Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)

..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

10 (Sepuluh) sanggahan Gereja mengenai Reinkarnasi

Kekristenan pada umumnya, dan Gereja Katolik pada khususnya menolak Reinkarnasi dengan 10 (sepuluh) alasan:

1. Reinkarnasi bertentangan dengan Kitab Suci (Ibrani 9:27).

manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi

2. Reinkarnasi bertentangan dengan tradisi ortodoks di semua gereja.

3. Pemahaman Reinkarnasi akan mengurangi makna Inkarnasi menjadi seperti suatu perwujudan belaka, makna penyaliban menjadi seperti suatu kecelakaan, dan menjadikan Kristus sebagai hanya salah satu filsuf dari kebanyakan filsuf lainnya atau hanya sebagai salah satu ikon. Paham Reinkarnasi juga membingungkan tentang apa yang dilakukan oleh Kristus dan apa yang dilakukan oleh mahluk ciptaan: antara Inkarnasi dan Reinkarnasi.

4. Reinkarnasi mengartikan bahwa Allah pencipta melakukan suatu kesalahan dengan merancang jiwa, roh manusia untuk hidup dalam tubuh, yaitu manusia yang sebenarnya berupa roh murni terpenjara atau seperti malaikat yang mengenakan kostum.

5. Reinkarnasi bertentangan dengan psikologi dan kewajaran, karena reinkarnasi menunjukan bahwa jiwa/roh yang terperangkap dalam tubuh yang asing menolak kesatuan psikosomatis yang alami.

6.Reinkarnasi memberikan pandangan yang sangat rendah terhadap tubuh/badan, sebagai suatu penjara, suatu penghukuman.

7. Reinkarnasi biasanya menyalahkan tubuh/badan atas dosa yang dilakukan manusia, dan juga menyalahkan kuasa tubuh, karena tubuh lah maka pikiran manusia dapat bingung dan gelap. Reinkarnasi menggeser kesalahan dari jiwa kepada tubuh, seperti dari keinginan kepada pikiran, dan mengaburkan perbedaan antara dosa dengan ketidakpedulian.

8. Menurut paham Reinkarnasi, reinkarnasi yang dialami oleh manusia bertujuan agar manusia belajar dari kegagalan yang dialami dalam pengalaman kehidupannya di masa lampau. Hal ini sangat berbeda dengan kewajaran pada umumnya dan juga berbeda dengan psikologi dasar pendidikan. Sebab kita manusia tidak dapat mempelajari sesuatu hal jika tidak adanya kesinambungan ingatan akan hal yang telah kita terima. Kita hanya dapat belajar dari kesalahan kita sendiri jika kita mengingat kesalahan tersebut. Pada kasus umumnya manusia tidak mengingat kehidupan “reinkarnasi” mereka pada masa lalunya.

9. Bukti yang diharapkan dari Reinkarnasi adalah ingatan akan kehidupan masa lalu yang dapat dicoba dengan usaha hipnotis, atau ‘regresi kehidupan masa lalu’, sehingga dapat dijelaskan (jika memang usaha tersebut dapat berhasil) sebagai telepati mental dari mahluk hidup, atau dari roh manusia yang telah mati di dalam purgatory atau neraka, atau bahkan dari iblis. Kemungkinan dari pemahaman ini akan mengarahkan kita menjadi sangat penasaran untuk membuka jiwa kita kepada ‘regresi kehidupan masa lalu’.

10. Reinkarnasi tidak dapat mendefinisikan pemahamannya sendiri. Mengapa jiwa/roh kita terpenjara dalam tubuh-tubuh kita? Apakah karena kesalahan atau perbuatan jahat kita pada ‘reinkarnasi’ kehidupan masa lalu kita? Tetapi mengapa ‘reinkarnasi’ yang sebelumnya perlu terjadi? Apakah semuanya karena alasan yang sama? Lalu bagaimana dengan masa paling awal, masa permulaan proses ‘reinkarnasi’, apakah tiba-tiba jiwa/roh kita langsung terpenjara dalam tubuh yang awal sekali tanpa sebab? seharusnya ada deret tubuh-tubuh yang terdahulu. Jika tanpa sebab, yang pada awalnya jiwa/roh kita masih sangat sempurna, murni, dan suci bagaimana kita dapat melakukan sesuatu kejahatan atau kesalahan sehingga ‘dipenjarakan’ ke dalam tubuh duniawi yang awal. Jika pada awalnya jiwa/roh kita yang sempurna, murni, dan suci itu berada di surga, dan karena disebabkan dosa yang telah kita ‘lakukan’ maka kita mengalami reinkarnasi, maka sebenarnya itu bukan surga sama sekali. Bukankah keadaan proses reinkarnasi seharusnya mengarahkan kita untuk kembali setelah semua hasrat kita yang terkandung sudah berakhir?

Jika jawaban yang diberikan adalah bahwa tubuh kita bukanlah ‘hukuman’ untuk dosa tetapi merupakan ilusi dari kepribadian, yaitu sang ‘Satu’ seperti yang dipahami dalam Panteisme yang menjadi banyak dalam kesadaran manusia, dan tidak ada penjelasan yang diberikan mengenai paham ini. Dan benar demikian, kepercayaan Hindu menyebutnya lila, ‘permainan’ ilahi. Tetapi hal itu tidak mudah diterima. Karena jika sang ‘Satu’ itu adalah kesempurnaan, mengapa kesempurnaan memainkan ‘permainan’ yang tidak sempurna? Semua dosa dan penderitaan yang dialami di dunia disepelekan menjadi tidak mempunyai arti, ‘permainan’ yang tidak dapat dipahami.

Dan jika kejahatan itu sendiri hanya merupakan sesuatu yang ditimbulkan dari angan-angan, bersifat ilusi (menurut pendapat beberapa mistikus), maka eksistensi dari kejahatan itu sendiri adalah nyata dan bukan sekedar kejahatan yang bersifat ilusi. Santo Agustinus dari Hippo menuliskan poin tentang kejahatan:

Kapan sesuatu disebut kejahatan, dan apa sumber dari kejahatan itu, dan bagaimana kejahatan itu bisa merasuki dan mempengaruhi ciptaan? Apa akar dari kejahatan, apa benih dari kejahatan? Dapatkah kejahatan itu adalah suatu  keseluruhan tanpa dijadikan? Tetapi mengapa kita harus takut dan berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak ada? Ataukah jika ketakutan kita tidak berdasar, lalu yang paling kita takutkan itulah sesuatu kejahatan. Oleh karena itu hati kita dibawa dan disiksa tanpa sebab; dan yang paling buruk kejahatan itu adalah jika tidak ada yang perlu ditakutkan namun kita tetap merasa takut. Oleh karena itu apakah kejahatan itu ada makanya kita takut, atau faktanya ketakutan kita itu adalah kejahatan.

Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 2 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Tujuh bantahan dari Liberalis

Bantahan 1:

Sepertinya ada kontradiksi (pertentangan) antara 2 (dua) ajaran Kekristenan jaman dahulu: antara (1) teologi Kristen tentang neraka yang kaku, keras, sempit dan menghakimi — dengan mengatakan “hanya satu jalan ke surga”, kemurkaan abadi menanti dari Allah bagi tidak mengikuti jalan tersebut.  — (2) teologi Kristen tentang Allah yang maha pengasih, maha pengampun, dan maha pemurah. Untuk itu demi kemajuan moralitas kita harus mengkoreksi teologi yang dapat mengakibatkan kemunduran moralitas.

Tanggapan: Kita TIDAK boleh mengkoreksi teologi tentang penghakiman. Demi moralitas cinta kasih, sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengkoreksi teologi penghakiman, melainkan kita seharusnya menginterpretasikan (menafsirkan, mengartikan) teologi penghakiman tersebut. Penghakiman dan kemurkaan oleh Allah berakar dari cinta Allah. Kemurkaan dari Allah bagi kita merupakan rasa dari cinta Allah yang tidak kita sukai. Kita mengenakan kemurkaan (yang kita rasakan, yang kita tanggapi sebagai kemurkaan) dari sudut pandang kita sendiri kepada Allah yang mengasihi kita. Sama halnya dengan interpretasi (penafsiran) yang kelihatannya sah, tetapi sebenarnya tidak memadai dikatakan sah ketika bertentangan dengan sebagian data kita yang lain. Untuk itu lebih baik, kita harus menemukan suatu visi (pandangan) yang membantu kita menemukan arah tujuan, rekonsiliasi, mengesahkan dan menjelaskan SEMUA data yang kita punya.

Retorika tentang “kemajuan” dan “kemunduran” sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Mereka yang mengatakan kenyataan suatu kondisi dan menyatakan “kebenaran” yang sesuai karena berdasarkan waktu, atau kalender; dan tidak mempunyai pegangan dasar kebenaran terlepas dari waktu adalah orang-orang yang mempraktekan kesombongan kronologis.

Orang Kristen sebaiknya menjadi orang yang keras kepala tetapi berhati lembut. Jangan menjadi sebaliknya berkepala lembut tetapi berkeras hati. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang cerdik seperti ular tulus seperti merpati (Matius 10:16). Dua hal yang diperlukan yaitu: mencari Allah dan menemukan Allah; hal pertama kita perlu menanamkan dalam hati misi pencarian Allah, kemudian hal berikutnya adalah menemukan Allah dengan pikiran kita. Mulai dengan keinginan (hati) untuk mengenal Allah , kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan (pikiran) akan Allah. Keinginan untuk mengenal Allah adalah bersifat Subjektif; dan Pengetahuan akan Allah adalah bersifat Objektif. Yang pertama adalah cinta, dan yang kedua adalah kebenaran. Cinta dan Kebenaran adalah adalah kesatuan mutlak sama halnya sifat Allah yang Maha Pengasih dan Sumber Kebenaran.

Teologi di satu sisi mempertebal pengetahuan objektif kita akan kebenaran Allah, kebenaran doktrin, yang menjadi dasar keteguhan pengetahuan kita sehingga kita dapat menjadi ‘keras kepala’. Dan disisi lainnya teologi juga memperjelas pandangan subjektif, yaitu cinta kasih,  kelembutan hati. Kedua sisi tersebut dibutuhkan agar diselamatkan. Ketaatan ajaran, pengetahuan akan Allah tidak dapat menyelamatkan kita jika hati kita penuh dengan kebencian. Dan cinta kasih tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak jujur dan tidak peduli dengan kebenaran, yang akhirnya membuat cinta kasih kita bukan cinta kasih yang sebenarnya.

Bantahan 2:

Kalau semua orang dapat diselamatkan cukup dengan pengetahuan akan mengenal sang Kristus sebelum inkarnasi (prainkarnasi) atau yang dikenal sebagai Logos, mengapa repot-repot orang Kristen mewartakan tentang Yesus Kristus (yang setelah inkarnasi)? Kalau kita bisa masuk surga melalui pintu belakang, mengapa kita harus repot melalui pintu depan?

Tanggapan: Hal pertama yang perlu diluruskan, sang Logos atau sang Kristus yang prainkarnasi bukanlah pintu belakang untuk masuk surga. Surga tidak mempunyai pintu belakang atau pintu lain. Hanya ada satu pintu surga, satu jalan, yaitu: Yesus Kristus yang menyatakan sendiri bahwa dirinya lah jalan untuk ke surga. Logos yang dikenal sebelum inkarnasi Kristus adalah Yesus Kristus yang sebelum dilahirkan. Dia-lah sang Kebenaran yang dicari oleh semua orang jujur yang belum percaya.

Hal kedua, kita mewartakan Yesus Kristus — dan semua orang yang mendengar seharusnya percaya Yesus Kristus — karena Yesus adalah Kebenaran. Itulah dasar yang sebenar-benarnya menjadi alasan bagi orang Kristen  mewartakan atau beriman.

Hal ketiga, Pengetahuan akan Yesus Kristus yang datang dunia sebagai manusia akan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua orang agar dapat diselamatkan, dibandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki orang yang belum mengenal Yesus yaitu pengetahuan yang tidak pasti dan tidak jelas dengan hanya mengandalkan akal budi dan kesadaran diri sendiri. Alasan yang dikatakan oleh Yesus sendiri yang tertulis pada Injil Yohanes 18:37; “… Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”, Yesus menawarkan alasan yang lebih jelas kepada manusia, alasan yang paling jelas. Umpakan tetangga anda seseorang yang mempunyai pengetahuan seadanya yang dapat membantu persalinan anak anda, kira-kira bukankah kita lebih memilih dokter persalinan yang lebih mantap pengetahuannya dalam persalinan?

