Bersama-sama Mencari Arah hidup

Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah “segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubah-ubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup” yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak semula.

Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya.

Sifat-Sifat atau Ciri-Ciri Gereja

Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya.

Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6; 26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak 10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”.

Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. “Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat.

Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.

Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya dalam syahadat panjang.

Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal, sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar. Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama. Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul.

Hormat terhadap Hidup dalam Penataan Masyarakat

Menghormati hidup merupakan tugas kita bersama. Hanya dengan bersama-sama kita dapat menjamin, agar martabat manusia tidak diperkosa. Maka kita harus membangun hidup bersama dengan hormat, supaya setiap orang diakui sebagai warga masyarakat yang merdeka, dan dapat berpartisipasi serta aktif ikut membentuk hidup masyarakat. Setiap orang harus mendapat kesempatan menurut kebutuhannya – mengambil bagian dalam kekayaan dunia yang ditawarkan kepada semua orang.

Masyarakat harus ditata secara bertanggung jawab, untuk menghormati pribadi manusia. Masyarakat yang ditata demi hormat pada martabat manusia itulah yang disebut masyarakat adil. Di setiap zaman, orang harus selalu mencari jalan untuk menata hidup sosial dengan adil. Di zaman kita pun, banyak soal baru yang menantang kita: urbanisasi dan migrasi, kepadatan penduduk dan pengangguran, kekerasan dan korupsi.

Berhadapan dengan sekian banyak masalah baru “jemaat-jemaat Kristiani setempat hendaknya – dengan bimbingan Roh Kudus, dalam kesatuan dengan uskup-uskup mereka, dan dalam dialog dengan saudara-saudara mereka yang Kristiani dan dengan semua orang yang berkehendak baik – memutuskan manakah langkah-langkah yang harus diambil dan manakah sarana-sarana yang harus dipakai guna mencapai perubahan-perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang perlu” (OA 4). Wujud keadilan harus dicari terus-menerus. Ajaran injil kiranya memberi terang bagi usaha itu dan kekayaan tradisi dapat menyediakan beberapa asas yang meng¬arahkan pemikiran kita.

Seks dan Hidup

Aturan itu perlu tapi tidak cukup. Yang lebih diperlukan daripada aturan ialah kesaksian seksualitas yang manusiawi. Dalam hal ini perlu dipancarkan keyakinan bahwa seks harus dihormati sebagai sesuatu yang manusiawi. Seks bukan barang yang dapat diperjualbelikan. Menjual seks, dengan pornografi atau pelacuran, berarti menjual manusia. Seks juga bukan naluri alam yang harus mendapat pelepasan, melainkan bagian hidup yang pantas dibina, dididik, dan dikembangkan, penuh nilai dan kasih. Seks pun bukan urusan yang diserahkan kepada kehendak orang perorangan. Seks menuntut tanggung jawab sosial. Oleh karenanya, dalam semua soal moral seks pertama-tama harus ditanyakan, bagaimana dapat ditingkatkan kemampuan memberi dan menerima kasih?

Dalam seks yang manusiawi, kasih dialami secara istimewa. Sebab seksualitas menyangkut segala emosi dan menggerakkan seluruh hayat, sampai orang “melupakan diri”. Pengalaman seks yang manusiawi dapat mematahkan belenggu kepentingan diri. Orang dapat menjadi merdeka dalam perhatian bagi kekasih. Hubungan seperti itu dapat menjadi dasar dan awal bagi hubungan yang tunggal dan eksklusif, dalam kesetiaan lestari. Ikatan kesetiaan tidak dibuat oleh alam, seolah-olah ikatan itu otomatis dan begitu saja terjadi. Karena itu, keberanian mengikat diri harus dikembangkan dengan menaklukkan ketakutan-ketakutan hati. Kesetiaan satu sama lain harus dibela dengan menolak tawaran yang menjanjikan kenikmatan saja. Jelaslah bahwa kelakuan seksual tidak dapat diatur dengan sejumlah larangan atau dengan “boleh” atau “tidak boleh”. Bahkan mendasarkan seks pada kesopanan umum juga tidak cukup. Penilaian moral mengenai perilaku seksual harus mencakup semua dimensi hidup manusia, sebab kelakuan seksual menyangkut pergaulan antara manusia dan penghayatan hidup manusiawi. Karena itu juga penilaian moral seks mesti peka terhadap maksud perbuatan itu. Orang tidak boleh mengutuk suatu perbuatan (mis. masturbasi), hanya karena tidak sesuai dengan tata alam. Tetapi tindakan itu juga tidak dapat dibenarkan hanya karena cocok dengan dorongan tubuh yang mesti diikuti.

