Pekan Suci.. tidak meriah?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy.jpgHari minggu kemarin tanggal 13 April 2014, yaitu Minggu Palma merupakan awal dari pekan suci. Umat Gereja Katolik disibukkan dengan rangkaian persiapan untuk merayakan puncak pekan suci yaitu pada 7 hari kemudian: Minggu Paskah. 5 (lima) rangkaian perayaan khusus pada pekan suci dimulai dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Dilihat dari kemeriahan yang nanti pada puncaknya yaitu pada hari Minggu Paskah, atau hari raya Paskah, terkadang bagi teman-teman kita yang bukan non-katolik mengira bahwa hari raya Paskah tidak semeriah natal, karena cenderung terkesan ‘berkabung’.

Ya memang seperti itu kesannya… tapi kita dapat menjawab hari raya Paskah tidak kalah meriahnya dengan hari raya Natal, lebih tepatnya meriah pada hari Minggu Paskah, atau lebih terarah lagi dengan memberi tambahan “Yesus Kristus Bangkit!”.  Namun hari sebelum hari Minggu Paskah yang meriah itu, umat katolik menjalani rangkaian perayaan yang mungkin ‘membingungkan’ bagi teman-teman kita yang non-katolik, apalagi kalau sampai mereka melihat cambuk dan mahkota duri. 🙂

Coba saja bayangkan apa kira-kira yang mereka amati sepanjang pekan suci ini? Dimulai pada hari Minggu Palma (awal pekan suci) dimana umat yang melambai-lambaikan daun palma bersorak-sorai ‘hosana’ menyambut Yesus sang Raja, mesias yang dinantikan untuk membebaskan manusia dari penindasan. Dan setelah itu umat mengikuti perayaan perjamuan kudus bersama Yesus, dan Yesus membasuh kaki umat-Nya, namun setelah itu umat-Nya tiba-tiba menyelinap meninggalkan perjamuan kudus itu dan mengkhianati Yesus. Kemudian beberapa umat yang mengambil peran dalam jalan salib yang berteriak ‘Salibkan DIA!’, meminta kepada Pilatus agar menyalibkan Yesus. (huh? kok? …). Yesus yang meminta umat-Nya agar tetap tinggal bersama DIA, umat-Nya awalnya berjanji akan setia, tapi umat-Nya ada yang meninggalkan DIA. Yesus ditahan dan didera, Yesus mengampuni umat-Nya walaupun umat-Nya tidak setia, dan umat-Nya lari bersembunyi karena takut bernasib sama. Kemudian Yesus dibunuh, disalibkan – umat-Nya menurunkan Yesus dari salib dan menguburkan-Nya, sambil menangis sedih. Kemudian hari berikutnya umat-Nya kembali mengunjungi kuburnya, namun Yesus tidak ada di dalam kubur. Kemudian Yesus kembali, menampakan diri-Nya kepada umat-Nya dan kemudian… ternyata Yesus Kristus Bangkit dari mati!

Dari gambaran yang coba kita bayangkan itu, maka tidak lah heran bahwa begitu banyak persiapan, dan bacaan, dan lagu, dan pergantian kostum, untuk mengisahkan kejadian itu. Maka tidak heran juga kalau ada yang mengatakan bahwa perayaan Pekan Suci dapat berkesan seperti simbolis dan retorika belaka. Itu juga belum menyinggung soal tali cambuk yang dipegang oleh umat yang berperan sebagai tentara romawi sewaktu mendera Yesus, mahkota duri, jubah yang sobek, pantang dan puasa, ratapan-ratapan, dan nyanyian luapan kegembiraan. Sangat kompleks dan padat. Sangat kontras dengan teman-teman kita yang non-katolik tapi juga merayakan Paskah, dengan membawa tema Kelinci Paskah. 🙂

Semua rangkaian perayaan panjang dan rumit dalam Pekan Suci itu memberikan banyak hal, dan yang mendasari semua perayaan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus lah yang selalu menggerakkan semua hati umat untuk mau berkumpul bersama-sama – untuk menjadi saksi Kristus, untuk menerima Kristus, dan untuk menjadi Kristus.

Umat menjadi saksi Kristus dalam nyanyian dan kisah sepanjang Pekan Suci. Pada Minggu Palma, umat berkumpul di luar ruangan, di tengah jalan raya, berarak-arak sambil melambaikan daun Palma. (walaupun tidak jarang banyak umat yang merasa agak sungkan, malu, karena dianggap aneh.. )

Umat juga menerima Kristus sepanjang Pekan Suci – bahkan ketika ada jiwa umat yang sedang sakit penuh dengan dosa atau hati umat yang penuh kesedihan berusaha menolak Kristus agar menjauh.

Dan umat juga menjadi Kristus. Kita mengenal perkataan “terberkatilah yang datang atas nama Tuhan”. Setelah umat menerima Kristus, seperti seorang hamba menerima segala sesuatu dari sang Raja; – darah-Nya, tubuh-Nya, jiwa-Nya, roti dan anggur dari DIA diserahkan kepada umat-Nya. Kita mengampuni diri kita sendiri dan sesama, kita melayani, dan masuk ke dalam dan ikut memikul penderitaan-Nya; kita sebagai umat-Nya menawarkan seluruh diri kita kepada Allah dan sesama kita agar kita dapat siap mati dan lahir kembali bersama Kristus.

