Sakramen Tahbisan


Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan sakramental-liturgis Gereja. Sakramen-sakramen lain, dengan cara dan dasar yang berbeda-beda, merupakan syarat untuk dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan itu diangkat dengan sakramen tahbisan. Tanpa imam sebagai pemimpin, kebaktian umat tidak diakui sebagai perayaan resmi Gereja. Bukan dalam arti bahwa imamlah yang membuat Ekaristi, tetapi imam itu pemimpin umat yang membuat pertemuan menjadi resmi. Dengan demikian perayaan Ekaristi juga menjadi ibadat resmi Gereja atau sakramen.

Tahbisan Uskup, Imam, dan Diakon: Satu atau Tiga?

Dalam masa yang lampau sakramen tahbisan, yang dulu sering disebut “sakramen imamat”; terlampau dibatasi pada tugas dalam Ekaristi. Dikatakan bahwa dengan tahbisan, imam diberi kuasa membuat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, mempersembahkan kurban Kristus kepada Allah, dan untuk memberi absolusi dalam sakramen tobat. Ini kurang tepat. Sakramen tahbisan itu “sakramen wisuda”. Dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin dalam Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau dalam pelayanan sakramen lainnya, melainkan dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja (termasuk tentu juga sakramen-sakramen). Dengan sakramen tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah” (LG 11).

Maka dari itu sakramen tahbisan itu pertama-tama tahbisan uskup. Sebab “dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanya disebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Adapun para imam biasa, kendatipun “tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para uskup, namun mereka sama-sama imam seperti para uskup; dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka pun dikhususkan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru” (LG 28). Akhirnya, masih ada para diakon, yang juga “ditumpangi tangan, tetapi bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG 29). Ada tiga macam sakramen tahbisan: tahbisan uskup, tahbisan imam, dan tahbisan diakon. Jadi, ada tiga sakramen ataukah satu?

Di atas telah dikatakan bahwa imam dan diakon itu pembantu uskup, oleh karena itu juga ditahbiskan sebagai pembantu uskup, oleh uskup mereka sendiri. Pemimpin umat yang sesungguhnya ialah uskup, tetapi bukan dalam arti bahwa uskup berdiri sendiri. Yang memimpin Gereja itu dewan para uskup, dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai anggota dewan para uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG 21).

Itu tidak berarti bahwa tahbisan imam dan diakon bukan sungguh tahbisan. Mereka pun diangkat menjadi anggota hierarki atau pimpinan Gereja, biarpun sebagai pembantu saja. Maka dapat dibedakan antara uskup dan imam/diakon sebagai pemimpin dan pembantu pemimpin. Dapat dibedakan lagi antara imam dan diakon sebagai pembantu umum dan pembantu khusus. Kalau ditekankan perbedaan itu, maka harus disimpulkan bahwa ada tiga sakramen tahbisan. Akan tetapi, kalau melihat bahwa dengan sakramen tahbisan seseorang menjadi anggota hierarki guna menggembalakan umat, biarpun dengan pembagian tugas tersendiri, harus dikatakan bahwa ada satu sakramen tahbisan saja. Satu atau tiga tahbisan itu serupa dengan satu atau dua inisiasi. Kalau semua dikhususkan, maka ada sembilan sakramen, Kalau baik inisiasi maupun tahbisan dianggap satu, maka ada enam.

Struktur Sakramental

Yang penting bukan jumlah enam atau sembilan, melainkan hubungan antara sakramen atau “struktur sakramental” Gereja. Konsili Vatikan II berulang kali berkata bahwa Ekaristi adalah “pusat dan puncak” (CD 30; AG 9; lih. LG 11; PO 5). Boleh dikatakan bahwa Ekaristi itu pelaksanaan diri Gereja di bidang liturgis-sakramental. Semua sakramen lain adalah syarat atau lanjutan. “Syarat” entah untuk dapat berpartisipasi entah untuk membuat perayaan ini menjadi sah. Supaya perayaan sah, perlu ada pemimpin yang sah, yang diangkat dengan tahbisan, menurut tingkatan sendiri-sendiri.

