Sebelum Yesus Tampil; Persiapan, dan Yesus dibaptis

Dikatakan bahwa ketika Yesus mulai tampil di depan umum, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun (Luk 3:23). Sebelumnya Ia hidup tersembunyi di Nazaret dan mencari nafkahnya sebagai tukang (Mrk 6:3), sama seperti ayah-Nya (Mat 13: 55).

1. Persiapan

Mengenai masa pendidikan-Nya Injil tidak mengatakan apa-apa selain peristiwa di kenisah, waktu Ia berusia dua belas tahun. Maka boleh diandaikan bahwa Yesus mendapat pendidikan yang lazim untuk anak-anak pada zaman itu. Pendidikan itu pertama-tama tugas orangtua (lih. Ams 1:8). Demikian pula kiranya yang pertama-tama mendidik Yesus adalah Maria, lebih-lebih pada masa kanak-kanak Yesus, dan Yusuf, ketika Ia sudah menjadi lebih besar. Ayah harus mendidik anaknya, mengajarinya cara membawakan diri dalam masyarakat; dan kalau dia anak laki-laki juga cara mencari nafkah. Anak perempuan dididik dalam pekerjaan rumah tangga oleh ibunya. Pendidikan keagamaan diberikan oleh orangtua. Ayah harus menceritakan sejarah Israel kepada anak-anaknya (Kel 10:2; 13:8; Ul 4:9; 32:7). Dalam Talmud dikatakan:

“Pada umur lima tahun, anak siap mempelajari Kitab Suci;
pada umur sepuluh tahun, siap untuk Mishnah (peraturan);
pada umur tiga belas, untuk perintah-perintah;
pada umur lima belas, untuk Talmud (tradisi);
pada umur delapan belas, siap untuk kamar pengantin;
pada umur dua puluh, siap untuk profesi;
pada umur tiga puluh, ia siap tampil ke depan.”

Anak tidak hanya belajar di rumah. Waktu perayaan atau ziarah ia mendapat banyak instruksi (dari imam-imam atau petugas yang lain), dan pada hari Sabat biasanya ada semacam “kuliah subuh” di sinagoga (rumah ibadat). Setiap anak harus menghafalkan mazmur-mazmur dan bagian-bagian lain Kitab Suci (lih. Mzm 78:1-3). Pada zaman Yesus juga sudah ada sekolah, namun berbeda dengan sekolah zaman sekarang. Biasanya hanya ada satu guru saja (sering kali seorang Farisi, mungkin ahli Taurat), yang mengumpulkan anak-anak untuk mengajarkan kepada mereka segala macam pengetahuan, khususnya mengenai agama. Mereka berkumpul di tempat yang umum dan terbuka, atau (sebagian dari) sinagoga. Tujuan pokok adalah kemampuan membaca (dan menghafalkan) Kitab Suci. Murid yang pintar dan mampu dapat meneruskan studi mereka dengan belajar hukum. Untuk itu anak biasanya harus pergi ke kota (Yerusalem). Sejak zaman para nabi juga ada “kelompok studi”, yang tidak dimaksudkan untuk pendidikan anak kecil, tetapi untuk mempelajari Kitab Suci dan hukum adat bersama-sama. Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri membentuk kelompok-kelompok seperti itu.

Dalam Injil Yesus sering disebut rabi (bahasa Aram dan Ibrani), khususnya oleh para murid (mis. Mrk 9:5; 10:51; 11:21; 14:45), yang berarti guru (lih, Yoh 1:38; 20:16). Dan memang sebutan “guru” (dalam bahasa Yunani) juga dipakai, malah lebih sering (mis. Mrk 4:38; 9:17.38; 10:17.20.35; 12:14.19.32; 13:1). Dengan sebutan itu pertama-tama diungkapkan kehormatan terhadap Yesus, dan ternyata Yesus “mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Akan tetapi para pengikut-Nya tetap disebut “murid”, walaupun tidak dikatakan bahwa mereka “belajar”, melainkan “mengikuti Dia”.

“Murid” berarti pengikut Yesus. Mereka itu orang yang dipanggil oleh Yesus sendiri (lih. Mrk 1:17; 2:14; bdk. 10:17-27; Luk 9:57-60) dan berasal dari daerah Yesus. Petrus dan Andreas kakak-beradik, begitu juga Yakobus dan Yohanes. Simon termasuk kelompok “zelot”, yakni kaum nasionalis; dan Lewi pemungut bea, yang bersekongkol dengan penjajah. Kebanyakan adalah nelayan dari Tiberias. Dalam Luk 8:1-3 juga disebut beberapa wanita (lih. Mrk 15:40-41).

Yang mencolok adalah tuntutan Yesus bahwa mereka harus meninggalkan segala-galanya, termasuk sanak-saudara (lih. Mrk 8:34 dsj.; Luk 14:26 dsj.). Menjadi murid Yesus berarti “menyertai Dia” (Mrk 3:14), dengan segala konsekuensinya (lih. Mrk 8:34; 10:39). Tekanan ada pada hubungan pribadi, bukan pada ajaran atau pengetahuan. Mereka mengambil bagian dalam tugas dan perutusan Yesus (lih. Mrk 1:17) dan “diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:14; Mat 10:7 dsj.). Maka di antara para murid dalam arti yang luas ada dua belas orang yang secara istimewa dipilih oleh Yesus menjadi murid-Nya. Merekalah yang diutus oleh-Nya dan di kemudian hari juga menjadi “saksi kebangkitan” (Kis 1:22). Biasanya mereka disebut “dua belas rasul”.

Kelompok murid Yesus, khususnya kelompok dua belas, serupa dengan kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang berkumpul di bawah seorang guru, Namun kelompok murid Yesus itu juga khas. Kekhasan kelompok ini berakar dalam keistimewaan Yesus sendiri. Dasar kesatuan kelompok Yesus adalah iman akan Yesus dan perutusan-Nya yang berkembang dalam pergaulan dengan Yesus.

2. Yesus Dibaptis

Kehidupan Yesus di depan umum dimulai dengan berita, “Ia meninggalkan Nazaret dan berdiam di Kapernaum, di tepi danau; sejak saat itulah Yesus memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:13.17). Yesus meninggalkan ketenangan hidup keluarga di Nazaret dan mulai hidup mengembara. Ia “berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Awal perubahan hidup ini adalah pembaptisan oleh Yohanes. Matius menceritakan, “Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes supaya dibaptis olehnya” (Mat 3:13). Mrk 1:9 memberitakan peristiwa itu dengan kata-kata yang hampir sama. Tetapi Lukas menguraikannya lebih luas dan memperlihatkan maknanya:

“Ketika seluruh umat dibaptis,
dan ketika Yesus pun dibaptis dan sedang berdoa,
maka terbukalah langit
dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya;
dan terdengarlah suara dari langit:
Engkaulah Anak yang Kukasihi,
kepada-Mulah Aku berkenan (Luk 3:21-22)”

Pertama-tama, dikatakan bahwa bukan hanya Yesus yang dibaptis, melainkan seluruh umat. “Datanglah kepada Yohanes orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan” (Mrk 1:5). Baptis Yohanes merupakan pembaptisan pertobatan (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3; Kis 13:24; 19:4). Maksudnya, orang minta dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda tobat.

