Pernyataan dalam Kitab Suci mengenai Keilahian Kristus

Berikut beberapa data (21 poin) yang terdapat di dalam Kitab Suci yang menyatakan Keilahian Kristus:

  1. Rumusan Kredo atau Syahadat pada Gereja Perdana “Yesus adalah Tuhan [kyrios]”:

    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
    (1 Korintus 12:3)

    dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
    (Filipi 2:11)

  2. Gelar, atau sebutan “Putra Allah” (“Putra (dari)” mengartikan “mempunyai sifat yang sama (dari)”):

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    (Matius 11:27)

    Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
    (Markus 12:6)

    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
    (Markus 13:32)

    Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”
    Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
    (Markus 14:61-62)

    Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
    (Lukas 10:22)

    Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    (Lukas 22:70)

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    (Yohanes 14:9)

  3. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada tertulis yang menyebut Kristus sebagai “Allah”:

    dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
    (Titus 2:13)

    Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
    (1 Yohanes 5:20)

    Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
    (Roma 9:5)

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1:1)

  4. Keabsolutan Kristus, Kekuasaan yang tertinggi dan menyeluruh:

    Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
    (Kolose 1:15-20)

  5. Keabadian Kristus yang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan sebagai bayi manusia:

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    (Yohanes 1.1)

    yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
    (Filipus 2:6)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

    Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
    (Wahyu 22:13)

  6. Kristus yang Maha-hadir, kehadiran-Nya dapat dimana saja dan kapan saja:

    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
    (Matius 18:20)

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
    (Matius 28:20)

  7. Kristus yang Maha-kuasa:

    Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
    (Matius 28:18)

    Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    (Ibrani 1:3)

    “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
    (Wahyu 1:8)

  8. Kristus yang Kekal-abadi:

    Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    (Ibrani 1:11-12)

    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
    (Ibrani 13:8)

  9. Kristus sang Pencipta (Hanya Allah yang dapat menciptakan):

    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    (Kolose 1:16-17)

    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    (Yohanes 1:3)

    namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
    (1 Korintus 8:6)

    Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    (Ibrani 1:10)

  10. Kristus tidak berdosa. Suci, dan Sempurna

    Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
    (Ibrani 7:26)

    Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
    (Yohanes 8:46)

    Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
    (2 Korintus 5:21)

  11. Kristus mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menghapus dosa:

    Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
    Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
    Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
    Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
    Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
    Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
    (Markus 2:5-12)

    Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
    Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
    (Lukas 24:45-47)

    Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
    (Kisah Para Rasul 10:43)

    Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
    Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
    Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
    Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    (1 Yohanes 1:5-9)

  12. Kristus sudah selayak dan sepantasnya disembah:

    Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
    (Matius 2:11)

    Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
    (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
    (Matius 28:9)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
    (Yohanes 20:28)

    Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    (Ibrani 1:5-9)

  13. Kristus menyatakan hal yang sangat khusus:

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
    (Yohanes 8:58)

  14. Kristus disebut “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”:

    yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    (1 Timotius 6:15)

    Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
    (Wahyu 17:14)

  15. Kristus adalah satu dengan Bapa:

    Aku dan Bapa adalah satu.”
    (Yohanes 10:30)

    dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
    (Yohanes 12:45)

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
    (Yohanes 14:8-10)

  16. Kristus melakukan mujizat-mujizat:

    Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
    (Yohanes 10:37-38)

    dan mujizat lainnya yang dapat dibaca di keempat Injil.

  17. Kristus mengutus Roh Kudus:

    Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
    (Yohanes 14:25-26)

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
    akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
    akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
    akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
    Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
    Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
    Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
    (Yohanes 16:7-15)

  18. Allah Bapa memberikan kesaksian atas Kristus:

    lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (Matius 3:17)

    Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
    (Matius 17:5)

    Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
    (Yohanes 8:18)

    Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
    (1 Yohanes 5:9)

  19. Kristus memberikan kehidupan kekal:

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    (Yohanes 3:16)

    Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
    (Yohanes 5:39-40)

    Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
    (Yohanes 20:30-31)

  20. Kristus mengetahui masa atau kejadian yang akan datang:

    Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
    (Markus 8:31)

    Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
    (Lukas 9:21-22)

    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
    Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
    Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
    Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
    (Lukas 12:49-53)

    Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
    Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.”
    (Lukas 22:35-37)

    tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
    Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
    Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
    Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
    (Lukas 24:1-7)

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
    Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
    Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
    Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
    (Yohanes 3:11-14)

    Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
    Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
    Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.
    (Yohanes 14:27-29)

    Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
    Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
    Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?
    (Yohanes 18:1-4)

    Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
    Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia–supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–:”Aku haus!”
    Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
    Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    (Yohanes 19:26-30)

  21. Kristus adalah Tuhan di atas segala hukum:

    Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
    (Lukas 6:1-5)

Poin-poin di atas adalah data untuk pembahasan dalam tulisan yang akan datang. Salam.

Menjawab keberatan-keberatan lain mengenai tanggapan argumen Kebangkitan Yesus Kristus

Setelah adanya tanggapan-tanggapan yang dapat kita beri mengenai argumen-argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus pada halaman-halaman sebelumnya;

1. Kebangkitan Yesus Kristus
2. Arti dari Kebangkitan
3. Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus
4. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya pingsan di kayu salib)
5. Tanggapan atas Teori Konspirasi
6. Tanggapan atas Teori Halusinasi
7. Tanggapan atas Teori Mitos

maka tidak ada alternatif lain selain pemahaman Kekristenan mengenai kebangkitan Yesus Kristus benar-benar terjadi yang dapat menjelaskan: keberadaan Injil, asal iman Kristen, kegagalan musuh Kristus untuk memunculkan tubuhnya kembali sebagai bukti bahwa Yesus tidak bangkit, kubur tempat Yesus dimakamkan kosong, batu kuburan Yesus yang berguling jauh, atau mengenai kesaksian penampakan Yesus Kristus setelah kebangkitan. Teori-teori Swoon, Konspirasi, Halusinasi dan Mitos telah terbukti menjadi deretan alternatif yang mencoba menjelaskan kebangkitan Yesus Kristus yang nyata, dan masing-masing teori tersebut telah dibantah dengan penjelasan yang memadai.

Alasan apa yang dapat diberikan pada saat ini bagi siapa saja yang masih menolak untuk percaya? Pada titik ini, keberatan yang muncul lebih bersifat umum daripada keberatan secara khusus. Sebagai contoh :

Keberatan 1 : Sejarah bukanlah ilmu pasti. Sejarah tidak menghasilkan kepastian yang mutlak seperti matematika.

