Menjawab keberatan-keberatan lain mengenai tanggapan argumen Kebangkitan Yesus Kristus

Setelah adanya tanggapan-tanggapan yang dapat kita beri mengenai argumen-argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus pada halaman-halaman sebelumnya;

1. Kebangkitan Yesus Kristus
2. Arti dari Kebangkitan
3. Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus
4. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya pingsan di kayu salib)
5. Tanggapan atas Teori Konspirasi
6. Tanggapan atas Teori Halusinasi
7. Tanggapan atas Teori Mitos

maka tidak ada alternatif lain selain pemahaman Kekristenan mengenai kebangkitan Yesus Kristus benar-benar terjadi yang dapat menjelaskan: keberadaan Injil, asal iman Kristen, kegagalan musuh Kristus untuk memunculkan tubuhnya kembali sebagai bukti bahwa Yesus tidak bangkit, kubur tempat Yesus dimakamkan kosong, batu kuburan Yesus yang berguling jauh, atau mengenai kesaksian penampakan Yesus Kristus setelah kebangkitan. Teori-teori Swoon, Konspirasi, Halusinasi dan Mitos telah terbukti menjadi deretan alternatif yang mencoba menjelaskan kebangkitan Yesus Kristus yang nyata, dan masing-masing teori tersebut telah dibantah dengan penjelasan yang memadai.

Alasan apa yang dapat diberikan pada saat ini bagi siapa saja yang masih menolak untuk percaya? Pada titik ini, keberatan yang muncul lebih bersifat umum daripada keberatan secara khusus. Sebagai contoh :

Keberatan 1 : Sejarah bukanlah ilmu pasti. Sejarah tidak menghasilkan kepastian yang mutlak seperti matematika.

Tanggapan : Ya benar sejarah bukanlah ilmu pasti, tapi mengapa baru sekarang ada yang memberikan penekanan terhadap fakta mengenai sejarah bukanlah ilmu pasti, dan bukan ketika kita berbicara tentang Caesar atau Luther atau George Washington? Sejarah memang tidak tepat, tapi itu sudah cukup. Tidak ada yang meragukan bahwa Caesar menyeberangi Rubicon, mengapa banyak keraguan bahwa Yesus bangkit dari kematian? Bukti yang ada untuk yang Yesus bangkit dari kematian jauh lebih baik daripada untuk bukti dari kisah lainnya seperti Caesar menyeberangi Rubicon.

Keberatan 2 : Kita tidak bisa mempercayai dokumen. Kertas tidak membuktikan apa-apa. Apa pun yang berupa dokumen dapat dipalsukan.

Tanggapan : Keberatan seperti ini hanyalah kebodohan. Tidak mempercayai apa yang dinyatakan dalam dokumen itu seperti tidak mempercayai apa yang ditampilkan oleh teleskop. Bukti tertulis di atas kertas sudah cukup untuk sebagian besar dari apa yang kita percaya, mengapa harus bukti peninggalan dokumen kertas tiba-tiba menjadi yang dipertanyakan di sini?

Keberatan 3 : Karena kebangkitan adalah ajaib, suatu peristiwa mukjizat. Mukjizat adalah inti dari bukti-bukti dalam kisah tersebut yang membuat kisah tersebut menjadi luar biasa.

Tanggapan : Sekarang kita akhirnya memiliki keberatan yang langsung dan terarah – bukan lagi keberatan atas bukti dokumenter, dokumen, atau teks tetapi keberatan atas adanya mukjizat. Keberatan ini merupakan pertanyaan filosofi, bukan ilmiah, bukan pertanyaan sejarah atau tekstual. (akan ada pembahasan lanjut mengenai ini) .

Keberatan 4 : Kebangkitan bukan hanya mukjizat biasa tetapi keajaiban yang sangat khusus dan tidak mudah diterima. Kebangkitan dari kematian adalah peristiwa kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Agama seharusnya lebih mengarah dan bersifat spiritual, bersifat ke dalam, dan etika.

Tanggapan : Jika agama adalah sesuatu yang kita ciptakan, kita bisa membuatnya sesuai dengan yang kita suka. Tetapi jika Agama diciptakan oleh Allah, maka kita harus menerima Agama seperti apa adanya saat kita menemukannya, seperti kita harus menerima alam semesta apa adanya sesuai temuan kita, bukan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Kematian adalah kasar, vulgar, karena bersifat harfiah dan materialistis. Peristiwa Kebangkitan mengimbangi Peristiwa Kematian dimana Kebangkitan dan melampaui Kematian, mengalahkan Kematian, dan mengabstraksikan tentang spiritualitas. Kebangkitan adalah hal yang vulgar sesuai dengan yang dilakukan oleh Allah. Allah juga lah yang membuat lumpur, serangga dan kuku.

Keberatan 5 : Tapi interpretasi harfiah dari kebangkitan mengabaikan dimensi yang mendalam dari makna suatu simbolik, spiritual dan alam mistik yang telah dieksplorasi secara luas dan mendalam oleh agama-agama lain. Mengapa orang Kristen begitu sempit dan eksklusif? Mengapa mereka tidak dapat melihat simbolisme yang mendalam dalam gagasan kebangkitan?

Tanggapan : Orang Kristen dapat melihat simbolisme itu. Namun permasalahannya bukan soal dapat atau tidak-dapat. Kekristenan tidak membatalkan atau meniadakan mitos, melainkan kekristenan mem-validasi mitos, dengan meng-inkarnasikan (inkarnasi tidak sama dengan reinkarnasi, banyak orang yang keliru mengenai ini) mitos. Maka adalah “Mitos menjadi Kenyataan”, seperti judul esai oleh CS Lewis. Mengapa lebih memilih hanya satu lapisan dari suatu kesatuan yang sebenarnya terdiri dari 2 lapisan yang utuh? Mengapa menolak aspek literal-historis atau menolak aspek mistis-simbolis dari peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus? Pihak fundamentalis menolak aspek mistis-simbolis karena mereka telah melihat apa yang telah dilakukan oleh pihak modernis terhadap aspek mitis-simbolis: yaitu menggunakan aspek mistis-simbolis untuk meniadakan aspek literal-historis. Maka muncullah pertanyaan mengapa pihak modernis melakukan itu? Apakah karena menurut mereka ada nasib yang mengerikan menanti mereka jika mereka mengikuti data yang sangat banyak dan berbobot, dan argumen-argumen yang secara alami muncul dari data -data tersebut, seperti yang kita telah dirangkum di sini beberapa tulis sebelum ini?

Sementara jawaban dari pihak modernis tidak jelas, pihak Kristen tradisional sudah mempunyai pegangan, lengkap dengan adorasi Kristus sebagai Tuhan, ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan, ketergantungan pada Kristus sebagai Juru selamat, pengakuan rendah hati akan dosa yang telah mereka perbuat dan upaya yang sungguh-sungguh menghidupi hidup Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya, terlepas dari keinginan duniawi, kebenaran, kekudusan, dan kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan. Bukti sejarah cukup memadai untuk meyakinkan para penanya yang berpikiran terbuka. Dengan analogi dengan peristiwa sejarah lainnya, Kebangkitan  Yesus Kristus memiliki bukti nyata yang sangat kredibel yang menjadi penyokong. Dan bagi orang yang tidak percaya, mereka harus sengaja membuat pengecualian aturan, aturan berstandar ganda untuk digunakan di tempat lain dalam sejarah. Dengan demikian mengapa orang yang tidak percaya ingin melakukan itu?

