Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!

Katolik dan uraian biblis Protestan mempunyai penekanan yang sama pada hal Kebangkitan badan Yesus Kristus secara harfiah. Namun untuk kesekian kalinya lagi, hanya Katolik yang mengikuti alur tersebut, konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus Kristus. Konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus adalah Kehadiran Yesus Kristus secara nyata, kehadiran badan-Nya yang telah bangkit sebenar-benarnya.

Pengikut Kristus (umat kristen) tidak menyatakan begitu saja bahwa “Kristus telah bangkit”, yang maknanya kejadian masa lampau, melainkan menyatakan “Kristus bangkit”, dengan makna bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu masih berlangsung dan terjadi pada saat ini. Dan konsekuensi Kebangkitan badan Yesus Kristus tersebut bukan hanya terhadap masa depan setelah akhir dari kehidupan kita, tetapi juga pada saat ini, saat hidup kita masih berlangsung kita bertemu dengan Dia (Yesus Kristus) dalam Ekaristi, dimana Dia dengan “tubuh dan darah, jiwa dan keilahian” hadir sebenar-benarnya, total, penuh dan secara harfiah nyata.

Jika doktrin ini tidak benar, maka Katolik dapat dianggap umat yang terbodoh di dunia dan yang paling menghujat Tuhan, karena membungkuk kepada persembahan roti dan anggur, tidak dapat membedakan ciptaan dan Pencipta – bahkan juga tidak dapat membedakan antara makanan (roti dan anggur) dengan Allah! Tetapi jika doktrin ini benar, maka sebagian besar umat Protestan yang tidak mempercayai kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi telah mengabaikan momen pertemuan dan kesatuan dalam kehidupan ini yang paling mendekati,  totalitas, dan paling intim, dengan Allah.

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

(Luk 22:19-20)

Bagi siapapun yang penuh semangat dalam mengasihi Yesus Kristus, inti dari doktrin kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi tidak lah sebanyak dan sekompleks argumen-argumen teologi untuk doktrin ini; melainkan yang paling penting bagi mereka adalah Eksistensi, Kehadiran, konsekuensi spirituality dari fakta bahwa: Kristus benar-benar hadir di sini, secara keseluruhan, secara total, secara literal! Yesus Kristus secara nyata hadir dalam Ekaristi. Tubuh dan Darah Kristus yang telah terpisah di Salib, dan di dalam Misa (secara simbolik); yang kemudian dihadirkan kembali untuk sebagai persembahan, persembahan yang telah dipersembahkan oleh Yesus Kristus sendiri – satu kali dan untuk selamanya bagi semua umat-Nya. Dalam ekaristi – perjamuan kudus – tubuh dan darah Kristus disatukan kembali, bukan hanya itu tapi juga jiwa Kristus, dengan kata lain jiwa manusia Yesus. Dan dalam kesatuan itu bukan hanya keseluruhan kodrat manusia Yesus yang hadir namun juga kodrat Ilahi, kedua kodrat yang bersatu sejak Inkarnasi, ketika Yesus dilahirkan oleh bunda Maria ke dunia. Pada tubuh dan darah Yesus lah Allah bersemayam dibalik kesederhanaan yang ditampilkan dalam rupa roti dan anggur, sama halnya ketika Allah yang mau menjadi anak manusia dilahirkan sebagai keluarga tukang kayu di Nazaret.

Apakah jika ada umat Protestan bertemu Yesus secara tatap muka di tengah jalan, apakah umat itu mau langsung menjatuhkan dirinya berlutut seperti “Tomas yang kurang percaya” dan berkata, “Ya Tuhanku dan ALLAHku”? Bukankah itu suatu keberuntungan yang sangat luar biasa di saat itu umat tersebut dapat melupakan diri sendiri secara total dan menyembah Yesus Kristus!? Tetapi itu bukan pengandaian atau hipotesis pemikiran – jika mengalami kejadian seperti itu -; itu adalah gambaran fakta. Hanya saja perbedaannya adalah pertemuan dengan Yesus Kristus itu bukan terjadi di sembarang tempat atau di jalan, namun pertemuan itu terjadi di Altar. Anda dan saya (kita umat Kristen) tidak dapat melihat Yesus Kristus di Altar, atau tidak bisa merasakan DIA di sana, tapi Iman bukanlah mengenai penglihatan atau perasaan.