Oleh karena itu tidaklah mungkin memuatkan semua misteri itu dalam satu kartu ucapan ‘Selamat Pekan Suci’ atau ‘Selamat Paskah’ seperti dalam kartu ucapan ‘Selamat Natal’; tidak ada cara yang ‘cukup’ untuk menyampaikan besarnya Sengsara yang telah dilalui, Kasih, dan Pengorbanan Yesus Kristus, bahkan rangkaian Pekan Suci yang kita lakukan, sepanjang satu minggu, lengkap dengan liturgi yang rumit. Namun dengan adanya Pekan Suci kita mendapat kesempatan untuk sekali lagi menjadi saksi Kristus, menerima Kristus, dan menjadi Kristus. Kapan saja dan dimana saja kita menyadari bahwa kita tidaklah sendirian, entah ketika kita sedang berjalan di bawah terik matahari, di saat kita sedang benar-benar merasa tenggelam, terduduk berjam-jam dalam merenung dan gundah di tepi tempat tidur kita; atau ketika kita sedang bergembira dengan kelahiran bayi atau sedang berduka atas kehilangan orang yang kita kasihi, kita tidak pernah sendiri, ada Yesus Kristus yang telah melalui semua itu dan DIA lakukan untuk kita. Yesus Kristus menarik kita lebih dekat satu sama lain, lebih dekat kepada Allah, dan lebih dekat, selalu, Paskah.

Salam

Dosa Asal

Wafat Kristus bukanlah hukuman Allah yang khusus, yang dikenakan pada Kristus, sebagai ganti kita semua. Wafat Kristus berarti solidaritas-Nya dengan umat manusia yang harus mati karena dosa. Kristus tidak luput dari situasi kedosaan, dan karena itu mengalami maut. “Situasi kedosaan” ini sering juga disebut dengan istilah dosa asal, walaupun keduanya tidak tepat sama. Dosa asal memang berarti suatu “keadaan dosa”, yang meliputi umat manusia seluruhnya. Situasi kedosaan umat manusia sekarang ini bukan hanya akibat dosa asal, tetapi juga disebabkan oleh sejarah kedosaan manusia. Menurut ajaran Kitab Suci sejarah manusia memang mulai dengan dosa Adam dan Hawa, dan selanjutnya ditandai oleh kedosaan itu, sehingga setiap orang yang lahir di dunia ini terkena oleh situasi kedosaan itu. Maka kata “dosa asal” mempunyai arti ganda: dosa pada awal sejarah umat manusia seluruhnya (Adam dan Hawa) dan dosa pada permulaan sejarah kehidupan setiap orang yang lahir di dunia ini (yang disebut “dosa” bayi). Antara kedua itu ada hubungan kait-mengait. Karena ada dosa pada awal sejarah umat manusia, maka setiap orang yang lahir dalam perkembangan sejarah itu terkena oleh situasi kedosaan. Namun perlu diperhatikan bahwa dosa asal yang didapati setiap orang yang lahir di dunia ini, merupakan dosa dalam arti yang khusus. Dari satu pihak sungguh dosa yang menjauhkan dari Allah, dari pihak lain bukan dosa berdasarkan kesalahannya sendiri. Kekhususan dosa ini tidak mudah dimengerti dan memerlukan keterangan khusus.

Pertama-tama harus ditanyakan: apa itu dosa? Pertanyaan ini biasanya dijawab, dosa itu melanggar perintah Tuhan dengan sengaja. Itu benar, tetapi tidak lengkap, sebab bagaimana orang dapat mengetahui perintah Allah? Santo Paulus sudah berkata, bahwa orang “yang tidak memiliki hukum Taurat, oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat; isi hukum Taurat tertulis dalam hati mereka” (Rm 2:14-15). Tetapi orang merumuskan hukum itu dengan cara yang berbeda-beda. Ternyata suatu norma etis yang abstrak (ialah cita-cita kehidupan yang ideal) belum menjadi motivasi untuk tindakan konkret. Norma kehidupan bukanlah apa yang memajukan perkembangan umat manusia pada umumnya, melainkan apa yang memajukan hidup yang konkret, kini dan di sini. Karena manusia tidak hidup sendirian, norma kehidupan biasanya juga diambil dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Melanggar norma at au peraturan itu salah, karena mengganggu hidup bersama manusia. Tetapi dengan kata “dosa” dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah, yang “seharusnya” ada, ternyata tidak ada. Itu bisa karena salah manusia sendiri, atau kesalahan orang lain. Dosa asal berarti bahwa hubungan dengan Allah terhalang oleh dosa Adam. Bukan karena Adam dan Hawa menghilangkan rahmat yang diperuntukkan bagi semua orang, melainkan karena rencana keselamatan Allah menyangkut umat manusia sebagai keseluruhan. “Allah bermaksud menguduskan dan menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya. Tetapi Ia hendak membentuk mereka menjadi umat.” (LG 9). Lebih jelas lagi, “semua orang yang dipilih oleh Allah dari semula, ditentukan-Nya dari semula pula menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29). Seluruh umat manusia diciptakan dalam kesatuan dinamis yang menuju kesamaan dengan Kristus.

Allah tidak mengutus Anak-Nya ke dunia, ketika semua sudah kacau oleh dosa Adam. Dari semula Allah mempunyai rencana “untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala” (Ef 1:10). Maka Kristus juga disebut “yang sulung, yang pertama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15). Dilihat dari sudut Allah, manusia pertama bukanlah Adam, melainkan Kristus. Adam hanyalah “gambaran dari Dia yang akan datang” (Rm 5:14), sebab Adam diciptakan menurut citra Kristus. Allah menciptakan manusia karena ingin membuat makhluk yang dapat dikasihi-Nya. Oleh karena itu, Ia menciptakan manusia menurut citra Anak yang terkasih. Kristus itu gambaran manusia sebelum segala zaman. Manusia “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak Allah, supaya Ia, Anak Allah itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Rencana Allah ialah sejarah manusia yang menuju keserupaan dengan Kristus.