Syarat untuk boleh ikut juga berbeda-beda: inisiasi merupakan syarat umum. Dengan pembaptisan dan krisma, orang menjadi anggota Gereja dan karena itu “berhak” ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Haknya itu tidak bisa dipergunakan, kalau ia mempunyai dosa besar atau bahkan diekskomunikasi (dikucilkan). Dengan sakramen tobat semua halangan itu dihapus dan orang dapat berpartisipasi penuh lagi. Tetapi halangan tidak hanya datang dari tindakan moral seseorang. Ia juga harus dilantik di dalam Gereja menurut status sosialnya. Dengan hidup berkeluarga status sosialnya berubah. Maka keanggotaan Gereja harus “disesuaikan”. Itulah fungsi sakramen perkawinan. Akhirnya, dengan sakramen pengurapan orang sakit orang dipersiapkan supaya bersatu dengan sengsara dan wafat Kristus, bukan hanya secara sakramental (dalam Ekaristi) melainkan juga secara eksistensial dengan mengalaminya sendiri.

Semua sakramen itu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan satu sama lain, dan bersama-sama membentuk struktur sakramental Gereja, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Struktur Sakramen
Struktur Sakramen

Dalam struktur ini jelas, bahwa inisiasi (dan juga tobat dan nikah) benar-benar terarah kepada Ekaristi sebagai “pusat dan puncak”-nya, Begitu juga para imam harus sadar, bahwa “tugas suci mereka laksanakan terutama dalam ibadat Ekaristi atau pertemuan (synaxis)” (LG 28). Dan mereka yang dipersatukan dengan sengsara Kristus hendaknya yakin, bahwa “kita adalah warga surga, dari mana kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21).

Upacara Tahbisan

Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3. Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan imam berbunyi:

“Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.”

Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h   arus dijalankan dengan kata, tetapi terutama dengan “teladan hidup”.

Pembantu Uskup: Imam dan Diakon


Uskup itu pemimpin Gereja lokal, tetapi ia jarang kelihatan di tengah-tengah umat. Tampaknya uskup seorang “administrator” saja. Sebelum Konsili Vatikan II banyak orang berpendapat bahwa dengan tahbisan imam seseorang sudah menerima kepenuhan imamat, sedangkan tahbisan uskup sebetulnya hanya upacara administratif saja. Ajaran Konsili Vatikan II lain: “Konsili suci mengajarkan, bahwa dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yakni yang disebut imamat tertinggi, keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Kepenuhan imamat tidak diberikan dengan tahbisan imam, tetapi dengan tahbisan uskup.

Anggapan (umum) bahwa tahbisan imam sudah berarti kepenuhan imamat, berhubungan dengan pandangan yang melihat tugas imam melulu dalam kaitan dengan Ekaristi (dan sakramen tobat). Seorang imam dipandang orang yang diberi kuasa mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus dan mengampuni dosa. Pandangan salah ini mempunyai dasar dalam ajaran Konsili Trente, yang menegaskan tugas sakramental imam dalam jawabannya terhadap ajaran Protestan. Oleh karena Trente hanya mau menanggapi ajaran Reformasi, maka juga hanya menyebut hal-hal yang dipersoalkan oleh Reformasi. Ajaran Trente tidak lengkap. Oleh karena itu Konsili Vatikan II melengkapi ajaran Trente dengan mengajarkan bahwa tugas pokok uskup [dan imam] adalah kepemimpinan. Tugas itu kemudian dijabarkan dalam tiga tugas khusus. Yang pertama tugas pewartaan, selanjutnya bidang sakramen, dan akhirnya seluruh kehidupan jemaat. Kecuali itu, dengan mengikuti Kitab Suci, Konsili Vatikan II dengan menekankan tugas kepemimpinan juga menegaskan fungsi uskup sebagai pemimpin yang sesungguhnya dan mengajarkan bahwa para imam merupakan pembantunya.

Uskup sekarang jarang tampil di tengah-tengah umat. Ini berhubungan dengan “ukuran” keuskupan. Zaman dahulu, sampai abad ke-6, sebuah keuskupan tidak lebih besar daripada yang sekarang disebut paroki. Seorang uskup dapat disebut “pastor kepala” pada zaman itu, dan imam-imam “pastor pembantu”. Lama kelamaan para pastor pembantu mendapat daerahnya sendiri, khususnya di pedesaan. Makin lama daerah-daerah keuskupan makin besar. Dengan demikian, para uskup semakin diserap oleh tugas organisasi dan administrasi. Tetapi semua itu sebetulnya tidak menyangkut tugasnya sendiri sebagai uskup, melainkan cara melaksanakannya.

