Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Apologetik Gereja Katolik

Apologetik Gereja Katolik

Banyak orang menghindari dan tidak mempedulikan apologetik karena hal itu dianggap terlalu intelektual, abstrak, dan rasional. Mereka berpendapat bahwa hidup dan cinta dan moralitas dan kesucian adalah hal-hal yang jauh lebih penting dibandingkan penalaran.

Mereka yang berpendapat seperti ini adalah benar; mereka hanya saja tidak menyadari bahwa mereka sedang bernalar. Kita tidak dapat menghindari diri kita untuk bernalar – tetapi kita dapat menghindari (sengaja) melakukan penalaran yang benar; malah melakukan penalaran yang salah, sehingga penalaran yang kita lakukan bertentangan dengan iman. Namun jika penalaran dilakukan dengan benar, penalaran dan akal budi adalah teman bagi iman, bukan musuh, dan nalar juga merupakan teman bagi kesucian sebagai jalan menuju ke kebenaran, dan kesucian menemukan artinya yaitu mencintai Allah, yaitu Kebenaran.

Bukan hanya penalaran Apologetik yang mengantarkan kita kepada Iman dan Kesucian, tetapi sebaliknya juga Iman dan Kesucian mengantarkan kita kepada penalaran Apologetik. Dan bagi kita, kesucian berarti mencintai Allah, dan mencintai Allah berarti kita harus taat setia kepada kehendak Allah, dan kehendak Allah adalah agar kita mengenal DIA dan “siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,” (1 Petrus 3:15).

Dan fakta benar menunjukan bahwa Apologetik tidaklah sepenting Cinta Kasih yang merupakan hal yang lebih utama, namun bukan berarti Apologetik bukan hal yang sangat, sangat tidak penting. Sama halnya fakta bahwa ‘Kesehatan’ tidak sama sepenting ‘Kebijaksanaan’, tetapi bukan berarti Kesehatan bukan hal yang sangat, sangat tidak penting – sebagai contoh ‘Kesehatan’ lebih penting daripada ‘Uang’.

Di lain pihak ada juga alasan yang lebih mendalam bagi orang-orang yang menghindari penalaran Apologetik, yaitu mereka memilih mempercayai atau tidak mempercayai dengan hati mereka daripada dengan pikiran mereka. Bahkan argumen yang paling sempurna pun tidak mampu menggugah atau menyemangati mereka, karena bagi mereka emosi, hasrat, dan pengalaman konkrit lah yang terpenting. Hampir semua orang tahu bahwa hati adalah pusat diri kita, bukan pikiran kita. Tetapi Apologetik berusaha mencapai hati melalui pikiran. Pikiran adalah hal yang penting juga dalam diri kita, karena pikiran adalah pintu gerbang menuju ke hati. Kita hanya dapat mengasihi Allah jika kita mengenal Allah.

Lebih lanjut, akal budi atau nalar memiliki pengaruh terhadap keyakinan, percaya atau tidak percaya. Kita tidak dapat mempercayai suatu hal yang kita ketahui ketidak-benarannya, dan kita tidak dapat mengasihi sesuatu yang percayai bahwa sesuatu itu tidak nyata. Argumen mungkin tidak membawa kita kepada iman, tetapi yang pasti argumen dapat menjauhkan kita dari iman. Oleh karena itu kita perlu untuk ikut dalam perdebatan argumen, mempertanggung jawabkan iman kita.

Argumen dapat membawa kita kepada iman, namun dengan tidak langsung; sama halnya dengan sebuah mobil yang membawa kita ke laut. Mobil tidak dapat berenang; kita harus keluar dari mobil dan melompat ke laut. Tetapi karena kita tidak dapat melompat dari tempat asal kita 100 meter jauhnya dari laut, kita membutuhkan mobil untuk mengantarkan kita dahulu ke pinggir laut agar kita bisa melompat ke dalam laut. Begitu juga halnya Iman, Iman adalah lompatan dari yang percaya menjadi tidak percaya, tetapi lompatan itu diterangi oleh terang, bukan dalam kegelapan, dan penalaran Apologetik menerangi agar kita dapat melompat menjadi orang yang percaya.

Pikiran selayaknya adalah pengemudi diri kita. Hati selayaknya adalah kapten diri kita. (Apa yang dimaksudkan oleh Kitab Suci dengan hati adalah lebih kepada “keinginan” daripada “perasaan”.) Kedua hal tersebut yaitu Pikiran dan Hati tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi dengan cara masing-masing.

Berikut adalah argumen-argumen yang dapat menerangi kita agar memperdalam iman Katolik kita.

Kebangkitan Yesus Kristus

  1. Kebangkitan Yesus Kristus
  2. Arti dari Kebangkitan
  3. Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus
  4. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya pingsan di kayu salib)
  5. Tanggapan atas Teori Konspirasi
  6. Tanggapan atas Teori Halusinasi
  7. Tanggapan atas Teori Mitos
  8. Menjawab keberatan-keberatan lain mengenai tanggapan atas argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus

Keselamatan

  1. Pentingnya Pertanyaan mengenai Keselamatan
  2. Apa itu Keselamatan
  3. Bagaimana kita diselamatkan? Empat Bantahan dan Jawabannya
  4. Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?
  5. Lalu siapa yang diselamatkan?
  6. Empat Bantahan dari Fundamentalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan
  7. Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

Surga

  1. 7 Teori Alternatif mengenai Kehidupan setelah Kematian
  2. 10 (Sepuluh) sanggahan Gereja mengenai Reinkarnasi
  3. Analogi duniawi tentang Surga
  4. Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)
  5. Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)
  6. Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 3)

Dogma

  1. Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!
  2. Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)
  3. Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)
  4. Api Penyucian

Arti dari Kebangkitan

Apa artinya mempercayai bahwa Yesus “bangkit dari mati”? Salah satunya pengertian yang pasti adalah, bahwa siapa yang mengikuti Dia akan mengalami hal yang sama. Kitab Perjanjian Baru jelas memuat hal itu (lihat, contoh, 1 Korintus 15:12-23.).