Timbullah pertanyaan, bagaimana Yesus “yang tidak mengenal dosa” (2Kor 5:21) dapat minta dibaptis oleh Yohanes. Rupa-rupanya pertanyaan ini sudah timbul di kalangan Gereja perdana sendiri. Markus masih menceritakan pembaptisan Yesus tanpa keterangan lebih lanjut (Mrk 1:9). Tetapi dalam Injil Matius, Yohanes seolah-olah protes: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Lukas menyebut pembaptisan sepintas saja; tekanan ada pada apa yang terjadi sesudahnya. Injil Yohanes malah sama sekali tidak berbicara mengenai pembaptisan Yesus oleh Yohanes (lih. Yoh 1:19-34). Padahal jelaslah bahwa pembaptisan itu dipandang sebagai awal karya Yesus (lih. Kis 1:22; 10:37 -38). Kiranya sedari semula Gereja sudah bertanya-tanya, mengapa Yesus mau dibaptis? Padahal “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu-daya tidak ada dalam mulut-Nya” (1Ptr 2:22; lih. 1Yoh 3:9).

Kiranya tidak ada jawaban lain kecuali yang satu ini, “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka” (Luk 22:37; lih. Mrk 15:28). “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1Tim 1:15). Oleh karena itu Ia selalu mencari orang berdosa. Ia dilecehkan sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34), sebab Ia biasa “makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu” (Mrk 2:16; lih. Mat 9:11; Luk 5:30; 15:1.2). Ia mempersatukan orang berdosa dengan diri-Nya, menghadap Bapa. Memang Ia tidak membutuhkan ampun dari Bapa. Tetapi “Ia memimpin kita dalam iman” (Ibr 12:2). Dan iman adalah intisari tobat, sebab “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibr 11:6).

Yesus menghadap Bapa, bersama orang berdosa. Sabda Bapa, yang dikatakan kepada Yesus, ditujukan kepada semua orang yang bersatu dengan Yesus: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Dalam pembaptisan Yohanes, Yesus diakui oleh Bapa sebagai pemimpin dan penebus semua orang berdosa. Pembaptisan adalah bagaikan “pelantikan” Yesus ke dalam tugas perutusan-Nya. Segera sesudah pembaptisan, Yesus akan “memberitakan Injil Allah: Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Dengan pembaptisan-Nya, Yesus sekaligus menyatakan kesatuan dengan orang berdosa dan penyerahan total dan radikal kepada kehendak Bapa. Dengan pembaptisan, Ia tampil sebagai “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:4). Semua Injil mengatakan bahwa Roh Kudus turun atas-Nya. Selanjutnya ‘‘Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun”. Sesudah itu “dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu” (Luk 4:1-2.14). Sesudah pembaptisan, Yesus tampil sebagai orang yang “diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus dan kuat kuasa” (Kis 10:38). Ia tampil sebagai ‘‘Yang terurapi”, Ia dilantik sebagai Kristus. “Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit” (Luk 5:17). Yesus sekarang tampil, bukan lagi sebagai tukang kayu, tetapi benar-benar sebagai seorang nabi. Maka semua orang heran dan bertanya: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita? Mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2-3). Sesudah pembaptisan-Nya Yesus kelihatan lain, sampai orang sekampung tidak lagi mengenal-Nya. “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”.

Disebut Anak Allah Yang Mahatinggi

Dalam Injil diceritakan bahwa orang “takjub mendengar pengajaran-Nya” dan menyaksikan perbuatan-Nya, sampai berkata: “Yang begini ini belum pernah kita lihat” (Mrk 1:22; 2:12). Bahkan sampai bertanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru! Ia berkata-kata dengan kuasa, roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya”; “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 1:27; 4:41). Rasa kagum dan heran tidak sampai di situ saja. Pengalaman Paska lebih lagi memenuhi mereka dengan rasa takjub, mulai dengan para wanita yang “lari meninggalkan kubur, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka” (Mrk 16:8) sampai Paulus yang berjumpa dengan Tuhan yang mulia pada perjalanan ke Damsyik (Damaskus). Dari rasa heran serta kagum itu mereka menulis mengenai Yesus, yang diimani sebagai orang yang datang dari Allah.

Memang tidak semua orang percaya akan hal itu; orang Yahudi mendiskusikannya antara mereka. Ada yang berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat”. Tetapi orang yang disembuhkan oleh Yesus itu menjawab, “Jikalau orang ini tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 9:16.33). Dan begitu terus, tidak pernah ada “bukti”. Hanya kalau orang melihat Yesus, pasti akan timbul pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang Kristus?” (Mat 22:42). Jawabannya dirumuskan dengan berbeda-beda dalam Perjanjian Baru. Namun pokok jawaban selalu jelas, “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kis 10:38).

Paulus merumuskan keyakinan itu sebagai berikut:
“Allah, dengan perantaraan Kristus, mendamaikan kita dengan diri-Nya; Ia mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2Kol 5:18-19).

Kesatuan Kristus dengan Allah merupakan pokok dan inti iman Paulus akan Kristus. Guna mengungkapkan iman ini ia juga memakai kata “Anak Allah”. Dengan kata itu mau dinyatakan bahwa dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri secara konkret kepada Paulus, “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Gal 1:16); “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10). Kesatuan antara Allah dan Kristus begitu erat bagi Paulus, sehingga ia dapat berkata bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus mati untuk kita” (Rm 5:8). Bagi Paulus, wafat Kristus merupakan tanda kasih Allah, dan kalau dikatakan bahwa “Allah memanggil kamu menjadi satu dengan Anak-Nya” (1Kor 1:9; bdk. Rm 8:29), jelaslah bahwa yang pokok bukan kesatuan Kristus dengan Allah, melainkan kesatuan Allah dengan kita dalam dan oleh Kristus.

Sejak pertemuan dengan Kristus pada perjalanan ke Damsyik Paulus hanya dapat “menantikan kedatangan Anak (Allah) dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang” (1Tes 1:10). Yesus disebut “Anak Allah” karena menghubungkan kita dengan Allah, karena menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Dengan nama “Anak Allah” dinyatakan bahwa Yesus yang mulia, yang bangkit dari antara orang mati, merupakan titik temu kita dengan Allah.

Yohanes merumuskan hal yang sama dengan cara yang lain. Dengan mudah perkembangan pikiran Yohanes dapat diikuti dalam pernyataan pada awal Injilnya.

“Pada mulanya ada Firman,
dan Firman itu pada Allah,
dan Allah-lah Firman itu;
Ia pada mulanya ada pada Allah.
Segala sesuatu terjadi oleh Dia,
dan tanpa Dia tidak terjadi apa-apa” (Yoh 1:1-2).

Yohanes berbicara mengenai Firman, mengenai Sabda, tetapi yang dimaksudkan adalah Yesus. Hal itu jelas dari awal suratnya yang pertama, di dalamnya ia mengatakan:

“Apa yang ada sejak semula, yang kami dengar,
yang kami lihat dengan mata kepala sendiri,
yang kami saksikan, dan
yang diraba tangan kami
tentang Firman kehidupan,
(itulah yang kami tuliskan kepadamu].
Apa yang kami lihat,
dan kami dengar,
kami beritakan kepada kamu juga,
supaya kamu pun memiliki persekutuan dengan kami.
Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa
dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1Yoh 1:1.3).

Sabda, yang sejak semula bersama dengan Bapa, itulah Yesus. Mengenai pribadi Yesus, yang dilihat dan didengar itu, dikatakan bahwa Ia sudah ada “pada mulanya”, mendahului segala-galanya. Belum ada apa-apa, kecuali Allah sendiri. Maka dikatakan bahwa Sabda ada “pada Allah”, artinya bersama-sama dengan Allah. Kalau Sabda sudah sejak segala abad bersama dengan Allah, Ia sama abadi dengan Allah. Dengan perkataan lain, Allah-lah Firman itu. Tetapi itu tidak berarti bahwa Sang Sabda dan Allah sama saja. “Ia ada pada Allah” artinya sekaligus setingkat, sama-sama abadi, namun terbedakan juga, sebagai Bapa dan Anak. Dalam Injil Yohanes Yesus bersabda, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28).