Dengan perkembangan itu para imam makin menjadi wakil uskup. “Di masing-masing jemaat setempat dalam arti tertentu mereka menghadirkan uskup. Para imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan para uskup, sebagai penolong dan organ mereka” (LG 28). Tugas konkret mereka sama seperti uskup: “Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi”. Bagi mereka juga berlaku bahwa “umat Allah pertama-tama dihimpun oleh sabda Allah yang hidup. Maka para imam sebagai rekan-rekan sekerja para uskup, pertama-tama wajib mewartakan Injil Allah kepada semua orang” (PO 4). Baru kemudian disebut tugas liturgis dan organisatoris (PO 5; 6), sebab “termasuk tugas para imam sebagai pembina iman, mengusahakan supaya orang beriman masing-masing dibimbing dalam Roh Kudus guna menghayati panggilannya sendiri menurut Injil, secara aktif mengamalkan cinta kasih yang jujur, dan hidup dalam kebebasan yang dikaruniakan oleh Kristus” (PO 6).

“Semua imam adalah pembantu uskup dan mengambil bagian dalam tugas membangun jemaat. Tetapi tugas membantu uskup dalam kepemimpinan keuskupan secara khusus dipercayakan kepada dewan imam yang merupakan suatu senat uskup dan sekaligus mewakili para imam dalam suatu keuskupan” (KHK kan. 495).

Konsili Vatikan II mengakhiri uraiannya mengenai hierarki dengan para diakon: “Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan ‘bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan’ (LG 29). Mereka juga pembantu uskup, tetapi tidak mewakilinya. Para uskup mempunyai dua macam pembantu: pembantu umum (disebut imam) dan pembantu khusus (disebut diakon). Bisa juga dikatakan bahwa diakon “pembantu dengan tugas terbatas”. Oleh karena itu dia ada “pada tingkat hierarki yang lebih rendah”. Diakon juga anggota hierarki, oleh karena itu mengambil bagian dalam tugas kepemimpinan. Hanya saja agak sulit mengkhususkan tugas itu. Dalam organisasi Gereja sekarang ini semua tugas itu sudah dilakukan oleh imam atau oleh awam. Maka tidak ada banyak orang yang ditahbiskan menjadi diakon. Hanya karena dikatakan bahwa “diakonat dapat diterimakan kepada pria yang sudah berkeluarga”, maka kadang-kadang ada orang ditahbiskan menjadi diakon untuk tugas gerejawi. Banyak tugas itu dijalankan oleh awam tidak-tertahbis. Maka, karena kekurangan imam ada kalanya ditahbiskan orang menjadi diakon, dengan tugas terbatas.

Kardinal bukan tingkatan atau fungsi khusus dalam kerangka hierarki, Seorang kardinal adalah uskup yang diberi tugas dan wewenang memilih paus baru, bila ada seorang paus meninggal. Karena paus adalah uskup Roma, maka paus baru sebetulnya dipilih oleh pastor-pastor kota Roma, khususnya oleh pastor-pastor dari gereja-gereja “utama” (= cardinalis). Karena tugas dan wewenang paus tidak lagi pertama-tama terkaitkan dengan urusan keuskupan Roma saja, maka yang memilihnya juga bukan lagi pastor-pastor kota Roma. Dewasa ini para kardinal dipilih dari uskup-uskup seluruh dunia. Lama-kelamaan para kardinal juga berfungsi sebagai penasihat paus, bahkan fungsi kardinal menjadi suatu jabatan kehormatan. Para kardinal diangkat oleh paus. Sejak abad ke-13 warna pakaian khas adalah merah lembayung.

Para Rasul


Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas rasul. Inilah kelompok yang sudah terbentuk waktu Yesus masih hidup bersama mereka. Yudas Iskariot, “yang akan menyerahkan Yesus, dia pun seorang di antara kedua belas murid” (Yoh 6:71). Maka kelompok yang biasanya disebut “keduabelasan” (lih. Mat 10:5; 26: 14.47; dst.) sesudah kematian Yudas disebut “kesebelasan” (Kis 1:26; 2:14; juga Mat 28:16; Mrk 16:14; Luk 24:9.33). Tetapi kata “keduabelasan” tetap terpakai juga (lih. Kis 6:2; 1Kor 15:5), tanda bahwa itu kelompok terkenal. Paulus menyebut kelompok itu “mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku” (Gal 1:17).

Paulus pun seorang rasul, sebagaimana dinyatakan dengan tegas (1Kor 9:1; 15:9; lih. juga Rm 1:1; 1Kor 1:1; 2Kor 1:1, terutama Gal 1:1) karena ia “telah melihat Yesus, Tuhan kita”. Seorang rasul adalah “saksi kebangkitan” (Kis 1:22; 10:41). Yang pertama-tama disebut rasul adalah kelompok dua belas itu, “yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem” (Kis 13:31). Tetapi Paulus pun disebut “rasul”, begitu juga Barnabas dan banyak orang lain (lih. Kis 14:14). Bahkan akhirnya semua “utusan jemaat” disebut rasul (2Kor 8:23; lih. Flp 2:25), karena kata “rasul” (apostolos) memang berarti “utusan” (lih. Luk 9:52), dan secara khusus dipakai untuk “utusan Kristus” (2Kor 5:20). Maka lama-kelamaan kelompok rasul lebih luas daripada kelompok dua belas saja (bdk. 1Kor 15:5 dan 7).