Bagi orang yang tidak percaya, mereka perlu bertanya kepada diri mereka sendiri; jika mereka berani, dan melihat dan menerima secara jujur ​​dalam hati mereka sebelum mereka menjawab.

Sekian.

Tanggapan atas Teori Mitos terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Teori Mitos merupakan salah satu teori yang paling populer sering dikemukakan oleh para moderenis dalam membahas kejadian-kejadian yang tertulis dalam Alkitab, baik dalam Kitab Perjanjian Lama atau Kitab Perjanjian Baru. Para Moderenis mencoba mengarahkan bahwa yang tertulis di dalam Alkitab merupakan hanya berupa mitos, sembari menjelaskan argumen mereka kejadian yang ‘sebenarnya’ yang dihubungkan dengan pendapat mereka sendiri seperti Alien dan lain-lain. Dalam pembahasan ini khusus dibahas tanggapan yang dapat kita beri mengenai Kebangkitan Yesus Kristus yang disangkakan merupakan hanya mitos oleh pihak-pihak yang mengemukakan teori mitos.

1. Gaya penceritaan dan penggambaran kejadian-kejadian dalam Alkitab sangat radikal dan jelas berbeda dengan gaya penceritaan semua mitos.

Alkitab menceritakan suatu kejadian dengan tidak secara membesar-besarkan, dan tidak secara kekanak-kanakan. Tidak secara bebas. Semua yang diceritakan di Alkitab sesuai dengan situasi saat itu. Semuanya mempunyai makna. Setiap cerita di Alkitab mempunyai kedalaman makna psikologis yang sangat dalam. Sedangkan cerita dalam mitos mempunyai makna psikologi yang dangkal. Gaya penceritaan dalam Alkitab juga memiliki ciri-ciri penggambaran kesaksian, gambaran kejadian oleh saksi mata penulis Kitab. Seperti sedikit detil pada kisah ketika Yesus menulis, menggores pasir ketika Dia ditanya ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi mengenai pendapatnya untuk melempari perempuan yang berbuat zinah. Tidak ada yang tahu mengapa ada tertulis mengenai Yesus menulis di atas pasir; tidak ada kelanjutan dari detail yang kecil itu. Satu-satunya penjelasan adalah penulis menuliskan apa yang dia lihat, apa yang dia saksikan.

2. Masalah ke-2 bagi teori mitos adalah bahwa tidak ada waktu yang cukup bagi mitos terbentuk.

Para de-mitologi pada masa awal, menitikkan pekerjaan mereka pada penanggalan masa akhir abad ke-2 untuk penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru; sedangkan agar suatu elemen mitologi dapat ditambahkan, kemudian disalahpahami dan dapat dipercaya sebagai suatu fakta harus melalui beberapa generasi saksi mata dahulu. Jika terdapat kisah yang versinya mengandung elemen mitos, saksi mata pada waktu itu di sekitar itu akan mendiskreditkan dan menolak versi tersebut. Pada kasus lain dimana mitos dan legenda dari suatu keajaiban terbentuk pada masa yang sama pendiri suatu agama – contohnya: Budha, Lao-tzu, dan Muhammad. Dimana setiap kasus lain tersebut, mitos-mitos tersebut yang terbentuk telah melalui banyak generasi terlebih dahulu. Penelitian waktu (penanggalan) penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru telah digeser mundur hingga mendekati waktu masa hidup Yesus dengan ditemukannya naskah-naskah secara empiris; hanya hipotesis abstrak yang memajukan penanggalan ke depan. Hampir tidak ada peneliti yang berpendidikan pada saat ini yang masih sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Bultmann, yaitu agar dapat mempercayai bahwa kisah yang pada Kitab Perjanjian Baru adalah teori mitos, bahwa tidak ada bukti suatu teks, naskah pada abad ke-1 mengenai Kekristenan yang dimulai dari keilahian dan kebangkitan Yesus Kristus, bukan sebagai manusia biasa yang telah mati.

3. Teori Mitos mempunyai dua lapisan.

Lapisan pertama adalah historis Yesus, Yesus yang tidak ilahi, Yesus yang tidak mengklaim keilahian, Yesus yang  tidak mengadakan mujizat, dan Yesus yang tidak bangkit dari kematian. Lapisan yang kedua dari teori mitos adalah lapisan berikutnya yang ‘di-mitos-kan’ yaitu Injil seperti yang kita miliki, yaitu Yesus yang mengaku sebagai Tuhan, Yesus yang mengadakan mujizat dan bangkit dari kematian. Permasalahan teori mitos ini adalah bahwa tidak ada sedikit pun bukti nyata mengenai keberadaan yang mendukung teori mitos seperti yang ada pada lapisan pertama. Teori dua-lapisan ini seperti teori kue yang terdiri dari dua lapisan dimana lapisan pertama yang seluruhnya terbuat dari udara dan lapisan lapisan kedua terbuat dari udara panas pada saat itu. Teori mitos merupakan suatu teori yang terdiri dari kedua lapisannya yang tidak mempunyai bukti nyata.Teori Mitos berbeda dengan Injil, Injil selain memiliki merupakan bukti tulisan dari saksi mata terdapat juga bukti lain yang memperkuatnya.

Injil adalah kisah yang luar biasa, dan kita tidak memiliki kisah lain yang diturunkan kepada kita selain yang terkandung dalam Injil ….Surat-surat Barnabas dan Clement mengacu mujizat dan kebangkitan Yesus. Polikarpus menyebutkan kebangkitan Kristus, dan Irenaeus menceritakan bahwa ia mendengar Polikarpus menceritakan mukjizat Yesus. Ignatius berbicara tentang kebangkitan. Quadratus melaporkan bahwa orang-orang yang masih hidup yang telah disembuhkan oleh Yesus. Justin Martyr menyebutkan mukjizat Kristus. Tidak pernah ada kisah non-ajaib (kisah yang biasa-biasa) yang mempunyai peninggalan (relik). Sedangkan agar suatu kisah mengalami korupsi (atau pengurangan) mengharuskan cerita asli terlebih dahulu hilang dan kemudian digantikan oleh yang lain, bahkan prinsip ini juga berlaku bagi tradisi lisan. Namun fakta-fakta yang disebut di atas menunjukkan bahwa kisah dalam Injil adalah substansi kisah yang sama yang dialami oleh orang Kristen masa awal. Ini berarti … bahwa kebangkitan Yesus selalu menjadi bagian dari kisah tersebut.”