Hal keempat, untuk mengasihi Allah kita perlu mengenal Dia lebih baik. Siapapun yang tidak peduli tentang pengetahuan akan Allah, tidak peduli juga untuk mencintai Allah. Cinta kasih selalu ingin tumbuh berkembang, dan tumbuh kembangnya melalui pengetahuan dan komunikasi. Prinsip itu serupa dengan memegang kebenaran cinta kepada Allah atau cinta kepada sesama. Mentalitas Ketidakpedulian adalah benar-benar moral tanpa cinta kasih, dan mental tersebut mengakibatkan hambatan bagi keselamatan.

Bantahan 3:

Doktrin yang mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat bersifat menghakimi

Tanggapan A: Yang mengatakan hal itu adalah Yesus Kristus sendiri, bukan berasal dari pengajar Katolik. Pengajar Katolik hanya meneruskan doktrin tersebut.

Tanggapan B: Doktrin itu menghakimi terhadap dosa-dosa, tetapi mengampuni para pelaku dosa. Yesus menghakimi perbuatan dosa dan mengampuni pendosa. Agar jelas kita harus membedakan mengasihi pendosa (manusia) dan membenci dosa (perbuatan yang salah).  (Dari semuanya itu, Allah mengajarkan umatnya hanya apa yang Dia lakukan oleh dirinya sendiri.) Jika kita mengenali diri kita sendiri berdosa, menolak untuk bertobat dan melekatkan diri pada kehidupan spiritual kita yang jelek, maka ketika Allah datang untuk memisahkan dosa dengan yang sudah memisahkan diri dengan dosa, kita akan terikat dengan dosa yang tidak mau kita lepaskan dan ikut terjatuh ke neraka.

Jika hanya satu hal di dunia ini yang dapat memisahkan perekat diri manusia dan dosa, apakah hal itu kita sebut “menghakimi”? Itulah keduniawian kita; jika kita tidak menyukai sesuatu hal, kita akan memperselisihkan dengan diri kita sendiri, bukan dengan suatu ideologi.

Tanggapan C: Apakah benar kita menginginkan Allah sepenuhnya bersifat “tidak menghakimi” dan tidak menghakimi dosa kita sama sekali? Apakah yang kita mau bahwa Keselamatan itu hanya menyelamatkan kita dari hukuman dan bukan dari dosa? Apakah kita juga mau Allah untuk mentoleransi adanya dosa di dalam Surga? Apakah kita mau semua orang membawa keburukan duniawi ke surga, semua hal dari perang hingga pemerkosaan? Apakah kita lebih memilih bahwa surga juga memiliki pengacara dan polisi?

Di sisi pengadilan yang terlalu teliti akan sulit membedakan dosa dengan pendosa; dan menjatuhkan hukuman kepada keduanya yaitu dosa dan pendosa. Sebaliknya di sisi liberal, mereka juga sulit membedakan dosa dengan pendosa, dan tidak menghakimi keduanya yaitu dosa dan pendosa. Tetapi jika kita tidak menghakimi dosa, maka kita juga tidak peduli terhadap pendosa bersangkutan. Sama halnya jika kita tidak membenci penyakit kanker, kita tidak mencintai (mengasihi) penderitanya.

Tidak ada kontradiksi antara doktrin Kristen yang keras dan tegas dengan kelembutan cinta kasih. Sama halnya tidak adanya kontradiksi antara dokter yang keras dan tegas mengetahui seluk beluk tubuh manusia, mengobati dan mencegah penyakit dengan (kasihnya) pengabdiannya untuk menyelamatkan pasien.

Bantahan 4:

“Hanya Kristus satu-satunya jalan” adalah ajaran yang sangat sempit.

Tanggapan: Ya benar. Kenyataannya jalan menuju keselamatan sangat sempit. Hanya satu cara yang dapat menyelamatkan kita, hanya satu jalan untuk keluar dari ketidakpastian, hanya satu jawaban dari tiap rumusan, hanya satu pasang yang dapat menikah dengan sebenarnya. Penyelamat yang lain selain Yesus dapat menyelamatkan kita dari semua hal kecuali dari dosa – jika mereka memang dapat menyelamatkan.

Bantahan 5:

Doktrin “jalan yang sempit” adalah doktrin yang tidak sesuai dengan gambaran Allah, gambaran yang tidak suci; karena sifat Allah bukanlah sempit tetapi sangat luas.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengenal sifat Allah? Seorang Kristen akan memberikan jawaban: kita mengenal sifat Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sepenuhnya wahyu, gambaran  dari Allah Bapa bagi manusia  (Yohanes 14:9; Kolose 1:15.19). Yesus Kristus yang menyatakan hati Allah sangat tidak terbatas luasnya (Matius 18:14; bandingkan 1 Petrus 3:9) dan jalan menuju kehidupan sempit (Matius 7:14). Kita dapat mengenal lebih dekat bagaimana sifat Allah melalui wahyu dari Allah itu sendiri, lebih jelas dibandingkan dengan asumsi-asumsi (rekaan) dari kita yang dipengaruhi oleh kondisi sosial sekitar.

Bantahan 6:

Allah mengampuni semua orang; oleh karena itu semua orang sudah diampuni dan diselamatkan.

Tanggapan: Allah mau memberikan ampunan kepada semua orang; Dia menawarkan pengampunan sebagai pemberian yang cuma-cuma kepada semua orang; tetapi sebuah pemberian yang cuma-cuma itu seharusnya juga diterima dengan bebas (iklas). Bagaimana kita dapat menerima suatu pemberian cuma-cuma tetapi tidak mempercayai Dia yang memberi dan tidak yakin dengan apa yang diberi.

Bantahan 7:

Mungkin benar agama tidak lebih dari sesuatu yang sifatnya subjektif. Ilmu pengetahuan (science) telah mengambil alih semua eksistensi pengetahuan objektif di dunia, dan yang tersisa bagi agama hanyalah jiwa subjektif kita? dan secara subjektif, ketulusan dari setiap orang sudah cukup.

Tanggapan A: Jika agama hanya subjektif, maka Kekristenan bukanlah suatu agama, karena Kekristenan mencakup klaim kebenaran yang objektif.

