Makna Kebangkitan

Baca juga: Arti dari Kebangkitan

Allah tidak hanya mewahyukan bahwa Yesus hidup. Hidup Kristus yang mulia mempunyai arti keselamatan bagi manusia. Itulah isi pokok pewahyuan Allah dan iman para murid. Paulus berkata bahwa Yesus “oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati dinyatakan Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:4). Dalam khotbah Petrus pada hari Pentekosta tidak dipakai gelar “Anak Allah”, tetapi “Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Yang dimaksud kurang lebih sama: Dengan kebangkitan, Allah menyatakan “dukungan”-Nya terhadap Yesus. Dengan kebangkitan menjadi jelas, bahwa Yesus sungguh diutus oleh Allah.

Namun demikian, yang lebih penting ialah bahwa dengan kebangkitan menjadi jelaslah bahwa Yesus diterima oleh Allah. Padahal, wafat Yesus di kayu salib memberi kesan bahwa Yesus ditolak oleh Allah. Kebangkitan tidak hanya mengubah pandangan para murid terhadap diri Yesus sendiri, melainkan juga terhadap wafat-Nya. Bagi orang Yahudi segala kemalangan di dunia ini hukuman untuk dosa (bdk. Yoh 9:1-2), apalagi kematian. Dengan kebangkitan-Nya menjadi jelas bahwa Yesus bukan pendosa. Jadi, wafat-Nya juga bukan hukuman untuk dosa. Bahkan menjadi pertanyaan mengapa Yesus harus mati, kalau ternyata Ia tidak mempunyai dosa (sebagaimana kelihatan dari kebangkitan)? Dan dari pertanyaan ini timbul kesadaran bahwa Yesus memang tidak mati karena dosa-Nya sendiri, tetapi “karena dosa-dosa kita”.

Dasar wafat Kristus adalah solidaritas dengan orang berdosa. Sekarang prinsip solidaritas itu dapat dibalik. Kalau Kristus senasib dengan kita sampai pada kematian, maka kita tetap bersatu dengan Kristus, juga dalam kebangkitan. Karena Kristus sudah “telanjur” bersatu dengan kita, maka dengan menarik Kristus, Allah menarik kita semua bersama Kristus. Keyakinan itu dirumuskan dengan mengatakan bahwa “Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Jadi, “Kristus sebagai buah sulung , sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (ay. 23). Karena Kristus senasib dengan umat manusia, maka yang diterima oleh Allah bukan hanya Kristus, melainkan semua manusia bersama dengan Dia. ”Yesus diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan demi pembenaran kita” (Rm 4:25). Kebangkitan itu inti pokok keselamatan.

Sebenarnya kita tidak hanya diselamatkan oleh wafat Kristus, melainkan juga oleh kebangkitan-Nya. Atau lebih tepat dikatakan, kita diselamatkan oleh kedua-duanya. Dalam kematian menjadi jelas bahwa Kristus sungguh satu dari kita; dan oleh karena itu kita yakin dalam iman, bahwa kita juga boleh mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya. “Oleh karena kamu Ia menjadi miskin,” kata Paulus, “supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Yesus tidak hanya wafat “untuk kita”, Ia juga dibangkitkan “untuk kita” (2Kor 5: 15). Maka berulang kali dikatakan, bahwa “Allah yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11). “Jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa Allah akan – demi Yesus – membawa mereka yang telah meninggal, bersama-sama dengan Dia” (1Tess 4:14). “Kristus disalibkan oleh karena kelemahan (kita), namun Ia hidup karena kuasa Allah. Begitu pula kami adalah lemah dalam Dia (dan mati bersama dengan Dia), tetapi kami akan hidup bersama dengan Dia karena Allah” (2Kor 13:4).

Kebangkitan Kristus tidak hanya merupakan dasar dan awal iman Kristen. Bagi Gereja sekarang Paskah adalah juga perayaan yang paling besar. Berbeda dari perayaan Natal, liturgi Paskah tidak hanya merupakan pengenangan akan kebangkitan Kristus, karena “peristiwa” kebangkitan sebetulnya pengalaman para murid. Selain itu, kebangkitan Kristus sendiri tidak termasuk sejarah manusia, maka juga tidak dapat dikenangkan. Memang pada hari Paskah dirayakan kemuliaan Kristus yang dilambangkan dengan lilin Paskah, yang dinyalakan dengan api baru (lambang kebaruan hidup). Dikenangkan juga peristiwa penampakan, khususnya kepada para wanita, sebagaimana diceritakan dalam Injil.

