Doa Suami-Istri

Allah, sumber cinta sejati, Engkau telah mempersatukan kami dalam ikatan perkawinan yang suci. Kami bersyukur atas segala pengalaman selama perjalanan perkawinan kami: atas segala suka dan duka; atas kebahagiaan dan penderitaan; atas untung dan malang; terlebih atas rahmat kesetiaan yang telah memungkinkan kami berdua berpegang teguh pada ikrar perkawinan kami: berpadu dalam cinta.

(Kami bersyukur pula atas anak-anak yang Kau percayakan kepada kami)

Bantulah kami agar selalu setia satu sama lain; tak jemu-jemu mengusahakan kebahagiaan pasangan; tak enggan untuk saling berkorban; bersikap jujur, dan terbuka demi keutuhan keluarga; saling menopang bila menanggung beban; dan siap saling mengampuni bila suatu saat kami jatuh.

Semoga karena berkat-Mu kami saling menguatkan dalam menghadapi tantangan dan godaan yang mengancam keutuhan keluarga kami. Semoga dari hari ke hari perpaduan kasih kami semakin kuat, dan perkawinan kami sungguh menjadi sakramen kasih Kristus terhadap Gereja. Dan kelak, apabila tugas kami di dunia telah selesai, perkenankanlah kami berdua menikmati kebahagiaan abadi bersama-Mu.

Kami mohon berkat-Mu bagi semua pasangan suami istri, khususnya ……  Bimbinglah agar mereka berhasil menjadi pasangan yang bahagia.

Terlebih kami berdoa bagi suami istri yang sedang mengalami kegoncangan. Nyalakanlah kembali api kasih yang dulu mengobarkan semangat mereka untuk mengikrarkan janji perkawinan. Kuatkanlah mereka untuk mempertahankan keutuhan keluarga.

Kami unjukkan doa ini kepada-Mu, ya Bapa, demi Yesus Kristus junjungan dan teladan kami, kini dan sepanjang masa.

Amin

Doa untuk Suami-Istri

Bapa, kami bersyukur karena Engkau telah menjunjung perkawinan menjadi sarana keterlibatan suami-istri dalam karya penciptaan-Mu. Bahkan Engkau telah menguduskannya, dan menjadikannya sakramen cinta Kristus kepada jemaat.

Bantulah para suami-istri, agar selalu setia satu sama lain; tak jemu-jemu mengusahakan kebahagiaan pasangan; tak enggan untuk saling berkorban; berani bersikap jujur dan terbuka demi keutuhan keluarga; tidak lalai untuk saling menopang bila menanggung beban; dan siap saling mengampuni bila suatu saat mereka jatuh.

Semoga mereka saling mendukung dalam menghadapi godaan yang mengancam keutuhan keluarga. Buatlah perpaduan kasih mereka semakin kuat, dan perkawinan mereka sungguh menjadi sakramen kasih Kristus terhadap Gereja. Bapa, dalam kesempatan ini kami sangat prihatin akan suami-istri, (khususnya Saudara … dan …,) yang perkawinannya terancam kegagalan. Ampunilah mereka karena tidak mampu menjadikan perkawinan mereka sebagai sakramen kasih Kristus sendiri kepada jemaat. Tunjukkanlah jalan yang terang kepada mereka untuk mengatasi keadaan keluarga yang sangat memprihatinkan ini.

Apapun yang terjadi, bantulah mereka tetap mempertahankan keutuhan keluarga. Berilah mereka kekuatan agar dalam cobaan ini mereka tidak meninggalkan Dikau; sebaliknya tetap berusaha mendekatkan hati kepada-Mu, baik secara pribadi maupun lewat keterlibatan mereka dalam jemaat-Mu. Semoga mereka tetap diterima di kalangan umat-Mu, dan mendapat dukungan serta penghiburan dalam cobaan yang berat ini. Semua ini kami haturkan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)

Sakramen Perkawinan

Dengan sakramen tobat orang diterima kembali sebagai anggota Gereja; atau, kalau dibebani oleh dosa kecil saja, ia semakin menyadari rahmat boleh ikut dalam perayaan Gereja. Sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dan dalam arti itu merupakan syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Hal itu langsung kentara, kalau membandingkan dua pasang suami-istri: yang satu sudah dibaptis sebelum menjadi suami istri, yang lain sudah berkeluarga waktu menerima sakramen pembaptisan. Orang yang sudah berkeluarga waktu dibaptis, tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi; orang yang belum berkeluarga ketika dibaptis, perlu menerima sakramen perkawinan.

Perkawinan menurut Kitab Suci

Menjadi suami dan istri berarti suatu perubahan total dalam kehidupan seseorang. Dalam kitab Kejadian dikatakan: “Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Orang meninggalkan masa hidupnya sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri. Hidup itu tidak berarti hidup dua orang bersama, tetapi hidup menjadi satu orang (dalam bahasa Ibrani “daging” berarti makhluk, khususnya manusia). Dengan demikian mau diungkapkan kesatuan dalam perkawinan atau “monogami” (sebagaimana dengan jelas diungkapkan dalam Im 18:18). Itulah arti yang oleh Yesus diberikan kepada ayat ini dalam Mat 19:5 dan Mrk 10:7-8:

“Laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “kontrak” atau janji saja. Suami-istri sungguh satu manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suaminya. Kesatuan mereka bukan hanya kesatuan badan, melainkan meliputi hidup seluruhnya, jiwa dan badan. Oleh karena itu kesatuan suami-istri juga menyangkut iman mereka. Di hadapan Allah dan dalam persatuan dengan Kristus mereka itu satu. Maka hubungan dengan Kristus yang pernah diikat dalam pembaptisan sebelum nikah, lain daripada persatuan dengan Kristus sebagai suami-istri. Hubungan dengan Kristus sebagai bujang atau gadis tidak memadai lagi dan harus diganti dengan persatuan dengan Kristus selaku suami-istri.

Mereka yang dibaptis sebagai suami-istri langsung berhubungan dengan Kristus sebagai suami-istri. Maka mereka tidak perlu menerima sakramen perkawinan lagi. Mereka sudah menikah waktu dibaptis. Mereka dari semula menjadi anggota Gereja sebagai orang berkeluarga. Sebaliknya mereka yang pernah menjadi anggota sebagai anak atau sebagai pemuda dan pemudi harus “memperbarui” keanggotaan mereka dan menjadi anggota yang berkeluarga. Hal itu terjadi dengan sakramen perkawinan. Maka sakramen perkawinan juga menyangkut keanggotaan Gereja.

Tetapi janganlah sakramen perkawinan dianggap suatu formalitas saja guna membereskan “KTP gerejawi”, Surat Efesus menyebutnya “misteri agung”. Itulah penafsiran berhubungan dengan Kej 2:24, yang telah dikutip di atas.

“Karena itu laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dan keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar; aku memaksudkannya berhubung dengan Kristus dan jemaat” (Ef 5:31-32).

Sesudah kutipan Kej 2:24 dikatakan “Rahasia itu besar”, yang juga dapat diterjemahkan: Itu misteri agung. Kata “misteri”, khususnya dalam surat Efesus, berarti rencana keselamatan Allah, yang lama tersembunyi tetapi sekarang dinyatakan melalui Gereja (Ef 1:9; 3:3.9; 6:19). Kesatuan suami-istri termasuk misteri Allah itu. Kesatuan mereka mempunyai dasar dalam rencana Allah. Menurut ay. 32 rencana itu baru menjadi jelas dengan sepenuhnya, kalau dikaitkan dengan hubungan Kristus dan Gereja. Kesatuan suami-istri bukan hanya luhur dan mulia, tetapi bersifat ilahi, karena dikehendaki oleh Allah dan menunjuk kepada kesatuan Kristus dengan Gereja. Jelas sekali bahwa pengarang memakai bahasa kiasan, dan berbicara mengenai makna terdalam pernikahan. Ia tidak berbicara mengenai suatu upacara sakramental.

Namun tidak salah pula, kalau ajaran surat Efesus dihubungkan dengan sakramen perkawinan, sebab oleh kesatuan dengan Kristus hubungan suami-istri termasuk “misteri’ Allah. Artinya, karena kesatuan dengan Kristus karya Allah dinyatakan dan dilaksanakan dalam perkawinan. Sama seperti sakramen tobat begitu juga untuk sakramen perkawinan tidak ditentukan upacaranya dalam Kitab Suci. Bahkan mengenai inti perkawinan serta sifat sakramentalnya, jarang disebut. Tetapi dalam Ef 5:11-33 ditunjukkan bahwa cinta Kristus kepada Gereja-Nya merupakan dasar yang sesungguhnya bagi kesatuan suami-istri yang telah dibaptis. Cinta perkawinan mereka mengambil bagian dalam cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan demikian ditunjukkan yang paling pokok dalam setiap sakramen yaitu arti keselamatannya. Suami-istri dalam kesatuan dengan Kristus diselamatkan oleh cinta perkawinan mereka sendiri.