Akan tetapi, rencana itu tidak terjadi. Semenjak kedosaan Adam, manusia menutup diri dan makin mencari diri sendiri sebagai tujuan hidupnya. Ternyata sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan, yang makin terpusatkan pada diri manusia sendiri dan makin jauh dari Allah dan Kristus. Kalau dikatakan bahwa dari semula manusia berdosa, yang dimaksudkan ialah bahwa seluruh umat manusia, tanpa kecuali adalah pendosa: “Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih-karunia mereka dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm 3:24). Dengan mengikuti jejak Kristus manusia menemukan orientasi kembali kepada Allah. Tetapi dari dirinya sendiri manusia sudah tidak mempunyai orientasi dasar itu. Segala perbuatan jahat pada dasarnya merupakan perwujudan kejahatan dasariah manusia. Orientasi kepada dirinya sendiri, sebagai kejahatan dasariah, dapat membahayakan orientasi manusia kepada Allah dan sering menjadi penghambat iman juga.

Yohanes berkata bahwa Allah sebenarnya hanya memberikan dua perintah saja, yaitu “supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23). Kedua perintah itu kait-mengait. Kenyataan bahwa manusia tidak terorientasi lagi kepada Allah, dan Anak-Nya Yesus Kristus, mengakibatkan bahwa ia juga tertutup terhadap sesamanya. Sebab “barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). Peperangan dan permusuhan di antara manusia sangat jelas memperlihatkan bahwa manusia tidak lagi terarah kepada Kristus, yang “datang untuk memberitakan damai-sejahtera” (Ef 2:17). Umat manusia tidak lagi mempunyai orientasi kesatuan yang dikehendaki Allah, tetapi terpecah-belah di antara mereka sendiri. Konsili Vatikan II mengatakan,

“Bila melihat dalam diri sendiri, ditemukan bahwa manusia cenderung berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahan hidup yang tepat kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh harmoni dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan” (GS 13).

Situasi kedosaan bukan hanya sesuatu dalam batin manusia, melainkan menyangkut seluruh hidupnya, baik dalam relasi dengan sesama manusia, maupun dengan dunia material seluruhnya.

Apa yang diketahui dari Kitab Suci dan ajaran Gereja, juga jelas dari sejarah manusia sendiri (dan sering menjadi tema dalam kesusasteraan). Dasar segala konflik antara manusia adalah iri hati, yang berpangkal pada persaingan untuk merebut tempat yang paling unggul. Maka sesama yang mau ditiru dan dicontoh, sekaligus menjadi musuh yang mau diungguli dalam persaingan yang ketat. Persaingan dan iri hati itu sering menjadi begitu hebat hingga orang mau melampiaskan emosi kekecewaannya ke mana saja. Agresi yang bertumpuk-tumpuk sering mencari sasaran lain, kalau tidak dapat mengalahkan orang yang disaingi. Massa sudah tidak mengetahui mengapa harus marah dan melampiaskan rasa frustrasinya dalam penghancuran yang membabi-buta. Tidak jarang dicari “tumbar” guna menghilangkan rasa frustrasi kolektif itu dalam pembunuhan tanpa alasan. Kejahatan sering “menular” ke mana-mana sebagai jalan keluar dari tekanan emosi persaingan dan frustrasi. Dalam kejahatan seperti itu, yang berdasarkan ketegangan antara manusia sendiri, sering sudah tidak jelas siapa penjahat dan siapa korban. Maka tidak mengherankan bahwa dia yang dibunuh, kemudian dihormati sebagai pahlawan. Sering orang tidak mengetahui lagi asal-usul kejahatan.

Apa yang mau dinyatakan oleh kisah Adam dan Hawa sebetulnya tidak lain daripada kebenaran, bahwa konflik antara baik dan jahat mengena pada akar-akar hidup manusia. Kejahatan itu tidak datang dari Allah, yang menciptakan manusia demi kebahagiaan, melainkan muncul dari kebebasan hati manusia sendiri. Allah menawarkan kepada manusia supaya menjadi serupa dengan Anak-Nya sendiri. Manusia dapat “menjadi seperti Allah” (Kej 3:5), tetapi keluhuran itu harus diterima dari Allah sebagai anugerah, tidak dirampas sebagai kemenangannya sendiri.

Allah menciptakan manusia supaya menjadi satu dengan-Nya. Tetapi manusia sendiri menolak. Kapan? Setiap saat. Itulah sikap dasar manusia. Ia tidak mau menerima kebahagiaannya dari tangan Allah, tetapi mau membuatnya sendiri, menurut rencana dan kehendaknya sendiri. Kebahagiaan manusia tergantung pada Allah yang menciptakannya, tetapi juga pada manusia sendiri yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebas-merdeka.