Tetapi apa arti dari kata-kata itu? Di satu sisi, kata-kata itu berarti sangat sederhana: Yesus bangkit “dari mati” (atau dengan kata lain, “dari jenazah”, tubuh yang telah mati). Kata-kata yang terdapat di dalam kredo (syahadat) pada masa awal adalah anastasis sarkos dan  anastasis nekron, yang artinya “berdirinya [atau bangunnya] daging” dan “berdirinya tubuh jenazah”. Kedua ekspresi tersebut berusaha menyatakan kenyataan sebisanya. Anastasis merupakan kata untuk merujuk postur badan. Sarkos dan nekron berarti bahwa tubuh yang nyata secara konkrit dari yang telah mati akan bangkit.

Namun muncul pertanyaan yang tidak sederhana; Jenis badan/tubuh yang bagaimana yang dimaksud dalam kebangkitan badan? Kebangkitan badan Yesus menunjukkan bukti yang sangat lain, bagi para muridnya dan teman-teman dekat Yesus pada awalnya mereka tidak mengenali Yesus yang tampak dengan badan yang telah bangkit, tetapi kemudian mengenali setelah Yesus menyatakan kepada mereka. Paulus mengemukakan analogi untuk menjelaskan ini, walaupun tidak dapat menghilangkan misteri yang terkandung. Pada 1 Korintus 15, Paulus menganalogikan tubuh (badan) baru kita, seperti tubuh baru Yesus, adalah berbeda dengan tubuh yang lama yang kita miliki, perbedaan itu layaknya seperti matahari berbeda dengan bulan, hewan berbeda dengan tumbuhan, tumbuhan berbeda dengan benih. Bentuk baru tersebut tidak sesuai dengan kategori dari bentuk yang lama. Namun analogi ini hanya untuk persiapan bagi kita untuk menghadapi jika bentuk baru tersebut adalah karya penciptaan baru dari Allah.

Kita juga tidak mengetahui bagaimana sebenarnya Yesus bangkit. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian itu secara langsung, yang ada banyak orang yang mengalami dan menyaksikan kejadian setelah Yesus yang bangkit. Tidak ada yang mengetahui teknologi bagaimana yang digunakan Allah. Dalam pengertian ini kita tidak dapat mendefiniskan Kebangkitan. Tetapi kita dapat membedakan Kebangkitan dari 10 (sepuluh) alternatif yang terkadang dapat membingungkan kita.

