Menghadapi permasalah kejahatan dengan Pengorbanan

Jika hati kita tidak mencintai apa yang kita persembahkan (apa yang kita kurbankan) kepada Allah, maka persembahan kita tidak mempunyai nilai atau makna, karena hati kita tidak ada dalam persembahan itu. Namun jika hati kita benar-benar mencintai sesuatu, dan setelah melalui pertimbangan, pergumulan, dan pada akhirnya walaupun ‘berat hati’ kita memilih untuk menyangkal keinginan pribadi kita dan mempersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai itu kepada Allah, maka kita menyerahkan (memasrahkan) kepada Allah …

Ada dua permasalahan kejahatan yang kita hadapi dalam kehidupan kita, dimana kejahatan yang dimaksud adalah tindakan yang bertentangan dengan kebenaran yang dilakukan oleh kita sendiri atau orang lain. Permasalahan yang pertama adalah permasalahan teologi, yaitu: Bagaimana bisa ada kejahatan JIKA ada Allah yang hadir dalam kehidupan adalah Allah yang maha baik, maha bijaksana, dan maha kuasa? Permasalahan teologi ini bagi umat Kristen pada umumnya tidak mempunyai jawaban berbeda secara jelas, dan khususnya tidak menyebabkan perbedaan antara pemahaman ajaran Gereja Katolik dan Kristen non-Katolik. Tetapi Permasalahan yang kedua lah yang menunjukkan adanya perbedaan yang sangat jelas antara pemahaman ajaran Gereja Katolik dan Kristen non-Katolik, yaitu: Apa yang seharusnya kita lakukan terhadap kejahatan itu? Bagaimana cara kita menghadapi kejahatan itu? Pada sisi ajaran Gereja Katolik kita dapat menemukan banyak perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ untuk menghadapi Kejahatan; yang bagi umat Kristen non-Katolik perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ tersebut tidak familiar (kurang dikenal) dan jika pun ada umat Kristen non-Katolik yang mau menggunakan hal-hal tersebut, mereka hanya dapat menggunakan dengan perasaan kurang percaya diri.

Perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ yang dimaksud melingkupi semua hal objek-objek fisik yang berpangkal dari semua sakramen dan sakramentali, yaitu: Misa Ekaristi, Air Suci, Anggur, Roti/Hosti, Minyak Urapan, Liturgi, Doa Orang Kudus, Maria, Biara, Ruang pengakuan Dosa, Altar, Patung, dan juga Prosesi Pengusiran Roh Jahat. Dan selain itu Gereja Katolik juga mengajarkan banyak ‘senjata’ rohani, ‘senjata’ spiritual dan yang ‘senjata’ yang terkuat dari semua adalah Pengorbanan. (umat Katolik melihat Misa Ekaristi secara esensi merupakan sebuah pengorbanan, me-respresentasikan – mengenangkan kembali pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus sendiri di Kalvari.)

Sebuah Pengorbanan, baik yang dilakukan oleh Kristus untuk kita atau yang dilakukan oleh kita untuk Kristus – keduanya adalah suatu transaksi yang nyata. Pengorbanan itu benar-benar menjadikan suatu hal. Pengorbanan tersebut bukan hanya merupakan praktek penyangkalan diri sendiri oleh setiap individu umat Kristen. Namun lebih dari itu, Pengorbanan bermakna penyerahan, persembahan, pemberian.

