Doa Minggu Panggilan


Allah Bapa maha pengasih dan penyayang, puji dan syukur kami haturkan atas penyertaan-Mu selalu kepada kami semua, teristimewa untuk para imam-Mu baik yang berkarya di Keuskupan kami, maupun di paroki kami.

Kami mohon bantuan-Mu, dampingilah para imam kami dalam tugas kegembalaannya dalam menggembalakan umat-Mu agar tidak ada satu pun yang hilang.

Curahilah Imam-imam dengan terang Roh Kudus-Mu dalam karya dan usaha mereka sehingga mampu membuat umat-Mu semakin dekat kepada-Mu, berilah mereka kesehatan yang prima dan berkatilah juga keluarga-keluarga mereka yang telah rela memberikan mereka untuk melayani-Mu.

Bapa, kami juga mohon bantuan-Mu agar banyak di antara kami yang menanggapi panggilan-Mu untuk menjadi Suster, Bruder dan Imam. Biarlah setiap orang tua merelakan anak-anaknya menanggapi panggilan-Mu untuk turut bekerja di ladang-Mu.

Bapa, untuk mereka yang tengah menjalani pendidikan dalam menanggapi panggilan-Mu, biarlah Engkau membantu mereka, memberkati mereka sehingga mereka semakin mampu dan bertekun dalam proses pendidikan mereka, sehingga kelak mereka dapat diutus dan dikuduskan hanya bagi-Mu saja.

Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami.

(Amin)

Doa untuk Para Imam


Bapa yang penuh kasih sayang, kami bersyukur atas imam-imam yang telah Kau berikan untuk mendampingi kami, umat-Mu. Engkau sendirilah yang telah memilih dan memanggil mereka.

Sudilah Engkau memberkati mereka dalam semua karya pelayanan bagi umat-Mu. Jadikanlah mereka garam yang dapat melindungi hidup kami dari kebusukan dan kehancuran. Jadikanlah pula mereka terang, yang dengan perkataan dan perbuatan memancarkan terang-Mu sendiri kepada orang-orang yang sedang diliput kegelapan. Semoga karya mereka Kau karuniai hasil yang membahagiakan.

Bapa yang penuh kasih, sudilah melindungi para imam kami, khususnya …, dari bahaya-bahaya yang mengelilingi mereka laksana singa yang mengaum-ngaum mencari mangsa. Kuatkanlah mereka bila mengalami kesulitan dalam panggilan. Dan bila ada imam-Mu yang ragu-ragu akan panggilannya, sudilah Engkau datang meneguhkannya; bila ada yang mengalami kesulitan berat, sudilah Engkau datang memberikan kekuatan. Janganlah Engkau melupakan imam-imam-Mu yang, karena kelemahan manusiawinya, tidak setia pada panggilannya; bimbinglah mereka kembali ke jalan yang telah Kau pilih dan Kau tentukan bagi mereka. Kalau ada di antara mereka yang memilih jalan lain, sudilah Engkau tetap memberkatinya, karena mereka pun tetap anak-Mu. Semoga mereka tetap dapat hidup sebagai orang beriman, dan bekerja giat di tengah jemaat-Mu. Semua ini kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)

Sakramen Tahbisan


Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan sakramental-liturgis Gereja. Sakramen-sakramen lain, dengan cara dan dasar yang berbeda-beda, merupakan syarat untuk dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan itu diangkat dengan sakramen tahbisan. Tanpa imam sebagai pemimpin, kebaktian umat tidak diakui sebagai perayaan resmi Gereja. Bukan dalam arti bahwa imamlah yang membuat Ekaristi, tetapi imam itu pemimpin umat yang membuat pertemuan menjadi resmi. Dengan demikian perayaan Ekaristi juga menjadi ibadat resmi Gereja atau sakramen.

Tahbisan Uskup, Imam, dan Diakon: Satu atau Tiga?

Dalam masa yang lampau sakramen tahbisan, yang dulu sering disebut “sakramen imamat”; terlampau dibatasi pada tugas dalam Ekaristi. Dikatakan bahwa dengan tahbisan, imam diberi kuasa membuat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, mempersembahkan kurban Kristus kepada Allah, dan untuk memberi absolusi dalam sakramen tobat. Ini kurang tepat. Sakramen tahbisan itu “sakramen wisuda”. Dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin dalam Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau dalam pelayanan sakramen lainnya, melainkan dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja (termasuk tentu juga sakramen-sakramen). Dengan sakramen tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah” (LG 11).

