Api Penyucian

Menurut banyak orang sebetulnya ada tiga pintu: surga, neraka dan api penyucian. Karena mereka menganggap diri kurang baik untuk surga, dan juga tidak mau masuk neraka, maka api penyucian dipandang sebagai pintu yang “normal”. Tetapi api penyucian pun bukan pintu, juga bukan kemungkinan ketiga di samping surga dan neraka. Dalam bahasa resmi Gereja juga tidak disebut “api”, hanya “pencucian” (purgatorium) saja. Yang dimaksud ialah adanya tahap terakhir dalam proses pemurnian pada perjalanan kepada Allah.

Lalu mungkin ada dari kalangan luar gereja Katolik yang tidak familiar dengan istilah Purgatory atau Api Penyucian mempunyai batu sandungan:

Dapatkah kamu mejelaskan apakah itu Purgatory atau Api Penyucian? dan dimana istilah itu tertulis di Kitab Suci? Karena menurut pemahaman saya, Purgatory  atau Api Penyucian itu hanya mulai dikenal sejak Gereja Katolik menjadikannya Dogma pada Konsili di Trent pada abad ke-16

Tanggapan atas pertanyaan itu ada 2 bagian: Bagian pertama: Ya, memang kata ‘Purgatory’ atau ‘Api Penyucian’ atau terjemahan lainnya tidak ada di dalam Kitab Suci. Sama halnya dengan Trinity (Tritunggal, Trinitas), Natal, dan Ekaristi. Dan bagian kedua: Penekanan bahwa istilah Purgatory / Api penyucian ‘baru ditemukan’ menjadi dogma ajaran Gereja Katolik di Konsili Trent pada abad ke-16 adalah sangat dipaksakan; penekanan ini akan terdengar sangat konyol jika dibandingkan dengan pemahaman berikut: Bahwa istilah cell / sel pertama kali diperkenalkan oleh Robert Hooke pada tahun 1660-an, bukan berarti masa sebelum tahun 1660 pada tubuh kita tidak ada cell / sel. 😛

Kitab suci bukanlah sebuah kitab suci yang sangat sederhana dan mudah sehingga kita dapat menemukan semua istilah tertentu yang kita cari.

Nah, faktanya memang kata tersebut tidak terdapat di dalam Kitab Suci bukan berarti bahwa istilah atau kata tersebut tidak menunjukkan suatu yang benar ada di dalam Kitab Suci. Dengan demikian yang dapat kita pahami bahwa istilah Purgatory / Api penyucian walaupun tidak ada di dalam Kitab Suci namun substansi atau esensi dari doktrin Api Penyucian benar-benar ada di dalam Kitab suci.

Seperti di ayat berikut:

Matius 12:32 : Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.

Pada ayat di atas Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa ada dosa-dosa yang akan diampuni di dunia yang akan datang. Kita mengetahui bahwa dosa tidak dapat diampuni di Neraka; dan tidak perlu lagi pengampunan untuk dosa di Surga karena kita tidak ada dosa supaya dapat masuk Surga. Oleh karena itu menurut perkataan Yesus menunjukkan bahwa ada tempat lain dimana dosa DAPAT diampuni setelah masa di dunia yang kita hidupi ini.

Dan juga di ayat berikut:

1Korrintus 3:11-15 : Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

Kira-kira apa yang Rasul maksudkan? Dia tidak mengatakan hal mengenai Neraka, karena dari ayat tersebut jelas mengatakan bahwa orang yang melalui api tersebut akan diselamatkan, sedangkan bagi yang telah di dalam Neraka akan binasa selamanya, dan begitu juga bagi yang telah ada di Surga akan hanya suka cita dan semua kesedihan akan dihapus. [Wahyu 21:4]

Dan juga di ayat berikut:

Matius 5:25-26 : Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Dari semua ayat Kitab Suci di atas berisi mengenai suatu “tempat” yang bukan Surga, dan juga bukan Neraka dimana proses pemurnian akan berlangsung sebelum memperoleh Surga. Kita menyebutya ‘Api Penyucian’ atau Purgatory.