Hal utama dari pengorbanan, penyerahan, persembahan, dan pemberian bukanlah dalam bentuk materi/fisik, melainkan hati dari yang melakukan pengorbanan, penyerahan, persembahan, atau pemberian itu. Jika kita mengamati ibadah oleh kaum pagan yang mempersembahkan anggur kepada dewa mereka, hanya orang yang berpandangan materialistis sangat dangkal mengira bahwa dewa mereka haus akan minuman alkohol. Sebenarnya yang diinginkan oleh dewa mereka adalah kesetiaan dan kepatuhan dari pemuja mereka. Dan hal mengenai pemberian seperti itu juga benar di dalam Kekristenan, yaitu: Ketika kita mempersembahkan sesuatu yang berharga dan hati kita sangat mencintai sesuatu itu (bahkan sering hati kita ada sedikit ‘berat’ melepaskan sesuatu yang sangat berharga itu) kepada Allah, sebenarnya kita mempersembahkan sesuatu dari hati kita kepada Allah. Jika hati kita tidak mencintai apa yang kita persembahkan (apa yang kita kurbankan) kepada Allah, maka persembahan kita tidak mempunyai nilai atau makna, karena hati kita tidak ada dalam persembahan itu. Namun jika hati kita benar-benar mencintai sesuatu, dan setelah melalui pertimbangan, pergumulan, dan pada akhirnya walaupun ‘berat hati’ kita memilih untuk menyangkal keinginan pribadi kita dan mempersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai itu kepada Allah, maka kita menyerahkan (memasrahkan) kepada Allah; mempersembahkan cinta kita yaitu mempersembahkan hati kita. (Hati dalam bahasa biblis bermakna ‘keinginan’/’kehendak’, bukan ‘perasaan’.) Dengan demikian pengorbanan dan persembahan adalah suatu cara mematuhi perintah Yesus Kristus yang paling pertama dan yang paling besar, yaitu: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.”

Pengorbanan selalu mengakibatkan beban berat bagi kita, penderitaan bagi kita (walaupun demikian pengorbanan itu juga menyebabkan perasaan bahagia yang sangat dalam jika benar-benar pengorbanan dimotivasi oleh iman dan cinta). Namun bukan penderitaan yang menjadi tanda bahwa persembahan kita bernilai, bukan penderitaan yang memberi nilai/makna terhadap suatu pengorbanan; melainkan pengorbanan lah yang memberikan makna terhadap penderitaan kita. Pengorbanan adalah pilihan hati untuk memilih menyerahkan harta hati kepada Allah, melampaui semua hal-hal lain.

Lalu apa hubungannya Persembahan dan Pengorbanan dalam menjawab permasalahan kejahatan yang kita hadapi dalam kehidupan kita?

Dalam ajaran Gereja Katolik, kita diajarkan bahwa penderitaan manusia bersumber dari 3 hal, yaitu: Dunia, Daging, dan Iblis.

“Dunia” yang dimaksud di sini adalah terpuruknya hubungan sosial antara manusia di dunia. Keterpurukan ini adalah sumber kejahatan sosial dan emosional yang berasal dari masyarakat, hubungan sosial, dan institusi-institusi; kejahatan tersebut yang awalnya hanya kesalahpahaman terhadap sesama, berkembang menjadi kebencian terhadap sesama, berkembang lagi menjadi penganiayaan terhadap sesama, pembunuhan terhadap sesama atas nama keyakinan.

“Daging” yang dimaksud di sini adalah kejahatan yang bersumber dari penderitaan yang dialami secara fisik; dan penderitaan yang diakibatkan dari kelemahan kita sendiri, penderitaan dikarena penyakit yang di-‘wariskan’ oleh daging seperti: kanker, kecelakaan, senjata tajam, dan kematian yang perlahan-lahan.

“Iblis” adalah penyebab kejahatan spiritual, terutama mempengarahui manusia ketika menghadapi godaan sehingga menyebabkan manusia itu berbuat dosa. Hal ini juga merupakan penderitaan bagi kita, karena untuk menolak dan menyatakan ‘tidak’ terhadap godaan, kita harus (seperti ada kesan ‘terpaksa’) menyerahkan hal-hal yang tampaknya membahagiakan – yang ditawarkan oleh godaan itu. Karena semua dosa ‘kelihatannya’ adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan ketika kita mulai tergoda; oleh karena itulah makanya kita sering terjatuh dan berbuat dosa. Bila saja dosa tidak terlihat sebagai sesuatu yang membahagiakan/ menyenangkan bagi kita, sudah pasti kita semua akan menjadi santo atau santa. 🙂

Agar manusia dapat menghadapi dan dapat melalui penderitaan-penderitaan tersebut, terdapat rumusan ajaran Gereja Katolik yang telah diajarkan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu: “Persembahan” atau lebih pas jika disebut “Pengorbanan”. Rumusan itu mengajarkan agar umat Katolik menggunakan pengorbanan sebagai senjata untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ajaran rumusan ini mungkin jarang didengar di luar lingkungan Gereja Katolik. Namun Gereja Katolik tetap mengajarkan dan akan terus memperbaharui pemahaman umatnya agar tidak lupa.

