Allah Tritunggal Maha Esa

Sesudah hari raya Pentekosta Gereja Katolik merayakan pesta Tritunggal Mahakudus. Pesta itu merupakan rangkuman seluruh tahun liturgi. Dan memang tepat, sebab dogma atau ajaran mengenai Allah Tritunggal merupakan rangkuman seluruh iman dan ajaran Kristen. Iman akan Allah Tritunggal bukanlah titik pangkal, melainkan kesimpulan dan rangkuman dari seluruh sejarah pewahyuan Allah, serta tanggapan iman manusia,

Cukup menarik bahwa semula Paus Alexander II (1061-1073) menolak mengadakan hari raya khusus bagi Tritunggal Mahakudus. Alasannya, bahwa Gereja sudah setiap hari menghormati Tritunggal Mahakudus, khususnya dalam doa “Kemuliaan”. Kendati demikian pada tahun 1334 diadakan hari raya khusus. Iman akan Allah Tritunggal yang memang terungkap dalam seluruh hidup Gereja, begitu penting, sehingga pantas diberi perhatian khusus. Namun perlu diperhatikan bahwa pada hari raya ini tidak ada peristiwa keselamatan yang dirayakan (seperti pada Natal dan Paskah), melainkan suatu dogma atau ajaran.

Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia. Maka sebaiknya uraian tidak mulai dengan rumus “satu Allah, tiga pribadi”, tetapi dengan Kitab Suci, karena kata (modern) “pribadi” tidak seluruhnya tepat. Bila diartikan menurut paham modern, arti rumus ini tidak jauh dari triteisme atau tiga Allah.

Dalam teks-teks resmi Gereja dipakai kata Yunani (prosopon dan hypostasis) dan Latin (persona). Kata-kata itu tidak mempunyai arti yang tepat sama dengan kata “pribadi”. Bahkan dalam bahasa kuno tidak seluruhnya jelas pembatasan kata itu. Semua kata itu mempunyai arti khusus, sama seperti kata Bapa dan Putra, yang diambil dari bahasa manusia tetapi punya arti yang lain sama sekali kalau dipakai untuk Allah. Titik pangkal bukan kata atau rumus, melainkan fakta sejarah keselamatan, yang kemudian mau dirumuskan sebaik mungkin.


A. Ajaran Kitab Suci

Dalam 2Kor 5:19 Paulus berkata, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus” dan dalam Rm 5:5, “Kasih Allah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita”. Allah bertindak, dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Karya Kristus, dan karya Roh Kudus, merupakan karya Allah. Gereja perdana yakin bahwa dalam diri Kristus, dan dalam Roh Kudus, karya keselamatan Allah terlaksana. Dengan singkat seluruh karya Allah ini dirumuskan dalam Ef 1:3-14:

(3)”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga dalam Kristus.
(4)”Sebab dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih;
(5)dengan menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
(6)supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya,
(7)Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa – menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
(8)yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
(9)Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita – sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus,
(10)sebagai persiapan kegenapan waktu – untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.
(11)Di dalam Dialah kami [turunan Yahudi] mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya –
(12)supaya kami ini, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus [karena ajaran Perjanjian Lama], boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya,
(13)Di dalam Dia kamu [turunan Yunani] juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – ketika kamu percaya, kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu.
(14)Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh keseluruhannya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Jelaslah bahwa yang melakukan karya keselamatan adalah Allah, yang di sini disebut “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Karya keselamatan itu secara konkret-historis terlaksana dalam Kristus. Sebelum pengarang berbicara mengenai penebusan yang diperoleh karena salib Kristus (ay, 7), dikatakan lebih dulu bahwa “dari semula”, yaitu “sebelum dunia dijadikan” Allah sudah menetapkan rencana keselamatan itu “dalam Kristus”. Kristus itu jalan keselamatan Allah menurut rencana dari semula. Sebagai inti karya Allah itu disebut pewahyuan rencana Allah dalam Kristus (ay. 9). Tetapi dengan karya Kristus saja, karya Allah belum lengkap. Karya itu diteruskan oleh Roh Kudus yang merupakan “jaminan” kepenuhan penebusan pada akhir zaman.

Jelas sekali bahwa ajaran mengenai Allah Tritunggal bukanlah suatu teori, yang diwahyukan secara lengkap oleh Yesus atau para rasul, melainkan rangkuman karya Allah yang dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus. Oleh karena itu perlu diperhatikan secara lebih rinci, bagaimana Allah berkarya dalam Kristus dan Roh Kudus. Lalu kelihatan juga bagaimana hubungan Kristus, dan Roh Kudus, dengan Allah yang mengutus dan melaksanakan karya keselamatan-Nya.

1. Yesus

Yesus tidak pernah “menerangkan” diri sendiri. Pewartaan Yesus tidak mengenai diri-Nya sendiri, melainkan mengenai Allah, khususnya mengenai Kerajaan Allah. Mengenai Kerajaan Allah Yesus juga tidak memberi banyak keterangan. Pembicaraan Yesus mengenai Kerajaan adalah pewartaan yang bukan sekadar keterangan, melainkan yang menantang dan mengejutkan. Pewartaan itu didukung dan diisi oleh seluruh penampilan Yesus, baik sewaktu hidup-Nya maupun sesudah wafat-Nya, ketika Ia menampakkan diri dalam kemuliaan. Malah sebetulnya Yesus dikenal terutama dari penampakan sesudah kebangkitan. Penampakan itu berarti bahwa para murid mengenal-Nya kembali. Dengan demikian penampakan itu tidak bisa dilepaskan dari seluruh pergaulan Yesus dengan mereka, “mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang dimaklumkan oleh Yohanes” (Kis 10:37). Oleh karena itu perlu diingat kembali semua yang telah diuraikan oleh Gereja mengenai hidup dan karya Yesus.

Dua hal yang hendak digarisbawahi di sini ialah pergaulan Yesus dengan orang berdosa dan pandangan Yesus sendiri terhadap kematian-Nya, sebagaimana terungkapkan terutama pada perjamuan terakhir.

Seluruh penampilan Yesus terutama pergaulan-Nya dengan orang berdosa menimbulkan protes dari pihak orang Yahudi, khususnya kaum Farisi. Dengan demikian Yesus sungguh menyimpang dari adat kebiasaan. Yesus bergaul dengan “orang pinggiran”, yang tidak terpandang dalam masyarakat Yahudi; dengan orang miskin, orang kusta, orang kerasukan setan, dengan wanita dan anak kecil, dan juga dengan pemungut bea dan orang berdosa. Ia malah makan bersama mereka (Mrk 2:16-17 dsj.; lih. Mat 11:19 dsj.; Luk.15:1; 19:7).