Tanggapan : Ya benar sejarah bukanlah ilmu pasti, tapi mengapa baru sekarang ada yang memberikan penekanan terhadap fakta mengenai sejarah bukanlah ilmu pasti, dan bukan ketika kita berbicara tentang Caesar atau Luther atau George Washington? Sejarah memang tidak tepat, tapi itu sudah cukup. Tidak ada yang meragukan bahwa Caesar menyeberangi Rubicon, mengapa banyak keraguan bahwa Yesus bangkit dari kematian? Bukti yang ada untuk yang Yesus bangkit dari kematian jauh lebih baik daripada untuk bukti dari kisah lainnya seperti Caesar menyeberangi Rubicon.

Keberatan 2 : Kita tidak bisa mempercayai dokumen. Kertas tidak membuktikan apa-apa. Apa pun yang berupa dokumen dapat dipalsukan.

Tanggapan : Keberatan seperti ini hanyalah kebodohan. Tidak mempercayai apa yang dinyatakan dalam dokumen itu seperti tidak mempercayai apa yang ditampilkan oleh teleskop. Bukti tertulis di atas kertas sudah cukup untuk sebagian besar dari apa yang kita percaya, mengapa harus bukti peninggalan dokumen kertas tiba-tiba menjadi yang dipertanyakan di sini?

Keberatan 3 : Karena kebangkitan adalah ajaib, suatu peristiwa mukjizat. Mukjizat adalah inti dari bukti-bukti dalam kisah tersebut yang membuat kisah tersebut menjadi luar biasa.

Tanggapan : Sekarang kita akhirnya memiliki keberatan yang langsung dan terarah – bukan lagi keberatan atas bukti dokumenter, dokumen, atau teks tetapi keberatan atas adanya mukjizat. Keberatan ini merupakan pertanyaan filosofi, bukan ilmiah, bukan pertanyaan sejarah atau tekstual. (akan ada pembahasan lanjut mengenai ini) .

Keberatan 4 : Kebangkitan bukan hanya mukjizat biasa tetapi keajaiban yang sangat khusus dan tidak mudah diterima. Kebangkitan dari kematian adalah peristiwa kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Agama seharusnya lebih mengarah dan bersifat spiritual, bersifat ke dalam, dan etika.

Tanggapan : Jika agama adalah sesuatu yang kita ciptakan, kita bisa membuatnya sesuai dengan yang kita suka. Tetapi jika Agama diciptakan oleh Allah, maka kita harus menerima Agama seperti apa adanya saat kita menemukannya, seperti kita harus menerima alam semesta apa adanya sesuai temuan kita, bukan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Kematian adalah kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Peristiwa Kebangkitan mengimbangi Peristiwa Kematian dimana Kebangkitan dan melampaui Kematian, mengalahkan Kematian, dan mengabstraksikan tentang spiritualitas. Kebangkitan adalah hal yang vulgar sesuai dengan yang dilakukan oleh Allah. Allah juga lah yang membuat lumpur, serangga dan kuku.

Keberatan 5 : Tapi interpretasi harfiah dari kebangkitan mengabaikan dimensi yang mendalam dari makna suatu simbolik, spiritual dan alam mistik yang telah dieksplorasi secara luas dan mendalam oleh agama-agama lain. Mengapa orang Kristen begitu sempit dan eksklusif? Mengapa mereka tidak dapat melihat simbolisme yang mendalam dalam gagasan kebangkitan?

Tanggapan : Orang Kristen dapat melihat simbolisme itu. Namun permasalahannya bukan soal dapat atau tidak-dapat. Kekristenan tidak membatalkan atau meniadakan mitos, melainkan kekristenan mem-validasi mitos, dengan meng-inkarnasikan (inkarnasi tidak sama dengan reinkarnasi, banyak orang yang keliru mengenai ini) mitos. Maka adalah “Mitos menjadi Kenyataan”, seperti judul esai oleh CS Lewis. Mengapa lebih memilih hanya satu lapisan dari suatu kesatuan yang sebenarnya terdiri dari 2 lapisan yang utuh? Mengapa menolak aspek literal-historis atau menolak aspek mistis-simbolis dari peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus? Pihak fundamentalis menolak aspek mistis-simbolis karena mereka telah melihat apa yang telah dilakukan oleh pihak modernis terhadap aspek mitis-simbolis: yaitu menggunakan aspek mistis-simbolis untuk meniadakan aspek literal-historis. Maka muncullah pertanyaan mengapa pihak modernis melakukan itu? Apakah karena menurut mereka ada nasib yang mengerikan menanti mereka jika mereka mengikuti data yang sangat banyak dan berbobot, dan argumen-argumen yang secara alami muncul dari data -data tersebut, seperti yang kita telah dirangkum di sini beberapa tulis sebelum ini?

Sementara jawaban dari pihak modernis tidak jelas, pihak Kristen tradisional sudah mempunyai pegangan, lengkap dengan adorasi Kristus sebagai Tuhan, ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan, ketergantungan pada Kristus sebagai Juru selamat, pengakuan rendah hati akan dosa yang telah mereka perbuat dan upaya yang sungguh-sungguh menghidupi hidup Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya, terlepas dari keinginan duniawi, kebenaran, kekudusan, dan kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan. Bukti sejarah cukup memadai untuk meyakinkan para penanya yang berpikiran terbuka. Dengan analogi dengan peristiwa sejarah lainnya, Kebangkitan  Yesus Kristus memiliki bukti nyata yang sangat kredibel yang menjadi penyokong. Dan bagi orang yang tidak percaya, mereka harus sengaja membuat pengecualian aturan, aturan berstandar ganda untuk digunakan di tempat lain dalam sejarah. Dengan demikian mengapa orang yang tidak percaya ingin melakukan itu?

Bagi orang yang tidak percaya, mereka perlu bertanya kepada diri mereka sendiri; jika mereka berani, dan melihat dan menerima secara jujur ​​dalam hati mereka sebelum mereka menjawab.

Sekian.

