Hormat dalam Hubungan Pria-Wanita

Hidup dihormati bilamana ada kasih dan kesetiaan antarsesama; hidup dihormati bilamana pribadi berkembang sampai mampu mengasihi; hidup dihormati bilamana anak disambut penuh pengharapan dan generasi mendatang dihargai. Oleh karena itu, pembicaraan tentang norma yang berkaitan dengan hidup juga harus mengenai seksualitas, pertumbuhan pribadi, dan kemampuan memberi dan menerima kasih. Seksualitas adalah suatu ciri dasar pribadi manusia dan secara mendalam ikut menentukan hubungan antarpribadi. Karena menyangkut pribadi manusia, seksualitas juga menyangkut iman. Tuntutan iman perihal seksualitas sesungguhnya amat sederhana. Seksualitas hendaknya dikembangkan sebagai kemampuan mencintai dalam hubungan kesetiaan satu sama lain! Oleh sebab itu moral seksualitas, yang dalam tradisi Gereja dikaitkan dengan perintah ke-6 “jangan berbuat cabul” dan perintah ke-9 “jangan menginginkan yang cabul”, bukan hanya larangan saja.

Sampai belum lama ini, di hampir semua lingkungan budaya, pertemuan pria-wanita dibatasi oleh tata-cara sosial. Hubungan seksual diatur oleh kaidah-kaidah moral yang ketat, sedangkan hal perjumpaan kasih dianggap amat pribadi dan tidak dibicarakan. Kini perubahan dalam pendidikan telah membuka bagi laki-laki dan perempuan medan luas untuk bertemu. Hubungan pria-wanita tidak lagi diawasi oleh keluarga dan lingkungan kerabat. Rasa cinta diiklankan di depan umum sebagai syarat mutlak kebahagiaan. Sementara kesempatan bertemu menjadi lebih terbuka, laki-laki dan perempuan bersaing satu sama lain merebut lapangan kerja, dan keinginan mempunyai partner dan pacar bertolak belakang dengan cita-cita untuk berkembang sendiri. Pertemuan antara pria dan wanita menjadi jauh lebih mudah, namun hubungan erat dan mantap antara mereka menjadi jauh lebih sulit. Bagaimana dapat tumbuh hubungan mantap dalam kasih yang setia?

Hubungan pribadi tidak akan menjadi lebih mantap dengan adanya banyak aturan, sebab hubungan pribadi merupakan masalah kepercayaan tak bersyarat, Supaya berani mengembangkan diri dengan mengasihi sesama, orang membutuhkan suatu keyakinan mendalam. Berkaitan dengan hubungan pria-wanita, perlu digali inspirasi injili yang hidup dan yang mendorong untuk hidup dalam kesetiaan dengan memberi dan menerima kasih.

Sikap terhadap Perkawinan yang Gagal

Bisa jadi, perjuangan untuk kesetiaan tidak “berhasil” dan usaha persatuan berakhir dengan perceraian. Bisa juga terjadi orang merasa kecewa lalu terpaksa mengalah dalam perkawinan. Bisa juga orang mengasihi tetapi kikir, memperhatikan tetapi penuh kecurigaan. Perpecahan yang dialami setiap manusia dan yang mengancam kebersamaan semua orang, kegagalan dan dosa, juga merupakan bagian hidup perkawinan. Tetapi kalau perkawinan hancur dalam perceraian, orang beriman tetap tidak berhadapan dengan kekosongan melainkan dengan Allah Penyelamat. Maka dalam Surat Apostolik Familiaris Consortio (22 November 1981), Paus Yohanes Paulus II “minta kepada para gembala dan seluruh persekutuan umat beriman, supaya membantu orang-orang yang telah bercerai dengan perhatian penuh kasih, jangan sampai mereka menganggap diri terpisah dari Gereja” (84). Memang pelayanan pastoral untuk orang yang telah bercerai dan yang mungkin sudah hidup dalam perkawinan kedua tidaklah mudah.

Menurut keyakinan umum, perkawinan merupakan lembaga yang sah karena terbentuk dengan sah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Demikian juga keyakinan Gereja: perkawinan adalah ‘‘kesepakatan antara orang-orang yang menurut hukum mampu dan yang dinyatakan secara legitim membuat perkawinan” (KHK kan. 1057 § 1). Menurut aturan hukum Gereja, persetujuan bebas dalam pernyataan bersama secara sah mewujudkan perkawinan sebagai lembaga di depan hukum.