Dengan demikian Ia memperlihatkan suatu “solidaritas” dengan mereka, yang oleh Paulus akan dikembangkan sebagai pokok karya penebusan. Dengan demikian Ia juga memperlihatkan sikap-Nya terhadap peraturan mengenai tahir dan najis: Yesus tidak merasa diri terikat pada peraturan Yahudi itu. Malahan lebih daripada itu, dengan bergaul bersama orang yang terang-terangan melanggar hukum, Yesus menawarkan rahmat dan pengampunan Allah sebelum orang itu memperlihatkan tanda-tanda pertobatan yang meyakinkan (bdk. Luk 15:11-32; juga 7:41-43). Yesus datang membawa belas-kasihan Allah kepada manusia. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan; karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13 dsj.; 12:7). Bukan hanya Paulus, melainkan Yesus sendiri berkata bahwa di dalam diri-Nya rahmat Allah ditawarkan kepada manusia. Tawaran itu hanya dalam Dia, sehingga “barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33 dsj.; Mrk 8:38 dsj.).

Solidaritas Yesus dengan kaum pendosa mencapai puncaknya dalam wafat-Nya di kayu salib, sebagaimana berulang kali dan dengan amat jelas dikatakan oleh St. Paulus (lih. 1Kor 15:3). Yesus sendiri telah membicarakan arti kematian-Nya dengan cukup jelas. Dari satu pihak Yesus tidak menghindari konfrontasi dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi (lih. Mrk 11:27-33 dsj.); dari pihak lain Ia juga tidak mencari kuasa, tetapi datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45; lih. Luk 22:27). Maka tidak mengherankan bahwa Yesus menyadari sepenuhnya “bahwa seorang nabi harus dibunuh di Yerusalem” (Luk 13:33; bdk. 11:47-51). Pada perjamuan terakhir Ia juga menyatakan nasib-Nya dengan terus terang.

Pada pertemuan terakhir dengan para murid-Nya itu Yesus tetap menunjuk pada pokok pewartaan-Nya, yaitu Kerajaan Allah: “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang” (Luk 22:18; lih. 22:30 dan Mrk 14:25). Sabda-Nya kepada Yudas (Luk 22:21-23) memperlihatkan bahwa Yesus sadar akan situasi yang gawat. Tetapi itu tidak mengubah keyakinan-Nya bahwa Kerajaan Allah sedang datang. Oleh karena itu Ia juga berani berbicara mengenai “perjanjian baru oleh darah-Ku” (Luk 22:20; 1Kor 11:25; lih. Mrk 14:24 dsj.). Wafat-Nya akan menjadi awal tata keselamatan yang baru. Di muka ancaman maut Yesus tetap berani berbicara mengenai keselamatan dan menawarkannya dalam bentuk roti dan anggur. Darah-Nya “ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:24 dsj.), dan Matius menambahkan: “untuk pengampunan dosa” (26:28). Yesus sadar bahwa Ia bukan hanya pewarta keselamatan seperti nabi-nabi yang lain (lih. Mat 11:41-42 dsj.), melainkan pembawa dan penawar keselamatan. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20 dsj.). Tindakan penyelamatan Yesus bukan hanya tanda kehadiran Allah, melainkan bentuk penampakan Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus Allah mendatangi umat-Nya.

2. Roh Kudus

Oleh Roh-Nya Allah hadir di dalam kita. “Kita ketahui, bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam kita, karena Allah telah memberikan dari Roh-Nya sendiri kepada kita” (1Yoh 4:13). Kristus disebut “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24), tetapi Kristus tidak pernah disebut “Roh Allah”, walaupun Paulus mengakui bahwa “Tuhan (yang mulia) adalah Roh” (2Kor 3:17; lih. 1Kor 15:45; Rm 8:9.10). Oleh karenanya ia juga tidak terlalu membedakan antara “Roh Allah” dan “Roh Kristus” (Rm 8:9). Bahkan “dalam Kristus” (Rm 8:1) rupa-rupanya sama dengan “dalam Roh” (ay. 9; lih. 9:1; 1Kor 6:11).

Sesuai dengan pikiran Perjanjian Lama (lih. Mzm 51:13; 139:7; Yes 11:2; 61:1; Yeh 36:26-27; 37:5.14) Roh Allah diartikan sebagai kehadiran Allah yang menggerakkan dan membarui manusia. Lebih khusus lagi dapat dikatakan bahwa Roh Allah merupakan lingkup karya Allah, khususnya dalam Kristus. Karya Allah di dalam manusia dilaksanakan “dengan pertolongan Roh Yesus Kristus” (Flp 1:19). Atau dengan kata lain, karya Allah dalam Kristus mencapai sasarannya dalam diri manusia oleh Roh. “Rahasia Kristus dinyatakan dalam Roh” (Ef 3:4-5). Bagi Paulus “Kerajaan Allah” adalah “kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Roh Kudus “diam” dalam orang beriman (Rm 8:9.11; 1Kor 3:16; 6:19); oleh karena itu hidup iman tidak lain dari “buah Roh” (Gal 5:22). Beriman sama dengan “hidup dalam Roh” (Rm 8:9; lih. 15:13), “dalam kebenaran Roh” (Rm 7:6), “disucikan dalam Roh Kudus” (Rm 15:16; 1Kor 6:11).

Pandangan ini tidak terbatas pada surat-surat Paulus saja. Dengan lebih jelas Yohanes dan Lukas berbicara mengenai karya Roh. Oleh Yohanes ditekankan secara khusus hubungan Roh Kudus dengan Kristus (lih. Yoh 7:39; 14:26; 16:13; 1Yoh 5:7-8). Roh Kudus adalah “Roh kebenaran” (Yoh 14:17; 15:26; 1Yoh 4:6), yang memampukan orang beriman masuk ke dalam misteri Allah (16:13; 1Yoh 5:6). Serupa dengan sabda Yesus dalam Injil Yohanes (14:16). Akhir Injil Lukas: “Aku akan mengirim kepadamu yang dijanjikan Bapa-Ku” (Luk 24:49), yakni “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kis 1:8). Yesus yang dimuliakan mengutus Roh-Nya kepada Gereja (Kis 2:33). Roh Kristus itu memimpin Gereja dalam seluruh perjalanannya. Secara khusus Lukas menekankan karya Roh dalam Gereja.


B. Ajaran Gereja

Dasar ajaran Gereja adalah ajaran Kitab Suci, khususnya bahwa dalam Kristus dan dalam Roh-Nya Allah hadir. Ajaran mengenai Allah Tritunggal mau mengungkapkan iman akan kasih Allah. Dalam Kristus dan dalam Roh-Nya, Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Allah tidak menganugerahkan “sesuatu” kepada manusia, Ia memberikan diri-Nya sendiri. Hakikat wahyu ialah bahwa “dari kelimpahan cinta kasih-Nya Allah menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka didalamnya”; “dengan wahyu ilahi Allah mau menampakkan dan membuka diri-Nya sendiri serta keputusan kehendak-Nya yang abadi tentang keselamatan manusia, untuk mengikut-sertakan manusia dalam harta-harta ilahi” (DV 2 dan 6).

Pada hakikatnya wahyu ilahi tidak lain dari Allah yang menghubungi manusia. Maka Konsili Vatikan II juga mengajarkan bahwa Kristus “menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita” (DV 4). Yesus adalah “Immanuel, yang berarti Allah beserta kita” (Mat 1:23). Inilah kebenaran pokok. Mengenai Roh Kudus dapat dikatakan hal yang serupa. Kebenaran pokok ini dirumuskan secara khusus mengenai Kristus dahulu, baru kemudian mengenai Roh Kudus.