Tanggapan atas Teori Mitos terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Teori Mitos merupakan salah satu teori yang paling populer sering dikemukakan oleh para moderenis dalam membahas kejadian-kejadian yang tertulis dalam Alkitab, baik dalam Kitab Perjanjian Lama atau Kitab Perjanjian Baru. Para Moderenis mencoba mengarahkan bahwa yang tertulis di dalam Alkitab merupakan hanya berupa mitos, sembari menjelaskan argumen mereka kejadian yang ‘sebenarnya’ yang dihubungkan dengan pendapat mereka sendiri seperti Alien dan lain-lain. Dalam pembahasan ini khusus dibahas tanggapan yang dapat kita beri mengenai Kebangkitan Yesus Kristus yang disangkakan merupakan hanya mitos oleh pihak-pihak yang mengemukakan teori mitos.

1. Gaya penceritaan dan penggambaran kejadian-kejadian dalam Alkitab sangat radikal dan jelas berbeda dengan gaya penceritaan semua mitos.

Alkitab menceritakan suatu kejadian dengan tidak secara membesar-besarkan, dan tidak secara kekanak-kanakan. Tidak secara bebas. Semua yang diceritakan di Alkitab sesuai dengan situasi saat itu. Semuanya mempunyai makna. Setiap cerita di Alkitab mempunyai kedalaman makna psikologis yang sangat dalam. Sedangkan cerita dalam mitos mempunyai makna psikologi yang dangkal. Gaya penceritaan dalam Alkitab juga memiliki ciri-ciri penggambaran kesaksian, gambaran kejadian oleh saksi mata penulis Kitab. Seperti sedikit detil pada kisah ketika Yesus menulis, menggores pasir ketika Dia ditanya ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi mengenai pendapatnya untuk melempari perempuan yang berbuat zinah. Tidak ada yang tahu mengapa ada tertulis mengenai Yesus menulis di atas pasir; tidak ada kelanjutan dari detail yang kecil itu. Satu-satunya penjelasan adalah penulis menuliskan apa yang dia lihat, apa yang dia saksikan.

2. Masalah ke-2 bagi teori mitos adalah bahwa tidak ada waktu yang cukup bagi mitos terbentuk.

Para de-mitologi pada masa awal, menitikkan pekerjaan mereka pada penanggalan masa akhir abad ke-2 untuk penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru; sedangkan agar suatu elemen mitologi dapat ditambahkan, kemudian disalahpahami dan dapat dipercaya sebagai suatu fakta harus melalui beberapa generasi saksi mata dahulu. Jika terdapat kisah yang versinya mengandung elemen mitos, saksi mata pada waktu itu di sekitar itu akan mendiskreditkan dan menolak versi tersebut. Pada kasus lain dimana mitos dan legenda dari suatu keajaiban terbentuk pada masa yang sama pendiri suatu agama – contohnya: Budha, Lao-tzu, dan Muhammad. Dimana setiap kasus lain tersebut, mitos-mitos tersebut yang terbentuk telah melalui banyak generasi terlebih dahulu. Penelitian waktu (penanggalan) penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru telah digeser mundur hingga mendekati waktu masa hidup Yesus dengan ditemukannya naskah-naskah secara empiris; hanya hipotesis abstrak yang memajukan penanggalan ke depan. Hampir tidak ada peneliti yang berpendidikan pada saat ini yang masih sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Bultmann, yaitu agar dapat mempercayai bahwa kisah yang pada Kitab Perjanjian Baru adalah teori mitos, bahwa tidak ada bukti suatu teks, naskah pada abad ke-1 mengenai Kekristenan yang dimulai dari keilahian dan kebangkitan Yesus Kristus, bukan sebagai manusia biasa yang telah mati.

3. Teori Mitos mempunyai dua lapisan.

Lapisan pertama adalah historis Yesus, Yesus yang tidak ilahi, Yesus yang tidak mengklaim keilahian, Yesus yang  tidak mengadakan mujizat, dan Yesus yang tidak bangkit dari kematian. Lapisan yang kedua dari teori mitos adalah lapisan berikutnya yang ‘di-mitos-kan’ yaitu Injil seperti yang kita miliki, yaitu Yesus yang mengaku sebagai Tuhan, Yesus yang mengadakan mujizat dan bangkit dari kematian. Permasalahan teori mitos ini adalah bahwa tidak ada sedikit pun bukti nyata mengenai keberadaan yang mendukung teori mitos seperti yang ada pada lapisan pertama. Teori dua-lapisan ini seperti teori kue yang terdiri dari dua lapisan dimana lapisan pertama yang seluruhnya terbuat dari udara dan lapisan lapisan kedua terbuat dari udara panas pada saat itu. Teori mitos merupakan suatu teori yang terdiri dari kedua lapisannya yang tidak mempunyai bukti nyata.Teori Mitos berbeda dengan Injil, Injil selain memiliki merupakan bukti tulisan dari saksi mata terdapat juga bukti lain yang memperkuatnya.

Injil adalah kisah yang luar biasa, dan kita tidak memiliki kisah lain yang diturunkan kepada kita selain yang terkandung dalam Injil ….Surat-surat Barnabas dan Clement mengacu mujizat dan kebangkitan Yesus. Polikarpus menyebutkan kebangkitan Kristus, dan Irenaeus menceritakan bahwa ia mendengar Polikarpus menceritakan mukjizat Yesus. Ignatius berbicara tentang kebangkitan. Quadratus melaporkan bahwa orang-orang yang masih hidup yang telah disembuhkan oleh Yesus. Justin Martyr menyebutkan mukjizat Kristus. Tidak pernah ada kisah non-ajaib (kisah yang biasa-biasa) yang mempunyai peninggalan (relik). Sedangkan agar suatu kisah mengalami korupsi (atau pengurangan) mengharuskan cerita asli terlebih dahulu hilang dan kemudian digantikan oleh yang lain, bahkan prinsip ini juga berlaku bagi tradisi lisan. Namun fakta-fakta yang disebut di atas menunjukkan bahwa kisah dalam Injil adalah substansi kisah yang sama yang dialami oleh orang Kristen masa awal. Ini berarti … bahwa kebangkitan Yesus selalu menjadi bagian dari kisah tersebut.”

4. Sebuah detail kecil, yang jarang diperhatikan, namun hal yang signifikan dalam membedakan Injil dari Mitos yaitu: saksi pertama yang mengetahui kebangkitan Yesus Kristus adalah perempuan.

Pada abad pertama Yudaisme, perempuan memiliki status sosial yang rendah dan tidak ada berhak untuk melayani sebagai saksi. Jika kubur yang kosong adalah suatu legenda dikarang, maka pengarangnya pasti akan tidak mengarang bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pertama kali ditemukan oleh perempuan, yang kesaksian dari perempuan itu akan dianggap tidak berharga. Namun jika di sisi lain, para penulis itu hanya melaporkan apa yang mereka lihat, mereka harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, walaupun yang terjadi tersebut di luar dari kebiasaan sosial dan hukum pada saat itu.