Allah tetap menawarkan kebahagiaan kepada manusia, dan manusia tetap diberi kemungkinan menerimanya. Syaratnya, ialah bahwa manusia melepaskan diri dan menyerahkan diri kepada kebaikan Allah. Sekali diciptakan sebagai makhluk yang bebas manusia selalu mempunyai kecenderungan menutup diri dan membuat diri sendiri sumber segala kebahagiaan. Manusia lupa bahwa ia makhluk dan bukan pencipta. Maka akhirnya dosa asal tidak lain daripada misteri kejahatan manusia: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm 7: 19). Misteri dosa asal adalah misteri manusia yang seluruhnya tergantung pada Allah, dan sekaligus seluruhnya “diserahkan kepada keputusannya sendiri” (GS 17). Bebas dalam ketaatan; atau dipanggil agar taat dalam kebebasan.

Sengsara, Wafat, dan Pemakaman

Pada akhir pengadilan di muka Pilatus, Markus (15:15) berkata, “Pilatus membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya, lalu diserahkannya untuk disalibkan” (lih. Mat 27:26). Yesus didera serta dimahkotai duri, dan itu sebenarnya sudah merupakan awal penyaliban-Nya. Lukas (23:25) berkata: ‘‘Yesus diserahkan kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya” (lih. Yoh 19:16). Lalu mulai jalan salib, yang oleh setiap pengarang Injil diceritakan dengan caranya sendiri. Yohanes (19:16-17) sangat singkat, Injil sinoptik (Mrk 15:21 dst.) menyebut Simon dari Kirene, dan Lukas (23:27-31) juga berbicara mengenai perjumpaan dengan wanita-wanita Yerusalem. Semua amat sederhana.

Begitu pula kisah penyaliban. Pertama-tama disebut peristiwa penyaliban sendiri di gunung Golgota (Mrk 15:22-26). Oleh Matius dan Markus secara khusus disebut “anggur bercampur empedu”, yang dimaksud sebagai semacam “obat penenang”, tetapi ditolak oleh Yesus. Permohonan ampun untuk mereka yang menyalibkan Yesus terdapat dalam kebanyakan naskah Lukas (23:34). Semua pengarang Injil berbicara mengenai pembagian pakaian Yesus, tetapi Yohanes (19:23) menegaskan bahwa jubah tidak dibagi, melainkan diundi. Semua pengarang Injil juga menyebut tulisan di atas salib, yang menurut Yoh 19:20-22 kemudian dipersoalkan oleh orang Yahudi (“Jangan menulis: Raja orang Yahudi; tetapi: Ia berkata Aku ini raja orang Yahudi”). Bahwa ada dua orang yang disalibkan bersama Yesus, dikatakan juga dalam semua Injil. Sinoptik juga berbicara mengenai olok-olok, tetapi Yohanes tidak. Semua berkata bahwa Yesus haus, tetapi Yohanes (19:28-30) memberi tekanan pada peristiwa ini. Juga hanya Yohanes (19:25-27) yang menceritakan bagaimana Yesus menyerahkan Ibunya kepada murid-Nya dan menyerahkan rasul Yohanes kepada Maria. Pengampunan penjahat yang baik hanya terdapat pada Lukas (23:39-43).

Wafat Yesus disertai kegelapan, yang hanya disebut dalam Injil sinoptik. Juga dikatakan bahwa “tabir Bait Suci terbelah dua” (Mat 27:51 dsj.) dan ada tanda-tanda lain. Dalam Injil sinoptik juga diceritakan kesaksian kepala pasukan, dalam rumusan yang agak berbeda. Begitu juga sabda terakhir Yesus sendiri dirumuskan secara lain-lain oleh masing-masing pengarang. Menurut Mrk 15:34 Yesus berkata: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, sesuai dengan Mzm 22:2, Mat 27:46 hampir sama. Tetapi Luk 23:46 berbunyi: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata, “Sudah selesai”. Jelas sekali bahwa Injil-injil tidak bermaksud “melaporkan” sabda Yesus.

Rumusan Yohanes tentu harus dihubungkan dengan Yoh 4:34: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Salib merupakan puncak ketaatan Yesus kepada Bapa. Hal yang sama juga mau dinyatakan oleh Injil-injil yang lain. Kepercayaan yang diungkapkan dalam Luk 23:46 juga ditunjuk oleh Matius dan Markus, yang mengutip Mzm 22, yang dalam ay. 25 berkata: “Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas”.

Sesudah wafat-Nya Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan. Yang memakamkan Yesus ialah Yusuf dari Arimatea, yang namanya disebut dalam semua Injil. Menurut Yoh 19:29 ia dibantu oleh Nikodemus. Beberapa wanita dari Galilea juga disebut. Sebelum Yesus diturunkan dari salib, diminta izin dahulu dari Pilatus. Menurut Mrk 15:44 “Pilatus heran bahwa Yesus sudah mati” dan minta keterangan dari kepala pasukan.

Mengenai hal itu Yohanes memberi kesaksian panjang dan sangat resmi: Hati Yesus ditikam oleh serdadu guna membuktikan kematian-Nya (Yoh 19:31-37). Kemudian jenazah Yesus dibaringkan dalam “kubur baru, yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang” (Yoh 19:41; lih. Luk 23:53). Matius (27:62-66) menambahkan, bahwa dengan persetujuan Pilatus makam itu dimeterai dan dijaga oleh orang Yahudi. Yesus dihukum mati dan disalibkan sebagai seorang “penjahat”. Memang, sesudah wafat-Nya Ia dimakamkan penuh hormat dan kesalehan oleh sahabat-sahabat-Nya, tidak bersama dengan kedua orang tersalib yang lain. Namun kehormatan sesudah wafat-Nya tetap tidak dapat menutupi kehinaan dan kerendahan kematian-Nya di kayu salib.