“Penyangkalan Diri” merupakan nama lain dari rumusan ajaran Gereja Katolik untuk menghadapi ketiga kejahatan yang telah disebut di atas. Apa yang sebenarnya kita sangkal? Gereja Katolik mengajarkan agar umatnya ‘sangkalkan’ atau ‘menolak’, atau me-‘matikan’ keinginan/hasrat dari hati manusia yang buruk. Dan mempersembahkan apa yang ada di hati kita kepada Allah, bukan sebagai ‘pembayaran’ agar Allah mau campur tangan atau karena pengorbanan darah Yesus Kristus ‘kurang’ cukup; melainkan sebagai cara untuk mempersatukan diri kita dengan tangan Allah (kehendak Allah), dan dengan kurban darah Yesus Kristus dan semua itu berkenan bagi Allah.

10 (Sepuluh) sanggahan Gereja mengenai Reinkarnasi

Kekristenan pada umumnya, dan Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi dengan 10 (sepuluh) alasan:

1. Reinkarnasi bertentangan dengan Kitab Suci (Ibrani 9:27).

manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi

2. Reinkarnasi bertentangan dengan tradisi ortodoks di semua gereja.

3. Pemahaman Reinkarnasi akan mengurangi makna Inkarnasi menjadi seperti suatu perwujudan belaka, makna penyaliban menjadi seperti suatu kecelakaan, dan menjadikan Kristus sebagai hanya salah satu filsuf dari kebanyakan filsuf lainnya atau hanya sebagai salah satu ikon. Paham Reinkarnasi juga membingungkan tentang apa yang dilakukan oleh Kristus dan apa yang dilakukan oleh mahluk ciptaan: antara Inkarnasi dan Reinkarnasi.

4. Reinkarnasi mengartikan bahwa Allah pencipta melakukan suatu kesalahan dengan merancang jiwa, roh manusia untuk hidup dalam tubuh, yaitu manusia yang sebenarnya berupa roh murni terpenjara atau seperti malaikat yang mengenakan kostum.

5. Reinkarnasi bertentangan dengan psikologi dan kewajaran, karena reinkarnasi menunjukan bahwa jiwa/roh yang terperangkap dalam tubuh yang asing menolak kesatuan psikosomatis yang alami.

6.Reinkarnasi memberikan pandangan yang sangat rendah terhadap tubuh/badan, sebagai suatu penjara, suatu penghukuman.

7. Reinkarnasi biasanya menyalahkan tubuh/badan atas dosa yang dilakukan manusia, dan juga menyalahkan kuasa tubuh, karena tubuh lah maka pikiran manusia dapat bingung dan gelap. Reinkarnasi menggeser kesalahan dari jiwa kepada tubuh, seperti dari keinginan kepada pikiran, dan mengaburkan perbedaan antara dosa dengan ketidakpedulian.

8. Menurut paham Reinkarnasi, reinkarnasi yang dialami oleh manusia bertujuan agar manusia belajar dari kegagalan yang dialami dalam pengalaman kehidupannya di masa lampau. Hal ini sangat berbeda dengan kewajaran pada umumnya dan juga berbeda dengan psikologi dasar pendidikan. Sebab kita manusia tidak dapat mempelajari sesuatu hal jika tidak adanya kesinambungan ingatan akan hal yang telah kita terima. Kita hanya dapat belajar dari kesalahan kita sendiri jika kita mengingat kesalahan tersebut. Pada kasus umumnya manusia tidak mengingat kehidupan “reinkarnasi” mereka pada masa lalunya.