5. Kitab Suci Perjanjian Baru tidak bisa disalahartikan sebagai mitos dan dibingungkan dengan kenyataan karena secara khusus Kitab Suci Perjanjian Baru membedakan fakta dan mitos dan tak mau mengakui interpretasi mitos/dongeng (2 Petrus 1:16).

Karena secara eksplisit dalam 2 Petrus 1:16 mengatakan bahwa yang ditulis adalah bukan mitos, jika tulisan tersebut adalah mitos maka tulisan itu sebenarnya adalah suatu kebohongan yang disengaja dan bukan mitos. Ini merupakan suatu dilema. Apakah kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Baru itu suatu kebenaran atau kebohongan, apakah disengaja (konspirasi) atau tidak-disengaja (halusinasi). Tidak ada jalan keluar dari titik dilema ini. Sama halnya; sekali seorang anak menanyakan apakah Santa Claus adalah nyata, jawaban ‘Ya’ dari Anda akan menjadi sebuah kebohongan, jawaban tersebut bukan menjadikan Santa Claus sebagai mitos, jika ia tidak benar-benar nyata. Begitu juga pada Kitab Perjanjian Baru, sekali Perjanjian Baru dipilah-pilah bahwa ada sebagian kisah adalah mitos dan sebagian adalah kenyataan, maka Kitab Suci Perjanjian Baru akan menjadi suatu kebohongan jika kebangkitan tidak benar-benar nyata.

6. William Lane Craig telah merangkum argumen tradisi tertulis dengan penjelasan, yang dikutip disini. Berikut adalah argumen (untuk Mengetahui Kebenaran Tentang Kebangkitan) membuktikan dua hal: pertama, bahwa Injil ditulis oleh para murid, bukan oleh pembuat-mitos setelahnya, dan kedua, bahwa Injil yang kita miliki saat ini pada dasarnya sama dengan aslinya.

6.A. Bukti bahwa Injil ditulis oleh saksi mata:

6.A.1. Bukti internal, yang terdapat di dalam Injil itu sendiri:

  1. Gaya penulisan dalam Injil sifatnya sederhana dan hidup, apa yang kita harapkan dari penulis mereka diterima secara tradisional.
  2. Selain itu, karena Injil Lukas ditulis sebelum Kitab Kisah Para Rasul, dan karena Kitab Kisah Para Rasul ditulis sebelum kematian Paulus, maka Lukas memiliki penanggalan yang lebih awal, yang menunjukkan ke-otentikannya.
  3. Kitab Injil juga menunjukkan pengetahuan yang mendalam tentang Yerusalem sebelum kehancurannya pada tahun 70. Kitab Injil penuh dengan nama-nama yang tepat, tanggal, rincian budaya, peristiwa sejarah, dan adat istiadat, dan opini-opini yang beredar pada saat itu.
  4. Nubuat Yesus tentang peristiwa (kehancuran Yerusalem) sudah pasti telah ditulis sebelum jatuhnya Yerusalem, karena kalau tidak demikian maka gereja akan memaknai unsur apokaliptik terpisah dari nubuat Yesus itu, sehingga seolah-olah nubuat tersebut hanya menyangkut akhir dunia. Dan karena akhir dunia tidak terjadi ketika Yerusalem dihancurkan, maka jika nubuat Yesus tentang kehancuran Yerusalem tersebut benar-benar tertulis setelah kota Yerusalem hancur maka nubuat tersebut tidak memperlihatkan kejadian kehancuran Yerusalem itu berhubungan erat dengan akhir dunia. Oleh karena itu, Injil sudah pasti ditulis sebelum tahun 70.
  5. Kisah-kisah mengenai kelemahan sisi manusia Yesus dan kesalahan para murid juga menyatakan keakuratan Injil.
  6. Dengan demikian, tidak mungkin bagi pemalsu untuk memasukkan hal-hal yang tidak sesuai bersama dengan narasi yang sangat konsisten seperti yang kita temukan di dalam Injil. Kitab-kitab Injil tidak mencoba untuk mensamarkan perbedaan antara Kitab-kitab Injil, hal tersebut menunjukkan orisinalitas kitab (ditulis oleh masing-masing saksi mata). Tidak ada upaya harmonisasi antara Injil, seperti yang kita harapkan jika berasal dari pemalsu.
  7. Kitab-kitab Injil tidak mengandung anakronisme, tidak ditemukan ketidaksesuaian baik pada setiap tokoh, atau latar. Para Penulis kitab Injil dapat dikenali sebagai kaum Yahudi abad pertama yang menjadi saksi peristiwa.

Kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada alasan lagi untuk meragukan bahwa Injil berasal dari penulis tradisional, yang mengandung kisah kesaksian peristiwa-peristiwa supranatural.

6.A.2 Bukti eksternal:

  1. Para rasul pastinya meninggalkan beberapa tulisan, berhubung karena mereka dalam memberikan pelajaran dan konseling kepada orang-orang percaya yang secara geografis letaknya jauh, dan tulisan-tulisan tersebut berisikan apa jika bukan Injil dan surat-surat dari para rasul itu sendiri? Karena bagaimana pun juga para rasul perlu dan harus mempublikasikan narasi akurat mengenai sejarah Yesus, sehingga setiap upaya pemalsuan dapat didiskreditkan, disingkirkan dan keaslian Injil dapat dijaga.
  2. Ada banyak saksi mata yang masih hidup ketika buku-buku itu ditulis, dan mereka bisa bersaksi apakah buku-buku tersebut berasal dari penulis yang diakui mereka atau tidak.
  3. Kesaksian-kesaksian di luar alkitabiah menjadi pelengkap Injil akan ke-tradisional para penulis kitab, seperti:  Surat Barnabas, Surat Clement, Gembala Hermes, Teofilus, Hippolytus, Origen, Quadratus, Irenaeus, Melito, Polikarpus, Justin Martyr, Dionysius, Tertullian, Siprianus, Tatian, Caius, Athanasius, Cyril, hingga Eusebius di AD 315; bahkan juga kesaksian-kesaksian dari lawan kekristenan yang mengakui ke-tradisionalan para penulis, seperti: Celsus, Porphyry, Kaisar Julian.
  4. Dengan satu pengecualian, tidak ada Injil apokrif yang pernah dikutip oleh penulis kitab Injil selama tiga ratus tahun setelah Kristus. Pada kenyataannya tidak ada ditemukan bukti yang menunjukan adanya keberadaan Injil yang tidak otentik di abad pertama, di mana keempat Injil dan Kisah Para Rasul ditulis.