Kiranya mungkin bahwa proses pemurnian itu belum selesai pada saat kematian. Maka kematian sendiri dapat menjadi pengalaman pemurnian itu. Pada saat kematian manusia melihat dirinya sendiri dalam keadaan yang sesungguhnya. Khususnya karena kematian itu berarti penyerahan kepada Allah, maka ketidakmurnian dialami sebagai ketidakcocokan yang menyakitkan. Apa yang lazim disebut “pengadilan”, dialami sebagai siksaan dan juga pemurnian. Kiranya itulah yang dimaksudkan dengan “api penyucian” yang terjadi pada saat kematian sendiri. Doa untuk jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah doa untuk orang yang pada saat kematian sebetulnya belum siap menghadap Tuhan. Orang itu meninggal dalam persekutuan iman, yang disebut Gereja. Maka sudah sewajarnyalah bahwa “persekutuan para kudus” juga dihayati dalam doa untuk saudara-saudara itu, yang masih pada perjalanan menuju Tuhan. Api penyucian bukanlah “neraka sementara” (dengan api yang tidak begitu panas). Api penyucian ialah pengalaman sedalam-dalamnya, bahwa seseorang “mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang dilakukan” di hadapan Tuhan (Zef 3:11).

Selanjutnya mengenai Api Penyucian dalam Katekismus Gereja Katolik akan menyusul…

10 (Sepuluh) sanggahan Gereja mengenai Reinkarnasi

Kekristenan pada umumnya, dan Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi dengan 10 (sepuluh) alasan:

1. Reinkarnasi bertentangan dengan Kitab Suci (Ibrani 9:27).

manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi

2. Reinkarnasi bertentangan dengan tradisi ortodoks di semua gereja.

3. Pemahaman Reinkarnasi akan mengurangi makna Inkarnasi menjadi seperti suatu perwujudan belaka, makna penyaliban menjadi seperti suatu kecelakaan, dan menjadikan Kristus sebagai hanya salah satu filsuf dari kebanyakan filsuf lainnya atau hanya sebagai salah satu ikon. Paham Reinkarnasi juga membingungkan tentang apa yang dilakukan oleh Kristus dan apa yang dilakukan oleh mahluk ciptaan: antara Inkarnasi dan Reinkarnasi.

4. Reinkarnasi mengartikan bahwa Allah pencipta melakukan suatu kesalahan dengan merancang jiwa, roh manusia untuk hidup dalam tubuh, yaitu manusia yang sebenarnya berupa roh murni terpenjara atau seperti malaikat yang mengenakan kostum.

5. Reinkarnasi bertentangan dengan psikologi dan kewajaran, karena reinkarnasi menunjukan bahwa jiwa/roh yang terperangkap dalam tubuh yang asing menolak kesatuan psikosomatis yang alami.

6.Reinkarnasi memberikan pandangan yang sangat rendah terhadap tubuh/badan, sebagai suatu penjara, suatu penghukuman.

7. Reinkarnasi biasanya menyalahkan tubuh/badan atas dosa yang dilakukan manusia, dan juga menyalahkan kuasa tubuh, karena tubuh lah maka pikiran manusia dapat bingung dan gelap. Reinkarnasi menggeser kesalahan dari jiwa kepada tubuh, seperti dari keinginan kepada pikiran, dan mengaburkan perbedaan antara dosa dengan ketidakpedulian.

8. Menurut paham Reinkarnasi, reinkarnasi yang dialami oleh manusia bertujuan agar manusia belajar dari kegagalan yang dialami dalam pengalaman kehidupannya di masa lampau. Hal ini sangat berbeda dengan kewajaran pada umumnya dan juga berbeda dengan psikologi dasar pendidikan. Sebab kita manusia tidak dapat mempelajari sesuatu hal jika tidak adanya kesinambungan ingatan akan hal yang telah kita terima. Kita hanya dapat belajar dari kesalahan kita sendiri jika kita mengingat kesalahan tersebut. Pada kasus umumnya manusia tidak mengingat kehidupan “reinkarnasi” mereka pada masa lalunya.