  1. Yesus yang bangkit bukanlah berupa roh atau hantu. Kebingungan dalam hal ini adalah hal yang pertama muncul di benak para rasul (Lukas 24:36-43). Yesus membuktikan bahwa anggapan di benak para rasul salah dengan menunjukkan luka pada tangan dan kaki-Nya yang berupa daging, dan Yesus juga ikut memakan ikan yang disediakan pada murid-Nya. Roh atau hantu tidak mempunyai wujud badan atau daging; tetapi Yesus yang telah bangkit memiliki tubuh yang nyata; oleh karena itu Yesus yang telah bangkit bukanlah hantu.
  2. Kebangkitan Yesus Kristus (Resurrection) bukanlah resusitasi (Resuscitation), bukan seperti pengembalian tidak sadar menjadi sadar, atau bukan seperti kejadian ‘kebangkitan’ Lazarus yang tertulis di Kitab Perjanjian Baru. Tubuh Lazarus yang keluar dari kuburannya adalah tubuh yang sama ketika Lazarus diantar ke dalam kuburannya. Dia masih tetap mengenakan kain kafan (Yohanes 11:44). Sedangkan kain kafan yang dikenakan Yesus, terlipat rapi di dalam kubur Yesus (Yohanes 20:6-7). Lazarus pada akhir usia tuanya akan meninggal, mati lagi. Sedangkan Yesus tidak (Roma 6:9). Lazarus mirip seperti kebanyakan pasien pada jaman sekarang yang mengalami resusitasi dan kembali sadar dari “pengalaman hampir-mati” atau “pengalaman keluar-dari-tubuh”. Apapun kejadian resusitasi tersebut, adalah bersifat sementara. Sedangkan Kebangkitan Yesus bersifat permanen, kekal, abadi.
  3. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah Reinkarnasi. Reinkarnasi mirip dengan Resusitasi, yang hanya memberikan tubuh yang lain tetapi tetap berupa tubuh  duniawi. Kebangkitan badan/tubuh Yesus adalah kekal, abadi. Tubuh yang dimaksud dalam kebangkitan adalah tubuh yang lama dan sekaligus tubuh yang lebih baru daripada tubuh Yesus ketika dibangkitkan. Tubuh Yesus disebut tubuh yang lama, karena tubuh Yesus masih dapat dikenali oleh para muridnya, dan Tubuh Yesus disebut tubuh yang baru karena tubuh tersebut abadi, kekal.
  4. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari pemahaman mengenai keabadian (immortality) oleh paham plato atau gnostik. Dimana paham plato atau gnostik memahami keabadian/kekekalan sebagai terbebasnya jiwa dari keterikatan dari tubuh. Kebangkitan Yesus bukan untuk dipahami sebagai pencapaian keabadian/kekekalan jiwa. Karena jika kebangkitan Yesus dipahami seperti demikian maka hal tersebut tidak berbeda dengan pemahaman yang sudah biasa dimiliki oleh budaya/daerah pada jaman dahulu seperti Yahudi dan Yunani; yaitu manusia dirasuki oleh suatu “jiwa” yang kemudian nantinya pada saat hidup dari manusia tersebut berakhir “jiwa” tersebut keluar dan menuju suatu dunia bayangan yang dinamakan Sheol (Yahudi) … atau Hades (Yunani) .. atau “heaven” (Budaya saat ini). Doktrin-doktrin yang dipahami oleh pada masa awal budaya Yahudi dan Yunani ini dikenal sebagai doktrin “Keabadian Jiwa” berbeda dan tidak ada hubunganya dengan kisah Kebangkitan Yesus. Kita harus memahami perbedaan pemahaman ini, bahwa Kebangkitan Yesus adalah suatu kejadian yang baru, bukti/fakta yang baru terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus lah yang disebut “buah yang pertama”, “sulung, yang bangkit dari antara orang mati”. Yesus berkuasa membuka pintu yang terkunci sejak kematian manusia yang pertama. Yesus telah bertemu, menghadapi, dan mengalahkan Maut. Dan setelah kemenangan Yesus itu, semua menjadi berbeda karena Dia telah melakukannya.
  5. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Penerangan Jiwa (Enlightenment), atau Nirvana, atau satori, atau moksha — hal-hal serupa yang dikenal dalam agama Hindu atau Budha sebagai hal yang diharapkan sesudah kematian: yaitu hilangnya pribadi individu dan suatu penyerapan kembali ke dalam yang Satu, sang Semesta. Sedangkan Yesus yang telah bangkit adalah individu yang benar-benar berbeda.
  6. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari ‘perpindahan’, ‘pengangkatan’, atau ‘penerimaan’ ke dalam surga. Perpindahan, pengangkatan, dan penerimaan ke dalam surga dalam perjanjian lama terjadi pada nabi Henokh (kakek buyut nabi Nuh), Elia, dan Musa. Gereja Katolik mempercayai hal ini juga terjadi pada Maria ibu Yesus, Maria diangkat ke dalam surga. Tetapi Yesus bukanlah dibawa dari bumi ke surga dengan Kebangkitan-Nya, melainkan dari dunia orang mati Dia kembali ke dunia, dunia orang hidup.
  7. Kebangkitan Yesus Kristus dibedakan dari sebuah ‘pandangan’, ‘penglihatan’ (vision, pengalaman spiritual). Walaupun suatu penglihatan yang diadakan oleh Allah, atau oleh alam bawah sadar kita sendiri, atau oleh roh jahat, sebuah penglihatan pada prinsipnya tetaplah bersifat spiritual dan subjektif; yaitu berada di dalam kesadaran kita sendiri. Tetapi yang terjadi pada Kebangkitan Yesus bukanlah suatu ‘pandangan’ atau ‘penglihatan’, Kebangkitan Badan Yesus telah disaksikan oleh orang-orang banyak, secara terbuka, pada saat yang sama. Bahkan Yesus dapat disentuh dan makan bersama dengan murid-muridnya.
  8. Kebangkitan Yesus Kristus harus dibedakan dari Legenda. Legenda, walaupun ada bobot nilai kebijaksanaan di dalamnya, adalah tetap suatu fiksi belaka (tidak nyata) yang dibuat oleh pikiran manusia biasa, bukan oleh Allah, dan bukan oleh alam.
  9. Kebangkitan Yesus Kristus bukanlah mitos. JIka kita ingin membedakan mitos dengan legenda, kita dapat menganggap mitos secara simbolik adalah benar. Sebagai contoh, ada suatu agama di Timur Dekat (kawasan Levant atau Sham, Anatolia, Mesopotamia, dan Plato Iran) yang mempercayai adanya banyak dewa gandum, dewa jagung, dan dewa buah-buahan lainnya yang bangkit dari kematian setiap musim semi. Dewa-dewa ini tidak ada sebenarnya, tetapi kehidupan baru buah yang baru benar-benar ada. Dan jika dihubungkan dengan kisah Kebangkitan Yesus, kelihatannya mirip dan pemikiran yang keliru ini dapat menarik kesimpulan bahwa Kebangkitan Yesus juga adalah mitos. Tetapi Kebangkitan Yesus yang sebenarnya tidaklah mirip dengan mitos. Kebangkitan Yesus punya poin-poin penekanan yang merupakan kenyataan, secara spesifik, benar-benar terjadi pada waktu dan tempat sejarah dan dibenarkan oleh saksi mata. Perjanjian baru secara eksplisit membedakan Kebangkitan Yesus dari mitos dan legenda: “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” (2 Petrus 1:16).Para demitolog moderen yang mengatakan bahwa mereka mempercayai Kebangkitan Yesus, tetapi hanya sebatas mitos, melakukan peniadaan klaim, mengaburkan data — sama halnya seperti jika ada orang yang mengklaim sebagai seorang Nazi, dan percaya bahwa ras Aria adalah ras yang unggul dari pemahaman mitologi sementara mereka membantah bahwa ras Aria adalah benar-benar unggul.Para demitolog berusaha membantah ini dengan membedakan heilsge-schichte (sejarah suci) dari yang biasanya, sejarah (sekular); dengan mengatakan bahwa Kebangkitan Yesus benar-benar terjadi pada awalnya (sejarah suci), dan tidak terjadi pada sejarah (sekular). Namun usaha ini tidak memadai karena jika hal itu benar terjadi, maka hal tersebut benar-benar terjadi waktu lampu sama halnya dengan kelahiran, perang, baik hal yang buruk atau baik. Dan jika tidak benar terjadi, jangan mengatakan hal tersebut sebagai suatu istilah dengan ‘sejarah’, melainkan cukup dengan mengatakan hal tersebut adalah fiksi.
  10. Kebangkitan Yesus Kristus harus benar-benar jelas dibedakan dari apa yang dikemukakan oleh moderenis dalam baris kalimat: “kebangkitan akan iman kebangkitan” dalam hati dan kehidupan para murid. “Iman Kebangkitan ” tanpa Kebangkitan yang sebenarnya adalah suatu kontrakdiksi dan menipu diri sendiri. Iman tersebut adalah iman akan sesuatu yang tidak lebih dari iman itu sendiri. Dan jika hal itu adalah iman, maka kita perlu bertanya: Iman akan iman apa? Iman itu seperti pengetahuan; perlu suatu objek. Jika tidak ada objek, dan hanya iman akan iman itu saja; maka iman itu seperti cermin yang memantulkan cermin yang dihadapannya. Iman dalam iman adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak normal. Sama seperti ingin merasakan daging ayam tanpa memakan daging ayam. Para murid tidak dapat mengalami kebangkitan iman dan harapan tanpa suatu kebangkitan yang nyata. Oleh karena itu, Jika bukan karena Kebangkitan Yesus, lalu siapa yang merubah para murid dari takut jadi pemberani dan mengubah dunia?