Dalam kisah Injil yang paling ditonjolkan adalah makam kosong. Wanita-wanita menemukan makam “terbuka”, dan oleh malaikat diterangkan mengapa demikian. Makam kosong sendiri belum menjelaskan bahwa Yesus bangkit. Oleh karena itu penemuan makam kosong juga tidak boleh dipandang sebagai dasar dan awal iman akan kebangkitan. Sebaliknya, dari Mrk 16:6 kelihatan bahwa kekosongan makam meneguhkan iman akan kebangkitan: “Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia”. Atas dasar itu, boleh disimpulkan bahwa iman akan kebangkitan tidak mulai dengan penemuan makam yang kosong, melainkan dengan penampakan. Bahkan harus dikatakan bahwa makam kosong sebetulnya tidak memberi keterangan baru mengenai kebangkitan Yesus (menurut Mat 28:11-15 malah membingungkan sementara orang). Barangkali harus dikatakan bahwa dengan kata-kata malaikat sebenarnya dirumuskan iman Gereja Perdana sendiri akan kebangkitan. Namun seandainya makam itu tidak kosong (sebagaimana pernah dikatakan orang), sulit dapat dipahami bagaimana para murid dapat tetap mempertahankan iman mereka akan kebangkitan Kristus.

Yang terpenting dalam liturgi Paskah adalah liturgi Pembaptisan, dengan pemberkatan air dan pembaruan janji baptis karena, menurut Paulus, pembaptisan berarti partisipasi kita dalam misteri Paskah: “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-4). Pembaptisan adalah ungkapan dan pengakuan iman kita akan Kristus yang bangkit, maka pembaptisan itulah yang merupakan pusat dan pokok perayaan Paskah dan disusul perayaan syukur (Ekaristi) atas karya keselamatan Allah itu.

Perayaan syukur itu dipersiapkan dengan liturgi sabda yang cukup panjang, sebab sebelum bersyukur mau diingat kembali seluruh sejarah karya keselamatan Tuhan. Dimulai dengan kisah penciptaan, sebagai awal sejarah Allah dengan manusia. Kemudian dibacakan kisah Abraham yang disuruh mengurbankan Ishak, anaknya, lambang Kristus yang diserahkan oleh Bapa yang mahakasih. Menyusul kisah pembebasan Israel dari perbudakan Mesir. Peristiwa itu oleh bangsa Yahudi dikenangkan setiap tahun dengan sebuah pesta besar, yang diberi nama “Paskah”. Maka jelaslah bahwa pembebasan Israel dari perbudakan oleh Gereja dilihat sebagai lambang pembebasan umat manusia dari perbudakan setan. Hal itu selanjutnya juga dijelaskan dengan bacaan-bacaan dari nabi Yesaya dan nabi-nabi yang lain. Perayaan Paskah umat Israel tidak hanya menjadi titik-awal perayaan orang Kristen, tetapi juga menjelaskan makna perayaan kebangkitan Kristus. Yang dirayakan bukanlah pertama-tama kemuliaan dan peninggian Kristus, melainkan pembebasan kita. Seperti dinyanyikan dalam-madah Paskah: “Pada malam ini kegelapan dosa dihalau oleh cahaya tugu api. Pada malam ini umat yang mengimani Kristus, Kau bebaskan dari kejahatan dunia dan kegelapan dosa.” Paskah merupakan perayaan karya keselamatan, yang dinyatakan terutama dengan lilin Paskah dan sakramen Baptis.

