Asal Usul Sakramen

Sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang dimulai dalam sejarah Gereja sebagai praktik, tidak lahir sebagai teori yang kemudian dilaksanakan. Karena itu, titik tolak menemukan sumber teologi sakramen adalah praktik perayaan sakramen dalam hidup Gereja perdana.

Sejak awal hidup Gereja terdapat ritus-ritus. Ritus-ritus tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk pelaksanaan hidup Gereja, dan dipandang penting dan mutlak perlu untuk hidup Gereja. Ritus-ritus awal itu antara lain ritus pembaptisan dan pemecahan roti atau Ekaristi. Sebagian besar unsur ritus itu diambil dari kelompok agama lain, khususnya agama Yahudi. Tetapi untuk kita tidak begitu penting, apa yang diambil alih dan apa yang diciptakan baru oleh Gereja perdana. Yang penting ialah arti dan isi ritus-ritus itu, yang isinya ternyata bersifat khas Kristiani sejak permulaan.

Kekhasan itu terletak pada keyakinan Gereja bahwa ritus-ritus itu membuat sesuatu yang sama sekali baru dalam dunia. Dalam praktik pembaptisan misalnya, Gereja mengambil alih ritus yang sudah lama dikenal di luar Gereja. Yang baru adalah, melalui ritus yang secara lahiriah sudah populer itu Gereja mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut.

Demikian halnya dengan praktik Ekaristi. Benar bahwa perjamuan-perjamuan religius terdapat di dalam banyak agama. Tetapi praktik tersebut sudah diambil alih oleh Gereja perdana untuk suatu maksud dan isi tertentu. Dengan merayakan Ekaristi, Gereja perdana ingin memberitakan kematian Tuhan sampai kedatangan-Nya kembali, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26).

Kalau kita menyelidiki sumber-sumber kita, yaitu Kitab Suci, jelas sekali bahwa Gereja perdana sadar akan perbuatan Allah yang unik dan “satu kali untuk selama-lamanya” sebagai pemenuhan janji dan perbuatan itu dikerjakan Allah secara historis dan kelihatan “pada zaman akhir ini”, dalam diri Yesus dari Nazaret, seorang manusia historis.

Perbuatan Allah itu adalah perbutan keselamatan yang harus diimani, diwartakan, dan dilaksanakan antara lain melalui upacara-upacara tertentu. Allah dalam karya keselamatan itu antara lain menciptakan Gereja. Gereja sebagai hasil karya keselamatan Allah harus menghayati dan melanjutkannya sampai akhir zaman. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus telah melaksanakan keselamatan umat manusia dan dunia seluruhnya dalam salib dan kebangkitan Putra-Nya yang tunggal itu sedemikian rupa, sehingga sekarang Gereja sekaligus merupakan hasil dan sakramen keselamatan.

Karya keselamatan dengan seluruh dimensi historisnya, baik menyangkut janji, pelaksanaan dalam diri Yesus dan pemenuhan eskatologisnya hadir di dalam Gereja sebagai hidup dan inti Gereja. Gereja, sebagai hasil karya penyelamatan yang melaksanakan hakikatnya itu dan menunaikan amanat dan tugasnya sebagai alat keselamatan dengan cara penghayatan hidup yang diberikan oleh Allah, akan juga menyampaikan hidup baru itu kepada dunia yang belum percaya kepada Kristus. Tugas tersebut terlaksana antara lain dalam perbuatan-perbuatan yang kemudian disebut sakramen-sakramen.

Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa isi dan arti Gereja, yaitu rahasia penyelamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus dari Nazaret, mesti dilaksanakan di dalam Gereja itu sendiri antara lain melalui ritus-ritus. Ritus atau upacara itu merupakan sarana yang dengannya rahasia penyelamatan Allah disampaikan kepada manusia sepanjang sejarah dan selanjutnya dikenal sebagai sakramen.

Pembaruan Kharismatik

Kiranya Pembaruan Kharismatik mempunyai hubungan langsung dengan soal pengalaman rahmat atau pengalaman Roh. Lebih khusus hal itu berhubungan dengan Baptis dalam Roh, yang sekarang biasanya disebut Pencurahan Roh (bdk. Kis 1:5). Dalam surat gembala KWI 30 November 1993 dikatakan bahwa “Gereja sekarang memahami ‘Baptis dalam Roh’ sebagai doa permohonan iman yang sungguh-sungguh agar berkat rahmat baptis dan krisma, hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus”. Doa permohonan itu diucapkan dengan penumpangan tangan sebagai tanda cinta persaudaraan. Dan “dalam peristiwa tersebut orang dapat betul-betul mengalami kasih Allah secara mendalam sekali”. Itulah sebabnya sejak semula “Baptis dalam Roh” – bersama dengan pengalaman rahmat yang menyertainya – mendapat banyak perhatian dalam gerakan kharismatik.