Kebangkitan Yesus Kristus

Setiap pewartaan yang dikabarkan oleh setiap pengikut Kristus yang diceritakan dalam Kitab Perjanjian Baru selalu berkisar mengenai hal Kebangkitan Yesus Kristus. Injil atau Kabar Baik, intinya merupakan berita (kabar baru) mengenai Kebangkitan Kristus. Suatu pesan yang terdengar dengan lantang dari jaman dahulu kala, yang membakar semangat, mengubah hidup setiap manusia dan memutarbalikkan dunia bukanlah hanya berupa berita dengan isi pesan “kasihilah sesamamu”. Karena setiap orang yang moralnya baik telah mengetahui hal mengenai “kasihilah sesamamu”; dan hal itu bukanlah berita yang baru. Yang dimaksud berita baru, Kabar Baik, adalah bahwa ada seorang manusia yang menyatakan dirinya Anak Allah dan sang Penyelamat dunia, dan yang telah bangkit dari mati.

Ada satu pewartaan kebangkitan Yesus Kristus yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 17:18) oleh Paulus yang mewarta kepada golongan filsafat Stoa dan Epikuros di Atena. Kedua golongan filsafat itu mengira Paulus mewarta mengenai 2 (dua) Dewa yang baru yaitu Yesus dan Anastasis (Kebangkitan dalam bahasa Yunani).  Pada Kisah Para Rasul 17:18 itu terdapat pewartaan yang penting oleh Paulus mengenai Kebangkitan, dan pertentangan oleh para filsuf dan cendikiawan Atena karena pewartaan itu membingungkan bagi mereka. (Dan mungkin sampai sekarang).

Tantangan logika yang dihadapi oleh para filsuf dan cendekia pada kisah itu (dapat kita golongkan mewakili orang-orang yang skeptis) adalah: Jika pewartaan oleh Paulus itu dapat dibuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari mati, apakah kita dapat mempercayai dalam Dia kita juga akan diselamatkan? Karena jika Yesus benar-benar bangkit, hal itu mengesahkan, membuktikan bahwa ke-illahian-Nya benar bukan hanya manusia biasa, tetapi juga Allah (100% Manusia, 100% Allah), karena kematian di kayu salib membuktikan Dia adalah Manusia, dan kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Allah, dan ke-illahian-Nya itu mengesahkan semua hal yang pernah Dia katakan, sebab Allah tidak berkata bohong.

Ada seseorang filsuf  (Rudolf Bultmann) berlatarbelakang lutheran yang mengatakan seandainya ditemukan suatu bukti yang menunjukan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit; bukti objektif semisalnya tulang-belulang dari tubuh Yesus, hal tersebut tidak akan mengubah inti dari Kekristenan (dia menulis Demitologisasi terhadap Pesan Perjanjian Baru, berupa kritik yang upaya untuk membuat realitas ajaran-ajaran Yesus lebih dapat dipahami oleh para pembaca modern yang terdidik). Pemikiran dari Rudolf Bultmann ini bertolakbelakang dengan Paulus, dan kurang memahami kenapa begitu penting bukti kebangkitan Yesus Kristus bagi iman dan ajaran Kristen.

Karena menurut Paulus, Jika Kristus tidak bangkit, maka :

  1. Pewartaan kita akan Yesus Kristus akan sia-sia.
  2. dan Iman kita akan Yesus Kristus akan sia-sia
  3. Kita bahkan akan dikenal sebagai orang yang salah mengrepresentasikan Allah; karena kita bersaksi bahwa Allah telah membangkitkan Kristus, tetapi jika bukti menunjukan Dia tidak bangkit memberi kenyataan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit.
  4. Pengharapan kita dalam Yesus Kristus untuk dapat diselamatkan dari dosa dan kebinasaan juga sia-sia.
  5. Semua orang yang meninggal dalam iman akan Yesus Kristus juga akan sia-sia.

