Apa maksud dari Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga”? Menghakimi atau Melindungi?

Minggu, 27 Agustus 2017

Dalam Bacaan I (Yesaya 22:19-23) digambarkan, bahwa kunci rumah raja yang kokoh akan diserahkan oleh Tuhan/Allah kepada Daud. Dalam Bacaan II (Roma 11: 33-36) Paulus menegaskan, bahwa segalanya berasal dari Allah, berada karena Allah dan ditujukan kepada Allah. Dalam Injil Matius hari ini Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…! Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga!” (Matius 16:13-20). Pemberitahuan dari Allah bahwa Yesus adalah Almasih sebagai Anak Allah hanya ditujukan kepada Simon Petrus (ay.17). Ia menjadi batu karang, di mana Yesus mendirikan Gereja-Nya (ay.18). Petrus adalah murid-Nya, yang otoritasnya di dalam Gereja di dunia ini diakui dan teguhkan di surga oleh Allah (ay.19).

Di dalam komunitas yang disebut Gereja, Kristus menduduki tempat utama. Tiada orang lain yang dapat menggantikan-Nya, para uskup tidak dan Sri Paus pun tidak. Petrus dan pengganti-penggantinya mendapat tugas dari Kristus sendiri untuk memelihara kerukunan di dalam Gereja-Nya dan mengusahakan cinta kasih persaudaraan. Dan seperti Yesus pula Petrus dan pengganti-panggantinya adalah hamba, pelayan semua orang, dan kita sesama saudara bertugas membantu dan melayani Gereja dan dunia. Kekuasaan Gereja adalah kekuatan pelayan untuk membantu semua bangsa. Semoga pertemuan kita ini mendorong kita untuk lebih bersatu, lebih rukun dan lebih melayani Gereja dan umat manusia.

 

BATU KARANG DAN KUNCI KERAJAAN SURGA

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.
Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut. Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks.
Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa. Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.(Romo Agustinus Gianto SJ)

Santo Petrus diserahi kunci Kerajaan Surga. “Kunci” merupakan simbol kekuasaan atau otoritas. Dengan menerima kuasa itu bukan berarti Petrus diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga dan siapa yang tidak. Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa kunci maksudnya berhak menafsirkan kehendak Allah dalam Kitab Suci.

Bagaimana hal ini dipahami? Ingat tulisan ini : “Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Dikutipan ini kita fokuskan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus, dan Petrus menafsirkan semua yang diketahui (bukanlah hasil pengetahuan manusia) berasal dari Allah.

Dengan demikian Petrus diberi kuasa untuk menyatakan bahwa sesuatu dilarang atau diperbolehkan, dipertahankan atau dibatalkan. Menentukan apa yang mengikat dan tidak mengikat, wajib dan tidak wajib. Semua itu dimaksudkan untuk melindungi seluruh jemaat dari kekuatan jahat dan dari kesesatan. (Romo Yohanes Gunawan Pr)

Semoga membantu menambah pemahaman kita…

Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Perjalanan mengenal Iman Katolik melalui tulisan Santo Ignasius

Ada sebuah cerita yang mengenai pengalaman perjalanan seorang pemuda yang menemukan Iman Katolik. Ia mengenal Yesus pertama kali ketika masih remaja, dan sejak itu dia memulai hidup dengan perasaan mantap, bahagia, dan bersemangat dalam pewartaan sebagai orang Kristen. Dan walaupun dia seorang Kristen non-katolik; dia tidak menolak ajaran-ajaran Gereja Katolik karena memang saat itu dia belum mengetahui banyak mengenai ajaran-ajaran Katolik, dan jika pun ada sedikit yang diketahui mengenai ajaran Katolik itu berasal dari sumber yang kurang memadai yaitu umat Katolik yang kurang mengetahui ajaran Katolik.

Pada suatu hari ada seorang temannya dari gereja yang sama (non-katolik) bertanya kepadanya: “Manakah yang lebih penting, Kitab Suci atau Tradisi?” Pertanyaan itu membuatnya tertegun lama, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sangat besar.

