Magisterium atau Wewenang Mengajar

Dari satu pihak Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “Kristus, Nabi Agung, menunaikan tugas kenabian-Nya bukan saja melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para awam” (LG 35). Dari pihak lain dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan wewenang mengajar (magisterium), yang dipatuhi dengan setia, umat Allah berpegang teguh kepada iman” (LG 12). Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja. Begitu juga Roh Kudus “di kalangan umat dari segala lapisan membagi-bagikan rahmat-rahmat istimewa”. Tetapi “keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12). Dalam bidang pewartaan dan berhubungan dengan rahmat khusus kelihatan adanya suatu ketegangan antara umat Allah dan para pemimpinnya, khususnya karena soal “wewenang”, Maka perlu diingat kembali bahwa tugas hierarki adalah “tugas pemersatu”. “Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki-lah yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Juga dalam hal pewartaan, hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta komunikasi di dalam umat Allah. Maka, “hendaklah para gembala hierarkis mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam Gereja. Hendaklah nasihat mereka yang bijaksana dimanfaatkan dengan suka hati” (LG 37). Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Iman tidak sama dengan ajaran. Karena itu mengajar tidak sama dengan mewartakan.

Oleh karena itu Konsili Vatikan II memulai uraiannya mengenai tugas pengajaran hierarki dengan pernyataan bahwa “di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Dalam kerangka itu mereka juga “pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus), yang mewartakan kepada umat iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia”. Dalam tugas itu mereka adalah “saksi kebenaran ilahi dan Katolik”. Dan “kalau mereka dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusilaan sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif, mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat“.

Tidak segala ajaran hierarki mempunyai jaminan kebenaran itu. “Ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, ada pada Imam Agung di Roma, kepala Dewan para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup, bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan Pengganti Petrus”. Jadi, ada empat syarat:

  1. Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan;
  2. Harus bersifat “ajaran otentik”, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus;
  3. Dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak bisa diganggu-gugat);
  4. Disepakati bersama.

Yang terakhir ini secara khusus menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan.

Kalau paus bertindak sebagai ketua dewan, ia tidak membutuhkan persetujuan eksplisit dari dewan. Namun ia “harus menggunakan upaya-upaya yang serasi”. Kharisma ketidaksesatan itu bukanlah sesuatu yang baru. Wewenang mengajar termasuk tugas kepemimpinan hierarki. Agar hierarki benar-benar dapat menjalankan tugas itu sedemikian rupa sehingga “seluruh kaum beriman tidak dapat sesat dalam iman” (LG 12), harus ada jaminan bahwa hierarki memimpin umat dengan baik. Ini tidak berarti bahwa hierarki tidak pernah salah, tetapi dengan empat syarat yang telah disebut, umat Allah dengan tenang dan aman dapat mempercayakan diri kepada hierarki sebagai guru iman. Iman akan Gereja berarti juga iman akan pimpinan Gereja, berarti pula kepercayaan akan ajaran Gereja, yang “harus dihormati oleh semua sebagai saksi kebenaran ilahi dan Katolik” (LG 25). Maka juga dikatakan, dengan mengutip St. Agustinus, bahwa kepastian iman itu tampak “melalui perasaan iman segenap umat, bila dari para uskup hingga para awam mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Kaum Awam

a. Arti Kata “Awam”

Dalam praktik istilah awam dipakai dalam dua arti. Secara teologis, awam adalah warga Gereja yang tidak ditahbiskan. Dalam arti ini, kata itu meliputi biarawan yang tidak ditahbiskan (bdk. LG 43). Secara tipologis, awam adalah warga Gereja yang tidak ditahbiskan dan juga bukan biarawan (bdk. LG 1).,

Pengertian tipologis dapat ditemukan misalnya dalam KHK kan. 204 § 1 yang kiranya mengambil alih rumusan LG 31, “Orang-orang beriman Kristen ialah mereka yang oleh pembaptisan menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus, dijadikan Umat Allah dan dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam jabatan Kristus sebagai imam, nabi, dan raja dan oleh karena itu sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing dipanggil menjalankan pengutusan yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk dilaksanakan di dunia.”

