Asal Usul Sakramen

Sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang dimulai dalam sejarah Gereja sebagai praktik, tidak lahir sebagai teori yang kemudian dilaksanakan. Karena itu, titik tolak menemukan sumber teologi sakramen adalah praktik perayaan sakramen dalam hidup Gereja perdana.

Sejak awal hidup Gereja terdapat ritus-ritus. Ritus-ritus tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk pelaksanaan hidup Gereja, dan dipandang penting dan mutlak perlu untuk hidup Gereja. Ritus-ritus awal itu antara lain ritus pembaptisan dan pemecahan roti atau Ekaristi. Sebagian besar unsur ritus itu diambil dari kelompok agama lain, khususnya agama Yahudi. Tetapi untuk kita tidak begitu penting, apa yang diambil alih dan apa yang diciptakan baru oleh Gereja perdana. Yang penting ialah arti dan isi ritus-ritus itu, yang isinya ternyata bersifat khas Kristiani sejak permulaan.

Kekhasan itu terletak pada keyakinan Gereja bahwa ritus-ritus itu membuat sesuatu yang sama sekali baru dalam dunia. Dalam praktik pembaptisan misalnya, Gereja mengambil alih ritus yang sudah lama dikenal di luar Gereja. Yang baru adalah, melalui ritus yang secara lahiriah sudah populer itu Gereja mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut.

Demikian halnya dengan praktik Ekaristi. Benar bahwa perjamuan-perjamuan religius terdapat di dalam banyak agama. Tetapi praktik tersebut sudah diambil alih oleh Gereja perdana untuk suatu maksud dan isi tertentu. Dengan merayakan Ekaristi, Gereja perdana ingin memberitakan kematian Tuhan sampai kedatangan-Nya kembali, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26).

Kalau kita menyelidiki sumber-sumber kita, yaitu Kitab Suci, jelas sekali bahwa Gereja perdana sadar akan perbuatan Allah yang unik dan “satu kali untuk selama-lamanya” sebagai pemenuhan janji dan perbuatan itu dikerjakan Allah secara historis dan kelihatan “pada zaman akhir ini”, dalam diri Yesus dari Nazaret, seorang manusia historis.

Perbuatan Allah itu adalah perbutan keselamatan yang harus diimani, diwartakan, dan dilaksanakan antara lain melalui upacara-upacara tertentu. Allah dalam karya keselamatan itu antara lain menciptakan Gereja. Gereja sebagai hasil karya keselamatan Allah harus menghayati dan melanjutkannya sampai akhir zaman. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus telah melaksanakan keselamatan umat manusia dan dunia seluruhnya dalam salib dan kebangkitan Putra-Nya yang tunggal itu sedemikian rupa, sehingga sekarang Gereja sekaligus merupakan hasil dan sakramen keselamatan.

Karya keselamatan dengan seluruh dimensi historisnya, baik menyangkut janji, pelaksanaan dalam diri Yesus dan pemenuhan eskatologisnya hadir di dalam Gereja sebagai hidup dan inti Gereja. Gereja, sebagai hasil karya penyelamatan yang melaksanakan hakikatnya itu dan menunaikan amanat dan tugasnya sebagai alat keselamatan dengan cara penghayatan hidup yang diberikan oleh Allah, akan juga menyampaikan hidup baru itu kepada dunia yang belum percaya kepada Kristus. Tugas tersebut terlaksana antara lain dalam perbuatan-perbuatan yang kemudian disebut sakramen-sakramen.

Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa isi dan arti Gereja, yaitu rahasia penyelamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus dari Nazaret, mesti dilaksanakan di dalam Gereja itu sendiri antara lain melalui ritus-ritus. Ritus atau upacara itu merupakan sarana yang dengannya rahasia penyelamatan Allah disampaikan kepada manusia sepanjang sejarah dan selanjutnya dikenal sebagai sakramen.

Asal usul dan arti kata ‘Gereja’

Kata “Gereja” yang berasal dari kata igreja dibawa ke Indonesia oleh para misionaris Portugis. Kata tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata Latin ecclesia, yang ternyata berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Kata Yunani itu sebetulnya berarti ‘kumpulan’ atau ‘pertemuan’, ‘rapat’. Namun Gereja atau ekklesia bukan sembarang kumpulan, melainkan kelompok orang yang sangat khusus. Untuk menonjolkan kekhususan itu dipakailah kata asing itu. Kadang-kadang dipakai kata “jemaat” atau “umat”. Itu tepat juga. Tetapi perlu diingat bahwa jemaat ini sangat istimewa. Maka barangkali lebih baik memakai kata “Gereja” saja, yakni ekklesia. Kata Yunani itu berasal dari kata yang berarti ‘memanggil’. Gereja adalah umat yang dipanggil Tuhan. Itulah arti sesungguhnya kata “Gereja”.