Di masa sulit sekitar Konsili Trente dan di saat kekacauan, akibat kesepakatan perkawinan yang tidak jelas, Gereja Katolik mewajibkan semua orang Katolik agar menyatakan kesepakatan menurut cara yang ditetapkan oleh Gereja, sehingga “perkawinan hanyalah sah bila dilangsungkan di hadapan ordinaria wilayah atau pastor-paroki atau imam maupun diakon yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang meneguhkannya, serta di hadapan dua orang saksi” (KHK kan. 1108 § 1). Sejak saat itu, pada pokoknya bagi orang Katolik berlaku: kesepakatan perkawinan itu sah hanya kalau dinyatakan dengan tata cara yang ditetapkan Gereja; perkawinan sah dan nyata hanya kalau kesepakatan dinyatakan dengan sah; hanya perkawinan yang sah menjadi perkawinan nyata dan sakramental. Karena merupakan perkawinan nyata dan sakramental, maka perkawinan itu tidak dapat diceraikan. Jadi sifat sakramental maupun lestari dan eksklusif perkawinan itu dikaitkan erat dengan tata hukum dan dengan aturan pelaksanaannya. Dan kesetiaan perkawinan, yakni keterikatan yang amat personal itu, terwujud dalam bentuk hukum yang teguh tegas.

Sudah beberapa abad lamanya, aturan ini sangat meneguhkan perkawinan Katolik, dan sampai sekarang ini persiapan pastoral perkawinan mencari jaminan, bahwa persetujuan diberikan dengan bebas serta penuh kesadaran, dan bahwa pelaksanaan perkawinan tidak dapat diragukan. Maka perkawinan yang diteguhkan secara gerejawi dengan sah, tidak dapat diceraikan. Orang Katolik yang terikat dalam perkawinan yang sah, tidak dapat nikah lagi, biarpun telah bercerai secara sipil atau sudah lama ditinggalkan oleh suaminya atau istrinya. Orang Katolik yang telah bercerai secara sipil dan nikah kembali di luar Gereja, tidak diizinkan menyambut komuni, “karena keadaan dan kondisi hidup mereka secara objektif bertentangan dengan persatuan kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan dan dihadirkan oleh Ekaristi” kata Paus (FC 84). Umat Kristen terus menerus berusaha, jangan sampai perceraian dan pernikahan kembali menjadi sesuatu yang dianggap “normal”. Perkawinan diatur dengan ketat, agar tuntutan Yesus supaya terus menerus mewujudkan kesetiaan tidak dikhianati.

Perkawinan yang setia dan eksklusif itu tidaklah sama dengan aturan hukum. Kesetiaan kepada hukum tidak ada nilainya, bila tidak disertai kesetiaan hati. Tidak semua perceraian itu sama! Perceraian dapat berarti mengkhianati istri atau suami, meninggal-kannya dan pergi dengan orang lain. Perceraian dapat juga berarti perkawinan yang tadinya diikat dengan tergesa-gesa tanpa persiapan masak, berakhir dalam perpecahan, kendati sudah ada banyak usaha mencari kesatuan. Hukum perkawinan mengandaikan kemauan tulus untuk saling mengasihi, namun hukum juga tidak dapat membuktikannya. Hukum menyediakan ruang agar kesetiaan antar-suami-istri dapat berkembang, namun hukum juga tidak dapat menumbuhkannya. Kasih tumbuh dalam hati orang dan kesetiaan terwujud pertama-tama dalam hati nurani. Maka pastoral Gereja terhadap orang yang telah bercerai dan menikah kembali, pertama-tama harus menanggapi hati nurani mereka masing-masing (juga dalam hal “boleh menerima komuni” menurut ketetapan Kongregasi untuk Ajaran Iman tahun 1972). Sekaligus hendaknya diperhatikan, supaya jaringan hukum yang berlaku umum tidak dirusak oleh keadaan khusus. Surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman kepada para uskup Gereja Katolik tentang Penerimaan Komuni oleh kaum beriman yang cerai dan nikah lagi, tanggal 14 September 1994, sebetulnya menanggapi pelbagai pandangan mengenai pastoral bagi orang Katolik yang cerai dan nikah kembali. Pernyataan menjelaskan dan menegaskan: salahlah pandangan, bahwa “orang yang cerai dan nikah lagi boleh menyambut komuni”, kalau dalam pertimbangan suara hati yang jujur dan setelah konsultasi yang luas mereka sampai pada “keputusan sendiri, bahwa perkawinan pertama tidak sah dan perkawinan baru berlaku”. Surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman tersebut mengacu kembali pada Ajakan Apostolik Familiaris Consortio, mereka yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah dan karena alasan serius tidak dapat pisah, hanya dapat menerima komuni kalau hidup tarak sempurna dan menghindari sandungan. Namun demikian, mengingat bahwa surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman mendapat tanggapan seluas dunia, kiranya harus ditarik kesimpulan bahwa tetaplah harus dicari pedoman pastoral yang tepat untuk pasangan yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah.