Para rasul di Yerusalem, dan lebih khusus lagi “Yakobus, Kefas (Petrus), dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat” (Gal 2:9; bdk. ay. 2 dan 6), rupa-rupanya mempunyai kedudukan dan wewenang yang khas. Sesudah bekerja lama di antara bangsa kafir Paulus merasa perlu membentangkan Injil yang diberitakannya di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi “dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang” itu (Gal 2:2). Dari satu pihak Paulus mempertahankan bahwa kerasulannya “bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Tetapi dari pihak lain ia mencari hubungan dengan Yerusalem “supaya jangan bekerja dengan percuma” (2:2), dan berjabat tangan dengan pemimpin di Yerusalem dipandangnya sebagai “tanda persekutuan” (2:9). Ia berani berterus-terang dengan Petrus (Gal 2:14), tetapi ia juga menempatkan kesaksiannya bersama dengan pewartaan mereka (1Kor 15:11).

Dengan bangga Paulus menyebut diri “rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi” (Rm 11:13; lih. Gal 1:16), tetapi dengan rajin ia mengumpulkan dana untuk jemaat di Yerusalem, “sebab, jika bangsa-bangsa lain beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah mereka melayani orang Yahudi dengan harta duniawi” (Rm 15:27). Yerusalem tetap dipandang sebagai pusat, demikian juga “mereka yang senantiasa datang berkumpul selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga” (Kis 1:22). Tetapi sesudah Paska, yang terpenting bukan lagi keikutsertaan dengan Yesus dalam karya-Nya di Palestina, melainkan menjadi saksi kemuliaan-Nya.

Mereka tetap “memberi kesaksian tentang Injil kasih-karunia Allah” (Kis 20:24) dan mewartakan “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat” (Kis 1:1). Sesudah Paska tekanan ada pada Yesus sendiri, khususnya pada wafat dan kebangkitan-Nya. “Setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:20). Tugas pokok adalah pewartaan, dan pewartaan semakin terpusatkan pada Tuhan yang mulia. Maka dalam jemaat Korintus amat dipentingkan pengalaman akan Roh, sebab “Tuhan adalah Roh” (2Kor 3: 17) dan “tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Jemaat hidup dari pengalaman Roh itu. “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7).

Di dalam jemaat masing-masing anggota mempunyai tugas dan perannya sendiri, dan untuk itu ia juga diberi karunia khusus Roh Kudus, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing anggotanya” (1Kor 12:27). Maka “hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu, tetapi semuanya untuk membangun” (1Kor 14:26). Jemaat hidup dari karunia Roh. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur, sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1Kor 14:40.33). Oleh karena itu Paulus terpaksa turun tangan, bila kesopanan dan kesatuan ternyata kurang diindahkan (lih. 1Kor 5:1-13; 7:17; 11:34; 16:1; 2Kor 2:5-11).

Prinsip kesatuan jemaat bukanlah kuasa atau wewenang Paulus, melainkan karunia Roh. Tentu saja Paulus mempunyai wibawa sebagai seorang rasul (lih. 1Kor 3:10; 4:15; 2Kor 10:8; 13:10), dan kiranya kepribadian Paulus amat berarti untuk kehidupan dan kesatuan jemaat. Tetapi Paulus tidak pernah menonjolkan diri sebagai pemimpin jemaat. Sebaliknya, ia menyebut diri hamba jemaat, “Sebab, bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Tugas pokok adalah pewartaan Injil, bukan pengurusan jemaat (lih. 1Kor 1:17; 9:16; 15:1). Mengenai kuasa serta wewenang tidak ada orang yang bertanya.

Semua itu menjadi agak lain, ketika para rasul sudah tidak ada. Dalam Kis 15:2 di samping para rasul juga disebut “penatua-penatua” (lih. juga 11:30). Tidak seluruhnya jelas fungsi dan asal-usul golongan ini, tetapi mungkin sekali bahwa di dalam jemaat Yerusalem diambil alih struktur organisasi yang lazim di kalangan Yahudi (Kis 14:23). Dengan demikian, lama-kelamaan para penatua menggantikan rasul-rasul (lih. mis. Kis 15:6; 20:17.28; 21:18). Paulus dalam suratnya yang paling tua juga berbicara mengenai “mereka yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu” (1Tes 5:12). Kurang jelas apakah mereka mempunyai tugas dan kedudukan tetap, atau hanya ditunjuk sementara. Yang jelas bahwa Ef 4:11 sudah mengenal aneka fungsi dan jabatan “rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar”.