1. Kristus

Kesadaran bahwa Allah hadir dalam Kristus, seolah-olah dengan sendirinya menimbulkan suatu konflik dengan iman akan Allah yang esa. Murid-murid Yesus yang pertama semua dididik dalam agama Yahudi dan mengakui bahwa “Tuhan (YHWH) adalah Allah kita, dan hanya Tuhan (YHWH) saja”; “jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Ul 6:4; 5:7). Maka kesulitan mereka ialah merumuskan keunikan Kristus dengan tetap mempertahankan monoteisme (kepercayaan akan satu Allah). Pokok persoalan ialah bahwa dari satu pihak mau dipertahankan keilahian wahyu: Allah sungguh mewahyukan diri dalam Kristus. Tetapi dari pihak lain tidak mau disangkal pula perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan Yesus Kristus. Usaha perumusan yang pertama menekankan perbedaan itu dan praktis menyangkal keilahian Kristus.

Di atas sudah dijelaskan yang disebut Arianisme yang merupakan bidaah yang paling besar pengaruhnya. Masih ada ajaran lain, yang serupa. Misalnya, monarkianisme yang mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah “penampakan” dari keallahan yang abstrak dan transenden. Serupa dengan itu adalah modalisme, yang membedakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai “cara” Allah menampakkan diri. Modalisme itu juga disebut sabelianisme. Sebelum Arius banyak orang sudah mengajarkan suatu subordinasianisme, yakni bahwa ada tingkatan dalam Allah: Yang sungguh, dengan sepenuhnya Allah, hanyalah Bapa; Putra dan Roh Kudus ada pada taraf yang lebih rendah (jadi bukan Allah dalam arti penuh).

Konsili Nisea (325) menegaskan keilahian Kristus itu dengan rumus “sehakikat dengan Bapa”. Tidak ada “Allah tingkat dua”. Tetapi dengan menekankan kesamaan, kurang jelas perbedaan dan kekhasan Bapa dan Putra. Maka dalam surat yang setahun sesudah Konsili Konstantinopel I (381) oleh para uskup dikirim ke Roma, dikatakan: “Kami percaya bahwa Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus mempunyai satu keilahian dan kuat-kuasa dan hakikat (ousia), mempunyai keluhuran yang harus diberi kehormatan yang sama, dan sama abadi dalam kekuasaan, dalam tiga pribadi (hypostasis) atau tiga penampakan (prosopon) yang sempurna”. Sejak itu misteri Allah Tritunggal dirumuskan secara singkat: “Satu Allah, tiga pribadi”. Tetapi tetap ada pertanyaan, yaitu apa yang dimaksudkan dengan “pribadi”? Lebih-lebih karena dalam Tritunggal “pribadi” mengungkapkan kekhasan dan keunikan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam diri Kristus paham “pribadi” dipakai sebagai dasar kesatuan untuk kodrat ilahi dan insani.

2. Roh Kudus

Yang diajarkan mengenai Kristus dalam arti tertentu juga berlaku untuk Roh Kudus, sebab dari satu pihak juga karya Roh Kudus adalah karya Allah (lih. Rm 5:5) dan dari pihak lain Roh Kudus tidak sama dengan Kristus (lih. Yoh 16:7-15 dan Mat 28:19). Maka dari itu Roh Kudus terbedakan dari Kristus (dan tentu juga dari Allah Bapa), tetapi Roh Kudus juga harus dikatakan Allah, sama seperti Kristus. Keallahan-Nya sama, kepribadian-Nya lain. Sebab, seandainya Roh Kudus hanya makhluk saja atau “sesuatu” yang bukan ilahi, maka manusia sesungguhnya tidak benar-benar tersentuh oleh Allah melalui Roh Kudus. Rahmat Allah berarti bahwa kita sungguh-sungguh bertemu dengan Allah. Kalau dikatakan, dalam Kitab Suci, bahwa pertemuan itu terjadi oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus sendiri bersifat “tak tercipta” atau ilahi. “Allah telah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita” (2Kor 1:22).

Oleh karena itu Konsili Konstantinopel I (381) menambahkan pada syahadat Konsili Nisea (325) kata-kata ini: “[dan akan Roh Kudus], Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan, yang bersabda dengan perantaraan para nabi”. Di kemudian hari, di Barat (dalam bahasa Latin), masih ditambahkan satu kata lagi: “berasal dari Bapa dan Putra”. Tambahan ini menimbulkan banyak kesulitan dan pertikaian antara Gereja Barat dan Gereja Timur (Ortodoks). Soal ini rumit sekali dan tidak dari semula disadari arti dan akibatnya. Para ahli teologi Barat, mulai dengan St. Agustinus (354-430), biasanya mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra (karena hubungan antara Roh Kudus dan Kristus). Tetapi secara resmi hal itu dimasukkan ke dalam syahadat (bahasa Latin) baru oleh Konsili Lyon II (1274). Pada tahun 1981 (perayaan 1600 tahun Konsili Konstantinopel 1) Paus Yohanes Paulus II memberi izin menghilangkan kata-kata “dan Putra” dari syahadat Latin itu. Sebab dalam syahadat Yunani (dari 381 itu) memang tidak ada kata “dan Putra”. Gereja Timur berpegang teguh pada pendapat bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, sama seperti Putra.

Sebetulnya Gereja Barat secara prinsip juga tidak berkeberatan terhadap rumus Timur. Konsili Florence (1442) menyatakan: “Apa pun Bapa dan apa pun milik-Nya, Ia tidak punya dari yang lain, tetapi dari diri-Nya sendiri, Ia adalah dasar tanpa dasar. Apa pun Putra dan apa pun milik-Nya, Ia punya dari Bapa, Ia adalah dasar dari dasar. Apa pun Roh Kudus dan apa milik-Nya, Ia punya dari Bapa bersama dengan Putra. Tetapi Bapa dan Putra bukanlah dua dasar bagi Roh Kudus, melainkan satu dasar”.


C. Soal Perumusan

Seluruh persoalan mengenai dogma Allah Tritunggal sebenarnya menyangkut perumusan. Bukan soal kata-kata saja, sebab kata-kata dipilih (dengan saksama) untuk mengungkapkan dan merumuskan pandangan dan keyakinan tertentu. Keyakinan iman itu menyangkut Allah dan pewahyuan-Nya. Dan karena itu sebetulnya di luar jangkauan bahasa manusia. Namun, seandainya manusia sama sekali tidak dapat berbicara mengenai wahyu Allah, wahyu itu sesungguhnya tidak mempunyai arti, karena tidak (bisa) dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu manusia tidak hanya boleh, tetapi harus berusaha mencari kata-kata yang kiranya cocok guna mengungkapkan dan merumuskan pandangan iman. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa rumus-rumus itu mencoba merumuskan keyakinan iman, yang lebih luas daripada keterbatasan kata-kata dan bahasa. Maka selalu harus ditanyakan, apa latarbelakang dan apa maksud mereka yang merumuskan iman dengan kata-kata itu? Titik pangkal bukanlah kata atau pembatasan kata, baik dalam bahasa kuno maupun dalam pengertian modern, melainkan keyakinan iman mereka yang menciptakan rumusan iman ini.