Hormat terhadap Hidup dalam Penataan Masyarakat

Menghormati hidup merupakan tugas kita bersama. Hanya dengan bersama-sama kita dapat menjamin, agar martabat manusia tidak diperkosa. Maka kita harus membangun hidup bersama dengan hormat, supaya setiap orang diakui sebagai warga masyarakat yang merdeka, dan dapat berpartisipasi serta aktif ikut membentuk hidup masyarakat. Setiap orang harus mendapat kesempatan menurut kebutuhannya – mengambil bagian dalam kekayaan dunia yang ditawarkan kepada semua orang.

Masyarakat harus ditata secara bertanggung jawab, untuk menghormati pribadi manusia. Masyarakat yang ditata demi hormat pada martabat manusia itulah yang disebut masyarakat adil. Di setiap zaman, orang harus selalu mencari jalan untuk menata hidup sosial dengan adil. Di zaman kita pun, banyak soal baru yang menantang kita: urbanisasi dan migrasi, kepadatan penduduk dan pengangguran, kekerasan dan korupsi.

Berhadapan dengan sekian banyak masalah baru “jemaat-jemaat Kristiani setempat hendaknya – dengan bimbingan Roh Kudus, dalam kesatuan dengan uskup-uskup mereka, dan dalam dialog dengan saudara-saudara mereka yang Kristiani dan dengan semua orang yang berkehendak baik – memutuskan manakah langkah-langkah yang harus diambil dan manakah sarana-sarana yang harus dipakai guna mencapai perubahan-perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang perlu” (OA 4). Wujud keadilan harus dicari terus-menerus. Ajaran injil kiranya memberi terang bagi usaha itu dan kekayaan tradisi dapat menyediakan beberapa asas yang meng¬arahkan pemikiran kita.

Masalah-Masalah Baru

Perkembangan sosial dan ekonomis serta kemajuan ilmu-ilmu (khususnya ilmu kedokteran) menimbulkan banyak pertanyaan baru perihal hidup. Misalnya sehubungan dengan soal aborsi (pengguguran), orang bertanya, kapan manusia mulai hidup? Berkaitan dengan transplantasi (pemindahan organ dari satu orang kepada orang yang lain) ditanyakan, kapan hidup manusia berakhir? Bertambahnya penduduk yang pesat membuat orang bertanya: bagaimana meneruskan hidup manusia kepada generasi penerus? Karena kerusakan lingkungan, orang mulai bertanya, bagaimana kita memelihara hidup? Sementara dokter-dokter dengan obat dan alat-alat canggih menyelamatkan orang dari kematian, orang lain bertanya, apakah hidup yang tergantung pada mesin itu masih mempunyai nilai dan dapat memberi rasa nikmat serta pantas disebut “manusiawi”? Jadi, apa yang tampaknya tidak perlu diragukan (yaitu bahwa hidup amat bernilai) mulai menjadi pertanyaan

