Sekilas mengenai Jenis aliran kepercayaan

Secara sosiologi kita dapat memilah berbagai agama yang ada dengan membedakan jenis kepercayaan yang ada di dalam setiap agama. Jenis Kepercayaan dalam suatu agama bukanlah membedakan antara agama, melainkan membedakan yang ada di dalam setiap agama. Berikut adalah jenis-jenis kepercayaan:

jenis-kepercayaan

  1. Agnostik bersebelahan dengan Aliran kepercayaan. Dimana pihak Agnostik akan berprinsip bahwa “Karena tidak tahu akan adanya atau tidak adanya Dewa/Tuhan” maka mereka tidak memilih sebagai pihak yang Percaya. Dan di lain pihak, Aliran kepercayaan mempunyai prinsip bahwa “Karena mengetahui sesuatu informasi, dan mengklaim bahwa dengan mengetahui informasi tersebut” maka mereka memilih sebagai pihak yang percaya. Percaya yang dimaksud di sini adalah percaya bahwa tidak adanya Tuhan/Dewa, atau percaya bahwa adanya Tuhan/Dewa.
  2. Di dalam jenis Aliran Kepercayaan ada Ateisme bersebelahan dengan Teisme. Dimana pihak Ateisme percaya dan berprinsip bahwa “Tidak ada Tuhan/Dewa”. Sedangkan Teisme percaya dan berprinsip “Ada Tuhan/Dewa”.
  3. Di dalam jenis kepercayaan Teisme dapat dibedakan 3 pihak yang bersebelahan yaitu (1) Kepercayaan yang kabur (tidak jelas), (2) Politeisme, (3) Monoteisme.(1) Kepercayaan yang kabur (tidak jelas) percaya bahwa ada semacam Dewa/Tuhan namun informasi yang mereka miliki kurang tegas, dan jelas.
    (2) Politeisme pecaya bahwa adanya beberapa Dewa/Tuhan yang berbeda-beda.
    (3) Monoteisme percaya bahwa ada satu Tuhan.
  4. Di dalam jenis Monoteisme (secara besar), dapat dipilah secara lebih rinci terdapat 2 (dua) yaitu Panteisme dan Monoteisme yang sebenarnya. Panteisme percaya adanya satu Tuhan dan Tuhan = Segala Makhluk di Dunia, dan Segala Makhluk di Dunia = Tuhan, dan Tuhan tersebut imanen tetapi tidak transenden. Sedangkan Monoteisme yang sebenarnya atau dikenal juga dengan Supranaturalisme percaya ada satu Tuhan, Tuhan yang imanen dan transenden.
  5. Di dalam jenis Monoteisme yang sebenarnya, dapat dipilah lebih rinci menjadi 2 pihak yaitu Deisme dan Monoteisme (Teisme) yang berdasarkan Wahyu. Perbedaan kedua pihak ini terletak dari pemahaman interaksi Tuhan terhadap makhluk ciptaannya (manusia). Deisme mempercayai bahwa Tuhan ada dan nyata, namun tidak dapat berinteraksi dengan manusia, dan tidak mengungkapkan diri-Nya (Tuhan) kepada manusia – tidak mewahyukan diri-Nya kepada manusia. Sedangkan Monoteisme (Teisme) yang berdasarkan Wahyu mempercayai bahwa Tuhan ada dan nyata, dapat berinteraksi dengan manusia dan mengungkapkan diri kepada manusia – mewahyukan diri-Nya kepada manusia.
  6. Di dalam jenis Monoteisme yang berdasarkan Wahyu dapat dipilah lagi lebih rinci menjadi 2 (dua) yaitu Unitarianisme dan Trinitarianisme. Keduanya mempercayai ada satu Tuhan, namun Unitarianisme mempercayai Tuhan hanya mewahyukan diri-Nya kepada manusia sebagai satu pribadi dan Unitarianisme menolak bahwa Tuhan mewahyukan diri-Nya sebagai pribadi lain; sedangkan Trinitarian mempercayai Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada manusia dengan (3) tiga tahap dan dapat dikenali ada 3 (tiga) pribadi dalam satu Tuhan, yaitu: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.

