Perjalanan mengenal Iman Katolik melalui tulisan Santo Ignasius

Ada sebuah cerita yang mengenai pengalaman perjalanan seorang pemuda yang menemukan Iman Katolik. Ia mengenal Yesus pertama kali ketika masih remaja, dan sejak itu dia memulai hidup dengan perasaan mantap, bahagia, dan bersemangat dalam pewartaan sebagai orang Kristen. Dan walaupun dia seorang Kristen non-katolik; dia tidak menolak ajaran-ajaran Gereja Katolik karena memang saat itu dia belum mengetahui banyak mengenai ajaran-ajaran Katolik, dan jika pun ada sedikit yang diketahui mengenai ajaran Katolik itu berasal dari sumber yang kurang memadai yaitu umat Katolik yang kurang mengetahui ajaran Katolik.

Pada suatu hari ada seorang temannya dari gereja yang sama (non-katolik) bertanya kepadanya: “Manakah yang lebih penting, Kitab Suci atau Tradisi?” Pertanyaan itu membuatnya tertegun lama, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sangat besar.

Dari pertanyaan itu dia mulai melakukan perjalanan mencari jawaban yang mengarahkan dia untuk membaca mengenai ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada awal dia memulai mengenal ajaran-ajaran Gereja Katolik, dia melakukan kesalahan fatal dan baru dia sadari kemudian setelah bergumul. Kesalahan yang dia sadari itu adalah dia tidak adil, tidak fair, ketika memulai mengenal ajaran Katolik. Dia akhirnya menyadari bahwa sebelum memulai mengenal ajaran Katolik dia harus membaca tulisan-tulisan dari penulis Katolik, ajaran Gereja Katolik Resmi, atau buku-buku dari pihak Katolik. Karena untuk menjadi “adil” mengetahui dia harus mendapati dari sumbernya dan memahami maksud yang sebenarnya dari pihak Katolik.

Ada satu tulisan yang membuat dia memantapkan keyakinannya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik adalah tulisan yang bersumber dari Gereja Perdana pada masa awal setelah Kitab Suci Perjanjian Baru. Sepenggal tulisan oleh Bapak Gereja Santo Ignasius, Uskup dari Antiokhia membuat dia yakin untuk mengikuti Gereja Katolik.

Santo Ignasius, Uskup Antiokhia.

Santo Ignasius dari Antiokhia semasa hidupnya yaitu sekitar tahun 35 hingga 107, merupakan murid dari Santo Yohanes Rasul (murid Yesus). Santo Yohanes Rasul adalah salah satu penulis penting dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga yang menuliskan Kitab Wahyu. Santo Yohanes Rasul lah yang dipercayakan kepadanya oleh Yesus, Maria Ibu Yesus; ketika Yesus memberikan wasiat untuk menyerahkan Maria Ibu Yesus kepada Santo Yohanes Rasul.

Tulisan-tulisan dari Santo Ignasius tidaklah terlalu banyak dan lengkap, namun bagi pemuda tersebut tulisan-tulisan itu bermakna sangat dalam.

Dia pernah membaca riwayat mengenai Santo Ignasius ketika dipenjara dan beberapa surat kepada komunitas Kristen dalam kapasitasnya sebagai Uskup Gereja. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru mengenai Santo Yohanes, Paulus, atau Petrus; Santo Ignasius juga mengajar, mengoreksi, dan memberi semangat kepada komunitas dengan otoritas kerasulan (Apostolik).

Di situ dia melihat bahwa tidak bisa mengabaikan ada kemiripan dengan realitas Gereja Katolik. Pada salah satu tulisan dari Santo Ignasius yaitu surat kepada umat Kristen di Filadelfia, sebuah kutipan yang sangat mempengaruhi pemuda tersebut berbunyi:

“Janganlah tersesat, saudara-saudaraku, jika ada yang ikut turut serta dalam skismatik (menciptakan atau menghasut perpecahan) ia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Berhati-hatilah, dan cermatlah mengamati prosesi Ekaristi. Karena hanya ada satu daging, daging dari Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu cawan yang berisikan Darah-Nya yang menyatukan kita menjadi satu, dan satu Altar, sama halnya ada satu Uskup bersama dengan pastoran dan diakon, beserta umat. Dengan cara seperti itu lah untuk semua apa pun yang kamu lakukan adalah sejalan dengan kehendak Tuhan.”

Perpecahan dan Bidaah

Mengapa kutipan dari surat Santo Ignasius itu begitu benar-benar meyakinkan pemuda itu sehingga dia memutuskan menjadi seorang Katolik?

Karena cara Santo Ignasius dengan kapasitasnya sebagai Uskup Antiokhia, menulis dengan kewenangan melawan pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan oleh Yesus. Dengan tegasnya Santo Ignasius memperingatkan bahwa bahwa siapa pun yang berjalan di jalan sesat, ia telah berada di luar dari kasih dan pengorbanan sengsara Yesus. Ketegasan tersebut memberikan gambaran luar biasa suatu demonstrasi otoritas, suatu praktek kewenangan, dan ini berarti bahwa Uskup-uskup pada Gereja jaman awal mempunyai sebuah kewenangan, kuasa yang berasal dari Kristus.