Kita bangga, bahwa (hampir) semua bayi yang lahir dapat hidup terus; bahwa karena pertanian yang canggih semua penduduk, biarpun makin bertambah banyak, mendapat makan cukup. Sementara kecanggihan ilmu kedokteran serta makanan yang di-produksi oleh industri pertanian ternyata juga dapat mengubah hidup tubuh kita, kita sadar bahwa hidup yang kita terima ini “karunia” Allah. Akan tetapi, kita mengetahui pula bahwa hidup itu ternyata dapat kita pegang dalam tangan kita dan kita ubah dengan akal budi kita. “Yang dulu oleh manusia diharapkan dari kekuatan-kekuatan atas-duniawi, sekarang diusahakannya melalui kegiatannya sendiri” (GS 33). Maka yang baru adalah pertama-tama kesadaran, bahwa kita “membuat” hidup. Oleh karena itu, larangan “jangan membunuh!” mendapat arti yang baru, serta makin membutuhkan peneguhan dan pengarahan, sebab sekarang kita bertanggung jawab atas hidup yang ada di tangan kita. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas generasi penerus yang akan hidup pada masa depan.

Hidup manusia tidak sama dengan proses kimia, dan pribadi manusia tidak sama dengan fungsi lapis otak luar. Namun hidup pribadi tidak dapat dipisahkan dari hidup biologis. Dengan tubuhnya dan melalui sel-sel dan organnya, manusia membangkitkan cita-cita hidup dan membangun persaudaraan; dalam tubuh, kita mengalami kegembiraan hidup dan merasakan penderitaannya. Maka hidup biologis pun harus dipelihara, sehingga masa hidup tidak menjadi hampa.

Usaha melindungi hidup serta meningkatkan mutunya bagi semua, sering bermuara dalam konflik: misalnya konflik antara usaha meringankan rasa sakit dan penderitaan di satu pihak dan pengaruh obat yang memperpendek hidup di pihak lain; konflik antara membela keadilan dan kedaulatan bangsa dan memelihara hidup dan damai; konflik antara hidup serta kesejahteraan ibu dan nasib bayi di dalam kandungan; konflik antara keinginan untuk mempunyai anak sendiri dan hormat terhadap hidup yang tidak boleh direkayasa.

Sering kali konflik semacam itu diselesaikan dengan mempertimbangkan aneka kepentingan: jika orang terpaksa memilih, ia harus memilih kepentingan dan nilai yang paling tinggi, yakni nilai yang paling dasariah bagi hidup manusia dan paling mendesak! Namun dalam praktik makin jarang konflik menuntut pilihan seperti itu.

Berhadapan dengan situasi konflik ini ada tiga pandangan di kalangan Kristiani: pandangan yang pesimis, yang optimis, dan yang setengah-setengah. Yang pesimis berkata bahwa situasi konflik merupakan akibat dosa, maka manusia terpaksa memilih dosa: kanan salah, kiri salah, tidak ada jalan tengah dan manusia harus hidup terus. Yang “setengah-setengah” dapat disebut “pendapat bebas-mutlak”: karena toh tidak tahu apa yang harus dibuat, manusia bebas berbuat apa saja. Pandangan setengah-setengah itu menyamakan apa yang tidak salah dengan apa yang baik. Pandangan optimis adalah pandangan iman yang berani mencari pemecahan untuk setiap masalah yang muncul dengan berpedoman pada sabda Allah sebagaimana diikuti dalam jemaat Allah. Pandangan ini disebut “optimis”, bukan karena ia mengetahui jawaban atas segala pertanyaan, tetapi karena yakin bahwa iman adalah pegangan dalam usaha mencari dan bertahan dalam situasi konflik yang serba tidak jelas.

Hormat terhadap Hidup

Perjanjian Baru tidak hanya melarang pembunuhan, tetapi ingin membangun sikap hormat dan kasih akan hidup. Waktu seorang muda bertanya mengenai apa yang harus ia lakukan agar memperoleh hidup kekal dan dengan bangga mengatakan bahwa perintah-perintah seperti “jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri” sudah ia turuti sejak “masa muda”-nya, Yesus menjawab dengan tegas: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin … kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Mrk 10:21). Perintah-perintah, termasuk perintah kelima, harus dijalankan dalam “kemiskinan”, artinya tanpa pamrih dan dengan mengikuti Yesus.