4. Sebuah detail kecil, yang jarang diperhatikan, namun hal yang signifikan dalam membedakan Injil dari Mitos yaitu: saksi pertama yang mengetahui kebangkitan Yesus Kristus adalah perempuan.

Pada abad pertama Yudaisme, perempuan memiliki status sosial yang rendah dan tidak ada berhak untuk melayani sebagai saksi. Jika kubur yang kosong adalah suatu legenda dikarang, maka pengarangnya pasti akan tidak mengarang bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pertama kali ditemukan oleh perempuan, yang kesaksian dari perempuan itu akan dianggap tidak berharga. Namun jika di sisi lain, para penulis itu hanya melaporkan apa yang mereka lihat, mereka harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, walaupun yang terjadi tersebut di luar dari kebiasaan sosial dan hukum pada saat itu.

5. Kitab Suci Perjanjian Baru tidak bisa disalahartikan sebagai mitos dan dibingungkan dengan kenyataan karena secara khusus Kitab Suci Perjanjian Baru membedakan fakta dan mitos dan tak mau mengakui interpretasi mitos/dongeng (2 Petrus 1:16).

Karena secara eksplisit dalam 2 Petrus 1:16 mengatakan bahwa yang ditulis adalah bukan mitos, jika tulisan tersebut adalah mitos maka tulisan itu sebenarnya adalah suatu kebohongan yang disengaja dan bukan mitos. Ini merupakan suatu dilema. Apakah kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Baru itu suatu kebenaran atau kebohongan, apakah disengaja (konspirasi) atau tidak-disengaja (halusinasi). Tidak ada jalan keluar dari titik dilema ini. Sama halnya; sekali seorang anak menanyakan apakah Santa Claus adalah nyata, jawaban ‘Ya’ dari Anda akan menjadi sebuah kebohongan, jawaban tersebut bukan menjadikan Santa Claus sebagai mitos, jika ia tidak benar-benar nyata. Begitu juga pada Kitab Perjanjian Baru, sekali Perjanjian Baru dipilah-pilah bahwa ada sebagian kisah adalah mitos dan sebagian adalah kenyataan, maka Kitab Suci Perjanjian Baru akan menjadi suatu kebohongan jika kebangkitan tidak benar-benar nyata.

6. William Lane Craig telah merangkum argumen tradisi tertulis dengan penjelasan, yang dikutip disini. Berikut adalah argumen (untuk Mengetahui Kebenaran Tentang Kebangkitan) membuktikan dua hal: pertama, bahwa Injil ditulis oleh para murid, bukan oleh pembuat-mitos setelahnya, dan kedua, bahwa Injil yang kita miliki saat ini pada dasarnya sama dengan aslinya.

6.A. Bukti bahwa Injil ditulis oleh saksi mata:

6.A.1. Bukti internal, yang terdapat di dalam Injil itu sendiri:

  1. Gaya penulisan dalam Injil sifatnya sederhana dan hidup, apa yang kita harapkan dari penulis mereka diterima secara tradisional.
  2. Selain itu, karena Injil Lukas ditulis sebelum Kitab Kisah Para Rasul, dan karena Kitab Kisah Para Rasul ditulis sebelum kematian Paulus, maka Lukas memiliki penanggalan yang lebih awal, yang menunjukkan ke-otentikannya.
  3. Kitab Injil juga menunjukkan pengetahuan yang mendalam tentang Yerusalem sebelum kehancurannya pada tahun 70. Kitab Injil penuh dengan nama-nama yang tepat, tanggal, rincian budaya, peristiwa sejarah, dan adat istiadat, dan opini-opini yang beredar pada saat itu.
  4. Nubuat Yesus tentang peristiwa (kehancuran Yerusalem) sudah pasti telah ditulis sebelum jatuhnya Yerusalem, karena kalau tidak demikian maka gereja akan memaknai unsur apokaliptik terpisah dari nubuat Yesus itu, sehingga seolah-olah nubuat tersebut hanya menyangkut akhir dunia. Dan karena akhir dunia tidak terjadi ketika Yerusalem dihancurkan, maka jika nubuat Yesus tentang kehancuran Yerusalem tersebut benar-benar tertulis setelah kota Yerusalem hancur maka nubuat tersebut tidak memperlihatkan kejadian kehancuran Yerusalem itu berhubungan erat dengan akhir dunia. Oleh karena itu, Injil sudah pasti ditulis sebelum tahun 70.
  5. Kisah-kisah mengenai kelemahan sisi manusia Yesus dan kesalahan para murid juga menyatakan keakuratan Injil.
  6. Dengan demikian, tidak mungkin bagi pemalsu untuk memasukkan hal-hal yang tidak sesuai bersama dengan narasi yang sangat konsisten seperti yang kita temukan di dalam Injil. Kitab-kitab Injil tidak mencoba untuk mensamarkan perbedaan antara Kitab-kitab Injil, hal tersebut menunjukkan orisinalitas kitab (ditulis oleh masing-masing saksi mata). Tidak ada upaya harmonisasi antara Injil, seperti yang kita harapkan jika berasal dari pemalsu.
  7. Kitab-kitab Injil tidak mengandung anakronisme, tidak ditemukan ketidaksesuaian baik pada setiap tokoh, atau latar. Para Penulis kitab Injil dapat dikenali sebagai kaum Yahudi abad pertama yang menjadi saksi peristiwa.

Kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada alasan lagi untuk meragukan bahwa Injil berasal dari penulis tradisional, yang mengandung kisah kesaksian peristiwa-peristiwa supranatural.

6.A.2 Bukti eksternal:

  1. Para rasul pastinya meninggalkan beberapa tulisan, berhubung karena mereka dalam memberikan pelajaran dan konseling kepada orang-orang percaya yang secara geografis letaknya jauh, dan tulisan-tulisan tersebut berisikan apa jika bukan Injil dan surat-surat dari para rasul itu sendiri? Karena bagaimana pun juga para rasul perlu dan harus mempublikasikan narasi akurat mengenai sejarah Yesus, sehingga setiap upaya pemalsuan dapat didiskreditkan, disingkirkan dan keaslian Injil dapat dijaga.
  2. Ada banyak saksi mata yang masih hidup ketika buku-buku itu ditulis, dan mereka bisa bersaksi apakah buku-buku tersebut berasal dari penulis yang diakui mereka atau tidak.
  3. Kesaksian-kesaksian di luar alkitabiah menjadi pelengkap Injil akan ke-tradisional para penulis kitab, seperti:  Surat Barnabas, Surat Clement, Gembala Hermes, Teofilus, Hippolytus, Origen, Quadratus, Irenaeus, Melito, Polikarpus, Justin Martyr, Dionysius, Tertullian, Siprianus, Tatian, Caius, Athanasius, Cyril, hingga Eusebius di AD 315; bahkan juga kesaksian-kesaksian dari lawan kekristenan yang mengakui ke-tradisionalan para penulis, seperti: Celsus, Porphyry, Kaisar Julian.
  4. Dengan satu pengecualian, tidak ada Injil apokrif yang pernah dikutip oleh penulis kitab Injil selama tiga ratus tahun setelah Kristus. Pada kenyataannya tidak ada ditemukan bukti yang menunjukan adanya keberadaan Injil yang tidak otentik di abad pertama, di mana keempat Injil dan Kisah Para Rasul ditulis.