Yang menurut hukum dapat disalibkan sebenarnya hanyalah budak dan penjahat, yang sungguh melakukan kejahatan yang besar. Salib merupakan hukuman yang hanya dipakai terhadap orang yang dijajah. Kengerian salib begitu besar, sehingga menjadi “batu sandungan” bagi banyak orang (lih. Gal 5:11). Salib bukanlah sesuatu yang “biasa”, melainkan suatu penghinaan yang amat luar biasa. Bukan hanya karena penderitaan fisiknya, tetapi terutama karena arti sosialnya: orang yang disalibkan kehilangan segala kehormatan dan penghargaan dalam masyarakat. Adanya hukuman yang sekeras itu, menunjukkan bahwa seluruh masyarakat bersikap keras dan kurang berperikemanusiaan. Para lawan Yesus sungguh membenci-Nya dengan kebencian yang sangat bengis dan ingin membinasakan-Nya secara total, tidak hanya sebagai seorang pribadi, melainkan justru sebagai tokoh masyarakat. Penyaliban selalu mempunyai arti sosial-politik, sering juga bertujuan menakut-nakuti orang. Hanya para musuh Yesus berani memandang-Nya di kayu salib, dan mengolok-olokkan-Nya. Para Rasul dan lain-lain lari karena tidak tega. Salib merupakan tanda penolakan total terhadap Yesus.

Mengapa Yesus dihukum Mati ?

“Yesus berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia”, kata Kitab Suci (Kis 10:38). Namun Ia disalibkan sekitar umur 30 tahun sebagai seorang “pemberontak” dan “perampok”. Padahal, Yesus tidak pernah mencita-citakan kekuasaan politik (lih. Yoh 6:15; Mrk 8:29-30). Maka perlu ditanyakan bagaimana mungkin Yesus dihukum mati sebagai tahanan politik? Untuk itu perlu diperhatikan pengadilan Yesus sendiri dan apa yang dituduhkan terhadap Yesus.

Adakah pertemuan Mahkamah Agung merupakan sidang resmi atau tidak, kurang jelas. Dalam Mat 26:3-4 dikatakan, “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia” (lih. juga Mrk 14:1; Luk 22:2). Pertemuan yang terjadi beberapa waktu sebelum Yesus dihukum mati ini rupanya bersifat tidak resmi. Namun mengenai perundingan itu Yohanes (11:47) sudah berkata: “Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul”. Sebetulnya orang Farisi tidak berhak ikut Mahkamah Agung. Maka barangkali Yohanes tidak terlalu membedakan antara sidang resmi dan tidak resmi. Begitu juga sidang berikut yang disebut oleh Injil sinoptik (Mat 26:57, Mrk 14:53, Luk 22:66) belum tentu sidang resmi.

Rumus Mat 26:57, Mrk 14:55, “imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agung”, agak kabur; dan sidang resmi pada malam hari (lih. Mat 26:20, Mrk 14:17; Mat 27:11 Mrk 15:1) tidak sah. Maka Lukas (22:66) memindahkannya ke siang hari. Kemungkinan besar bahwa “sidang Mahkamah Agung” tidak lain daripada pertemuan beberapa orang (penting) saja di tempat Kayafas (menurut Yohanes, 18:13-24, “mula-mula kepada Hanas”, sesudah itu “Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas”). Sifat tidak resmi mungkin dapat disimpulkan juga dari jawaban orang Yahudi kepada Pilatus: “Kami tidak diperbolehkan membunuh orang” (Yoh 18:31). Maksudnya mungkin: Kami tidak diperbolehkan menyalibkan orang. Hukuman mati cara Yahudi berarti rajam. Mungkin juga, bahwa Pilatus mau mengontrol hukuman mati. Pendek kata, kemungkinan besar bahwa sidang orang Yahudi bersifat “sementara” saja.

Sama halnya dengan sidang di hadapan Pilatus. Terhadap seorang terdakwa yang bukan warga-negara Roma, Pilatus bisa bertindak menurut kebijakannya sendiri, tidak perlu banyak prosedur. Kalau Pilatus berpendapat bahwa tuduhan terhadap Yesus mempunyai dasar, ia dapat menjatuhkan hukuman. Dari papan di atas salib, jelaslah bahwa Yesus memang dihukum mati oleh Pilatus, dan bahwa alasan yang dibawakan bersifat politik “Raja orang Yahudi”.

Bagaimana Yesus dapat dihukum mati atas tuduhan politik, kalau Ia sendiri menolak segala kehormatan dan kegiatan politik? Kiranya jawaban terdapat dalam pertanyaan imam agung: “Apakah Engkau Mesias?” (Mat 26:63 dst.), artinya “raja Israel” (Mrk 15:30). Gelar “Mesias” mempunyai arti ganda, arti keagamaan dan arti politik. Hal itu ditunjukkan oleh jawaban Yesus kepada Pilatus dalam Injil Yohanes (18:34). Tetapi apa alasan imam agung bertanya kepada Yesus perihal Mesias, itu tidak jelas.