Perlu diperhatikan bahwa definisi “awam” itu dipakai untuk orang beriman pada umumnya. Ini hanya dapat dipertanggungjawabkan apabila ada landasan yang sama untuk semua orang beriman. Dan memang demikian halnya. Maka dari itu harus dikatakan bahwa awam pertama-tama adalah orang beriman Kristen. Tetapi dalam KHK kan. 204 § 1 sudah diselipkan faktor perbedaan yakni “sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing” yang menggantikan rumusan “untuk bagian masing-masing” atau “sesuai dengan peranan masing-masing” dari LG 1. Demikian juga mengenai partisipasi dalam jabatan Kristus sebagai imam, nabi, dan raja ada tambahan “dengan caranya sendiri”. Keterangan ini dapat ditafsirkan sebagai tanda kekhawatiran kalau-kalau semua disamaratakan, tetapi dapat juga dimaksudkan sebagai catatan yang mendahului pembahasan perbedaan yang masih akan disinggung.

Pengertian teologis dapat dibaca pada KHK kan. 207 sebagai berikut:

“Oleh penetapan ilahi, di antara orang-orang beriman Kristen dalam Gereja terdapat pelayan-pelayan rohani yang dalam hukum juga disebut kaum rohaniwan; sedangkan lain-lainnya juga disebut kaum awam.”

Teks ini menunjukkan adanya ketidaksamaan fungsional dalam kesamaan serta kebersamaan fundamental yang tidak dikurangi olehnya. Ketidaksamaan itu berdasarkan sakramen tahbisan, sedangkan kesamaan serta kebersamaan berdasarkan sakramen baptis. Sekaligus sebutan “rohaniwan” dan “awam” direlatifkan atau dilunakkan dengan tambahan kata “juga”. Kita dapat merasakan bahwa yang pokok ialah sebutan kaum beriman Kristen bagi semua warga Umat Allah yang mempunyai landasan bersama yang sama dalam pembaptisan. Tetapi memang ada sekelompok orang beriman yang ditahbisan untuk pelayanan, dan mereka ini lazimnya disebut rohaniwan, sedangkan lain-lainnya kalau mau dapat disebut awam.

Ciri-ciri khas positif lebih lanjut untuk pengertian “awam” tidak diberikan dalam kanon-kanon itu. Dari Konsili Vatikan II (LG 31) dapat dilihat bahwa ciri keduniaan merupakan kekhususan awam dalam arti tipologis. Dan hal ini diandaikan dalam ketentuan KHK kan. 225 § 2: tugas awam meresapi tata dunia dengan semangat Injil.

b. Identitas Kaum Awam

Identitas awam harus dilihat dalam konteks identitas Gereja sendiri. Maka dari itu tidaklah cukup pembicaraan hanya berpijak pada tentang awam, melainkan perlu diperhatikan keseluruhan susunan Kontitusi Dogmatis tentang Gereja itu dan langsung menempatkan pembahasan identitas awam dalam keseluruhan ajaran tentang Gereja itu, agar Gereja dilihat sebagai kesatuan. Dengan kata lain, tentang awam dalam Lumen Gentium harus ditinjau dari tentang Gereja sebagai misteri dan tentang Gereja sebagai Umat Allah.

Dengan istilah “awam” dimaksudkan semua orang beriman Kristen yang tidak termasuk golongan tahbisan suci dan status kebiaraan yang diakui dalam Gereja. Mereka adalah orang-orang yang dengan pembaptisan menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus, dijadikan Umat Allah dan dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja, dan karena itu sesuai dengan peranan mereka menjalankan perutusan seluruh umat Kristen dalam Gereja dan dunia.

Bagi kaum awam ciri keduniaan adalah khas dan khusus. Tanggung jawab kaum awamlah – berdasarkan panggilan khas mereka – mencari Kerajaan Allah dengan mengurus hal-ikhwal keduniaan dan mengaturnya menurut kehendak Allah … ” (LG 1; bdk. GS 4). Berkaitan dengan kesatuan dengan seluruh umat Allah harus diingat:

• Keanggotaan dalam Umat Allah sebagai unsur positif kesamaan dan kebersamaan.
Hal ini bukanlah hanya salah satu unsur di samping unsur-unsur lainnya, melainkan gagasan pokok yang harus disadari terus-menerus sebagai dasar dan konteks untuk dan dalam membahas unsur-unsur lainnya. Ini berarti bahwa segala kekayaan yang diutarakan dalam mengenai ‘Misteri Gereja‘ dan terutama mengenai ‘Umat Allah‘ sama-sama dimaksudkan untuk awam, seperti secara eksplisit (LG 30). Demikian pula tentang panggilan semua orang menjadi kudus, panggilan kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih (LG 40) berlaku sepenuhnya bagi kaum awam. Dengan kata lain, sesuai dengan konsep pembahasan identitas awam dalam konteks identitas Gereja sendiri dan kesamaan dan kebersamaan fundamental semua anggota Gereja, apa yang berlaku bagi Gereja, berlaku bagi awam yang adalah anggota Gereja.

