Apa maksud dari Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga”? Menghakimi atau Melindungi?

Minggu, 27 Agustus 2017

Dalam Bacaan I (Yesaya 22:19-23) digambarkan, bahwa kunci rumah raja yang kokoh akan diserahkan oleh Tuhan/Allah kepada Daud. Dalam Bacaan II (Roma 11: 33-36) Paulus menegaskan, bahwa segalanya berasal dari Allah, berada karena Allah dan ditujukan kepada Allah. Dalam Injil Matius hari ini Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…! Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga!” (Matius 16:13-20). Pemberitahuan dari Allah bahwa Yesus adalah Almasih sebagai Anak Allah hanya ditujukan kepada Simon Petrus (ay.17). Ia menjadi batu karang, di mana Yesus mendirikan Gereja-Nya (ay.18). Petrus adalah murid-Nya, yang otoritasnya di dalam Gereja di dunia ini diakui dan teguhkan di surga oleh Allah (ay.19).

Di dalam komunitas yang disebut Gereja, Kristus menduduki tempat utama. Tiada orang lain yang dapat menggantikan-Nya, para uskup tidak dan Sri Paus pun tidak. Petrus dan pengganti-penggantinya mendapat tugas dari Kristus sendiri untuk memelihara kerukunan di dalam Gereja-Nya dan mengusahakan cinta kasih persaudaraan. Dan seperti Yesus pula Petrus dan pengganti-panggantinya adalah hamba, pelayan semua orang, dan kita sesama saudara bertugas membantu dan melayani Gereja dan dunia. Kekuasaan Gereja adalah kekuatan pelayan untuk membantu semua bangsa. Semoga pertemuan kita ini mendorong kita untuk lebih bersatu, lebih rukun dan lebih melayani Gereja dan umat manusia.

 

BATU KARANG DAN KUNCI KERAJAAN SURGA

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.
Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut. Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks.
Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa. Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.(Romo Agustinus Gianto SJ)

Santo Petrus diserahi kunci Kerajaan Surga. “Kunci” merupakan simbol kekuasaan atau otoritas. Dengan menerima kuasa itu bukan berarti Petrus diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga dan siapa yang tidak. Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa kunci maksudnya berhak menafsirkan kehendak Allah dalam Kitab Suci.

Bagaimana hal ini dipahami? Ingat tulisan ini : “Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Dikutipan ini kita fokuskan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus, dan Petrus menafsirkan semua yang diketahui (bukanlah hasil pengetahuan manusia) berasal dari Allah.

Dengan demikian Petrus diberi kuasa untuk menyatakan bahwa sesuatu dilarang atau diperbolehkan, dipertahankan atau dibatalkan. Menentukan apa yang mengikat dan tidak mengikat, wajib dan tidak wajib. Semua itu dimaksudkan untuk melindungi seluruh jemaat dari kekuatan jahat dan dari kesesatan. (Romo Yohanes Gunawan Pr)

Semoga membantu menambah pemahaman kita…

Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!

Katolik dan uraian biblis Protestan mempunyai penekanan yang sama pada hal Kebangkitan badan Yesus Kristus secara harfiah. Namun untuk kesekian kalinya lagi, hanya Katolik yang mengikuti alur tersebut, konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus Kristus. Konsekuensi dari Kebangkitan badan Yesus adalah Kehadiran Yesus Kristus secara nyata, kehadiran badan-Nya yang telah bangkit sebenar-benarnya.

Pengikut Kristus (umat kristen) tidak menyatakan begitu saja bahwa “Kristus telah bangkit”, yang maknanya kejadian masa lampau, melainkan menyatakan “Kristus bangkit”, dengan makna bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu masih berlangsung dan terjadi pada saat ini. Dan konsekuensi Kebangkitan badan Yesus Kristus tersebut bukan hanya terhadap masa depan setelah akhir dari kehidupan kita, tetapi juga pada saat ini, saat hidup kita masih berlangsung kita bertemu dengan Dia (Yesus Kristus) dalam Ekaristi, dimana Dia dengan “tubuh dan darah, jiwa dan keilahian” hadir sebenar-benarnya, total, penuh dan secara harfiah nyata.