Penampakan Yesus Kristus telah Bangkit

Sama seperti dalam hal wafat Yesus, begitu juga dalam kebangkitan-Nya harus dibedakan antara fakta dan arti fakta itu bagi kita. Fakta kebangkitan lain sama sekali daripada fakta wafat Yesus. Tidak ada orang yang melihat kebangkitan Yesus. Yang dilihat adalah penampakan dan juga makam kosong. Tetapi dalam penampakan dilihat Yesus yang sudah bangkit, sudah dimuliakan. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang mulia, yang – karena kemuliaan-Nya – sebetulnya tidak bisa dilihat oleh manusia yang fana. Maka penampakan tidak berarti bahwa mereka melihat Yesus kembali seperti yang mereka lihat dahulu, waktu Yesus masih bergaul bersama mereka. Sekarang dengan pertolongan rahmat Allah, mereka boleh menyadari kehadiran Kristus, yang sebetulnya sudah tidak dapat dilihat. Menurut Paulus (1Kor 15:5-8), banyak orang mengalami perjumpaan dengan Yesus yang mulia. Bukan hanya Petrus, Paulus, dan Yakobus, melainkan kelompok dua belas dan semua rasul, bahkan “lebih dari lima ratus saudara”, yang kebanyakan masih hidup pada zaman Paulus dan dapat dimintai keterangan. Injil-Injil masih menyebut sejumlah orang yang lain, khususnya wanita, yang juga memberi kesaksian bahwa mereka “telah melihat Tuhan” (Yoh 21:18).

Pengalaman mereka yang dengan jelas diceritakan dalam Kitab Suci, diartikan secara berbeda-beda selama peredaran zaman. Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh mati (dan oleh karena itu juga tidak sungguh bangkit). Orang lain berpendapat bahwa kisah kebangkitan tidak lain daripada sebuah dongeng, serupa dengan dongeng-dongeng lain yang beredar dalam masyarakat zaman itu. Masih ada orang yang berpendapat bahwa pengalaman para murid merupakan halusinasi (khayalan) atau setidak-tidaknya sesuatu yang subjektif melulu, keluar dari pikiran dan perasaan mereka sendiri. Yang pantas diperhatikan sebetulnya hanya pandangan yang terakhir, mengenai pengalaman subjektif; yang lain tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pendapat pertama berasal dari teologi liberal abad ke-18 dan ke-19. Mereka tidak mau mengakui adanya mukjizat. Karena kebangkitan Kristus dikatakan mukjizat yang paling besar, maka tidak ada jalan lain kecuali menyangkal kebangkitan. Untuk mendasari pendapat itu disangkal pula wafat Yesus: Yesus tidak sungguh mati, Ia hanya tidak sadarkan diri. Dalam makam yang sejuk Ia menjadi sadar kembali dan bangkit. Teori ini terang berlawanan dengan seluruh kesaksian Kitab Suci mengenai wafat Yesus dan oleh karena itu dewasa ini tidak diperhatikan secara serius lagi. Teori ini sebenarnya hanya “dongeng” yang berlagak ilmiah.

Sama halnya dengan teori kedua mengenai mitos dewa yang mati dan bangkit. Teori ini berasal dari aliran perbandingan agama dari zaman yang sama. Teori ini pun tidak diterima lagi, karena tidak ada bukti. Hanya teori saja, tanpa dasar fakta sejarah, Tambahan lagi, kisah kebangkitan dalam Kitab Suci sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri mitologis.

Teori halusinasi sudah dikemukakan pada abad ke-2 (oleh Celsus), dan dihidupkan kembali pada abad ke-19 (oleh teolog liberal D.F. Strauss). Zaman sekarang pun masih ada orang yang – dalam bentuk yang lebih halus – memberikan keterangan yang sama. Pengalaman para murid mau diterangkan secara psikologis, khususnya berdasarkan kekecewaan mereka karena wafat Yesus. Tetapi dengan demikian justru tidak diterangkan arti teologis pengalaman para murid, yang melihat wafat Yesus sebagai hukuman Allah. Mengingat para murid itu orang Yahudi yang saleh, sebuah keterangan psikologis melulu amat tidak masuk akal. Dalam pandangan mereka wafat Yesus berarti bahwa Yesus ditolak oleh Allah. Maka mengatakan bahwa Yesus hidup (karena alasan apapun), sedangkan Allah dengan jelas menyatakan Dia mati, berarti menghujat Allah. Kalaupun benar bahwa para murid kecewa dengan kematian Yesus dan dalam hati kecil mungkin mengharapkan Dia hidup, namun mereka tidak akan pernah berani melawan Allah yang – menurut anggapan Yahudi mereka – dengan jelas menolak dan mengutuk Yesus. Teori ini pun tidak mempunyai dasar sedikit pun dalam teks Kitab Suci. Sebaliknya kisah kebangkitan memperlihatkan bahwa semula para murid sendiri tidak dapat percaya bahwa Yesus, yang mereka anggap ditolak oleh Allah, ternyata diterima dan dimuliakan oleh Allah. Pengalaman ini seluruhnya bertolak belakang dengan pengharapan Yahudi mereka.

