Pembaptisan

Dari uraian di atas kiranya sudah jelas bahwa Pembaptisan bukan seluruh inisiasi Kristen. Pembaptisan merupakan kesatuan yang erat, khususnya dengan Krisma. Namun kedua sakramen itu, lebih-lebih lagi Ekaristi, mempunyai kekhasan dan maknanya sendiri, sehingga oleh Gereja dibedakan sebagai tiga sakramen.

Pembaptisan dalam Kitab Suci

Sama seperti Ekaristi dan pengurapan orang sakit, begitu juga pembaptisan bukanlah “penemuan” Tuhan Yesus. Upacara pembaptisan berakar dalam adat-istiadat orang Yahudi. Agama Yahudi mengenal macam-macam upacara permandian atau penyucian untuk membersihkan orang dari dosa atau dari kenajisan, sehingga ia boleh ikut upacara agama (lih. Im 15:5.8.10.13.18.22; 16:4.24 dst.). Dalam agama-agama adat di sekitar lingkungan Yahudi, umumnya juga dikenal upacara pembersihan semacam itu.

Pada zaman Yesus di kalangan Yahudi di sana-sini juga ada semacam inisiasi dengan upacara permandian, sebagai pengenangan akan bangsa Yahudi yang melintasi Laut Merah. Dalam kerangka itu muncullah gerakan Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang “sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11). Dengan demikian Yohanes mau mempersiapkan orang menghadapi “murka yang akan datang” (Mat 3:7). Yohanes sadar bahwa Allah akan menghukum bangsa-Nya dalam waktu yang singkat. Satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan, yang dinyatakan dalam upacara pembaptisan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4). Maka “sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan” (Mat 3:6).

Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohanes. Dalam Injil malah dikatakan bahwa ”Yesus pergi ke tanah Yudea dan membaptis” (Yoh 3:22; lih. ay. 26), maksudnya, bahwa ”Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya” (Yoh 4:2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28:19; Mrk 16:16) Petrus berseru kepada orang: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Mencolok sekali kemiripan antara pesan Petrus dan seruan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4; bdk. Kis 2:38). Tetapi justru dari perbandingan ini jelaslah pula perbedaannya. Petrus menambahkan dua hal: “dalam nama Yesus Kristus” dan “kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Pembaptisan Kristen bukan hanya tanda tobat (seperti pada Yohanes Pembaptis), melainkan tobat dalam kepercayaan akan Yesus. Yang diterima pun bukan hanya pengampunan dosa, tetapi “karunia Roh Kudus”, yang “bersaksi bersama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:16). Pembaptisan bukan hanya permohonan akan belas kasihan Allah. Dengan pembaptisan diungkapan iman akan “Kristus Yesus, Juru Selamat kita” (Tit 1:4), yang memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah” (Kis 2:33).

Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok sakramen pembaptisan: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya – sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa – demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Atau dengan perkataan lain: “Yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dengan pembaptisan orang sungguh secara total dipersatukan dengan Kristus. Dalam surat Kolose hal itu diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: “Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja-kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Pengarang melihat itu sebagai “inisiasi Kristen”, yang dapat dibandingkan dengan sunat Yahudi (ay. 11).

Surat kepada Titus mengembangkan gagasan ini lebih jauh lagi: Allah menyelamatkan kita “karena rahmat-Nya oleh pembaptisan kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Itulah yang oleh Yohanes disebut “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:6). Makin ditekankan hidup yang baru, bukan pengampunan dosa. Unsur pembersihan dari noda dosa tentu tetap ada, tetapi yang lebih penting ialah kesatuan dengan Kristus sebagai Anak Allah: “Allah mengutus Anak-Nya, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kita adalah anak, maka Allah mengutus Roh . Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:4-6).