Berikut adalah kutipan dari Santo Tomas Aquinas mengenai  Ekaristi,

Penglihatan, rasa, dan sentuhan kita kepada Allah dapat keliru;

Hanya pendengaran yang dapat dipercaya

Saya percaya Anak Allah telah berkata mengenai semuanya.

Tidak ada kebenaran lain yang lebih benar dari kata-kata dari Allah yang Benar.

Menghayati Sakramen Mahakudus

Dari ajaran Konsili Vatikan II jelaslah bahwa penghayatan Ekaristi tidak sama dengan menyambut komuni atau menghormati Yesus dalam tabernakel. Yang pokok adalah mengambil bagian dalam perayaan. Komuni berarti ikut serta secara sakramental (artinya melalui “tanda dan sarana”) dengan Doa Syukur Agung, yang mengungkapkan iman Gereja akan wafat dan kebangkitan Kristus. Maka dari umat pertama-tama diharapkan sikap iman yang sama.

Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi – dalam iman – dengan Kristus. St. Paulus menulis, “Bukankah piala ucapan syukur, yang di atasnya kita ucapkan syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan berarti persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Ekaristi berarti “persekutuan dengan Kristus”. Dan memang, kita “dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita” (1Kor 1:9). Hal itu berarti pertama-tama “persekutuan Roh Kudus” (2Kor 13:13), sebab kesatuan dengan Kristus berarti “persekutuan iman” (Flm 6). Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang – karena iman – hadir dalam seluruh umat.

Dari pihak lain, tradisi Gereja juga tidak mau membatasi kebaktian kepada sakramen mahakudus pada perayaan liturgis saja. Ada perarakan, pentakhtaan sakramen mahakudus, kunjungan di muka tabernakel, pujian dan berkat meriah.

“Komuni orang sakit” tidak termasuk devosi-devosi, sebab dengan jalan menyambut komuni orang sakit, yang terhalang mengikuti perayaan, toh diberi kesempatan ikut serta dalam perayaan itu. Maka perlu diperhatikan bahwa komuni orang sakit tidak dapat dilepaskan dari perayaan Ekaristi sendiri.

“Komuni di stasi” serupa dengan itu, sebab di situ pun ada orang yang terhalang mengambil bagian dalam perayaan bersama di gereja pusat. Oleh karenanya, perlu diingat bahwa sesungguhnya orang itu mengambil bagian dalam perayaan, di mana hosti-hosti itu dikonsekrasi. Khususnya untuk komuni di dalam gereja biasa, perlu diingat ketetapan Pedoman Umum Buku Misa (no. 56h), “agar umat menyambut Tubuh Tuhan dari hosti-hosti yang diberkati dalam misa yang sedang dirayakan itu”. Kalau pada hari Minggu diberkati hosti-hosti untuk seluruh minggu, itu kurang menghormati sakramen mahakudus.

Apa yang dikatakan oleh Konsili Vatikan II mengenai devosi-devosi pada umumnya, berlaku terutama untuk devosi-devosi ekaristis: “ulah kesalehan itu perlu diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan liturgi suci, sedikit banyak bersumber padanya dan menghantar umat kepada liturgi; sebab menurut hakikatnya liturgi memang jauh lebih unggul dari semua ulah kesalehan itu” (SC 13). Kalau demikian, mengapa “hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut serta dalam liturgi” (SC 12)? Karena liturgi menurut hakikatnya berupa perayaan bersama. Bisa terjadi penghayatan pribadi tidak mendapat perhatian secukupnya. Padahal, Ekaristi (dan liturgi pada umumnya) tidak mungkin menjadi pengungkapan iman tanpa penghayatan iman secara pribadi. Oleh sebab itu devosi-devosi dimaksudkan untuk menunjang dan memperkuat semangat iman, demi perayaan bersama yang resmi dan gerejawi.