Dan hal yang diperingatkan oleh Santo Ignasius dalam suratnya, bahwa yang memisahkan diri dari persatuan umat yang bersama struktur kewenangan yang diturunkan oleh Yesus Kristus – dengan menegakkan pendapat pribadi dan menyimpang dari ajaran Gereja – adalah perbuatan yang sangat salah. Dengan demikian pemuda itu merasa jelas bahwa umat Kristen yang berpisah dari Gereja awal akan dianggap telah “keluar dari kasih” Kristus dan struktur otoritas yang telah didirikan oleh Kristus.

Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus

Selanjutnya, dia memahami lebih lagi tulisan dari Santo Ignasius yang secara tegas membahas mengenai Ekaristi sebagai “satu Tubuh Kristus” dan “satu Darah Kristus”.

Tulisan dari santo Ignasius mengenai ini tidak bisa disalahartikan.

Sama halnya seperti Bapa-bapa Gereja awal – dalam hal ini mereka sepakat dan satu suara – Santo Ignasius juga menulis apa yang Katolik maksud, secara teologi, “Kristus benar-benar hadir”.

Teologi “Kristus benar-benar hadir” dalam Ekaristi yang diajarkan oleh Gereja Katolik seperti yang ditulis juga oleh Santo Ignasius ternyata sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia pahami. Teologi “Kristus benar-benar hadir” menekankan bahwa Yesus Kristus sendiri benar-benar secara nyata dan mukjizat hadir dalam elemen-elemen Ekaristi yaitu Tubuh Kristus dalam rupa Roti, Darah Kristus dalam rupa Anggur. Dalam Teologi ini, Roti dan Anggur bukan simbol, dan kehadiran Kristus bukan diartikan secara simbolik dalam perayaan Ekaristi, namun “benar-benar hadir”.

Hal ini menambah keyakinan pemuda itu untuk menjadi Katolik karena melalui tulisan dari Santo Ignasius, dia seperti menemukan salah satu ajaran Katolik juga, yang sangat jelas sudah ada sejak awal Gereja didirikan oleh Kristus.

Satu Uskup

Perjalanan pengenalan ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh pemuda itu kemudian menemukan satu topik yang agak berbeda dengan apa sebenarnya dia pahami ketika masih sebagai orang Kristen non-katolik. Dalam benaknya pemuda itu, dia membayangkan bahwa Gereja Perdana, gereja masa awal kekristenan berdasarkan baca Kitab Para Rasul. Pemuda itu selama ini mengira, dan juga karena diajari oleh pembina Kristen non-katolik bahwa Gereja Perdana adalah kumpulan gereja-gereja dalam komunitas rumah yang tidak terlalu tertata rapi terstruktur, dimana pengikut Kristus berkumpul dalam persaudaraan untuk mempelajari Kitab Suci.

Pemuda itu baru menyadari memang ada sebagian pemahamanya yang benar namun ada ganjalan yang agak mengganggu karena setelah mempelajari tulisan dari Santo Ignasius.

Dalam tulisan-tulisan Santo Ignasius ada sebuah struktur otoritas atau kewenangan, dan seperti kutipan dari tulisan surat Santo Ignasius kepada jemaat Filadelfia adalah salah satu contoh yang sangat jelas.

Santo Ignasius melalui surat itu menekankan bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah satu Struktur Otoritas yang berasal dan melalui Kristus.

Gambaran dalam tulisan Santo Ignasius bermakna: Hanya ada satu Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus – dan hanya karena ada satu kurban persembahan, maka hanya ada satu Uskup, dan di bawah Uskup adalah pengajar dan pembantu yang ditunjuk oleh Uskup tersebut. Dari gambaran itulah pemahaman Pemuda tersebut bertambah dan menyadari bahwa umat Kristen harus bersatu, di bawah Uskup, selayaknya di bawah Kristus (Imam Agung), atau dalam pemahaman lain “di bawah Kristus dalam persatuan dengan Uskup”.

Pemuda itu baru memahami bahwa apa yang ditulis Santo Ignasius sangat mirip dan sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang ditemui dalam doa Syukur Agung (dapat dibaca juga dalam buku Madah Bakti dan Puji Syukur):

“Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami … dan Uskup kami … serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu”

Sekian sepenggal kisah dari pengalaman perjalanan seorang Pemuda hingga menemukan iman Katolik.

Salam, Tuhan memberkati.

Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!

Katolik dan uraian biblis Protestan mempunyai penekanan yang sama pada hal Kebangkitan badan Yesus Kristus secara harfiah. Namun untuk kesekian kalinya lagi, hanya Katolik yang mengikuti alur tersebut, konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus Kristus. Konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus adalah Kehadiran Yesus Kristus secara nyata, kehadiran badan-Nya yang telah bangkit sebenar-benarnya.

Pengikut Kristus (umat kristen) tidak menyatakan begitu saja bahwa “Kristus telah bangkit”, yang maknanya kejadian masa lampau, melainkan menyatakan “Kristus bangkit”, dengan makna bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu masih berlangsung dan terjadi pada saat ini. Dan konsekuensi Kebangkitan badan Yesus Kristus tersebut bukan hanya terhadap masa depan setelah akhir dari kehidupan kita, tetapi juga pada saat ini, saat hidup kita masih berlangsung kita bertemu dengan Dia (Yesus Kristus) dalam Ekaristi, dimana Dia dengan “tubuh dan darah, jiwa dan keilahian” hadir sebenar-benarnya, total, penuh dan secara harfiah nyata.