Dengan demikian ada 6 (enam) jenis kepercayaan yang non-kristen yaitu: (1) agnostikisme, (2) ateisme, (3) politeisme, (4) panteisme, (5) deisme, dan (6) unitarianisme. Dan Agama Kristen merupakan aliran kepercayaan Trinitarianisme.

Panteisme

Bentuk-bentuk ateisme berbeda-beda. Tidak semua secara prinsip mengingkari Allah. Tetapi semua, tanpa kecuali, menempatkan Allah begitu jauh di luar dunia, sehingga sudah tidak berarti lagi bagi manusia. Kalaupun mungkin ada, toh tidak dapat dikenal dan dihubungi oleh manusia. Maka dalam praktik Allah tidak memainkan peranan apa-apa dalam kehidupan manusia. Bahkan dapat terjadi bagi orang yang percaya akan Allah, dalam praktik hidup seolah-olah tidak ada Allah. Kebalikan dari semua itu adalah panteisme yang melihat kehadiran Allah di mana-mana dan mungkin kurang membedakan Allah dari dunia. Tidak jelas perbedaan antara Allah Pencipta, dunia, dan makhluk ciptaan-Nya. Dunia sebagai keseluruhan nampaknya sama dengan Allah. Sebetulnya panteisme bukanlah suatu sistem pemikiran lengkap, melainkan lebih merupakan suatu sikap dasar yang kurang memperhatikan keistimewaan dan keunggulan Tuhan, atau terlalu mengilahikan dunia.

Dalam pembicaraan terlampau ditonjolkan, bahkan dimutlakkan, pengalaman akan kehadiran Allah dalam makhluk-makhluk-Nya. Itulah sebabnya banyak karangan mistik, termasuk yang Kristiani, yang mencoba menggambarkan pengalaman langsung akan Allah, dapat memberi kesan bernada panteistis. Hal itu juga hampir tidak dapat dihindari. Kalau dalam pertemuan dengan Allah ditekankan kesatuan, mudah diberi kesan seolah-olah tiada lagi perbedaan; sebaliknya, kalau ditegaskan perbedaan antara Allah dan manusia, kelihatan seolah-olah Allah hanyalah khayalan manusia. Padahal kebenarannya ialah bahwa Allah yang sungguh berbeda total dengan manusia, dalam wahyu dan iman menjadi satu dengannya, sehingga manusia dapat mengalami kehadiran-Nya, Dari satu pihak orang beriman dapat menemukan Allah di mana-mana; dari pihak lain tidak dapat dikatakan bahwa seluruh dunia adalah suatu penampakan Allah. Kehadiran Allah sungguh nyata, tetapi seluruhnya bersifat misteri. Allah hadir di dalam makhluk-makhluk-Nya bukan secara “makhluk”, tetapi secara “Allah”.

Ateisme

Sebetulnya tidak ada masalah mengenai hubungan antara iman dan rasio. Yang ada ialah masalah mengenai hubungan rasio dan gambaran serta rumusan iman. Selama iman masih dihayati sebagai hubungan pribadi dengan Allah, tidak ada masalah. Konsili Vatikan II menyatakan:

“Penyelidikan metodis di semua bidang ilmu, bila dijalankan secara sungguh ilmiah dan menurut kaidah-kaidah kesusilaan, tidak pernah akan sungguh bertentangan dengan iman, karena hal-hal profan dan pokok-pokok iman berasal dari Allah yang sama” (GS 36).

Tetapi kalau orang mulai berbicara mengenai iman, khususnya kalau mulai berusaha mengungkapkan iman dalam bahasa ilmiah, timbullah banyak pertanyaan. Dan karena pertanyaan-pertanyaan itu, bisa terjadi bahwa orang tidak hanya meninggalkan imannya, tetapi juga kepercayaan akan Tuhan sebagai dasar hidup, sampai menjadi ateis.

