Hidup Bakti Biarawan-Biarawati

Bruder dan suster bukan anggota hierarki, dan semua biarawan-biarawati tidak termasuk hierarki. Hanya saja ada biarawan yang ditahbiskan imam. Mereka sekaligus anggota kelompok kebiaraan dan pembantu uskup, tetapi hidup membiara sendiri bukan fungsi gerejawi, melainkan corak kehidupan. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II mengajarkan, “Meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil, tidak termasuk susunan hierarkis Gereja, namun juga tidak dapat diceraikan dari kehidupan dan kesucian Gereja” (LG 44), sebab hidup membiara berkembang dari kehidupan Gereja sendiri, bahkan “nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan” (LG 43). Tetapi apa yang berupa nasihat dari Yesus, oleh usaha “pimpinan Gereja, di bawah bimbingan Roh Kudus” berkembang menjadi “bentuk-bentuk penghayatan nasihat Injil yang tetap”. Namun “status religius itu bukanlah jalan tengah antara perihidup para imam dan kaum awam”. Prinsipnya lain. “Di antara para anggota umat Allah terdapat perbedaan, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak dan tata-tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti menuju kesucian” (LG 13). Lalu masih ada “semua orang Kristen lain yang tidak termasuk golongan imam atau status religius” dan yang lazim disebut “awam” (LG 31). Perbedaan antara awam dan imam itu soal fungsi atau jabatan, sedangkan perbedaan dengan biarawan-biarawati menyangkut “corak kehidupan”. Hidup membiara tidak ditentukan oleh fungsi atau pekerjaan, melainkan oleh corak atau cara kehidupan, khususnya kehidupan yang di dalamnya orang “dengan kaul-kaul atau ikatan suci lainnya mewajibkan diri untuk hidup menurut tiga nasihat Injil”, yaitu selibat atau keperawanan, kemiskinan, dan ketaatan (LG 44).

Selibat atau keperawanan memang merupakan inti atau hakikat hidup bakti, sebab dengan kaul itu orang membaktikan diri secara total dan menyeluruh kepada Kristus. Kebaktian permandian, yang merupakan sikap penyerahan setiap orang Kristen, dengan kaul keperawanan atau selibat dinyatakan dalam seluruh hidup dan setiap seginya sebagai bentuk atau corak kehidupan. Akibat pembaktian total itu adalah “kewajiban bertarak sempurna dalam selibat” (KHK kan, 599). Namun selibat tidak sama dengan tidak-kawin. Itu bukan inti-pokok hidup membiara. Yang pokok adalah penyerahan total kepada Kristus, yang dinyatakan dengan meninggalkan segala-galanya demi Kristus dan juga dengan terus-menerus semakin mengarahkan diri kepada Kristus, khususnya dalam hidup doa.

Kaul kemiskinan ditetapkan “menurut peraturan hukum masing-masing tarekat” (KHK kan. 600). Ternyata kaul kemiskinan mempunyai dua aspek, yang satu lebih asketis dan berarti gaya hidup yang sederhana; yang lain lebih apostolis dan berarti kerelaan menyumbangkan apa-apa saja demi kerasulan. Yang terakhir itu tidak hanya, bahkan tidak pertama-tama menyangkut harta benda, melainkan tenaga, waktu, keahlian dan ketrampilan, pendek kata segala kemampuan dan seluruh kehidupan.

Dalam kaul ketaatan dapat dibedakan antara aspek asketis dan apostolis. Dalam kerangka askese atau latihan hidup rohani ketaatan berarti kepatuhan kepada guru rohani; berhubung dengan kerasulan kaul ketaatan berarti kerelaan membaktikan diri kepada hidup dan terutama kerasulan bersama. Ketaatan berhubungan dengan hidup bersama, sebab juga “hidup persaudaraan menjadi ciri masing-masing tarekat” (KHK kan. 602; 607 §2). Dalam hal ini mereka yang disebut “lembaga-lembaga religius” berbeda dengan “lembaga-lembaga sekular”, sebab para anggota lembaga sekular “hidup di dunia ramai” (KHK kan. 710), “sendirian atau dalam keluarga masing-masing atau dalam kelompok hidup persaudaraan” (KHK kan. 714). Mereka juga mengikrarkan tiga nasihat injili (KHK kan. 723) tetapi, khususnya dalam hal kemiskinan dan ketaatan ikatan pada kelompok, lain daripada dalam lembaga-lembaga religius atau hidup membiara. Mereka “berusaha melaksanakan pengudusan dunia terutama dari dalam” (KHK kan, 710) dengan hidup bersama para anggota masyarakat yang lain. Secara lahiriah mereka sedapat mungkin tidak membedakan diri dari para awam “biasa”. Di sini perlu diingat bahwa kesucian memang tidak tergantung pada bentuk atau corak kehidupan. Tetapi suatu cara hidup tertentu dapat membantu dan menyokong pengarahan diri yang lebih jelas dan mantap kepada Kristus. “Maka dari itu hendaklah setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasihat-nasihat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi kesuburan kesucian Gereja, serta kemuliaan Allah Tritunggal” (LG 47). Singkat kata, biarawan-biarawati itu merupakan suatu golongan tertentu yang menuntut atau mengejar kesempurnaan secara khas.