“Aku datang dari Bapa
dan Aku datang ke dalam dunia;
Aku meninggalkan dunia lagi,
dan Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28).

Hidup Yesus tidak lain daripada “datang dari Bapa dan pergi kepada Bapa”. Karena Ia datang dari Bapa, maka Ia terbedakan dari Bapa; tetapi karena pergi kepada Bapa, Ia juga tidak terpisah dari Bapa. Dilihat dari sudut dunia, semua itu sulit dimengerti: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?” (Yoh 6:42).

Kesulitan yang dirasakan oleh Yohanes sendiri, diletakkan dalam mulut orang Yahudi, “Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh 10:33). Yesus memang seorang manusia, tetapi bukan hanya manusia saja. Ia lebih daripada seorang manusia. Ia mengenal Allah lebih daripada semua orang lain. Kelebihan itu diungkapkan dalam kata-kata-Nya, bahwa Ia berasal dari Allah, bahwa Ia Anak Allah, bahwa Ia sudah ada sebelum segala abad (lih. Yoh 8:58).

Bertemu dengan Yesus berarti bertemu dengan Allah: “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada pada pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18).

Yesus tidak hanya disebut “Anak”, juga “Firman”, “Cahaya” dan “Hidup”, sebab Ia adalah sabda Allah kepada manusia, cahaya abadi yang menerangi dunia dan kehidupan kekal bagi kaum beriman. Nama-nama itu tidak mengungkapkan “kodrat” Yesus, melainkan lebih menunjukkan fungsi-Nya, peranan-Nya bagi kita, manusia biasa. Dengan cara yang berbeda-beda nama-nama itu menyatakan bahwa “Dialah benar-benar Penyelamat dunia” (Yoh 4:42).

Menyebut Diri-Nya Utusan Allah

Untuk memahami arti sebutan ini dengan sepenuhnya, kiranya perlu diperhatikan juga Rm 8:3; Gal 4:4; Yoh 3:16-17 dan 1Yoh 4:9 (bdk. Mrk 12:6), yang mengatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya“. Mengakui Yesus sebagai “Anak Allah” berarti mengakui Dia sebagai utusan Allah dalam arti yang penuh. Khususnya St. Yohanes banyak berbicara mengenai Yesus sebagai utusan Allah. Tidak hanya dikatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia” (3:17), tetapi Allah sendiri disebut “Dia yang mengutus Aku” (4:34) dan Yesus “Dia yang diutus-Nya” (5:38). Maka cocok sekali pada akhir hidup-Nya Yesus berdoa, “supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (17:21; lih. juga ay. 8.23.25). Dan kalau Yohanes biasanya menyebut Yesus “Anak”, kiranya ia mau menonjolkan hubungan pribadi Yesus dengan Allah yang mengutus-Nya. Secara konkret perutusan Yesus digambarkan dengan jelas dalam Luk 4:18-19 (yang mengutip nabi Yesaya):

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang yang tertindas,
untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Yesus tampil sebagai pembawa kabar gembira, bahwa Tuhan telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Yesus merupakan tawaran rahmat Allah yang definitif. “Berbahagialah orang yang tidak dikecewakan dalam diri-Ku” (Luk 7:23 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberi harapan dan iman kepercayaan kepada orang-orang. Iman itu mengangkat orang di atas kekuatannya sendiri, karena mempersatukannya dengan Allah.

Yang paling mengesankan adalah kebebasan-Nya, Yesus tidak tergantung pada siapa pun. Para rabi pada zaman Yesus selalu mencari dukungan bagi ajaran mereka pada ajaran orang lain dari zaman dahulu. Yesus tidak. Malah sebaliknya, “Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek-moyang kita …, tetapi Aku berkata kepadamu” (Mat 5:21.27.31.33.38.43). Yesus tidak hanya berani melawan ajaran turun-temurun, tetapi juga apa yang diimani sebagai ketetapan Allah sendiri. Terhadap tradisi manusiawi Ia lebih tegas lagi: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri” (Mrk 7:9).

Pegangan hidup Yesus bukanlah adat-istiadat atau ajaran tradisional agama, melainkan kesatuan pribadi-Nya dengan Allah. Hal itu secara paling tegas dirumuskan di dalam injil Yohanes, “Kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat. Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga” (Yoh 3:13). Maka, ketika diminta pertanggungjawaban oleh orang Yahudi tentang perbuatan-Nya di dalam kenisah, dengan tenang saja Yesus menjawab: “Aku tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (Mrk 11:33).

Yesus tidak merasa wajib mempertanggungjawabkan hidup dan pekerjaan-Nya di hadapan manusia. Apa yang dikatakan kepada orang lain mengungkapkan sikap-Nya sendiri, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luk 12:4). Yesus hidup dalam dunia lain, bukan dalam dunia yang dikuasai oleh manusia. Maka kalau ada orang yang mendorong Dia melarikan diri dari Herodes, Yesus menjawab: “Pergilah dan katakanlah kepada serigala itu: ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku'” (Luk 13:32-33). Perjalanan Yesus tidak ditentukan oleh Herodes atau manusia yang lain, bahkan tidak oleh kehendak-Nya sendiri, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Hidup Yesus ditentukan seluruh-Nya oleh kehendak Allah, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Begitulah gambaran yang oleh Injil-Injil diberikan mengenai Yesus. “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”, kata Yesus, “sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Yesus adalah utusan Allah, itulah dasar, pegangan dan pedoman hidup-Nya.

Peristiwa-peristiwa yang menyatakan Keistimewaan Yesus

Menurut kesaksian Injil penampilan Yesus mengejutkan. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2-3). Orang merasa heran akan ajaran Yesus dan juga akan perbuatan-Nya.

a. Yesus Pembawa Berita Gembira
b. Penyerahan kepada Bapa
c. Menyapa Allah: Abba
d. Kebangkitan
e. Menyebut Diri-Nya Utusan Allah
f. Disebut Anak Allah yang Mahatinggi
g. Hubungan Yesus dengan Allah

A. Yesus Pembawa Berita Gembira

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (= Kabar gembira)” (Mrk 1:15).

Sebelum ada Injil mengenai Yesus, telah diwartakan Injil oleh Yesus, yakni kabar gembira mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera. Yesus tidak hanya mengatakan hal itu, Ia juga mulai melaksanakannya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28).

Mukjizat Yesus adalah pewartaan nyata bahwa Kerajaan Allah telah datang. Dalam arti sesungguhnya mukjizat bukanlah “bukti” untuk mendukung pewartaan Yesus. Ketika kaum Farisi minta bukti yang nyata, Yesus malah menolak membuat mukjizat (lih. Mrk 8:11 dsj.), Yesus juga tidak pernah melakukan mukjizat demi diri-Nya sendiri (perhatikanlah ejekan musuh-musuh-Nya di bawah salib: Mat 27:42-23 dsj. Dan juga jawaban Yesus kepada setan di padang gurun: Mat 4:1-11 dsj.). Mukjizat itu tanda Kerajaan Allah, bukan bukti yang harus mendasari wibawa Yesus. Kerajaan Allah berarti turun-tangan Allah, tidak untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Maka dalam mukjizat Yesus, khususnya dalam mukjizat penyembuhan, kasih dan perhatian Allah itu ternyatakan.