Perkembangan Upacara Sakramen Perkawinan

Selama kurang lebih seribu tahun Gereja tidak mempunyai pandangan lain dari yang terungkap dalam surat Efesus. Perkawinan orang Kristen terjadi dengan cara yang lazim dalam masyarakat. Tidak ada upacara khusus. Perkawinan sipil atau dalam kampung dan keluarga diakui oleh Gereja. Ada banyak nasihat dan petuah, tetapi tidak ada upacara khusus. Paling-paling diminta berkat dari Gereja.

Perkawinan itu urusan pemerintah atau masyarakat, yang diberi doa restu oleh Gereja. Baru ketika urusan pemerintah di Eropa Barat agak kacau, Gereja menjadi lebih aktif dalam mengatur perkawinan. Ini terjadi sekitar abad ke-12. Pada waktu itu juga dikembangkan pikiran mengenai sifat sakramental perkawinan. Baru pada tahun 1274, pada Konsili di Florence, untuk pertama kalinya dengan jelas perkawinan disebut di antara sakramen-sakramen Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa sejak Reformasi di kalangan Protestan perkawinan tidak diakui sebagai sakramen. Bukan hanya karena di dalam Kitab Suci tidak ada petunjuk yang jelas, tetapi juga karena dalam kehidupan Gereja sendiri berabad-abad lamanya tidak diketahui bahwa ada sakramen perkawinan. Perkawinan dipandang sebagai soal kemasyarakatan saja, oleh karena itu bersifat profan dan tidak sakral. Tetapi hal itu sebetulnya kurang sesuai dengan ajaran surat Efesus. Biarpun tidak dikenal suatu upacara khusus, tidak berarti bahwa tidak ada kesadaran mengenai arti rohani, bahkan ilahi, perkawinan.

Melalui cinta perkawinan, rahmat Allah diberikan kepada suami-istri dan anak-anak mereka. Sifat sakramental perkawinan tidak terbatas pada upacara saja, melainkan menyangkut hidup berkeluarga seluruhnya. Karena kesatuan suami-istri dengan Kristus, seluruh hidup mereka – yang adalah satu – menjadi perwujudan rahmat. Tanda rahmat ini ialah janji perkawinan, yang mengikat mereka untuk sehidup semati. Justru karena perkawinan itu semacam “peneguhan” pembaptisan, maka janji itu tidak hanya mengungkapkan kesetiaan mereka satu sama lain, tetapi juga terhadap Kristus.

Perkawinan juga “sakramen iman”, di dalamnya dinyatakan iman akan kasih Kristus sebagai dasar dan kekuatan ikatan perkawinan. Barangkali boleh dikatakan, bahwa bagi orang yang dibaptis waktu masih bayi atau anak, janji baptis menjadi lebih nyata dalam janji perkawinan, yang diucapkan di muka Gereja, yang diwakili oleh imam. Perkawinan dan keluarga menjadi tempat pengungkapan iman. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II berani berbicara mengenai “Gereja-keluarga” (LG 11). Perkawinan dan hidup keluarga sendiri bagi umat beriman menjadi sarana mengungkapkan imannya dan dengan demikian juga menghayatinya. Keistimewaan sakramen perkawinan tidak terletak dalam bentuk upacaranya, tetapi dalam pengungkapan iman itu.

Sebagai upacara ditetapkan dalam buku Upacara Perkawinan tahun 1976: “Pria dan wanita menyatakan saling menyerahkan diri secara bebas, seutuhnya dan untuk selama-lamanya”. Janji nikah adalah bentuk sakramen perkawinan di muka Gereja. Dan ditegaskan lagi: “Justru kesatuan dalam cinta setia yang diangkat oleh Kristus menjadi martabat sakramen”. Pada dasarnya upacara perkawinan orang beriman tidak berbeda secara prinsipial dari upacara perkawinan umum. Tetapi bentuk yang umum itu menjadi sarana pengungkapan iman bagi orang yang percaya akan Kristus. Sama seperti bagi orang lain, begitu juga bagi orang beriman “cinta perkawinan diarahkan kepada penyempurnaan suami-istri secara menyeluruh, termasuk pula kelahiran dan pendidikan anak demi kebahagiaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat”. Bagi orang beriman semua itu mendapat kesempurnaan dalam perkembangan hidup bersatu dengan Kristus, baik untuk suami-istri sendiri, maupun untuk anak-anak mereka.