Perjamuan Terakhir

Kisah perjamuan terakhir, yang terdapat dalam injil sinoptik (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20) dan pada Paulus (1Kor 11:23-25), sebenarnya amat singkat dan tidak persis sama. Walaupun pada dasarnya sama, ada perbedaan perumusan antara Matius-Markus pada satu pihak dan Lukas-Paulus pada pihak yang lain. Sudah tidak diketahui lagi apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Kata-kata yang sekarang dipakai dalam Doa Syukur Agung merupakan rumusan yang dibuat atas dasar empat kisah itu, tetapi tidak terjamin keasliannya. Namun demikian, semua kisah mempunyai sepuluh unsur ini:

  1. Yesus mengambil roti.
  2. Yesus mengucap doa syukur.
  3. Yesus memecahkan roti dan memberikannya kepada para murid.
  4. Waktu membagikan roti itu Yesus bersabda: Inilah tubuh-Ku.
  5. Sesudah perjamuan Yesus mengambil piala.
  6. Yesus mengucap syukur lagi.
  7. Piala diberikan kepada para rasul, dan mereka minum dari padanya.
  8. Waktu mengedarkan piala, Yesus bersabda: Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku.
  9. Yesus memberi perintah pengenangan.
  10. Sesudah itu Yesus masih berbicara mengenai Kerajaan Allah.

Betapapun terbatas informasi yang dapat diperoleh dari kisah-kisah ini, jelas bahwa semua ini sesuai dengan perjamuan Yahudi. Doa syukur yang disebut sebelum makan (no. 2) dan sesudahnya (no. 6) adalah doa sebelum dan sesudah makan yang dibawakan oleh pemimpin perjamuan, biasanya bapa keluarga. Para peserta perjamuan menjawab “amin”, lalu makan roti yang dibagikan sebelum perjamuan (no. 3) dan minum dari piala sesudahnya (no. 7). Perlu diperhatikan bahwa pembagian roti terjadi sebelum makan, dan oleh karena itu tidak termasuk perjamuan sendiri. Makan roti dan minum dari piala termasuk doa. Dengan menjawab “amin” dan kemudian makan roti serta minum dari piala, orang mengambil bagian dalam doa yang oleh pemimpin diucapkan atas roti dan anggur.

Doa sebelum makan biasanya pendek, sedangkan doa sesudah makan, yang disebut birkat ha-mazon, cukup panjang dan dapat bervariasi menurut pesta yang dirayakan. Doa itu dirumuskan dengan bebas oleh yang membawakannya. Kita tidak tahu bagaimana doa syukur Yesus; barangkali serupa dengan doa yang biasanya didoakan oleh orang Yahudi, sebab semua memang sesuai dengan adat-istiadat orang Yahudi (termasuk perjamuan sendiri, yang dalam Perjanjian Baru hanya disebut sepintas, no. 5). Yang sangat istimewa ialah sabda Yesus yang diucapkan waktu membagikan roti (no. 4) dan piala (no. 8), sebab biasanya roti dan anggur dibagikan dengan diam-diam, sebagai bagian doa. Sabda Yesus itu tidak tepat sama rumusannya dalam keempat kisah.

Pada kata “Inilah tubuh-Ku” oleh Lukas ditambahkan “yang diserahkan untuk kamu”, sedangkan Paulus menyebutkan: “Tubuh-Ku, yang untukmu”. Kiranya perbedaan ini tidak sepenting seperti dalam sabda atas piala. Kata “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, hanya terdapat pada Paulus dan Lukas (yang terakhir itu masih menambahkan: “yang ditumpahkan untuk kamu”). Tetapi teks Markus berbunyi (dan Matius tidak banyak berbeda): “Inilah darah-Ku Perjanjian, yang ditumpahkan untuk orang banyak” (Matius masih menambahkan: “demi pengampunan dosa”). Banyak ahli lebih cenderung ke arah teks Lukas-Paulus, karena dua alasan: 1. Teks Markus atas piala sangat mirip dengan sabda atas roti, mungkin disesuaikan; 2. rumus Markus sangat aneh: “darah-Ku perjanjian”, yang mungkin dirumuskan dengan latar belakang Kel 24:8: “Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu”. Bagaimanapun juga, dari naskah Injil tidak dapat ditentukan dengan pasti, mana sabda Yesus yang asli.