Oleh karena itu dalam Injil, mukjizat amat kerap dihubungkan dengan iman. Sering kali Yesus bersabda, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (lih. Mrk 5:34 dsj.; 10:52 dsj.; Mat 9:29; Luk 17:19). Ini tidak berarti bahwa iman adalah syarat untuk mukjizat, sebab Yesus mengatakan itu sesudah menyembuhkan orang. Dari pihak lain, kalau tidak ada iman, “Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun” (Mrk 6:5 dsj.).

Dalam iman, orang mempersatukan diri dengan Yesus dan itu berarti bahwa Kerajaan Allah mulai berkuasa di dalam dirinya. Maka yang penting di sini adalah iman Yesus sendiri, sebagaimana tampak dari Mrk 9:22-23: Atas pertanyaan orang adakah Yesus “dapat berbuat sesuatu”, Yesus menjawab bahwa “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” dan yang dimaksud adalah diri-Nya sendiri (lih. juga Ibr 12:2). Oleh karena itu Ia senantiasa mendorong orang supaya percaya, “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberikan iman kepada orang. Iman tersebut berkaitan dengan pengharapan dan berlawanan dengan fatalisme (nasib). Iman yang berarti kekuatan, karena percaya akan kebaikan Allah.

Yesus bersikap optimis dan menafsirkan tanda-tanda zaman (yang serba menakutkan pada waktu itu, lih. Luk 3:7-9 dsj) sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah (lih. Mat 11:4-5). Yesus percaya akan kedatangan Kerajaan Allah, Ia percaya akan Allah yang datang untuk menyelamatkan. Allah yang diimani Yesus ialah Bapa yang mempunyai “bela rasa” (lih. Luk 15:11-20). Maka Yesus dapat memastikan bahwa Kerajaan Allah akan datang, bahwa manusia akan percaya terhadap kebaikan Allah, dan dengan demikian kebaikan akan menang atas kejahatan. Sebagai ganti kehancuran, Kerajaan Allah akan datang. Allah akan menampakkan kebaikan-Nya, kalau manusia mau menerima-Nya.

Yesus mengajak orang supaya percaya akan kebaikan Allah, untuk beriman dan berbela rasa. “Segala sesuatu mungkin bagi Allah” kata Yesus (Mrk 10:27). Karena itu juga “segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23). Yesus mau menularkan iman-Nya yang percaya akan daya kekuatan Kerajaan Allah, dan sekaligus mengajak orang meneladan Allah dalam bela rasa-Nya: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:36).

Yesus mencita-citakan masyarakat yang tidak berdasarkan kuasa. Ia mengharapkan supaya Kerajaan Allah bisa menjadi daya kekuatan Allah dalam hidup sosial, melalui iman dan bela rasa, khususnya dengan menghapuskan penindasan terhadap orang kecil (baik oleh orang asing maupun oleh para penguasa bangsa Yahudi sendiri). Dua kali Yesus menolak menerima kuasa politik (Yoh 6:15 dan Mrk 8:32 dsj.). Ia berpegang pada prinsip bahwa dunia baru harus datang dengan iman dan bela rasa. Untuk itu Ia memberi kesaksian sampai mati. Ia tidak hanya menolak kuasa politik, tetapi sama sekali tidak pernah mau memakai atau menuntut wewenang atas dasar kekuatan manapun. Ia mau menjadi senasib dengan orang kebanyakan, dan oleh karena itu Ia selalu tampil sebagai manusia biasa saja.

Wibawa Yesus tidak tergantung pada gelar atau kedudukan tertentu, melainkan pada pribadi-Nya, pada cara Ia bertindak dan berbicara. Yesus itu orang yang bebas-berani. Ia tidak tergantung pada siapa pun dan tidak mau menyesuaikan diri begitu saja. Ia juga tidak mau menerima gelar kehormatan. Ia hanya menuntut bahwa orang taat kepada kebenaran Allah, sama seperti Dia sendiri taat kepada sabda dan perintah Bapa. Oleh karena itu Yesus tidak pernah membela diri, tetapi selalu mengkonfrontasikan orang dengan kebenaran yang dibawa oleh-Nya.

B. Penyerahan kepada Bapa

Yesus, yang sampai wafat-Nya memperjuangkan iman dan bela rasa, akhirnya dihukum mati sebagai seorang yang mau merebut kuasa. Ia datang membawa inspirasi baru bagi orang yang dikhianati oleh para pemimpin agama. Oleh karena itu, mau tidak mau, Ia menimbulkan permusuhan dan rasa benci di antara mereka. Mereka membalas dendam dengan cara yang keji, menjatuhinya hukuman mati menurut hukum Romawi, digantung pada kayu salib. Dasar kematian-Nya adalah konflik antara Kerajaan Allah yang dibawa-Nya dan agama Yahudi yang telah membeku, yang di dalamnya bukan lagi Allah yang menjadi pusat kehidupan, melainkan Taurat dan adat kebiasaan. Justru karena hubungan pribadi-Nya dengan Allah, Yesus berada dalam pertentangan dengan sistem keagamaan. Tetapi Ia “taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib” (Flp 2:8).

Tidak diketahui dengan tepat apa kata-kata-Nya yang terakhir sebelum wafat. Dalam Injil Matius dan Markus ditulis, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15:34). Tetapi dalam Luk 23:46 terbaca, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Pada Yohanes (19:30) malah “Selesailah sudah!”. Kata-kata dalam Injil Matius dan Markus adalah kutipan Mzm 22 (ay. 2), yang melatarbelakangi seluruh kisah sengsara. Mazmur itu mazmur pengharapan, yang berisi ajakan dari orang yang menderita kepada orang lain supaya tetap percaya pada Allah:

“Kamu yang takut akan Tuhan, pujilah Dia;
Hai segenap anak-cucu Yakub, muliakanlah Dia,
dan gemetarlah terhadap Dia, hai segenap anak-cucu Israel.
Sebab Ia tidak memandang hina atau merasa jijik kesengsaraan orang yang
tertindas,
dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu,
dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya”
(ay. 24-25).

Di salib pun Yesus tetap mempertahankan kesatuan-Nya dengan Allah dan taat kepada tugas yang diberikan kepada-Nya sampai selesai. Dalam saat yang mencekam itu Ia memperlihatkan pokok kehidupan-Nya, yaitu penyerahan total kepada Allah.

C. Menyapa Allah “Abba”

Hubungan istimewa Yesus dengan Allah terungkap antara lain dengan sebutan “Abba”, yang berarti Bapa tercinta. Kata itu memang menyatakan suatu hubungan istimewa. Dalam Kitab Suci (Mrk 14:36; Gal 4:6; Rm 8:15) kata itu dinyatakan dalam bentuk bahasa Aram, bahasa ibu Yesus (dan tidak diterjemahkan dalam bahasa Yunani, bahasa Perjanjian Baru). Hal itu memperlihatkan, betapa Yesus akrab dengan bahasa doa itu. Kata itu mempunyai arti khusus bagi jemaat perdana, karena dilihat sebagai kata yang khusus bagi Yesus. Di dalamnya terungkap suatu relasi kekeluargaan. Hubungan istimewa itu tampak juga dalam kata-kata yang lain (mis. Mat 11:25- 30 dsj.). Seluruh penampilan Yesus memperlihatkan relasi khusus itu.