Dari pertanyaan itu dia mulai melakukan perjalanan mencari jawaban yang mengarahkan dia untuk membaca mengenai ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada awal dia memulai mengenal ajaran-ajaran Gereja Katolik, dia melakukan kesalahan fatal dan baru dia sadari kemudian setelah bergumul. Kesalahan yang dia sadari itu adalah dia tidak adil, tidak fair, ketika memulai mengenal ajaran Katolik. Dia akhirnya menyadari bahwa sebelum memulai mengenal ajaran Katolik dia harus membaca tulisan-tulisan dari penulis Katolik, ajaran Gereja Katolik Resmi, atau buku-buku dari pihak Katolik. Karena untuk menjadi “adil” mengetahui dia harus mendapati dari sumbernya dan memahami maksud yang sebenarnya dari pihak Katolik.

Ada satu tulisan yang membuat dia memantapkan keyakinannya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik adalah tulisan yang bersumber dari Gereja Perdana pada masa awal setelah Kitab Suci Perjanjian Baru. Sepenggal tulisan oleh Bapak Gereja Santo Ignasius, Uskup dari Antiokhia membuat dia yakin untuk mengikuti Gereja Katolik.

Santo Ignasius, Uskup Antiokhia.

Santo Ignasius dari Antiokhia semasa hidupnya yaitu sekitar tahun 35 hingga 107, merupakan murid dari Santo Yohanes Rasul (murid Yesus). Santo Yohanes Rasul adalah salah satu penulis penting dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga yang menuliskan Kitab Wahyu. Santo Yohanes Rasul lah yang dipercayakan kepadanya oleh Yesus, Maria Ibu Yesus; ketika Yesus memberikan wasiat untuk menyerahkan Maria Ibu Yesus kepada Santo Yohanes Rasul.

Tulisan-tulisan dari Santo Ignasius tidaklah terlalu banyak dan lengkap, namun bagi pemuda tersebut tulisan-tulisan itu bermakna sangat dalam.

Dia pernah membaca riwayat mengenai Santo Ignasius ketika dipenjara dan beberapa surat kepada komunitas Kristen dalam kapasitasnya sebagai Uskup Gereja. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru mengenai Santo Yohanes, Paulus, atau Petrus; Santo Ignasius juga mengajar, mengoreksi, dan memberi semangat kepada komunitas dengan otoritas kerasulan (Apostolik).

Di situ dia melihat bahwa tidak bisa mengabaikan ada kemiripan dengan realitas Gereja Katolik. Pada salah satu tulisan dari Santo Ignasius yaitu surat kepada umat Kristen di Filadelfia, sebuah kutipan yang sangat mempengaruhi pemuda tersebut berbunyi:

“Janganlah tersesat, saudara-saudaraku, jika ada yang ikut turut serta dalam skismatik (menciptakan atau menghasut perpecahan) ia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Berhati-hatilah, dan cermatlah mengamati prosesi Ekaristi. Karena hanya ada satu daging, daging dari Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu cawan yang berisikan Darah-Nya yang menyatukan kita menjadi satu, dan satu Altar, sama halnya ada satu Uskup bersama dengan pastoran dan diakon, beserta umat. Dengan cara seperti itu lah untuk semua apa pun yang kamu lakukan adalah sejalan dengan kehendak Tuhan.”

Perpecahan dan Bidaah

Mengapa kutipan dari surat Santo Ignasius itu begitu benar-benar meyakinkan pemuda itu sehingga dia memutuskan menjadi seorang Katolik?

Karena cara Santo Ignasius dengan kapasitasnya sebagai Uskup Antiokhia, menulis dengan kewenangan melawan pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan oleh Yesus. Dengan tegasnya Santo Ignasius memperingatkan bahwa bahwa siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Ketegasan tersebut memberikan gambaran luar biasa suatu demonstrasi otoritas, suatu praktek kewenangan, dan ini berarti bahwa Uskup-uskup pada Gereja jaman awal mempunyai sebuah kewenangan, kuasa yang berasal dari Kristus.

Dan hal yang diperingatkan oleh Santo Ignasius dalam suratnya, bahwa yang memisahkan diri dari persatuan umat yang bersama struktur kewenangan yang diturunkan oleh Yesus Kristus – dengan menegakkan pendapat pribadi dan menyimpang dari ajaran Gereja – adalah perbuatan yang sangat salah. Dengan demikian pemuda itu merasa jelas bahwa umat Kristen yang berpisah dari Gereja awal akan dianggap telah “keluar dari kasih” Kristus dan struktur otoritas yang telah didirikan oleh Kristus.

Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus

Selanjutnya, dia memahami lebih lagi tulisan dari Santo Ignasius yang secara tegas membahas mengenai Ekaristi sebagai “satu Tubuh Kristus” dan “satu Darah Kristus”.

Tulisan dari santo Ignasius mengenai ini tidak bisa disalahartikan.

Sama halnya seperti Bapa-bapa Gereja awal – dalam hal ini mereka sepakat dan satu suara – Santo Ignasius juga menulis apa yang Katolik maksud, secara teologi, “Kristus benar-benar hadir”.

Teologi “Kristus benar-benar hadir” dalam Ekaristi yang diajarkan oleh Gereja Katolik seperti yang ditulis juga oleh Santo Ignasius ternyata sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia pahami. Teologi “Kristus benar-benar hadir” menekankan bahwa Yesus Kristus sendiri benar-benar secara nyata dan mukjizat hadir dalam elemen-elemen Ekaristi yaitu Tubuh Kristus dalam rupa Roti, Darah Kristus dalam rupa Anggur. Dalam Teologi ini, Roti dan Anggur bukan simbol, dan kehadiran Kristus bukan diartikan secara simbolik dalam perayaan Ekaristi, namun “benar-benar hadir”.

Hal ini menambah keyakinan pemuda itu untuk menjadi Katolik karena melalui tulisan dari Santo Ignasius, dia seperti menemukan salah satu ajaran Katolik juga, yang sangat jelas sudah ada sejak awal Gereja didirikan oleh Kristus.

Satu Uskup

Perjalanan pengenalan ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh pemuda itu kemudian menemukan satu topik yang agak berbeda dengan apa sebenarnya dia pahami ketika masih sebagai orang Kristen non-katolik. Dalam benaknya pemuda itu, dia membayangkan bahwa Gereja Perdana, gereja masa awal kekristenan berdasarkan baca Kitab Para Rasul. Pemuda itu selama ini mengira, dan juga karena diajari oleh pembina Kristen non-katolik bahwa Gereja Perdana adalah kumpulan gereja-gereja dalam komunitas rumah yang tidak terlalu tertata rapi terstruktur, dimana pengikut Kristus berkumpul dalam persaudaraan untuk mempelajari Kitab Suci.

Pemuda itu baru menyadari memang ada sebagian pemahamanya yang benar namun ada ganjalan yang agak mengganggu karena setelah mempelajari tulisan dari Santo Ignasius.

Dalam tulisan-tulisan Santo Ignasius ada sebuah struktur otoritas atau kewenangan, dan seperti kutipan dari tulisan surat Santo Ignasius kepada jemaat Filadelfia adalah salah satu contoh yang sangat jelas.

Santo Ignasius melalui surat itu menekankan bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah satu Struktur Otoritas yang berasal dan melalui Kristus.

Gambaran dalam tulisan Santo Ignasius bermakna: Hanya ada satu Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus – dan hanya karena ada satu kurban persembahan, maka hanya ada satu Uskup, dan di bawah Uskup adalah pengajar dan pembantu yang ditunjuk oleh Uskup tersebut. Dari gambaran itulah pemahaman Pemuda tersebut bertambah dan menyadari bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah Uskup, selayaknya di bawah Kristus (Imam Agung), atau dalam pemahaman lain “di bawah Kristus dalam persatuan dengan Uskup”.

Pemuda itu baru memahami bahwa apa yang ditulis Santo Ignasius sangat mirip dan sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang ditemui dalam doa Syukur Agung (dapat dibaca juga dalam buku Madah Bakti dan Puji Syukur):

“Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami … dan Uskup kami … serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”

Sekian sepenggal kisah dari pengalaman perjalanan seorang Pemuda hingga menemukan iman Katolik.

Salam, Tuhan memberkati.