Apa artinya menjalankan firman kelima dengan mengikuti Kristus? Hal itu dijelaskan oleh sabda Yesus sendiri dalam Khotbah di Bukit: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: ‘Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa berkata kepada saudaranya ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:21-22). “Membunuh” berarti membuang sesama dari persaudaraan manusia, entah dengan membunuhnya, entah dengan meng-kafir-kannya, entah dengan membencinya. Dalam lingkungan murid-murid Yesus, tidak membunuh saja tidaklah cukup! Murid-murid masih perlu menerima sesama sebagai saudara, dan jangan sampai mereka mengucilkan seseorang dari lingkungan hidup. Bahkan sering kali berbuat wajar saja tidak cukup; sebab “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?” (Mat 5:46-47). Juga tidak cukup berbuat adil sesuai dengan pepatah “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Kejahatan harus diatasi dengan berbuat baik (bdk. Rm 12:17). Hambatan-hambatan psikologis dan sosial harus diatasi dengan mencari perdamaian (Mat-5:23-24). Hidup setiap orang harus dipelihara dengan kasih orang Samaria yang baik hati, yang mendobrak batas-batas kebangsaan, agama, dan sebagainya. Jangan sampai seseorang kehilangan hidupnya! Hidup manusia tidak boleh dimusnahkan dengan kekerasan; tidak boleh dibahayakan dengan sembrono (seperti sering dalam lalu-lintas); tidak boleh diancam karena benci (seperti yang mau diusahakan dengan guna-guna), karena setiap orang adalah anak Allah.

Akhir-akhir ini sadisme, sikap kasar terhadap hidup, cukup merebak di tanah air kita. Anak-anak muda sepertinya tertarik terhadap film-film, berita-berita, dan peristiwa-peristiwa yang bernapaskan kekerasan. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai dan diantisipasi penanganannya secara dini dan tepat.

Manusia hidup karena diciptakan dan dikasihi Allah. Karena itu biarpun sifatnya manusiawi dan bukan ilahi, hidup itu suci. Kitab Suci tidak ragu-ragu menyatakan bahwa nyawa manusia (yakni hidup biologisnya) tidak boleh diremehkan. Hidup manusia mempunyai nilai istimewa karena sifatnya yang pribadi (yang oleh Kitab Suci sering disebut dengan kata jiwa dan roh). Bagi manusia, hidup (biologis) adalah “masa hidup”, dan tak ada sesuatu “yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya” (Mrk 8:37). Dengan usaha dan rasa, dengan kerja dan kasih, orang mengisi masa hidupnya, dan bersyukur kepada Tuhan, bahwa ia “boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan” (Mzm 56:14). Memang, “masa hidup kita hanya tujuh puluh tahun” (Mzm 90:10) dan “di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap” (Ibr 13:14). Namun hidup fana merupakan titik pangkal bagi hidup yang diharapkan di masa mendatang, bila “kemah yang sejati didirikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia” (Ibr 8:2).

Dengan demikian hidup yang fana ini menunjuk pada hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan, sesudah hidup yang fana ini dilewati. Hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan disebut – khususnya dalam Injil Yohanes – “hidup kekal” (Yoh 3:15.16). “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Dalam berbicara mengenai hidup yang kekal, Perjanjian Baru memakai kata khusus yang mengartikan hidup sebagai daya-kekuatan yang menjiwai pribadi seseorang. Kesatuan dengan Allah dalam perjumpaan pribadi memberikan kepada manusia suatu martabat, yang membuat masa hidup sekarang ini sangat berharga dan suci.

Hormat dalam Pemeliharaan Hidup

Sepanjang sejarah dan di mana saja budaya manusia menghormati hidup dan etika melindunginya. Hal-hal yang mengancam kehidupan seperti perang, pembunuhan, penyakit (AIDS, dsb.) sangat kita takuti. Kita berusaha melindungi hidup itu. Demikian juga ajaran moral kebanyakan agama. Umat Perjanjian Lama percaya akan Allah Pencipta, yang gembira atas karya-Nya. Bagi-Nya hidup, khususnya hidup manusia, amat berharga. Umat Allah percaya akan Allah yang cinta hidup, mengandalkan Allah yang membangkitkan orang mati dan membela hidup melawan maut. Tuhan itu Allah orang hidup, maka “jangan membunuh!”.

Ajakan firman kelima tampaknya jelas: tidak membunuh orang dan tidak membunuh diri sendiri, tetapi pengaturannya tidak begitu sederhana, seperti tampak dalam Perjanjian Lama.