1. Pribadi

Masalah rumusan dogma Allah Tritunggal yang pertama menyangkut istilah “pribadi”. Kata itu sekarang mempunyai arti lain dibandingkan dengan arti pada zaman Konsili Konstantinopel dan Kalsedon. Sekarang pun kala itu di Barat (Latin) dan di Timur (Yunani) lain artinya.

Kata Latin persona (seperti kata Yunani prosopon) semula berarti “topeng” (yang dipakai dalam sandiwara dan tarian) dan dengan demikian mengungkapkan sesuatu yang “khusus”, yang “unik”, keistimewaan peran yang mau dimainkan. Di Timur (Yunani) kata itu juga mempunyai arti “wajah”, “penampakan”. Di Barat (Latin) kata persona lebih mendapat arti hukum: subjek yang mempunyai hak dan kewajiban. Kadang-kadang di Timur kata prosopon dapat berarti “subjek”, dengan arti “individu”. Dan berkembanglah arti “penampilan”. Tetapi di Timur tekanan tetap ada pada arti “keunikan”, “kekhususan”. Dengan arti itu kata prosopon juga dipakai untuk membedakan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tetapi kata yang lebih biasa untuk Tritunggal adalah kata hypostasis, yang dengan lebih jelas mengungkapkan keunikan masing-masing; bukan hanya sebagai penampilan, melainkan sebagai kenyataan objektif yang khusus dalam menghayati keallahan bersama – yaitu “hakikat ilahi” (Yunani: ousia; Latin: substantia, essentia). Kekhasan itu adalah perbedaan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, sehingga sebetulnya hanya mau dikemukakan perbedaan atau kekhususan dalam hubungan antara ketiganya. Tetapi Kata hypostasis sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, maka di Barat tetap dipakai kata persona (Yunani: prosopon). Agustinus amat menyadari bahwa kata Latin persona sebetulnya kurang memadai; maka ia menekankan perbedaan dalam hubungan. Kata Yunani hypostasis dan Latin persona kemudian dipakai juga untuk menyatakan bahwa dalam Kristus kemanusiaan dan keallahan bertemu dalam satu subjek.

Kendatipun ada cukup banyak perbedaan dalam istilah yang dipakai di Timur dan di Barat, akhirnya orang terbiasa berbicara mengenai “satu Allah, tiga pribadi”, tanpa cukup memperhatikan ciri khas dan latar belakang istilah itu. Namun, bila kata “pribadi” dimengerti secara modern, sebagai subjek dan pusat kegiatan dan kehidupan, maka dengan demikian dinyatakan bahwa dalam Allah ada tiga pusat semacam itu. Itu tidak tepat, karena kalau demikian sebetulnya berarti bahwa ada tiga Allah. Kalau kata “pribadi” dipahami untuk tiga pribadi ilahi, tekanan memang ada pada keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. “Subjek” kegiatan adalah keallahan. Kendati demikian, walaupun juga dalam filsafat modern pribadi tidak diartikan sebagai sesuatu yang tertutup, melainkan yang mendapat kekhasannya dalam hubungan dengan pribadi lain, tidak dapat disangkal bahwa istilah “pribadi” mudah menimbulkan salah paham.

Kalaupun diakui bahwa komunikasi sosial antarmanusia mempunyai dasar dan titik pangkalnya dalam komunikasi Allah sendiri, tidak dapat disangkal pula bahwa hubungan dan komunikasi dalam Allah lain daripada antarmanusia. Dalam Allah tidak ada pertentangan antara kemandirian dan hubungan, karena Bapa, Putra dan Roh Kudus saling menerima dengan sempurna. Ketiga pribadi justru mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Allah tidak statis, tertutup. Allah mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dasar pemberian diri itulah “komunikasi” dalam diri Allah sendiri. Dalam mengkomunikasikan diri kepada manusia, Allah juga memperlihatkan sesuatu dari diri-Nya sendiri. Tetapi karena Allah tetap Allah, maka pewahyuan itu tetap sulit dirumuskan dengan kata-kata manusia.

2. Kristus dan Roh

Masalah kedua dalam perumusan dogma Allah Tritunggal menyangkut hubungan antara Kristus dan Roh Kudus. Masalah itu terungkap antara lain dalam perselisihan sekitar rumus “dan Putra”, tetapi sebetulnya soal itu lebih luas daripada sekadar rumus itu saja. Dalam Injil Yohanes (7:39) dikatakan: “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”. Itu berarti, kedatangan Roh Kudus menyusul sesudah kebangkitan Kristus. Tetapi Yesus sendiri “dikandung dari Roh Kudus” (syahadat, sesuai dengan Mat 1:18; Luk 1:35). Pada pembaptisan juga dikatakan bahwa “Roh turun atas-Nya dalam rupa burung merpati” (Mrk 1:10 dsj.).

Jadi lama sebelum Yesus dibangkitkan sudah ada Roh Kudus. Bahkan dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus sudah disebut. Menurut Injil sinoptik Roh Kudus tidak tergantung pada Yesus, tetapi justru sebaliknya: “Penuh Roh Kudus Yesus kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (Luk 4:1; lih. ay. 14). Surat Ibrani malah menggambarkan wafat Yesus sebagai “mempersembahkan diri kepada Allah oleh Roh yang kekal” (Ibr 9:14). Mengenai kebangkitan-Nya Paulus berkata: “menurut Roh kekudusan dinyatakan Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati” (Rm 1:4). Dan kalau dikatakan bahwa “semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14), maka jelaslah bahwa Roh menghubungkan kita dengan Allah serupa dengan karya-Nya yang menghubungkan kemanusiaan Kristus dengan Allah. Yesus dan semua manusia lain dipersatukan dengan Allah oleh Roh Kudus. Bagaimana lalu dapat dipertahankan bahwa Roh Kudus tergantung pada Kristus dan kedatangan-Nya baru mungkin, bila Yesus sudah dimuliakan?

Di sini kiranya perlu diperhatikan secara khusus Injil Yohanes. Pada perjamuan terakhir sampai tiga kali Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, tetapi setiap kali janji itu dirumuskan secara lain:

  1. “Roh Kudus akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (14:26; lihat juga ay. 16);
  2. “Penghibur akan Ku utus dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa” (15:26);
  3. “Aku akan mengutus Penghibur kepadamu” (16:7).

Dua kali dengan jelas dikatakan bahwa Yesus sendiri mengutus Roh Kudus, dan selanjutnya masih ditegaskan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu” (16:7). Namun dikatakan pula bahwa Yesus akan mengutus Roh Kudus “dari Bapa”, dengan keterangan “yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa”.