Maka dari itu sakramen tahbisan itu pertama-tama tahbisan uskup. Sebab “dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanya disebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Adapun para imam biasa, kendatipun “tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para uskup, namun mereka sama-sama imam seperti para uskup; dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka pun dikhususkan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru” (LG 28). Akhirnya, masih ada para diakon, yang juga “ditumpangi tangan, tetapi bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG 29). Ada tiga macam sakramen tahbisan: tahbisan uskup, tahbisan imam, dan tahbisan diakon. Jadi, ada tiga sakramen ataukah satu?

Di atas telah dikatakan bahwa imam dan diakon itu pembantu uskup, oleh karena itu juga ditahbiskan sebagai pembantu uskup, oleh uskup mereka sendiri. Pemimpin umat yang sesungguhnya ialah uskup, tetapi bukan dalam arti bahwa uskup berdiri sendiri. Yang memimpin Gereja itu dewan para uskup, dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai anggota dewan para uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG 21).

Itu tidak berarti bahwa tahbisan imam dan diakon bukan sungguh tahbisan. Mereka pun diangkat menjadi anggota hierarki atau pimpinan Gereja, biarpun sebagai pembantu saja. Maka dapat dibedakan antara uskup dan imam/diakon sebagai pemimpin dan pembantu pemimpin. Dapat dibedakan lagi antara imam dan diakon sebagai pembantu umum dan pembantu khusus. Kalau ditekankan perbedaan itu, maka harus disimpulkan bahwa ada tiga sakramen tahbisan. Akan tetapi, kalau melihat bahwa dengan sakramen tahbisan seseorang menjadi anggota hierarki guna menggembalakan umat, biarpun dengan pembagian tugas tersendiri, harus dikatakan bahwa ada satu sakramen tahbisan saja. Satu atau tiga tahbisan itu serupa dengan satu atau dua inisiasi. Kalau semua dikhususkan, maka ada sembilan sakramen, Kalau baik inisiasi maupun tahbisan dianggap satu, maka ada enam.

Struktur Sakramental

Yang penting bukan jumlah enam atau sembilan, melainkan hubungan antara sakramen atau “struktur sakramental” Gereja. Konsili Vatikan II berulang kali berkata bahwa Ekaristi adalah “pusat dan puncak” (CD 30; AG 9; lih. LG 11; PO 5). Boleh dikatakan bahwa Ekaristi itu pelaksanaan diri Gereja di bidang liturgis-sakramental. Semua sakramen lain adalah syarat atau lanjutan. “Syarat” entah untuk dapat berpartisipasi entah untuk membuat perayaan ini menjadi sah. Supaya perayaan sah, perlu ada pemimpin yang sah, yang diangkat dengan tahbisan, menurut tingkatan sendiri-sendiri.

Syarat untuk boleh ikut juga berbeda-beda: inisiasi merupakan syarat umum. Dengan pembaptisan dan krisma, orang menjadi anggota Gereja dan karena itu “berhak” ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Haknya itu tidak bisa dipergunakan, kalau ia mempunyai dosa besar atau bahkan diekskomunikasi (dikucilkan). Dengan sakramen tobat semua halangan itu dihapus dan orang dapat berpartisipasi penuh lagi. Tetapi halangan tidak hanya datang dari tindakan moral seseorang. Ia juga harus dilantik di dalam Gereja menurut status sosialnya. Dengan hidup berkeluarga status sosialnya berubah. Maka keanggotaan Gereja harus “disesuaikan”. Itulah fungsi sakramen perkawinan. Akhirnya, dengan sakramen pengurapan orang sakit orang dipersiapkan supaya bersatu dengan sengsara dan wafat Kristus, bukan hanya secara sakramental (dalam Ekaristi) melainkan juga secara eksistensial dengan mengalaminya sendiri.