Jika doktrin ini tidak benar, maka Katolik dapat dianggap umat yang terbodoh di dunia dan yang paling menghujat Tuhan, karena membungkuk kepada persembahan roti dan anggur, tidak dapat membedakan ciptaan dan Pencipta – bahkan juga tidak dapat membedakan antara makanan (roti dan anggur) dengan Allah! Tetapi jika doktrin ini benar, maka sebagian besar umat Protestan yang tidak mempercayai kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi telah mengabaikan momen pertemuan dan kesatuan dalam kehidupan ini yang paling mendekati,  totalitas, dan paling intim, dengan Allah.

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

(Luk 22:19-20)

Bagi siapapun yang penuh semangat dalam mengasihi Yesus Kristus, inti dari doktrin kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi tidak lah sebanyak dan sekompleks argumen-argumen teologi untuk doktrin ini; melainkan yang paling penting bagi mereka adalah Eksistensi, Kehadiran, konsekuensi spirituality dari fakta bahwa: Kristus benar-benar hadir di sini, secara keseluruhan, secara total, secara literal! Yesus Kristus secara nyata hadir dalam Ekaristi. Tubuh dan Darah Kristus yang telah terpisah di Salib, dan di dalam Misa (secara simbolik); yang kemudian dihadirkan kembali untuk sebagai persembahan, persembahan yang telah dipersembahkan oleh Yesus Kristus sendiri – satu kali dan untuk selamanya bagi semua umat-Nya. Dalam ekaristi – perjamuan kudus – tubuh dan darah Kristus disatukan kembali, bukan hanya itu tapi juga jiwa Kristus, dengan kata lain jiwa manusia Yesus. Dan dalam kesatuan itu bukan hanya keseluruhan kodrat manusia Yesus yang hadir namun juga kodrat Ilahi, kedua kodrat yang bersatu sejak Inkarnasi, ketika Yesus dilahirkan oleh bunda Maria ke dunia. Pada tubuh dan darah Yesus lah Allah bersemayam dibalik kesederhanaan yang ditampilkan dalam rupa roti dan anggur, sama halnya ketika Allah yang mau menjadi anak manusia dilahirkan sebagai keluarga tukang kayu di Nazaret.

Apakah jika ada umat Protestan bertemu Yesus secara tatap muka di tengah jalan, apakah umat itu mau langsung menjatuhkan dirinya berlutut seperti “Tomas yang kurang percaya” dan berkata, “Ya Tuhanku dan ALLAHku”? Bukankah itu suatu keberuntungan yang sangat luar biasa di saat itu umat tersebut dapat melupakan diri sendiri secara total dan menyembah Yesus Kristus!? Tetapi itu bukan pengandaian atau hipotesis pemikiran – jika mengalami kejadian seperti itu -; itu adalah gambaran fakta. Hanya saja perbedaannya adalah pertemuan dengan Yesus Kristus itu bukan terjadi di sembarang tempat atau di jalan, namun pertemuan itu terjadi di Altar. Anda dan saya (kita umat Kristen) tidak dapat melihat Yesus Kristus di Altar, atau tidak bisa merasakan DIA di sana, tapi Iman bukanlah mengenai penglihatan atau perasaan.

Berikut adalah kutipan dari Santo Tomas Aquinas mengenai  Ekaristi,

Penglihatan, rasa, dan sentuhan kita kepada Allah dapat keliru;

Hanya pendengaran yang dapat dipercaya

Saya percaya Anak Allah telah berkata mengenai semuanya.

Tidak ada kebenaran lain yang lebih benar dari kata-kata dari Allah yang Benar.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)

..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Doa Menyongsong Peristiwa Penting Keluarga

P    Pertolongan kita pada nama Tuhan.

U    Yang menjadikan langit dan bumi.

P    Tuhan, kabulkanlah doaku.
U    Dan seruanku sampailah di hadapan-Mu.

Ya Allah, Bapa yang maha pengasih, Engkau maha bijaksana dan maha tahu. Maka kami mempercayakan diri kami dan peristiwa penting yang akan kami jalani kepada kebijaksanaan-Mu. Kami bersyukur kepada-Mu, karena beberapa hari lagi saudara (anak) kami … boleh menjalani … Kami semua sangat berbahagia menghadapi saat yang penting ini. Semoga peritiwa ini menghantar dia ke tahap baru dalam hidupnya sebagai orang beriman, dalam pengabdiannya kepada-Mu, dan dalam pelayanannya kepada sesama. Semoga dia mempersiapkan diri lahir dan batin untuk menyongsong peristiwa penting ini, dan semoga kami semua mendukung dia agar semakin mantap.

Bantulah kami selama menyongsong peristiwa penting ini. Restuilah kami selama masa persiapan ini; berkatilah kami semua dalam melaksanakan karya penting yang kini kami hadapi. Semoga kami dapat melaksanakannya dengan baik. Semoga kami semua mengusahakan kerjasama yang baik, dan ambil bagian aktif demi keberhasilan perayaan nanti. Semoga kebersamaan dalam menyiapkan dan melaksanakan peristiwa penting ini semakin meningkatkan persekutuan kasih antar kami.

Ya Bapa yang mahabijaksana, Engkaulah satu-satunya tumpuan harapan kami. Sudilah Bapa mengatur yang sebaik-baiknya bagi kami. Demi Kristus, pengantara kami.

(Amin.)