Perintah pengenangan, yang hanya terdapat pada Lukas-Paulus, juga menyimpang dari kebiasaan Yahudi. Begitu juga sabda eskatologis mengenai Kerajaan Allah, tentu sangat khusus untuk situasi Yesus. Maka kemiripan dengan perjamuan Yahudi tidak berarti bahwa Yesus hanya mengadakan perjamuan Yahudi yang biasa. Ada banyak unsur yang sangat istimewa, dan justru itulah yang paling penting untuk perayaan Ekaristi. Namun sabda Yesus itu hanya dapat dimengerti dengan sepenuhnya, kalau ditempatkan dalam kerangka perjamuan Yahudi itu.

Dalam Injil sinoptik (Mat 26:17-19/Mrk 14:12-16/Luk 22:9-13) diceritakan bagaimana para murid mempersiapkan perjamuan Paska. Atas dasar itu biasanya ditarik kesimpulan, bahwa Perjamuan Terakhir berupa perjamuan Paska. Namun dalam Yoh 19:14 dikatakan bahwa Pilatus menghukum Yesus pada “hari persiapan Paska”. Orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam rumah Pilatus (seorang kafir yang najis dalam pandangan mereka), “supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paska” (Yoh 18:28). Maka timbul pertanyaan, bagaimana mungkin Yesus sudah makan perjamuan Paska sebelum itu? Atas pertanyaan itu pun tidak ada jawaban yang jelas. Dan tidak dapat dikatakan dengan pasti, apakah Perjamuan Terakhir adalah perjamuan Paska. Bagaimanapun juga, dalam kisah Perjamuan Terakhir sendiri domba Paska atau upacara pesta itu, tidak disebut-sebut. Atas dasar itu tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Perjamuan Terakhir bukan perjamuan Paska. Yang jelas, Yesus sendiri atau para pengarang Injil tidak menghubungkan Perjamuan Terakhir (dan Ekaristi) dengan Paska Yahudi. Yesus tidak mengidentifikasikan diri dengan domba Paska (itu baru dibuat oleh Paulus dalam 1Kor 5:7, tetapi secara kiasan).

Yang paling penting tentu sabda Yesus waktu membagikan roti dan anggur. Beberapa hal perlu diperhatikan. Pertama roti dan anggur itu berfungsi sebagai alat penghubung antara para hadirin yang makan dan minum, dan dia yang membawakan doa syukur (dan dengan demikian dengan doa syukur itu sendiri). Dengan kata lain, sabda Yesus atas roti (dan atas piala) tidak tertuju kepada roti, tetapi kepada orang yang menerimanya. Sabda “Inilah tubuh-Ku” dikatakan mengenai roti, yang sedang diberikan. Selain itu “tubuh-ku” dalam bahasa Aram (bahasa ibu Yesus) berarti “aku” (serupa dengan bahasa Jawa “awak-ku”).

Maka dengan memberikan roti Ia memberikan diri sendiri kepada para rasul. Sama halnya dengan piala. Dengan sabda “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku”, Yesus mau mengatakan bahwa dengan minum dari piala ini para rasul masuk ke dalam Perjanjian Baru dengan Allah, yang didasarkan pada penumpahan darah Yesus. Sabda Yesus juga tidak pertama-tama ditujukan kepada piala (atau anggur di dalamnya), melainkan kepada mereka yang minum dari padanya. Dengan sabda atas roti dan anggur Yesus mengungkapkan suatu hubungan pribadi yang sangat istimewa.