Semua sakramen itu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan satu sama lain, dan bersama-sama membentuk struktur sakramental Gereja, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Struktur Sakramen
Struktur Sakramen

Dalam struktur ini jelas, bahwa inisiasi (dan juga tobat dan nikah) benar-benar terarah kepada Ekaristi sebagai “pusat dan puncak”-nya, Begitu juga para imam harus sadar, bahwa “tugas suci mereka laksanakan terutama dalam ibadat Ekaristi atau pertemuan (synaxis)” (LG 28). Dan mereka yang dipersatukan dengan sengsara Kristus hendaknya yakin, bahwa “kita adalah warga surga, dari mana kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21).

Upacara Tahbisan

Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3. Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan imam berbunyi:

“Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.”

Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h   arus dijalankan dengan kata, tetapi terutama dengan “teladan hidup”.

Pewarta Sabda


Tugas pewartaan seperti yang juga dialami para nabi dan Kristus sendiri tidaklah ringan. Tugas membangun umat Kristen menuntut keterlibatan seluruh eksistensi diri pewarta. Sebagai pewarta Yesus, ia harus mengambil bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi dituntut adanya penyesuaian eksistensial antara pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus, Sabda Allah dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh kehidupan pewarta. Oleh sebab itu menjadi pewarta merupakan suatu panggilan. Itu berarti bahwa seorang pewarta dituntut dekat dengan Dia yang diwartakannya; nasib Yang diwartakan akan menjadi nasibnya; penderitaan menjadi bagian hidupnya; ia diutus dan “diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus memiliki komitmen utuh kepada umat. Tetapi siapakah pewarta itu?

Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk golongan imam atau para biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka mau memberi kesaksian tentang kebenaran Injil. Lebih khusus lagi harus disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG 17). Para katekis itu biasanya berstatus awam, tetapi dengan tugas pewartaan resmi mereka menjalankan fungsi pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada imam. Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan supaya kepada mereka “diberikan perutusan gerejawi yang resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang dirayakan di muka umum” (AG 17). Untuk itu mereka juga harus diberi pendidikan yang memadai.

Pembantu Uskup: Imam dan Diakon


Uskup itu pemimpin Gereja lokal, tetapi ia jarang kelihatan di tengah-tengah umat. Tampaknya uskup seorang “administrator” saja. Sebelum Konsili Vatikan II banyak orang berpendapat bahwa dengan tahbisan imam seseorang sudah menerima kepenuhan imamat, sedangkan tahbisan uskup sebetulnya hanya upacara administratif saja. Ajaran Konsili Vatikan II lain: “Konsili suci mengajarkan, bahwa dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yakni yang disebut imamat tertinggi, keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Kepenuhan imamat tidak diberikan dengan tahbisan imam, tetapi dengan tahbisan uskup.

Anggapan (umum) bahwa tahbisan imam sudah berarti kepenuhan imamat, berhubungan dengan pandangan yang melihat tugas imam melulu dalam kaitan dengan Ekaristi (dan sakramen tobat). Seorang imam dipandang orang yang diberi kuasa mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus dan mengampuni dosa. Pandangan salah ini mempunyai dasar dalam ajaran Konsili Trente, yang menegaskan tugas sakramental imam dalam jawabannya terhadap ajaran Protestan. Oleh karena Trente hanya mau menanggapi ajaran Reformasi, maka juga hanya menyebut hal-hal yang dipersoalkan oleh Reformasi. Ajaran Trente tidak lengkap. Oleh karena itu Konsili Vatikan II melengkapi ajaran Trente dengan mengajarkan bahwa tugas pokok uskup [dan imam] adalah kepemimpinan. Tugas itu kemudian dijabarkan dalam tiga tugas khusus. Yang pertama tugas pewartaan, selanjutnya bidang sakramen, dan akhirnya seluruh kehidupan jemaat. Kecuali itu, dengan mengikuti Kitab Suci, Konsili Vatikan II dengan menekankan tugas kepemimpinan juga menegaskan fungsi uskup sebagai pemimpin yang sesungguhnya dan mengajarkan bahwa para imam merupakan pembantunya.