Kebiasaan Umat Kristen

KristenSetiap masyarakat mempunyai tradisi atau kebiasaan, yang mampu menopang dan melestarikan kehidupan dan kesatuan masyarakat itu sendiri. Gereja, sebagai masyarakat kaum beriman, juga memiliki bermacam-macam kebiasaan. Dalam perjalanan sejarah kebiasaan itu telah membentuk, menopang, dan membangun jemaat beriman. Kita ditantang untuk mengamalkan, menyegarkan dan kemudian mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Dalam site ini hanya diambil sejumlah kebiasaan yang pokok mengingat tempat yang tersedia serba terbatas. Di luar ini masih banyak kebiasaan yang baik, yang juga patut dihayati, dilestarikan, dan dikembangkan.

Berhimpun pada hari Minggu

Pada hari Minggu, umat kristen wajib berhimpun untuk Perayaan Ekaristi, atau untuk Perayaan Sabda (lihat KHK 1247-1248). Kebiasaan ini didasarkan pada tradisi para rasul yang berpangkal pada hari kebangkitan Kristus sendiri. Pada hari Minggu, Gereja berkumpul untuk merayakan misteri Paskah, yakni mengenangkan sengsara, wafat, kebangkitan, dan kemuliaan Tuhan Yesus. Dalam pengenangan ini, Gereja mendengarkan sabda Allah dan berpartisipasi dalam Ekaristi; Gereja juga bersyukur kepada Allah yang telah “melahirkan kembali mereka ke dalam hidup yang penuh pengharapan” (lihat 1Ptr 1:3; KL 106).

Membaca Kitab Suci

Gereja menghendaki agar khazanah Kitab Suci dibuka lebih lebar kepada umat (lihat KL 51), sebab di dalam Kitab Suci Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus mewartakan kabar gembira Injil (lihat KL 184). Kitab Suci adalah sumber dan dasar iman kita. Dengan membaca Kitab Suci kita mengenal Kristus. Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus, dan pengenalan akan Yesus Kristus ini lebih mulia daripada segala sesuatu (lihat DV 25). Dengan rajin membaca Kitab Suci, banyak orang telah memperoleh pengalaman serta kekuatan iman yang mengagumkan, terutama mereka yang tidak hanya membaca, tetapi juga mengamalkannya (lihat Yak 1:22).

Melaksanakan Ibadat Harian

Kristus memerintahkan, “Orang harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1). Para rasul mempunyai kebiasaan berdoa pada jam-jam tertentu, baik bersama-sama di Bait Allah (lihat Kis 3:1) maupun secara pribadi di rumah (lihat Kis 10:9.30). Paulus juga menandaskan agar umat berdoa setiap waktu (lihat Ef 6:18). Karena didorong oleh teladan serta nasihat-nasihat itu, Gereja dengan setia dan tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dan Gereja menegaskan bahwa “Dengan pengantaraan Yesus, marilah kita selalu mempersembahkan kurban syukur kepada Allah” (Ibr 13:15). Gereja telah mengembangkan Ibadat Harian, yakni ibadat pada jam-jam tertentu setiap hari: Ibadat Bacaan, Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore, Ibadat Penutup; atau paling tidak Doa Pagi dan Doa Malam untuk mengawali dan menutup hari dalam nama Tuhan. Dengan berdoa seperti ini, Gereja menguduskan seluruh hari dan seluruh kegiatan manusia (lihat PIH 11).

Berdoa Bersama dalam Keluarga

Keluarga orang beriman adalah “Gereja kecil”. Gereja sungguh terwujud dalam keluarga jika para anggota keluarga berhimpun dalam nama Tuhan. Dalam himpunan ini tergenapilah janji Tuhan kepada umat-Nya, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Doa bersama ini dapat dilakukan dalam dua bentuk: pertama, semua anggota keluarga berkumpul di suatu tempat dan pada saat yang sama untuk berdoa bersama; kedua, mereka berkumpul pada jam yang sama. Bila anggota keluarga tidak mungkin berkumpul (misalnya ada anggota yang sedang bepergian), keluarga dapat menetapkan jam tertentu untuk berdoa, sehingga kendati berjauhan tempat, mereka merasakan adanya kebersamaan dalam doa.

Berdoa secara Pribadi

Di samping Ibadat Harian dan berdoa bersama, umat beriman dianjurkan agar selalu berkanjang dalam doa, sebagaimana diajarkan oleh Rasul Paulus (lihat 1Tes 5:17). Gereja menandaskan: selain dipanggil untuk berdoa bersama, orang kristen harus juga masuk ke dalam biliknya untuk berdoa secara pribadi seperti dikatakan Yesus sendiri, “Jika Engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (lihat Mat 6:6; KL 12).

Terlibat dalam Kehidupan Jemaat setempat (Lingkungan, Stasi, Paroki)

Kita adalah Tubuh Kristus. Setiap anggota mempunyai tugas dan peran yang khas, yang tak tergantikan (lihat 1Kor 12:12-31). Maka setiap anggota jemaat harus sungguh terlibat dalam semua segi kehidupan Gereja (persekutuan, liturgi, pewartaan dan pelayanan) baik dalam lingkup lingkungan, stasi, maupun paroki. Mereka juga terikat dengan kewajiban membantu memenuhi kebutuhan Gereja (lihat KHK 222).

Terlibat dalam Masyarakat

Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menegaskan bahwa kita adalah garam dan terang dunia (lihat Mat 5:13-16). Maka setiap orang beriman dituntut sungguh-sungguh melibatkan diri dalam masyarakat, dan lewat keterlibatan ini mengamalkan amanat Yesus menggarami dan menerangi dunia.

Mereka hendaklah sungguh terlibat dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat, terutama yang miskin dan terlantar (lihat OS I).