Membandingkan pendapat Rudolf Bultmann dengan Paulus, maka kita dapat mengetahui bahwa Rudolf Bultmann keliru menilai Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang kurang penting. Apakah menurut kita, Rudolf Bultmann seorang yang hidup pada masa jauh setelah Yesus dan bukan seorang Yahudi (melainkan Jerman) lebih mengetahui Yesus berdasarkan buku lebih menyakinkan daripada Paulus seorang Pewarta Yahudi yang hidup pada masa Yesus?

Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang sangat penting karena hal tersebut melengkapi keselamatan kita. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian (kematian adalah konsekuensi dari dosa). (Roma 6:23).

Kebangkitan juga merupakan pembeda yang jelas antara Yesus dengan tokoh agama lainnya. Relik tulang dari tubuh Abraham, Muhammad, Budha, dan Confusius, Lao-tzu, dan Zoroaster masih tetap berada di bumi, sedangkan Kubur Yesus kosong.

Konsekuensi adanya kebangkitan Yesus Kristus berimbas ke kehidupan manusia tidak dapat diukur. Kebangkitan Yesus tersebut merupakan bukti empiris, konkrit, dan faktual bahwa kehidupan mempunyai harapan dan makna; “cinta kasih lebih besar dari kematian”; kebaikan dan kekuatan saling bersatupadu, bukan bertentangan; kehidupan kekal merupakan kemenangan pada akhir jaman; Allah telah mengulurkan tanggan-Nya kepada kita dan mengalahkan musuh terakhir kita yaitu maut; dan kita bukanlah ‘yatim piatu’ di semesta alam karena Dia-lah Allah Bapa kita. Dan konsekuensi adanya kebangkitan Yesus ini juga dapat dilihat dengan membandingkan keberadaan para murid sebelum dan sesudah kebangkitan Yesus. Sebelum kebangkitan (dimulai ketika Yesus ditangkap dan didera) para murid dipenuhi rasa ketakutan, menyangkal Guru (Yesus), dan bersembunyi di balik pintu yang terkunci rapat. Dan setelah kebangkitan Yesus Kristus, para murid berubah dari sekelompok orang yang ketakutan menjadi orang suci (santo) yang penuh percaya diri, misionaris yang merubah dunia, martir yang gagah berani dan penuh kebahagiaan mewartakan Yesus Kristus.

Hal yang terpenting dari kebangkitan Yesus Kristus bukan terletak pada masa lampau – “Kristus telah bangkit” – tetapi pada saat ini – “Kristus bangkit.” Malaikat yang muncul di kubur Yesus bertanya kepada para wanita yang mencari Yesus, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Pertanyaan yang sama dapat juga ditanyakan kepada sejarahwan dan peneliti jaman ini. Jika kita tidak menyimpan kabar gembira, tidak membiarkan “Dia” hanya dalam catatan “sejarah” atau “Apologetik”, dan kita tidak berdiam diri, DIA saat ini dapat membebaskan dan memberi semangat hidup kita sedasyat yang pernah Dia lakukan  pada 2000 tahun yang lalu; dan dengan kebebasan dan semangat yang diberikan kepada kita dapat mencengangkan dan menarik perhatian semua orang yang belum mengenal Dia, mengembalikan kepercayaan orang-orang yang pernah berbalik dan takut. Itulah pentingnya adanya Kebangkitan Yesus Kristus.

Lalu siapa yang diselamatkan?

Kita telah berargumen menjawab pertanyaan “Siapa yang menyelamatkan?”, dan jawabannya adalah hanya Kristus sang Penyelamat. Kita juga telah berargumen bahwa jawaban “hanya Kristus sang Penyelamat” bukanlah menjadi keharusan menyimpulkan bahwa orang lain (atau pun penganut pagan seperti Socrates) tidak dapat diselamatkan. Kemudian sekarang muncul pertanyaan: Apakah Socrates diselamatkan? dan jika benar dia diselamatkan, pengecualian bagaimana yang berlaku untuk dia? Berapa banyak yang diselamatkan?

Jawaban pastinya adalah kita sebenarnya tidak tahu. Kita tidak menghakimi apa yang kita tidak bisa nilai.

Tetapi bukankah Yesus mengatakan bahwa hanya sedikit yang dapat diselamatkan dan jalan yang menuju ke kehidupan kekal adalah sempit, sementara jalan menuju ke kebinasaan sangat terbuka lebar (Matius 7:13-14)?

Ya benar Yesus mengatakan itu, tetapi “sedikit” dan “banyak” yang dimaksudkan di sini adalah bukan persentase matematika. Yesus adalah seorang pengasih, penyayang, bukan seorang matematikawan; Ia seorang pengembala, bukan seorang statistakawan. Pengembala yang baik dapat merasakan dombanya sama halnya orang tua yang baik dapat merasakan anak-anaknya: bahkan kehilangan satu pun adalah terlalu “banyak”, dan bahkan 99 yang terselamatkan dari 100 adalah terlalu “sedikit”. Ketika seorang murid bertanya kepada Yesus tentang perbandingan jumlah statistik yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka (“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”), jawab Yesus bukan “ya” atau “tidak”, tetapi “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk 13:23-24). Dengan kata lain, “Pikirkan urusanmu sendiri!” Yesus tidak menanggapi atau membenarkan atau menolak pertanyaan itu tapi menekankan bahwa yang dimaksud adalah kita perlu berusaha walaupun sulit untuk masuk ke surga. Yesus tidak mau muridnya mengolah pertanyaan itu untuk mengira-ngira atau mengukur orang lain, karena selain tidak berguna juga berbahaya. Sama halnya mengenai kapan tepatnya hari kiamat terjadi – merupakan salah satu subjek lain yang dengan Kebijaksanaan Allah tidak memberitahukan kepada kita tentang itu (Matius 24:36).