Mitos tentang Indulgensi

Sumber: Terjemahan bebas dari www.catholic.com- Myths about Indulgences

Indulgensi. Kata yang mungkin sangat membangkitkan lebih banyak kesalahpahaman daripada pengajaran yang lain dalam teologi Katolik. Orang-orang yang menyerang Gereja bersandar -dan mengambil keuntungan- dari ketidaktahuan baik orang-orang Katolik dan non-Katolik atas penggunaan indulgensi.

Apa itu indulgensi? Gereja menjelaskan,”Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif (KGK 1471)“.

Langkah pertama dalam menjelaskan indulgensi adalah mengetahui apa itu indulgensi. Langkah kedua ialah menjelaskan apa yang bukan indulgensi. Berikut tujuh mitos yang umum tentang indulgensi:

Mitos 1: Seseorang dapat membeli jalan keluar dari neraka dengan indulgensi.

Tuntutan ini tidak berdasar. Karena indulgensi menghapuskan siksa-siksa sementara, indulgensi tidak dapat menghapus siksa abadi di neraka. Sekali seseorang masuk neraka, tidak satu indulgensi pun akan pernah merubah fakta itu. Satu-satunya cara untuk menghindari neraka adalah dengan memohon rahmat Tuhan yang abadi selama masih hidup. Setelah mati, nasib abadi seseorang ditentukan (Ibr 9:27).

Mitos 2: Seseorang dapat membeli indulgensi untuk dosa-dosa yang belum dilakukan.

Gereja selalu mengajarkan bahwa indulgensi tidak berlaku pada dosa-dosa yang belum dilakukan. Catholic Encyclopedia mencatat, “Indulgensi bukan sebuah izin untuk berbuat dosa, atau bukan pengampunan untuk dosa yang akan datang; keduanya tidak dapat diberikan oleh kuasa apa pun.”

Mitos 3: Seseorang dapat “membeli pengampunan” dengan indulgensi.

Definisi indulgensi mengisyaratkan bahwa pengampunan sudah terjadi:” Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni”. Indulgensi tidak mengampuni dosa. Indulgensi berkaitan dengan siksa-siksa(hukuman) yang masih harus dijalani setelah dosa-dosa diampuni.

Mitos 4: Indulgensi diciptakan sebagai cara Gereja mengumpulkan uang.

Indulgensi berkembang dari refleksi atas sakramen tobat. Indulgensi adalah sebuah cara memperpendek penebusan dari disiplin sakramental dan telah digunakan selama berabad-abad sebelum kemunculan masalah yang berkaitan dengan uang.

Mitos 5: Indulgensi akan memperpendek waktu di Purgatorium oleh sejumlah hari yang tetap.

Jumlah hari yang dipakai berkait dengan indulgensi merupakan referensi terhadap periode penebusan yang mungkin seseorang jalani selama hidup di bumi. Gereja Katolik tidak mengklaim mengetahui tentang berapa lama di Purgatorium pada umumnya, sedikit banyak dalam kasus orang tertentu.

Mitos 6: Seseorang dapat membeli indulgensi.

Konsili Trent memulai perubahan besar pada praktek pemberian indulgensi, dan karena penyimpangan-penyimpangan sebelumnya,”tahun 1567 Paus Pius V membatalkan semua pemberian indulgensi yang menyertakan biaya dan transaksi keuangan lainnya”(Catholic Encyclopedia). Aksi ini membuktikan keseriusan Gereja untuk menghilangkan penyimpangan dari pelaksanaan indulgensi.

Mitos 7: Seseorang dulu dapat membeli indulgensi

Orang tidak pernah dapat “membeli” indulgensi. Skandal keuangan yang menyertai indulgensi, skandal yang memberikan Martin Luther alasan untuk kesesatannya, melibatkan derma-indulgensi yang memberikan derma untuk beberapa yayasan atau dana amal yang digunakan sebagai kesempatan untuk memberi indulgensi. Tidak ada penjualan indulgensi secara ikhlas. Catholic Encyclopedia menyatakan, “Mudah untuk melihat bagaimana penyimpangan merambat masuk. Di antara karya-karya baik yang mungkin didorong dengan kondisi yang dibuat dari sebuah indulgensi, sedekah akan secara alamiah diadakan pada suatu tempat yang mencolok… Baik untuk mengamati bahwa dalam tujuan-tujuan ini pada dasarnya tidaklah jahat. Memberikan uang untuk Tuhan atau orang miskin merupakan aksi terpuji, dan, apabila dilakukan dengan motif yang benar, tentu itu akan dihargai.”