Jika doktrin ini tidak benar, maka Katolik dapat dianggap umat yang terbodoh di dunia dan yang paling menghujat Tuhan, karena membungkuk kepada persembahan roti dan anggur, tidak dapat membedakan ciptaan dan Pencipta – bahkan juga tidak dapat membedakan antara makanan (roti dan anggur) dengan Allah! Tetapi jika doktrin ini benar, maka sebagian besar umat Protestan yang tidak mempercayai kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi telah mengabaikan momen pertemuan dan kesatuan dalam kehidupan ini yang paling mendekati,  totalitas, dan paling intim, dengan Allah.

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

(Luk 22:19-20)

Bagi siapapun yang penuh semangat dalam mengasihi Yesus Kristus, inti dari doktrin kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi tidak lah sebanyak dan sekompleks argumen-argumen teologi untuk doktrin ini; melainkan yang paling penting bagi mereka adalah Eksistensi, Kehadiran, konsekuensi spirituality dari fakta bahwa: Kristus benar-benar hadir di sini, secara keseluruhan, secara total, secara literal! Yesus Kristus secara nyata hadir dalam Ekaristi. Tubuh dan Darah Kristus yang telah terpisah di Salib, dan di dalam Misa (secara simbolik); yang kemudian dihadirkan kembali untuk sebagai persembahan, persembahan yang telah dipersembahkan oleh Yesus Kristus sendiri – satu kali dan untuk selamanya bagi semua umat-Nya. Dalam ekaristi – perjamuan kudus – tubuh dan darah Kristus disatukan kembali, bukan hanya itu tapi juga jiwa Kristus, dengan kata lain jiwa manusia Yesus. Dan dalam kesatuan itu bukan hanya keseluruhan kodrat manusia Yesus yang hadir namun juga kodrat Ilahi, kedua kodrat yang bersatu sejak Inkarnasi, ketika Yesus dilahirkan oleh bunda Maria ke dunia. Pada tubuh dan darah Yesus lah Allah bersemayam dibalik kesederhanaan yang ditampilkan dalam rupa roti dan anggur, sama halnya ketika Allah yang mau menjadi anak manusia dilahirkan sebagai keluarga tukang kayu di Nazaret.

Apakah jika ada umat Protestan bertemu Yesus secara tatap muka di tengah jalan, apakah umat itu mau langsung menjatuhkan dirinya berlutut seperti “Tomas yang kurang percaya” dan berkata, “Ya Tuhanku dan ALLAHku”? Bukankah itu suatu keberuntungan yang sangat luar biasa di saat itu umat tersebut dapat melupakan diri sendiri secara total dan menyembah Yesus Kristus!? Tetapi itu bukan pengandaian atau hipotesis pemikiran – jika mengalami kejadian seperti itu -; itu adalah gambaran fakta. Hanya saja perbedaannya adalah pertemuan dengan Yesus Kristus itu bukan terjadi di sembarang tempat atau di jalan, namun pertemuan itu terjadi di Altar. Anda dan saya (kita umat Kristen) tidak dapat melihat Yesus Kristus di Altar, atau tidak bisa merasakan DIA di sana, tapi Iman bukanlah mengenai penglihatan atau perasaan.

Berikut adalah kutipan dari Santo Tomas Aquinas mengenai  Ekaristi,

Penglihatan, rasa, dan sentuhan kita kepada Allah dapat keliru;

Hanya pendengaran yang dapat dipercaya

Saya percaya Anak Allah telah berkata mengenai semuanya.

Tidak ada kebenaran lain yang lebih benar dari kata-kata dari Allah yang Benar.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)

..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)

Lambang atau ikon Katolik yang paling umum di dunia setelah Salib adalah Maria dan Yesus, Maria bersama Putranya. Terkadang kita sering menemukan gambar atau patung Yesus seorang diri tanpa bersama Maria, tetapi jarang menemukan Maria tanpa bersama Yesus. Dan jika pun kita menemukan Maria sedang sendirian, dia sedang menunjukkan kita kepada Yesus. Itulah yang seluruh hasrat hati Maria. Pihak Protestan khawatir kalau Maria akan mengalihkan perhatian umat Kristen dari Yesus Kristus, namun yang sebenarnya adalah tidak ada hal lain atau seorang pun yang lebih Kristus-sentris (berpusat kepada Kristus) dibandingkan dengan Maria. Dalam salam Elisabet yang diucapkannya kepada Maria, bagian dari salam itu yang menyenangkan hati Maria, dan yang paling diperhatikan adalah “diberkatilah buah rahimmu”; atau dalam doa dasar umat Katolik yaitu Salam Maria  ada pada bagian … “terpujilah  buah tubuh mu Yesus” ..