Sehingga dengan demikian kita tidak akan tahu. Tapi kita dapat berusaha, dapat berkerja. Kristus tidak menjawab pertanyaan teori dari kita, tetapi Dia memberikan kita tugas praktek. Tugas yang mengutus kita untuk: mewartakan Injil ke segala makhluk. Apologetik seperti yang saya tulis ini juga merupakan bagian dari tugas saya, tugas kita, menjernihkan jebakan-jebakan intelektual yang menghalangi arah kita untuk beriman.

Cara yang paling efektif untuk mengimplementasikan (melaksanakan) perutusan kita adalah melalui kesucian, kemurnian. Kesucian, kemurnian membuktikan kenyataan dari Injil. “Setiap orang menyukai seorang yang penuh cinta kasih.” Yesus memenangkan banyak jiwa dengan cinta kasih-Nya, bukan dengan “teologi”. Jadi kita harus berkarya dengan kemurnian cinta kasih.

Dan para murid Yesus menuliskan buku-buku, menuliskan kitab-kitab (Kitab Perjanjian Baru) yang memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan siapa yang menyelamatkan secara umum tetapi tidak memberikan jawaban yang jelas bagi pertanyaan yang tertentu.

Jawaban pertanyaan “Siapakah yang diselamatkan?” adalah jelas: “Dia yang haus” (Wahyu 22:17). Pintu surga selalu terbuka (Wahyu 21:25; 3:7-8; 4:1), dan pintu neraka terkunci dari dalam. Itu karena jika Allah adalah kasih yang murni, maka Keselamatan adalah murni pemberian. Jika Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, pemberian gratis, maka semua akan menerimanya kecuali mereka yang menolak pemberian itu. Allah tidak menolak siapapun orangnya, tetapi ada orang yang menolak Allah.

(sekian).

Doa Tahun Iman (2012 – 2013)

YearFaithLogo

DOA TAHUN IMAN (2012-2013)

Ya Allah Tritunggal Mahakudus,
Bapa, Putera dan Roh Kudus,
kami umat-Mu bersyukur atas karunia iman
yang membawa kami pada keselamatan.

Semoga setiap kali merayakan Ekaristi,
iman kami semakin diteguhkan.
Semoga iman kami mendorong kami
untuk mewujudkan persaudaraan dengan sesama
dan melayani dengan tulus dan rendah hati.

Semoga kami tekun mendalami iman
dan makin meyakini
Tuhan Yesus Kristus sebagai
Jalan, Kebenaran dan Hidup kami

Bunda Maria, bunda kami semua,
doakanlah kami
agar kami makin setia pada Puteramu
dan makin berbakti kepada
masyarakat dan bangsa.

Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

(Imprimatur: Vikjen KAJ, RD. Y. Subagyo)

Bagaimana kita diselamatkan?

Setelah kita melihat dengan jelas bahwa Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma oleh Allah  agar kita terima dengan keyakinan, bukan dengan sesuatu yang kita usahakan dengan perbuatan baik dan berharap bahwa imbalan yang didapat adalah Keselamatan; maka secara wajar muncullah empat pendapat yang keberatan dengan pemahaman tersebut dan biasanya diajukan oleh kelompok orang yang tidak percaya.


Keberatan 1:

Keselamatan kelihatannya seperti kesewenangan. ” Jika kamu percaya, kamu akan diselamatkan; tetapi jika kamu tidak percaya, kamu akan binasa.” Baris tersebut jelas dan diambil dari Kitab suci. Tetapi hal itu kesannya sewenang-wenang seperti seorang bapak yang berkata kepada anaknya: “Jika kamu percaya bahwa saya berumur 3.000 tahun, memiliki darah berwarna hijau, dan datang dari Mars, maka saya akan memberikan sepuluh mobil mewah.” Dari contoh itu kelihatan bahwa tidak ada lagi makna, alasan atau hubungan antara mempercayai kebenaran mengenai Yesus dengan memperoleh upah Kebahagiaan Kekal dibandingkan dengan mempercayai hal yang serupa mengenai ‘bapak’ dan mendapatkan sepuluh mobil tadi.

Jawaban: Argumen keberatan di atas gagal mengenali dua istilah penting dari formulasi “iman -> keselamatan”. Iman bukan hanya kepercayaan intelektual, dan Keselamatan bukan hanya upah yang akan diterima. Iman adalah membiarkan Allah masuk ke jiwa kita; dan Keselamatan, atau Kehidupan Kekal adalah memiliki Allah di dalam jiwa kita.

Itulah sebabnya mengapa Keselamatan bukan mengenai ukuran: kecukupan karya, kecukupan ketulusan, kecukupan kekonservatifan. Tidak ada takaran dengan suatu kesewenangan, seperti sistem penilaian ujian di sekolah. Keselamatan itu seperti pengalaman seorang ibu sedang mengandung; seorang ibu tidak bisa mengandung setengah-setengah. Yang ada hanya kita mengalami hidup baru atau tidak. Hanya satu hal yang dapat memungkinkan kita tidak menerima berkat Kehidupan Kekal ini adalah: penolakan kita. Iman bukan hanya saja percaya kepada Allah tetapi juga menerima Allah (Yoh 1:12). Iman bukan seperti menyetujui suatu perjanjian atau lulus dari suatu ujian, tetapi lebih mirip seperti sedang mengandung.