Yesus bukan ahli Taurat dan juga bukan orang Farisi, melainkan Ia tampil sebagai orang yang bijaksana, yang berhikmah. Oleh karena itu, ajaran-Nya selalu berbobot dan amat mendalam (lih. Mat 5:39.42; 6:2.17-18; Mrk 9:49-50; Luk 16:8-12.15). Lebih daripada itu, Yesus tampil sebagai orang suci yang hidup bersatu dengan Allah, yang disebut Bapa-Nya. Doa “Bapa kami” merupakan rangkuman hubungan-Nya dengan Allah. Nasihat yang diberi-Nya kepada orang lain merupakan kenyataan hidup bagi diri-Nya sendiri: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9).

Kepercayaan kepada Allah tidak dapat dipatahkan, juga tidak oleh penderitaan di salib. Secara resmi Yesus bukan seorang “guru di Israel” (Yoh 3:10). Namun begitu, “banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya; juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya” (Mrk 3:7-8). Mereka tertarik, karena “belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu” (Yoh 7:46). Ia diakui sebagai “seorang nabi besar” (Luk 7:16).

Yesus sungguh tampil sebagai seorang nabi (lih. Mrk 6:15 dsj.; 8:27 dsj.; Mat 21:11.46; Luk 7:16.39; 24:19; juga Yoh 4:19; 6:14; 7:40.52; 9:7). Tetapi perbandingan dengan Salomo dan Yunus memperlihatkan bahwa Ia lebih daripada seorang nabi (Luk 11:31-32 dsj.; bdk. Luk 10:23-24 dsj.). Dalam seluruh penampilan dan kepribadian-Nya Yesus memperlihatkan dengan jelas ciri-ciri seorang nabi, dan karena pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera, ia diakui sebagai “nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14; bdk. Ul 18:15-18). Yesus tidak hanya meramalkan kedatangan Kerajaan Allah. Ia juga menegaskan bahwa Kerajaan Allah dalam karya dan pewartaan-Nya sudah datang. Dengan kata lain, dalam diri Yesus sendiri Kerajaan itu telah datang dan menampakkan diri. Di situ juga kelihatan hubungan khusus Yesus dengan Allah.

Dalam rangka pewartaan Kerajaan Allah, Yesus itu “wakil” Allah. Yesus tampil sebagai pengantara antara Allah dan manusia. Ia terlibat secara pribadi dalam kedatangan Allah di dunia, khususnya kepada manusia malang dan miskin. Justru karena itu “pembagian iman” Yesus dengan rakyat jelata menjadi suatu gerakan massal (lih. Mrk 11:18). Keterlibatan-Nya dalam karya Allah itu sekaligus mengkonfrontasikan Dia dengan mereka yang tidak mau menerima kedatangan Allah yang tidak disangka-sangka. Konfrontasi ini berakhir dengan wafat Yesus di kayu salib. Tetapi itu pun bukan yang terakhir. “Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Rm 10:9).

D. Kebangkitan

Arti kebangkitan bagi para rasul menjadi jelas dari amanat Petrus kepada orang Yahudi pada hari Pentekosta.

“Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36)

Kebangkitan tidak hanya berarti bahwa “Allah melepaskan Dia dari sengsara maut” (Kis 2:24). Dengan kebangkitan “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:9). Nama itu gelar kehormatan dan mengungkapkan kebesaran dan keluhuran Yesus yang mulia.

Sebaiknya gelar itu (dalam bahasa Yunani Kyrios) diterjemahkan dengan “Tuan yang mulia” (serupa dengan “Yang dipertuan-agung”). Sesungguhnya tidak ada arti ilahi pada gelar itu. Dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) kata Kyrios dipakai sebagai ganti nama YaHWeh. Tetapi itu baru ditemukan dalam naskah yang lebih kemudian. Maka praktik menyebut Yesus Kyrios barangkali mendahului pemakaian gelar itu dalam Septuaginta (walaupun di kalangan Yahudi sudah lama ada kebiasaan mengucapkan “Tu(h)an”, di mana sebetulnya dibaca YaHWeh).

Gelar kyrios adalah khas Yunani. Di samping itu juga dipakai gelar yang lain untuk Yesus, yang berasal dari kalangan Yahudi, yaitu khristos. Gelar itu juga bahasa Yunani, tetapi menerjemahkan sebuah gelar Yahudi, yaitu MaSYiaKH (Ibrani) atau MeSYiHa (Aram). Secara harfiah kata itu berarti “(yang) diurapi”, dan dipakai sebagai gelar untuk raja dan imam, sebab di kalangan Yahudi orang dilantik sebagai imam atau raja dengan upacara pengurapan (misalnya Daud, 1Sam 16:13). Tetapi pada zaman Yesus sudah tidak ada raja (bangsa Yahudi dijajah oleh orang Roma, dan Herodes bukan raja Yahudi yang sah). Namun mereka tetap mengharapkan seorang raja, bahkan raja yang ideal. Sebab kepada Daud Tuhan telah menjanjikan, bahwa kerajaannya tidak akan berakhir (bdk. 2Sam 7:11- 16; 1Raj 2:3-4).

Dengan demikian, sejak zaman para nabi, bangsa Yahudi berpegang teguh pada harapan akan seorang raja yang ideal. Maka pada zaman Yesus gelar MaSYiaKH, atau seperti lazim dikatakan Mesias (ataupun dengan rumusan Arab, al-Masih), menjadi gelar untuk raja ideal yang dinanti-nantikan. Ternyata sesudah kebangkitan gelar itu dikenakan pada Yesus. Mengapa?

Tidak ada keterangan yang jelas dalam Kitab Suci sendiri. Perlu diperhatikan bahwa biasanya gelar “Kristus” dihubungkan tidak hanya dengan kebangkitan, tetapi juga dengan wafat Yesus (lihmis. 1Kor 15:3-5). Menurut Mrk 15:28, “alasan mengapa Ia dihukum, disebutkan pada sebuah tulisan yang terpasang di salib: Raja orang Yahudi”.

Pilatus, sebagai orang asing, memakai kata “Raja” dan “orang Yahudi”, Tetapi dalam ay. 32 berbicaralah orang Yahudi asli, dan berkata “Kristus, Raja Israel”. Maka kiranya pemakaian kata “Kristus” berasal dari tulisan yang dipasang di atas salib. Menurut Mrk 8:29 dsj. Petrus sebetulnya sudah mengakui Yesus sebagai Kristus di Kaisarea Filipi. Tetapi tidak mustahil bahwa Markus, di kemudian hari, mempergunakan gelar Kristus (yang sebetulnya baru dipakai sejak kebangkitan) untuk merumuskan dengan jelas pengakuan iman Petrus.

Pilatus memakai gelar “Raja” barangkali sebagai ejekan untuk seorang “pemberontak”. Sesudah kebangkitan Yesus para murid-Nya mengubah gelar ejekan ini menjadi nama kehormatan, yang mengandung arti keselamatan juga.

Untuk raja Israel tidak hanya dipakai gelar “MaSYiaKH” (Yunani: khristos), melainkan juga kata “Anak Allah”, sebagaimana tampak dalam Yoh 1:49; Luk 4:41; Kis 9:20-22:

Yoh 1:49: Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.
Luk 4:41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak:
“Engkau adalah Anak Allah”.
Lalu Ia menghardik mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Kis 9:20 Ia [Paulus] memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Saulus … membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.

Memang orang Yahudi sudah menyebut raja mereka “anak Allah” (lihmis. 2Sam 7:14; Mzm 2:7; 89:28). Pada zaman Yesus sebutan itu sebetulnya sudah tidak lazim, tetapi dari Kis 13:32-33 kelihatan bagaimana murid-murid Yesus memakai Mzm 2 untuk mengungkapkan kemuliaan Yesus yang telah dibangkitkan.