Pandangan yang melihat penampakan sebagai pengalaman subjektif para murid, pantas diberi perhatian lebih khusus. Memang benar bahwa kebangkitan Kristus hanya diketahui dari pengalaman para murid, khususnya dari kesaksian mereka mengenai penampakan. Kebangkitan sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci bukanlah pengalaman Yesus melainkan pengalaman para murid-Nya. Tetapi pertanyaan yang muncul ialah, adakah pengalaman itu hanyalah khayalan dan keinginan para murid, ataukah mereka sungguh-sungguh berjumpa dengan Kristus yang mulia? Yang diceritakan adalah pengalaman para murid, namun menurut kesaksian mereka pengalaman itu berupa suatu perjumpaan dengan Kristus yang mulia. Bagaimana perjumpaan semacam itu dapat digambarkan atau dipahami? Tegasnya pertanyaan mengenai penampakan berbunyi: Apa dasar pengalaman para murid?

Kalau kisah-kisah penampakan diteliti dengan saksama, jelaslah bahwa menurut kisah itu:

  1. Inisiatif selalu datang dari Yesus sendiri: Ia menampakkan diri; sebaliknya, dari pihak para murid,
  2. penampakan selalu dialami sebagai “mengenal kembali” (paling jelas dalam Yoh 21:12).

Khususnya dalam khotbah-khotbah Kisah Para Rasul selalu ditekankan bahwa Tuhan yang mulia, yang menampakkan diri, sama dengan Yesus dari Nazaret yang wafat di kayu salib (bdk. Kis 2:23-24.36; 3:13; 4:10; 5:30; 10:39-40; 13:29- 30). Namun iman akan Kristus yang mulia tidak sama dengan kepercayaan kepada nabi dari Nazaret. Pengalaman akan kebangkitan merupakan suatu pengalaman baru (dan bukan hanya penerusan dari pengalaman yang lama). Pengakuan akan kebangkitan justru berarti bahwa bagi mereka perjumpaan dengan Tuhan yang mulia lain daripada pertemuan dengan Yesus waktu berjalan bersama mereka di Palestina.

Oleh karena itu, bagaimana dapat dipahami perjumpaan dengan Tuhan yang mulia itu? Pertanyaan ini tidak berbeda dengan pertanyaan “Bagaimana manusia dapat menerima wahyu dari Allah?” Perjumpaan dengan Tuhan yang mulia berbeda dengan pertemuan dengan Yesus dahulu, karena Yesus sekarang sudah masuk ke dalam dunia ilahi. Dapatkah manusia yang fana berkomunikasi dengan dunia ilahi itu? Tentu dapat, sebab seandainya tidak bisa, segala wahyu dan iman pada dasarnya tidak mungkin. Perjumpaan dengan Tuhan yang mulia pada dasarnya tidak lain daripada wahyu Allah kepada manusia. Maka dalam Kis 10:40 juga dikatakan: “Allah berkenan bahwa Ia menampakkan diri’ (harfiah: “Allah memberi bahwa Dia menjadi tampak“). Penampakan merupakan pewahyuan dari Allah, bahwa Yesus yang di dunia ini dialami telah mati, ternyata hidup pada Allah. Itulah sebabnya dalam Kitab Suci biasanya tidak dikatakan “Kristus bangkit”, melainkan “Allah membangkitkan Dia” (Rm 10:9 dll.). Artinya sesuai dengan Kis 10:40, Allah menyatakan bahwa Yesus hidup.

