Kapan dan Dimana Keselamatan itu?


Sebelum menjawab pertanyaan ‘Kapan dan Dimana Keselamatan itu?’ ada baiknya kita menanggapi suatu ejekan yang telah lama dikenal menyinggung dan tanggapan atas ejekan ini berhubungan dengan pertanyaan di atas. Ejekan tersebut dikenal dengan kalimat “pie in the sky bye and bye” yang muncul pada tahun 1911 untuk menyinggung secara langsung kepada kelompok ‘bala keselamatan’ (salvation army) yaitu gerakan kristen pada masa itu. Ejekan itu secara tidak langsung juga mengejek ajaran Kristen yang mengajarkan bahwa: perjalanan manusia dalam hidup yang taat kepada Tuhan terutama yang pada saat berat/pahit/susah akan mendapat upahnya yaitu kehidupan kekal setelah melewati kehidupan di dunia. Ada dua tanggapan mengenai ejekan ini;

pertama (seperti yang pernah dikatakan oleh C. S. Lewis); Entah ejekan tersebut benar atau tidak, namun pertanyaan yang sebenarnya adalah ‘apakah  upah (atau ‘pie’ yang diejekan itu) itu ada?’.

Kedua, ‘di langit’ seperti yang dikatakan pada ejekan ‘in the sky bye and bye’ sebenarnya bukanlah hanya satu arti saja, melainkan yang dimaksud ‘di langit’ itu merujuk ke ‘Kerajaan Surga’, ‘Kerajaan Allah’, ‘Kehidupan Kekal’, ‘Rahmat’, ‘Dilahirkan kembali baru’, ‘Bangkit Kembali’, ‘Penciptaan Kembali’, atau ‘Hidup dalam Roh’, dimana semuanya itu merujuk ke hal yang sama yaitu Keselamatan. Dan Keselamatan itu dimulai sebelum kematian bukan setelah kematian. Untuk melihat ini, kita dapat membaca dan melihat keselarasan setiap bagian Kitab Perjanjian Baru yang menggunakan frasa  yang disebut diatas. Perhatikanlah konteks setiap waktu.

Kerajaan Surga saat ini bermula seperti benih; bermekar setelah mati menjadi tumbuhan yang tumbuh sempurna. Kerajaan Surga dimulai seumpama seperti janin spiritual yang masih dalam kandungan, dan ‘kematian’ bagi janin itu adalah kelahirannya sebagai bayi ke dunia yang lebih luas. Seperti janin, dia telah hadir sekarang, telah berdiam di dalam, telah menjadi bagian dari mahluk hidup, telah menjadi bagian dari keluarga, tapi dia belum mampu bertindak sebagian besar fungsi dan aksi yang akan terbentuk seiring dengan tahap hidupnya. Tapi janin dapat melakukan gerakan tertentu. Janin itu berlatih. Bahkan sebelum lahir, janin melakukan gerakan kaki, menelan, dan menggerakan tangan. Hidup adalah serangkaian latihan janin spiritual, serupa pada kehamilan yang merupakan rangkaian latihan janin fisik. (Perumpamaan ini bukanlah baru dibuat, tetapi berasal dari Kitab Suci: lihat Yohanes 16:21 dan Roma 8:22).

Janin yang kurang pengetahuan mungkin akan skeptis terhadap apa yang akan terjadi setelah kelahiran, dan janin tersebut akan berpendapat bahwa hidup di dalam kandungan sebagai latihan atau persiapan untuk kehidupan nanti setelah lahir seperti orang yang berkata “pie in the sky bye and bye”.

Gereja Masih Selalu dalam Perjalanan


Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan menuju Kerajaan Allah. Gereja masih dalam perjalanan. Penyadaran akan aspek historis Gereja ini perlu supaya kita bisa lebih bersifat terbuka dan rendah hati. Dalam perjalanan ini, Gereja masih mengalami jatuh bangun dan berjuang bersama semua manusia yang berkehendak baik membangun Kerajaan Allah itu. Gereja belumlah sempurna. Maka, “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga” (LG 48). Sekarang ini “kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm 8:24). Oleh karena itu dalam syahadat panjang dikatakan: “Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup di akhirat”. “Menantikan” tidak berarti bahwa kita masih ragu-ragu. Rumus dalam syahadat pendek menjelaskan hal itu.

Aku percaya akan
Roh Kudus,
Gereja Katolik yang kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.

Iman akan Roh Kudus, akan Gereja dan akan akhirat dijadikan satu. Dasar pengharapan kita bukanlah keinginan khayal, melainkan karya Roh dalam Gereja, dan kesadaran bahwa apa yang ada sekarang masih bersifat sementara: “Sekarang kita melihat suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (1Kor 13:12), dan iman bahwa “Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11).

Karya keselamatan Allah berjalan terus, sampai kepada kepenuhannya. Mulai dengan wafat dan kebangkitan Kristus, kemudian perutusan Roh Kudus, pembentukan Gereja, dan akhirnya “kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat”. Allah tidak mengingkari janji. “Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:24). Menantikan hidup di akhirat tidak lain dari “menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13). Menantikan akhirat berarti mengharapkan kepenuhan karya penyelamatan.