Umpamanya tentang seorang anak bandel yang tidak menghormati orang¬tuanya. Anak macam ini harus dibawa ke pengadilan dan “semua orang se¬kotanya (harus) melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati” (Ul 21:20). Masih ada banyak hukuman mati yang lain: untuk hujat (Im 24:14.16), untuk pelanggaran Sabat (Kel 31:14-15; 35:2), untuk tukang sihir (Kel 22:18), untuk laku-zinah (Im 20:10-11; Ul 22:22), untuk orang yang menculik orang lain (Kel 21:16; Ul 24:7). Hukuman mati secara khusus diancamkan kepada orang “yang menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada dewa Molokh” (Im 20: 1-5), padahal Tuhan sendiri menyuruh Abraham mengurbankan anaknya (Kej 22:1-19). Diceritakan bahwa dalam perang “manusia semua dibunuh dengan mata pedang, sehingga orang-orang itu dipunahkan semua” (Yos 11:14). Begitu sering diceritakan hukuman mati dan peperangan (atas perintah Yahwe), sehingga orang bertanya-tanya: apakah Allah Perjanjian Lama memang Pelindung Hidup?

Ajakan “jangan membunuh” ternyata bukan kaidah yang siap diterapkan di mana-mana. Lebih-lebih karena kita tidak lagi hidup pada zaman Perjanjian Lama. Yesus, para rasul, dan Gereja, telah memberikan banyak keterangan tambahan pada firman kelima. Perubahan zaman menuntut supaya perintah Tuhan ini ditafsirkan dan dijelaskan secara baru. Di zaman kita, tidak hanya ada masalah hukuman mati dan perang, tetapi juga ada soal kependudukan dan bunuh diri, ada soal aborsi, soal eutanasia, dan banyak soal pemeliharaan kesehatan, tambah lagi semua masalah hukum pidana mengenai pembunuhan. Namun dalam mencari arah untuk masalah hidup dewasa ini, tetap perlu dicari inspirasi dalam tradisi Kristen mengenai firman yang kelima.

Hormat kepada Orangtua

Dasafirman tidak ditulis untuk anak kecil, melainkan untuk orang dewasa. Inilah prinsip umum, “Setiap orang di antara kamu harus menyegani ibunya dan ayahnya” (Im 19:3; bdk. Mal 1:16). Janganlah si anak lupa, bahwa “bapanya memberitahukan kesetiaan iman kepada anak-anaknya” (Yes 38:19). Memang, “seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya” (Kej 2:24). Ia akan membangun keluarga sendiri, dan hidup jauh dari orangtuanya. Kendati demikian, ia dituntut supaya menghormati orangtuanya:

“Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Demikian pula, kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kau maafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya” (Sir 3:12).

Dari kutipan di atas tampak bahwa hubungan orangtua dan anak tidak sama dengan suasana kehangatan, yang membuat anak-anak kerasan di rumah. Hormat pada ayah dan ibu juga lebih daripada kewajiban “bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan menaruh hormat kepada orang yang tua” (Im 19:32). Hormat ini juga tidak sama dengan sopan-santun. Hormat kepada orangtua berarti hormat kepada hidup, pemberian Allah, sebab melalui orangtua, dan melalui leluhur, turunlah hidup serta segala berkat dari Tuhan. Ketika Yakub “mencuri” berkat Ishak dari Esau, Esau menangis dengan suara keras dan mengeluh kepada bapanya, “Hanya berkat yang satu itukah yang ada padamu? Berkatilah aku ini juga, ya bapa” (Kej 27:38). Begitu penting berkat dari bapa, Maka kitab Sirakh berkata, “Rumah tangga anak dikukuhkan oleh berkat bapa, tetapi dasar-dasarnya dicabut oleh kutuk ibu” (Sir 3:9).

Yesus, dalam ajaran-Nya, sangat menekankan perintah Tuhan ini (Mrk 7:10; 10:19 dsj.). Dalam Ef 6:1 dikatakan: “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian” (bdk. Kol 3:20). Yang digunakan adalah kata “taatilah”, Kata itu juga dipakai untuk para hamba. Bahkan untuk istri pun dipakai kata “tunduk” (Ef 6:22), walaupun dalam ay. 21 dikatakan “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain”. Maksudnya, supaya semua berusaha hidup bersatu secara harmonis dalam Tuhan. Dengan demikian hormat kepada orangtua sebenarnya mendapat arti yang lain dibandingkan dengan yang terdapat pada Dasafirman.