6.B. Bukti bahwa Injil yang kita miliki saat ini adalah sama dengan Injil asli yang pernah ditulis:

  1. Karena keperluan untuk memberikan petunjuk dan kebaktian pribadi, tulisan-tulisan Injil pasti disalin berkali-kali, yang meningkatkan kemungkinan teks asli dapat terlestari.
  2. Bahkan, tidak ada karya tulisan kuno selain Injil yang salinannya tersebar begitu banyak dan dalam berbagai bahasa, dan semua salinan dalam berbagai versi itu mempunyai kesamaan isi.
  3. Teks-teks Injil juga tetap terjaga keasliannya dari penambahan-penambahan yang sesat. Salinan-salinan Injil begitu banyak terdistribusi secara geografis yang luas, dan salinan-salinan itu menunjukkan bahwa teks tersebut hanya mengalami perbedaan yang sangat kecil ketika ditransmisikan. Perbedaan yang memang ada cukup kecil dan merupakan hasil dari kesalahan yang tidak disengaja.
  4. Kutipan-kutipan dari kitab-kitab Perjanjian Baru oleh para Bapa Gereja masa awal semuanya serupa, cocok, dan tepat.
  5. Injil tidak dapat dirusak, dirubah, atau dikorupsikan tanpa protes besar dari sebagian besar pihak Kristen ortodoks.
  6. Tidak ada yang dapat merusak, merubah, atau mengorupsikan semua naskah kitab.
  7. Tidak ada celah waktu yang bagi pemalsuan bisa terjadi, karena seperti yang telah kita lihat, kitab-kitab Perjanjian Baru yang dikutip oleh para Bapa Gereja dalam deret rentang waktu yang rapat. Teks tidak mungkin dipalsukan di masa sebelum ada banyak kesaksian eksternal yang muncul, dan pada masa itu para rasul masih hidup dan bisa menolak gangguan percobaan pemalsuan jika ada.
  8. Setiap penggalan Naskah Perjanjian Baru layaknya sama seperti teks dari karya-karya klasik kuno. Untuk menanggalkan sepenggal tekstual dari Injil akan membalikkan semua aturan kritik dan menolak semua karya kuno, karena teks dari karya-karya kuno kurang pasti dibandingkan dengan Injil.

… untuk disimpulkan.

Tanggapan atas Teori Halusinasi terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Ada yang mengatakan bahwa jika kita melihat seseorang yang telah mati berjalan dan berbicara, bukankah kita akan lebih terima jika menyadari bahwa kita sedang mengalami halusinasi daripada menyadari bahwa apa yang kita lihat adalah yang sebenarnya? Lalu kalau demikian kenapa kita tidak berpendapat yang sama tentang Kebangkitan Yesus Kristus?

Berikut adalah tanggapan dan alasan kenapa Kebangkitan Yesus bukan halusinasi.

  1. Terlalu banyak saksi mata yang menyaksikan Yesus disalibkan dan Penampakan Yesus setelah bangkit. Halusinasi hanya bersifat pribadi, individual, dan subjektif. Sedangkan penampakan Yesus Kristus disaksikan oleh Maria Magdalena, kepada para murid (tanpa Tomas), kepada para murid lagi (dengan Tomas), kepada dua murid di Emaus, kepada para nelayan di pinggir danau, kepada Yakobus (saudara sepupu Yesus), dan juga kepada 500 (lima ratus) orang pada saat bersamaan (1 Korintus 15:3-8). Tiga saksi mata dan bahkan masih ada sekitar 500 saksi mata orang yang menyaksikan secara langsung, yang mengundang para pembaca untuk memeriksa kembali kebenaran cerita dengan bertanya kembali kepada para saksi mata tersebut.
  2. Para saksi mata adalah orang-orang yang dapat bertanggung jawab. Mereka sederhana, jujur, dan bermoral yang merupakan pihak pertama yang menyaksikan dan memiliki pengetahuan akan kebenaran fakta cerita mengenai Kebangkitan Yesus Kristus.
  3. 500 (lima ratus) orang saksi mata yang pernah melihat Yesus Kristus, pada tempat yang sama dan pada saat yang sama sangat kuat menjadi bukti fakta dibandingkan 500 (lima ratus) saksi mata secara pribadi (perorangan) atau disebut “halusinasi” pada tempat dan waktu yang terpisah masing-masing.
  4. Halusinasi biasanya terjadi dan berlangsung singkat hanya beberapa detik, atau menit, atau jam. Tetapi “Halusinasi” yang disaksikan oleh 500 saksi mata tersebut secara bersamaan dan pada tempat yang sama berlangsung selama 40 hari. (Kisah Para Rasul 1:3)
  5. Halusinasi biasanya terjadi hanya satu kali, kecuali bagi yang orang yang tidak waras halusinasi yang dialami dapat berulang-ulang. Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit terjadi berulangkali kepada orang-orang yang normal (Yohanes 20:19-21:14; dan Kisah Para Rasul 1:3).
  6. “Halusinasi” Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit yang dialami oleh para murid sangat mengejutkan dan tidak perkirakan (Kisah Para Rasul 1:3, 9); kesan pertama yang dirasakan oleh para murid adalah seperti bertemu dengan seorang manusia yang nyata bukan seperti mengalami mimpi. Bahkan pada saat pertama mereka bertemu Yesus yang sudah bangkit mereka tidak mempercayai “halusinasi” ini, baik Petrus, para perempuan, atau Thomas, dan begitu juga kesebelas murid lainnya. Mereka mengira Yesus yang menampakan diri pada saat pertama itu adalah berupa Roh atau hantu; Dan Yesus membuktikan kepada mereka semua bahwa dia adalah Yesus Kristus yang telah bangkit, benar bangkit dengan makan bersama bahwa dia bukan seperti perkiraan mereka semula yaitu berupa Roh atau hantu. Bahkan pembuktian dengan makan bersama terjadi dua kali (Lukas 24:42-43; Yohanes 21:1-14).
  7. Para murid dapat menyentuh tubuh Yesus yang telah bangkit. Tubuh Yesus nyata dapat disentuh membuktikan dia adalah Yesus Kristus yang benar bangkit.
  8. Bahkan Yesus Kristus pada saat itu berbincang dengan para muridnya, berkomunikasi dua arah; Yesus merespon para murid, dan muridnya dapat merespon balik perbincangan itu selayaknya perbincangan normal.
  9. Para murid tidak dapat mempercayai penampakan Yesus yang telah bangkit (“halusinasi”) jika tubuh Yesus yang sebenarnya masih terbaring di kubur. Jika memang halusinasi benar terjadi pada murid maka seharusnya tubuh Yesus benar masih dikubur, dengan demikian dapat dikatakan para murid mengalami halusinasi karena melihat hal yang tidak benar karena tubuh Yesus sebenarnya masih terbaring di kubur.
  10. Jika para murid mengalami halusinasi dan menyebarkan cerita halusinasi yang mereka percayai, para Yahudi pasti akan menghentikan penyebaran cerita tersebut dengan membuktikan dan menunjukan dalam kubur bahwa tubuh Yesus benar-benar masih ada di bumi, masih kaku, belum bangkit. Jika alasan tubuh Yesus tidak bisa dibuktikan masih ada di bumi, tidak bangkit karena para murid mencuri dan menyembunyikan tubuh Yesus, maka hal ini akan mengarahkan kita kembali ke teori konspirasi.
  11. Sebuah teori halusinasi hanya dapat digunakan untuk mencoba beragumen bahwa kebangkitan Yesus tidaklah benar terjadi, setelah kejadian kebangkitan mulai. Tapi teori halusinasi tidak dapat digunakan untuk berargumen dan menjelaskan bagaimana kubur Yesus kosong, batu penutup pintu kubur Yesus yang terguling sehingga kubur terbuka, dan tidak dapat membuktikan keberadaan tubuh Yesus. Tidak ada teori yang dapat menjelaskan hal-hal tersebut kecuali teori bahwa Yesus Kristus benar bangkit.