Yesus tidak mengutus Roh dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa. Oleh karena itu pada akhir dikatakan: “Ia (Roh Kudus) akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala yang dimiliki Bapa adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku” (16:14-15). Kristus mengutus Roh, yang diterima-Nya dari Bapa. Maka juga dapat dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh, tetapi tidak lepas dari Kristus juga. Bapa itu Bapa, karena ada Putra. Maka, kalau dikatakan bahwa Bapa yang mengutus Roh Kudus, itu tidak lepas dari Kristus; Ia mengutus Roh sebagai Bapa dari Putra. Bapa tidak pernah lepas dari Putra, dan Putra “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Putra” (Yoh 5:19).

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra, namun tidak sebagai dua sumber tersendiri, melainkan sebagai kesatuan dari Bapa dan Putra. Tetapi betul juga, bila dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh melalui atau oleh Putra, dan Yesus baru dapat ikut mengutus Roh Kudus, bila dengan sepenuhnya, juga dalam kemanusiaan-Nya, Ia dipersatukan dengan Bapa dalam kebangkitan, menjadi “Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:4).


D. Arti Dogma Allah Tritunggal

Kalau dogma Allah Tritunggal begitu sulit dirumuskan dan lebih sulit dimengerti, mengapa Gereja berpegang teguh pada dogma dan ajaran itu? Gereja berpegang teguh pada dogma ini karena ini merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah. Isi dogma ini bukan teori, melainkan praktik kehidupan. Isinya tidak pertama-tama mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai karya keselamatan Allah bagi manusia. Keyakinan pokok yang terungkap di sini ialah bahwa Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Kalau hanya “dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr 1:1), belum Allah sendiri. Maka akhirnya “dengan perantaraan Anak-Nya, yang ditetapkan-Nya sebagai pewaris segala-galanya, karena oleh Dia dibuat-Nya alam semesta” (ay. 2).

Keyakinan dasar ialah bahwa makhluk mana pun tidak dapat menjadi perantara. Harus ada hubungan langsung. Kalau tidak, manusia tidak sungguh “kena”. Oleh karena itu karya keselamatan Allah juga tidak selesai dengan perutusan Putra saja. Manusia baru sungguh dipersatukan dengan Allah, bila Allah sampai ke dalam lubuk hatinya. Itu terjadi oleh Roh “yang menghidupkan”: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lihat juga 6:19). Karena Allah memberikan diri, maka karya keselamatan Allah adalah sekaligus pewahyuan hidup Allah sendiri. Atas dasar yang dibuat Allah terhadap manusia dapat dimengerti (sedikit) bagaimana hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, tetapi yang pokok bukan itu. Wahyu bukan pertama-tama pembagian ilmu, melainkan pemberian hidup. Manusia dianugerahi mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri, yakni dalam cinta Bapa dan Putra dalam Roh Kudus.

Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa liturgi dan doa Gereja itu lebih daripada rumus-rumus ajaran. Gereja selalu berdoa kepada Bapa, dengan perantaraan Putra, oleh Roh Kudus. “Dengan perantaraan Putra” berarti bersama dengan Putra, dan dengan mengikuti teladan-Nya, Sebagaimana Kristus seluruhnya terarah kepada Bapa, begitu juga mereka yang percaya kepada-Nya. Tetapi itu hanya mungkin “oleh Roh Kudus”, sebab “Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan” (Rm 8:26), maksudnya dengan kata-kata ilahi yang tak mungkin dimengerti, jangan lagi diucapkan, oleh manusia. Tetapi “Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” (ay. 27), artinya untuk orang-orang beriman.


E. Tritunggal dan Agama-agama Lain

Trimurti dalam agama Hindu, yaitu penjelmaan Brahman dalam tiga dewa, Brahma, Siva dan Vishnu, kadang-kadang dibandingkan dengan Tritunggal. Kiranya itu tidak tepat, pertama-tama karena Trimurti bukanlah suatu rumusan dogmatis dari sejarah keselamatan. Terutama Trimurti sesungguhnya bukan Brahman (bukan Allah), tetapi penampakannya saja. Maka di sini ada sesuatu yang bisa dibandingkan, bukan dengan Tritunggal, melainkan dengan aneka bentuk modalisme. Selain itu hubungan antara ketiga dewa itu tidak berkaitan dengan karya atau sejarah keselamatan, melainkan masing-masing merupakan penampakan Brahman sendiri, tanpa hubungan jelas satu dengan yang lain. Khususnya antara Siva dan Vishnu tidak ada hubungan langsung. Sesungguhnya harus dikatakan bahwa keserupaan antara Trimurti dan Tritunggal tidak lebih daripada rumus “tri” yang terdapat dalam kedua kata itu. Kecuali itu harus diingat bahwa ajaran agama Hindu mengenai Trimurti berbeda-beda.

Agama Islam menolak mentah-mentah segala pikiran mengenai Allah Tritunggal. Ditolak bahwa Allah mempunyai Anak, dan lebih lagi bahwa ada lebih dari satu pribadi dalam Allah. Penolakan ini terdapat dalam Al-Qur’an sendiri, dan berkaitan dengan pokok iman agama Islam akan Tawhid, Allah wahid wa-ahad (Allah itu esa dan tunggal), yang berarti pula bahwa Allah terpisah total dari segala makhluk. Sejak zaman nabi Muhammad sampai hari ini, ajaran mengenai Tritunggal tetap merupakan titik perselisihan yang pokok antara kaum muslimin dan orang Kristen. Walaupun semula orang Islam hanya mengenal Tritunggal melalui rumusan populer, lama kelamaan mereka mulai memperhatikan latar belakang rumusan Konsili-konsili. Kendati demikian, diskusi sering kali tetap berpusat pada rumus saja, tanpa masuk ke dalam pokok persoalan. Padahal, sejauh ajaran mengenai Tritunggal mau merumuskan hubungan Allah dengan manusia, secara langsung menyangkut soal wahyu, dan mempunyai arti bagi kaum muslimin juga. Kiranya pokok persoalan terletak dalam “pengantara” antara Allah dan manusia. Agama Islam melihat Al-Qur’an sebagai pengantara itu, sedangkan bagi orang Kristen “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5).

Tradisi

Kita akan bertitik tolak dari syahadat, baik yang singkat maupun yang panjang, yang merumuskan secara padat hasil refleksi umat Kristen pada masa-masa awal berdirinya Gereja.

Syahadat Singkat

Syahadat Panjang

Dan akan Yesus Kristus,Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, Dan akan satu Tuhan, Yesus Kristus,Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar.

Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.

Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,

yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus;disalibkan, wafat, dan dimakamkan;

yang turun ke tempat penantian,

dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria; menjadi manusia dan disalibkan untuk kita waktu Ponsius Pilatus. Ia wafat, kesengsaraan, dan dimakamkan.
pada hari ketiga bangkit dari. antara orang mati; Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
yang naik ke surga, duduk dl sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati.Kerajaan-Nya takkan berakhir.