Mampu menjelaskan ketujuh mitos ini akan menjadi satu langkah besar untuk menolong orang lain dalam memahami indulgensi.

Nantikan tulisan mengenai “Memahami lebih jauh tentang indulgensi” pada tulisan yang akan datang.

Salam.

Memperingati Santa Perpetua dan Felicitas (martir)

Prapaskah: 7 Maret 2015
Kalender lama: Santo Tomas Aquinas (doktor)

2015-03-07_16h32_47 2015-03-07_16h33_14

Kisah mengenai Santa Perpetua dan Felicitas merupakan salah satu kisah yang terbaik dari sejarah Gereja. Kisah itu menunjukkan secara jelas ketaatan yang luar biasa dari kedua wanita ini ketika mereka mengetahui bahwa mereka dijatuhi hukuman mati dengan dijadikan mangsa binatang buas. Ketika mereka berdua ketakutan dan tidak berdaya, mereka hanya bisa mengandalkan iman mereka akan kuasa Kristus. Dengan ketaatan mereka tetap percaya bersama Kristus yang berjuang bersama mereka, mereka berdua menghadapi kemartiran sebagai perayaan kemenangan, perayaan kemenangan yang diundang oleh Kristus.

Perpetua dan Felicitas adalah dua perempuan Kristen yang mati sebagai martir pada abad ketiga dan dinobatkan sebagai Santa. Mereka berdua berasal dari Kartago, Afrika Utara. Saat itu, kekuasaan politik dipegang kaisar Romawi Septimus Severus yang mewajibkan seluruh penduduk di setiap wilayah kekuasaan Romawi untuk menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi.

Perpetua adalah seorang dari keluarga bangsawan berusia 22 tahun yang telah menikah, sementara Felicitas adalah budaknya yang sedang mengandung. Felicitas kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Perpetua dan Felicitas mengikuti katekisasi dan dibaptis di dalam penjara. Perpetua juga harus menyusui bayinya di dalam penjara.

Perpetua dan Felicitas menolak menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi sebagaimana diperintahkan oleh kaisar. Ayah dari Perpetua sudah berkali-kali membujuknya untuk mengikuti perintah tersebut supaya ia selamat, namun Perpetua menolak. Konsekuensinya, mereka harus menjalani hidupnya di dalam penjara. Selain itu, mereka juga disiksa dengan dimasukkan ke dalam sebuah arena melawan binatang buas. Mereka terluka hebat. Konon, ketika Felicitas akan diterkam oleh binatang buas, Perpetua melemparkan jubahnya ke arah binatang buas tersebut, lalu seketika binatang tersebut mundur dan tidak ingin melawan mereka lagi. Akhirnya, mereka menjalani penderitaan terakhir, yaitu dipancung dengan pedang. Tepat pada 7 Maret 203 (Perpetua genap berusia 26 tahun), mereka mati martir dan dikenang sebagai santa sampai saat ini oleh Gereja Katolik.

Mengapa Santo Petrus menyangkal Yesus?

cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy

Satu peristiwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling sering kurang dipahami oleh banyak orang adalah Penyangkalan terhadap Yesus oleh Petrus. Tidak sedikit orang yang mengomentari kejadian ini menunjukkan ketakutan — kepengecutan dari murid Yesus yaitu Petrus yang menyangkal Yesus agar diri sendiri (Petrus) tidak tertangkap.

Penolakan itu sebenarnya untuk alasan yang sangat berbeda.

Kita dapat menelaah kembali dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.

Santo Petrus sama halnya seperti murid Yesus lainnya meyakini bahwa Yesus keturunan Raja Daud adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan pagan. Petrus berharap Yesus untuk memimpin orang-orang Yahudi untuk kemenangan atas pendudukkan oleh bangsa Romawi.

Ketika Yesus mengatakan kepada Petrus yang adalah perlu bagi-Nya untuk menderita dan mati, percakapan seperti ini:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 16:21-25

dan Perjamuan Terakhir, Yesus dan Santo Petrus memiliki percakapan terakhir mereka sebelum kematian Yesus. Yesus menubuatkan bahwa:

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Matius 26:31-34

“Tergoncang” yang dimaksud disini adalah keadaan para murid-murid Yesus yang mulai kehilangan keyakinan dan meninggalkan Yesus yang seharusnya mereka percaya dan taati.

Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus dan beberapa murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Lukas 22:38 menjelaskan bahwa para murid memiliki dan membawa dua pedang. Ketika mereka dikepung oleh Penjaga Bait Suci – setidaknya ada selusin tentara bersenjata – datang untuk menangkap Yesus, hanya satu murid Yesus yang mengangkat pedang dalam pembelaannya: yaitu Petrus (Yohanes 18:10). Murid lainnya yang juga memegang pedang melarikan diri. Petrus sendiri lah yang mengangkat senjata dan melawan sekelompok tentara profesional untuk membela Yesus. Saat itu hanya karena Yesus menyuruhnya meletakkan pedang maka Petrus mau mundur (Mat 26:52). Tindakan Petrus ini hampir tidak dapat dikatakan tindakan pengecut yang takut untuk menyelamatkan keselamatan pribadinya.

Begitu juga tindakan yang dilakukan Petrus setelah kejadian itu, tidak menunjukkan seorang pengecut. Ketika murid lainnya bersembunyi dalam ketakutan, Santo Petrus dan Santo Yohanes mengikuti kerumunan orang yang membawa Yesus ke rumah Imam Besar (Yohanes 18: 15). Mengapa Petrus mengikuti mereka? Apakah dia berniat untuk bersaksi atas nama Yesus, membela Yesus? TIDAK! Dia merahasiakan identitas dirinya sendiri. Apakah dia takut ditangkap? TIDAK! Sebab jika Petrus takut ditangkap, ia tidak akan mengikuti Yesus sepanjang jalan ke rumah Imam. Tindakan yang Petrus ambil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Satu-satunya penjelasan yang logis untuk tindakan yang Petrus lakukan adalah bahwa dia ada di sana menunggu kesempatan untuk membebaskan Yesus secara sembunyi-sembunyi atau dengan kekerasan. Dia percaya Yesus sebagai Raja Israel yang sejati dan Petrus siap untuk berjuang untuk membebaskan Yesus sehingga Yesus bisa menggulingkan Roma dan Pemerintahan boneka mereka di Yudea.

Yesus sendiri mengatakan kepada kita sesuatu yang penting:

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yohanes 18:36

Petrus bertindak PERSIS seperti tindakan seorang hamba yang setia kepada rajanya (seperti raja dunia lainya).

Tetapi untuk melakukan ini, Petrus harus melakukan dengan penyamaran. Karena jika semua orang tahu siapa dia, dia tidak akan bisa bertindak diam-diam. Jadi, ketika orang-orang mulai mengenali dia sebagai salah satu pengikut Yesus, Petrus harus menyangkalnya. Petrus tidak bisa menyelamatkan Yesus jika identitasnya diketahui. Bagi Petrus itulah tugasnya sebagai bentuk kesetiaannya kepada rajanya, yaitu untuk menyamarkan dirinya agar dapat membebaskan Yesus. Dan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan pada penyangkalan Petrus yang terakhir kali:

Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Matius 26:73-75

Mengapa Petrus kemudian pergi keluar dan meninggalkan rencananya? Mengapa dia menangis? Apakah itu karena dia takut. Tidak.

Petrus menyadari bahwa Yesus telah memperingatkan bahwa Yesus bukan Mesias Penakluk, Anak Daud, tetapi Mesias yang menderita sengsara, Anak Yusuf, dari Yahudi yang akan menderita dan mati bagi umat-Nya seperti dikatakan dalam Kitab Yesaya 53. Petrus berpegangan impian mesianis yang berkuasa atas monarki dan kemuliaan, namun impian bagi Petrus tidak digenapi pada saat itu.

Dilema yang dialami oleh Petrus sangat rumit karena bagi Petrus penting baginya untuk menyangkal Tuhannya dalam rangka untuk menyelamatkan-Nya. Petrus menyadari kontradiksi dalam hal itu. Jika Petrus benar-benar percaya kepada Yesus, ia harus membiarkan Yesus menderita dan mati. Satu-satunya yang dapat menggganggu pikiran Petrus untuk meng-intervensi kejadian penangkapan Yesus adalah jika ia tidak percaya semua hal yang telah Yesus katakan kepadanya.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini …” Itulah sebabnya para pengikut Yesus tidak bisa berjuang untuk membebaskan Yesus.