Kiranya sebutan “Anak Allah” dalam Luk 1:32.35 juga masih mempunyai arti mesianis dan dihubungkan dengan janji-janji kepada Daud. Sama halnya dengan kisah penggodaan Yesus (Mat 4:1-11), yang juga berhubungan langsung dengan kisah pembaptisan, ketika Ia “dilantik” sebagai utusan Allah. Tidak hanya pada penggodaan, juga pada banyak kesempatan lain setan menyapa Yesus dengan sebutan itu (lih. Mrk 3:11 dsj.; 5:7). Pertanyaan imam agung pada waktu pengadilan juga menyangkut kedudukan Yesus sebagai Mesias (lih. Mat 26:63; Mrk 14:61; Luk 22:70), dan ejekan di bawah salib (yang menyalahgunakan Mzm 22) mempunyai latar belakang yang sama.

Dari pengakuan kepala pasukan di bahwa salib (Mrk 15:39 dsj.) kelihatan bahwa bagi Gereja perdana “Anak Allah” tidak tepat sama dengan gelar “Kristus”. Hal itu lebih jelas lagi dari Rm 1:3-4:

“tentang Anak-Nya, yang
menurut daging diperanakan dari keturunan Daud, dan
menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”

Dari teks di atas tampak bahwa “keturunan Daud” sebagai keadaan “menurut daging” dilawankan dengan “Anak Allah” sebagai hidup “menurut Roh kekudusan”. Kiranya perlu diingat bahwa dalam surat-surat Paulus, Yesus disebut “Anak Allah” kalau Dia dilihat dari sudut Allah. Kata “Anak Allah” bukan hanya gelar, tetapi mengungkapkan hubungan pribadi Allah dengan Yesus, sesuai dengan pembicaraan Yesus sendiri mengenai Allah sebagai Bapa-Nya.

E. Menyebut Diri-Nya Utusan Allah

Untuk memahami arti sebutan ini dengan sepenuhnya, kiranya perlu diperhatikan juga Rm 8:3; Gal 4:4; Yoh 3:16-17 dan 1Yoh 4:9 (bdk. Mrk 12:6), yang mengatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya“. Mengakui Yesus sebagai “Anak Allah” berarti mengakui Dia sebagai utusan Allah dalam arti yang penuh. Khususnya St. Yohanes banyak berbicara mengenai Yesus sebagai utusan Allah. Tidak hanya dikatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia” (3:17), tetapi Allah sendiri disebut “Dia yang mengutus Aku” (4:34) dan Yesus “Dia yang diutus-Nya” (5:38). Maka cocok sekali pada akhir hidup-Nya Yesus berdoa, “supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (17:21; lih. juga ay. 8.23.25). Dan kalau Yohanes biasanya menyebut Yesus “Anak”, kiranya ia mau menonjolkan hubungan pribadi Yesus dengan Allah yang mengutus-Nya. Secara konkret perutusan Yesus digambarkan dengan jelas dalam Luk 4:18-19 (yang mengutip nabi Yesaya):

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang yang tertindas,
untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Yesus tampil sebagai pembawa kabar gembira, bahwa Tuhan telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Yesus merupakan tawaran rahmat Allah yang definitif. “Berbahagialah orang yang tidak dikecewakan dalam diri-Ku” (Luk 7:23 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberi harapan dan iman kepercayaan kepada orang-orang. Iman itu mengangkat orang di atas kekuatannya sendiri, karena mempersatukannya dengan Allah.

Yang paling mengesankan adalah kebebasan-Nya, Yesus tidak tergantung pada siapa pun. Para rabi pada zaman Yesus selalu mencari dukungan bagi ajaran mereka pada ajaran orang lain dari zaman dahulu. Yesus tidak. Malah sebaliknya, “Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek-moyang kita …, tetapi Aku berkata kepadamu” (Mat 5:21.27.31.33.38.43). Yesus tidak hanya berani melawan ajaran turun-temurun, tetapi juga apa yang diimani sebagai ketetapan Allah sendiri. Terhadap tradisi manusiawi Ia lebih tegas lagi: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri” (Mrk 7:9).

Pegangan hidup Yesus bukanlah adat-istiadat atau ajaran tradisional agama, melainkan kesatuan pribadi-Nya dengan Allah. Hal itu secara paling tegas dirumuskan di dalam injil Yohanes, “Kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat. Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga” (Yoh 3:13). Maka, ketika diminta pertanggungjawaban oleh orang Yahudi tentang perbuatan-Nya di dalam kenisah, dengan tenang saja Yesus menjawab: “Aku tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (Mrk 11:33).

Yesus tidak merasa wajib mempertanggungjawabkan hidup dan pekerjaan-Nya di hadapan manusia. Apa yang dikatakan kepada orang lain mengungkapkan sikap-Nya sendiri, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luk 12:4). Yesus hidup dalam dunia lain, bukan dalam dunia yang dikuasai oleh manusia. Maka kalau ada orang yang mendorong Dia melarikan diri dari Herodes, Yesus menjawab: “Pergilah dan katakanlah kepada serigala itu: ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku'” (Luk 13:32-33). Perjalanan Yesus tidak ditentukan oleh Herodes atau manusia yang lain, bahkan tidak oleh kehendak-Nya sendiri, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Hidup Yesus ditentukan seluruh-Nya oleh kehendak Allah, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Begitulah gambaran yang oleh Injil-Injil diberikan mengenai Yesus. “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”, kata Yesus, “sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Yesus adalah utusan Allah, itulah dasar, pegangan dan pedoman hidup-Nya.

F. Disebut Anak Allah Yang Mahatinggi

Dalam Injil diceritakan bahwa orang “takjub mendengar pengajaran-Nya” dan menyaksikan perbuatan-Nya, sampai berkata: “Yang begini ini belum pernah kita lihat” (Mrk 1:22; 2:12). Bahkan sampai bertanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru! Ia berkata-kata dengan kuasa, roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya”; “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 1:27; 4:41). Rasa kagum dan heran tidak sampai di situ saja. Pengalaman Paska lebih lagi memenuhi mereka dengan rasa takjub, mulai dengan para wanita yang “lari meninggalkan kubur, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka” (Mrk 16:8) sampai Paulus yang berjumpa dengan Tuhan yang mulia pada perjalanan ke Damsyik (Damaskus). Dari rasa heran serta kagum itu mereka menulis mengenai Yesus, yang diimani sebagai orang yang datang dari Allah.

Memang tidak semua orang percaya akan hal itu; orang Yahudi mendiskusikannya antara mereka. Ada yang berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat”. Tetapi orang yang disembuhkan oleh Yesus itu menjawab, “Jikalau orang ini tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 9:16.33). Dan begitu terus, tidak pernah ada “bukti”. Hanya kalau orang melihat Yesus, pasti akan timbul pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang Kristus?” (Mat 22:42). Jawabannya dirumuskan dengan berbeda-beda dalam Perjanjian Baru. Namun pokok jawaban selalu jelas, “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kis 10:38).

Paulus merumuskan keyakinan itu sebagai berikut:
“Allah, dengan perantaraan Kristus, mendamaikan kita dengan diri-Nya; Ia mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2Kol 5:18-19).