Kelakuan seksual menyangkut hubungan antarmanusia. Maka nilai perilaku seksual pertama-tama menyangkut hubungan hati. Hubungan seksual tidak dibenarkan hanya atas dasar hak (suami atau istri). Perilaku seksual pertama-tama harus sesuai dengan hubungan personal. Orang makin menyadari bahwa hubungan pribadi itu membutuhkan perkembangan, maka hubungan seksual antara dua partner membutuhkan perkembangan. Oleh karena itu, tidaklah cukup bila moral seksual hanya melarang agar orang tidak menyentuh seseorang yang belum menjadi “hak” dan “miliknya”. Moral seksual itu harus makin peka terhadap kesatuan pribadi. Hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan terungkap dengan banyak cara, dengan tanda-tanda afeksi yang intim dan secara khusus dalam perbuatan sanggama. Menurut ajaran moral Katolik, perbuatan sanggama mendapat tempatnya yang tepat dan wajar dalam perkawinan, sebab hanya dalam hubungan mantap dan pribadi antara suami dan istri hubungan sanggama dapat menjadi ungkapan jujur bagi kasih dan penyerahan. Dan sebaliknya dalam perkawinan, hubungan pribadi dikuatkan dan dikembangkan oleh perbuatan sanggama dalam kasih dan penyerahan. Hubungan intim dan pribadi adalah nilai utama dalam seksualitas dan dalam semua perbuatan seksual. Dan semua perbuatan seksual patut dinilai, pertama-tama, sejauh mana mengungkapkan kasih terhadap partner dan mengungkapkan serta meneguhkan kesatuan hati yang mantap. Karena dalam seksualitas diteruskan hidup manusia, ajaran moral Gereja menegaskan juga supaya hubungan seksual harus terbuka bagi keturunan. Sebab di samping nilai pribadi dalam hubungan, seksualitas mengandung nilai sosial, karena merupakan daya pengikat perkawinan dan turut melangsungkan hidup.

Karena punya arti pribadi dan sosial, masyarakat ikut mengatur seksualitas dengan pelbagai aturan. Aturan-aturan masyarakat patut diperhatikan karena dan sejauh membina hormat dan kesatuan, dan pantas dikritik kalau melanggar kebebasan orang dalam mengikat perkawinan.

Homoseksualitas, yakni hubungan seksual antara pria dengan pria atau antara wanita dengan wanita, dipandang oleh ajaran moral gerejawi berlawanan dengan nilai-nilai pokok dalam seksualitas; homoseksualitas tidak sejajar dengan heteroseksualitas. Namun diperdebatkan, apakah homoseksualitas harus dipandang sebagai penyelewengan atau sebagai kelainan yang pantas ditolong, entah dengan bantuan pengobatan atau dengan pengertian dan dukungan hidup. Demikian juga pandangan tentang masturbasi, yakni usaha untuk mendapat kenikmatan seksual pada diri sendiri, sebab seksualitas mengarahkan orang pada sesama. Namun penilaian ha¬nya tepat, kalau diperhatikan konteks hidup yang konkret. Sebab sehubungan dengan masturbasi, secara khusus kentara ciri dasar seksualitas: seksualitas bukan semacam keadaan alamiah melainkan sebagian dari hidup, yang pribadi, sosial, dan bersejarah.