Arti perintah “hormat kepada orangtua” itu akan menjadi lebih jelas bila kita memperhatikan situasi sosial budaya yang melatarbelakanginya. Sebagaimana diceritakan dalam kitab Keluaran dan Ulangan, Israel adalah bangsa yang masih mengembara mencari ladang bagi ternaknya atau yang baru menetap di tanah Kanaan. Di situ bapa keluarga adalah “raja”, yang harus membela hak keluarganya terhadap segala macam lawan dan musuh.

Keluarga Israel tradisional bersifat patriarkal, “Keluarga” disebut rumah ayah. Ketika Nuh mendapat perintah supaya memasuki bahtera, “engkau dan seisi rumahmu”, maka “masuklah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya, dan istrinya dan istri anak-anaknya” (Kej 7:1.7). Istri adalah milik suami (lih Kel 20: 17). Paling-paling ia mempunyai status seperti anak, sehingga janji-janjinya harus disahkan oleh suaminya (Bil 30:3-16). Yang menentukan adalah ayah, sampai orang berbicara mengenai “Yakub beserta turunannya” (Kej 49:8); dengan istilah itu dimaksudkan tiga angkatan. Kendati pun demikian, ibu keluarga mempunyai kuasa praktis yang amat besar, sebagaimana tampak dari campur tangan Ribka dalam hal hak anak sulung Yakub dan Esau (Kej 27:5-17). Maka, perlu dibedakan antara status sosial sang suami dalam masyarakat dan peranannya dalam keluarga.

Semula status laki-laki, juga seluruh keluarga, tergantung pada ternak, kemudian pada tanah yang dimilikinya. Ketika kebudayaan kota mulai berkembang, struktur sosial masyarakat dan keluarga berubah. Keluarga menjadi semakin kecil dan arti individu semakin besar. Surat Efesus ditujukan kepada orang-orang dari dunia helenis, yang hidup di kota besar yang sudah amat berkembang. Jadi situasi kebudayaannya lain dibandingkan dengan situasi orang Israel dulu. Oleh karena itu, lain juga pola hubungan antara anggota keluarga di dalamnya.

Baik peraturan yang berlaku bagi orang Israel zaman dahulu, maupun kebiasaan umat Efesus dari zaman Gereja perdana, tidak begitu saja dapat dijadikan patokan bagi hubungan dalam keluarga sekarang. Khususnya dalam hal ketaatan dan pendidikan terjadi perkembangan dan perubahan yang besar dalam peredaran zaman. Kebudayaan dan tradisi Indonesia ingin membangun dan melestarikan harmoni dan oleh sebab itu sangat menekankan kerukunan keluarga. Demi kepentingan keluarga, diminta banyak pengurbanan, dari orangtua untuk anak-anak, dari anak-anak untuk menghormati orangtua, dari kakak untuk membantu adik dan dari adik-adik untuk menaati kakak-kakak. Bagaimanapun juga, belum tentu bahwa dengan semuanya itu dibangun keluarga sebagai kesatuan kasih. Keluarga tidak lagi dibina dalam kesatuan hierarkis, yang hanya menekankan ketaatan saja. Keluarga adalah kesatuan hidup. Karena hidup tidak dengan sendirinya menciptakan kesatuan itu, maka semua ikut bertanggung jawab, agar anak-anak memulai perjalanan hidup mereka dalam perhatian dan kasih, yang membuat mereka menjadi yakin akan kasih Allah yang menginginkan hidup. Semua bertanggung jawab pula, agar pada usia lanjut orangtua yang telah banyak berjerih payah, merasakan hormat dari mereka yang muda dan dengan demikian mereka menjadi yakin akan kemuliaan Allah yang akan menjadi penyempurnaan hidup kita yang fana. Keluarga adalah ruang, tempat hidup disayangi dan kita belajar menyayangi satu sama lain. Maka, di dalam keluarga “ketaatan” saja tidak cukup. Semua anggota keluarga harus belajar berkurban satu bagi yang lain dan saling mengasihi.