Kesatuan Kristus dengan Allah merupakan pokok dan inti iman Paulus akan Kristus. Guna mengungkapkan iman ini ia juga memakai kata “Anak Allah”. Dengan kata itu mau dinyatakan bahwa dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri secara konkret kepada Paulus, “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Gal 1:16); “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10). Kesatuan antara Allah dan Kristus begitu erat bagi Paulus, sehingga ia dapat berkata bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus mati untuk kita” (Rm 5:8). Bagi Paulus, wafat Kristus merupakan tanda kasih Allah, dan kalau dikatakan bahwa “Allah memanggil kamu menjadi satu dengan Anak-Nya” (1Kor 1:9; bdk. Rm 8:29), jelaslah bahwa yang pokok bukan kesatuan Kristus dengan Allah, melainkan kesatuan Allah dengan kita dalam dan oleh Kristus.

Sejak pertemuan dengan Kristus pada perjalanan ke Damsyik Paulus hanya dapat “menantikan kedatangan Anak (Allah) dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang” (1Tes 1:10). Yesus disebut “Anak Allah” karena menghubungkan kita dengan Allah, karena menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Dengan nama “Anak Allah” dinyatakan bahwa Yesus yang mulia, yang bangkit dari antara orang mati, merupakan titik temu kita dengan Allah.

Yohanes merumuskan hal yang sama dengan cara yang lain. Dengan mudah perkembangan pikiran Yohanes dapat diikuti dalam pernyataan pada awal Injilnya.

“Pada mulanya ada Firman,
dan Firman itu pada Allah,
dan Allah-lah Firman itu;
Ia pada mulanya ada pada Allah.
Segala sesuatu terjadi oleh Dia,
dan tanpa Dia tidak terjadi apa-apa” (Yoh 1:1-2).

Yohanes berbicara mengenai Firman, mengenai Sabda, tetapi yang dimaksudkan adalah Yesus. Hal itu jelas dari awal suratnya yang pertama, di dalamnya ia mengatakan:

“Apa yang ada sejak semula, yang kami dengar,
yang kami lihat dengan mata kepala sendiri,
yang kami saksikan, dan
yang diraba tangan kami
tentang Firman kehidupan,
(itulah yang kami tuliskan kepadamu].
Apa yang kami lihat,
dan kami dengar,
kami beritakan kepada kamu juga,
supaya kamu pun memiliki persekutuan dengan kami.
Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa
dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1Yoh 1:1.3).

Sabda, yang sejak semula bersama dengan Bapa, itulah Yesus. Mengenai pribadi Yesus, yang dilihat dan didengar itu, dikatakan bahwa Ia sudah ada “pada mulanya”, mendahului segala-galanya. Belum ada apa-apa, kecuali Allah sendiri. Maka dikatakan bahwa Sabda ada “pada Allah”, artinya bersama-sama dengan Allah. Kalau Sabda sudah sejak segala abad bersama dengan Allah, Ia sama abadi dengan Allah. Dengan perkataan lain, Allah-lah Firman itu. Tetapi itu tidak berarti bahwa Sang Sabda dan Allah sama saja. “Ia ada pada Allah” artinya sekaligus setingkat, sama-sama abadi, namun terbedakan juga, sebagai Bapa dan Anak. Dalam Injil Yohanes Yesus bersabda, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28).

“Aku datang dari Bapa
dan Aku datang ke dalam dunia;
Aku meninggalkan dunia lagi,
dan Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28).

Hidup Yesus tidak lain daripada “datang dari Bapa dan pergi kepada Bapa”. Karena Ia datang dari Bapa, maka Ia terbedakan dari Bapa; tetapi karena pergi kepada Bapa, Ia juga tidak terpisah dari Bapa. Dilihat dari sudut dunia, semua itu sulit dimengerti: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?” (Yoh 6:42).

Kesulitan yang dirasakan oleh Yohanes sendiri, diletakkan dalam mulut orang Yahudi, “Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh 10:33). Yesus memang seorang manusia, tetapi bukan hanya manusia saja. Ia lebih daripada seorang manusia. Ia mengenal Allah lebih daripada semua orang lain. Kelebihan itu diungkapkan dalam kata-kata-Nya, bahwa Ia berasal dari Allah, bahwa Ia Anak Allah, bahwa Ia sudah ada sebelum segala abad (lih. Yoh 8:58).

Bertemu dengan Yesus berarti bertemu dengan Allah: “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada pada pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18).

Yesus tidak hanya disebut “Anak”, juga “Firman”, “Cahaya” dan “Hidup”, sebab Ia adalah sabda Allah kepada manusia, cahaya abadi yang menerangi dunia dan kehidupan kekal bagi kaum beriman. Nama-nama itu tidak mengungkapkan “kodrat” Yesus, melainkan lebih menunjukkan fungsi-Nya, peranan-Nya bagi kita, manusia biasa. Dengan cara yang berbeda-beda nama-nama itu menyatakan bahwa “Dialah benar-benar Penyelamat dunia” (Yoh 4:42).

G. Hubungan Yesus dengan Allah

Bukan hanya Paulus (dalam 1Kor 8:6) yang membedakan antara Kristus Tuhan dan Allah Bapa. Yesus sendiri dalam Injil menyatakan perbedaan itu. Kepada seseorang yang menyebut-Nya “Guru yang baik” Yesus menjawab: “Tak seorang pun yang baik, selain Allah saja” (Mrk 10:18). Begitu juga kepada para Rasul Ia berkata, “Tentang hari (kiamat) itu, tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk 13:32). Maka sudah sewajarnya bahwa Gereja para Rasul pun dengan jelas membedakan antara Yesus dan Allah. Allah disebut “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2Kor 1:3; Ef 1:3; 1Ptr 1:3). Itu berarti bahwa Ia “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia” (Ef 1:17), sebab “Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5). Tetapi justru karena Dia pengantara, ia berhubungan dengan kedua-duanya sebab “seorang pengantara tidak mewakili satu pihak saja, sedangkan Allah adalah satu” (Gal 3:20).

Kristus mempertemukan keduanya dalam diri-Nya. Maka dalam doa pada perjamuan terakhir Ia juga berkata, “Inilah hidup yang kekal, mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan [mengenal] Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17 :3). Gereja menghadap Allah “dengan perantaraan Yesus Kristus” (Rm 1:8; 5:1; 16:27; 2Kor 1:20; Ef 2:18; Ibr 7:25; 10:19-22; 13:15; 1Ptr 2:5; 4:11). Kristus membawa Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah. Di dalam Kristus manusia bertemu dengan Allah dan Allah bertemu dengan manusia. Allah adalah “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani” (Ef 1:3). “Dalam Dia berdiam seluruh: kepenuhan keallahan secara badaniah” (Kol 2:9), tetapi supaya kita pun “dipenuhi di dalam Dia” (ay. 10; lih. Ef 3:19; 4:10; Flp 2:6-7).

Kristus bersatu dengan Allah dengan cara yang lain daripada semua manusia atau makhluk yang lain. Oleh karena itu kesatuan Kristus dengan Allah sebenarnya tak dapat dirumuskan atau dipahami oleh manusia. Yang dapat dinyatakan hanyalah perbedaannya. Manusia biasa, kalau masuk dalam dirinya sendiri, juga menemukan dirinya sendiri. Dari dirinya sendiri ia kemudian dapat mengarahkan hatinya kepada Allah.

Lain halnya dengan Yesus. Kalau Yesus masuk dalam diri-Nya sendiri, Ia langsung menemukan Allah dalam kesatuan dengan diri-Nya. Seluruh kepribadian-Nya ditentukan oleh kesatuan dengan Allah, Bapa-Nya. Pertemuan antara Allah dan manusia, yang berpangkal pada Allah, mengangkat manusia ke dalam kesatuan dengan Allah. Proses itu mulai dalam diri Yesus, yang merupakan pertemuan itu sendiri. Maka sebetulnya proses itu juga tidak mulai di dunia, tetapi mulai sebelum segala abad. Pertemuan Allah dengan manusia termasuk rencana keselamatan Allah yang abadi. Oleh karena itu Yohanes juga dapat berkata: “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh 1:1).