Sebagai suatu hipotesis, mungkin dapat diberikan keterangan yang berikut ini: Yesus mengusir orang dari kenisah (Mrk 11:15-17 dst.; lihat juga Yoh 2:13-17). Hal itu diketahui oleh Pilatus (yang mempunyai istana tepat di samping kenisah). Karena perayaan Paska, yang mengenangkan pembebasan Israel dari Mesir, adalah “hari kemerdekaan” orang Yahudi, maka tidak jarang terjadi unjuk rasa pada hari itu. Bisa jadi bahwa huru-hara di kenisah, yang disebabkan oleh kelompok orang Galilea itu, yakni Yesus dan para rasul-Nya, memberi kesan bahwa ada unjuk rasa atau bahkan pemberontakan. Waktu itu ada suatu persetujuan antara para penjajah dan orang Yahudi, bahwa orang Roma (yang najis dalam pandangan Yahudi) tidak akan menginjak tempat suci. Maka wewenang atas kenisah atau bait Allah telah diserahkan kepada imam agung. Oleh karena itu mungkin sekali bahwa Pilatus minta pertanggung-jawaban dari Kayafas atas huru-hara yang terjadi di kenisah. Kalau demikian, maka pertemuan Kayafas dan kawan-kawannya (Yoh 11:47-50; juga Mrk 11:18 dst.) dimaksudkan untuk membicarakan masalah ini. Mereka mengambil keputusan menyerahkan Yesus kepada Pilatus, sebab sudah lama “mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak menganggap Dia nabi” (Mat 21:46 dst.). Sekarang ada kesempatan: Tentara Pilatus telah menangkap seorang pemberontak, yang namanya Barabas. Mereka minta (barangkali diam-diam) “supaya Barabas dibebaskan” (Mat 27:20 dst.), dan sebagai ganti Barabas mereka menyerahkan Yesus. Mungkin sekali bahwa tuduhan di atas salib semula dimaksudkan untuk Barabas, dan kemudian dikenakan kepada Yesus karena permainan orang Yahudi. Alasannya adalah pembersihan kenisah. Tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap Yesus serta pertanyaan imam agung sebenarnya berhubungan dengan perlawanan yang sudah lama ada antara Yesus dan para pemimpin Yahudi.

Akhirnya harus dikatakan bahwa Yesus menjadi kurban kebencian dan permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama hukum Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan. Mungkin alasan konkret bertindak melawan Yesus adalah pembersihan kenisah (lih. Mrk 11:28 dst.). Tetapi dasar yang sesungguhnya ialah pewartaan Yesus yang dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin agama Yahudi.

Baca juga : Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata? atau dengan kasih, ketaatan, dan menyerahkan hidupnya

Yesus disalibkan, wafat, dan dimakamkan

Yesus rupanya sadar bahwa “bencana” yang maha dahsyat akan menimpa-Nya tanpa ampun. Sebagai manusia Ia tentu takut, bahkan takut sekali. Ia sedemikian takut sampai keringat dingin mengucur bercampur darah. Pada saat itulah, di taman Zaitun, tercipta sebuah doa yang paling indah yang pernah diucapkan oleh seorang anak manusia di bumi ini: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42).

Lalu Yesus dikhianati oleh sahabat-Nya dengan ciuman. Ia dijual dengan harga 30 perak. Karena sudah dijual, Ia ditangkap. Ia dihadapkan ke pengadilan agama. Ia didakwa bertubi-tubi, ia berdiri di sana tanpa seorang pembela pun. Malahan di luar pengadilan itu, seorang sahabat kepercayaan-Nya dengan bersumpah mengatakan secara terbuka bahwa ia tidak mengenal Yesus. Apa yang menimpa Yesus pada malam itu? Bencana tidak hanya berhenti di situ saja. Atas nama seluruh bangsa, para rohaniwan menyerahkan Dia kepada pemerintah penjajah supaya diadili. Mereka sudah mengatur skenarionya: Yesus harus mati. Dan itu terjadi. Pengadilan di depan Pilatus itu hanya untuk memenuhi formalitas saja. Semua sudah diatur. Pemerintah penjajah pun tidak keberatan. Demi kepentingan politik dan stabilitas, apalah artinya satu nyawa dihilangkan! Yesus akhirnya dijatuhi hukuman mati. Pelaksanaan hukuman mati itu pun berjalan mulus. Itulah akhir perjalanan hidup Yesus.

Makna Kematian Yesus

Dalam 1Kor 15:3-5 terdapat suatu rumusan iman Kristen yang singkat sekali, yang mungkin oleh Paulus diambil alih dari katekese umat. Sebagai ringkasan Injil, ia menyebutkan:

bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan kitab-kitab suci,
bahwa Ia dimakamkan,
bahwa Ia dibangkitkan pada hari yang ketiga,
sesuai dengan kitab-kitab suci,

bahwa Ia tampak kepada Kefas,
lalu kepada Kedua belas (rasul),
lalu tampak kepada lima ratus saudara lebih (kebanyakan dari mereka
masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa telah meninggal),
lalu tampak kepada Yakobus,
lalu kepada semua rasul,
terakhir dari semua Ia juga tampak kepada saya, bagaikan kepada anak
yang lahir sebelum waktunya.