6.B. Bukti bahwa Injil yang kita miliki saat ini adalah sama dengan Injil asli yang pernah ditulis:

  1. Karena keperluan untuk memberikan petunjuk dan kebaktian pribadi, tulisan-tulisan Injil pasti disalin berkali-kali, yang meningkatkan kemungkinan teks asli dapat terlestari.
  2. Bahkan, tidak ada karya tulisan kuno selain Injil yang salinannya tersebar begitu banyak dan dalam berbagai bahasa, dan semua salinan dalam berbagai versi itu mempunyai kesamaan isi.
  3. Teks-teks Injil juga tetap terjaga keasliannya dari penambahan-penambahan yang sesat. Salinan-salinan Injil begitu banyak terdistribusi secara geografis yang luas, dan salinan-salinan itu menunjukkan bahwa teks tersebut hanya mengalami perbedaan yang sangat kecil ketika ditransmisikan. Perbedaan yang memang ada cukup kecil dan merupakan hasil dari kesalahan yang tidak disengaja.
  4. Kutipan-kutipan dari kitab-kitab Perjanjian Baru oleh para Bapa Gereja masa awal semuanya serupa, cocok, dan tepat.
  5. Injil tidak dapat dirusak, dirubah, atau dikorupsikan tanpa protes besar dari sebagian besar pihak Kristen ortodoks.
  6. Tidak ada yang dapat merusak, merubah, atau mengorupsikan semua naskah kitab.
  7. Tidak ada celah waktu yang bagi pemalsuan bisa terjadi, karena seperti yang telah kita lihat, kitab-kitab Perjanjian Baru yang dikutip oleh para Bapa Gereja dalam deret rentang waktu yang rapat. Teks tidak mungkin dipalsukan di masa sebelum ada banyak kesaksian eksternal yang muncul, dan pada masa itu para rasul masih hidup dan bisa menolak gangguan percobaan pemalsuan jika ada.
  8. Setiap penggalan Naskah Perjanjian Baru layaknya sama seperti teks dari karya-karya klasik kuno. Untuk menanggalkan sepenggal tekstual dari Injil akan membalikkan semua aturan kritik dan menolak semua karya kuno, karena teks dari karya-karya kuno kurang pasti dibandingkan dengan Injil.

… untuk disimpulkan.

Kebangkitan Yesus Kristus

Setiap pewartaan yang dikabarkan oleh setiap pengikut Kristus yang diceritakan dalam Kitab Perjanjian Baru selalu berkisar mengenai hal Kebangkitan Yesus Kristus. Injil atau Kabar Baik, intinya merupakan berita (kabar baru) mengenai Kebangkitan Kristus. Suatu pesan yang terdengar dengan lantang dari jaman dahulu kala, yang membakar semangat, mengubah hidup setiap manusia dan memutarbalikkan dunia bukanlah hanya berupa berita dengan isi pesan “kasihilah sesamamu”. Karena setiap orang yang moralnya baik telah mengetahui hal mengenai “kasihilah sesamamu”; dan hal itu bukanlah berita yang baru. Yang dimaksud berita baru, Kabar Baik, adalah bahwa ada seorang manusia yang menyatakan dirinya Anak Allah dan sang Penyelamat dunia, dan yang telah bangkit dari mati.

Ada satu pewartaan kebangkitan Yesus Kristus yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 17:18) oleh Paulus yang mewarta kepada golongan filsafat Stoa dan Epikuros di Atena. Kedua golongan filsafat itu mengira Paulus mewarta mengenai 2 (dua) Dewa yang baru yaitu Yesus dan Anastasis (Kebangkitan dalam bahasa Yunani).  Pada Kisah Para Rasul 17:18 itu terdapat pewartaan yang penting oleh Paulus mengenai Kebangkitan, dan pertentangan oleh para filsuf dan cendikiawan Atena karena pewartaan itu membingungkan bagi mereka. (Dan mungkin sampai sekarang).

Tantangan logika yang dihadapi oleh para filsuf dan cendekia pada kisah itu (dapat kita golongkan mewakili orang-orang yang skeptis) adalah: Jika pewartaan oleh Paulus itu dapat dibuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari mati, apakah kita dapat mempercayai dalam Dia kita juga akan diselamatkan? Karena jika Yesus benar-benar bangkit, hal itu mengesahkan, membuktikan bahwa ke-illahian-Nya benar bukan hanya manusia biasa, tetapi juga Allah (100% Manusia, 100% Allah), karena kematian di kayu salib membuktikan Dia adalah Manusia, dan kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Allah, dan ke-illahian-Nya itu mengesahkan semua hal yang pernah Dia katakan, sebab Allah tidak berkata bohong.

Ada seseorang filsuf  (Rudolf Bultmann) berlatarbelakang lutheran yang mengatakan seandainya ditemukan suatu bukti yang menunjukan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit; bukti objektif semisalnya tulang-belulang dari tubuh Yesus, hal tersebut tidak akan mengubah inti dari Kekristenan (dia menulis Demitologisasi terhadap Pesan Perjanjian Baru, berupa kritik yang upaya untuk membuat realitas ajaran-ajaran Yesus lebih dapat dipahami oleh para pembaca modern yang terdidik). Pemikiran dari Rudolf Bultmann ini bertolakbelakang dengan Paulus, dan kurang memahami kenapa begitu penting bukti kebangkitan Yesus Kristus bagi iman dan ajaran Kristen.

Karena menurut Paulus, Jika Kristus tidak bangkit, maka :

  1. Pewartaan kita akan Yesus Kristus akan sia-sia.
  2. dan Iman kita akan Yesus Kristus akan sia-sia
  3. Kita bahkan akan dikenal sebagai orang yang salah mengrepresentasikan Allah; karena kita bersaksi bahwa Allah telah membangkitkan Kristus, tetapi jika bukti menunjukan Dia tidak bangkit memberi kenyataan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit.
  4. Pengharapan kita dalam Yesus Kristus untuk dapat diselamatkan dari dosa dan kebinasaan juga sia-sia.
  5. Semua orang yang meninggal dalam iman akan Yesus Kristus juga akan sia-sia.