Tanggapan B: Ilmu pengetahuan belum mengambil alih semua bidang pengetahuan objektif. Ilmu pengetahuan hanya mengetahui sangat sedikit dari kenyataan yang sebenarnya, seperti seberkas cahaya dari lampu sorot, atau sinar laser hanya menerangi sebagian kecil dari kenyataan suatu ruangan.

Tanggapan C: Ilmu pengetahuan tidak menyangkal, menggantikan, atau mengurangi nilai agama dalam cara apapun.

Tanggapan D: Allah yang digambarkan di dalam Kitab Suci selalu mencengangkan kita, dalam banyak cara; mencengangkan kita karena tidak sesuai dengan perkiraan kita, tidak sesuai dengan subjektifitas kita. Sesuatu yang bersifat subjektif menurut kita tidaklah asing bagi kita, tidak mengcengangkan kita karena subjektif itu adalah sudut pandang dari kita. Tetapi Allah bukanlah sesuatu yang subjektif, begitu juga agama, karena kebenaran kenyataan itu bukan berasal dari subjektif manusia, melainkan kebenaran objektif dari Allah.

Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?

Pertanyaan judul di atas merupakan pertanyaan selanjutnya menanggapi pemahaman maksud dari Keselamatan yang sudah dibahas sebelumnya. Maka pertanyaan ini diajukan untuk mencoba menggugat pemahaman yang telah terbentuk, yaitu: Siapakah yang Menyelamatkan? (atau setara dengan pertanyaan ‘Siapa Penyelamat?’) Apakah hanya Yesus yang menyelamatkan? Jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’ bahwa Yesus-lah yang menyelamatkan, atas pertanyaan itu kedua jawaban tersebut sepertinya menjadi dilema (serba kurang tepat).

Jika kita menjawab ‘Ya, hanya Yesus-lah Sang Penyelamat’ maka keberatan akan muncul: Berarti semua orang yang non-kristen akan masuk neraka, bahkan seorang pagan yang baik seperti Socrates. Apakah ada kesalahan Socrates (contoh dari kelompok orang baik pagan) yang tidak hidup pada waktu yang tepat sehingga tidak bertemu Yesus atau tidak mendapat pewartaan tentang Yesus? tidak ada kesalahan pada Socrates yang pada masa hidupnya tidak bertemu Yesus atau mendapatkan pewartaan tentang Yesus. Maka akan muncul pendapat bahwa Allah itu sangat tidak adil dan tidak mengasihi bagi kelompok non-Kristen ini, sehingga sebagian besar akan masuk neraka.

Tetapi jika kita memberikan jawaban lain yaitu bahwa orang-orang non-Kristen yang baik seperti Socrates akan diselamatkan juga, lalu akan muncul lagi pertanyaan baru: lalu mengapa perlu menjadi Kristen? Karena jika si Socrates sudah cukup melakukan perbuatan baik agar dapat diselamatkan dan masuk ke Surga, mengapa harus menambah sempit klaim bahwa hanya Yesus-lah jalan Keselamatan?

Dengan kata lain jika si Scorates benar tidak diselamatkan, maka Allah bukanlah seperti yang diyakini bahwa Allah maha pengasih dan adil. Di lain sisi jika si Scorates benar diselamatkan, maka Yesus bukanlah satu-satunya jalan Keselamatan.

Untuk membahas lebih lanjut maka perlu dibahas kembali apa yang dimaksud sebenarnya Penyelamatan secara objektif berdasarkan data (Kitab Suci); dan menakar subjektifitas atau seberapa jauh pemahaman yang berkembang dari sisi orang kristen dan non-kristen.


Objektif Keselamatan dibandingkan dengan Sukjektif Pemahaman akan Keselamatan

Dilema jawaban di atas bukan hanya rumit, teknikal, masalah teologi, dan bukan juga mengenai Socrates. Ini merupakan hal penting bagi semua pertanyaan dan semua orang. Untuk menjawab ini, kita perlu membuat pemisahaan yang krusial (sangat teliti) antara dimensi objektif dan dimensi subjektif dari pertanyaan tersebut. Kitab Suci Perjanjian Baru memberikan kejelasan, yang pasti dan tidak dapat dikompromikan, memberikan jawaban yang sangat spesifik (khusus) bagi pertanyaan yang objektif, tetapi tidak kepada pertanyaan yang subjektif.

Secara objektif, Kitab Suci Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Penyelamat: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12). Yesus sendiri menegaskan: “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.'” (Yohanes 14:6). Orang Kristen percaya Yesus adalah sang Penyelamat dan satu-satunya karena Yesus yang mengatakan demikian. Jika hal tersebut tidak benar maka, Ia bukan Penyelamat, tapi semua adalah kebohongan, penghujatan dan penipuan yang sangat egois.

Secara subjektf (menurut pandangan dari kita masing-masing), apakah benar kita perlu diselamatkan? Kitab Suci Perjanjian Baru menyatakan kita memerlukan iman dalam Dia (Yesus) agar dapat diselamatkan, tetapi apa yang dimaksud dari pernyataan itu? Jenis iman yang bagaimana yang dimaksud? Yang pasti; tidak ada Yesus lain yang dimaksud, hanya satu Yesus, tapi banyak keyakinan iman yang berbeda-beda. Batasan pembeda antara Yesus dan orang lainnya jelas digambarkan, dapat diketahui dengan jelas perbedaan Allah-manusia dan manusia fana. Namun perbedaan antara Kepastian iman yang dimiliki oleh Petrus dan Ketidakpastian iman yang dimiliki Socrates tidak dapat dilihat dengan jelas.

Apakah itu berarti ada kemungkinan si Socrates sebenarnya memiliki iman dalam Kristus? Bukankah untuk beriman dalam Kristus harus diawali dengan pengenalan akan Kristus? Bagaimana mungkin si Socrates pernah mengenal Kristus? Ada jawaban yang berlaku untuk kasus Socrates dan juga untuk semua orang, yaitu seperti yang tertulis di Kitab Suci Perjanjian Baru: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:8). Yang maksudnya adalah Yesus sudah hadir sebelumnya, sebelum inkarnasi sabda menjadi daging; menjadi Allah-manusia yang dikenal bernama Yesus Kristus; Yesus Kristus sebelumnya adalah Logos (dari bahasa Yunani yang berarti sabda) Allah, Kata Ilahi (Firman), Terang, atau Sumber Kebenaran.

Tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali melalui Kristus (Yohanes 1:18; Lukas 10:22). Tetapi kaum pagan telah mengenal Allah (Kisah Para Rasul 17:28; Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 1:19-20; 2:11-16). Dengan demikian dapat diketahui bahwa pagan mengenal Kristus, yang dikenal sebelum kelahiran bayi Yesus, yang dikenal sebagai Terang, sebagai Firman, sebagai Alasan Kebenaran; yang pada masa pagan yang diceritakan di Kisah Para Rasul, dan Surat Paulus, mereka kelompok pagan belum mengetahui ‘nama’, atau ‘Logos’, atau ‘gambaran’ (wujud) Allah inkaranasi sebagai manusia yaitu Yesus.

Kristus bukanlah hanya seorang Yahudi yang berumur 33 tahun dan dikenal sebagai tukang kayu. Dia adalah yang Kedua dari Tritunggal Maha Agung, secara penuh, melalui wahyu, atau gambaran, dari sang Bapa (Kolose 1:15, 19; Yohanes 14:9). Hubungan dia dengan Allah seumpama sinar matahari dengan sang matahari. Dia bagaikan “cahaya yang menerangi setiap manusia” melalui akal budi dan suara hati. Oleh karena itulah doktrin dari Keilahian Kristus – diklasifikasikan  sebagai “konservatif” atau “tradisional” oleh kelompok liberal – sebab doktrin inilah yang mendasar harapan yang dimiliki oleh kelompok liberal bahwa penganut pagan juga mungkin dapat diselamatkan.

Jadi secara objektif, benarlah hanya Kristus yang dapat menyelamatkan penganut pagan juga. Tetapi secara subjektif, jenis keyakinan bagaimana yang mungkin menyelamatkan penganut pagan, atau penganut agama Hindu, atau penganut agnostik? Apakah seperti jenis keyakinan berikut?

  1. Keyakinan yang tidak jelas, samar, yang digeneralisasikan dengan kejujuran dan ketulusan?
  2. Keyakinan yang berkomitmen sepenuhnya terhadap Kebenaran, Kebenaran yang bukan sesuatu dapat ditemukan di beberapa hal, tetapi Kebenaran yang absolut, yang secara implisitnya merupakan sifat dari Allah?
  3. Keyakinan yang mencari bukan hanya Kebenaran tetapi juga Kebajikan, moral yang benar, secara garis besar keyakinan ini merupakan pilihan mendasar untuk kebaikan daripada kejahatan?
  4. Keyakinan atas kasih dari Kebaikan, yang bukan sesuatu berasal dari pihak lain, melainkan hanya sepenuhnya merupakan sifat dari Allah?
  5. Keyakinan akan pertobatan akan dosa, walaupun tidak ada kejelasan konsep Tuhan yang ditujukan oleh penganut pagan dengan melakukan penyesalan?
  6. Keyakinan dalam Tuhan, Allah dari ilham, Allah dari terang budi, sang Intelektual yang merancang alam dan sumber Kesucian suara hati?
  7. Keyakinan yang penuh dengan kehati-hatian, ketelitian, dimana kebebasan dan suara hati dipergunakan secara teliti menanggapi kasih Ilahi, akan tetapi samar-samar dimengerti oleh penganutnya?

Semua poin-poin tersebut diperlihatkan juga oleh Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru sebagai hal yang diperlukan juga.

Tetapi pengetahuan eksplisit (pengetahuan yang benar-benar mutlak menuntut kejelasan) akan Inkarnasi Yesus bukan suatu keharusan syarat untuk keselamatan. Contohnya adalah Abraham, Musa, dan Elia yang tidak memiliki pengetahuan eksplisit akan Yesus Kristus, dan mereka juga telah diselamatkan. (Kita dapat mengetahui itu dengan membaca Matius 17:3 dan Lukas 16:22-23.) Orang yang sama – Yang Kedua dari Tritunggal Maha Kudus – keduanya adalah Logos yang dikenal pada masa prainkarnasi (sebelum inkarnasi sabda menjadi daging), yang “menerangi setiap manusia”, dan berinkarnasi sebagai Yesus, yang telah dilihat oleh beberapa orang. Mereka mengenali salah satu dari kedua itu (Yesus; prainkarnasi dan setelah inkarnasi) mengenali yang satunya lagi, karena keduanya adalah orang yang sama.

Jika kita bertanya kepada Abraham, “Apakah kamu percaya dalam Yesus, Dia sebagai Penyelamatmu?” Abraham tidak dapat menjawab ‘ya’. Jawaban ‘ya’ dari Abraham hanya bersifat implisit dalam sebatas pengetahuan yang dipunya oleh Abraham, tetapi ‘ya’ dari Abraham adalah jawaban bahwa dia pernah benar-benar secara nyata bertatap muka dengan Yesus yang nyata. Dan karena Abraham menjawab ‘ya’ kepada Kristus dan demikian dia diselamatkan. Oleh karena itu ketidakmampuan Abraham menjawab ‘ya’ secara eksplisit terhadap pertanyaan tersebut bukan berarti otomatis kita tidak diselamatkan. Begitu juga bagi Socrates, dia tidak otomatis tidak diselamatkan. Apapun dan bagaimana Socrates memiliki hubungan kontak dengan Kristus selaku Logos adalah tetap masih pertanyaan yang belum terjawab. Secara abstrak, usaha pencapaian intelektual dari kebenaran tidaklah cukup untuk menyelamatkan kita. Namun kesalahan intelektual cukup untuk membuat kita gagal untuk mempersiapkan agar kita diselamatkan.

Allah tidak memberikan kita ujian akhir teologi layaknya ujian akhir sekolah ketika kita meninggal sebagai syarat untuk masuk ke surga. Jika Allah melakukan itu, kita semua akan gagal pada ujian itu. Dan kemudian akan muncul permasalahan kewenangan penentuan batas poin lulus atau gagal. Lalu apa yang menjadikan iman dari seorang seperti Socrates dapat membuat dia diselamatkan? Apa makna dari bagi Socrates untuk mengimani Kristus yang dia kenal sebagai Logos? Apa yang dapat dia lakukan agar diselamatkan?

Untuk itu kita perlu kembali mengkonsultasikan kembali data yang kita punya, yaitu Kitab Suci. Terdapat tiga jawaban dalam Kitab Suci: Kita harus mencari Allah, menyesali dosa kita, dan mengimani Allah. Lalu dari data itu dapat kita mengenali beberapa parameter dari tiga syarat yang sifat universal untuk Keselamatan.