Berpuasa dan Berpantang

Puasa adalah ungkapan tobat, dan sekaligus merupakan ulah doa yang hangat.

Dalam tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting, yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar, khususnya Paskah.

Dalam tradisi Gereja, para katekumen berpuasa sebelum dibaptis. Mendampingi mereka, seluruh umat beriman juga berpuasa. Masa Puasa yang secara resmi ditetapkan Gereja adalah Prapaskah. Tetapi, selama Masa Prapaskah itu hari puasa resmi hanya dua, yakni Rabu Abu dan Jumat Agung. Puasa Paskah harus dipandang keramat dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat Agung. Bila mungkin, puasa ini hendaklah diperpanjang sampai hari Sabtu Suci (lihat KL 110). Namun Gereja sangat menghargai warganya yang berpuasa penuh selama 40 hari menjelang Paskah meneladan cara berpuasa Musa, Elia dan terutama Yesus. Di samping itu, secara pribadi, umat kristen disarankan untuk berpuasa pada hari-hari yang dipilihnya sendiri, sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Puasa ini juga bermanfaat untuk membangun semangat pengendalian diri dan menumbuhkan semangat setiakawan dengan sesama yang berkekurangan.

Di samping berpuasa, Gereja juga mempunyai kebiasaan berpantang. Pantang dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari Jumat itu bertepatan dengan hari raya gerejawi (lihat KHK 1251). Pada hari-hari puasa dan pantang umat kristen meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk berdoa, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal (lihat KHK 1249). Kecuali itu Gereja juga menetapkan pantang selama satu jam sebelum kita menyambut Sakramen Mahakudus.

Memeriksa Batin

Dewasa ini, manusia semakin sibuk. Untuk mengimbangi kesibukan yang lebih bersifat lahiriah dan badani ini, kita perlu meningkatkan olah batin: mengadakan renungan, mawas diri. Dalam Gereja, pemeriksaan batin ini sering dikaitkan dengan pertobatan karena lewat pemeriksaan batin ini kita dibantu untuk jujur di hadapan Allah: menyadari dan mengakui kekurangan yang tak dapat kita tutupi. Sebab kalau kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita (lihat 1Yoh 1:8).

Pemeriksaan batin dapat membantu kita makin sadar akan kebaikan Allah dan membangkitkan penyesalan yang tulus atas dosa (lihat PUTL 26). Pemeriksaan batin sebaiknya diadakan setiap hari menjelang tidur, atau pada saat-saat khusus: rekoleksi, retret, Perayaan Ekaristi dan lain-lain.

Mengaku Dosa di Hadapan Imam

Inti hidup kristen adalah bertobat: meninggalkan dosa dan kegelapan, lalu hidup sebagai anak-anak terang (lihai Ef 5:8). Orang yang bertobat adalah orang yang dengan tulus menyadari kelemahan dan kedosaannya, dan dengan rindu mendambakan perdamaian kembali dengan Allah dan dengan sesama warga, seperti anak hilang yang kembali kepada bapanya yang penuh kasih (lihat Luk 15:11-32). Yesus sendiri bersabda, “Akan ada suka-cita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:7). Tobat berpuncak pada pengakuan dan pengampunan. Inilah yang disebut rekonsiliasi atau perdamaian kembali. Perdamaian ini merupakan peristiwa suka-cita yang membawa penyegaran dan hidup baru, karena dengan itu Allah sendiri mendamaikan orang berdosa dengan diri-Nya (lihat 2Kor 5:18).

Mengaku dosa di hadapan imam merupakan perwujudan dari tobat. Dengan mengaku dosa, orang berdosa kembali menjalin ikatan yang baik dengan Allah dan sesama warga Gereja.

Sehubungan dengan pengakuan dosa ini, Gereja juga mempunyai kebiasaan Ibadat Tobat Jemaat, yang dimaksudkan untuk membangun dan mengembangkan sikap tobat dalam diri umat.

Gereja Katolik dan Agama-Agama Lain

Dalam LG 8 antara lain dikatakan bahwa Kristus “melalui Gereja mau melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang”. Gereja bukan kelompok tertutup, melainkan “tanda dan sarana kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Oleh karena itu dikatakan bahwa “Gereja, dengan mewartakan Injil, mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan, dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus” (LG 17). Rumusan semacam itu tidak disenangi oleh banyak orang dewasa ini, bukan hanya oleh mereka yang melihat rumus ini sebagai rencana “kristenisasi”.

Di antara orang Kristen sendiri ada banyak yang merasa bahwa rumus ini tidak cocok dengan pernyataan Konsili sendiri, bahwa “mereka yang dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16). Di luar Gereja Katolik tidak hanya “terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran” (LG 8), tetapi di luar lingkungan Kristen ada “pengaruh rahmat”, sehingga orang bukan-Kristen juga “dapat memperoleh keselamatan kekal”. Lalu untuk apa “Gereja terus-menerus mengutus pewarta-pewarta” ke seluruh dunia? (LG 17). Gereja senantiasa yakin bahwa “Allah menghendaki semua orang diselamatkan” (1Tim 2:4), tetapi baru pada akhir Konsili Vatikan II disadari bahwa itu terjadi “dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah” (GS 22; AG 7). Keselamatan umat manusia tidak tergantung pada Gereja.