Dalam 1Kor 12: 13 masih ada satu unsur lain lagi: “Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Dengan pembaptisan orang tidak hanya menerima karunia Roh Kudus, tetapi juga menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu Gereja. Di sini dengan paling jelas terungkap sifat inisiasi, dan langsung dapat ditarik kesimpulan: “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Dalam Kristus dan oleh Pembaptisan, segala perbedaan dan pertentangan antara suku atau kelas terhapus dan tidak berlaku lagi, termasuk perbedaan pria dan wanita sama, sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan pembaptisan tidak hanya diciptakan seorang manusia baru, tetapi umat manusia yang baru.

Pembaptisan dalam Tradisi Gereja

Yohanes Pembaptis membaptis orang dalam sungai Yordan, dan murid-murid Yesus juga begitu. “Tempat pembaptisan” itu sebuah sungai atau kolam. Tetapi ketika umat Kristen mulai berkembang di kota-kota, jauh dari tempat-tempat air, mereka membangun kolam-kolam dalam gereja dan membaptis orang di situ. Pembaptisan itu tetap dilakukan dengan menenggelamkan orang ke dalam air. Lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk menanyakan kepada orang, sementara dia berada di dalam air, pertanyaan yang sekarang juga masih bergema di gereja pada malam Paska:

Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi?

Percayakah saudara akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga duduk di sisi kanan Bapa yang mahakuasa?

Percayakah saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal?

Sesudah setiap pertanyaan, orang yang ada di dalam kolam menjawab: ”Ya, saya percaya”. Sesudah itu, ia ditenggelamkan ke dalam air tiga kali. Dengan demikian sakramen Pembaptisan dengan jelas menjadi “sakramen iman”, yang pusat-pokoknya adalah pengakuan iman Gereja atau syahadat. Untuk zaman sekarang buku “Inisiasi Kristen” menetapkan:

“Pemimpin upacara mengajak calon untuk mengakui imannya (dengan tiga pertanyaan tersebut di atas). Kalau pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan calon dalam air, hendaknya kesopanan diperhatikan. Kalau pembaptisan dilakukan dengan menuangkan air, pemimpin mengambil air dari bejana pembaptisan dan menuangkannya tiga kali atas kepala calon, sambil mengucapkan rumus pembaptisan:

… (disebut namanya) aku membaptis saudara demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Sementara itu calon baptis dipegang oleh wali baptis.

Lalu pemimpin upacara mengurapi ubun-ubun setiap baptisan baru dengan krisma tanpa mengatakan apa-apa. Bila dianggap perlu, pemimpin upacara dapat menyerahkan pakaian putih (atau yang berwarna lain). Kemudian pemimpin memegang lilin Paska; wali baptis maju dan menyalakan lilin pada lilin Paska, lalu menyerahkannya kepada baptisan baru.” .

Jadi, sesudah pembaptisan ada tiga upacara kecil (sakramentali), yang secara simbolis menunjuk pada arti pembaptisan: Pengurapan berarti bahwa baptisan baru diserupakan dengan Kristus, yang diurapi oleh Roh Kudus (lih. Kis 10:38) menjadi imam, nabi dan raja, pakaian putih juga menandakan Kristus, dan menunjuk kepada Gal 3:27, “mengenakan Kristus”, Begitu juga lilin, yang dinyalakan dari lilin Paska, merupakan lambang Kristus: Karena telah bersatu dengan Kristus, cahaya dunia, maka baptisan baru harus hidup sebagai putra-putri cahaya dan menghayati iman dengan setia. Adapun pembaptisan sendiri, yang tetap dapat dilakukan dengan cara menenggelamkan, biasanya dilakukan dengan menuangkan air atas kepala orang. Kedua cara itu sejak dahulu dipraktikkan dalam Gereja.