Arti dan Makna Sakramen

Dalam uraian tentang kata “misteri”, dinyatakan bahwa rahasia keselamatan Allah ditampakkan Allah melalui peristiwa-peristiwa konkret di dalam dunia ini. Secara fundamental rahasia itu dinyatakan di dalam seluruh ciptaan melalui penciptaan dan secara paling sempurna dan lengkap di dalam peristiwa Yesus Kristus, yang dipratandai oleh sejarah Israel dan diteruskan melalui sejarah Gereja.

Gereja seluruhnya merupakan satu bagian dalam penampakan rahasia Allah di dalam dunia dan sejarah. Dengan kata lain, Gereja merupakan tanda. Di dalamnya rahasia keselamatan Allah menjadi nyata. Seturut seluruh struktur wahyu Allah, bahwa rahasia yang tersembunyi di dalam Allah ditampakkan di dalam dunia dan sejarah yang seolah-olah menjadi transparan terhadap rahasia Allah itu, sakramen bisa didefinisikan sebagai peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Dewasa ini tanda sakramental itu biasanya dijelaskan dengan menggunakan gagasan lambang atau simbol. Manusia merupakan roh yang membadan, sebab itu segala ekspresi roh manusiawi terjadi melalui badan. Nilai-nilai yang luhur atau yang paling rohani pun harus kita ungkapkan melalui badan, supaya nilai atau perasaan itu bisa disampaikan kepada orang lain. Pokoknya adalah suatu hukum manusiawi bahwa kita berkomunikasi melalui badan. Melalui tanda-tanda badaniah terungkaplah sesuatu yang lebih dalam daripada perbuatan-perbuatan konkret yaitu jiwa dan sikap rohani kita.

Kebenaran ini berlaku juga untuk komunikasi Allah dengan kita. Karena itu Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret untuk menyampaikan cinta-Nya kepada kita secara konkret. Dan karena itu pula ada Gereja sebagai persekutuan persaudaraan yang konkret dan di dalamnya terdapatlah ritus-ritus sakramen. Dalam sakramen, rahmat (cinta Allah) disampaikan secara konkret melalui tanda-tanda badaniah kepada kita.

Dalam perbuatan manusiawi, kita mengalami cinta ilahi. Dengan sengaja, di sini dibicarakan mengenai “perbuatan manusia” dan tidak mengenai benda material yang di dalamnya kita mengalami rahmat yang menguduskan, karena tanda sakramen sesungguhnya aksi/perbuatan. Yang terpenting ialah apa yang kita buat di antara manusia di dalam umat beriman, karena perbuatan manusiawi itu melambangkan perbuatan Allah terhadap kita; perbuatan Allah itu sungguh terlaksana sementara manusia atau umat beraksi.

Penjelasan yang bersifat antropologis ini mempunyai konsekuensi praktis. Karena sakramen-sakramen itu perbuatan manusiawi/gerejawi yang melambangkan atau lebih baik melaksanakan secara simbolis suatu tindakan Allah terhadap kita, maka ritus-ritus sakramen harus dilaksanakan secara sungguh-sunguh penuh, sehingga bisa dirasakan. Maksudnya, dalam pembaptisan air harus dirasakan, dalam pengurapan orang sakit minyak juga harus dirasakan, dan dalam Ekaristi hosti jangan begitu tipis hingga tidak dirasakan apa-apa.

Dalam hal ini juga penting disadari bahwa perbuatan manusia konkret itu baru mendapat identitasnya sebagai sakramen Kristiani melalui perkataan yang diucapkan. Perbuatan penuangan air atau pembasuhan masih terbuka artinya. Baru melalui formula “Aku membaptis engkau atas nama Bapa,Putra, dan Roh Kudus”, hubungan perbuatan itu dengan peristiwa keselamatan yang dilaksanakan Allah Tritunggal menjadi nyata. Sebab itu perbuatan dan perkataan bersama-sama membentuk tanda, lambang melaluinya Allah mendekati dan menyelamatkan kita secara konkret badaniah.