Dalam gerakan kharismatik dapat dibedakan tiga “gelombang”:

  1. Gerakan Pentekosta, yang dimulai, oleh Charles F. Parham bersama beberapa mahasiswa di Kansas, pada tahun 1901 sebagai “gerakan kesucian” (Holiness Movement) di kalangan Gereja Metodis, yang didirikan oleh John Wesley (1703-1791);
  2. Gerakan Kharismatik, yang sejak 1918 amat mementingkan “Baptis dalam Roh” dan menjadi suatu gerakan tersendiri, yang berpusat pada pengalaman Roh;
  3. Gerakan pembaruan yang bersifat kharismatik di kalangan Gereja Protestan dan Katolik; Pembaruan Kharismatik Katolik mulai pada tahun 1967 dan pada tgl. 30 November 1990 Takhta Suci mengakui “Persaudaraan Katolik Jemaat dan Kumpulan Persekutuan Kharismatik” (The Catholic Fraternity of Charismatic Covenant Communities and Fellowships) sebagai kumpulan orang beriman Kristen Katolik yang resmi. Pada tgl. 14 September 1993 Kongregasi Kepausan untuk kaum awam juga mengakui ICCRS (International Catholic Charismatic Renewal Services), yang berkedudukan di Roma, sebagai badan untuk memajukan Pembaruan Kharismatik Katolik.>

Jelaslah bahwa gerakan kharismatik dalam sejarahnya dari Gerakan Pentekosta sampai Pembaruan Kharismatik Katolik mengalami perubahan yang amat berarti. Namun inspirasi semula tetap menjadi pendorong utama, yakni mencari pengalaman akan daya kekuatan Roh. Ajaran John Wesley masih jelas bercorak Protestan, yakni bahwa dalam hidup seorang Kristen harus dibedakan dua tahap: Tahap pembenaran dan tahap pengudusan. Dalam fase pertama orang sudah diterima oleh Allah, walaupun ia belum “baik”. Maka fase kedua berarti bahwa oleh rahmat Allah ia betul-betul diubah menjadi orang suci. Pandangan itu kemudian berkembang menjadi “gerakan kesucian”, di mana orang mencari pengalaman pertobatan mendalam ini, yang kemudian disebut “Baptis dalam Roh” (yang oleh banyak orang waktu itu dibedakan dari “Baptis dengan air”, yakni sakramen inisiasi Kristen).

Kekhasan gelombang kedua, yakni “gerakan kharismatik”, ialah bahwa pengalaman “Baptis dalam Roh” dihubungkan erat-erat dengan kharisma-kharisma, khususnya dengan “bahasa Roh”, yakni bahasa irasional (tidak masuk akal), namun yang merupakan ucapan seperti bahasa, guna mengungkapkan kasih dan devosi kepada Allah.

Pembaruan Kharismatik Katolik mulai, pada tahun 1967, dengan dua mahasiswa yang menerima “Baptis dalam Roh” dalam suatu pertemuan doa Pentekosta. Mereka membagikan pengalaman itu dengan teman-teman Katolik, dan dengan demikian mulailah gerakan kharismatik Katolik.

Konsili Vatikan II sudah mengemukakan ajaran tentang kharisma-kharisma itu, yang tidak seluruhnya sama dengan anugerah Roh, yang disebut “rahmat”,

“Kharisma-kharisma itu, entah yang amat mencolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaklah diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan dari padanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya kharisma-kharisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12).

Oleh karena itu, perlu diperhatikan pula apa yang dikatakan dalam Surat Gembala KWI mengenai Pembaruan Kharismatik Katolik pada 30 November 1993:

“Kharisma itu anugerah cuma-cuma, tanda bahwa Roh mencintai umat. Maka karunia itu tidak dapat dikejar atau kita rebut, seakan-akan sebagai hasil jerih payah kita dan untuk selama-lamanya boleh kita miliki. Misalnya, “bahasa lidah” adalah karunia Roh yang sering tidak tergantung pada emosi dan berupa doa pujian atau permohonan pribadi serta disadari oleh pendoanya . … Lebih lanjut “karunia nubuat” dianugerahkan demi pengutusan Allah, yang biasanya berupa hiburan untuk meneguhkan atau untuk mendorong orang lebih berbakti dalam jemaat. … “Karunia penyembuhan” sering dikaitkan dengan pengutusan Tuhan seyogyanya kita tidak menciptakan kebiasaan mencari penyembuhan demi penyembuhan; sebaliknya baiklah kita lebih menegaskan penyerahan kepada kehendak Tuhan serta tidak mudah menandai orang yang tidak disembuhkan sebagai “tidak beriman” (no. 16-21).