Dan Petrus menyadari bahwa rencananya untuk menyelamatkan Kristus akan menjadi kehancuran rencana Allah. Dan untuk melakukannya rencananya itu Petrus akan menolak imannya sendiri dalam Yesus. Dia menyadari seberapa dekatnya, seberapa ‘hampirnya’, ia untuk menjadikan semua itu sia-sia.

Tapi bagi Petrus semua sudah terlambat. Petrus sadar bahwa ia telah menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam budaya Semit, tiga kali penolakan berarti tidak bisa ditarik kembali. Petrus yang telah menjadi teman Yesus dan telah dianggap sebagai tangan kanan Yesus, telah menyangkal Yesus selamanya. Tidak heran Petrus menangis tersedu-sedu.

Tapi kemudian setelah beberapa minggu ia kembali ke penangkapan ikan – kembali menjadi nelayan menjala ikan, Petrus saat itu sedang mengalami hari penangkapan ikan yang buruk (Yohanes 21), dan ada seseorang di pinggir pantai menyuruhnya untuk menebar jalanya sekali lagi di sisi kanan perahu. Ketika Petrus melakukannya, jalanya nyaris terlalu berat dipenuhi ikan untuk ditarik. Hal ini pernah terjadi sekali sebelumnya, ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus (Lukas 5: 4). Petrus teringat dan segera mengenali tuannya, dan secara spontan Petrus melompat ke dalam air dan berenang ke pantai.

Dalam pertemuan terakhir itu, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus mengatakan “Ya, Tuhan, kau tahu aku mencintaimu” sebanyak tiga kali.

Itu seperti mereka mulai dari lagi dari awal. Dengan deklarasi tiga kali ini, tiga penyangkalan Petrus dibatalkan. Dan Gembala yang Baik, bernama Santo Petrus menjadi vikaris-Nya, sebagai SATU gembala dari kawanan SATU (Yohanes 10:16).

Ada peringatan dan pelajaran di kejadian ini. Sering kali kita berusaha mencari ‘tuhan’ yang diciptakan menurut gambar kita sendiri. Sulit untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan yang Sejati. Tapi kesetiaan kepada-Nya adalah ukuran dari kebijaksanaan sejati. Dan Allah tidak terikat pada pikiran kita, tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh kita. Tetapi Allah itu baik dan benar dan apa yang Allah nyatakan kepada kita pasti bisa dipercaya.

Banyak dari kita belajar dengan cara yang sulit seperti Santo Petrus alami. Inilah salah satu alasan mengapa kita menghormati orang-orang kudus, para Santo dan Santa: adalah untuk mempelajari kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Mari kita belajar tunduk pada kehendak Allah dari pengalaman Santo Petrus.

Salam…

Api Penyucian

Menurut banyak orang sebetulnya ada tiga pintu: surga, neraka dan api penyucian. Karena mereka menganggap diri kurang baik untuk surga, dan juga tidak mau masuk neraka, maka api penyucian dipandang sebagai pintu yang “normal”. Tetapi api penyucian pun bukan pintu, juga bukan kemungkinan ketiga di samping surga dan neraka. Dalam bahasa resmi Gereja juga tidak disebut “api”, hanya “pencucian” (purgatorium) saja. Yang dimaksud ialah adanya tahap terakhir dalam proses pemurnian pada perjalanan kepada Allah.