Uskup sekarang jarang tampil di tengah-tengah umat. Ini berhubungan dengan “ukuran” keuskupan. Zaman dahulu, sampai abad ke-6, sebuah keuskupan tidak lebih besar daripada yang sekarang disebut paroki. Seorang uskup dapat disebut “pastor kepala” pada zaman itu, dan imam-imam “pastor pembantu”. Lama kelamaan para pastor pembantu mendapat daerahnya sendiri, khususnya di pedesaan. Makin lama daerah-daerah keuskupan makin besar. Dengan demikian, para uskup semakin diserap oleh tugas organisasi dan administrasi. Tetapi semua itu sebetulnya tidak menyangkut tugasnya sendiri sebagai uskup, melainkan cara melaksanakannya.

Dengan perkembangan itu para imam makin menjadi wakil uskup. “Di masing-masing jemaat setempat dalam arti tertentu mereka menghadirkan uskup. Para imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan para uskup, sebagai penolong dan organ mereka” (LG 28). Tugas konkret mereka sama seperti uskup: “Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi”. Bagi mereka juga berlaku bahwa “umat Allah pertama-tama dihimpun oleh sabda Allah yang hidup. Maka para imam sebagai rekan-rekan sekerja para uskup, pertama-tama wajib mewartakan Injil Allah kepada semua orang” (PO 4). Baru kemudian disebut tugas liturgis dan organisatoris (PO 5; 6), sebab “termasuk tugas para imam sebagai pembina iman, mengusahakan supaya orang beriman masing-masing dibimbing dalam Roh Kudus guna menghayati panggilannya sendiri menurut Injil, secara aktif mengamalkan cinta kasih yang jujur, dan hidup dalam kebebasan yang dikaruniakan oleh Kristus” (PO 6).

“Semua imam adalah pembantu uskup dan mengambil bagian dalam tugas membangun jemaat. Tetapi tugas membantu uskup dalam kepemimpinan keuskupan secara khusus dipercayakan kepada dewan imam yang merupakan suatu senat uskup dan sekaligus mewakili para imam dalam suatu keuskupan” (KHK kan. 495).

Konsili Vatikan II mengakhiri uraiannya mengenai hierarki dengan para diakon: “Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan ‘bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan’ (LG 29). Mereka juga pembantu uskup, tetapi tidak mewakilinya. Para uskup mempunyai dua macam pembantu: pembantu umum (disebut imam) dan pembantu khusus (disebut diakon). Bisa juga dikatakan bahwa diakon “pembantu dengan tugas terbatas”. Oleh karena itu dia ada “pada tingkat hierarki yang lebih rendah”. Diakon juga anggota hierarki, oleh karena itu mengambil bagian dalam tugas kepemimpinan. Hanya saja agak sulit mengkhususkan tugas itu. Dalam organisasi Gereja sekarang ini semua tugas itu sudah dilakukan oleh imam atau oleh awam. Maka tidak ada banyak orang yang ditahbiskan menjadi diakon. Hanya karena dikatakan bahwa “diakonat dapat diterimakan kepada pria yang sudah berkeluarga”, maka kadang-kadang ada orang ditahbiskan menjadi diakon untuk tugas gerejawi. Banyak tugas itu dijalankan oleh awam tidak-tertahbis. Maka, karena kekurangan imam ada kalanya ditahbiskan orang menjadi diakon, dengan tugas terbatas.

Kardinal bukan tingkatan atau fungsi khusus dalam kerangka hierarki, Seorang kardinal adalah uskup yang diberi tugas dan wewenang memilih paus baru, bila ada seorang paus meninggal. Karena paus adalah uskup Roma, maka paus baru sebetulnya dipilih oleh pastor-pastor kota Roma, khususnya oleh pastor-pastor dari gereja-gereja “utama” (= cardinalis). Karena tugas dan wewenang paus tidak lagi pertama-tama terkaitkan dengan urusan keuskupan Roma saja, maka yang memilihnya juga bukan lagi pastor-pastor kota Roma. Dewasa ini para kardinal dipilih dari uskup-uskup seluruh dunia. Lama-kelamaan para kardinal juga berfungsi sebagai penasihat paus, bahkan fungsi kardinal menjadi suatu jabatan kehormatan. Para kardinal diangkat oleh paus. Sejak abad ke-13 warna pakaian khas adalah merah lembayung.