Membandingkan pendapat Rudolf Bultmann dengan Paulus, maka kita dapat mengetahui bahwa Rudolf Bultmann keliru menilai Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang kurang penting. Apakah menurut kita, Rudolf Bultmann seorang yang hidup pada masa jauh setelah Yesus dan bukan seorang Yahudi (melainkan Jerman) lebih mengetahui Yesus berdasarkan buku lebih menyakinkan daripada Paulus seorang Pewarta Yahudi yang hidup pada masa Yesus?

Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang sangat penting karena hal tersebut melengkapi keselamatan kita. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian (kematian adalah konsekuensi dari dosa). (Roma 6:23).

Kebangkitan juga merupakan pembeda yang jelas antara Yesus dengan tokoh agama lainnya. Relik tulang dari tubuh Abraham, Muhammad, Budha, dan Confusius, Lao-tzu, dan Zoroaster masih tetap berada di bumi, sedangkan Kubur Yesus kosong.

Konsekuensi adanya kebangkitan Yesus Kristus berimbas ke kehidupan manusia tidak dapat diukur. Kebangkitan Yesus tersebut merupakan bukti empiris, konkrit, dan faktual bahwa kehidupan mempunyai harapan dan makna; “cinta kasih lebih besar dari kematian”; kebaikan dan kekuatan saling bersatupadu, bukan bertentangan; kehidupan kekal merupakan kemenangan pada akhir jaman; Allah telah mengulurkan tanggan-Nya kepada kita dan mengalahkan musuh terakhir kita yaitu maut; dan kita bukanlah ‘yatim piatu’ di semesta alam karena Dia-lah Allah Bapa kita. Dan konsekuensi adanya kebangkitan Yesus ini juga dapat dilihat dengan membandingkan keberadaan para murid sebelum dan sesudah kebangkitan Yesus. Sebelum kebangkitan (dimulai ketika Yesus ditangkap dan didera) para murid dipenuhi rasa ketakutan, menyangkal Guru (Yesus), dan bersembunyi di balik pintu yang terkunci rapat. Dan setelah kebangkitan Yesus Kristus, para murid berubah dari sekelompok orang yang ketakutan menjadi orang suci (santo) yang penuh percaya diri, misionaris yang merubah dunia, martir yang gagah berani dan penuh kebahagiaan mewartakan Yesus Kristus.

Hal yang terpenting dari kebangkitan Yesus Kristus bukan terletak pada masa lampau – “Kristus telah bangkit” – tetapi pada saat ini – “Kristus bangkit.” Malaikat yang muncul di kubur Yesus bertanya kepada para wanita yang mencari Yesus, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Pertanyaan yang sama dapat juga ditanyakan kepada sejarahwan dan peneliti jaman ini. Jika kita tidak menyimpan kabar gembira, tidak membiarkan “Dia” hanya dalam catatan “sejarah” atau “Apologetik”, dan kita tidak berdiam diri, DIA saat ini dapat membebaskan dan memberi semangat hidup kita sedasyat yang pernah Dia lakukan  pada 2000 tahun yang lalu; dan dengan kebebasan dan semangat yang diberikan kepada kita dapat mencengangkan dan menarik perhatian semua orang yang belum mengenal Dia, mengembalikan kepercayaan orang-orang yang pernah berbalik dan takut. Itulah pentingnya adanya Kebangkitan Yesus Kristus.

Disebut Anak Allah Yang Mahatinggi

Dalam Injil diceritakan bahwa orang “takjub mendengar pengajaran-Nya” dan menyaksikan perbuatan-Nya, sampai berkata: “Yang begini ini belum pernah kita lihat” (Mrk 1:22; 2:12). Bahkan sampai bertanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru! Ia berkata-kata dengan kuasa, roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya”; “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 1:27; 4:41). Rasa kagum dan heran tidak sampai di situ saja. Pengalaman Paska lebih lagi memenuhi mereka dengan rasa takjub, mulai dengan para wanita yang “lari meninggalkan kubur, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka” (Mrk 16:8) sampai Paulus yang berjumpa dengan Tuhan yang mulia pada perjalanan ke Damsyik (Damaskus). Dari rasa heran serta kagum itu mereka menulis mengenai Yesus, yang diimani sebagai orang yang datang dari Allah.

Memang tidak semua orang percaya akan hal itu; orang Yahudi mendiskusikannya antara mereka. Ada yang berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat”. Tetapi orang yang disembuhkan oleh Yesus itu menjawab, “Jikalau orang ini tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 9:16.33). Dan begitu terus, tidak pernah ada “bukti”. Hanya kalau orang melihat Yesus, pasti akan timbul pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang Kristus?” (Mat 22:42). Jawabannya dirumuskan dengan berbeda-beda dalam Perjanjian Baru. Namun pokok jawaban selalu jelas, “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kis 10:38).

Paulus merumuskan keyakinan itu sebagai berikut:
“Allah, dengan perantaraan Kristus, mendamaikan kita dengan diri-Nya; Ia mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2Kol 5:18-19).

Kesatuan Kristus dengan Allah merupakan pokok dan inti iman Paulus akan Kristus. Guna mengungkapkan iman ini ia juga memakai kata “Anak Allah”. Dengan kata itu mau dinyatakan bahwa dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri secara konkret kepada Paulus, “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Gal 1:16); “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10). Kesatuan antara Allah dan Kristus begitu erat bagi Paulus, sehingga ia dapat berkata bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus mati untuk kita” (Rm 5:8). Bagi Paulus, wafat Kristus merupakan tanda kasih Allah, dan kalau dikatakan bahwa “Allah memanggil kamu menjadi satu dengan Anak-Nya” (1Kor 1:9; bdk. Rm 8:29), jelaslah bahwa yang pokok bukan kesatuan Kristus dengan Allah, melainkan kesatuan Allah dengan kita dalam dan oleh Kristus.

Sejak pertemuan dengan Kristus pada perjalanan ke Damsyik Paulus hanya dapat “menantikan kedatangan Anak (Allah) dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang” (1Tes 1:10). Yesus disebut “Anak Allah” karena menghubungkan kita dengan Allah, karena menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Dengan nama “Anak Allah” dinyatakan bahwa Yesus yang mulia, yang bangkit dari antara orang mati, merupakan titik temu kita dengan Allah.