Lalu mungkin ada dari kalangan luar gereja Katolik yang tidak familiar dengan istilah Purgatory atau Api Penyucian mempunyai batu sandungan:

Dapatkah kamu mejelaskan apakah itu Purgatory atau Api Penyucian? dan dimana istilah itu tertulis di Kitab Suci? Karena menurut pemahaman saya, Purgatory  atau Api Penyucian itu hanya mulai dikenal sejak Gereja Katolik menjadikannya Dogma pada Konsili di Trent pada abad ke-16

Tanggapan atas pertanyaan itu ada 2 bagian: Bagian pertama: Ya, memang kata ‘Purgatory’ atau ‘Api Penyucian’ atau terjemahan lainnya tidak ada di dalam Kitab Suci. Sama halnya dengan Trinity (Tritunggal, Trinitas), Natal, dan Ekaristi. Dan bagian kedua: Penekanan bahwa istilah Purgatory / Api penyucian ‘baru ditemukan’ menjadi dogma ajaran Gereja Katolik di Konsili Trent pada abad ke-16 adalah sangat dipaksakan; penekanan ini akan terdengar sangat konyol jika dibandingkan dengan pemahaman berikut: Bahwa istilah cell / sel pertama kali diperkenalkan oleh Robert Hooke pada tahun 1660-an, bukan berarti masa sebelum tahun 1660 pada tubuh kita tidak ada cell / sel. 😛

Kitab suci bukanlah sebuah kitab suci yang sangat sederhana dan mudah sehingga kita dapat menemukan semua istilah tertentu yang kita cari.

Nah, faktanya memang kata tersebut tidak terdapat di dalam Kitab Suci bukan berarti bahwa istilah atau kata tersebut tidak menunjukkan suatu yang benar ada di dalam Kitab Suci. Dengan demikian yang dapat kita pahami bahwa istilah Purgatory / Api penyucian walaupun tidak ada di dalam Kitab Suci namun substansi atau esensi dari doktrin Api Penyucian benar-benar ada di dalam Kitab suci.

Seperti di ayat berikut:

Matius 12:32 : Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.

Pada ayat di atas Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa ada dosa-dosa yang akan diampuni di dunia yang akan datang. Kita mengetahui bahwa dosa tidak dapat diampuni di Neraka; dan tidak perlu lagi pengampunan untuk dosa di Surga karena kita tidak ada dosa supaya dapat masuk Surga. Oleh karena itu menurut perkataan Yesus menunjukkan bahwa ada tempat lain dimana dosa DAPAT diampuni setelah masa di dunia yang kita hidupi ini.

Dan juga di ayat berikut:

1Korrintus 3:11-15 : Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

Kira-kira apa yang Rasul maksudkan? Dia tidak mengatakan hal mengenai Neraka, karena dari ayat tersebut jelas mengatakan bahwa orang yang melalui api tersebut akan diselamatkan, sedangkan bagi yang telah di dalam Neraka akan binasa selamanya, dan begitu juga bagi yang telah ada di Surga akan hanya suka cita dan semua kesedihan akan dihapus. [Wahyu 21:4]

Dan juga di ayat berikut:

Matius 5:25-26 : Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Dari semua ayat Kitab Suci di atas berisi mengenai suatu “tempat” yang bukan Surga, dan juga bukan Neraka dimana proses pemurnian akan berlangsung sebelum memperoleh Surga. Kita menyebutya ‘Api Penyucian’ atau Purgatory.

Kiranya mungkin bahwa proses pemurnian itu belum selesai pada saat kematian. Maka kematian sendiri dapat menjadi pengalaman pemurnian itu. Pada saat kematian manusia melihat dirinya sendiri dalam keadaan yang sesungguhnya. Khususnya karena kematian itu berarti penyerahan kepada Allah, maka ketidakmurnian dialami sebagai ketidakcocokan yang menyakitkan. Apa yang lazim disebut “pengadilan”, dialami sebagai siksaan dan juga pemurnian. Kiranya itulah yang dimaksudkan dengan “api penyucian” yang terjadi pada saat kematian sendiri. Doa untuk jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah doa untuk orang yang pada saat kematian sebetulnya belum siap menghadap Tuhan. Orang itu meninggal dalam persekutuan iman, yang disebut Gereja. Maka sudah sewajarnyalah bahwa “persekutuan para kudus” juga dihayati dalam doa untuk saudara-saudara itu, yang masih pada perjalanan menuju Tuhan. Api penyucian bukanlah “neraka sementara” (dengan api yang tidak begitu panas). Api penyucian ialah pengalaman sedalam-dalamnya, bahwa seseorang “mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang dilakukan” di hadapan Tuhan (Zef 3:11).

Selanjutnya mengenai Api Penyucian dalam Katekismus Gereja Katolik akan menyusul…