Apologetik Gereja Katolik

Apologetik Gereja Katolik

Banyak orang menghindari dan tidak mempedulikan apologetik karena hal itu dianggap terlalu intelektual, abstrak, dan rasional. Mereka berpendapat bahwa hidup dan cinta dan moralitas dan kesucian adalah hal-hal yang jauh lebih penting dibandingkan penalaran.

Mereka yang berpendapat seperti ini adalah benar; mereka hanya saja tidak menyadari bahwa mereka sedang bernalar. Kita tidak dapat menghindari diri kita untuk bernalar – tetapi kita dapat menghindari (sengaja) melakukan penalaran yang benar; malah melakukan penalaran yang salah, sehingga penalaran yang kita lakukan bertentangan dengan iman. Namun jika penalaran dilakukan dengan benar, penalaran dan akal budi adalah teman bagi iman, bukan musuh, dan nalar juga merupakan teman bagi kesucian sebagai jalan menuju ke kebenaran, dan kesucian menemukan artinya yaitu mencintai Allah, yaitu Kebenaran.

Bukan hanya penalaran Apologetik yang mengantarkan kita kepada Iman dan Kesucian, tetapi sebaliknya juga Iman dan Kesucian mengantarkan kita kepada penalaran Apologetik. Dan bagi kita, kesucian berarti mencintai Allah, dan mencintai Allah berarti kita harus taat setia kepada kehendak Allah, dan kehendak Allah adalah agar kita mengenal DIA dan “siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,” (1 Petrus 3:15).

Dan fakta benar menunjukan bahwa Apologetik tidaklah sepenting Cinta Kasih yang merupakan hal yang lebih utama, namun bukan berarti Apologetik bukan hal yang sangat, sangat tidak penting. Sama halnya fakta bahwa ‘Kesehatan’ tidak sama sepenting ‘Kebijaksanaan’, tetapi bukan berarti Kesehatan bukan hal yang sangat, sangat tidak penting – sebagai contoh ‘Kesehatan’ lebih penting daripada ‘Uang’.

Di lain pihak ada juga alasan yang lebih mendalam bagi orang-orang yang menghindari penalaran Apologetik, yaitu mereka memilih mempercayai atau tidak mempercayai dengan hati mereka daripada dengan pikiran mereka. Bahkan argumen yang paling sempurna pun tidak mampu menggugah atau menyemangati mereka, karena bagi mereka emosi, hasrat, dan pengalaman konkrit lah yang terpenting. Hampir semua orang tahu bahwa hati adalah pusat diri kita, bukan pikiran kita. Tetapi Apologetik berusaha mencapai hati melalui pikiran. Pikiran adalah hal yang penting juga dalam diri kita, karena pikiran adalah pintu gerbang menuju ke hati. Kita hanya dapat mengasihi Allah jika kita mengenal Allah.

Lebih lanjut, akal budi atau nalar memiliki pengaruh terhadap keyakinan, percaya atau tidak percaya. Kita tidak dapat mempercayai suatu hal yang kita ketahui ketidak-benarannya, dan kita tidak dapat mengasihi sesuatu yang percayai bahwa sesuatu itu tidak nyata. Argumen mungkin tidak membawa kita kepada iman, tetapi yang pasti argumen dapat menjauhkan kita dari iman. Oleh karena itu kita perlu untuk ikut dalam perdebatan argumen, mempertanggung jawabkan iman kita.

Argumen dapat membawa kita kepada iman, namun dengan tidak langsung; sama halnya dengan sebuah mobil yang membawa kita ke laut. Mobil tidak dapat berenang; kita harus keluar dari mobil dan melompat ke laut. Tetapi karena kita tidak dapat melompat dari tempat asal kita 100 meter jauhnya dari laut, kita membutuhkan mobil untuk mengantarkan kita dahulu ke pinggir laut agar kita bisa melompat ke dalam laut. Begitu juga halnya Iman, Iman adalah lompatan dari yang percaya menjadi tidak percaya, tetapi lompatan itu diterangi oleh terang, bukan dalam kegelapan, dan penalaran Apologetik menerangi agar kita dapat melompat menjadi orang yang percaya.

Pikiran selayaknya adalah pengemudi diri kita. Hati selayaknya adalah kapten diri kita. (Apa yang dimaksudkan oleh Kitab Suci dengan hati adalah lebih kepada “keinginan” daripada “perasaan”.) Kedua hal tersebut yaitu Pikiran dan Hati tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi dengan cara masing-masing.

Berikut adalah argumen-argumen yang dapat menerangi kita agar memperdalam iman Katolik kita.

Kebangkitan Yesus Kristus

  1. Kebangkitan Yesus Kristus
  2. Arti dari Kebangkitan
  3. Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus
  4. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya pingsan di kayu salib)
  5. Tanggapan atas Teori Konspirasi
  6. Tanggapan atas Teori Halusinasi
  7. Tanggapan atas Teori Mitos
  8. Menjawab keberatan-keberatan lain mengenai tanggapan atas argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus

Keselamatan

  1. Pentingnya Pertanyaan mengenai Keselamatan
  2. Apa itu Keselamatan
  3. Bagaimana kita diselamatkan? Empat Bantahan dan Jawabannya
  4. Siapakah yang Menyelamatkan? Apakah hanya Yesus?
  5. Lalu siapa yang diselamatkan?
  6. Empat Bantahan dari Fundamentalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan
  7. Tujuh Bantahan dari Liberalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

Surga

  1. 7 Teori Alternatif mengenai Kehidupan setelah Kematian
  2. 10 (Sepuluh) sanggahan Gereja mengenai Reinkarnasi
  3. Analogi duniawi tentang Surga
  4. Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)
  5. Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)
  6. Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 3)

Dogma

  1. Kebangkitan Yesus: Kehadiran Yesus Kristus secara Nyata!
  2. Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)
  3. Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)
  4. Api Penyucian