Menurut keyakinan Yahudi, kematian Yesus di salib yang mengerikan itu tanda bahwa Allah tidak menerima Yesus (lagi). Dasar pandangan seperti itu adalah Perjanjian Lama. Kematian seorang muda, lebih lagi kematian yang begitu mengerikan seperti wafat Yesus, dilihat sebagai hukuman dari Allah (bdk. Ul 21:23; Ams 10:27; Ayb 22:16; 36:6.14).

Oleh karena itu, kalau Allah (menurut anggapan mereka) dengan jelas menyatakan penolakan-Nya terhadap Yesus, maka hanya Allah-lah yang dapat membatalkan kesan itu dengan menyatakan Yesus hidup. Oleh karenanya tidak dikatakan bahwa Yesus bangkit (sebab itu mungkin tidak sesuai dengan kehendak Allah), tetapi “Allah membangkitkan Yesus”. Masalahnya bukanlah apakah Yesus bangkit dengan kekuatan-Nya sendiri atau dengan bantuan entah dari mana. Masalahnya malah bukan kebangkitan, melainkan penerimaan oleh Allah. Kebangkitan berarti bahwa Yesus hidup pada Allah. Penampakan tidak lain daripada pewahyuan mengenai hidup Yesus yang baru itu. Ketika manusia berkata bahwa Yesus mati, pada waktu itu Allah menyatakan bahwa Ia hidup, bukan dengan hidup yang biasa, seperti manusia-manusia yang lain. Yesus hidup dengan hidup dari Allah sendiri. Hal itu hanya dapat diketahui oleh manusia, kalau Allah mewahyukannya.

Pada Hari yang Ketiga

Rumus bangkit “pada hari yang ketiga” terdapat banyak kali dalam Perjanjian Baru (kendati pun dalam bahasa Yunani ada tiga perumusan yang sedikit berbeda-beda; yang persis sama dengan 1Kor 15:4 hanyalah Luk 18:33). Murid-murid dari Emaus dengan setengah protes berkata kepada Yesus: “Kini sudah hari ketiga sejak semua itu berlalu” (Luk 24:21). Itu adalah hari Paska (lih. ay. 13), yakni “hari pertama dalam minggu” (ay. 1 = Yoh 20:1; bdk. Mat 28:1). Yesus wafat dan dimakamkan pada hari Jum’at (bdk. Yoh 19:31; Luk 23:56). Maka, khususnya menurut perhitungan orang Yahudi, hari Minggu itu bisa disebut “hari yang ketiga” (dan rumus “sesudah tiga hari”: Mrk 8:31; 9:31; 10:34, masih bisa diterima). Tetapi kiranya bukan hanya itulah arti “hari yang ketiga”.

Kalau kita memperhatikan Perjanjian Lama dan tulisan Yahudi, “hari yang ketiga” juga mempunyai arti keselamatan. Banyak teks dalam Perjanjian Lama memperlihatkan “hari ketiga” sebagai hari keselamatan.

Dalam tradisi Yahudi, “pada hari ketiga” disebut secara khusus dalam peristiwa-peristiwa Abraham yang mau mengurbankan Ishak (Kej 22:4), pembebasan saudara-saudara Yusuf (Kej 42:18), penampakan Tuhan di Sinai (Kel 19:11), Israel yang memasuki Kanaan (Yos 1:11), janji Yesaya kepada Hizkia (2Raj 20:5), pembangunan Yerusalem di bawah Ezra (Ezr 8:31), kisah Ester (Est 5:1), Yunus (Yun 1:1), dan terutama nubuat nabi Hosea yang menyatakan bahwa “Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga. Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya”.

Sebetulnya harus dikatakan bahwa banyak teks lain juga berbicara mengenai hari yang ketiga, yang tidak langsung berhubungan dengan keselamatan Tuhan. Tetapi dalam tradisi Yahudi, “hari ketiga” secara khusus dihubungkan dengan penyelamatan. Oleh karena itu kebangkitan Kristus “pada hari yang ketiga” kiranya pertama-tama harus dihubungkan dengan fakta penampakan (kepada Petrus) pada hari Minggu. Tetapi kemudian, karena latar belakang Yahudi, dengan kata-kata itu juga ditonjolkan arti keselamatan kebangkitan Kristus. Bangkit “pada hari yang ketiga” tidak hanya mempunyai arti simbolis saja, tetapi juga tidak terbatas pada arti historis melulu. Dengan kata-kata itu diungkapkan suatu peristiwa yang unik, yang khas untuk pengalaman iman umat Kristen, yaitu keselamatan yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus.