Yang pokok dari kharisma-kharisma bukanlah pengalaman yang luar biasa, melainkan pertemuan dengan Tuhan yang lebih mendalam, pengenalan akan Kristus, yang sungguh berarti suatu hubungan pribadi yang membahagiakan. Pengalaman itu akan mendorong ke arah hidup yang lebih Kristiani, baik dalam kesungguhan hati maupun terutama dalam kerelaan membantu sesama dalam pembangunan Gereja dan masyarakat. Roh Kudus diberikan kepada manusia, juga dengan cara yang tidak biasa, “supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu” (DV 5), entah secara pribadi entah bersama-sama dalam Gereja.

Kendati disebut “kharismatik” namun perhatian untuk kharisma-kharisma bukanlah satu-satunya ciri khusus gerakan ini. Dua aspek lain perlu disebut: Doa-pujian dan kesaksian, Kedua-duanya memang berhubungan erat dengan “Baptis dalam Roh” serta anugerah “bahasa Roh” (atau bahasa lidah). Dalam kelompok doa kharismatik tekanan ada pada doa pujian, yang sering kali diucapkan dengan banyak ekspresi badan, seperti gerakan tangan dan sebagainya. Doa ekspresif ini dapat membantu orang membuka diri bagi kharisma Roh. Namun janganlah doa itu sendiri dilihat sebagai hasil karya Roh langsung. Di sini pun perlu dibedakan antara rahmat dan tanda atau sarana rahmat. Bahkan bisa terjadi bahwa doa ekspresif ini juga terungkap dalam bentuk doa yang serupa dengan “bahasa Roh”, tetapi sebenarnya merupakan cetusan emosi saja. Sama halnya dengan kesaksian. Kesaksian hendaknya berupa anjuran dan dorongan membantu sesama dalam pembentukan jemaat dan bukan ungkapan kesombongan sampai memandang rendah saudara yang lain, yang oleh Tuhan diberi anugerah Roh yang lain. Segala kesaksian akhirnya harus menunjuk kepada Yesus, bukan kepada diri penyaksi sendiri. Anugerah Roh diberikan supaya orang “dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan” (1Kor 12:3).

Sebelum Yesus Tampil; Persiapan, dan Yesus dibaptis

Dikatakan bahwa ketika Yesus mulai tampil di depan umum, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun (Luk 3:23). Sebelumnya Ia hidup tersembunyi di Nazaret dan mencari nafkahnya sebagai tukang (Mrk 6:3), sama seperti ayah-Nya (Mat 13: 55).

1. Persiapan

Mengenai masa pendidikan-Nya Injil tidak mengatakan apa-apa selain peristiwa di kenisah, waktu Ia berusia dua belas tahun. Maka boleh diandaikan bahwa Yesus mendapat pendidikan yang lazim untuk anak-anak pada zaman itu. Pendidikan itu pertama-tama tugas orangtua (lih. Ams 1:8). Demikian pula kiranya yang pertama-tama mendidik Yesus adalah Maria, lebih-lebih pada masa kanak-kanak Yesus, dan Yusuf, ketika Ia sudah menjadi lebih besar. Ayah harus mendidik anaknya, mengajarinya cara membawakan diri dalam masyarakat; dan kalau dia anak laki-laki juga cara mencari nafkah. Anak perempuan dididik dalam pekerjaan rumah tangga oleh ibunya. Pendidikan keagamaan diberikan oleh orangtua. Ayah harus menceritakan sejarah Israel kepada anak-anaknya (Kel 10:2; 13:8; Ul 4:9; 32:7). Dalam Talmud dikatakan:

“Pada umur lima tahun, anak siap mempelajari Kitab Suci;
pada umur sepuluh tahun, siap untuk Mishnah (peraturan);
pada umur tiga belas, untuk perintah-perintah;
pada umur lima belas, untuk Talmud (tradisi);
pada umur delapan belas, siap untuk kamar pengantin;
pada umur dua puluh, siap untuk profesi;
pada umur tiga puluh, ia siap tampil ke depan.”