Pokok Injil kecil ini adalah empat peristiwa besar, yaitu kematian, pemakaman, kebangkitan, dan penampakan. Yang mengesankan adalah bahwa hanya mengenai wafat dan kebangkitan dikatakan “sesuai dengan Kitab-kitab Suci”. Paulus tidak berkata “sesuai dengan Kitab Suci” lalu mengutip ayat tertentu. Dengan “Kitab-kitab Suci” dimaksudkan seluruh Kitab Suci. Maka “sesuai dengan Kitab-kitab Suci” sama dengan sesuai dengan karya atau rencana keselamatan Allah. Khususnya mengenai wafat dan kebangkitan Kristus dikatakan bahwa di dalamnya karya keselamatan Allah terlaksana. Pemakaman dan penampakan ialah tanda bagi manusia: Pemakaman tanda kematian; Pilatus baru memberi izin pemakaman, ketika terbukti bahwa Yesus sudah mati. Penampakan tanda kebangkitan; maka satu demi satu disebutkan orang-orang yang mengalami penampakan. Masih disebut satu keterangan lain lagi mengenai wafat Yesus “karena dosa-dosa kita”, Dalam 1Tes 2:15 dikatakan, bahwa “orang Yahudi membunuh Tuhan Yesus”. Dari kisah Injil kelihatan bahwa itu memang tepat. Dilihat dari sudut sejarah, wafat Yesus harus disebut pembunuhan. Tetapi dilihat dari sudut karya Allah, artinya dengan pandangan iman, Paulus mengartikannya sebagai wafat “karena dosa-dosa kita” (lihat Gal 1:4; Rm 8:3; juga 2Kor 5:21) atau lebih biasa: “karena” atau “untuk” kita (1Tes 5:10; lihat Rm 5:6.8; 8:32; 14:15; dst.). Biasanya dikatakan bahwa dengan kata-kata itu dimaksudkan wafat Kristus sebagai kurban untuk melunasi dosa-dosa kita. Tetapi Paulus tidak pernah memakai kata “kurban” untuk kematian Yesus. Hanya surat Ibrani (9:23-10:18) berbicara mengenai kurban Kristus, tetapi dalam perbandingan dengan kurban-kurban Perjanjian Lama; jadi hanya dalam arti kiasan.

Mrk 10:45 mengatakan, “Anak Manusia datang untuk memberikan nyawa-Nya (sebagai) tebusan bagi banyak orang”. Ini juga bahasa kiasan. Sebab “(uang) tebusan” adalah istilah yang sebetulnya berasal dari dunia pegadaian. Di dalam Perjanjian Lama juga dipakai sebagai uang pembebasan bagi seorang budak. Ada hukum di Israel, bahwa orang selalu wajib membebaskan – dengan membayar “uang tebusan” – saudaranya yang jatuh dalam perbudakan (lih. Im 25:47-55). Secara kiasan juga Allah sendiri disebut “penebus”, karena membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Kiasan itu kemudian juga dipakai untuk menunjuk pada pembebasan dari perbudakan dosa. Di sini perlu diperhatikan bahwa ini hanya kiasan, sebab oleh dosanya manusia menjadi budak setan. Kalau Kristus disebut “uang tebusan”, ini tidak berarti bahwa Ia diserahkan kepada setan. Dengan istilah itu diungkapkan bahwa manusia dibebaskan dari kuasa setan oleh Kristus. Untuk itu kadang-kadang juga dipakai kata “membeli” (mis. 1Kor 6:20; 7:23; dst.) atau “membebaskan” (Rm 6:18.22; dst.), “pengampunan” (Ef 1:7; Kol 1:14; dst.),

Masih ada dua kata kiasan lain yang sering dipakai, yakni “mendamaikan” dan “membenarkan”. Kata mendamaikan tentu mau menyatakan bahwa hubungan dengan Allah dipulihkan kembali, Tetapi anehnya, walaupun manusia yang merusak hubungan itu, yang mendamaikan adalah Allah sendiri (lih. Rm 5:10; 2Kor 5:18.19.20). “Membenarkan” sebetulnya berarti “menyatakan benar”, khususnya dalam pengadilan. Maksudnya, orang yang benar harus dinyatakan benar oleh hakim, dan yang salah harus dinyatakan salah. Tetapi Allah “membenarkan orang durhaka” (mis. Rm 4:5). Maka semua istilah itu hanya secara simbolis menyatakan bahwa manusia berdosa diterima oleh Allah. Bagaimana penebusan atau perdamaian atau pembenaran itu terjadi, tidak dijelaskan oleh istilah-istilah itu.

Yang dimaksud Paulus dengan “karena kita” atau “karena dosa-dosa kita”, kiranya dapat menjadi jelas, kalau 1Kor 15:5 dibandingkan dengan Rm 8:3.

1Kor 15:5

Rm 8:3

Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Allah mengutus Anak-Nya dalam daging karena dosa.

Dalam Rm 8:3 “karena dosa” tidak dihubungkan dengan wafat Kristus, tetapi dengan kedatangan-Nya di dunia, dengan kelahiran-Nya. Seperti yang dikatakan dalam syahadat panjang: “Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita”. Dengan cara yang lain lagi hal itu dirumuskan Paulus dalam Flp 2:6-8:

“Kristus Yesus,
walaupun serupa dengan Allah,
tak menganggap perlu tampil sebagai Allah,
tetapi menghampakan diri, mengambil rupa seorang hamba;
dalam kesamaan-Nya dengan manusia
– dan secara lahiriah kelihatan seperti manusia –
Ia merendahkan diri, menjadi taat sampai mati, mati di salib.”

Kristus, yang diakui “Allah benar dari Allah benar”, di dunia ini tampil bukan sebagai Allah melainkan sebagai manusia. Dalam segala hal Ia “sama dengan kita, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15; lih. 2:14). Bahkan dalam 2Kor 5:21 Paulus sampai berkata:

“Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi dosa karena kita”. Dengan mengutus Anak-Nya dalam daging, “yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Rm 8:3), Allah membuat Kristus mengalami nasib orang berdosa. Buktinya adalah kematian-Nya. “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm 6:23). Bahwa Kristus sungguh sama dengan kita, benar-benar senasib dengan manusia-manusia yang lain, kelihatan dari wafat-Nya, Karena dosa datanglah maut dan “maut telah menjalar kepada semua orang” (Rm 5:12). Kristus pun, karena menjadi manusia, juga dikenai maut.