Hidup Suami-Istri Itu Suatu Panggilan

Sikap dan ajaran Yesus juga tidak langsung memperhatikan seksualitas, melainkan perkawinan. Ketika ditanyai oleh seorang Farisi, “Apakah suami boleh menceraikan istrinya?” Yesus menjawab, “Yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzinah terhadap istrinya” (Mrk 10:2.11). Yang dipersoalkan oleh orang Farisi sebetulnya bukan perceraian sendiri, sebab mereka sudah yakin bahwa “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai” (ay. 4). Yang amat dipersoalkan di kalangan para rabi ialah alasan untuk cerai, apakah suami boleh menceraikan istrinya dengan alasan apa saja (lih: Mat 19:3). Sebab “izin Musa” dalam Kitab Suci berbunyi:

“Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan telah menjadi suaminya, tetapi lalu ia tidak suka dengan perempuan itu, karena mendapat sesuatu yang tidak baik padanya, lalu ia (harus) menulis surat cerai dan menyerahkannya kepada perempuan itu serta menyuruhnya pergi dari rumahnya” (Ul 24:1).

Ada perbedaan pendapat antara para ahli Taurat mengenai arti kata “yang tidak baik” itu. Secara harfiah dikatakan “yang memalukan”. Ada orang (yakni mazhab Syammai) berpendapat bahwa yang dimaksudkan dalam Taurat Musa itu sesuatu yang tidak senonoh (yang melanggar kesopanan, khususnya dalam pergaulan). Tetapi golongan lain (yakni para pengikut rabi Hilel) berpendapat bahwa penceraian itu halal dengan alasan apa pun, biarpun hanya karena masakan wanita tidak enak atau karena rupanya tidak cantik lagi atau malahan karena sang suami tertarik kepada wanita lain.

Yesus tidak mempermasalahkan alasan untuk cerai. Yesus mempermasalahkan perceraian itu sendiri: “Karena ketegaran hatimu, Musa memerintahkan supaya memberikan surat cerai, jika orang menceraikan istrinya” (lih. Mat 19:9). Jadi, sebenarnya Yesus meng-anjurkan, jangan cerai sama sekali! (Mat 5:32). Seperti juga dikatakan-Nya jangan bersumpah sama sekali (Mat 5:34) dan jangan bermusuhan sama sekali! (Mat 5:22) Yesus juga berbicara mengenai “berzinah di dalam hati” (Mat 5:28). Moral Yesus yang radikal berbicara mengenai hati. Ia tidak mau berbicara mengenai seks, bahkan tidak mengenai pengaturan perkawinan. Yesus berbicara mengenai panggilan Allah dan panggilan Allah itu mengenai hati manusia, laki-laki dan perempuan. Maka kalau berbicara mengenai perkawinan, Yesus berbicara mengenai rencana Allah semula (Mat 19:4-6; Mrk 10:6-9 yang mengutip Kej 2:24) dan mengenai kesetiaan-Nya.

Rupa-rupanya dalam praktik Gereja perdana, khususnya di kalangan mereka yang dulu adalah Yahudi, masalah perceraian timbul kembali. Kalau istri, atau juga suami, melakukan zinah, maka ia harus dicerai; menurut hukum Taurat ia malah harus dihukum mati (Ul 22:22; bdk. Yoh 8:2-11). Pada zaman Yesus hukuman mati itu biasanya tidak dilakukan lagi. Tetapi perkawinan juga tidak dapat diteruskan lagi, maka perkawinan itu dianggap sudah tidak ada lagi. Karenanya istri (atau suami) tidak hanya boleh, tetapi harus diceraikan. Paulus, yang hidup dan merasul di kalangan orang kafir, juga dihadap¬kan pada masalah perceraian: Kalau ada seorang saudara beristerikan … atau bersuamikan seorang yang tidak beriman, … dan kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat, Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera” (1Kor 7:13-15).

Di abad-abad kemudian, banyak Bapa Gereja berpegang pada praktik yang membenarkan perceraian, khususnya karena zinah. Juga dalam Gereja-gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Protestan dewasa ini perceraian tidak dilarang secara mutlak. Hanya di dalam Gereja Katolik perceraian ditolak secara total, tetapi itu hanya berlaku untuk orang yang telah dibaptis. Dalam Kitab Hukum Kanonik, tuntutan moral Yesus, supaya membangun kesatuan hati yang tidak diceraikan, menjadi aturan hukum perkawinan yang membawahi semua orang yang dibaptis. Hal itu berhubungan dengan sakramentalitas perkawinan.