Anak tidak hanya belajar di rumah. Waktu perayaan atau ziarah ia mendapat banyak instruksi (dari imam-imam atau petugas yang lain), dan pada hari Sabat biasanya ada semacam “kuliah subuh” di sinagoga (rumah ibadat). Setiap anak harus menghafalkan mazmur-mazmur dan bagian-bagian lain Kitab Suci (lih. Mzm 78:1-3). Pada zaman Yesus juga sudah ada sekolah, namun berbeda dengan sekolah zaman sekarang. Biasanya hanya ada satu guru saja (sering kali seorang Farisi, mungkin ahli Taurat), yang mengumpulkan anak-anak untuk mengajarkan kepada mereka segala macam pengetahuan, khususnya mengenai agama. Mereka berkumpul di tempat yang umum dan terbuka, atau (sebagian dari) sinagoga. Tujuan pokok adalah kemampuan membaca (dan menghafalkan) Kitab Suci. Murid yang pintar dan mampu dapat meneruskan studi mereka dengan belajar hukum. Untuk itu anak biasanya harus pergi ke kota (Yerusalem). Sejak zaman para nabi juga ada “kelompok studi”, yang tidak dimaksudkan untuk pendidikan anak kecil, tetapi untuk mempelajari Kitab Suci dan hukum adat bersama-sama. Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri membentuk kelompok-kelompok seperti itu.

Dalam Injil Yesus sering disebut rabi (bahasa Aram dan Ibrani), khususnya oleh para murid (mis. Mrk 9:5; 10:51; 11:21; 14:45), yang berarti guru (lih, Yoh 1:38; 20:16). Dan memang sebutan “guru” (dalam bahasa Yunani) juga dipakai, malah lebih sering (mis. Mrk 4:38; 9:17.38; 10:17.20.35; 12:14.19.32; 13:1). Dengan sebutan itu pertama-tama diungkapkan kehormatan terhadap Yesus, dan ternyata Yesus “mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Akan tetapi para pengikut-Nya tetap disebut “murid”, walaupun tidak dikatakan bahwa mereka “belajar”, melainkan “mengikuti Dia”.

“Murid” berarti pengikut Yesus. Mereka itu orang yang dipanggil oleh Yesus sendiri (lih. Mrk 1:17; 2:14; bdk. 10:17-27; Luk 9:57-60) dan berasal dari daerah Yesus. Petrus dan Andreas kakak-beradik, begitu juga Yakobus dan Yohanes. Simon termasuk kelompok “zelot”, yakni kaum nasionalis; dan Lewi pemungut bea, yang bersekongkol dengan penjajah. Kebanyakan adalah nelayan dari Tiberias. Dalam Luk 8:1-3 juga disebut beberapa wanita (lih. Mrk 15:40-41).

Yang mencolok adalah tuntutan Yesus bahwa mereka harus meninggalkan segala-galanya, termasuk sanak-saudara (lih. Mrk 8:34 dsj.; Luk 14:26 dsj.). Menjadi murid Yesus berarti “menyertai Dia” (Mrk 3:14), dengan segala konsekuensinya (lih. Mrk 8:34; 10:39). Tekanan ada pada hubungan pribadi, bukan pada ajaran atau pengetahuan. Mereka mengambil bagian dalam tugas dan perutusan Yesus (lih. Mrk 1:17) dan “diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:14; Mat 10:7 dsj.). Maka di antara para murid dalam arti yang luas ada dua belas orang yang secara istimewa dipilih oleh Yesus menjadi murid-Nya. Merekalah yang diutus oleh-Nya dan di kemudian hari juga menjadi “saksi kebangkitan” (Kis 1:22). Biasanya mereka disebut “dua belas rasul”.

Kelompok murid Yesus, khususnya kelompok dua belas, serupa dengan kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang berkumpul di bawah seorang guru, Namun kelompok murid Yesus itu juga khas. Kekhasan kelompok ini berakar dalam keistimewaan Yesus sendiri. Dasar kesatuan kelompok Yesus adalah iman akan Yesus dan perutusan-Nya yang berkembang dalam pergaulan dengan Yesus.