• Secara negatif-restriktif awam dapat didefinisikan sebagai “bukan rohaniwan dan bukan biarawan”.
Dengan unsur kesamaan dan kebersamaan sebagai latar belakang, kini ditampilkan kekhususan awam dengan rumusan restriktif/negatif ganda. Sebenarnya cara demikian ini tidak aneh dan dapat dipahami sebagai langkah pertama dalam proses melukiskan identitas kaum awam dengan bertitik tolak dari kenyataan adanya tiga kelompok (klerus, biarawan, dan “lain-lainnya”), asalkan pembatasan negatif ini tidak dilihat tersendiri. Pembatasan negatif itu tidaklah melulu negatif, dan dapat membantu pemahaman identitas awam. Karena ada unsur tertentu dalam pemahaman identitas awam, maka patut disinggung sebentar.

• Tidak termasuk klerus.
Sebagian anggota Gereja berdasarkan jabatannya (imamat jabatan) termasuk klerus. Sebagian besar yang lain tidak ditahbisan dan tidak mengemban jabatan imamat khusus. Mereka hanya mempunyai imamat umum kaum beriman dan termasuk kaum awam. Konsili menegaskan bahwa antara imamat jabatan dan imamat kaum beriman ada perbedaan hakiki tidak hanya gradual, meskipun keduanya saling berkaitan (LG 10). Meskipun demikian dalam cahaya kesamaan dan kebersamaan fundamental semua anggota Gereja, perbedaan antara imam dan awam lebih bersifat fungsional, meskipun dalam perkembangan sejarah, karena pengaruh faktor-faktor sosiokultural dan politik, perbedaan itu dipertajam menjadi penggolongan dengan status sendiri-sendiri yang berbeda kelas juga.
Pembatasan negatif antara kaum awam dan klerus diperjelas dengan deskripsi tugas klerus yang diperuntukkan bagi pelayan suci, tidak untuk urusan keduniaan, meskipun kadang-kadang klerus dapat juga menjalankan profesi keduniaan. “Sebab para anggota tahbisan suci, meskipun kadang-kadang dapat berkecimpung dalam urusan keduniaan, juga dengan melaksanakan profesi keduniaan, berdasarkan panggilan khususnya, terutama dan ex professo, diperuntukkan bagi pelayanan suci” (LG 31). Dalam langkah berikutnya dinyatakan bahwa awamlah yang mempunyai tugas khusus bagi penjiwaan Kristiani urusan keduniaan,

• Tidak termasuk kalangan kebiaraan.
Menurut klasifikasi semua anggota Gereja yang tidak termasuk kalangan tahbisan adalah awam, termasuk para biarawan-biarawati. Maka pembatasan negatif antara awam yang biarawan dan awam yang bukan biarawan harus memakai kriteria lain. Faktor pembedaan dilihat dalam kondisi dan tata kehidupan status kebiaraan yang dengan caranya sendiri menuju kekudusan (LG 13) atau status kehidupan yang memberikan kesaksian unggul dan luhur bahwa dunia tak dapat diubah dan dipersembahkan kepada Allah tanpa semangat sabda bahagia (LG 31).

Perbedaan antara biarawan dan awam sebenarnya tidak terlalu besar. Kaul-kaul kebiaraan ditafsirkan sebagai pengembangan rahmat pembaptisan dan memberi alasan khusus dan baru untuk panggilan menuju kesempurnaan yang sudah termuat dalam pembaptisan (LG 44).