Dari perbandingan antara kedua rumus ini langsung kelihatan bahwa kedua syahadat berbeda. Syahadat Konsili Nisea-Konstantinopel memang berbeda dan jauh lebih panjang. Perbedaan itu menyangkut terutama pasal yang pertama. Yang lain juga berbeda rumusannya, tetapi isinya kurang lebih sama. Kelima pasal terakhir merumuskan peristiwa pokok hidup dan karya Yesus, yakni (1) kelahiran-Nya; (2) sengsara dan wafat; (3) kebangkitan; (4) kenaikan ke surga; dan (5) kedatangan kembali pada akhir zaman. Perbedaan dalam rumusan tidak menyangkut peristiwa-peristiwa itu sendiri. Tambahan seperti “menjadi manusia” atau “kerajaan-Nya takkan berakhir” tidak mengubah isi pokok. Lain halnya dengan tambahan pada pasal yang pertama. Maka pasal itu perlu diberi perhatian khusus.

Pasal pertama syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang, sejajar dengan pasal mengenai Allah:

Aku percaya

akan [satu] Allah, Bapa yang maha kuasa, pencipta langit dan bumi, dan akan [satu] Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.

Allah dan Yesus Kristus disebut bersama-sama dalam rumus iman Gereja. Rumus ini, lebih-lebih kalau ditambahkan kata “satu”, amat mirip dengan rumusan 1Kor 8:6:

“Bagi kita (ada)

satu Allah, Bapa, yang dari pada-Nya (berasal) segala-galanya dan kita

menuju Dia, dan

satu Tuhan, Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala-galanya

(dijadikan) dan kita (hidup) oleh Dia.”

Bapa disebut “Allah” sedangkan Yesus “Tuhan”. Kedua kata itu tidak tepat sama. Dalam tulisan St. Paulus Tuhan berarti ”Yang Mulia” dan sebetulnya bukan Allah.

Dalam PB kata “Tuhan” dipakai untuk Allah sendiri hanya dalam kutipan dari PL, mis. Mat 4:7.10 dsj.; 22:37 dsj.; Mrk 12:29; Luk 1:16.32.68; 20:37; Kis 2:39; 3:22; kecuali dalam Kitab Wahyu: 1:8; 4:8.11; 11:17; 15:3; 16:7; 18:8; 19:6;21:22; 22:5.6, yang barangkali berusaha memakai bahasa yang serupa dengan bahasa PL (terutama dalam syair-syair). Dalam hal ini bahasa Kitab Suci (PB) berbeda dengan bahasa yang lazim dipakai.

Syahadat pendek yang lebih tua kurang lebih masih sama rumusannya dengan Kitab Suci. Tetapi syahadat panjang menambahkan keterangan panjang, dan rupa-rupanya dalam tambahan itu “Tuhan” dan “Allah” disamakan: sehakikat dengan Bapa. Kata Yunani homoousios juga dapat diterjemahkan dengan sama-hakikat. Mana terjemahan yang tepat? Untuk itu harus diketahui lebih dahulu maksud Konsili yang merumuskannya dan perlu diperhatikan latar belakang sejarahnya, sebab rumusan keterangan baru ditambahkan hampir 300 tahun sesudah surat-surat St. Paulus ditulis. Dalam kurun waktu tiga abad ada banyak diskusi dan perbedaan pendapat mengenai arti Kitab Suci.

Ada banyak diskusi terutama mengenai arti “Anak Allah”, lebih-lebih ketika agama Kristen bertemu dengan filsafat Yunani. Sudah sejak zaman St. Paulus, Injil diwartakan di dunia helenis (Yunani). Dan St. Paulus sudah mengalami bahwa kata-katanya tidak selalu dimengerti dengan baik (lih. mis. 1Kor). Begitu juga dalam tahun-tahun berikut ada banyak tulisan (terutama yang disebut apokrif) yang tidak memberi gambaran yang seratus persen tepat mengenai Yesus. Pimpinan Gereja biasanya mampu dan siap mengoreksi rumusan-rumusan yang kurang tepat itu. Tetapi ketika mulai dikonfrontasikan dengan para ahli filsafat dan pemikir Yunani, muncul diskusi di kalangan orang Kristen sendiri mengenai rumusan yang tepat.

Orang Kristen harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat Yunani yang tidak selalu mudah. Kata St. Hipolitus (170-236) kepada mereka, “Kami pun menyembah hanya satu. Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Kami berpendapat bahwa Kristus Anak Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Dia menderita dengan cara Dia, wafat dengan cara Dia, dan bangkit pada hari ketiga serta naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa, dan Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Dan itu kami akui sebagaimana “kami diajari”.

Semua orang mengetahui bahwa istilah “Bapa” dan “Anak” kalau dipakai bagi Allah artinya tidak sama seperti kalau dipakai untuk manusia, karena Allah memang lain daripada manusia. Tetapi tidaklah mudah merumuskan hubungan itu dengan tepat. Sementara orang, antara lain seorang imam dari Aleksandria yang bernama Arius, mengambil alih dari filsafat Yunani gagasan bahwa di dalam Allah, khususnya dalam hubungan Allah dengan dunia, ada tingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Allah dalam arti yang penuh dan utuh, di bawahnya ada aneka tingkat dewa dan ilah yang kurang sempurna bila dibandingkan dengan Dia. Gagasan ini oleh Arius diterapkan pada hubungan Kristus dengan Bapa. Arius berkata bahwa Bapa adalah Allah dalam arti penuh, tetapi Sabda hanya makhluk ciptaan saja, biarpun yang paling sempurna. Gagasan Arius ini mengundang reaksi negatif yang hebat sekali. Pada tahun 319 di kota Aleksandria sendiri Arius dan tiga belas orang pengikutnya secara resmi dan tegas dikucilkan dari Gereja dan ajarannya dilarang. Keputusan yang sama diambil oleh suatu sinode di kota Antiokhia. Akhirnya, pada Konsili Nisea (325) ajaran Arius ditolak atas nama seluruh Gereja. Rupa-rupanya dengan demikian soal Arius belum teratasi sepenuhnya. Maka dikemudian hari keputusan Nisea ditegaskan sekali lagi oleh Konsili umum di Konstantinopel (381). Rumusan Konsili itulah yang disebut syahadat panjang.

Arius mengajarkan bahwa Sabda diciptakan. Konsili Nisea (dan Konstantinopel) menangkis: Sabda “bukan dijadikan”, jadi bukan ciptaan, melainkan Ia “sehakikat dengan Bapa”. Ia tidak berada di pihak makhluk, tetapi di pihak Pencipta: “Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar”. Kata-kata yang pertama mungkin masih bisa disetujui oleh Arius. Kata “dari Allah”, dan “dari terang” kiranya juga dapat dipakai untuk Sabda sebagai makhluk yang pertama dan utama. Tetapi “Allah benar” sungguh bertentangan dengan ajaran Arius dan tidak disetujuinya. Arius berpendapat bahwa Sabda diciptakan oleh Allah. Itu ditolak oleh Konsili, sebab Sabda bukan ciptaan seperti makhluk-makhluk yang lain.