Bagi Yesus, zinah menyangkut kemurnian hati, ketulusan hidup. Sebab “dari hati orang timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat” (Mat 15:19). Bagi orang Kristen perdana, tidaklah mudah hidup murni dalam kota-kota Yunani, dalam alam pikiran yang memisahkan keluhuran budi dari tubuh fana dengan kenikmatannya. Paulus membela manusia: seluruh manusia, tubuh, budi dan hati, telah ditebus! Seluruh manusia menjadi anggota Kristus, karena tubuh yang fana pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Juga dalam tubuhnya, manusia bertemu dengan Allah yang mulia, maka tubuh lebih daripada hanya sekadar barang kenikmatan. Seks bukan barang konsumsi yang dinikmati seperlunya. Seks adalah bagian hidup manusia yang bermartabat luhur.

Dalam tradisi Kristen, keutuhan dan keagungan tubuh dijunjung tinggi dan seksualitas mendapat nilai pribadi. Namun sepanjang sejarah Gereja, pengakuan itu selalu juga dibayangi oleh prasangka-prasangka terhadap wanita, oleh penilaian yang meremehkan atau mengharamkan seks dan larangan-larangan yang menekan kenikmatan.

Demikianlah Agustinus membela keluhuran seksualitas melawan berma¬cam pandangan agama yang menganggapnya rendah dan kurang manusiawi; sekaligus Agustinus mengingatkan, bahwa hubungan pria-wanita dan khususnya hubungan seksual selalu diancam oleh kedosaan. Kenikmatan dicurigainya, karena ia sangat mendukung cita-cita (filsafat Stoa) untuk menguasai naluri-naluri. Hubungan pria-wanita yang sejati adalah kesatuan rohani dan seksualitas hanya dibenarkan “demi keturunan”. Dalam sejarah lebih lanjut, pandangan Agustinus mengenai seksualitas ini amat mewarnai moral Katolik. Hampir delapan abad kemudian, Tomas Aquino menekankan bahwa seksualitas (termasuk kenikmatan!) adalah kodrati, ciptaan Allah. Dalam perkembangan selanjutnya kenikmatan seksual umumnya dibenarkan, namun seksualitas sendiri makin diartikan dan diatur menurut alam-kodrat, dan makin ditekankan bahwa hubungan seksual itu ditujukan untuk memperoleh keturunan. Ajaran moral Katolik menarik kesimpulan bahwa setiap hubungan seksual harus terbuka untuk keturunan dan oleh sebab itu hubungan seksual hanya dapat dibenarkan dalam perkawinan yang sah.

Dewasa ini, kebanyakan orang tidak lagi dapat menerima, bahwa seksualitas manusiawi hanya (ataupun pertama-tama ditujukan pada keturunan. Konsili Vatikan II bicara mengenai “cinta-kasih (suami-istri) yang beraneka-ragam” (GS 48). Seksualitas amat bernilai untuk saling mengungkapkan kasih (bdk. GS 51). Pengertian yang baru dalam Gereja menjadi tantangan bagi moral Kristen: dapatkah ditemukan suatu gaya hidup bersama, yang di dalamnya hubungan seksual antar pria dan wanita dapat berkembang dalam kesetiaan satu sama lain? Dapatkah ditemukan suatu gaya hidup yang di dalamnya pria dan wanita berkembang dalam kemampuan mengasihi dan menyambut anak-anak yang lahir dengan pengharapan yang terbuka?

Masalah-Masalah Baru

Perkembangan sosial dan ekonomis serta kemajuan ilmu-ilmu (khususnya ilmu kedokteran) menimbulkan banyak pertanyaan baru perihal hidup. Misalnya sehubungan dengan soal aborsi (pengguguran), orang bertanya, kapan manusia mulai hidup? Berkaitan dengan transplantasi (pemindahan organ dari satu orang kepada orang yang lain) ditanyakan, kapan hidup manusia berakhir? Bertambahnya penduduk yang pesat membuat orang bertanya: bagaimana meneruskan hidup manusia kepada generasi penerus? Karena kerusakan lingkungan, orang mulai bertanya, bagaimana kita memelihara hidup? Sementara dokter-dokter dengan obat dan alat-alat canggih menyelamatkan orang dari kematian, orang lain bertanya, apakah hidup yang tergantung pada mesin itu masih mempunyai nilai dan dapat memberi rasa nikmat serta pantas disebut “manusiawi”? Jadi, apa yang tampaknya tidak perlu diragukan (yaitu bahwa hidup amat bernilai) mulai menjadi pertanyaan