Keadilan Sosial Memberantas Kemiskinan

Ketimpangan sosial tidak terbatas pada konflik antara modal dan kerja. Pada tahun 1961, Paus Yohanes XXIII dalam ensiklik Mater et Magistra menyebut tiga hal lain. (1) Perbedaan antara sektor-sektor produksi: antara bidang industri dan pertanian, antara taraf hidup di kota dan di desa. Padahal, kesamaan umat manusia seharusnya tercerminkan juga dalam kesempatan hidup yang sama. (2) Perbedaan taraf hidup antara bangsa-bangsa: kesenjangan kesejahteraan pada tingkat internasional. Padahal, kemerdekaan negara-negara yang baru saja melepaskan diri dari penjajahan, hanya mempunyai arti, kalau negara baru juga dapat mandiri secara sosio-ekonomi. Jangan sampai ketergantungan ataupun bantuan ekonomi menjadi semacam penjajahan yang baru. (3) Pertumbuhan penduduk yang pesat di banyak daerah miskin mempertajam kesenjangan taraf hidup. Padahal, bumi cukup kaya untuk menjamin hidup semua orang. Masalah sosial itu mencakup hampir semua aspek hidup manusia dan meliputi seluruh dunia. Dan keadilan untuk semua manusia dapat tercapai, kalau ada perubahan, kemajuan, perkembangan.

Populorum Progressio (1967) dari Paus Paulus VI kiranya boleh disebut “ensiklik pembangunan” sebab pada saat itu pembangunan sosial .. ekonomi mulai diusahakan oleh semua bangsa, sebagaimana disaksikan oleh Paus sendiri pada kunjungannya ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ensiklik ini berbicara mengenai perkembangan di negara-negara miskin dan menekankan bahwa pembangunan integral harus menunjang perkembangan setiap manusia dan seluruh manusia. Perkembangan sejati adalah perkembangan diri, yang diusahakan dan dipertanggungjawabkan oleh manusia sendiri. Pembangunan merupakan kewajiban pribadi dan tugas sosial, yang menyangkut baik ekonomi maupun etika. Paus Paulus VI membalik prinsip Marx: bukan pertentangan kelas yang memajukan perkembangan, melainkan inisiatif dan tanggung jawab pribadi. Bukan aturan produksi melainkan struktur masyarakat sendiri yang menentukan hidup bersama dalam masyarakat. Struktur masyarakat itulah yang memungkinkan perkembangan-perkembangan, juga dalam bidang ekonomi. Perhatian tidak lagi dipusatkan pada hubungan kerja, tetapi pada hubungan sosial dan politik antara daerah kaya dan daerah miskin. Semua orang ataupun kelompok harus memberi sumbangannya masing-masing. Sementara mereka yang belum berkembang harus diberi bantuan dan sekaligus diberi kesempatan agar mereka dapat mengambil inisiatif sendiri. Jadi, pembangunan itu adalah masalah humanisme.

Dua puluh tahun sesudah Populorum Progressio, ensiklik sosial yang kedua dari Paus Yohanes Paulus II, Sollicitudo Rei Socialis (1987), mengangkat kembali tema pembangunan dan perkembangan (terutama karena dua puluh tahun usaha pembangunan ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan dan daerah miskin ternyata makin miskin dan makin tergantung). Paus Yohanes Paulus II menunjuk pada penindasan dan eksploitasi yang menghalangi segala perkembangan. Cita-cita daerah miskin sering berkiblat pada cita-cita daerah yang kaya, dan kepentingan negara miskin diabdikan pada kepentingan ekonomi dan politik negara kaya. Usaha perkembangan yang dikuasai oleh cita-cita orang kaya berakibat pemiskinan untuk daerah miskin, Supaya dapat terjadi perkembangan, dibutuhkan politik baru, yang berawal dan bertujuan pada kepentingan orang miskin.

Setelah melihat begitu banyak rintangan untuk pembangunan, semacam “faktor negatif yang menghalangi orang untuk menyadari kepentingan bersama dan merintangi mereka untuk melibatkan diri pada kepentingan bersama”, Sollicitudo Rei Socialis lalu berbicara mengenai “struktur-struktur dosa” sebab semua rintangan itu melawan “kehendak Allah yang mahakudus, rencana-Nya dengan manusia, keadilan dan kerahiman-Nya” (SRS 35). Melawan semua kendala itu, dinamika kasih dan keadilan Allah harus dilibatkan dalam usaha perkembangan manusia. Manusia membutuhkan tobat dalam wujud solidaritas atau “tekad mantap dan terus-menerus, untuk bekerja bagi kepentingan umum, bagi kesejahteraan semua orang dan setiap orang, karena kita bertanggung jawab untuk semua” (SRS 38). Untuk melawan kemiskinan dan memajukan perkembangan, dibutuhkan suatu politik keadilan yang “memihak” pada orang miskin dan melawan penindasan dan struktur-struktur dosa dengan percaya akan penebusan dan pembebasan.