Perlu diperhatikan bahwa dalam Kitab Suci, khususnya dalam tulisan Paulus, “mati” tidak sama dengan “meninggal dunia”. “Mati” berarti meninggal dunia dalam kegelapan, dan itu akibat dosa. Seharusnya meninggal dunia sama dengan “beralih dari dunia ini kepada Bapa”, seperti yang dikatakan Yohanes mengenai Yesus (Yoh 13:1). Tetapi manusia berdosa sudah tidak mengetahui di mana Bapa. Maka meninggal dunia berarti masuk ke dalam kegelapan penuh kebingungan. Keadaan inilah yang dalam Kitab Suci ditunjuk dengan istilah “mati”.

Kristus mengalami maut, karena senasib dengan manusia berdosa. Dalam arti inilah Ia wafat “karena dosa-dosa kita”, yakni karena senasib dengan orang-orang yang harus mati “karena dosa-dosa”. Kristus mau mengalami nasib itu, karena Ia “mengasihi aku dan menyerahkan diri untuk aku”, sebagaimana dikatakan oleh Paulus (Gal 2:20). Maka dikatakan bahwa “Tuhan Yesus Kristus telah menyerahkan diri karena dosa-dosa kita, guna melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Gal 1:4). Sebab, kalau Kristus senasib dengan kita dalam kematian, maka oleh karena itu kita menjadi sehidup dengan Dia dalam kebangkitan. Solidaritas Kristus dengan kita memang mulai dengan kesatuan Kristus dengan kita dalam kematian, tetapi tertuju kepada kesatuan kita dengan Kristus dalam kehidupan. Sebab, walaupun “mengambil rupa seorang hamba, dan secara lahiriah kelihatan seperti manusia” yang lain (Flp 2:7-8), namun Ia “tidak mengenal dosa” (2Kor 5:21). Kesamaan-Nya dengan manusia tidak pernah mengganggu hubungan-Nya yang serba istimewa dengan Allah. Memang di salib Ia tidak merasakan kesatuan itu, sampai berteriak: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34). Namun benarlah Mzm 16:8 yang diterapkan pada-Nya: “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan” (Kis 2:25). Karena kesatuan Yesus dengan Allah inilah maka “tak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut” (Kis 2:24): Allah membangkitkan Dia, dan bersama Dia juga menerima mereka yang sudah menjadi saudara-Nya. Karena Kristus telah menjadi saudara kita dalam kematian, kita pun diterima Allah dalam kebangkitan. “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20; lih. Rm 8:29).

Ini bukan hanya ajaran Kitab Suci. Dalam abad-abad berikut ajaran mengenai penebusan kurang lebih sama. Ada Bapa Gereja yang tetap memakai “uang tebusan” secara kiasan (sering dengan mengejek setan), tetapi ada juga yang berkeberatan besar terhadap gagasan bahwa Kristus “dibayar” kepada setan. Jarang dikatakan bahwa Kristus memberi silih untuk dosa-dosa kita. Gagasan itu baru dikemukakan mulai abad ke-11, khususnya oleh St. Anselmus dari Canterbury (1033-1109). St. Anselmus menulis buku dengan judul “Mengapa Allah menjadi manusia?”, Ia menjawab bahwa Anak Allah menjadi manusia untuk memberi silih bagi dosa manusia, sebab dosa adalah penghinaan, pelecehan terhadap Allah. Penghinaan itu tak terhingga, karena yang dihina itu Allah. Maka untuk memulihkan kehormatan Allah, perlu silih yang tak terhingga pula. Manusia tidak mampu memberikan silih semacam itu. Maka “Allah menjadi manusia”, supaya silih yang diberikan dengan kematian-Nya tanpa salah sungguh tak terhingga nilainya. Orang masih dapat bertanya: mengapa harus diberi silih kalau Allah tidak menuntutnya (Ia tidak merasa direndahkan oleh penghinaan kita), Tujuannya, supaya dengan demikian tata penciptaan “beres” lagi. Kalau manusia tidak membereskan hubungannya dengan Tuhan, ia tidak dapat merasa “utuh” dan “beres”, Pemberian silih merupakan kebutuhan manusia, bukan tuntutan Allah. Baru di kemudian hari, khususnya mulai abad ke-15, ada orang yang berkata, bahwa Tuhan menuntut silih itu, sebab demi tata keadilan dosa harus dihukum, dan dikatakan (terutama dalam ajaran Protestan) bahwa Kristus dihukum sebagai ganti kita. Ini bukan ajaran Anselmus, dan sama sekali bukan ajaran Kitab Suci.

Kekurangan ajaran Anselmus, lebih-lebih teologi yang dikembangkan kemudian, ialah bahwa ia hanya berbicara mengenai wafat Yesus, bukan mengenai penjelmaan menjadi manusia atau mengenai kebangkitan-Nya. Dengan demikian wafat Kristus tidak lagi dilihat sebagai solidaritas Kristus dengan manusia, melainkan sebagai korban yang diberikan kepada Allah. Allah yang “kejam” dilawankan dengan Yesus yang penuh kasih. Padahal Paulus berkata bahwa “Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Dalam ajaran Anselmus sendiri Allah tidak menuntut kematian Yesus. Yesus sendiri menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bapa sebagai tanda taat-hormat.