Dari pihak lain para uskup konsili sadar juga bahwa Anak tidak sama dengan Bapa. Maka dikatakan bahwa “Ia lahir dari Bapa”. Ia memang “bukan dijadikan”, tetapi “dilahirkan”. Dengan tegas Konsili Nisea menyatakan, “Ada orang (yaitu Arius) yang mengatakan, bahwa Ia pernah tidak ada, atau sebelum dilahirkan tidak ada, dan Ia dibuat dari yang belum ada, atau dari bahan atau kodrat lain. Ajaran bahwa Anak Allah dapat diubah atau dibuat lain ditolak mentah-mentah oleh Gereja Katolik dan apostolik”. Ajaran itulah yang mau dilawan dengan istilah homoousios, ‘sehakikat dengan Bapa’. Sementara itu, para bapa konsili juga tidak mengetahui bagaimana hal itu harus dimengerti. Pada pertemuan di Antiokhia beberapa bulan sebelumnya, mereka menegaskan: “dilahirkan dengan cara yang tidak dapat dikatakan atau dilukiskan, sebab yang mengetahui hanyalah Bapa yang melahirkan dan Anak yang dilahirkan, karena ‘tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak’ (Mat 11:27)”.

Eusebius dari Kaisarea (260-340): yang menghadiri Konsili Nisea, memberikan keterangan ini: “Kata-kata ‘Anak sehakikat dengan Bapa’ kalau diselidiki betul-betul ternyata sungguh tepat, bukan dalam arti sebuah badan atau serupa dengan binatang yang fana, juga tidak dengan membagi atau memotong hakikat, juga tidak dengan membuat hakikat Bapa berubah atau menjadi lain; sebab hakikat Bapa yang tidak dilahirkan bebas dari semua itu. Tetapi kata -kata ‘sehakikat dengan Bapa’ berarti bahwa Anak Allah tidak serupa dengan makhluk-makhluk yang diciptakan, melainkan dalam segala hal sama seperti Bapa yang melahirkan-Nya, dan tidak mempunyai hypostasis atau ousia (hakikat) yang lain daripada Bapa. Begitu juga tepat kata ‘dilahirkan, bukan dijadikan’, sebab ‘dijadikan’ dikatakan mengenai segala mahluk lain yang diciptakan oleh Anak; dan Anak sama sekali tidak serupa dengan mereka, sebab Ia tidak diciptakan seperti makhluk-makhluk itu yang diciptakan oleh-Nya; dan bagaimana Ia ‘dilahirkan’ tidak dapat dikatakan atau dilukiskan oleh apa saja yang diciptakan”.

Kalau begitu, mengapa mereka mengatakannya? Karena “Kitab Suci mengatakan bahwa Anak sungguh dan sebenar-benarnya dilahirkan”. Konsili hanya mau menegaskan ajaran Kitab Suci. Namun ajaran itu hendak dirumuskannya dalam rumusan filsafat Yunani sebagai jawaban terhadap ajaran Arius, yang dipandang sebagai penyeleweng, sebab ia memisahkan Yesus dari Allah. Kalau Yesus bukan satu dengan Allah, bagaimana Ia dapat menjadi wahyu Allah? Yesus tidak datang membawa sebuah buku, seperti Musa dan nabi-nabi yang lain. Sabda Yesus sendiri adalah wahyu dari Allah: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat 11:27). Yesus adalah Pengantara antara Allah dan manusia. Itu tidak mungkin, kalau Yesus tidak sungguh-sungguh dari Allah.

Dalam syahadat Nisea-Konstantinopel ditekankan keallahan Kristus. Dengan demikian langsung timbul masalah baru: Ada orang yang tidak mengakui kemanusiaan Kristus. Kesulitan itu sebetulnya sudah mulai dengan Arius: Sabda, yang adalah makhluk sendiri, menggantikan jiwa manusia dalam Yesus. Pandangan itu juga diyakini oleh orang lain, misalnya Apolinarius.

Sesudah Konsili Nisea, diakui bahwa dari satu pihak Sabda sungguh ilahi, tetapi dari pihak lain tetap disangkal bahwa Yesus punya jiwa manusia. Dengan demikian Yesus sungguh Allah, tetapi tidak sungguh manusia. Sering kali kurang jelas apa yang dimaksudkan orang-orang itu. Ada yang berkata bahwa dalam Kristus hanya ada satu kodrat; orang itu disebut “monofisit” (monos = satu; physis = kodrat). Orang lain dengan tegas mau membedakan kemanusiaan Kristus dari keallahan-Nya. Sampai-sampai Maria tidak mau disebut “Bunda Allah”, tetapi “Bunda Kristus” saja, sebab Maria hanya melahirkan manusia, bukan Allah. Heboh lagi!

Yang menekankan kesatuan dalam Kristus, antara lain St. Sirilus, uskup-agung Aleksandria (380-444). Lawannya adalah Nestorius, uskup-agung Konstantinopel (381-451). Dia dengan tegas menonjolkan perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan dalam Kristus, sampai memisahkannya. Dalam perselisihan antara kedua tokoh ini tidak hanya paus dan kaisar yang terlibat, tetapi juga hampir seluruh Gereja. Akhirnya, Konsili Efesus (431) mendukung pendapat Sirilus, bahwa “dari Santa Perawan tidak dilahirkan dahulu seorang manusia biasa, yang kemudian dimasuki oleh Sabda; tetapi (yang ilahi dan insani) dipersatukan sejak kandungan ibu-Nya, kemudian Ia mengalami kelahiran sebagai manusia.” Oleh karena itu Konsili “berani menyatakan bahwa Santa Perawan adalah Bunda Allah”.

Dengan demikian, Konsili Efesus sebenarnya hanya menegaskan syahadat Nisea-Konstantinopel: Juga dalam kemanusiaan-Nya Kristus harus disebut ilahi. Dalam diri Kristus keallahan dan kemanusiaan menjadi satu. Bagaimana keallahan dan kemanusiaan dipersatukan, itu tidak dijelaskan. Oleh karena itu, orang belum puas dengan Konsili Efesus.

Dua puluh tahun kemudian Konsili Kalsedon (451) merumuskannya sebagai berikut: “Perbedaan antara kedua kodrat (ilahi dan insani) tidak ditiadakan oleh kesatuan, sebaliknya kekhasan masing-masing kodrat dipertahankan dan bertemu dalam satu pribadi dan satu hypostasis (yang berdikari); jadi tidak dibagi atau dipisahkan menjadi dua pribadi, tetapi yang satu dan sama adalah Sabda, Anak Tunggal, Allah, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan oleh para nabi sejak semula mengenai Dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan kepada kita, dan diteruskan kepada kita oleh syahadat para bapa”.

Akhirnya, Konsili Kalsedon berhasil merumuskan iman Kristen dalam istilah-istilah filsafat Yunani. Dalam pertemuan antara agama Kristen dan kebudayaan Yunani perumusan filosofis itu perlu dan tidak dapat dihindari. Namun dengan demikian isi iman Kristen tidak menjadi lebih jelas. Kesaksian iman para Rasul yang disampaikan dalam kata-kata sederhana, sekarang dirumuskan dalam bentuk rumus padat dan peraturan tegas, serta dengan refleksi teologis yang ilmiah. Maka Kalsedon terpaksa memakai kata “kodrat” dan “pribadi” serta hypostasis yang sulit diterjemahkan.