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. (Lukas 1:42-45)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin. (Doa Dasar – Salam Maria)

Oleh karena itu, bagaimana mungkin hal tersebut suatu kesalahan meminta Maria agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Yesus sebesar cintanya Maria kepada Yesus Putranya, atau meminta Yesus agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Maria seperti cinta Yesus kepada Ibu-Nya?

Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik, seperti Konsepsi Tidak Bernoda dan Maria diangkat ke Surga, adalah dogma-dogma yang menjadi batu sandungan yang terbesar dan yang terakhir bagi umat Kristen Protestan yang ingin bersatu kembali ke Gereja Katolik. Bagi umat Katolik hal ini cukup aneh, karena walaupun dogma-dogma tersebut dianggap oleh umat Protestan sebagai “tambahan-tambahan” dari pihak Katolik dan dapat disalahartikan sebagai hal penyebab terganggunya fokus umat kepada Kristus, “menyaingi” Kristus, atau menjadi “pengganti” Kristus; umat Katolik memahami bahwa tidak ada satu hal atau seorang pun yang paling dekat kepada Kristus selain Maria Ibu-Nya (kecuali Allah Bapa-Nya dan Roh Kudus).

Hal-hal alkitabiah yang diutarakan oleh pihak Protestan mengarahkan penegasan Kepenuhan Keilahian Kristus. Pihak Protestan adalah (condong) Kristus-sentris. Tetapi begitu juga dengan Maria, begitu juga doktrin dogma-dogma Gereja mengenai Maria. Satu demi satu dari sekian banyaknya gelar yang diberikan oleh Gereja kepada Maria adalah untuk menjaga dan sebagai pujian dan peng-agung-an terhadap Keilahian Anaknya. Contoh klasiknya adalah “Bunda Allah”. Jika Maria bukanlah “Bunda Allah”, maka begitu juga Kristus bukan Allah (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Keilahian Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Arian); atau jika Maria bukan Ibu dari Yesus Kritus (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Kemanusiaan Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Docetis).

Keagungan Maria adalah pengagungan materi, manusia, penciptaan, Gereja, dan alam. Keagungan tersebut adalah konsekuensi yang paling pertama dari Inkarnasi dan “prinsip inkarnasi” dimana Rahmat Allah menyempurnakan Alam. Konsekuensi ini seperti riak air pada suatu kolam, dimana riak tersebut berbentuk lingkaran dan bergelombang menyebar luas ke luar dari pusat lingkarannya; dan penyebab riak air tersebut adalah suatu Batu yang jatuh dari Surga. Riak air yang disebabkan Batu tersebut bergerak meluas ke luar dari Kristus kepada Maria; kemudian kepada bangsa Israel; kemudian kepada Israel yang Baru, yaitu Gereja; kemudian kepada semua umat manusia; kemudian kepada semua alam, kepada semua hal materi, kepada semua ciptaan, yang kesemuanya itu sejak mulanya dipenuhi oleh Allah dengan hidup-Nya, hidup Allah sendiri seperti yang dikatakan dalam Alkitab kepada kita pada Roma 8:18-23.

Malaikat Allah mendatangi dan menyatakan kepada Maria bahwa dia “yang dikaruniai” (lebih jelas dan tegas dalam Alkitab terjemahan versi Douay-Reihms “full of grace”, atau lebih dikenal oleh umat Katolik dengan istilah “penuh rahmat”). Lalu pertanyaanya adalah seberapa besar karunia yang diberikan? seberapa “penuh” rahmat yang diberikan? Ukuran karunia/rahmat bagaimanakah yang dapat diberikan oleh Allah kepada suatu ciptaan belaka? … untuk menjawab pertanyaan itu: Lihatlah kepada Maria, maka akan terjawab. Apakah benar Allah mau berbaik hati, bermurah hati sedemikian rupa? Lihatlah kepada Yesus Kristus untuk menjawab pertanyaan itu.

Yesus sendiri menyerahkan Ibu-Nya, Maria kepada kita, ketika Yesus disalib, ketika dia berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, dan Yesus menyerahkan kita kepada Maria pada waktu yang sama dengan berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26-27). Untuk mengikuti kehendak Yesus Kristus secara penuh adalah menuruti apa yang Yesus minta hingga pada permintaan-Nya yang terakhir sewaktu Dia masih di dunia sebelum Dia wafat.