Perkawinan Campur

Apa yang terjadi kalau orang Katolik menikah dengan pihak lain yang bukan Katolik? Kalau pihak lain itu sudah dibaptis, perkawinan mereka tetap merupakan sakramen karena kedua orang itu satu iman dalam Kristus (KHK kan. 1055). Gereja menegaskan bahwa perkawinan itu pun tidak dapat diceraikan (KHK kan. 1061, 1141). Hanya saja, karena salah satu pasangan belum bersatu penuh dengan Gereja Katolik, biasanya perkawinan itu tidak diteguhkan dalam perayaan ekaristi (meski dalam hal ini tidak ada peraturan atau ketetapan yang mutlak dan umum).

Lain halnya kalau pihak yang lain belum dibaptis. Dengan izin khusus dari pimpinan Gereja, perkawinan itu dimungkinkan. Namun demikian, karena tidak sepenuhnya dilakukan dalam lingkup Gereja, sulit ditentukan nilai gerejawi perkawinan itu. Kiranya perkawinan seperti itu tidak merupakan sakramen, karena tidak ada kesatuan iman. Akan tetapi, karena pihak yang Katolik bersatu dengan Kristus dan pihak yang lain umumnya juga percaya kepada Allah, perkawinan ini pun pasti tidak di luar rencana Allah. Bagaimana persisnya semua itu terjadi, hanya Allah yang tahu.

Hidup Suami-Istri Itu Suatu Panggilan

Sikap dan ajaran Yesus juga tidak langsung memperhatikan seksualitas, melainkan perkawinan. Ketika ditanyai oleh seorang Farisi, “Apakah suami boleh menceraikan istrinya?” Yesus menjawab, “Yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzinah terhadap istrinya” (Mrk 10:2.11). Yang dipersoalkan oleh orang Farisi sebetulnya bukan perceraian sendiri, sebab mereka sudah yakin bahwa “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai” (ay. 4). Yang amat dipersoalkan di kalangan para rabi ialah alasan untuk cerai, apakah suami boleh menceraikan istrinya dengan alasan apa saja (lih: Mat 19:3). Sebab “izin Musa” dalam Kitab Suci berbunyi:

“Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan telah menjadi suaminya, tetapi lalu ia tidak suka dengan perempuan itu, karena mendapat sesuatu yang tidak baik padanya, lalu ia (harus) menulis surat cerai dan menyerahkannya kepada perempuan itu serta menyuruhnya pergi dari rumahnya” (Ul 24:1).

Ada perbedaan pendapat antara para ahli Taurat mengenai arti kata “yang tidak baik” itu. Secara harfiah dikatakan “yang memalukan”. Ada orang (yakni mazhab Syammai) berpendapat bahwa yang dimaksudkan dalam Taurat Musa itu sesuatu yang tidak senonoh (yang melanggar kesopanan, khususnya dalam pergaulan). Tetapi golongan lain (yakni para pengikut rabi Hilel) berpendapat bahwa penceraian itu halal dengan alasan apa pun, biarpun hanya karena masakan wanita tidak enak atau karena rupanya tidak cantik lagi atau malahan karena sang suami tertarik kepada wanita lain.

Yesus tidak mempermasalahkan alasan untuk cerai. Yesus mempermasalahkan perceraian itu sendiri: “Karena ketegaran hatimu, Musa memerintahkan supaya memberikan surat cerai, jika orang menceraikan istrinya” (lih. Mat 19:9). Jadi, sebenarnya Yesus meng-anjurkan, jangan cerai sama sekali! (Mat 5:32). Seperti juga dikatakan-Nya jangan bersumpah sama sekali (Mat 5:34) dan jangan bermusuhan sama sekali! (Mat 5:22) Yesus juga berbicara mengenai “berzinah di dalam hati” (Mat 5:28). Moral Yesus yang radikal berbicara mengenai hati. Ia tidak mau berbicara mengenai seks, bahkan tidak mengenai pengaturan perkawinan. Yesus berbicara mengenai panggilan Allah dan panggilan Allah itu mengenai hati manusia, laki-laki dan perempuan. Maka kalau berbicara mengenai perkawinan, Yesus berbicara mengenai rencana Allah semula (Mat 19:4-6; Mrk 10:6-9 yang mengutip Kej 2:24) dan mengenai kesetiaan-Nya.