2. Yesus Dibaptis

Kehidupan Yesus di depan umum dimulai dengan berita, “Ia meninggalkan Nazaret dan berdiam di Kapernaum, di tepi danau; sejak saat itulah Yesus memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:13.17). Yesus meninggalkan ketenangan hidup keluarga di Nazaret dan mulai hidup mengembara. Ia “berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Awal perubahan hidup ini adalah pembaptisan oleh Yohanes. Matius menceritakan, “Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes supaya dibaptis olehnya” (Mat 3:13). Mrk 1:9 memberitakan peristiwa itu dengan kata-kata yang hampir sama. Tetapi Lukas menguraikannya lebih luas dan memperlihatkan maknanya:

“Ketika seluruh umat dibaptis,
dan ketika Yesus pun dibaptis dan sedang berdoa,
maka terbukalah langit
dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya;
dan terdengarlah suara dari langit:
Engkaulah Anak yang Kukasihi,
kepada-Mulah Aku berkenan (Luk 3:21-22)”

Pertama-tama, dikatakan bahwa bukan hanya Yesus yang dibaptis, melainkan seluruh umat. “Datanglah kepada Yohanes orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan” (Mrk 1:5). Baptis Yohanes merupakan pembaptisan pertobatan (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3; Kis 13:24; 19:4). Maksudnya, orang minta dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda tobat.

Timbullah pertanyaan, bagaimana Yesus “yang tidak mengenal dosa” (2Kor 5:21) dapat minta dibaptis oleh Yohanes. Rupa-rupanya pertanyaan ini sudah timbul di kalangan Gereja perdana sendiri. Markus masih menceritakan pembaptisan Yesus tanpa keterangan lebih lanjut (Mrk 1:9). Tetapi dalam Injil Matius, Yohanes seolah-olah protes: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Lukas menyebut pembaptisan sepintas saja; tekanan ada pada apa yang terjadi sesudahnya. Injil Yohanes malah sama sekali tidak berbicara mengenai pembaptisan Yesus oleh Yohanes (lih. Yoh 1:19-34). Padahal jelaslah bahwa pembaptisan itu dipandang sebagai awal karya Yesus (lih. Kis 1:22; 10:37 -38). Kiranya sedari semula Gereja sudah bertanya-tanya, mengapa Yesus mau dibaptis? Padahal “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu-daya tidak ada dalam mulut-Nya” (1Ptr 2:22; lih. 1Yoh 3:9).

Kiranya tidak ada jawaban lain kecuali yang satu ini, “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka” (Luk 22:37; lih. Mrk 15:28). “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1Tim 1:15). Oleh karena itu Ia selalu mencari orang berdosa. Ia dilecehkan sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34), sebab Ia biasa “makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu” (Mrk 2:16; lih. Mat 9:11; Luk 5:30; 15:1.2). Ia mempersatukan orang berdosa dengan diri-Nya, menghadap Bapa. Memang Ia tidak membutuhkan ampun dari Bapa. Tetapi “Ia memimpin kita dalam iman” (Ibr 12:2). Dan iman adalah intisari tobat, sebab “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibr 11:6).

Yesus menghadap Bapa, bersama orang berdosa. Sabda Bapa, yang dikatakan kepada Yesus, ditujukan kepada semua orang yang bersatu dengan Yesus: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Dalam pembaptisan Yohanes, Yesus diakui oleh Bapa sebagai pemimpin dan penebus semua orang berdosa. Pembaptisan adalah bagaikan “pelantikan” Yesus ke dalam tugas perutusan-Nya. Segera sesudah pembaptisan, Yesus akan “memberitakan Injil Allah: Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Dengan pembaptisan-Nya, Yesus sekaligus menyatakan kesatuan dengan orang berdosa dan penyerahan total dan radikal kepada kehendak Bapa. Dengan pembaptisan, Ia tampil sebagai “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:4). Semua Injil mengatakan bahwa Roh Kudus turun atas-Nya. Selanjutnya ‘‘Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun”. Sesudah itu “dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu” (Luk 4:1-2.14). Sesudah pembaptisan, Yesus tampil sebagai orang yang “diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus dan kuat kuasa” (Kis 10:38). Ia tampil sebagai ‘‘Yang terurapi”, Ia dilantik sebagai Kristus. “Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit” (Luk 5:17). Yesus sekarang tampil, bukan lagi sebagai tukang kayu, tetapi benar-benar sebagai seorang nabi. Maka semua orang heran dan bertanya: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita? Mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2-3). Sesudah pembaptisan-Nya Yesus kelihatan lain, sampai orang sekampung tidak lagi mengenal-Nya. “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”.