Ada sebuah dokumen dari zaman para rasul sendiri, yang disebut Didahke atau “Pengajaran Kedua Belas Rasul”. Di dalamnya dikatakan mengenai pembaptisan: “Ada pun baptisan, kamu harus membaptis sebagai berikut:
Setelah segala sesuatu itu tadi (yakni instruksi mengenai kehidupan Kristen) diberitahukan, maka kamu harus melakukan pembaptisan demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang hidup. Seandainya air yang hidup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan dalam air yang lain; jikalau tidak bisa dalam air dingin, boleh juga di dalam air panas. Kalau juga air panas tidak ada, tuangkanlah air ke atas kepalanya tiga kali, demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Sebaiknya sebelum upacara pembaptisan baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis, berpuasa. Tetapi calon baptis harus berpuasa selama satu-dua hari sebelumnya”.

Pada dasarnya upacara pembaptisan sekarang masih sama dengan zaman Tuhan Yesus sendiri. Hanya sekarang pembaptisan ditempatkan dalam kerangka inisiasi, dan untuk itu ditambahkan beberapa upacara kecil yang menjelaskan arti sakramen.

Mengenai arti pembaptisan, Konsili Vatikan II berkata:

“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus: Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (SC 6).

Mereka menjadi “penyembah sejati” dalam Gereja, sebab “dengan pembaptisan kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja dan ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristen” (LG 11).

Pembaptisan Kanak-Kanak

Dalam Kitab Suci tidak ada berita mengenai pembaptisan kanak-kanak. Memang dalam Kis 16:33 dikatakan bahwa kepala penjara Filipi “memberi diri dibaptis, ia dan keluarganya” (bdk. Kis 16:15; 18:8). Mungkin di antaranya juga ada anak-anak, mungkin tidak. Dari Kitab Suci hal ini tidak jelas, dan tetap tidak jelas sampai akhir abad ke-2. Tetapi sekitar tahun 250 membaptis anak sudah menjadi kebiasaan di Afrika Utara, dalam arti bahwa bersama dengan orang dewasa juga anak-anak mereka ikut dibaptis. Namun kemudian ada juga orang yang menunda pembaptisan anak-anak sampai mereka dewasa. Pada zaman St. Agustinus (354-430) baptis bayi sudah menjadi kebiasaan umum di wilayah itu. Dan tidak lama kemudian menjadi praktik di mana-mana, karena waktu itu jarang ada orang dewasa yang dibaptis. Semua keluarga sudah menjadi Kristen. Yang penting di sini ialah bahwa ada berbagai motivasi membaptis kanak-kanak (dan juga untuk menunda baptis mereka). Pada zaman St. Agustinus ajaran mengenai dosa asal mempunyai pengaruh yang sangat besar: Kalau anak-anak tidak dibaptis, mereka semua ke neraka (biarpun hanya ke “pinggir” neraka saja).

Alasan yang sekarang dikemukakan dalam buku liturgi Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak ialah “mereka dibaptis dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin”. Mereka dibaptis sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa yang mandiri, melainkan sebagai anak yang dalam segala hal bergantung pada orangtua mereka. Maka buku liturgi juga menambahkan: “Sakramen ini baru mendapat arti sepenuhnya, kalau kanak-kanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu”.

Pembaptisan kanak-kanak sebetulnya berarti menerima seluruh keluarga, termasuk anak-anak, ke dalam lingkungan Gereja. Hal itu kentara dalam Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak sendiri, “Dalam upacara pembaptisan kanak-kanak, orangtua lebih dipentingkan daripada tugas wali baptis”.