Rupa-rupanya dalam praktik Gereja perdana, khususnya di kalangan mereka yang dulu adalah Yahudi, masalah perceraian timbul kembali. Kalau istri, atau juga suami, melakukan zinah, maka ia harus dicerai; menurut hukum Taurat ia malah harus dihukum mati (Ul 22:22; bdk. Yoh 8:2-11). Pada zaman Yesus hukuman mati itu biasanya tidak dilakukan lagi. Tetapi perkawinan juga tidak dapat diteruskan lagi, maka perkawinan itu dianggap sudah tidak ada lagi. Karenanya istri (atau suami) tidak hanya boleh, tetapi harus diceraikan. Paulus, yang hidup dan merasul di kalangan orang kafir, juga dihadap¬kan pada masalah perceraian: Kalau ada seorang saudara beristerikan … atau bersuamikan seorang yang tidak beriman, … dan kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat, Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera” (1Kor 7:13-15).

Di abad-abad kemudian, banyak Bapa Gereja berpegang pada praktik yang membenarkan perceraian, khususnya karena zinah. Juga dalam Gereja-gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Protestan dewasa ini perceraian tidak dilarang secara mutlak. Hanya di dalam Gereja Katolik perceraian ditolak secara total, tetapi itu hanya berlaku untuk orang yang telah dibaptis. Dalam Kitab Hukum Kanonik, tuntutan moral Yesus, supaya membangun kesatuan hati yang tidak diceraikan, menjadi aturan hukum perkawinan yang membawahi semua orang yang dibaptis. Hal itu berhubungan dengan sakramentalitas perkawinan.

Bagi Yesus, zinah menyangkut kemurnian hati, ketulusan hidup. Sebab “dari hati orang timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat” (Mat 15:19). Bagi orang Kristen perdana, tidaklah mudah hidup murni dalam kota-kota Yunani, dalam alam pikiran yang memisahkan keluhuran budi dari tubuh fana dengan kenikmatannya. Paulus membela manusia: seluruh manusia, tubuh, budi dan hati, telah ditebus! Seluruh manusia menjadi anggota Kristus, karena tubuh yang fana pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Juga dalam tubuhnya, manusia bertemu dengan Allah yang mulia, maka tubuh lebih daripada hanya sekadar barang kenikmatan. Seks bukan barang konsumsi yang dinikmati seperlunya. Seks adalah bagian hidup manusia yang bermartabat luhur.

Dalam tradisi Kristen, keutuhan dan keagungan tubuh dijunjung tinggi dan seksualitas mendapat nilai pribadi. Namun sepanjang sejarah Gereja, pengakuan itu selalu juga dibayangi oleh prasangka-prasangka terhadap wanita, oleh penilaian yang meremehkan atau mengharamkan seks dan larangan-larangan yang menekan kenikmatan.

Demikianlah Agustinus membela keluhuran seksualitas melawan berma¬cam pandangan agama yang menganggapnya rendah dan kurang manusiawi; sekaligus Agustinus mengingatkan, bahwa hubungan pria-wanita dan khususnya hubungan seksual selalu diancam oleh kedosaan. Kenikmatan dicurigainya, karena ia sangat mendukung cita-cita (filsafat Stoa) untuk menguasai naluri-naluri. Hubungan pria-wanita yang sejati adalah kesatuan rohani dan seksualitas hanya dibenarkan “demi keturunan”. Dalam sejarah lebih lanjut, pandangan Agustinus mengenai seksualitas ini amat mewarnai moral Katolik. Hampir delapan abad kemudian, Tomas Aquino menekankan bahwa seksualitas (termasuk kenikmatan!) adalah kodrati, ciptaan Allah. Dalam perkembangan selanjutnya kenikmatan seksual umumnya dibenarkan, namun seksualitas sendiri makin diartikan dan diatur menurut alam-kodrat, dan makin ditekankan bahwa hubungan seksual itu ditujukan untuk memperoleh keturunan. Ajaran moral Katolik menarik kesimpulan bahwa setiap hubungan seksual harus terbuka untuk keturunan dan oleh sebab itu hubungan seksual hanya dapat dibenarkan dalam perkawinan yang sah.

Dewasa ini, kebanyakan orang tidak lagi dapat menerima, bahwa seksualitas manusiawi hanya (ataupun pertama-tama ditujukan pada keturunan. Konsili Vatikan II bicara mengenai “cinta-kasih (suami-istri) yang beraneka-ragam” (GS 48). Seksualitas amat bernilai untuk saling mengungkapkan kasih (bdk. GS 51). Pengertian yang baru dalam Gereja menjadi tantangan bagi moral Kristen: dapatkah ditemukan suatu gaya hidup bersama, yang di dalamnya hubungan seksual antar pria dan wanita dapat berkembang dalam kesetiaan satu sama lain? Dapatkah ditemukan suatu gaya hidup yang di dalamnya pria dan wanita berkembang dalam kemampuan mengasihi dan menyambut anak-anak yang lahir dengan pengharapan yang terbuka?