Kita bangga, bahwa (hampir) semua bayi yang lahir dapat hidup terus; bahwa karena pertanian yang canggih semua penduduk, biarpun makin bertambah banyak, mendapat makan cukup. Sementara kecanggihan ilmu kedokteran serta makanan yang di-produksi oleh industri pertanian ternyata juga dapat mengubah hidup tubuh kita, kita sadar bahwa hidup yang kita terima ini “karunia” Allah. Akan tetapi, kita mengetahui pula bahwa hidup itu ternyata dapat kita pegang dalam tangan kita dan kita ubah dengan akal budi kita. “Yang dulu oleh manusia diharapkan dari kekuatan-kekuatan atas-duniawi, sekarang diusahakannya melalui kegiatannya sendiri” (GS 33). Maka yang baru adalah pertama-tama kesadaran, bahwa kita “membuat” hidup. Oleh karena itu, larangan “jangan membunuh!” mendapat arti yang baru, serta makin membutuhkan peneguhan dan pengarahan, sebab sekarang kita bertanggung jawab atas hidup yang ada di tangan kita. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas generasi penerus yang akan hidup pada masa depan.

Hidup manusia tidak sama dengan proses kimia, dan pribadi manusia tidak sama dengan fungsi lapis otak luar. Namun hidup pribadi tidak dapat dipisahkan dari hidup biologis. Dengan tubuhnya dan melalui sel-sel dan organnya, manusia membangkitkan cita-cita hidup dan membangun persaudaraan; dalam tubuh, kita mengalami kegembiraan hidup dan merasakan penderitaannya. Maka hidup biologis pun harus dipelihara, sehingga masa hidup tidak menjadi hampa.

Usaha melindungi hidup serta meningkatkan mutunya bagi semua, sering bermuara dalam konflik: misalnya konflik antara usaha meringankan rasa sakit dan penderitaan di satu pihak dan pengaruh obat yang memperpendek hidup di pihak lain; konflik antara membela keadilan dan kedaulatan bangsa dan memelihara hidup dan damai; konflik antara hidup serta kesejahteraan ibu dan nasib bayi di dalam kandungan; konflik antara keinginan untuk mempunyai anak sendiri dan hormat terhadap hidup yang tidak boleh direkayasa.

Sering kali konflik semacam itu diselesaikan dengan mempertimbangkan aneka kepentingan: jika orang terpaksa memilih, ia harus memilih kepentingan dan nilai yang paling tinggi, yakni nilai yang paling dasariah bagi hidup manusia dan paling mendesak! Namun dalam praktik makin jarang konflik menuntut pilihan seperti itu.

Berhadapan dengan situasi konflik ini ada tiga pandangan di kalangan Kristiani: pandangan yang pesimis, yang optimis, dan yang setengah-setengah. Yang pesimis berkata bahwa situasi konflik merupakan akibat dosa, maka manusia terpaksa memilih dosa: kanan salah, kiri salah, tidak ada jalan tengah dan manusia harus hidup terus. Yang “setengah-setengah” dapat disebut “pendapat bebas-mutlak”: karena toh tidak tahu apa yang harus dibuat, manusia bebas berbuat apa saja. Pandangan setengah-setengah itu menyamakan apa yang tidak salah dengan apa yang baik. Pandangan optimis adalah pandangan iman yang berani mencari pemecahan untuk setiap masalah yang muncul dengan berpedoman pada sabda Allah sebagaimana diikuti dalam jemaat Allah. Pandangan ini disebut “optimis”, bukan karena ia mengetahui jawaban atas segala pertanyaan, tetapi karena yakin bahwa iman adalah pegangan dalam usaha mencari dan bertahan dalam situasi konflik yang serba tidak jelas.