Yesus Kristus sebenarnya telah memberikan Ibu-Nya, Maria, kepada kita ketika Kristus belum Inkarnasi (pra-Inkarnasi – Logos), atau Sabda (Pikiran) dari Allah; Kristus telah memilih, menentukan sejak awal (mentakdirkan) Maria untuk menjadi Ibu-Nya. Kristus lah satu-satunya dalam sejarah dapat memilih Ibu-Nya sendiri. Kemudian Maria dengan pernyataanya “menerima” (“…; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” [Lukas 1:38]) melahirkan Yesus ke dunia dan kemudian Yesus menjadi Juru Selamat untuk kita. Maria secara harfiah adalah juga “pembawa kebahagiaan kita”, dan juga pembawa keselamatan kita, karena: (1) Maria adalah Ibu dari Yesus Kristus, dan (2) seorang Ibu adalah pembawa, yang mendatangkan Yesus, dan (3) Yesus adalah Kebahagiaan kita dan Keselamatan kita.

..bersambung ke Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)..

Dua Sumber Utama untuk Mengenal Yesus Kristus

Tradisi dan Kitab Suci diuraikan secara khusus dalam konstitusi dogmatis Dei Verbum, yang diresmikan oleh Konsili Vatikan II pada 18 November 1968. Di dalamnya dikatakan bahwa “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). Proses komunikasi iman dari satu angkatan kepada angkatan berikut dan di antara orang sezaman disebut Tradisi. “Tradisi” berarti penyerahan, penerusan, komunikasi terus-menerus. Tradisi bukan sesuatu yang “kolot” atau dari zaman dahulu, melainkan sesuatu yang masih terjadi sekarang ini juga. Gereja yang hidup dan berkembang, itulah Tradisi. Gereja dan Tradisi sama. Tradisi adalah paham Gereja yang dinamis.

Dalam Tradisi itu ada satu kurun waktu yang istimewa, yakni zaman Yesus dan para rasul. Pada periode yang juga disebut zaman Gereja perdana itu Tradisi sebelumnya dipenuhi dan diberi bentuk yang baru, dan selanjutnya menjadi dasar dan inti pokok untuk Tradisi berikut, “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef 2:20). Maka perumusan pengalaman iman Gereja perdana, yang disebut Perjanjian Baru merupakan pusat dan sumber seluruh Tradisi, bukan karena tulisan atau rumusannya, melainkan karena iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Pengalaman iman itu memang “ditulis dengan ilham Roh Kudus” (DV 11) dan itu berarti bahwa “buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan, kebenaran yang oleh Allah mau dicantumkan di dalamnya demi keselamatan kita”. Maka kesucian Kitab Suci datang dari iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Iman itu iman akan karya keselamatan Allah, yang mencapai puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, tetapi yang sudah mulai dilaksanakan dalam sejarah Israel, sebagaimana dirumuskan dalam Perjanjian Lama. Buku itu pun suci, bukan karena kata-kata atau perumusannya, tetapi karena karya Allah yang tetap aktual. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan ungkapan dan rumusan Tradisi sebagai pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia. Maka seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman.

Kitab Suci merupakan kumpulan karangan yang berasal dari zaman yang berbeda-beda dengan latar belakang kebudayaan, politik dan juga agama yang berlain-lainan. Karangan yang ditulis antara tahun 1000 SM dan 100 M berangsur-angsur dikumpulkan, dan sejak abad keempat dibuat menjadi satu buku. Jumlah karangan atau “buku” ada 72 yang terdiri dari 45 buku Perjanjian Lama (atau 46 kalau Yeremia dan Ratapan dihitung tersendiri) dan 27 buku Perjanjian Baru.
PL: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I-II Samuel, I-II Raja, I-II Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, I-II Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus bin Sirakh, Yesaya, Yeremia (+ Ratapan), Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
PB: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah para Rasul, Surat-surat kepada umat dl Roma, I-II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I-II Tesalonika, Surat-surat kepada Timotius I-II, Titus, Filemon, Surat kepada umat Ibrani, Surat Yakobus, I-II Petrus, I-II-III Yohanes, Yudas, Kitab Wahyu.