Gereja tidak mewartakan Injil untuk menyelamatkan orang. Hanya Tuhan dapat menyelamatkan, dan manusia harus menerima keselamatan itu dalam iman. Gereja mewartakan Injil karena tidak dapat diam mengenai segala sesuatu yang telah dilihat dan didengar olehnya (bdk. Kis 4:20). Pewartaan Injil tidak pernah dimaksudkan sebagai indoktrinasi. Yang pokok bukanlah pewartaan itu sendiri, melainkan isi-nya, “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun selain di dalam Kristus; maka di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia untuk memperoleh keselamatan” (Kis 4: 12).

Yang menjadi soal ialah keyakinan iman bahwa “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim 2:5), atau dengan kata Yesus sendiri: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Kata-kata itu secara konkret-praktis selalu diartikan oleh Gereja sebagai perintah mewartakan Kristus secara mutlak: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka” (Mat 28:19). Oleh karena itu pula Paulus bertanya:

“Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada-Nya, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana orang dapat memberitakan-Nya, jika tidak diutus? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:14-15:17).

Itu dikatakan Paulus dalam situasi zaman itu, berhadapan dengan orang kafir Yunani. Sekarang Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “mereka yang belum menerima Injil, dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah …. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan” (LG 16). Dengan demikian tidak disangkal perlunya pewartaan. Pewartaan perlu bukan hanya karena orang “ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran yang sesat dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta” (LG 16), melainkan lebih-lebih “untuk menghantar mereka kepada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah jalan yang bebas dan teguh, untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus” (AG 5).

Apa yang dikerjakan Tuhan dalam hati orang harus dikembangkan terus-menerus. Untuk itu perlu pewartaan, teladan hidup, sakramen-sakramen, serta upaya-upaya rahmat lainnya, sebagaimana dikatakan dalam konstitusi Dei Verbum mengenai proses komunikasi iman dalam Gereja sendiri: “dalam ajaran, hidup serta ibadatnya Gereja melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8).

Hal itu juga berlaku bagi mereka yang “dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah” (LG 16). Karena di sini tidak ada persekutuan penuh, komunikasi iman tidak terjadi secara persekutuan, melainkan dalam bentuk dialog. Panitia Teologis Internasional pada tahun 1988 mengatakan, dialog dengan agama-agama lain merupakan bagian integral hidup Kristiani. Tukar pendapat, studi, kerja sama, dan dialog membantu pemahaman yang lebih baik mengenai agama lain tetapi juga mengembangkan hidup keagamaan sendiri. Oleh karena itu Konsili mengajarkan, bahwa “pelaksanaan kegiatan misioner yang tepat dan teratur menuntut, supaya para pewarta Injil disiapkan untuk berdialog dengan agama-agama serta kebudayaan-kebudayaan bukan Kristen” (AG 34; 11; 41; NA 2).

Mengenai dialog itu sendiri Konsili Vatikan II mengajarkan, “Melalui cara-cara itu (yakni melalui penyelidikan bebas, pengajaran dan pendidikan, komunikasi dan dialog) manusia menjelaskan kepada sesamanya kebenaran yang telah ditemukannya – atau yang ia rasa telah menemukannya – sehingga saling membantu dalam mencari kebenaran” (DH 3; lih. GS 43). Maka “melalui pergaulan dengan sesama, dengan saling berjasa, melalui dialog dengan sesama saudara, manusia berkembang dalam segala bakat-pembawaannya, dan mampu menanggapi panggilannya” (GS 25).

Dasar dialog adalah kesadaran bahwa rahmat Allah berkarya dalam setiap manusia, juga dalam mereka yang tidak mengakui diri orang Kristen, yakni “semua orang yang mengakui Allah dan dalam tradisi-tradisi mereka melestarikan unsur-unsur religius dan manusiawi”. Mengenai hubungan dengan orang itu Konsili berkata, “Yang kami harapkan ialah, semoga dialog yang terbuka mengajak kita sekalian, untuk dengan setia menyambut dorongan-dorongan Roh, serta mematuhinya dengan gembira” (GS 92).

Dialog mendekati hubungan antara umat beriman dan umat beragama dari bawah, dari hubungan antara umat yang berbeda-beda agama. Namun di dalam dialog itu semua sama-sama berusaha menghayati apa yang paling dalam, yang menggerakkan dan memunculkan agama. Diakui bahwa tidak ada satu agama pun, termasuk agama Kristen, yang dengan sepenuhnya dapat menanggapi tawaran rahmat Allah itu (lih. GS 62). Dari pihak lain keterbatasan itu juga tidak menghalangi suatu pengalaman iman yang sungguh-sungguh dan religius.

Maka dialog antarumat beragama bukanlah konfrontasi antara ajaran-ajaran keagamaan yang berbeda-beda, melainkan dialog hidup atau “temu hati”, yang semakin terbuka untuk sapaan Allah. Ini tidak berarti bahwa dialog sebenarnya hanyalah alasan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Dialog sendiri sudah terarah kepada perwujudan Kerajaan Allah dalam keadilan, damai dan keselarasan, yang semuanya merupakan nilai-nilai kemasyarakatan. Tetapi yang paling pokok adalah “temu hati” itu sendiri. Di situ orang tidak mengaburkan atau “menyembunyikan” pendapat dan keyakinan pribadi, namun dapat mengemukakannya penuh hormat terhadap pandangan dan karena itu tanpa memaksakan pendapatnya sendiri kepada orang lain.

Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Lain

Konsili Vatikan II membedakan antara mereka yang “sepenuhnya dimasukkan ke dalam serikat Gereja” (LG 14) dan orang beriman lain yang berhubungan dengan Gereja Katolik (LG 15). Yang pertama adalah mereka yang

  1. mempunyai Roh Kristus,
  2. menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan
  3. dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbing Gereja melalui Imam Agung (paus) dan para uskup.

Gabungan dengan himpunan Katolik kemudian dirinci dengan ikatan-ikatan, yakni pengakuan iman, sakramen-sakramen, kepemimpinan gerejawi, serta persekutuan (communio).

Mereka yang hanya “berhubungan”, tidak dimasukkan dengan sepenuhnya, karena “tidak mengakui iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah Pengganti Petrus”. Jadi kekurangan di sini terletak dalam “ikatan-ikatan” yang menggabungkan dengan Gereja: Atau pengakuan iman tidak utuh atau persekutuan tidak lengkap, khususnya berhubungan dengan kepemimpinan Gereja. Mengenai sakramen-sakramen dikatakan: “Banyak ditandai oleh baptis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya; banyak pula yang mempunyai uskup-uskup dan merayakan Ekaristi suci”. Mengenai unsur yang paling pokok, yakni “mempunyai Roh Kristus” (lih. Rm 8:9), dikatakan: “ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudus-Nya juga berkarya di antara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya”.

Akhirnya perbedaan menyangkut pertama-tama ikatan lahiriah itu. Perlu diperhatikan bahwa Konsili memang berbicara mengenai “serikat” atau organisasi Gereja. Konsili tidak berbicara mengenai iman, tetapi mengenai pengungkapan iman atau agama. Keduanya memang tidak dapat dipisah-pisahkan yang satu dari yang lain. Pengungkapan yang berbeda berhubungan dengan penghayatan yang berlain-lainan. Memang ada perbedaan antara Protestan dan Katolik, yang secara skematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

KATOLIK

PROTESTAN

Tekanan ada pada sakramen dan pada segi sakramen (manusiawi-kelihatan) karya keselamatan Allah. Tekanan ada pada sabda pewartaan dan pada segi misteri (transenden-tersembunyi) karya Allah.
Agama kontemplasi (memandang) dan Agama iman (mendengarkan) dan
kultis, yang mementingkan kurban (Ekaristi) profetis, yang terpusat pada sabda (khotbah)
Perasaan, kesenian, dan kehangatan cukup dipentingkan. Pengetahuan, ilmu, dan ketegasan lebih ditekankan.
Hubungan dengan Gereja menentukan hubungan dengan Kristus. Hubungan dengan Kristus menentukan hubungan dengan Gereja.
Gereja secara hakiki (dari Kristus) bersifat hierarkis. Segala pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia (Tradisi).
Kitab Suci dibaca dan dipahami di bawah pimpinan hierarki. Setiap orang membaca dan mengartikan Kitab Suci sendiri.

Perbedaan ini sebenarnya lebih menyangkut penghayatan, bahkan perasaan, daripada ajaran atau rumusan iman. Memang tetap ada perbedaan pendapat mengenai kedudukan dan peranan hierarki (paus, uskup, dan imam), rahmat (pembenaran) dan ibadat (khususnya penghormatan santo-santa, teristimewa Bunda Maria). Pada umumnya protestantisme merasa kurang enak dengan segala-sesuatu yang mau menjadi pengantara antara manusia dan Allah. Namun diakui pula bahwa dalam hal-hal itu secara prinsipial tidak ada yang memisahkan.

Perbedaan menyangkut sikap dasar, yang sulit dapat dirumuskan. Barangkali perbedaan itu paling tepat dirumuskan dengan kata “Katolik” dan “Protestan” sendiri. Katolik berarti “menyeluruh”. Pada umumnya orang Katolik lebih mementingkan keseluruhan tradisi Gereja.

Memang diakui bahwa ada banyak kesalahan dan dosa di dalam sejarah Gereja, tetapi juga ada banyak hal yang baik dan bagus. Roh Kuduslah yang menjamin kehidupan Gereja seluruhnya, kendatipun manusia lemah dan cenderung kepada dosa. Sebaliknya Protestan berasal dari kata “protes” (bukan terhadap Gereja atau paus, tetapi terhadap kaisar zaman itu), dan jarang ada protes yang sifatnya “menyeluruh”. Ternyata orang Protestan tampaknya memang cenderung memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan Gereja, baik yang positif maupun yang negatif. Dengan menekankan yang terakhir itu perbedaan dengan Gereja Katolik menonjol.

Yang lebih penting daripada perbedaan itu ialah kesatuan antara semua orang Kristen. Konsili Vatikan II tidak hanya menegaskan bahwa “Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya dipersatukan dalam satu kawanan dengan satu Gembala” (LG 15), tetapi juga merumuskan dasar teologis untuk kesatuan itu. Dalam LG 8 dikatakan:

“Kristus, satu-satunya Pengantara, di dunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, yakni persekutuan iman, harapan dan kasih, sebagai himpunan yang kelihatan dan tak henti-hentinya memeliharanya, supaya melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang … Itulah satu-satunya Gereja Kristus, yang dalam syahadat kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik. Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat (societas), berada dalam (subsistit in) Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan kurnia-kurnia khas Gereja Kristus, dan mendorong ke arah kesatuan Katolik.”