Hormat terhadap Hidup

Perjanjian Baru tidak hanya melarang pembunuhan, tetapi ingin membangun sikap hormat dan kasih akan hidup. Waktu seorang muda bertanya mengenai apa yang harus ia lakukan agar memperoleh hidup kekal dan dengan bangga mengatakan bahwa perintah-perintah seperti “jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri” sudah ia turuti sejak “masa muda”-nya, Yesus menjawab dengan tegas: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin … kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Mrk 10:21). Perintah-perintah, termasuk perintah kelima, harus dijalankan dalam “kemiskinan”, artinya tanpa pamrih dan dengan mengikuti Yesus.

Apa artinya menjalankan firman kelima dengan mengikuti Kristus? Hal itu dijelaskan oleh sabda Yesus sendiri dalam Khotbah di Bukit: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: ‘Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa berkata kepada saudaranya ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:21-22). “Membunuh” berarti membuang sesama dari persaudaraan manusia, entah dengan membunuhnya, entah dengan meng-kafir-kannya, entah dengan membencinya. Dalam lingkungan murid-murid Yesus, tidak membunuh saja tidaklah cukup! Murid-murid masih perlu menerima sesama sebagai saudara, dan jangan sampai mereka mengucilkan seseorang dari lingkungan hidup. Bahkan sering kali berbuat wajar saja tidak cukup; sebab “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?” (Mat 5:46-47). Juga tidak cukup berbuat adil sesuai dengan pepatah “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Kejahatan harus diatasi dengan berbuat baik (bdk. Rm 12:17). Hambatan-hambatan psikologis dan sosial harus diatasi dengan mencari perdamaian (Mat-5:23-24). Hidup setiap orang harus dipelihara dengan kasih orang Samaria yang baik hati, yang mendobrak batas-batas kebangsaan, agama, dan sebagainya. Jangan sampai seseorang kehilangan hidupnya! Hidup manusia tidak boleh dimusnahkan dengan kekerasan; tidak boleh dibahayakan dengan sembrono (seperti sering dalam lalu-lintas); tidak boleh diancam karena benci (seperti yang mau diusahakan dengan guna-guna), karena setiap orang adalah anak Allah.

Akhir-akhir ini sadisme, sikap kasar terhadap hidup, cukup merebak di tanah air kita. Anak-anak muda sepertinya tertarik terhadap film-film, berita-berita, dan peristiwa-peristiwa yang bernapaskan kekerasan. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai dan diantisipasi penanganannya secara dini dan tepat.

Manusia hidup karena diciptakan dan dikasihi Allah. Karena itu biarpun sifatnya manusiawi dan bukan ilahi, hidup itu suci. Kitab Suci tidak ragu-ragu menyatakan bahwa nyawa manusia (yakni hidup biologisnya) tidak boleh diremehkan. Hidup manusia mempunyai nilai istimewa karena sifatnya yang pribadi (yang oleh Kitab Suci sering disebut dengan kata jiwa dan roh). Bagi manusia, hidup (biologis) adalah “masa hidup”, dan tak ada sesuatu “yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya” (Mrk 8:37). Dengan usaha dan rasa, dengan kerja dan kasih, orang mengisi masa hidupnya, dan bersyukur kepada Tuhan, bahwa ia “boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan” (Mzm 56:14). Memang, “masa hidup kita hanya tujuh puluh tahun” (Mzm 90:10) dan “di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap” (Ibr 13:14). Namun hidup fana merupakan titik pangkal bagi hidup yang diharapkan di masa mendatang, bila “kemah yang sejati didirikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia” (Ibr 8:2).

Dengan demikian hidup yang fana ini menunjuk pada hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan, sesudah hidup yang fana ini dilewati. Hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan disebut – khususnya dalam Injil Yohanes – “hidup kekal” (Yoh 3:15.16). “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Dalam berbicara mengenai hidup yang kekal, Perjanjian Baru memakai kata khusus yang mengartikan hidup sebagai daya-kekuatan yang menjiwai pribadi seseorang. Kesatuan dengan Allah dalam perjumpaan pribadi memberikan kepada manusia suatu martabat, yang membuat masa hidup sekarang ini sangat berharga dan suci.