Jadi, bagi umat Kristen Kitab Suci bukanlah buku yang didiktekan atau ditulis oleh Tuhan. Kitab Suci merupakan ungkapan iman umat Israel dan terutama iman Gereja perdana. Oleh iman itu pengarang suci bersatu dengan Allah dan menuliskan apa yang diwahyukan oleh Tuhan. Dalam proses penulisan itu ia dianugerahi rahmat khusus (yang biasanya disebut ilham), supaya yang dituliskannya itu benar-benar wahyu Tuhan dan bukan pikirannya sendiri. Karena yang menulis itu bukan satu orang, melainkan banyak pengarang suci yang berbeda zaman dan kebudayaannya, iman yang sama itu pun diungkapkan dalam rumusan yang berbeda-beda, yang kadang-kadang dapat memberi kesan seolah-olah tidak cocok satu sama lain.

Sesudah Gereja perdana, Tradisi mengolah dan memperdalam ungkapan iman yang terdapat dalam Kitab Suci. “Sebab berkembanglah pengertian tentang kenyataan-kenyataan serta kata-kata yang diturunkan, baik karena kaum beriman, yang menyimpannya dalam hati, merenungkan serta mempelajarinya, maupun karena mereka menyelami secara mendalam pengalaman-pengalaman rohani mereka, ataupun juga berkat pewartaan mereka yang sebagai pengganti para rasul dalam martabat uskup menerima karunia kebenaran yang pasti” (DV 8). Pengalaman iman, sebagaimana dirumuskan dalam Kitab Suci, selalu aktual dan punya arti bagi zaman sekarang dan senantiasa harus dibaca, direnungkan, dan dimengerti secara baru. Dalam proses itu seluruh umat mengambil bagian, Konsili Vatikan II malah mengajarkan:

“Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh (Roh) Yang Kudus, tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman segenap umat, bila – dari uskup hingga para awam beriman yang terkecil – secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Pernyataan kebenaran oleh umat terjadi menurut struktur umat sendiri, berarti “di bawah mereka yang mempunyai wewenang mengajar yang suci”, yaitu para uskup. Ini tidak berarti bahwa umat hanya mengamini apa yang ditentukan oleh pimpinan, tetapi bahwa proses permenungan dan pemahaman sabda Allah dilaksanakan di bawah bimbingan mereka yang diangkat menjadi pemimpin di dalam Gereja. Dan sebagaimana umat seluruhnya “tidak dapat sesat dalam beriman”, begitu juga hierarki tidak dapat sesat dalam memberi bimbingan.

Perlu diperhatikan bahwa anugerah ketidak-sesatan tidak diberikan kepada orang perorangan, melainkan kepada umat seluruhnya. Begitu juga ketidak-sesatan dalam bimbingan tidak dimiliki oleh uskup-uskup perorangan, juga tidak oleh paus, melainkan oleh para uskup bersama sebagai dewan pimpinan Gereja dan paus sebagai kepala dewan itu. Hal itu diterangkan dengan cukup jelas dan mendetail dalam LG 25. Di situ ditetapkan juga bahwa pernyataan pemimpin itu selalu harus bersifat resmi, dan disampaikan secara resmi pula; maksudnya, sebagai pernyataan dan kesadaran seluruh umat. Maka pernyataan seperti itu tanpa arti, kalau umat tidak terlibat dalam proses pengolahannya.

Oleh karena itu Konsili berkata, “Jelaslah bahwa Tradisi suci, Kitab Suci dan wewenang mengajar Gereja saling berhubungan dan berpadu” (DV 10). Tradisi mempunyai titik beratnya dalam Kitab Suci tetapi tidak terbatas pada Kitab Suci. Sebaliknya, Tradisi berusaha terus menghayati dan memahami kekayaan iman yang terungkap dalam Kitab Suci. Proses penghayatan dan pemahaman itu terlaksana di bawah terang Roh Kudus di dalam Gereja, dibimbing oleh pimpinan Gereja. Kalau Kitab Suci dilepaskan dari Tradisi, ia kehilangan arti dan fungsinya. Begitu juga, atau lebih lagi, mengenai wewenang mengajar pimpinan Gereja. Kalau dewan para uskup, dengan paus sebagai kepalanya, merumuskan kebenaran iman dalam bentuk dogma, maka ajaran resmi itu tidak berarti suatu ajaran baru, apalagi wahyu yang lain, melainkan perumusan kembali sesuai dengan tuntutan zaman – iman yang dihayati Gereja sejak zaman para rasul. Gereja harus terus-menerus menekuni dan mempelajari kembali apa yang sejak dahulu sudah menjadi keyakinan imannya. Sebab “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8); tetapi dunia berubah terus-menerus. Maka supaya sabda Kristus tetap berarti, perlu dirumuskan kembali dan diaktualkan bagi angkatan baru.