Dalam teks ini pun tidak seluruhnya jelas apa yang dimaksudkan dengan nama-nama itu. Kiranya “rasul” dan “nabi” masih menunjuk situasi awal. Rupa-rupanya mereka kemudian diganti dengan “gembala” dan “pengajar”, yang barangkali sudah menjadi petugas tetap di dalam jemaat. Sedangkan “pemberita-pemberita Injil” mungkin tidak terikat pada satu jemaat tertentu melainkan berkeliling ke mana-mana. Dalam 1Kor 12:28, sebelum dibicarakan aneka karunia Roh, juga disebut dahulu “rasul”, “nabi” dan “pengajar” (bdk. Kis 13:1; Rm 12:6-7).

Kata episkopos (yang kemudian menjadi “uskup”) sebenarnya berarti “penilik” dan jarang dipakai dalam Kitab Suci (Kis 20:28; Flp 1:1; 1Tim 3:2; Tit 1:7). Kata itu sebetulnya sebuah istilah “profan” dari bahasa biasa, dan kurang jelas apa artinya dalam kerangka Gereja dan agama. Sama halnya dengan kata diakonos, yang sebenarnya hanya berarti “pelayan”, tetapi dalam Rm 16:1; Ef 6:21; Flp 1:1; Kol 4:7 dan terutama dalam 1Tim 3:8-13 jelas mempunyai arti gerejawi dan sudah menjadi semacam “tahbisan” (bdk. 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Banyak hal yang tidak jelas dalam proses perkembangan ini. Tetapi pada akhir perkembangannya ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia, yang mengenal “penilik” (episkopos), “penatua” (presbyteros) dan “pelayan” (diakonos). Struktur itu selanjutnya menjadi struktur hierarkis yang terdiri dari uskup, imam dan diakon. Yang penting bukanlah bagaimana kepemimpinan Gereja dibagi atas aneka fungsi dan peran, tetapi bahwa tugas pewartaan para rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat. Hal itu tidak berarti “rebutan kuasa”, tetapi perhatian yang semakin besar untuk jemaat dan urusan jemaat sendiri. Perkembangan ini tidak hanya disebabkan oleh kematian angkatan yang pertama, tetapi juga karena perhatian untuk parousia atau kedatangan Tuhan pada akhir zaman semakin berkurang. Di samping itu muncul aneka ajaran dan gerakan sesat yang merupakan ancaman bagi kehidupan Gereja. Kalau kita membandingkan surat-surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus dengan surat-surat pastoral (1- 2Tim; Tit), ternyata aneka karunia dan fungsi makin dipusatkan dalam tangan satu atau beberapa orang saja. Bentuk organisasi Gereja makin ketat. Bersama dengan itu juga ada perkembangan bahwa bidang sakral atau kultis makin mendapat banyak perhatian.

Dalam hal ini terjadi suatu proses perkembangan yang dapat dibandingkan dengan proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru. Waktu Paulus menulis surat-suratnya kiranya ia tidak berpikir mengenai Kitab Suci. Begitu juga tulisan yang di kemudian hari akan diakui sebagai Injil, semula dianggap sebagai catatan biasa untuk katekese. Demikian pula dengan tulisan-tulisan yang lain yang dipandang sebagai sarana komunikasi di dalam jemaat. Baru di kemudian hari disadari bahwa di dalamnya iman Gereja perdana terungkap secara otentik dan asli, di bawah penerangan Roh Kudus.

Begitu juga dengan struktur hierarkis Gereja. Dalam Gereja perdana hierarki dipandang sebagai struktur organisasi dan komunikasi yang biasa. Baru kemudian disadari bahwa di dalamnya karya Roh mendapat bentuknya. Maka, menerima Gereja perdana sebagai norma Gereja sekarang tidak hanya berarti menerima Kitab Suci, tetapi juga bentuk organisasinya sebagaimana berkembang dalam periode awal itu. Justru tulisan-tulisan awal Gereja itu diakui sebagai Kitab Suci dalam kerangka jemaat yang semakin terorganisasi. Keduanya kait-mengait, yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Bahkan harus dikatakan bahwa Kitab Suci sudah mengandaikan suatu jemaat terorganisasi yang mau menerimanya secara resmi sebagai sabda Allah.