Tanggapan atas Teori Konspirasi terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Tanggapan yang dapat dikemukakan mengenai teori Konspirasi, teori yang menuduh bahwa Kebangkitan Yesus Kristus adalah konspirasi, atau sesuatu yang diatur secara bersama oleh para murid Yesus dengan mengajarkan hal yang tidak sebenarnya kepada orang lain. Berikut adalah tanggapan-tanggapan yang menjelaskan mengapa para murid tidak dapat mengarang, tidak dapat berkonspirasi mengenai peristiwa ini:

  1. Secara psikologi hal konspirasi ini adalah sesuatu yang tidak terpikirkan oleh para murid, seperti yang dikemukakan oleh seorang matematikawan Blaise Pascal dalam tulisannya The “Pensées”. Dengan beranggapan bahwa para Murid Yesus adalah orang-orang yang tersesat atau yang orang-orang yang menyesatkan, kedua hal tersebut membawa suatu pemikiran yang sulit diterima oleh orang lain untuk membayangkan bahwa seorang manusia telah bangkit dari mati.
    Kalau Yesus masih hidup bersama mereka, mungkin hal ini memungkinkan para murid untuk berwarta dan mengajarkan bahwa Yesus benar bangkit, karena Yesus ada bersama mereka dan dapat menjadi dasar  bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Namun sebaliknya, jika Yesus tidak bersama mereka, siapa dan apakah yang membuat para murid berwarta bahwa Yesus telah bangkit dari mati?
    Pemikiran yang menyudutkan para murid Yesus adalah penipu sebenarnya tidaklah mendasar. Coba ikuti dan bayangkan alur logika, kedua belas orang ini berkumpul setelah kematian Yesus dan berkonspirasi untuk mewartakan bahwa Yesus telah bangkit dari mati. Hal ini berarti menyerang semua pihak yang berkuasa yang ada, dan bagi para murid hal ini bukanlah perkara yang mudah karena akan mendapat pertentangan yang berat. Dalam pewartaan mengenai kebangkitan Yesus para murid mendapat banyak tekanan, mengingat para murid adalah manusia biasa dan hati mereka rentan terhadap hal yang tidak pasti, terhadap perubahan, terhadap janji, terhadap penyuapan. Seandainya benar hal konspirasi dilakukan oleh para murid, mereka hanya perlu menyangkal pewartaan mereka untuk lari dari tekanan-tekanan pihak lain, dari dorongan/bujukan, dari hukuman penjara, penyiksaan, kematian, dan ancaman kehilangan semua milik mereka.
    Kunci  penentu dari argumen ini adalah fakta sejarah yang tidak mencatat satu pun orang yang mengatakan bahwa warta akan Kebangkitan Yesus Kristus tersebut adalah palsu/hoax, baik dari orang yang kuat atau lemah, santo atau pendosa, Kristen atau penghujat; atau orang yang pernah mengaku secara bebas atau dibawah tekanan, karena disuap atau disiksa. Bahkan ketika para orang-orang yang telah menyerah karena disiksa, orang tersebut akhirnya menyangkal Kristus dan menyembah Kaisar, namun dari orang-orang tersebut tidak pernah didapatkan bahwa Kebangkitan Yesus itu adalah suatu kebohongan atau konspirasi mereka. Karena hal itu dari awal bukanlah kebohongan atau konspirasi. Tidak ada pengikut Kristus (Kristen) yang mempercayai Kebangkitan Yesus adalah konspirasi; jika ada di antara mereka demikian maka mereka tidak akan menjadi Kristen.
  2. Seandainya para murid mengarang semua cerita, mereka haruslah sangat kreatif, cerdas, memiliki intelegensi yang fantastis sepanjang sejarah, jauh melampaui Shakespear atau Dante atau Tolkien. “Cerita nelayan” oleh para murid yang pekerjaan semulanya adalah nelayan ikan tidak pernah seterperinci kisah yang diceritakan di kitab perjanjian baru, tidak menyakinkan, tidak mengubah hidup, mempengaruhi, dan memberikan semangat kepada banyak orang.
  3. Karakter dari setiap para murid sangat keras berpendapat dan hal itu sangat sulit jika dikatakan mereka dapat berkonspirasi, tanpa ada yang membangkang atau melawan. Karakter mereka sederhana, jujur, kampungan, tidak licik, bukan komplotan pembohong. Mereka juga bukan ahli hukum. Ketulusan mereka terbukti dari perkataan dan perbuatan mereka. Mereka mewartakan kebangkitan Yesus Kristus, dan hidup dalam kebangkitan Yesus Kristus. Mereka mau mati demi “konspirasi” mereka (jika itu yang dituduhkan). Kemartiran adalah bukti  dari ketulusan, dan tidak ada bukti yang lebih baik dari kemartiran itu.
    Perubahan dalam hidup para murid dari ketakutan menjadi beriman, dari keputusasaan menjadi percaya-diri, dari kebingungan menjadi pasti, dari pengecut menjadi pemberani yang mantap bertahan walaupun ditekan ancaman dan penyiksaan, bukan hanya membuktikan ketulusan mereka tetapi juga membuktikan kekuatan yang menjadi pendorong mereka. Apakah suatu kebohongan dapat menyebabkan perubahan dalam diri mereka? Apakah kebenaran dan kebaikan dianggap sebagai musuh yang memberikan dampak besar dalam sejarah – yaitu kesucian – berasal dari suatu kebohongan?
    Jika kita bayangkan dan kita nilai dari pandangan kita sendiri, apakah kedua belas orang itu (murid-murid Yesus) yang miskin, selalu dibayangi ketakutan, kebingungan (menurut yang tertulis di kitab) dapat merubah dunia Romawi yang sangat kaku dan keras dengan suatu kebohongan? Hal tersebut sangat sulit diterima.
  4. Tidak ada motif yang melatarbelakangi warta Kebangkitan Yesus Kristus. Kebohongan selalu dikatakan untuk suatu tujuan menguntungkan diri sendiri. Keuntungan apa yang didapat oleh para konspirator, para murid Yesus dengan mewartakan Kebangkitan Yesus Kristus? Yang mereka dapat dari pewartaan itu adalah mereka dibenci, dicemooh, dianiaya, diasingkan, dipenjara, disiksa, dibuang, disalibkan, direbus/dibakar hidup-hidup, dipenggal, dibedah dan dijadikan makanan untuk singa — sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkan dari suatu penipuan.
  5. Jika warta Kebangkitan Yesus Kristus adalah kebohongan, orang Yahudi dapat saja menghentikan takhyul yang menghantui mereka dengan mengeluarkan tubuh Yesus dari kubur dan membuktikan Yesus tidak bangkit. Orang Yahudi dapat melakukan ini dengan mudah karena pimpinan Yahudi sepihak dengan tentara Romawi, mereka hanya perlu ke kubur dan bersama dengan tentara Romawi membuka kubur Yesus. Orang Yahudi tidaklah sepihak dengan pengikut Yesus (Kristen). Dan jika ternyata orang Yahudi tidak dapat menemukan tubuh Yesus di kubur karena para murid Yesus yang mencuri, maka muncul pertanyaan bagaimana para murid Yesus melakukannya? Argumen yang menjawab teori Swoon berlaku juga di sini: para murid Yesus yang bukan tentara dan tidak terampil berperang tidak dapat mengalahkan tentara Romawi, atau menggeser batu besar penutup kubur ketika para tentara Romawi tertidur tanpa ketahuan.
  6. Jika Kebangkitan Yesus tersebut adalah kebohongan maka para murid tidak dapat menyatakan Kebangkitan Yesus Kristus terjadi di Yerusalem – pada rentang waktu yang sama, tempat yang sama, dan penuh dengan saksi mata. Seperti yang dikemukakan oleh penulis William Craig dalam bukunya “Knowing the Truth about the Resurrection“:Teks Perjanjian Baru yang berisikan catatan-catatan ditulis pada selang waktu yang sangat dekat dengan kejadian Kebangkitan Yesus dan secara geografi teks-teks tersebut ditemukan dekat dengan lokasi kejadian, hal tersebut menunjukkan bahwa hampir tidak memungkinkan bahwa teks-teks tersebut adalah hasil karangan kejadian-kejadian tersebut. Fakta menunjukkan bahwa para murid dapat menyatakan Kebangkitan Yesus Kristus secara terbuka di muka umum, juga di depan orang-orang yang memusuhi mereka setelah Yesus disalibkan (seharusnya jika Yesus tidak bangkit maka para murid akan lari, ketakutan, dan sembunyi dari kejaran orang Yahudi dan tentara Romawi) menunjukkan bahwa apa yang mereka nyatakan adalah benar.
  7. William Craig juga mengemukakan jika benar ada konspirasi mengenai Kebangkitan Yesus Kristus, seharusnya konspirasi tersebut telah terbongkar oleh pihak-pihak yang menentang pewartaan ini, pihak yang mempunyai kepentingan dan kekuasaan untuk menguak semua kebohongan.