“Wali baptis” sebetulnya lebih berfungsi dalam kerangka pembaptisan orang dewasa. Dalam buku Inisiasi Kristen (untuk pembaptisan orang dewasa) ditunjuk dua “pembantu” calon baptis: penjamin dan wali baptis. “Penjamin harus mengetahui watak dan kelakuan, iman dan niat simpatisan atau katekumen; ia ikut memberi jaminan kepada Gereja bahwa calonnya itu pantas dilantik menjadi katekumen dan dipilih sebagai calon baptis. Fungsi penjamin itu selesai sebelum upacara ‘pemilihan'”, Penjamin sedikit banyak berfungsi sebagai “sponsor” atau “penanggung jawab”. Terutama pada zaman penganiayaan, fungsi itu tidak hanya amat penting, tetapi sering kali sulit juga dan berbahaya. Penjamin mengawasi si calon seolah-olah “dari luar” (dan zaman dahulu ia tidak dikenal oleh si calon), untuk kemudian memberi laporan kepada pimpinan Gereja. Sebaliknya wali baptis “mendampingi katekumen pada hari ‘pemilihan’, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan masa ‘mistagogi‘, artinya ia menunjukkan jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Ia harus menolong dalam keragu-raguan dan kebimbangannya. Ia harus memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristianinya.” Untuk pembaptisan seorang anak, fungsi “penjamin” tidak perlu, dan fungsi “wali baptis” lebih dipegang oleh orangtuanya.

Oleh karena itu, pada saat “penolakan setan dan pengakuan iman” pemimpin upacara menyapa para orangtua (dan wali baptis). Pada saat anak mau dibaptis, orangtua (dan wali baptis) ditanyai lagi: “Maukah saudara supaya anak ini dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diterima sebagai anggota umat Allah?”. Yang ditanyai bukan anak itu sendiri (yang belum tahu apa-apa). Wali juga tidak menjawab atas nama anak itu (seperti dahulu dilakukan). Yang ditanyai dan yang menjawab adalah orangtua sendiri, bersama dengan wali baptis, Pembaptisan kanak-kanak, khususnya bayi, tidak dapat dilepaskan dari iman serta tanggung jawab orangtuanya.

Dosa Asal

Wafat Kristus bukanlah hukuman Allah yang khusus, yang dikenakan pada Kristus, sebagai ganti kita semua. Wafat Kristus berarti solidaritas-Nya dengan umat manusia yang harus mati karena dosa. Kristus tidak luput dari situasi kedosaan, dan karena itu mengalami maut. “Situasi kedosaan” ini sering juga disebut dengan istilah dosa asal, walaupun keduanya tidak tepat sama. Dosa asal memang berarti suatu “keadaan dosa”, yang meliputi umat manusia seluruhnya. Situasi kedosaan umat manusia sekarang ini bukan hanya akibat dosa asal, tetapi juga disebabkan oleh sejarah kedosaan manusia. Menurut ajaran Kitab Suci sejarah manusia memang mulai dengan dosa Adam dan Hawa, dan selanjutnya ditandai oleh kedosaan itu, sehingga setiap orang yang lahir di dunia ini terkena oleh situasi kedosaan itu. Maka kata “dosa asal” mempunyai arti ganda: dosa pada awal sejarah umat manusia seluruhnya (Adam dan Hawa) dan dosa pada permulaan sejarah kehidupan setiap orang yang lahir di dunia ini (yang disebut “dosa” bayi). Antara kedua itu ada hubungan kait-mengait. Karena ada dosa pada awal sejarah umat manusia, maka setiap orang yang lahir dalam perkembangan sejarah itu terkena oleh situasi kedosaan. Namun perlu diperhatikan bahwa dosa asal yang didapati setiap orang yang lahir di dunia ini, merupakan dosa dalam arti yang khusus. Dari satu pihak sungguh dosa yang menjauhkan dari Allah, dari pihak lain bukan dosa berdasarkan kesalahannya sendiri. Kekhususan dosa ini tidak mudah dimengerti dan memerlukan keterangan khusus.