Yohanes merumuskan hal yang sama dengan cara yang lain. Dengan mudah perkembangan pikiran Yohanes dapat diikuti dalam pernyataan pada awal Injilnya.

“Pada mulanya ada Firman,
dan Firman itu pada Allah,
dan Allah-lah Firman itu;
Ia pada mulanya ada pada Allah.
Segala sesuatu terjadi oleh Dia,
dan tanpa Dia tidak terjadi apa-apa” (Yoh 1:1-2).

Yohanes berbicara mengenai Firman, mengenai Sabda, tetapi yang dimaksudkan adalah Yesus. Hal itu jelas dari awal suratnya yang pertama, di dalamnya ia mengatakan:

“Apa yang ada sejak semula, yang kami dengar,
yang kami lihat dengan mata kepala sendiri,
yang kami saksikan, dan
yang diraba tangan kami
tentang Firman kehidupan,
(itulah yang kami tuliskan kepadamu].
Apa yang kami lihat,
dan kami dengar,
kami beritakan kepada kamu juga,
supaya kamu pun memiliki persekutuan dengan kami.
Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa
dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1Yoh 1:1.3).

Sabda, yang sejak semula bersama dengan Bapa, itulah Yesus. Mengenai pribadi Yesus, yang dilihat dan didengar itu, dikatakan bahwa Ia sudah ada “pada mulanya”, mendahului segala-galanya. Belum ada apa-apa, kecuali Allah sendiri. Maka dikatakan bahwa Sabda ada “pada Allah”, artinya bersama-sama dengan Allah. Kalau Sabda sudah sejak segala abad bersama dengan Allah, Ia sama abadi dengan Allah. Dengan perkataan lain, Allah-lah Firman itu. Tetapi itu tidak berarti bahwa Sang Sabda dan Allah sama saja. “Ia ada pada Allah” artinya sekaligus setingkat, sama-sama abadi, namun terbedakan juga, sebagai Bapa dan Anak. Dalam Injil Yohanes Yesus bersabda, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28).

“Aku datang dari Bapa
dan Aku datang ke dalam dunia;
Aku meninggalkan dunia lagi,
dan Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28).

Hidup Yesus tidak lain daripada “datang dari Bapa dan pergi kepada Bapa”. Karena Ia datang dari Bapa, maka Ia terbedakan dari Bapa; tetapi karena pergi kepada Bapa, Ia juga tidak terpisah dari Bapa. Dilihat dari sudut dunia, semua itu sulit dimengerti: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?” (Yoh 6:42).

Kesulitan yang dirasakan oleh Yohanes sendiri, diletakkan dalam mulut orang Yahudi, “Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh 10:33). Yesus memang seorang manusia, tetapi bukan hanya manusia saja. Ia lebih daripada seorang manusia. Ia mengenal Allah lebih daripada semua orang lain. Kelebihan itu diungkapkan dalam kata-kata-Nya, bahwa Ia berasal dari Allah, bahwa Ia Anak Allah, bahwa Ia sudah ada sebelum segala abad (lih. Yoh 8:58).

Bertemu dengan Yesus berarti bertemu dengan Allah: “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada pada pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18).

Yesus tidak hanya disebut “Anak”, juga “Firman”, “Cahaya” dan “Hidup”, sebab Ia adalah sabda Allah kepada manusia, cahaya abadi yang menerangi dunia dan kehidupan kekal bagi kaum beriman. Nama-nama itu tidak mengungkapkan “kodrat” Yesus, melainkan lebih menunjukkan fungsi-Nya, peranan-Nya bagi kita, manusia biasa. Dengan cara yang berbeda-beda nama-nama itu menyatakan bahwa “Dialah benar-benar Penyelamat dunia” (Yoh 4:42).

Menyebut Diri-Nya Utusan Allah

Untuk memahami arti sebutan ini dengan sepenuhnya, kiranya perlu diperhatikan juga Rm 8:3; Gal 4:4; Yoh 3:16-17 dan 1Yoh 4:9 (bdk. Mrk 12:6), yang mengatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya“. Mengakui Yesus sebagai “Anak Allah” berarti mengakui Dia sebagai utusan Allah dalam arti yang penuh. Khususnya St. Yohanes banyak berbicara mengenai Yesus sebagai utusan Allah. Tidak hanya dikatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia” (3:17), tetapi Allah sendiri disebut “Dia yang mengutus Aku” (4:34) dan Yesus “Dia yang diutus-Nya” (5:38). Maka cocok sekali pada akhir hidup-Nya Yesus berdoa, “supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (17:21; lih. juga ay. 8.23.25). Dan kalau Yohanes biasanya menyebut Yesus “Anak”, kiranya ia mau menonjolkan hubungan pribadi Yesus dengan Allah yang mengutus-Nya. Secara konkret perutusan Yesus digambarkan dengan jelas dalam Luk 4:18-19 (yang mengutip nabi Yesaya):

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang yang tertindas,
untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Yesus tampil sebagai pembawa kabar gembira, bahwa Tuhan telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Yesus merupakan tawaran rahmat Allah yang definitif. “Berbahagialah orang yang tidak dikecewakan dalam diri-Ku” (Luk 7:23 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberi harapan dan iman kepercayaan kepada orang-orang. Iman itu mengangkat orang di atas kekuatannya sendiri, karena mempersatukannya dengan Allah.

Yang paling mengesankan adalah kebebasan-Nya, Yesus tidak tergantung pada siapa pun. Para rabi pada zaman Yesus selalu mencari dukungan bagi ajaran mereka pada ajaran orang lain dari zaman dahulu. Yesus tidak. Malah sebaliknya, “Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek-moyang kita …, tetapi Aku berkata kepadamu” (Mat 5:21.27.31.33.38.43). Yesus tidak hanya berani melawan ajaran turun-temurun, tetapi juga apa yang diimani sebagai ketetapan Allah sendiri. Terhadap tradisi manusiawi Ia lebih tegas lagi: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri” (Mrk 7:9).

Pegangan hidup Yesus bukanlah adat-istiadat atau ajaran tradisional agama, melainkan kesatuan pribadi-Nya dengan Allah. Hal itu secara paling tegas dirumuskan di dalam injil Yohanes, “Kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat. Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga” (Yoh 3:13). Maka, ketika diminta pertanggungjawaban oleh orang Yahudi tentang perbuatan-Nya di dalam kenisah, dengan tenang saja Yesus menjawab: “Aku tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (Mrk 11:33).