Syahadat pendek dengan tegas mengatakan “bangkit dari antara orang mati“. Kata-kata itu kiranya juga berasal dari Kitab Suci, yang amat kerap memakai kata-kata itu. Yang mau dikatakan bahwa Kristus sungguh bangkit dari alam maut. Kitab Suci dan ajaran Gereja selalu menandaskan bahwa Kristus sungguh-sungguh mati. Tidak dibedakan antara kemanusiaan-Nya yang mati dan keallahan-Nya yang tetap hidup. Kristus mati, seluruhnya. Dalam syahadat pendek hal itu dinyatakan dalam pasal yang mendahului, dengan istilah “turun ke tempat penantian”. Dalam teks asli sebetulnya dikatakan “ke tempat yang paling bawah”. Apa yang dimaksudkan kiranya menjadi jelas dari Ef 4:9, “Kristus telah turun ke bagian bumi yang paling bawah” (bdk. Mat 12:40, “rahim bumi”; Kis 2:31: “dunia orang mati”). 1Ptr 4:6 menjelaskan: “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati”, atau dengan kata lain: “Kristus pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara” (3:19). Dengan semua itu mau dikatakan bahwa Kristus betul-betul masuk ke dalam dunia orang mati, bahwa Ia benar-benar mati. Itu pula yang dimaksudkan dengan “bangkit dari antara orang mati”. Kebangkitan Kristus tidak berarti bahwa Ia sesungguhnya tidak mati. Sebaliknya, kebangkitan berarti kemenangan atas maut, dan atas seluruh dunia maut.

Kebangkitan Kristus juga tidak berarti bahwa Kristus hidup kembali. Kebangkitan Kristus tidak seperti Lazarus (Yoh 11:44) atau pemuda dari Nain (Luk 7:14-15) ataupun anak Yairus (Mrk 5:41- 42). Mereka semua dikembalikan kepada hidup yang fana ini (dan beberapa waktu kemudian akan mati lagi). Tidak demikian halnya dengan Yesus. Dengan kebangkitan-Nya Ia masuk ke dalam kemuliaan Bapa-Nya, “Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia! (Rm 6:9). Oleh karena itu kebangkitan dalam Kitab Suci sering disebut “peninggian” (lih. Fil 2:9; Kis 2:33; 5:31). Yang pokok bahwa Yesus sekarang hidup dalam kehidupan ilahi, “duduk di sebelah kanan Allah” (Rm 8:34; lih. 1Kor 15:25; Ef 1:20; Kol 3:1). Kebangkitan berarti pemuliaan, peninggian kepada kemuliaan ilahi.

Bangkit pada Hari yang Ketiga

Syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang, selanjutnya menyatakan bahwa Kristus yang wafat dan dimakamkan, “bangkit pada hari yang ketiga”. Syahadat pendek masih menambahkan keterangan “dari antara orang mati”; dan dalam syahadat panjang dikatakan, “menurut Kitab Suci”. Dalam 1Kor 15:4 ditulis, “Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab-kitab Suci”. Jelaslah, bahwa yang dimaksudkan dalam semua teks itu, yakni bahwa Kristus bangkit, tetapi rumusannya sedikit berbeda-beda. Perbedaan itu perlu diperhatikan. Titik pangkal adalah 1Kor 15:4 “Ia dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab-kitab suci”. Telah dijelaskan arti “sesuai dengan Kitab-kitab Suci”, yakni “sesuai dengan karya atau rencana keselamatan Allah”. Tetapi yang tetap menjadi pertanyaan, ialah arti “pada hari yang ketiga”. Kiranya kata-kata itu sebagai keterangan waktu kurang cocok dengan paralelnya pada wafat Yesus “karena dosa-dosa kita”, yang terang mempunyai arti teologis. Apakah “pada hari yang ketiga” juga mempunyai arti teologis?