Soal pokok sebenarnya terletak pada bahasa. Yang sesungguhnya mau dikatakan hanyalah, bahwa keallahan Kristus tidak sama dengan kemanusiaan-Nya: Kristus mempunyai dua “kodrat”, yang ilahi dan yang insani. Sebagai Allah Ia tidak dapat menderita dan mati; sebagai manusia sesungguhnya Ia tidak dapat membuat mukjizat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa ada dua Kristus, satu ilahi dan satu insani. Kalau ditanya siapa Dia sebetulnya, maka jawabannya hanya satu: Anak Allah. Tetapi justru Anak Allah itu lahir di dunia sebagai anak Maria. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara yang ilahi dan yang insani, sehingga dengan demikian Anak Allah itu tetap sama dengan anak Maria. Terhadap pertanyaan “Yesus itu apa?” jawabnya adalah memang ada dua kodrat ilahi dan insani. Terhadap pertanyaan “Yesus itu siapa?” jawabnya adalah hanya ada satu pribadi, yakni pribadi Anak Allah. Rumusan Konsili tegas, meski tidak sangat jelas.

“Kodrat” berarti sesuatu seperti identitas, kekhasan, sifatnya yang khusus. Tetapi bukan identitas pribadi, sebab kodrat tidak berdikari. Kodrat menjadi konkret dalam pribadi atau hypostasis, yang berarti “sesuatu yang berdiri sendiri”. Keunikannya dirumuskan dengan kata “pribadi”, yang dalam bahasa Yunani sebetulnya berarti “topeng”, sebab dalam pribadi kodrat menampilkan diri.

Kekurangan yang paling mencolok dalam rumusan ini, ialah sifatnya yang abstrak. Tidak terasa lagi kenyataan hidup Yesus, yang penuh kegiatan dan ketegangan, yang bisa diraba dan dirasa. Sejarah keselamatan hilang. Kalsedon sebenarnya hanya merumuskan inti misteri penjelmaan, bahwa “Sabda menjadi daging” (Yoh 1:14). Tetapi bagaimana semua itu terjadi dan berkembang, tidak dikatakan. Rumusan Kalsedon dapat memberi kesan bahwa Yesus terus-menerus pindah dari satu kodrat ke dalam kodrat yang lain, seolah-olah yang ilahi berdiri di samping yang insani. Padahal “kodrat” hanya mau mengatakan bahwa Kristus sekaligus Allah dan manusia. Allah dan manusia tidak dapat dijumlah, karena tidak sejenis. Tetapi kalau Allah dan manusia menjadi satu, khususnya dalam pribadi Sabda, maka di dalam kepribadian Kristus tidak hanya ada keallahan, tetapi juga kemanusiaan. Rumusnya kurang jelas. “Allah yang tak terbatas dan tak terukur tidak dapat dimengerti atau diterangkan dengan beberapa kata saja dalam bahasa manusia”, kata St. Hilarius (315″367).

Konsili berkata bahwa Yesus yang adalah Anak Allah juga anak Maria. Kiranya hal itu juga dapat dibalik: Yesus yang adalah anak Maria juga Anak Allah. Yesus adalah seorang manusia, tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam hati; bukan hanya secara kodrat, tetapi seluruhnya. Sebetulnya semua itu lebih jelas dirumuskan di dalam Kitab Suci. Oleh sebab itu, guna memahami rumus Kalsedon dengan sepenuhnya, rumusan itu perlu dihubungkan dengan Kitab Suci. St. Hilarius juga berkata, bahwa sebelum ia mendengar mengenai istilah “homoousios” (sehakikat) “Injil-Injil dan para Rasul sudah mengajarkannya kepadaku”. Istilahnya memang baru, tetapi maksudnya sama dengan yang diajarkan oleh Kitab Suci. Dari pihak lain, St. Hilarius menegaskan bahwa istilah-istilah itu memang perlu dan tidak dapat dihindari dalam dialog dengan kaum bidaah zaman itu:

“Kejahatan kaum bidaah dan penghujat memaksa kita membuat sesuatu yang sebetulnya tidak tepat: mencari hal-hal yang terlampau tinggi, bicara mengenai hal-hal yang tak dapat dikatakan, dan memasuki bidang yang bukan bidang kita. Seharusnya kita menjalankan dengan iman saja apa yang diperintahkan, yakni menyembah Bapa, menghormati Anak bersama Dia, dan berlimpah-limpah dengan (rahmat) Roh Kudus; namun terpaksa kita meluaskan pembicaraan kita yang sederhana ini sampai kepada hal-hal yang tak dapat dikatakan; karena kesalahan orang lain (kaum Arian) kita terpaksa bersalah dan apa yang seharusnya disimpan dalam renungan budi kita, sekarang diserahkan kepada bahaya pembicaraan manusia.”

Hasilnya memang tidak memuaskan seluruhnya. “Tetapi,” kata St. Hilarius, “kalau dirasa perlu menambahkan suatu keterangan, hendaklah dibicarakan bersama”. Yang mengikat bukan rumus, melainkan iman yang diungkapkan di dalamnya.

Kata-kata “sehakikat dengan Bapa” tidak ada dalam Kitab Suci, baru dirumuskan berabad-abad kemudian. Kata “Allah” juga jarang dipakai untuk Yesus. Yang ada “Anak Allah” dan kata itu pun belum tentu tepat sama artinya dengan “dilahirkan dari Bapa”. Tiga kali. Yesus dengan jelas disebut “Allah” dalam Perjanjian Baru:

Yoh 1:1 Firman itu Allah.
Yoh 20:28 Tomas menjawab: Ya Tuhanku dan Allahku.
Ibr 1:8 Tentang Anak-Nya [Allah] berkata: Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.

Masih ada sembilan teks lain, yakni Yoh 1:18; Kis 20:28; Rm 9:5; Gal 2:20; Kol 2:2; 2Tes 1:12; Tit 2:13; 2Ptr 1:1; 1Yoh 5:20. Tetapi teks-teks ini tidak seluruhnya jelas, entah karena keadaan naskah aslinya, entah karena kalimat Yunani sulit dimengerti dan dapat diartikan secara lain.

Dari ayat-ayat itu jelas bahwa Gereja perdana memakai kata “Allah” bagi Yesus. Tidak ada teks Kitab Suci yang memperlihatkan bahwa Yesus sendiri memandang diri sebagai Allah. Tetapi tentu saja, Gereja perdana juga tidak menyebut Yesus Allah tanpa alasan. Ada dua alasan mengapa Gereja perdana mengakui Yesus sebagai Allah, yakni pengalaman akan kebangkitan, dan sikap serta cara berbicara Yesus sendiri pada waktu masih bergaul dengan mereka.

Kedua alasan itu harus dilihat bersama-sama. Dalam terang kebangkitan cara berbicara dan sikap Yesus jelas memperlihatkan keunikan Yesus.