Yesus tidak merasa wajib mempertanggungjawabkan hidup dan pekerjaan-Nya di hadapan manusia. Apa yang dikatakan kepada orang lain mengungkapkan sikap-Nya sendiri, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luk 12:4). Yesus hidup dalam dunia lain, bukan dalam dunia yang dikuasai oleh manusia. Maka kalau ada orang yang mendorong Dia melarikan diri dari Herodes, Yesus menjawab: “Pergilah dan katakanlah kepada serigala itu: ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku'” (Luk 13:32-33). Perjalanan Yesus tidak ditentukan oleh Herodes atau manusia yang lain, bahkan tidak oleh kehendak-Nya sendiri, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Hidup Yesus ditentukan seluruh-Nya oleh kehendak Allah, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Begitulah gambaran yang oleh Injil-Injil diberikan mengenai Yesus. “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”, kata Yesus, “sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Yesus adalah utusan Allah, itulah dasar, pegangan dan pedoman hidup-Nya.

Yesus Pembawa Berita Gembira

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (= Kabar gembira)” (Mrk 1:15).

Sebelum ada Injil mengenai Yesus, telah diwartakan Injil oleh Yesus, yakni kabar gembira mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera. Yesus tidak hanya mengatakan hal itu, Ia juga mulai melaksanakannya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28).

Mukjizat Yesus adalah pewartaan nyata bahwa Kerajaan Allah telah datang. Dalam arti sesungguhnya mukjizat bukanlah “bukti” untuk mendukung pewartaan Yesus. Ketika kaum Farisi minta bukti yang nyata, Yesus malah menolak membuat mukjizat (lih. Mrk 8:11 dsj.), Yesus juga tidak pernah melakukan mukjizat demi diri-Nya sendiri (perhatikanlah ejekan musuh-musuh-Nya di bawah salib: Mat 27:42-23 dsj. Dan juga jawaban Yesus kepada setan di padang gurun: Mat 4:1-11 dsj.). Mukjizat itu tanda Kerajaan Allah, bukan bukti yang harus mendasari wibawa Yesus. Kerajaan Allah berarti turun-tangan Allah, tidak untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Maka dalam mukjizat Yesus, khususnya dalam mukjizat penyembuhan, kasih dan perhatian Allah itu ternyatakan.

Oleh karena itu dalam Injil, mukjizat amat kerap dihubungkan dengan iman. Sering kali Yesus bersabda, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (lih. Mrk 5:34 dsj.; 10:52 dsj.; Mat 9:29; Luk 17:19). Ini tidak berarti bahwa iman adalah syarat untuk mukjizat, sebab Yesus mengatakan itu sesudah menyembuhkan orang. Dari pihak lain, kalau tidak ada iman, “Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun” (Mrk 6:5 dsj.).

Dalam iman, orang mempersatukan diri dengan Yesus dan itu berarti bahwa Kerajaan Allah mulai berkuasa di dalam dirinya. Maka yang penting di sini adalah iman Yesus sendiri, sebagaimana tampak dari Mrk 9:22-23: Atas pertanyaan orang adakah Yesus “dapat berbuat sesuatu”, Yesus menjawab bahwa “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” dan yang dimaksud adalah diri-Nya sendiri (lih. juga Ibr 12:2). Oleh karena itu Ia senantiasa mendorong orang supaya percaya, “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberikan iman kepada orang. Iman tersebut berkaitan dengan pengharapan dan berlawanan dengan fatalisme (nasib). Iman yang berarti kekuatan, karena percaya akan kebaikan Allah.

Yesus bersikap optimis dan menafsirkan tanda-tanda zaman (yang serba menakutkan pada waktu itu, lih. Luk 3:7-9 dsj) sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah (lih. Mat 11:4-5). Yesus percaya akan kedatangan Kerajaan Allah, Ia percaya akan Allah yang datang untuk menyelamatkan. Allah yang diimani Yesus ialah Bapa yang mempunyai “bela rasa” (lih. Luk 15:11-20). Maka Yesus dapat memastikan bahwa Kerajaan Allah akan datang, bahwa manusia akan percaya terhadap kebaikan Allah, dan dengan demikian kebaikan akan menang atas kejahatan. Sebagai ganti kehancuran, Kerajaan Allah akan datang. Allah akan menampakkan kebaikan-Nya, kalau manusia mau menerima-Nya.

Yesus mengajak orang supaya percaya akan kebaikan Allah, untuk beriman dan berbela rasa. “Segala sesuatu mungkin bagi Allah” kata Yesus (Mrk 10:27). Karena itu juga “segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23). Yesus mau menularkan iman-Nya yang percaya akan daya kekuatan Kerajaan Allah, dan sekaligus mengajak orang meneladan Allah dalam bela rasa-Nya: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:36).

Yesus mencita-citakan masyarakat yang tidak berdasarkan kuasa. Ia mengharapkan supaya Kerajaan Allah bisa menjadi daya kekuatan Allah dalam hidup sosial, melalui iman dan bela rasa, khususnya dengan menghapuskan penindasan terhadap orang kecil (baik oleh orang asing maupun oleh para penguasa bangsa Yahudi sendiri). Dua kali Yesus menolak menerima kuasa politik (Yoh 6:15 dan Mrk 8:32 dsj.). Ia berpegang pada prinsip bahwa dunia baru harus datang dengan iman dan bela rasa. Untuk itu Ia memberi kesaksian sampai mati. Ia tidak hanya menolak kuasa politik, tetapi sama sekali tidak pernah mau memakai atau menuntut wewenang atas dasar kekuatan manapun. Ia mau menjadi senasib dengan orang kebanyakan, dan oleh karena itu Ia selalu tampil sebagai manusia biasa saja.

Wibawa Yesus tidak tergantung pada gelar atau kedudukan tertentu, melainkan pada pribadi-Nya, pada cara Ia bertindak dan berbicara. Yesus itu orang yang bebas-berani. Ia tidak tergantung pada siapa pun dan tidak mau menyesuaikan diri begitu saja. Ia juga tidak mau menerima gelar kehormatan. Ia hanya menuntut bahwa orang taat kepada kebenaran Allah, sama seperti Dia sendiri taat kepada sabda dan perintah Bapa. Oleh karena itu Yesus tidak pernah membela diri, tetapi selalu mengkonfrontasikan orang dengan kebenaran yang dibawa oleh-Nya.