Teks yang singkat dan padat ini tidak begitu mudah dipahami dengan tepat. Pertama-tama dikatakan bahwa Gereja dari satu pihak adalah “persekutuan iman, harapan dan kasih”, tetapi sekaligus juga merupakan suatu “himpunan yang kelihatan”, yang kemudian disebut “serikat” (societas) atau organisasi. Kedua aspek ini tidak bisa dipisahkan. Gereja adalah sekaligus misteri dan sakramen. Mengenai Gereja, yang sekaligus kelihatan dan tak-kelihatan itu, selanjutnya dinyatakan bahwa “berada dalam Gereja Katolik”. Dengan rumusan itu mau dikatakan bahwa dari satu pihak Gereja Katolik sungguh-sungguh Gereja Kristus, tetapi dari pihak lain bahwa Gereja Kristus tidak identik atau tepat sama dengan Gereja Katolik: “di luar persekutuan (Katolik) itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran”.

Perlu diperhatikan bahwa kata “berada dalam” (Latin: subsistit in) dipilih dengan seksama. Pius XII (ensiklik Humani Generis, 12 Agustus 1950) masih mengajarkan: “Tubuh mistik Kristus dan Gereja Katolik adalah satu dan sama”. Maka rumus Lumen Gentium yang pertama (skema I) juga masih mengatakan, bahwa “hanya Gereja Roma-Katolik selayaknya (iure) disebut Gereja”. Dalam skema II belum ada banyak perubahan: “Gereja Kristus, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, adalah (est) Gereja Katolik, yang diatur (directa) oleh Imam Agung di Roma (Romanus Pontifex) dan para uskup dalam persekutuan dengannya”. Tetapi dengan skema III terjadi perubahan besar: 1.”Imam Agung di Roma” diubah menjadi “pengganti Petrus” (pimpinan tidak tergantung pada Roma, tetapi pada Petrus); 2. “diatur” menjadi “dipimpin” (paus tidak menentukan segala-galanya, tetapi mengarahkan); dan terutama 3. “adalah (est)” diubah menjadi “berada dalam (subsistit in)”. Perubahan semua ini diterima dalam rumusan terakhir “Lumen Gentium”. Panitia perumus menerangkan bahwa dipilih kata-kata itu “supaya lebih sesuai dengan pernyataan tentang unsur-unsur gerejawi yang sungguh ada di luar Gereja Katolik”. Konsili mau mengatakan bahwa Gereja Kristus tidak terbatas pada Gereja Katolik saja. Bagaimana Gereja Kristus “berada dalam” Gereja Katolik tidak diterangkan oleh Konsili. Gereja Kristus memang ada dan menampakkan diri, tetapi “kegerejaan” atau bentuk gerejawinya tidak identik sama dengan Gereja Katolik. Yang lain juga Gereja Kristus, tetapi dalam bentuk yang lain. Paling-paling dikatakan bahwa dalam Gereja Katolik Gereja Kristus terwujudkan dengan selengkap-lengkapnya.

Di dunia ini misteri Gereja tidak pernah tampak sepenuhnya. Oleh karena itu, bentuk Gereja yang tampak tidak pernah dapat diidentifikasikan dengan Gereja sendiri. Itu tidak berarti bahwa bentuk gerejawi tidak penting. Sebaliknya dalam bentuk yang konkret itu misteri Gereja menjadi kenyataan hidup bagi manusia, dan melalui bentuk yang manusiawi dimungkinkan komunikasi dan persekutuan dalam iman. Hanya dalam bentuk kehidupan yang konkret mungkinlah komunikasi dengan Gereja para rasul, baik dalam pewartaan maupun dalam perayaan (liturgi), dan terutama dalam pelayanan kepada dunia.

Apa yang dikatakan mengenai Gereja lokal berlaku juga untuk Gereja Katolik dalam hubungannya dengan jemaat-jemaat bukan Katolik: Gereja lokal itu seluruhnya Gereja, tetapi bukan seluruh Gereja. Sebagaimana Gereja lokal hanya dapat menjadi Gereja dalam arti penuh, bila berkomunikasi dengan jemaat-jemaat yang lain, begitu juga dalam hubungan ekumenis semua Gereja hanya dapat hidup dalam persekutuan dengan Gereja-gereja yang lain. Persekutuan atau communio tidak hanya mutlak perlu untuk kesatuan Gereja, tetapi juga untuk kekatolikannya. Gereja yang sudah tidak berhubungan dengan yang lain bukan Gereja Kristus lagi.

Usaha untuk mempertemukan Gereja-gereja Kristen dalam satu communio disebut gerakan ekumenis. Kata Konsili Vatikan II, “Yang dimaksudkan dengan gerakan ekumenis ialah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat Kristen” (UR 4). Sebagai contoh disebutkan, pertama-tama, usaha saling menghormati dan menghindari segala sesuatu yang kurang sesuai; kemudian juga mengadakan pertemuan-pertemuan dan dialog, khususnya di antara para pakar; selanjutnya, segala macam kerja sama dalam arti yang luas; dan akhirnya, segala usaha untuk memperbarui diri dan mengubah kekurangan-kekurangan dalam Gerejanya sendiri. Yang dicita-citakan bukanlah supaya semua melebur dalam satu kesatuan yang kabur dan tanpa sifat-sifat Kristiani yang jelas. Sebaliknya, diharapkan bahwa masing-masing Gereja semakin menyadari akar-akarnya dalam iman Kristen dan juga kekhasannya sendiri dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman bersama itu. Dengan demikian, sekaligus diharapkan mereka menghormati saudara-saudara seiman yang menghayati iman itu dalam bentuk yang berbeda.