1. Mencari Kebenaran sebagai Keilahian Mutlak dapat dengan mencari Allah karena Allah adalah Kebenaran.

Kebenaran adalah bagian dari Allah, seumpama Matahari terdiri dari sinar dan energi. Kebenaran ini lebih dari kebenaran mental biasa. Pencarian Kebenaran dimotivasi oleh keinginan, kehendak. Pencarian Kebenaran merupakan kebebasan kehendak dari keinginan, dari hati – cinta akan Kebenaran – itulah yang membuat orang mulai mencari Kebenaran. Dan pencarian sudah merupakan suatu jenis Iman. Pencarian adalah iman yang diarahkan untuk masa depan; yaitu dikenal sebenarnya sebagai Harapan. Harapan adalah suatu “nilai plus dari teologi”, sesuatu yang menghubungkan kita dengan Allah. Kita telah dijanjikan bahwa semua yang mencari (Allah), akan menemukan (Allah) (lihat Matius 7:7-8);

Dalam mencari Allah menunjukkan bahwa kasih ilahi telah hadir dalam jiwa setiap orang yang mencari. Santo Augustin menggambarkan bahwa Allah berkata kepadanya, “Ambil hati, anakku. Kamu tidak akan mencari saya sebelum Saya menemukan kamu terlebih dahulu.” Dan sebuah semboyan tua dalam bahasa Inggris pernah berbunyi: “I sought the Lord, and afterward I knew / He moved my soul to seek him, seeking me. / It was not I that found, O Savior true; / No, I was found Thee.”

Pascal pernah berkata bahwa ada tiga tipe orang di dunia: (1) mereka yang mencari Allah dan menemukan-Nya, (2) mereka yang mencari Allah tetapi belum menemukan-Nya, (3) mereka yang tidak mencari Allah dan tidak menemukannya. Pascal menyebut tipe yang pertama sebagai “menggunakan-akal (bijaksana) dan bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan bahagia karena menemukan apa yang mereka cari. Pascal menyebut tipe yang kedua sebagai “menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – menggunakan-akal karena mereka mencari, dan tidak-bahagia karena mereka belum menemukan. dan Pascal menyebut tipe yang ke tiga sebagai “tidak-menggunakan-akal dan tidak-bahagia” – tidak-menggunkan-akal karena mereka tidak mencari, dan tidak-bahagia karena mereka tidak menemukan.

Perbedaan yang terbesar adalah bukan antara mereka yang telah menemukan dan mereka yang belum menemukan. Perbedaan yang telah dan belum menemukan merupakan perbedaan yang sementara, karena semua yang tergolong tipe kedua akan naik menjadi tipe pertama; karena semua yang mencari akan menemukan. Dan yang menjadi perbedaan terbesarnya terletak antara mereka yang mencari dan yang tidak mencari, karena perbedaan itu merupakan perbedaan yang selamanya. Tidak ada tipe yang ke empat, dimana orang yang tidak mencari, tidak selamanya tidak menemukan.

2. Mengenai Penyesalan dosa, dalam Kitab Yesaya tertulis:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya”

Sehingga dapat kita ketahui bahwa pencarian harus disertai dengan penyesalan. Semua dapat menyesali, bagi semua orang yang mengenal hukum moral (Roma 1-2) dan demikian juga dosa milik mereka. Pada dasarnya pencarian kebenaran dan bahkan kebaikan saja tidak cukup, karena mungkin saja pencarian itu dimotivasi, didorong oleh rasa harga diri (kehormatan diri sendiri) dan pembenaran diri sendiri (mencari agar melihat diri sendiri sudah benar), agar menjadi baik sesuai dengan ukuran nilai baik oleh dirinya sendiri, bukan dimotivasi oleh kehormatan Allah, kebenaran menurut Allah, dan Nilai baik menurut Allah. Dan untuk menggarisbawahi mengenai penyesalan dosa, ada satu pertanyaan penting: Apakah saya (kita) akan menyerah (menyerahkan semua keinginan, kehormatan, kebenaran, kebaikan) kepada Allah, jika saya (kita) bertemu dengan Allah?

3. Iman, yaitu; mempercayai dan menerima Allah, kasih Allah dan hidup Allah.

Iman merupakan hal yang ketiga yang diperlukan agar diselamatkan, tetapi bagaimana kita dapat mempercayai dan menerima Allah jika kita tidak mengenal Dia? Kita tidak bisa melakukan itu. Tetapi kita semua mengenal dia (Roma 1). Bagaimana kita bisa mengenal dia tanpa Kristus? Kita tidak bisa. Karena kita semua tahu bahwa Kristus lah Sang Terang, Firman, Logos (Yohanes 1:9).

Lalu harus seberapa banyak pengetahuan kita akan Allah agar dapat memiliki iman dan dapat diselamatkan? Jumlah atau besaran tidak menentukan, layaknya seperti fakta statistik. Namun, kita tahu  (Roma 1-2) bahwa kita semua mempunyai pengetahuan yang cukup akan Allah yang untuk membuat kita bertanggung jawab di hadapan Allah.

Pertanyaan mengenai pengetahuan akan Allah yang bagaimana yang memadai agar dapat memilih untuk mempercayai atau tidak dapat dijawab dengan memperhatikan perbedaan antara pemahaman kata ‘mengetahui’ dan ‘mengenal’. ‘Mengetahui’ berhubungan fakta, yang berkisar pengenalan secara objektif fakta-fakta yang dapat terukur. Sedangkan ‘Mengenali’ lebih bersifat subjektif. Seberapa banyak pun fakta yang kita ketahui (‘mengetahui’) tidak berpengaruh dengan pengenalan kita terhadap seseorang. Semua orang mengenal Allah, walaupun mereka tidak tahu banyak mengenai Allah (lihat Roma 1 dan Kisah Para Rasul 17).