“Istilah ‘ateisme’ menunjuk kepada gejala-gejala yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Sebab ada sekelompok orang yang jelas-jelas mengingkari Allah; ada juga yang beranggapan bahwa manusia sama sekali tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Dia; ada pula yang menyelidiki persoalan tentang Allah dengan metode sedemikian rupa, sehingga masalah itu nampak kehilangan makna. Banyak orang secara tidak wajar melampaui batas-batas ilmu-ilmu positif, dengan atau berusaha keras menjelaskan segala sesuatu dengan cara yang melulu ilmiah itu, atau sebaliknya sudah sama sekali tidak menerima adanya kebenaran yang mutlak lagi. Ada yang menjunjung tinggi manusia sedemikian rupa, sehingga iman akan Allah seolah-olah lemah, tak berdaya; agaknya mereka sebetulnya hanya mau mengukuhkan kedudukan manusia dan tidak mengingkari Allah. Ada juga yang menggambarkan Allah sedemikian rupa, sehingga hasil khayalan yang mereka tolak itu memang sama sekali bukan Allah menurut Injil. Orang-orang lain bahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah pun tidak. Sebab rupa-rupanya mereka tidak dapat merasakan soal-soal keagamaan, atau juga tidak melihat mengapa masih perlu mempedulikan agama. Selain itu ateisme tidak jarang timbul atau dari sikap memprotes keras kejahatan yang berkecamuk di dunia, atau karena secara tidak masuk akal mengklaim sifat mutlak dikenakan pada nilai-nilai manusiawi tertentu, sehingga nilai-nilai itu sudah dianggap menggantikan Allah. Peradaban zaman sekarang pun, bukannya dari diri sendiri, melainkan karena terlalu erat terjalin dengan hal-hal duniawi, acap kali dapat lebih mempersulit orang untuk mendekati Allah” (GS 19).

Dalam keprihatinan pastoralnya “Gereja berusaha menggali sebab musababnya yang terselubung, mengapa Dalam pemikiran kaum ateis Allah diingkari. Karena menyadari beratnya masalah yang ditimbulkan oleh ateisme, dan karena terdorong oleh cinta kasih terhadap semua orang, Gereja berpandangan, bahwa soal-soal itu perlu diselidiki secara serius dan lebih mendalam”. Ateisme bukan pertama-tama masalah politik, melainkan soal hati-nurani dan pengalaman hidup. Maka “Gereja juga menyesalkan diskriminasi antara kaum beriman dan kaum tak beriman, yang secara tidak adil diberlakukan oleh beberapa pemimpin negara, yang tidak mengakui hak-hak asasi pribadi manusia”. Gereja yakin bahwa:

” … setiap orang bagi dirinya sendiri tetap menjadi masalah yang tak terselesaikan, ditangkap samar-samar. Sebab pad a saat-saat tertentu, terutama pada peristiwa-peristiwa hidup yang agak penting, tidak seorang pun mampu menghindari sama sekali pertanyaan semacam itu. Persoalan itu hanya Allah saja yang dapat menjawab sepenuhnya dan dengan sepasti-pastinya, Dia yang memanggil manusia ke arah pemikiran yang lebih mendalam dan penyelidikan yang lebih rendah hati.”

Gereja membedakan antara ajaran ateis dan orang ateis, “Gereja, sungguh pun sama sekali menolak ateisme, dengan tulus hati menyatakan, bahwa semua orang, beriman maupun tidak, harus menyumbangkan jasa untuk membangun dengan baik dunia ini, yang merupakan tempat kediaman bersama” (GS 21). Karena membela kebebasan beragama, Gereja juga harus membela mereka yang memilih tidak menganut agama. Iman bersifat bebas, maka mungkin ada orang yang tidak sampai beriman. Gereja mau berusaha mengesampingkan segala sesuatu yang merupakan halangan untuk bertemu dengan Tuhan. Tetapi iman sendiri adalah rahmat Allah yang tidak dapat dipaksakan.