9. Bukti yang diharapkan dari Reinkarnasi adalah ingatan akan kehidupan masa lalu yang dapat dicoba dengan usaha hipnotis, atau ‘regresi kehidupan masa lalu’, sehingga dapat dijelaskan (jika memang usaha tersebut dapat berhasil) sebagai telepati mental dari mahluk hidup, atau dari roh manusia yang telah mati di dalam purgatory atau neraka, atau bahkan dari iblis. Kemungkinan dari pemahaman ini akan mengarahkan kita menjadi sangat penasaran untuk membuka jiwa kita kepada ‘regresi kehidupan masa lalu’.

10. Reinkarnasi tidak dapat mendefinisikan pemahamannya sendiri. Mengapa jiwa/roh kita terpenjara dalam tubuh-tubuh kita? Apakah karena kesalahan atau perbuatan jahat kita pada ‘reinkarnasi’ kehidupan masa lalu kita? Tetapi mengapa ‘reinkarnasi’ yang sebelumnya perlu terjadi? Apakah semuanya karena alasan yang sama? Lalu bagaimana dengan masa paling awal, masa permulaan proses ‘reinkarnasi’, apakah tiba-tiba jiwa/roh kita langsung terpenjara dalam tubuh yang awal sekali tanpa sebab? seharusnya ada deret tubuh-tubuh yang terdahulu. Jika tanpa sebab, yang pada awalnya jiwa/roh kita masih sangat sempurna, murni, dan suci bagaimana kita dapat melakukan sesuatu kejahatan atau kesalahan sehingga ‘dipenjarakan’ ke dalam tubuh duniawi yang awal. Jika pada awalnya jiwa/roh kita yang sempurna, murni, dan suci itu berada di surga, dan karena disebabkan dosa yang telah kita ‘lakukan’ maka kita mengalami reinkarnasi, maka sebenarnya itu bukan surga sama sekali. Bukankah keadaan proses reinkarnasi seharusnya mengarahkan kita untuk kembali setelah semua hasrat kita yang terkandung sudah berakhir?

Jika jawaban yang diberikan adalah bahwa tubuh kita bukanlah ‘hukuman’ untuk dosa tetapi merupakan ilusi dari kepribadian, yaitu sang ‘Satu’ seperti yang dipahami dalam Panteisme yang menjadi banyak dalam kesadaran manusia, dan tidak ada penjelasan yang diberikan mengenai paham ini. Dan benar demikian, kepercayaan Hindu menyebutnya lila, ‘permainan’ ilahi. Tetapi hal itu tidak mudah diterima. Karena jika sang ‘Satu’ itu adalah kesempurnaan, mengapa kesempurnaan memainkan ‘permainan’ yang tidak sempurna? Semua dosa dan penderitaan yang dialami di dunia disepelekan menjadi tidak mempunyai arti, ‘permainan’ yang tidak dapat dipahami.

Dan jika kejahatan itu sendiri hanya merupakan sesuatu yang ditimbulkan dari angan-angan, bersifat ilusi (menurut pendapat beberapa mistikus), maka eksistensi dari kejahatan itu sendiri adalah nyata dan bukan sekedar kejahatan yang bersifat ilusi. Santo Agustinus dari Hippo menuliskan poin tentang kejahatan:

Kapan sesuatu disebut kejahatan, dan apa sumber dari kejahatan itu, dan bagaimana kejahatan itu bisa merasuki dan mempengaruhi ciptaan? Apa akar dari kejahatan, apa benih dari kejahatan? Dapatkah kejahatan itu adalah suatu  keseluruhan tanpa dijadikan? Tetapi mengapa kita harus takut dan berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak ada? Ataukah jika ketakutan kita tidak berdasar, lalu yang paling kita takutkan itulah sesuatu kejahatan. Oleh karena itu hati kita dibawa dan disiksa tanpa sebab; dan yang paling buruk kejahatan itu adalah jika tidak ada yang perlu ditakutkan namun kita tetap merasa takut. Oleh karena itu apakah kejahatan itu ada makanya kita takut, atau faktanya ketakutan kita itu adalah kejahatan.

7 Teori Alternatif mengenai Kehidupan setelah Kematian

Pada dasarnya ada 7 (tujuh) teori non-kristen yang berpendapat mengenai apa yang terjadi setelah kematian. Tujuh pendapat ini terbentuk berdasarkan pikiran manusia dalam rentang waktu, tempat, dan kultur yang berbeda. Pendapat Gereja mengenai kehidupan setelah kematian berbeda dengan ke-tujuh teori tersebut.

  1. Materialisme-Ateistik: Sebab Tuhan itu tidak ada, maka tidak ada gambaran Tuhan, atau jiwa. Oleh karena itu menurut pendapat ini, kita manusia hanya organisme material, dan ketika tubuh/badan kita mati, semua bagian dari kita mati dan tetap mati, selamanya.
  2. Ada Tuhan tetapi tidak ada kehidupan setelah kematian: Pendapat ini tidak umum, tetapi mungkin ada kepercayaan seperti ini. Pendapat ini muncul karena mungkin ada keyakinan bahwa ada Tuhan yang kurang mengasihi manusia sehingga tidak menyelamatkan mereka, atau karena kurangnya kuasa Tuhan untuk menyelamatkan manusia.
  3. Skeptisme: Pendapat yang memahami bahwa tidak ada yang pernah dapat mengetahui apa yang terjadi setelah kematian.
  4. Pagan jaman kuno: Setelah manusia mati, sifat kemanusiaannya menjadi pudar, berupa bayangan serupa manusia yang masih hidup: hantu, penghuni dunia yang suram, dunia bawah yang gelap.
  5. Platoisme: Berpendapat bahwa hanya jiwa yang tersisa setelah kematian; tubuh manusia mati untuk selamanya, dan jiwa atau roh manusia hidup selamanya. Pendapat Platoisme sering disalahpahami dan dikira sama dengan Kekristenan, tapi paham Kekristenan mengenai ini jelas berbeda dengan Platoisme; akan dibahas mengenai ini pada tulisan Analogi duniawi tentang surga.
  6. Panteisme: Pendapat yang berdasarkan pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, seperti tetesan butiran air dari lautan kosmik, partikel kecil dari Tuhan. Sehingga setelah manusia mati mereka kembali ke alam semesta, seperti tetesan butiran air yang kembali ke lautan kosmik. Yang perlu diperhatikan dalam paham panteisme adalah tidak adanya pribadi, tidak adanya sifat individu nyata pada setiap manusia, sehingga ketika manusia setelah mati, pribadi/sifat individu manusia tidak ada.
  7. Reinkarnasi: Pemahaman yang berpendapat bahwa setelah badan/tubuh manusia mati, jiwa atau roh manusia tersebut akan mendapatkan tubuh/badan lain di bumi, tubuh duniawi. Roh manusia itu berpindah ke tubuh orang yang lain seumpama seperti seorang pemasaran berpindah-pindah dari suatu ruangan ke ruangan lain. (Reinkarnasi biasanya disatukan dengan Panteisme atau Platoisme. Dimana setelah suatu jiwa/roh itu cukup mengalami reinkarnasi sehingga roh mendapat ‘pencerahan’, roh tersebut akan terbebas selamanya dari penjara badan/tubuh). Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi.

Surga dan Neraka

… baca juga Apa itu Surga?

Kita mengetahui, “bila kemah kediaman kita di bumi telah dibongkar, Allah menyediakan bagi kita suatu tempat kediaman di surga” (1Kor 5:1). Tetapi tidak ada yang mengetahui rupa surga. Barangkali juga kurang tepat berbicara mengenai “rupa” surga, sebab surga berarti kebahagiaan manusia dalam kesatuan dengan Allah. Bahwa surga digambarkan bagaikan sebuah tempat, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Kalau tidak ada badan, tidak perlu tempat. Di surga memang ada badan, yaitu tubuh Kristus. Tetapi itu adalah tubuh yang mulia dan tidak bisa dibandingkan dengan tempat dan waktu kita sekarang. Yang pokok dari surga ialah bahwa itu tempat Allah (lih. Mzm 2:4; Why 11:13; 16:11).

Dalam agama Yahudi “surga” malah dapat menggantikan nama Tuhan (sebagaimana masih kelihatan dari perbandingan “Kerajaan Allah” dan “Kerajaan surga”). Maka mengenai Kristus dikatakan bahwa Ia “duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga” (Ibr 8:1), dan kita “menantikan kedatangan Anak Allah dari surga” (1Tes 1:10). Secara konsekuen dikatakan bahwa “kewargaan kita ada di surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21). Lukas malah melukiskan kemuliaan Yesus dengan berkata bahwa Ia naik ke surga (Luk 24:50-53; Kis 1:6-11). Yohanes mengungkapkan keallahan Kristus dengan berkata bahwa Ia “turun dari surga” (Yoh 3:13; lih. 6:38.42), dalam arti bahwa “yang datang dari atas, adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31).

Segala ketentuan konkret dalam Kitab Suci mengenai surga sebagai tempat kediaman Allah, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Yang pokok adalah Allah dan kesatuan dengan-Nya.

Itulah arti dari kata-kata seperti: “upahmu besar di surga” (Mat 5:12); “kumpulkanlah bagimu harta di surga” (Mat 6:20); “namamu sudah terdaftar di surga (Luk 10:20); “pengharapan disediakan bagi kamu di surga” (Kol 1:5); “bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, tersimpan bagimu di surga” (1Ptr 1:4). Begitu juga ”Yerusalem baru turun dari surga” (Why 3:12; 21:2.10).

Oleh karena itu pantas ditanyakan sejauh mana surga berbeda dengan kebangkitan? Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Kristus. Paulus bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” (1Kor 15:35). Lalu dijawab: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” (1Kor 15:42- 44). Bagaimana semua itu akan terjadi, Paulus juga tidak tahu. Sebab “apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati orang: semua itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” (1Kor 2:9).

Tetapi jelaslah apa yang dikatakan Yesus: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Jalan kepada Bapa melalui Yesus. Yesus sudah “meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28). Ia berjanji bahwa “akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Yesus masuk ke tempat Bapa dengan kebangkitan-Nya. Maka bagi kita pun surga tidak lain dari ikut dibangkitkan bersama Kristus. Tetapi sebagaimana Kristus bangkit dari maut, begitu juga bagi kita jalan ke surga melalui maut. Kebangkitan berarti bahwa sesudah hidup ini kita menerima kebahagiaan dari Allah.

Di sini tentu timbul kesulitan bahwa ada waktu yang cukup lama antara kematian dan kebangkitan, yang akan terjadi pada akhir zaman. Maka biasanya dikatakan, bahwa sebelum badan dibangkitkan, jiwa sudah masuk surga dan dapat memandang Allah. Tetapi, kalau jiwa terpisah dari badan, maka orangnya mati. Kerohanian manusia tidak berarti bahwa jiwanya dapat berjalan sendirian, dan kebangkitan juga tidak hanya menyangkut badan. Kebangkitan badan berarti mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus. Kristus adalah “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20; lih. Kol 1:18). Dan “semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22; lih. 2Kor 4:11). Maka di sini pun yang pokok adalah kesatuan dengan Kristus. Masalah kebangkitan badan menyangkut perbedaan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita. Barangkali rumus yang paling tepat terdapat dalam Kol 3:3: “Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus dalam Allah”.

Mengenai hal ini, pada tahun 1979 Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan penjelasan sebagai berikut.: “Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian unsur rohani dalam manusia terus hidup sendiri, dengan sadar dan berkemauan, sehingga diri manusia, biarpun tidak lengkap karena tidak ada tubuh, berada terus. Unsur rohani ini oleh Gereja disebut “jiwa”, sesuai dengan kebiasaan berbicara berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi”.

Kebangkitan itu karya Allah. Juga mengenai Yesus tidak pernah dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Ia bangkit sendiri; melainkan “dibangkitkan”. Yang membangkitkan ialah Allah Bapa. Kebangkitan itu rahmat, anugerah dari Allah, “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Oleh sebab itu manusia sebenarnya tidak dapat menangkap dan memahami arti kebangkitan. Kebangkitan tidak dapat dimengerti berpangkal pada hidup manusia di dunia ini. Kebangkitan tidak berarti”: hidup kembali, seperti yang terjadi dengan putri Yairus, pemuda dari Nain dan Lazarus yang kemudian hari akan meninggal lagi, Mereka belum menerima “tubuh rohani” (1Kor 15:45), tetapi dikembalikan kepada hidup yang fana ini dan harus mati lagi.