Dengan demikian untuk meringkaskan kesimpulan: Socrates (atau penganut pagan manapun) dapat mencari Allah, dapat menyesali dosanya, dan tersirat bahwa ada kepercayaan dan penerimaan akan kehadiran Allah walaupun hanya sebagian dan agak kabur, dan karena itu dia dapat diselamatkan- atau sebaliknya dia akan binasa apabila dia menolak untuk mencari, menyesali dosa, dan mempercayai. Terdapat terang dan kesempatan yang mencukupi, pengetahuan dan kebebasan kehendak yang mencukupi, yang menjadikan setiap manusia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah. Allah mengadili manusia berdasarkan pengetahuan setiap manusia, bukan berdasarkan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh manusia itu.


Keberatan terhadap “Keselamatan bagi penganut Pagan”

Kelompok konservatif sering keberatan atas penempatan pemahaman “Keselamatan bagi penganut Pagan”, dimana dalam pemahaman tersebut ada kemungkinan bagi penganut Pagan untuk diselamatkan, dan oleh karena pemahaman ini mengurangi motivasi usaha misi, misi pewartaan Injil. Karena pemahaman ini, muncul beberapa pertanyaan keberatan dari pihak konservatif: Kalau demikian mengapa kami harus menghabiskan hidup, mempertaruhkan hidup, untuk mewartaan Yesus Kristus kepada dunia jika mereka (orang yang belum mengenal Yesus) dapat diselamatkan tanpa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Yesus? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus dan penting. Kita perlu menanggapi pertanyaan ini dengan jawaban yang memuaskan dan jelas.

Terdapat tiga alasan yang mungkin mendorong misi pewartaan dilangsungkan; misi mengkabarkan kepada orang lain tentang Injil, kabar baik dari Yesus Kristus. (dan perlu kita ingat bahwa setiap umat kristen diutus untuk menjadi pewartaan (Matius 28:18-20), dan bukan hanya tugas para biarawan, bukan hanya tugas orang yang berlabel “pendeta” atau “pastor”.) Tiga alasan tersebut adalah:

  1. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok fundamentalis: Kami mengetahui bahwa dunia akan jatuh ke neraka, kecuali jika orang-orang menerima Kristus sebagai Penyelamatnya.
  2. Alasan yang sering digunakan oleh banyak kelompok moderen: “Kami hanya ingin mengasihi sesama (orang lain) dan membagikan apa yang kami punya kepada mereka (orang lain), melaksanakan tugas sosial yang sangat besar.” Kami tidak percaya akan adanya neraka, dan seandainya pun neraka itu ada, kami tidak percaya bahwa semua orang akan jatuh ke sana, dan apabila sekalipun benar ada yang jatuh ke neraka kami perkirakan hanya orang-orang tertentu seperti Hitler atau Stalin. Kami tidak mengurusi Keselamatan.
  3. Alasan yang sudah sering digunakan sejak Gereja Perdana (tradisi): “Kami tidak tahu dengan pasti siapa yang akan jatuh ke neraka; oleh karena itu kami mengkhawatirkan semua orang perlu diselamatkan.” Layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya yang bermain di dahan-dahan pohon, meneriaki mereka untuk segera turun dari pohon agar tidak celaka terjatuh. Bagi ibu tersebut yang terpenting bukanlah bagaimana anak-anak itu pandai memanjat atau dahan pohon yang kuat sehingga mereka tidak jatuh celaka; melainkan yang terpenting adalah bahwa biasanya kalau anak-anak itu jatuh, mereka celaka. Kelompok ini (kelompok tradisional/gereja perdana/tradisi) tahu bahwa semua orang dapat jatuh ke dalam neraka, karena Yesus yang mengatakannya. Jadi kelompok ini bukanlah kelompok moderen. Bagi kelompok ini tidak dapat diketahui dengan pasti siapa saja yang mungkin akan jatuh ke neraka, karena Yesus tidak mengatakan kepada kita. Oleh karena itu kelompok gencar menyerukan pewartaan agar semua orang mengenal Yesus agar diselamatkan, berusaha sebisa mungkin mencegah orang jatuh ke dalam neraka, menjauhkan orang dari jurang neraka, memelihara hidup setiap orang di dunia sama giatnya dan intensif seperti kelompok fundamentalis.

Tiga alasan di atas secara tidak langsung juga selaras dengan pandangan terhadap tindakan Aborsi (pengguguran kandungan).  Ada tiga kemungkinan etika di masyarakat dunia terhadap tindakan aborsi, yang selaras dengan tiga alasan yang telah dijelaskan di atas mengenai misi pewartaan keselamatan. Tiga kemungkinan etika yang sudah dikenal luas di masyarakat dunia:

  1. Etika yang mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia, dan oleh karena tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  2. Etika yang mengklaim bahwa tidak benar bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi maka tidak benar juga tindakan aborsi adalah pembunuhan.
  3. Etika yang tidak mengklaim mengetahui bahwa jiwa manusia baru memasuki kandungan ketika proses konsepsi, pada proses pembentukan fetus menjadi seorang manusia.

Dari ketiga etika di atas, yang paling sering diterima oleh kelompok skeptis (yang tidak ingin mengklaim) adalah etika yang ke tiga. Etika ketiga ini banyak diterima oleh kelompok orang mendukung kebebasan pilihan dari setiap orang, dan bagi etika ketiga ini juga menarik bagi kelompok orang yang mendukung mempertahankan-hidup (kandungan). Karena bagi kedua kelompok ini jika kita tidak mengetahui dengan pasti bahwa bayi yang belum lahir adalah bukan digolongkan manusia dan tidak mempunyai jiwa; maka berdasarkan alasan itu tindakan aborsi adalah dinilai sangat buruk dan tidak bertanggung jawab karena mempertaruhkan kemungkinan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan! Tindakan itu sama halnya seperti kita melempar batu bata dari gedung yang tinggi ke arah suatu pemukiman dengan mengharapkan bahwa batu itu tidak mengenai dan melukai orang yang mungkin ada atau tidak ada di bawah gedung.

Ketidakpedulian dan Kekhawatiran dapat mempengaruhi alasan kita atas suatu tindakan yang kita perbuat, sama halnya dengan Pengetahuan dan Kepastian juga dapat mempengaruhi alasan kita. Contohnya; Jika saya mengira bahwa anak saya yang sedang sakit mungkin (karena pengetahuan saya akan kemungkinan akibat penyakit tersebut) akan meninggal, saya akan dengan secepatnya mencari dokter; begitu juga sama cepatnya saya akan mencari dokter  jika saya mengetahui pasti (karena saya menyaksikan anak saya sedang sekarat). Dengan demikian, kelompok orang skeptis liberal yang berpikiran terbuka dan kelompok orang yang sepenuhnya membaktikan diri sebagai fundamentalis sangat bersesuaian.

