Apa maksud dari Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga”? Menghakimi atau Melindungi?

Minggu, 27 Agustus 2017

Dalam Bacaan I (Yesaya 22:19-23) digambarkan, bahwa kunci rumah raja yang kokoh akan diserahkan oleh Tuhan/Allah kepada Daud. Dalam Bacaan II (Roma 11: 33-36) Paulus menegaskan, bahwa segalanya berasal dari Allah, berada karena Allah dan ditujukan kepada Allah. Dalam Injil Matius hari ini Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…! Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga!” (Matius 16:13-20). Pemberitahuan dari Allah bahwa Yesus adalah Almasih sebagai Anak Allah hanya ditujukan kepada Simon Petrus (ay.17). Ia menjadi batu karang, di mana Yesus mendirikan Gereja-Nya (ay.18). Petrus adalah murid-Nya, yang otoritasnya di dalam Gereja di dunia ini diakui dan teguhkan di surga oleh Allah (ay.19).

Di dalam komunitas yang disebut Gereja, Kristus menduduki tempat utama. Tiada orang lain yang dapat menggantikan-Nya, para uskup tidak dan Sri Paus pun tidak. Petrus dan pengganti-penggantinya mendapat tugas dari Kristus sendiri untuk memelihara kerukunan di dalam Gereja-Nya dan mengusahakan cinta kasih persaudaraan. Dan seperti Yesus pula Petrus dan pengganti-panggantinya adalah hamba, pelayan semua orang, dan kita sesama saudara bertugas membantu dan melayani Gereja dan dunia. Kekuasaan Gereja adalah kekuatan pelayan untuk membantu semua bangsa. Semoga pertemuan kita ini mendorong kita untuk lebih bersatu, lebih rukun dan lebih melayani Gereja dan umat manusia.

 

BATU KARANG DAN KUNCI KERAJAAN SURGA

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.
Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut. Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks.
Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa. Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.(Romo Agustinus Gianto SJ)

Santo Petrus diserahi kunci Kerajaan Surga. “Kunci” merupakan simbol kekuasaan atau otoritas. Dengan menerima kuasa itu bukan berarti Petrus diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga dan siapa yang tidak. Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa kunci maksudnya berhak menafsirkan kehendak Allah dalam Kitab Suci.

Bagaimana hal ini dipahami? Ingat tulisan ini : “Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.” Dikutipan ini kita fokuskan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus, dan Petrus menafsirkan semua yang diketahui (bukanlah hasil pengetahuan manusia) berasal dari Allah.

Dengan demikian Petrus diberi kuasa untuk menyatakan bahwa sesuatu dilarang atau diperbolehkan, dipertahankan atau dibatalkan. Menentukan apa yang mengikat dan tidak mengikat, wajib dan tidak wajib. Semua itu dimaksudkan untuk melindungi seluruh jemaat dari kekuatan jahat dan dari kesesatan. (Romo Yohanes Gunawan Pr)

Semoga membantu menambah pemahaman kita…

Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Kapan dan Dimana Keselamatan itu?

Sebelum menjawab pertanyaan ‘Kapan dan Dimana Keselamatan itu?’ ada baiknya kita menanggapi suatu ejekan yang telah lama dikenal menyinggung dan tanggapan atas ejekan ini berhubungan dengan pertanyaan di atas. Ejekan tersebut dikenal dengan kalimat “pie in the sky bye and bye” yang muncul pada tahun 1911 untuk menyinggung secara langsung kepada kelompok ‘bala keselamatan’ (salvation army) yaitu gerakan kristen pada masa itu. Ejekan itu secara tidak langsung juga mengejek ajaran Kristen yang mengajarkan bahwa: perjalanan manusia dalam hidup yang taat kepada Tuhan terutama yang pada saat berat/pahit/susah akan mendapat upahnya yaitu kehidupan kekal setelah melewati kehidupan di dunia. Ada dua tanggapan mengenai ejekan ini;

pertama (seperti yang pernah dikatakan oleh C. S. Lewis); Entah ejekan tersebut benar atau tidak, namun pertanyaan yang sebenarnya adalah ‘apakah  upah (atau ‘pie’ yang diejekan itu) itu ada?’.

Kedua, ‘di langit’ seperti yang dikatakan pada ejekan ‘in the sky bye and bye’ sebenarnya bukanlah hanya satu arti saja, melainkan yang dimaksud ‘di langit’ itu merujuk ke ‘Kerajaan Surga’, ‘Kerajaan Allah’, ‘Kehidupan Kekal’, ‘Rahmat’, ‘Dilahirkan kembali baru’, ‘Bangkit Kembali’, ‘Penciptaan Kembali’, atau ‘Hidup dalam Roh’, dimana semuanya itu merujuk ke hal yang sama yaitu Keselamatan. Dan Keselamatan itu dimulai sebelum kematian bukan setelah kematian. Untuk melihat ini, kita dapat membaca dan melihat keselarasan setiap bagian Kitab Perjanjian Baru yang menggunakan frasa  yang disebut diatas. Perhatikanlah konteks setiap waktu.

Kerajaan Surga saat ini bermula seperti benih; bermekar setelah mati menjadi tumbuhan yang tumbuh sempurna. Kerajaan Surga dimulai seumpama seperti janin spiritual yang masih dalam kandungan, dan ‘kematian’ bagi janin itu adalah kelahirannya sebagai bayi ke dunia yang lebih luas. Seperti janin, dia telah hadir sekarang, telah berdiam di dalam, telah menjadi bagian dari mahluk hidup, telah menjadi bagian dari keluarga, tapi dia belum mampu bertindak sebagian besar fungsi dan aksi yang akan terbentuk seiring dengan tahap hidupnya. Tapi janin dapat melakukan gerakan tertentu. Janin itu berlatih. Bahkan sebelum lahir, janin melakukan gerakan kaki, menelan, dan menggerakan tangan. Hidup adalah serangkaian latihan janin spiritual, serupa pada kehamilan yang merupakan rangkaian latihan janin fisik. (Perumpamaan ini bukanlah baru dibuat, tetapi berasal dari Kitab Suci: lihat Yohanes 16:21 dan Roma 8:22).

Janin yang kurang pengetahuan mungkin akan skeptis terhadap apa yang akan terjadi setelah kelahiran, dan janin tersebut akan berpendapat bahwa hidup di dalam kandungan sebagai latihan atau persiapan untuk kehidupan nanti setelah lahir seperti orang yang berkata “pie in the sky bye and bye”.

Sifat-Sifat atau Ciri-Ciri Gereja

Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya.

Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6; 26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak 10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”.

Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. “Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat.

Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.

Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya dalam syahadat panjang.

Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal, sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar. Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama. Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul.