Doa untuk Persatuan Jemaat

Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah menghimpun domba-domba yang tercerai-berai dan menjaga semua yang telah Kau kumpulkan.

Pandanglah dengan murah hati semua pengikut, Yesus, Putra-Mu. Engkau telah menandai mereka dengan meterai pembaptisan yang tunggal; kini satukanlah mereka dalam kepenuhan iman, dan padukanlah mereka dalam ikatan kasih. Semua ini kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)

Doa untuk Panggilan Pelayan Jemaat

Allah, pencipta semesta, Engkau memanggil setiap insan kepada keselamatan, dan Engkau mengharapkan tanggapan dari mereka. Kami bersyukur begitu banyak orang telah menanggapi panggilan-Mu. Dan untuk melayani mereka yang sudah Kau himpun, Engkau berkenan memanggil pula pelayan-pelayan khusus bagi jemaat.

Bapa, panenan-Mu sungguh melimpah, tetapi para penuai sangatlah kurang. Ketika menyaksikan tuaian yang begitu banyak, Yesus sendiri mendesak, “Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian supaya la mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”Maka kami mohon, sudilah Engkau memanggil pekerja-pekerja untuk melayani umat-Mu. Perlengkapilah umat-Mu dengan nabi yang akan bernubuat demi nama-Mu, yang akan menegur umat-Mu kalau berbuat salah, dan menunjukkan jalan-Mu sendiri. Bangkitkanlah rasul untuk mewartakan sabda-Mu. Bangkitkanlah guru untuk mengajar kaum beriman, dan gembala untuk menuntun kami menemukan makanan yang limpah bagi jiwa raga kami. Semoga mereka semua dapat ikut serta dalam peran Kristus sendiri: memimpin, mengajar, dan menguduskan kami semua, agar kami semua tidak kekurangan suatu apa. Demi Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)

Doa untuk Jemaat Setempat

Allah yang mahaesa, kami bersyukur Engkau telah menghimpun umat-Mu di wilayah ini menjadi satu jemaat. Semoga kami selalu tekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan, rajin berkumpul untuk memuji nama-Mu dan berdoa. Buatlah kami selalu saling mengasihi, agar menjadi nyata bahwa kami sungguh-sungguh murid Yesus, dan dengan demikian memberi kesaksian betapa indah dan menyenangkan hidup bersama sebagai saudara. Semoga karena kesaksian kasih ini orang-orang di sekitar kami terdorong untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan yang sejati. Semoga kebahagiaan yang kami alami dalam jemaat juga kami bagikan kepada orang lain lewat karya pelayanan yang tulus kepada sesama, khususnya mereka yang menderita, yang lemah, yang tersingkirkan dan kurang mendapat perhatian dari sesamanya.

Buatlah jemaat beriman di wilayah ini sungguh menjadi perwujudan Gereja yang tunggal, yang tersebar di seluruh dunia. Semoga kami selalu menyadari bahwa kami merupakan bagian utuh dari jemaat-jemaat lain di seluruh keuskupan, di seluruh negara kami, bahkan di seluruh dunia dan sepanjang masa. Buatlah kami tetap hidup sebagai satu kawanan, dengan Yesus sendiri sebagai gembalanya. Dialah Tuhan, pengantara kami.

(Amin.)

Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Iman dan Agama

Iman, lebih-lebih kalau telah berkembang menjadi pengharapan dan kasih, merupakan suatu sikap “penyerahan diri seutuhnya kepada Allah” (DV 5). Dalam hidup manusia sikap batin itu harus dinyatakan keluar, pertama-tama dalam kasih kepada sesama. Tetapi tidak hanya itu. Ketika Musa berhadapan dengan Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semak berduri, didengarnya suara yang berkata, “Jangan datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasut dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5). Tuhan adalah kudus, dan tempat Tuhan berkenan bertemu dengan manusia, itu pun kudus. Bahkan segala sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan, disebut kudus, Maka ada tempat yang kudus, juga waktu yang kudus, bahasa yang kudus, pakaian kudus, alat kudus, bahkan orang yang kudus, yakni orang yang secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Tuhan. Perjanjian Lama mengenal peraturan rinci mengenai barang dan orang, yang dikhususkan bagi Tuhan dan oleh karenanya disebut kudus (lih. Kel 25-31; Im 17-26). Ini bukan sesuatu yang hanya terdapat pada Israel. Semua bangsa dan kebudayaan mempunyai bidang kudus ini, yang biasanya disebut bidang agama atau juga bidang sakral.

Perlu dicatat bahwa garis pemisah antara yang sakral dan yang profan tidak selalu jelas. Dalam agama Kristen, seperti juga dalam agama Yahudi dan Islam, garis pemisah itu cukup tajam. Tetapi dalam agama-agama lain bidang keagamaan tidak terlampau terpisah dari bidang hidup sehari-hari. Paham agama sebagai bidang yang khusus, terbedakan dari hidup yang profan, berkaitan dengan paham Allah yang transenden. Di mana lebih ditekankan imanensi Allah, di situ juga agama menjadi bagian yang lebih integral dari hidup, dan tidak terlalu dibedakan antara profan dan sakral, Namun, agama-agama itu juga mengenal tempat, waktu dan upacara, dan terutama orang yang “khusus”, guna menyatakan kebaktian kepada Allah.

Jelas sekali, bahwa yang pokok dalam agama adalah sikap batin. Agama yang bersifat lahiriah melulu, dengan sendirinya menjadi formalisme dan sering kosong, tanpa isi. Oleh karena itu yang pokok bukanlah hal-hal yang lahiriah. Namun tanpa bentuk yang nyata komunikasi iman tidak mungkin. Biarpun sikap batin paling penting, namun tanpa pengejawantahan yang jelas iman tidak sungguh manusiawi. Penghayatan iman memerlukan agama. Dalam praktik tidak ada iman tanpa agama, tetapi tentu saja bentuk agama berbeda-beda.

Perbedaan pokok berhubungan dengan sikap batin sendiri dan gambaran Allah. Kalau ditekankan keluhuran dan kedahsyatan Allah, maka agama akan mencari bentuk-bentuk yang khusus dan istimewa. Sebaliknya, kalau lebih diperhatikan Tuhan yang hadir dalam ciptaan-Nya, maka segala sesuatu dengan sendirinya sudah mempunyai warna agama. Oleh karena itu amat sulit membuat suatu definisi agama yang berlaku umum. Iman dan agama kait-mengait, dan iman tidak pernah bersifat umum.

Pada tahun 1952, dalam kerangka pembicaraan mengenai kedudukan aliran-aliran kepercayaan dalam negara dan masyarakat Indonesia. Departemen Agama pernah mengusulkan suatu definisi agama, dengan menyebut beberapa syarat-syarat mutlak, seperti: adanya nabi atau rasul, kitab suci dan pengakuan sebagai agama di luar negeri. Agama Hindu-Bali mengajukan keberatan terhadap definisi itu. Maka selanjutnya definisi itu ditarik kembali dan tidak terpakai lagi. Dalam Penpres no. 1 thn 1965 ( Undang-Undang no. 5 thn 1969) Konfusianisme disebut sebagai agama juga; tetapi kemudian tidak pernah disebut-sebut lagi. Agama “yang diakui pemerintah” ada lima: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Aliran kepercayaan juga diakui, tetapi tidak sebagai agama (sehingga juga tidak ada di bawah wewenang Departemen Agama, melainkan ditempatkan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Tetapi ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Tidak ada dua golongan agama, yang satu diakui pemerintah dan yang lain tidak, Pengakuan oleh pemerintah sebenarnya hanya berarti bahwa agama-agama itu mendapat pelayanan khusus dari Departemen Agama.

Kendatipun tidak mungkin memberikan suatu definisi umum mengenai agama, dapat disebut sejumlah gejala atau unsur yang pada umumnya didapati dalam agama-agama. Di bawah ini disebutkan lima unsur: jemaat, tradisi, ibadat, tempat ibadat, dan petugas ibadat.

1. Jemaat

Yang pertama-tama harus disebut ialah umat beragama sendiri. Umat beragama bukanlah suatu kumpulan umat yang biasa. Yang mengikat mereka bukan pertama-tama organisasi, melainkan ikatan batin. Bagaimana ikatan batin itu diterangkan atau digambarkan, berbeda pada masing-masing agama. Biasanya umat beragama merasa diri dipersatukan bukan hanya atas inisiatif atau upaya para anggota. Tuhan sendirilah yang mempersatukan mereka. Pada umumnya persatuan itu tidak untuk sesaat saja, walaupun juga dalam hal ini agama yang satu berbeda dengan yang lain. Ada yang membatasi umat pada saat perayaan, ada yang menghubungkan keanggotaan dengan seluruh hidup. Pada umumnya umat dan anggota-anggotanya dikenal, tetapi juga ada kelompok agama rahasia. Bisa juga terjadi di dalam umat sendiri ada kelompok-kelompok khusus, Semua itu berhubungan juga dengan unsur-unsur yang lain.

2. Tradisi

Unsur kedua ini luas sekali, dan mencakup beberapa unsur yang’ lain. Yang umum ialah, bahwa semua agama mempunyai sejarah. Khususnya sejarah awal, dengan tokoh-tokohnya, mempunyai arti yang khusus. Banyak agama mengenal seorang nabi atau rasul atau pendiri agama. Tetapi dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam agama-agama. Tidak semua agama menghargai dan mengakui tokoh awal itu dengan cara yang sama. Bahkan, tidak semua agama mempunyai paham sejarah yang sama. Sering kali dalam kisah awal tercampur banyak unsur mitologi, yakni ungkapan simbolis kisah awal

Salah satu unsur tradisi yang amat penting adalah ajaran yang diteruskan secara turun-temurun. Ajaran itu pada umumnya mengandung tiga bidang: ajaran keselamatan, ajaran moral, dan ajaran ibadat. Ajaran keselamatan pertama-tama mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan manusia, kemudian juga mengenai sejarah dan organisasi agama itu sendiri, serta bagaimana melalui agama orang dapat bertemu dengan Allah dan diselamatkan. Ini merupakan bagian yang khusus untuk masing-masing agama. Ajaran moral sering bersifat lebih umum, karena mengambil alih banyak unsur dari kebiasaan etis masyarakat. Sebaliknya, ajaran mengenai ibadat hiasanya amat khusus dan kadang-kadang juga dipandang sebagai yang paling pokok. Tradisi ajaran itu biasanya diteruskan tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui buku-buku suci. Dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam arti dan bobot yang diberikan kepada buku-buku itu.

3. Ibadat

Walaupun ibadat ada di dalam semua agama, namun khusus dalam ibadatlah nampak perbedaan antara agama. Ada yang melihat ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan manusia. Ada juga yang membatasi ibadat pada ungkapan ketakwaan dan saling mengukuhkan dalam iman. Biasanya dalam hal ini juga ada perbedaan yang amat besar – dipakai simbol-simbol atau tanda yang khusus dalam ibadat, karena baik untuk pengungkapan iman maupun untuk tanda kehadiran Allah, pemakaian bahasa atau ekpresi yang biasa dianggap kurang memadai. Misteri Allah dan penyelamatan-Nya hanya dapat ditunjuk dengan tanda-tanda, tidak pernah dapat dirumuskan atau diungkapkan secara penuh oleh manusia

Ibadat adalah kegiatan manusia. Cara umat mengambil bagian dalam ibadat itu, berbeda dari satu agama ke agama yang lain. Biasanya ada petugas agama yang memimpin ibadat. Tetapi baik peranan mereka maupun partisipasi umat yang lain, amat khusus bagi masing-masing agama. Peraturan ibadat juga amat berbeda-beda. Ada ibadat yang lebih bercorak upacara dengan peraturan yang ketat. Ada juga yang lebih bersifat perayaan dengan warna spontan dan bahkan kharismatis. Semua itu tidak hanya berhubungan dengan sikap batin para peserta, tetapi juga dengan “ajaran” mengenai keselamatan dan ibadat. Ada yang lebih menekankan pengalaman ‘para peserta, ada yang lebih mementingkan pengabdian serta kewajiban.

4. Tempat Ibadat

Ada agama yang di dalamnya arti dan bobot ibadat langsung berhubungan dengan tempat, misalnya pura dalam agama Hindu. Dalam agama Kristen atau Islam, tempat ibadat bersifat sekunder. Orang dapat melakukan ibadat di mana-mana. Namun itu tidak berarti bahwa dengan demikian tempat ibadat tidak dipandang sebagai tempat yang suci. Sebaliknya, karena merupakan tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan, tempat ibadat dipandang sebagai tempat yang suci. Juga kalau ibadat tidak langsung dikaitkan dengan tempat-tempat tertentu, semua agama mempunyai tempat yang dipandang sebagai “bait Allah”, dalam arti mana pun. Di samping atau di dalam tempat itu, ada banyak hal lain yang dikhususkan juga, dan oleh karena itu dipandang sebagai barang suci pula.

5. Petugas Ibadat

Sebetulnya petugas ibadat itu suci, karena ibadat yang dilayani olehnya bersifat suci. Tetapi cukup sering urut-urutannya dibalik: petugas dipandang sebagai orang yang mempunyai daya kesucian (atau kesaktian), yang dalam ibadat dibagikan kepada yang lain. Amat kerap tugas ibadat, yang sebetulnya hanya fungsi, dibuat menjadi status, sehingga orang itu diberi tempat dan kehormatan yang istimewa. Oleh karena itu tidak jarang fungsi, dan terutama kuasa petugas itu diperluas meliputi bidang-bidang lain, sehingga dari petugas ia menjadi pemimpin agama dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam hal ini juga ada perbedaan-perbedaan besar antara para petugas ibadat dari pelbagai agama.