Tanggapan atas Teori Swoon (hanya pingsan) terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Berikut adalah 9 (sembilan) tanggapan yang dapat dikemukakan untuk membuktikan teori Swoon tidak benar; teori Swoon yang mengatakan bahwa sebenarnya Yesus Kristus tidaklah mati di kayu salib, hanya pingsan, dengan demikian Yesus Kristus setelah dibawa ke kubur, Dia bangun sadar dan berdiri, bukan bangkit dari mati.

  1. Yesus disalibkan, dan mati di kayu salib, Yesus tidak dapat bertahan hidup pada penyaliban itu.  Prosedur pemerintahan Romawi pada masa itu sangat teliti untuk meniadakan kemungkinan bahwa ada Penyaliban yang gagal. Hukum pemerintahan Romawi bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada setiap prajurit Romawi yang membiarkan atau mengatur pelarian tahanan dalam cara apapun, termasuk kecerobohan dalam mengeksekusi penyaliban. Hal kegagalan/kecorobohan dalam penyaliban oleh prajurit Romawi tidak pernah terjadi.
  2. Fakta bahwa prajurit Romawi yang menyalibkan Yesus tidak mematahkan kakinya Yesus, seperti yang dilakukan kepada dua tahanan lain yang ikut disalibkan di sebelah Yesus (Yohanes 19:31-33), yang berarti bahwa prajurit tersebut yakin Yesus telah mati. Mematahkan kaki tujuannya adalah mempercepat kematian (jika belum mati), agar tubuh tahanan yang telah mati dapat diturunkan dari salib sebelum hari sabat (Yohanes 19:31).
  3. Yohanes, seorang saksi mata, yang memastikan bahwa dia melihat darah dan air mengucur dari lambungnya Yesus (Yohanes 19:34-35). Hal ini menunjukkan bahwa lambungnya Yesus sudah rusak dan Yesus telah mati dengan sesak nafas. Ahli medis dapat mengkonfirmasikan situasi keadaan itu dari gambaran keadaan tubuh Yesus.
  4. Seluruh Tubuh Yesus terbungkus rapi di dalam lilitan kain kafan dan dimakamkan (Yohanes 19:38-42).
  5. Penampakan Yesus setelah Kebangkitan kepada murid-murid, termasuk “Tomas yang tidak percaya”, menyakinkan kepada mereka bahwa Yesus telah bangkit dan hidup dalam kemuliaan (Yohanes 20:19-29). Secara psikologi tidak mungkin para murid berubah dari takut menjadi pemberani dan percaya diri mewartakan Kebangkitan Yesus jika Yesus yang hadir di depan mereka harus berjuang keluar dari kubur setelah sadar dari pingsan, dan penuh dengan luka bekas penyiksaan penyaliban yang seharusnya membutuhkan pertolongan dokter untuk mengobati.
  6. Bagaimana mungkin prajurit Romawi yang menjaga kubur dapat dikalahkan oleh seseorang yang baru sadar dari pingsan? Atau bagaimana mungkin prajurit Romawi tersebut dapat dikalahkan oleh para murid yang tidak bersenjata. Dan jika diandaikan para murid benar melakukan penyerangan terhadap prajurit Romawi maka para murid telah melakukan penipuan ketika mereka menuliskan kitab, dan kita akan mengarahkan ke teori konspirasi (teori 4), yang akan dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  7. Bagaimana mungkin Yesus yang dianggap baru sadar dari pingsan seorang diri dapat menggeser batu di depan kubur? Siapakah yang dapat menggesernya jika bukan malaikat? Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu. Baik dari pihak Yahudi maupun pihak prajurit Romawi tidak ada yang mau menggeser batu penutup kubur, karena kedua pihak tersebut hanya menginginkan agar kubur itu tetap tertutup; bagi Yahudi seharusnya batu tersebut tetap terletak di sana tidak bergeser, dan bagi prajurit Romawi hukuman mati menanti apabila mereka membiarkan orang yang dihukum “melarikan diri”.
    Cerita yang beredar di kalangan Yahudi, mengatakan bahwa para prajurit Romawi yang menjaga kubur lalai dan ketiduran, dan kemudian para murid datang mencuri tubuh Yesus keluar dari kubur (Matius 28:11-15); cerita tersebut tidak dapat dipercaya. Prajurit Romawi tidak akan lalai dan ketiduran ketika diberi tugas penting seperti menjaga kubur; dan jikapun mereka benar lalai dan tertidur mereka akan kehilangan nyawa mereka. Dan jika pun benar para prajurit Romawi yang menjaga tertidur saat itu, suara berisik dari para murid yang berusaha menggeser batu pasti kedengaran jelas dan membangunkan para prajurit Romawi tersebut. Dan ini mengarahkan ke teori konspirasi juga (teori 4), yang akan  dibahas dalam argumen terhadap teori konspirasi.
  8. Jika Yesus sadar dan bangun dari pingsan, kemana Dia pergi? Karena dengan logika: Yesus dengan tubuh hidup yang sama sebelum disalibkan, bukan tubuh yang mati, bagaimana mungkin bisa menghilang? Tidak satu pun data yang memberikan informasi keberadaan tubuh Yesus setelah disalibkan dan dikubur, baik data dari sepihak atau pun dari pihak yang berseberangan. Bagi seorang tokoh masyarakat yang penting pada masa itu, dengan sejarah perjalanan yang sangat menyedot perhatian banyak pihak, pasti akan meninggalkan jejak yang dapat ditemukan.
  9. Singkatnya, teori Swoon (Pingsan) kesannya beralih menjadi teori konspirasi atau teori halusinasi, karena adanya fakta kesaksian dari para murid Yesus yang membenarkan bahwa Yesus bukan pingsan, melainkan Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit.