Asal usul Yesus Kristus

Syahadat berbicara singkat sekali mengenai awal hidup Yesus di dunia, “Ia menjadi manusia oleh Roh Kudus dari Perawan Maria”. Syahadat panjang sebetulnya malah berkata “menjadi daging“; yang dimaksudkan “manusia lemah”. Arti kata “oleh Roh Kudus, dari Perawan Maria” menjadi jelas dari syahadat pendek: “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Yang dimaksudkan sudah jelas: Anak yang lahir dari Maria, bukan anak biasa, melainkan Anak Allah. Dan – seperti telah ditetapkan melawan Nestorius – itu tidak berarti bahwa Maria melahirkan seorang anak biasa, yang kemudian dimasuki Firman Allah. Anak yang lahir dari Santa Perawan, dari semula, artinya dari saat dikandungnya, sudah Anak Allah. Hal itu mau dinyatakan dengan kata-kata “dikandung dari atau oleh Roh Kudus”. Sama seperti semua kata lain dari syahadat, juga kata-kata ini hanya mau merumuskan apa yang sebetulnya sudah dikatakan di dalam Kitab Suci.

Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas (bab 1-2). Matius (bab 1-2) juga mengisahkan masa kanak-kanak Yesus, tetapi dengan lebih berpusat pada St. Yusuf. Di sana dibicarakan kebingungan Yusuf, ketika menyadari bahwa Maria mengandung; sementara kelahiran Yesus sendiri tidak diceritakan. Dalam cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kelahiran Yesus ada perbedaan antara Lukas dan Matius. Lukas menyebut kedatangan para gembala (Luk 2:8-20); penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah (Luk 2:21-40) dan Yesus yang pada umur dua belas tahun tinggal di kenisah (Luk 2:41-52). Sedangkan Matius menceritakan kunjungan para sarjana dari Timur (Mat 2:1-12), pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15.19-23), dan pembunuhan kanak-kanak di Betlehem (Mat 2:16-18).

Mat 1-2 dan Luk 1-2 mempunyai ciri-ciri sendiri. Keduanya tidak bermaksud memberikan informasi baru, melainkan menerangkan (dalam bentuk cerita) misteri Kristus sebagai manusia yang adalah Anak Allah. Hal itu sudah kelihatan dari fakta bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 baru ditulis lebih kemudian (Markus, sebagai Injil paling tua, tidak mempunyai kisah kanak-kanak Yesus; sedangkan Yohanes mempunyai suatu uraian lebih “teoretis” mengenai misteri pribadi Yesus pada awal Injilnya). Gereja pada waktu itu tidak hanya bertanya siapa Yesus, melainkan juga dari mana Ia datang dan bagaimana semua itu terjadi. Soal itu dijawab oleh Matius dan Lukas, masing-masing dengan caranya sendiri, kendati kedua-duanya mengajarkan yang sama, yakni:

  1. Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan (Mat 1:18.24-25; Luk 1:27.34; 2:4-7);
  2. Maria menerima kabar dari malaikat mengenai anak yang akan dilahirkannya (Mat 1:20-21; Luk 1:28-30);
  3. Maria akan mengandung karena Roh Kudus (Mat 1:18; Luk 1:35);
  4. Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Mat 1:16.20; Luk 1:27; 2:4), tidak tahu mengenai hal itu (Mat 1:18-25; Luk 1:34);
  5. Anak yang akan lahir harus diberi nama Yesus (Mat 1:21; Luk 1:31), sebab Ia Penyelamat (Mat 1:21; Luk 2:11), anak Daud (Mat 1:1; Luk 1:32).

Di samping lima hal pokok itu juga diceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (Mat 2:1; Luk 2:4-7); sesudah itu Maria dan Yusuf menetap di Nazaret (Mat 2:22-23; Luk 2:39.51). Hal itu terjadi pada zaman raja Herodes (Mat 2:1; Luk 1:5).

Semua peristiwa itu menceritakan kelahiran Yesus yang serba istimewa, mulai saat Ia dikandung oleh Perawan Maria. Peristiwa sesudah kelahiran-Nya dalam Injil Lukas tidak lain daripada yang lazim terjadi dalam suatu keluarga Yahudi, dengan ciri-ciri tertentu, yang menggarisbawahi misteri pribadi Yesus. Sebaliknya kisah mengenai sarjana dari Timur (Mat 2:1-12) serta pengungsian ke Mesir dan pembunuhan di Betlehem (Mat 2:13-23) mau memperlihatkan bahwa Yesus itu cahaya para bangsa dan Hamba Allah yang harus menderita untuk dan karena bangsa-Nya

Belum tentu semua itu terjadi tepat sebagaimana diceritakan, lengkap dengan semua detailnya. Kisah ini ditulis guna menjelaskan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, Anak Allah dan anak Maria. Khususnya kisah Lukas mengenai Maria, mengatakan hal itu dengan jelas sekali. Lima hal pokok yang disebut di atas semua memperlihatkan hal itu, terutama cerita mengenai kunjungan malaikat. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara lebih seksama: Maria yang mengandung dari Roh Kudus; dan Maria yang tetap perawan yang kait-mengait.