9. Bukti yang diharapkan dari Reinkarnasi adalah ingatan akan kehidupan masa lalu yang dapat dicoba dengan usaha hipnotis, atau ‘regresi kehidupan masa lalu’, sehingga dapat dijelaskan (jika memang usaha tersebut dapat berhasil) sebagai telepati mental dari mahluk hidup, atau dari roh manusia yang telah mati di dalam purgatory atau neraka, atau bahkan dari iblis. Kemungkinan dari pemahaman ini akan mengarahkan kita menjadi sangat penasaran untuk membuka jiwa kita kepada ‘regresi kehidupan masa lalu’.

10. Reinkarnasi tidak dapat mendefinisikan pemahamannya sendiri. Mengapa jiwa/roh kita terpenjara dalam tubuh-tubuh kita? Apakah karena kesalahan atau perbuatan jahat kita pada ‘reinkarnasi’ kehidupan masa lalu kita? Tetapi mengapa ‘reinkarnasi’ yang sebelumnya perlu terjadi? Apakah semuanya karena alasan yang sama? Lalu bagaimana dengan masa paling awal, masa permulaan proses ‘reinkarnasi’, apakah tiba-tiba jiwa/roh kita langsung terpenjara dalam tubuh yang awal sekali tanpa sebab? seharusnya ada deret tubuh-tubuh yang terdahulu. Jika tanpa sebab, yang pada awalnya jiwa/roh kita masih sangat sempurna, murni, dan suci bagaimana kita dapat melakukan sesuatu kejahatan atau kesalahan sehingga ‘dipenjarakan’ ke dalam tubuh duniawi yang awal. Jika pada awalnya jiwa/roh kita yang sempurna, murni, dan suci itu berada di surga, dan karena disebabkan dosa yang telah kita ‘lakukan’ maka kita mengalami reinkarnasi, maka sebenarnya itu bukan surga sama sekali. Bukankah keadaan proses reinkarnasi seharusnya mengarahkan kita untuk kembali setelah semua hasrat kita yang terkandung sudah berakhir?

Jika jawaban yang diberikan adalah bahwa tubuh kita bukanlah ‘hukuman’ untuk dosa tetapi merupakan ilusi dari kepribadian, yaitu sang ‘Satu’ seperti yang dipahami dalam Panteisme yang menjadi banyak dalam kesadaran manusia, dan tidak ada penjelasan yang diberikan mengenai paham ini. Dan benar demikian, kepercayaan Hindu menyebutnya lila, ‘permainan’ ilahi. Tetapi hal itu tidak mudah diterima. Karena jika sang ‘Satu’ itu adalah kesempurnaan, mengapa kesempurnaan memainkan ‘permainan’ yang tidak sempurna? Semua dosa dan penderitaan yang dialami di dunia disepelekan menjadi tidak mempunyai arti, ‘permainan’ yang tidak dapat dipahami.

Dan jika kejahatan itu sendiri hanya merupakan sesuatu yang ditimbulkan dari angan-angan, bersifat ilusi (menurut pendapat beberapa mistikus), maka eksistensi dari kejahatan itu sendiri adalah nyata dan bukan sekedar kejahatan yang bersifat ilusi. Santo Agustinus dari Hippo menuliskan poin tentang kejahatan:

Kapan sesuatu disebut kejahatan, dan apa sumber dari kejahatan itu, dan bagaimana kejahatan itu bisa merasuki dan mempengaruhi ciptaan? Apa akar dari kejahatan, apa benih dari kejahatan? Dapatkah kejahatan itu adalah suatu  keseluruhan tanpa dijadikan? Tetapi mengapa kita harus takut dan berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak ada? Ataukah jika ketakutan kita tidak berdasar, lalu yang paling kita takutkan itulah sesuatu kejahatan. Oleh karena itu hati kita dibawa dan disiksa tanpa sebab; dan yang paling buruk kejahatan itu adalah jika tidak ada yang perlu ditakutkan namun kita tetap merasa takut. Oleh karena itu apakah kejahatan itu ada makanya kita takut, atau faktanya ketakutan kita itu adalah kejahatan.