Dari kesembilan tanggapan di atas sepertinya melanggar prinsip awal yaitu untuk tidak melakukan asumsi bahwa teks pada kitab menceritakan hal yang sebenarnya, karena kita berargumen berdasarkan data yang ada di teks kitab. Tetapi teori Swoon tidak membenarkan atau menyalahkan cerita yang termuat di dalam teks kitab; teori Swoon hanya menggunakan data tersebut dan menjelaskan (dengan menekankan ‘pingsan’ daripada kebangkitan). Dengan demikian tanggapan kita juga menggunakan teks tersebut.

Argumen mengenai Kebangkitan Yesus Kristus

Kita percaya bahwa Kebangkitan Yesus Kristus dapat dibuktikan dengan merujuk kejadian-kejadian pada masa lampau yang dipercayai secara luas dan didokumentasikan dengan baik. Untuk membuktikan hal ini, kita tidak perlu membuat asumsi awal mengenai sesuatu yang bersifat kontroversi (misalnya, bahwa mujizat benar terjadi). Tetapi di lain pihak, para skeptis juga tidak membuat asumsi awal tentang sesuatu (misalnya, bahwa mujizat tidak benar terjadi). Kita tidak perlu mengasumsikan bahwa Kitab Perjanjian baru adalah sempurna (tidak salah), atau diinspirasi oleh Roh Kudus, atau bahkan kita tidak perlu mengasumsikan bahwa Kitab Perjanjian Baru adalah benar. Kita bahkan juga tidak perlu mengasumsikan bahwa sebenarnya kubur itu kosong, atau kejadian penampakan setelah Kebangkitan, seperti yang tertulis di kitab. Yang perlu kita asumsikan adalah 2 hal, yang keduanya merupakan data fisik, data empiris, yang tidak dapat dibantah oleh siapapun, yaitu: keberadaan Teks Perjanjian Baru yang dapat kita lihat lembar fisiknya; dan keberadaan agama Kristen sejak awal hingga hari ini. (tetapi tidak harus diterima sebagai Kebenaran).

Pertanyaannya adalah: Teori mana yang benar-benar terjadi di Yerusalem pada hari minggu paskah pertama dan dapat dijadikan data?

Ada lima (5) kemungkinan teori: Teori Kekristenan, Teori Halusinasi, Teori Mitos, Teori Konspirasi, dan Teori Swoon (Teori bahwa Yesus sebenarnya hanya ‘pingsan’, tidak mati di kayu salib).

5Teori

Teori nomor 2 dan 4 merupakan suatu dilema: jika Yesus tidak bangkit, tetapi para murid-Nya yang mengajarkan bahwa Yesus bangkit, maka entah apakah para murid tersesat (jika mereka berpikir bahwa Yesus bangkit) atau apakah para murid menyesatkan (jika mereka mengetahui bahwa Yesus tidak bangkit). Para moderenis yang mengemukakan bahwa ‘Yesus sebenarnya tidak bangkit’ tidak dapat mempertanggungjawabkan dilema ini sehingga mereka mengemukakan kategori lain, kategori yang mencoba menengahi dilema dengan teori Mitos (teori nomor 3). Teori alternatif inilah yang paling populer pada saat ini, yang berseberangan dengan ajaran resmi Gereja.

Dengan demikian baik apakah Kebangkitan Yesus Kristus benar-benar terjadi (teori 1), para murid yang tersesat oleh halusinasi yang mengira Yesus bangkit (teori 2), para murid yang menciptakan mitos (teori 3), para murid adalah penyesat yang berkonspirasi dalam penipuan yang paling terkenal dalam sejarah dunia (teori 4), atau Yesus hanya pingsan tidak sadarkan diri (teori 5), yang kemudian kembali sadar, bukan bangkit. Semua kelima kemungkinan tersebut secara logika dapat terjadi dan untuk itu perlu dicari tahu secara adil – bahkan untuk teori 1 (Yesus benar bangkit) merupakan hanya suatu kemungkinan, kecuali jika kita mengikutsertakan pemikiran yang jauh dan di luar yang dapat dipertanggung jawabkan, sejarahwan akan tidak menanggapi teori ini secara serius, seperti teori yang mengatakan bahwa Yesus adalah makhluk dari planet mars yang datang dengan pesawat piring terbang. Atau teori lain yang mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak ada; seluruh cerita adalah novel fantasi terbaik belaka, yang ditulis oleh para nelayan ikan; yang sebenarnya Yesus merupakan karakter dalam sejarah yang disalahpahami oleh semua orang yang mengira bahwa Yesus benar-benar orang nyata, termasuk umat Kristen dan musuh-musuhnya, sampai pada akhirnya setelah jaman berganti jauh dan munculah beberapa ilmuan yang menemukan sudut pandang baru yang ‘benar’ dari sumber yang tidak kenal.

Jika kita dapat membuktikan bahwa semua teori yang lain adalah tidak benar (teori 2 hingga teori 5), kita akan membuktikan kebenaran dari kejadian Kebangkitan Yesus Kristus yang sebenarnya. Bentuk argumen yang akan kita gunakan di sini mirip dengan argumen-argumen untuk membuktikan eksistensi Allah. Baik Allah dan Kebangkitan Yesus tidak dapat diteliti secara langsung, tetapi dari data yang ada dapat diteliti secara langsung dan memungkinkan kita beradu argumen dengan penjelasan yang memadai mengenai data tersebut adalah bukti-bukti dari teori Kristen yaitu Kebangkitan Yesus (teori 1).

Kita dapat mencoba menghadapi 4 (empat) teori ketidakpercayaan akan Kebangkitan Yesus Kristus; mulai dari teori yang paling sederhana, paling kurang populer, paling mudah disanggah hingga ke teori yang paling populer, paling kompleks untuk disanggah, yaitu dimulai dari: Teori Swoon (Yesus hanya Pingsan), kemudian Teori Konspirasi, kemudian Teori Halusinasi, dan kemudian yang paling akhir Teori Mitos.

Berikut adalah link untuk ke halaman :

1. Tanggapan atas Teori Swoon (Yesus hanya Pingsan)

2. Tanggapan atas Teori Konspirasi

3. Tanggapan atas Teori Halusinasi

4. Tanggapan atas Teori Mitos