Masih ada hal lain yang perlu diketahui mengenai motivasi misi pewartaan Injil, hal yang lebih penting dari perhitungan dan kemungkinan-kemungkinan yang telah dibahas di atas. Motivasi kita mewartakan Injil bukan hanya untuk menambah jumlah populasi penghuni Surga, dan mengurangi populasi penghuni Neraka; tetapi juga untuk mengundang orang lain untuk ikut hidup dalam rohani yang lebih mendalam: memahami hubungan khusus dan cinta dari Kristus yang membawa ke pendalaman iman, harapan, cinta kasih, kebahagiaan, dan kedamaian. Tanpa pengetahuan eksplisit (pewartaan) akan Kristus, hal pendalaman kehidupan rohani mungkin tidak akan tercapai. Dan tanpa pewartaan, walaupun masih ada kemungkinan keselamatan bagi orang lain yang tidak mengenal Kristus, tetapi jaminan bahwa keselamatan dapat terdengar oleh orang lain tidak mungkin tercapai tanpa pewartaan.

(sekian)

Asal usul Yesus Kristus

Syahadat berbicara singkat sekali mengenai awal hidup Yesus di dunia, “Ia menjadi manusia oleh Roh Kudus dari Perawan Maria”. Syahadat panjang sebetulnya malah berkata “menjadi daging“; yang dimaksudkan “manusia lemah”. Arti kata “oleh Roh Kudus, dari Perawan Maria” menjadi jelas dari syahadat pendek: “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Yang dimaksudkan sudah jelas: Anak yang lahir dari Maria, bukan anak biasa, melainkan Anak Allah. Dan – seperti telah ditetapkan melawan Nestorius – itu tidak berarti bahwa Maria melahirkan seorang anak biasa, yang kemudian dimasuki Firman Allah. Anak yang lahir dari Santa Perawan, dari semula, artinya dari saat dikandungnya, sudah Anak Allah. Hal itu mau dinyatakan dengan kata-kata “dikandung dari atau oleh Roh Kudus”. Sama seperti semua kata lain dari syahadat, juga kata-kata ini hanya mau merumuskan apa yang sebetulnya sudah dikatakan di dalam Kitab Suci.

Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas (bab 1-2). Matius (bab 1-2) juga mengisahkan masa kanak-kanak Yesus, tetapi dengan lebih berpusat pada St. Yusuf. Di sana dibicarakan kebingungan Yusuf, ketika menyadari bahwa Maria mengandung; sementara kelahiran Yesus sendiri tidak diceritakan. Dalam cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kelahiran Yesus ada perbedaan antara Lukas dan Matius. Lukas menyebut kedatangan para gembala (Luk 2:8-20); penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah (Luk 2:21-40) dan Yesus yang pada umur dua belas tahun tinggal di kenisah (Luk 2:41-52). Sedangkan Matius menceritakan kunjungan para sarjana dari Timur (Mat 2:1-12), pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15.19-23), dan pembunuhan kanak-kanak di Betlehem (Mat 2:16-18).

Mat 1-2 dan Luk 1-2 mempunyai ciri-ciri sendiri. Keduanya tidak bermaksud memberikan informasi baru, melainkan menerangkan (dalam bentuk cerita) misteri Kristus sebagai manusia yang adalah Anak Allah. Hal itu sudah kelihatan dari fakta bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 baru ditulis lebih kemudian (Markus, sebagai Injil paling tua, tidak mempunyai kisah kanak-kanak Yesus; sedangkan Yohanes mempunyai suatu uraian lebih “teoretis” mengenai misteri pribadi Yesus pada awal Injilnya). Gereja pada waktu itu tidak hanya bertanya siapa Yesus, melainkan juga dari mana Ia datang dan bagaimana semua itu terjadi. Soal itu dijawab oleh Matius dan Lukas, masing-masing dengan caranya sendiri, kendati kedua-duanya mengajarkan yang sama, yakni:

  1. Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan (Mat 1:18.24-25; Luk 1:27.34; 2:4-7);
  2. Maria menerima kabar dari malaikat mengenai anak yang akan dilahirkannya (Mat 1:20-21; Luk 1:28-30);
  3. Maria akan mengandung karena Roh Kudus (Mat 1:18; Luk 1:35);
  4. Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Mat 1:16.20; Luk 1:27; 2:4), tidak tahu mengenai hal itu (Mat 1:18-25; Luk 1:34);
  5. Anak yang akan lahir harus diberi nama Yesus (Mat 1:21; Luk 1:31), sebab Ia Penyelamat (Mat 1:21; Luk 2:11), anak Daud (Mat 1:1; Luk 1:32).

Di samping lima hal pokok itu juga diceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (Mat 2:1; Luk 2:4-7); sesudah itu Maria dan Yusuf menetap di Nazaret (Mat 2:22-23; Luk 2:39.51). Hal itu terjadi pada zaman raja Herodes (Mat 2:1; Luk 1:5).

Semua peristiwa itu menceritakan kelahiran Yesus yang serba istimewa, mulai saat Ia dikandung oleh Perawan Maria. Peristiwa sesudah kelahiran-Nya dalam Injil Lukas tidak lain daripada yang lazim terjadi dalam suatu keluarga Yahudi, dengan ciri-ciri tertentu, yang menggarisbawahi misteri pribadi Yesus. Sebaliknya kisah mengenai sarjana dari Timur (Mat 2:1-12) serta pengungsian ke Mesir dan pembunuhan di Betlehem (Mat 2:13-23) mau memperlihatkan bahwa Yesus itu cahaya para bangsa dan Hamba Allah yang harus menderita untuk dan karena bangsa-Nya

Belum tentu semua itu terjadi tepat sebagaimana diceritakan, lengkap dengan semua detailnya. Kisah ini ditulis guna menjelaskan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, Anak Allah dan anak Maria. Khususnya kisah Lukas mengenai Maria, mengatakan hal itu dengan jelas sekali. Lima hal pokok yang disebut di atas semua memperlihatkan hal itu, terutama cerita mengenai kunjungan malaikat. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara lebih seksama: Maria yang mengandung dari Roh Kudus; dan Maria yang tetap perawan yang kait-mengait.