Pertama-tama harus ditanyakan: apa itu dosa? Pertanyaan ini biasanya dijawab, dosa itu melanggar perintah Tuhan dengan sengaja. Itu benar, tetapi tidak lengkap, sebab bagaimana orang dapat mengetahui perintah Allah? Santo Paulus sudah berkata, bahwa orang “yang tidak memiliki hukum Taurat, oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat; isi hukum Taurat tertulis dalam hati mereka” (Rm 2:14-15). Tetapi orang merumuskan hukum itu dengan cara yang berbeda-beda. Ternyata suatu norma etis yang abstrak (ialah cita-cita kehidupan yang ideal) belum menjadi motivasi untuk tindakan konkret. Norma kehidupan bukanlah apa yang memajukan perkembangan umat manusia pada umumnya, melainkan apa yang memajukan hidup yang konkret, kini dan di sini. Karena manusia tidak hidup sendirian, norma kehidupan biasanya juga diambil dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Melanggar norma at au peraturan itu salah, karena mengganggu hidup bersama manusia. Tetapi dengan kata “dosa” dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah, yang “seharusnya” ada, ternyata tidak ada. Itu bisa karena salah manusia sendiri, atau kesalahan orang lain. Dosa asal berarti bahwa hubungan dengan Allah terhalang oleh dosa Adam. Bukan karena Adam dan Hawa menghilangkan rahmat yang diperuntukkan bagi semua orang, melainkan karena rencana keselamatan Allah menyangkut umat manusia sebagai keseluruhan. “Allah bermaksud menguduskan dan menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya. Tetapi Ia hendak membentuk mereka menjadi umat.” (LG 9). Lebih jelas lagi, “semua orang yang dipilih oleh Allah dari semula, ditentukan-Nya dari semula pula menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29). Seluruh umat manusia diciptakan dalam kesatuan dinamis yang menuju kesamaan dengan Kristus.

Allah tidak mengutus Anak-Nya ke dunia, ketika semua sudah kacau oleh dosa Adam. Dari semula Allah mempunyai rencana “untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala” (Ef 1:10). Maka Kristus juga disebut “yang sulung, yang pertama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15). Dilihat dari sudut Allah, manusia pertama bukanlah Adam, melainkan Kristus. Adam hanyalah “gambaran dari Dia yang akan datang” (Rm 5:14), sebab Adam diciptakan menurut citra Kristus. Allah menciptakan manusia karena ingin membuat makhluk yang dapat dikasihi-Nya. Oleh karena itu, Ia menciptakan manusia menurut citra Anak yang terkasih. Kristus itu gambaran manusia sebelum segala zaman. Manusia “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak Allah, supaya Ia, Anak Allah itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Rencana Allah ialah sejarah manusia yang menuju keserupaan dengan Kristus.

Akan tetapi, rencana itu tidak terjadi. Semenjak kedosaan Adam, manusia menutup diri dan makin mencari diri sendiri sebagai tujuan hidupnya. Ternyata sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan, yang makin terpusatkan pada diri manusia sendiri dan makin jauh dari Allah dan Kristus. Kalau dikatakan bahwa dari semula manusia berdosa, yang dimaksudkan ialah bahwa seluruh umat manusia, tanpa kecuali adalah pendosa: “Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih-karunia mereka dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm 3:24). Dengan mengikuti jejak Kristus manusia menemukan orientasi kembali kepada Allah. Tetapi dari dirinya sendiri manusia sudah tidak mempunyai orientasi dasar itu. Segala perbuatan jahat pada dasarnya merupakan perwujudan kejahatan dasariah manusia. Orientasi kepada dirinya sendiri, sebagai kejahatan dasariah, dapat membahayakan orientasi manusia kepada Allah dan sering menjadi penghambat iman juga.

Yohanes berkata bahwa Allah sebenarnya hanya memberikan dua perintah saja, yaitu “supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23). Kedua perintah itu kait-mengait. Kenyataan bahwa manusia tidak terorientasi lagi kepada Allah, dan Anak-Nya Yesus Kristus, mengakibatkan bahwa ia juga tertutup terhadap sesamanya. Sebab “barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). Peperangan dan permusuhan di antara manusia sangat jelas memperlihatkan bahwa manusia tidak lagi terarah kepada Kristus, yang “datang untuk memberitakan damai-sejahtera” (Ef 2:17). Umat manusia tidak lagi mempunyai orientasi kesatuan yang dikehendaki Allah, tetapi terpecah-belah di antara mereka sendiri. Konsili Vatikan II mengatakan,

“Bila melihat dalam diri sendiri, ditemukan bahwa manusia cenderung berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahan hidup yang tepat kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh harmoni dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan” (GS 13).