Keberatan 2:

Sepertinya tidak adil bahwa upah kekal dan hukuman kekal ditentukan berdasarkan pilihan-pilihan sementara (duniawi). Bagaimana bisa sesuatu sebab yang keberlangsungannya hanya sementara dapat mengakibatkan efek yang harus ditanggung untuk selamanya?

Jawaban A: Sama halnya seperti membuka sebuah keran dapat mengalirkan air, atau membuat sebuah retakan pada bendungan dapat menyebabkan banjir, atau membuka jendela menyebabkan udara segar masuk ke ruangan. Iman adalah hanya membiarkan Allah untuk masuk ke jiwa manusia, dimana Allah sebenarnya sudah hadir “di luar” jiwa (karena manusia belum beriman, manusia belum menerima Allah).

Jawaban B: Kita dapat menggunakan dua metafora untuk Keselamatan (selama kita memahami dan mengingat bahwa itu metafora): kita dapat berbicara mengenai “masuk ke” surga atau “memasuki” surga, atau juga kita dapat berbicara mengenai Surga (atau hidup kekal, atau kehidupan Allah) yang dapat dipahami serupa halnya seperti “memasuki” jiwa kita. Kitab Perjanjian Baru menggunakan dua pernyataan: kita ada “di dalam” Kristus dan Kristus ada “di dalam” kita. Tidak jarang pernyataan kedua (Kristus ada “di dalam” kita) adalah cara untuk menjelaskan pernyatan pertama (kita ada “di dalam” kita). Dan mungkin cara ini juga dapat membantu untuk menjelaskan dalam jawaban ini. Keselamatan bukan seperti memasuki suatu arena/ruangan dengan membeli sebuah tiket jika kita mempunyai uang yang cukup (= keadilan); Keselamatan lebih dipahami seperti kita mengijinkan (membiarkan) seorang tamu untuk masuk ke rumah dengan mempercayai dia orang baik-baik (= iman) dengan membukakan pintu.

Jawaban C: Keselamatan itu seperti pernikahan. Pernikahan adalah komitmen permanen, dengan tidak adanya suatu perjanjian sebelumnya yang menentukan kapan berakhirnya atau lamanya suatu pernikahan. Dimana Pernikahan itu dapat terjadi karena suatu pilihan yang dalam rentang waktu tertentu namun menjadikan komitmen untuk selamanya. Begitu juga halnya persatuan kita dengan Allah, kita menerima kehadiran Allah di hati dan jiwa kita juga berdasarkan pilihan untuk suatu Kebahagiaan Kekal, atau sebaliknya.

Jawaban D: Dengan waktu hidup kita yang terbatas, Allah yang kita terima dengan iman atau menolaknya dengan dosa adalah Allah yang abadi, yang tidak terbatas. Penerimaan kita akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas, akan mengarahkan kita ke kekayaan yang tidak terbatas (bukan kekayaan materi, tetapi kekayaan rohani). Sedangkan penolakan akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas akan mengakibatkan kerugian yang tidak terbatas.


Keberatan 3:

Mengapa Allah menuntut kita harus beriman dalam Yesus agar dapat diselamatkan? Hampir semua orang merasa bahwa cukup hanya dengan ketulusan agar dapat diselamatkan oleh Allah, tidak harus beriman dalam Yesus. Karena sangat tidak toleran bagi si A ‘orang yang tidak percaya akan Allah tapi memiliki ketulusan berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di neraka; sedangkan si B ‘orang yang percaya akan Allah tapi kurang tulus berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di surga. Apa yang Allah harapkan dari manusia selain ketulusan hati manusia itu? Seandainya dilihat dari sisi manusia, itulah yang diharapkan. Nah kenapa Allah mempunyai moralitas, keinginan, tuntutan yang berbeda jika dibandingkan dengan kita.

Jawaban: Tidak ada bidang kehidupan selain dari bidang keagamaan yang dapat menerima bahwa cukup hanya dengan ketulusan dari manusia. Ketulusan mungkin dibutuhkan, tetapi itu tidak mencukupi. Sebagai contoh: Bagi anda cukupkah dengan hanya bermodalkan ketulusan dari seorang dokter bedah akan menjadmin anda dapat sembuh/selamat? atau cukupkah dengan hanya ketulusan dari seorang agen perjalanan anda yakin dapat sampai ditempat tujuan dengan selamat? Apakah cukup dengan hanya ketulusan kita dapat sembuh dari penyakit kanker, kebangkrutan, kecelakaan, atau kematian? dan kiranya jawaban yang sewajarnya adalah Tidak. Dengan demikian mengapa kita dapat mengira bahwa cukup hanya dengan ketulusan dapat menyelamatkan kita dari neraka.

Pendapat keberatan ini bermula dari suatu perubahan pola pikir yang terjadi pada akhir abad ke 1900+. Hampir semua kepercayaan kuno (bukan hanya Kristen) bahwa agama merupakan kebenaran objektif (kebenaran atas suatu kepercayaan), sama halnya kebenaran objektif pada bidang medis atau ekonomi atau geografi. Kebenaran Objektif yang merupakan kebenaran atas suatu objek atas keberadaan objek tersebut. Namun pada perubahan pola pikir yang pada masa akhir abad 1900+ tersebut yaitu pada kelompok moderen tidak melihat bahwa agama merupakan kebenaran objektif, melainkan sebaliknya dan  jauh berbeda dengan kelompok sebelumnya.

Berikut adalah tipe dari kelompok yang memiliki 4 (empat) cara radikal yang berbeda jauh daripada kelompok sebelum moderen.

