintahan Allah sudah mulai menerobos masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Sejak kedatangan Yesus, lebih-lebih sejak kebangkitan-Nya dari alam maut dan sejak turunnya Roh Kudus atas orang-orang yang percaya kepada-Nya, Allah mulai meraja di bumi ini.

Ia mulai meraja dengan sepenuh-penuhnya baru dalam diri Yesus, sebab hanya Dialah yang seluruhnya dirajai Allah. Tetapi mulai dari Yesus, pemerintahan Allah semakin meluas, sebab setiap langkah yang diambil oleh Yesus (kini melalui Gereja-Nya) menawarkan keselamatan kepada mereka yang dijumpai-Nya. Dengan demikian terbukalah jalan bagi pemerintahan Allah di dunia ini, sehingga kita dapat pula melihat daftar peristiwa-peristiwa cerah yang membawa banyak harapan.