Situasi kedosaan bukan hanya sesuatu dalam batin manusia, melainkan menyangkut seluruh hidupnya, baik dalam relasi dengan sesama manusia, maupun dengan dunia material seluruhnya.

Apa yang diketahui dari Kitab Suci dan ajaran Gereja, juga jelas dari sejarah manusia sendiri (dan sering menjadi tema dalam kesusasteraan). Dasar segala konflik antara manusia adalah iri hati, yang berpangkal pada persaingan untuk merebut tempat yang paling unggul. Maka sesama yang mau ditiru dan dicontoh, sekaligus menjadi musuh yang mau diungguli dalam persaingan yang ketat. Persaingan dan iri hati itu sering menjadi begitu hebat hingga orang mau melampiaskan emosi kekecewaannya ke mana saja. Agresi yang bertumpuk-tumpuk sering mencari sasaran lain, kalau tidak dapat mengalahkan orang yang disaingi. Massa sudah tidak mengetahui mengapa harus marah dan melampiaskan rasa frustrasinya dalam penghancuran yang membabi-buta. Tidak jarang dicari “tumbar” guna menghilangkan rasa frustrasi kolektif itu dalam pembunuhan tanpa alasan. Kejahatan sering “menular” ke mana-mana sebagai jalan keluar dari tekanan emosi persaingan dan frustrasi. Dalam kejahatan seperti itu, yang berdasarkan ketegangan antara manusia sendiri, sering sudah tidak jelas siapa penjahat dan siapa korban. Maka tidak mengherankan bahwa dia yang dibunuh, kemudian dihormati sebagai pahlawan. Sering orang tidak mengetahui lagi asal-usul kejahatan.

Apa yang mau dinyatakan oleh kisah Adam dan Hawa sebetulnya tidak lain daripada kebenaran, bahwa konflik antara baik dan jahat mengena pada akar-akar hidup manusia. Kejahatan itu tidak datang dari Allah, yang menciptakan manusia demi kebahagiaan, melainkan muncul dari kebebasan hati manusia sendiri. Allah menawarkan kepada manusia supaya menjadi serupa dengan Anak-Nya sendiri. Manusia dapat “menjadi seperti Allah” (Kej 3:5), tetapi keluhuran itu harus diterima dari Allah sebagai anugerah, tidak dirampas sebagai kemenangannya sendiri.

Allah menciptakan manusia supaya menjadi satu dengan-Nya. Tetapi manusia sendiri menolak. Kapan? Setiap saat. Itulah sikap dasar manusia. Ia tidak mau menerima kebahagiaannya dari tangan Allah, tetapi mau membuatnya sendiri, menurut rencana dan kehendaknya sendiri. Kebahagiaan manusia tergantung pada Allah yang menciptakannya, tetapi juga pada manusia sendiri yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebas-merdeka.

Allah tetap menawarkan kebahagiaan kepada manusia, dan manusia tetap diberi kemungkinan menerimanya. Syaratnya, ialah bahwa manusia melepaskan diri dan menyerahkan diri kepada kebaikan Allah. Sekali diciptakan sebagai makhluk yang bebas manusia selalu mempunyai kecenderungan menutup diri dan membuat diri sendiri sumber segala kebahagiaan. Manusia lupa bahwa ia makhluk dan bukan pencipta. Maka akhirnya dosa asal tidak lain daripada misteri kejahatan manusia: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm 7: 19). Misteri dosa asal adalah misteri manusia yang seluruhnya tergantung pada Allah, dan sekaligus seluruhnya “diserahkan kepada keputusannya sendiri” (GS 17). Bebas dalam ketaatan; atau dipanggil agar taat dalam kebebasan.