Lain halnya dengan kebangkitan Yesus. “Sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, Ia tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm 6:9). Ia “beralih dari dunia ini kepada Bapa” (Yoh 13:3), masuk ke dalam dunia ilahi. Itulah sebetulnya kebangkitan. Dengan kematian dialami suatu perubahan dalam hubungan antara jiwa dan badan, dan perubahan itulah yang disebut kebangkitan, sebab dalam hidup sekarang jiwa ditentukan oleh badan (khususnya dalam perbatasan waktu dan tempat). Dalam kebangkitan hal itu dibalik: badan ditentukan oleh jiwa, yang dipenuhi oleh Roh. Oleh karena itu, dengan kebangkitan diciptakan waktu dan tempat yang baru: “surga yang baru dan dunia yang baru” (Why 21:2). Maksudnya, dunia materiil ini diangkat seluruhnya ke dalam dunia Roh. Materi tidak lagi berarti hidup sementara dan fana. Dalam kebangkitan, tubuh mencapai kebakaan, menjadi penampakan kesatuan dengan Allah. Pada Yesus (dan Maria) perubahan itu sudah terlaksana. Manusia yang lain harus menunggu sampai perubahan dunia seluruhnya pada hari kiamat. Sementara itu ia dapat tetap hidup dalam kesatuan dengan Allah, sebab ia “mati dalam Kristus” (1Tes 4:16). Kesatuan dengan Kristus dalam kematian menjamin partisipasi dalam kebangkitan. Dasarnya jelas, tetapi bagaimana akan terlaksana kelak, tidak diwahyukan.

Kiranya perlu diingat bahwa dalam Kitab Suci kebangkitan orang mati selalu menyangkut keselamatan. Orang berdosa sebetulnya tidak bangkit. Memang semua orang mati tampil dalam pengadilan (lih. Mat 25:31-46), tetapi hanya sebagian diterima ke dalam Kerajaan. Yang lain “masuk ke tempat siksaan yang kekal”, yang oleh Yohanes disebut “kematian kedua” (lih. Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Kebangkitan tidak lepas dari Kristus, yang adalah”yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Orang lain “dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22). Dan itu berarti bahwa mereka mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus di dalam Kerajaan Allah.

Neraka harus dimengerti sebagai lawan surga. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka neraka berarti keterpisahan dari Allah. Semua hal lain mengenai api dan siksaan badan juga bersifat bahasa kiasan, Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka bukan siksaan, sebab setiap orang mendambakan kesatuan dengan Allah. Tanpa Allah orang tidak dapat hidup bahagia. Di dunia ini mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut. Oleh karena itu Yohanes menyebut neraka “kematian kedua” (Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Tidak dapat dibayangkan, apa arti mati terus-menerus. Itu memang bahasa kiasan juga. Tetapi, kalau Tuhan “memberikan hidup dan nafas kepada semua orang” (Kis 17:25; bdk. Ayb 12:10; Yes 42:5), maka jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut. Tidak dapat dibayangkan; namun itulah kata yang tepat untuk neraka.

Banyak orang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah yang baik dan maharahim menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka?” Bagaimanapun bentuknya, neraka tampaknya tidak cocok dengan Allah sendiri dan karya keselamatan-Nya. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diperhatikan bahwa surga dan neraka tidak bisa disejajarkan begitu saja, bagaikan dua pintu yang bebas dipilih. Kemungkinan bahwa manusia gagal secara total tidak sama dengan kemungkinan mencapai keselamatan. “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih-karunia berlimpah-limpah” (Rm 5:20). Kristus sudah mengalahkan dosa dan maut, “dengan memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1Ptr 2:24).

Wafat dan kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka sebetulnya tidak ada. Neraka berarti penolakan total terhadap Allah. Itu mungkin. Kapan terjadi, tidak ada orang yang mengetahuinya. Orang Yahudi pernah bertanya kepada Yesus: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak memberi jawaban; Ia hanya berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” (Luk 13:23- 24). Neraka tidak mustahil. Manusia dapat menutup diri untuk rahmat dan belas kasihan Tuhan. Ini bukan sesuatu yang “kebetulan” terjadi, dan mempunyai akibat abadi karena kematian. Sikap ini menyangkut sikap dasar manusia, dan diteguhkan oleh kematian.