Hidup Bakti Biarawan-Biarawati

Bruder dan suster bukan anggota hierarki, dan semua biarawan-biarawati tidak termasuk hierarki. Hanya saja ada biarawan yang ditahbiskan imam. Mereka sekaligus anggota kelompok kebiaraan dan pembantu uskup, tetapi hidup membiara sendiri bukan fungsi gerejawi, melainkan corak kehidupan. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II mengajarkan, “Meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil, tidak termasuk susunan hierarkis Gereja, namun juga tidak dapat diceraikan dari kehidupan dan kesucian Gereja” (LG 44), sebab hidup membiara berkembang dari kehidupan Gereja sendiri, bahkan “nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan” (LG 43). Tetapi apa yang berupa nasihat dari Yesus, oleh usaha “pimpinan Gereja, di bawah bimbingan Roh Kudus” berkembang menjadi “bentuk-bentuk penghayatan nasihat Injil yang tetap”. Namun “status religius itu bukanlah jalan tengah antara perihidup para imam dan kaum awam”. Prinsipnya lain. “Di antara para anggota umat Allah terdapat perbedaan, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak dan tata-tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti menuju kesucian” (LG 13). Lalu masih ada “semua orang Kristen lain yang tidak termasuk golongan imam atau status religius” dan yang lazim disebut “awam” (LG 31). Perbedaan antara awam dan imam itu soal fungsi atau jabatan, sedangkan perbedaan dengan biarawan-biarawati menyangkut “corak kehidupan”. Hidup membiara tidak ditentukan oleh fungsi atau pekerjaan, melainkan oleh corak atau cara kehidupan, khususnya kehidupan yang di dalamnya orang “dengan kaul-kaul atau ikatan suci lainnya mewajibkan diri untuk hidup menurut tiga nasihat Injil”, yaitu selibat atau keperawanan, kemiskinan, dan ketaatan (LG 44).

Selibat atau keperawanan memang merupakan inti atau hakikat hidup bakti, sebab dengan kaul itu orang membaktikan diri secara total dan menyeluruh kepada Kristus. Kebaktian permandian, yang merupakan sikap penyerahan setiap orang Kristen, dengan kaul keperawanan atau selibat dinyatakan dalam seluruh hidup dan setiap seginya sebagai bentuk atau corak kehidupan. Akibat pembaktian total itu adalah “kewajiban bertarak sempurna dalam selibat” (KHK kan, 599). Namun selibat tidak sama dengan tidak-kawin. Itu bukan inti-pokok hidup membiara. Yang pokok adalah penyerahan total kepada Kristus, yang dinyatakan dengan meninggalkan segala-galanya demi Kristus dan juga dengan terus-menerus semakin mengarahkan diri kepada Kristus, khususnya dalam hidup doa.

Kaul kemiskinan ditetapkan “menurut peraturan hukum masing-masing tarekat” (KHK kan. 600). Ternyata kaul kemiskinan mempunyai dua aspek, yang satu lebih asketis dan berarti gaya hidup yang sederhana; yang lain lebih apostolis dan berarti kerelaan menyumbangkan apa-apa saja demi kerasulan. Yang terakhir itu tidak hanya, bahkan tidak pertama-tama menyangkut harta benda, melainkan tenaga, waktu, keahlian dan ketrampilan, pendek kata segala kemampuan dan seluruh kehidupan.

Dalam kaul ketaatan dapat dibedakan antara aspek asketis dan apostolis. Dalam kerangka askese atau latihan hidup rohani ketaatan berarti kepatuhan kepada guru rohani; berhubung dengan kerasulan kaul ketaatan berarti kerelaan membaktikan diri kepada hidup dan terutama kerasulan bersama. Ketaatan berhubungan dengan hidup bersama, sebab juga “hidup persaudaraan menjadi ciri masing-masing tarekat” (KHK kan. 602; 607 §2). Dalam hal ini mereka yang disebut “lembaga-lembaga religius” berbeda dengan “lembaga-lembaga sekular”, sebab para anggota lembaga sekular “hidup di dunia ramai” (KHK kan. 710), “sendirian atau dalam keluarga masing-masing atau dalam kelompok hidup persaudaraan” (KHK kan. 714). Mereka juga mengikrarkan tiga nasihat injili (KHK kan. 723) tetapi, khususnya dalam hal kemiskinan dan ketaatan ikatan pada kelompok, lain daripada dalam lembaga-lembaga religius atau hidup membiara. Mereka “berusaha melaksanakan pengudusan dunia terutama dari dalam” (KHK kan, 710) dengan hidup bersama para anggota masyarakat yang lain. Secara lahiriah mereka sedapat mungkin tidak membedakan diri dari para awam “biasa”. Di sini perlu diingat bahwa kesucian memang tidak tergantung pada bentuk atau corak kehidupan. Tetapi suatu cara hidup tertentu dapat membantu dan menyokong pengarahan diri yang lebih jelas dan mantap kepada Kristus. “Maka dari itu hendaklah setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasihat-nasihat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi kesuburan kesucian Gereja, serta kemuliaan Allah Tritunggal” (LG 47). Singkat kata, biarawan-biarawati itu merupakan suatu golongan tertentu yang menuntut atau mengejar kesempurnaan secara khas.