  1. Kelompok moderen melihat agama bersifat subjektif daripada subjektif, melihat lebih ke arah bahwa  agama merupakan sesuatu yang ada di dalam kita dan dibawah kesadaran kita; daripada melihat ke arah bahwa agama merupakan sesuatu yang menaungi (menjadi ruang) kita dimana keberadaan kita dan kesadaran kita berada di dalamnya. Pengajar keagamaan moderen lebih sedikit berbicara mengenai Allah, dan lebih banyak berbicara perilaku dan pengalaman kehidupan beragama.
  2. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai praktek daripada sebagai teori, hanya melihat ‘kebaikkan’ daripada ‘kebenaran’, hanya melihat sisi moral daripada teologika, hanya melihat ‘suatu cara menjalani hidup’ daripada ‘suatu peta fakta kenyataan’. Oleh karena itu bagi kelompok moderen, agama menjadi pragmatis dan relatif: ‘jika yang diajarkan agama itu berguna bagi kamu, gunakan itu’.
  3. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai hasil karya-manusia dariada hasil karya-Allah, lebih melihat agama sebagai ‘sesuatu yang kita ciptakan’ daripada ‘sesuatu yang kita temukan’, lebih melihat agama sebagai ‘jalan kita menuju kepada Allah’ daripada ‘Jalan Allah untuk menyelamatkan kita’.
  4. Kelompok moderen melihat agama sebagai pendukung keinginan manusia, bukan sebagai pengurang/pembatas keinginan manusia; lebih melihat agama sebagai pengembangan-diri (self-growth) daripada penyangkalan-diri (self-death); lebih melihat agama seperti ‘latihan’ untuk memyehatkan tubuh, bukan seperti ‘operasi/pengobatan’ untuk menyehatkan dari penyakit. Karena bagi kelompok moderen, tidak ada yang namanya penyakit (sesuatu yang buruk) di dalam diri manusia; yang disebut dosa.

Dari ke-4 (empat) cara radikal di atas, sebagian besar kelompok moderen berpendapat bahwa cukup hanya dengan ‘ketulusan’, manusia dapat selamat. Tetapi ada beberapa hal yang bertentangan dengan pendapat dari kelompok moderen ini yaitu:

  1. Ketulusan subjektif belaka dari seseorang tidak cukup bagi orang tersebut apabila berhadapan dengan sesuatu kenyataan secara objektif. Misalnya ketulusan dari seorang dokter ahli bedah tidaklah cukup untuk mengobati pasiennya, dokter tersebut harus benar-benar melakukan operasi bedah yang diperlukan agar pasien tersebut dapat sembuh. Dua hal yang kita butuhkan dalam menghadapi kenyataan secara objektif adalah: kita perlu ketulusan kehendak dalam pencarian, dan benar-benar menjalaninya, melakukan usaha menemukannya.
  2. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan juga tidak mencukupi untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan, dan seandainya jalan yang diajarkan itu tidak benar, tidak berguna juga.
  3. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan tidak dapat menemukan jalan yang telah dirintis oleh seseorang, namun dengan ketulusan itu dapat mengingatkan jalan apa yang telah ditempuh.
  4. Dan Ketulusan belaka tidak cukup untuk menghapus dosa, sama halnya ketulusan tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit kanker. Sebagai contoh: Kita memerlukan seorang dokter yang benar-benar dokter. Kita tidak dapat melakukannya sendiri. Tangan kita gemetar; bagaimana kita dapat membedah tangan kita sendiri? Atau seadainya kita terjatuh ke lumpur hidup yang menyedot kita tenggelam, tidak ada batu pijakan yang dapat membantu kita dapat menyelamatkan diri. Atau seandainya diri kita dijual sebagai budak dan kita tidak mempunyai uang untuk membayar pembebasan kita sendiri. Kita memerlukan lebih dari Ketulusan; kita memerlukan Penolong, Penyelamat. Ketulusan tetap diperlukan agar dapat selamat – karena hanya merekah yang tulus mencari akan menemukan – tetapi Ketulusan tidaklah mencukupi.

Keberatan 4:

Kelihatannya tidak adil bagi seorang penganut pagan untuk dapat Keselamatan, dia harus mengimani Yesus Kristus. Seharusnya seorang pagan yg baik seperti Socrates lebih pantas masuk Surga daripada orang kristen awam yang belum tentu baik.

Jawaban A: Bagaimana kita dapat mengetahui siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak masuk? Apakah kita Tuhan? Apakah Surga adalah hadiah yang dapat kita berikan kepada orang lain? Apakah hidup adalah suatu permainan yang peraturannya kita tentukan sendiri?

Jawaban B: Bagaimana kita tahu bahwa si Socrates tidak di dalam Surga? atau mengetahui bahwa orang kristen itu tidak di dalam Surga?

Jawaban C: Keberatan ini menolak data berdasarkan teori, menolak yang telah diketahui berdasarkan ketidaktahuan. Kita tidak tahu siapa yang pantas diselamatkan – kita tidak diberitahu mengenai ini – tetapi kita tahu bagaiman supaya diselamatkan – kita diberitahu mengenai ini, Kita juga mengatahui bahwa Allah tidak bermula. Kita mungkin tidak bisa mengenai Allah secara jelas, terang benerang, kita mengenal Allah sebatas kemampuan kita (karena kita terbatas). Kebijaksanaan Allah juga tampak samar-samar oleh kita karena kita dibatasi waktu dan melihat “melalui kacamata yang buram”. Hanya dari tempat maha tinggi dan sucilah yang dapat melihat keseluruhan dengan jelas.

(sekian)