Dari satu pihak Kristus sepenuh-penuhnya seorang manusia, yang bersatu-padu dengan seluruh umat keturunan Adam. Dari pihak lain, Ia juga merupakan jalan kepada Allah dan dari Allah. Ia juga dengan sepenuh-penuhnya bersatu-padu dengan Allah guna mempertemukan manusia dengan Allah. Allah ada di dalam diri-Nya, bukan untuk dimiliki sendiri melainkan untuk dipertemukan dengan semua orang. Ia adalah benar-benar Allah untuk manusia.

Maria Perawan

Maria mengajukan keberatan karena ia “belum bersuami”. Malaikat menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu”. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus akan menjadi suami Maria, tetapi bahwa kelahiran Yesus akan menjadi karya Allah. Lalu bagaimana dengan Maria yang tidak bersuami? Menurut syahadat, Yesus “dilahirkan oleh Perawan Maria”. Dasar pernyataan ini adalah kisah Lukas tersebut di atas, sedangkan penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam Mat 1:18-25. Tulisan Perjanjian Baru yang lain tidak pernah berbicara mengenai hal itu. Dalam Rm 1:3-4 memang ditegaskan bahwa Yesus “diperanakkan dari keturunan Daud” (walaupun itu “menurut daging”), sedang sebutan “Anak Allah” juga dihubungkan dengan “Roh kekudusan”. Tetapi yang terakhir itu terang menyangkut “kebangkitan-Nya dari antara orang mati”.

Rupa-rupanya dalam Gereja perdana berkembanglah kesadaran, bahwa apa yang dinyatakan dalam kebangkitan sudah ada sejak kelahiran. Semua itu mengungkapkan iman Gereja akan kekhasan Yesus dalam hubungan-Nya dengan Allah. Mungkin juga kisah mengenai kelahiran dari seorang perawan mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Dalam hal ini tidak jelas, apakah keperawanan Maria hanya dimaksudkan untuk mengungkapkan keluhuran Yesus sebagai Anak Allah atau sungguh mau dinyatakan sebagai fakta historis. Ternyata Luk 2:48 dan Mat 13:55 berbicara mengenai Yusuf sebagai ayah Yesus (bdk. Luk 2:41.43; Yoh 6;42; juga 3:23 dan Mat 1: 16), namun keperawanan Maria seharusnya diartikan secara teologis. Di sini jelas bahwa Yusuf tidak dapat menjadi ayah Yesus, karena – hanya Allahlah ayah Yesus. Kata “ayah” tidak dapat dipakai dengan arti yang sama untuk Yusuf dan untuk Allah. Kalau Yusuf dikatakan ayah Yesus, itu mempunyai arti manusiawi melulu. Sebaliknya dengan menyatakan Allah sebagai Bapa Yesus, diungkapkan misteri kepribadian Yesus. Keperawanan Maria, baik dalam arti historis, maupun teologis, menyatakan bahwa Yesus bukan manusia biasa.

Asal usul Yesus Kristus

Syahadat berbicara singkat sekali mengenai awal hidup Yesus di dunia, “Ia menjadi manusia oleh Roh Kudus dari Perawan Maria”. Syahadat panjang sebetulnya malah berkata “menjadi daging“; yang dimaksudkan “manusia lemah”. Arti kata “oleh Roh Kudus, dari Perawan Maria” menjadi jelas dari syahadat pendek: “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Yang dimaksudkan sudah jelas: Anak yang lahir dari Maria, bukan anak biasa, melainkan Anak Allah. Dan – seperti telah ditetapkan melawan Nestorius – itu tidak berarti bahwa Maria melahirkan seorang anak biasa, yang kemudian dimasuki Firman Allah. Anak yang lahir dari Santa Perawan, dari semula, artinya dari saat dikandungnya, sudah Anak Allah. Hal itu mau dinyatakan dengan kata-kata “dikandung dari atau oleh Roh Kudus”. Sama seperti semua kata lain dari syahadat, juga kata-kata ini hanya mau merumuskan apa yang sebetulnya sudah dikatakan di dalam Kitab Suci.

Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas (bab 1-2). Matius (bab 1-2) juga mengisahkan masa kanak-kanak Yesus, tetapi dengan lebih berpusat pada St. Yusuf. Di sana dibicarakan kebingungan Yusuf, ketika menyadari bahwa Maria mengandung; sementara kelahiran Yesus sendiri tidak diceritakan. Dalam cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kelahiran Yesus ada perbedaan antara Lukas dan Matius. Lukas menyebut kedatangan para gembala (Luk 2:8-20); penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah (Luk 2:21-40) dan Yesus yang pada umur dua belas tahun tinggal di kenisah (Luk 2:41-52). Sedangkan Matius menceritakan kunjungan para sarjana dari Timur (Mat 2:1-12), pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15.19-23), dan pembunuhan kanak-kanak di Betlehem (Mat 2:16-18).

Mat 1-2 dan Luk 1-2 mempunyai ciri-ciri sendiri. Keduanya tidak bermaksud memberikan informasi baru, melainkan menerangkan (dalam bentuk cerita) misteri Kristus sebagai manusia yang adalah Anak Allah. Hal itu sudah kelihatan dari fakta bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 baru ditulis lebih kemudian (Markus, sebagai Injil paling tua, tidak mempunyai kisah kanak-kanak Yesus; sedangkan Yohanes mempunyai suatu uraian lebih “teoretis” mengenai misteri pribadi Yesus pada awal Injilnya). Gereja pada waktu itu tidak hanya bertanya siapa Yesus, melainkan juga dari mana Ia datang dan bagaimana semua itu terjadi. Soal itu dijawab oleh Matius dan Lukas, masing-masing dengan caranya sendiri, kendati kedua-duanya mengajarkan yang sama, yakni:

  1. Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan (Mat 1:18.24-25; Luk 1:27.34; 2:4-7);
  2. Maria menerima kabar dari malaikat mengenai anak yang akan dilahirkannya (Mat 1:20-21; Luk 1:28-30);
  3. Maria akan mengandung karena Roh Kudus (Mat 1:18; Luk 1:35);
  4. Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Mat 1:16.20; Luk 1:27; 2:4), tidak tahu mengenai hal itu (Mat 1:18-25; Luk 1:34);
  5. Anak yang akan lahir harus diberi nama Yesus (Mat 1:21; Luk 1:31), sebab Ia Penyelamat (Mat 1:21; Luk 2:11), anak Daud (Mat 1:1; Luk 1:32).

Di samping lima hal pokok itu juga diceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (Mat 2:1; Luk 2:4-7); sesudah itu Maria dan Yusuf menetap di Nazaret (Mat 2:22-23; Luk 2:39.51). Hal itu terjadi pada zaman raja Herodes (Mat 2:1; Luk 1:5).

Semua peristiwa itu menceritakan kelahiran Yesus yang serba istimewa, mulai saat Ia dikandung oleh Perawan Maria. Peristiwa sesudah kelahiran-Nya dalam Injil Lukas tidak lain daripada yang lazim terjadi dalam suatu keluarga Yahudi, dengan ciri-ciri tertentu, yang menggarisbawahi misteri pribadi Yesus. Sebaliknya kisah mengenai sarjana dari Timur (Mat 2:1-12) serta pengungsian ke Mesir dan pembunuhan di Betlehem (Mat 2:13-23) mau memperlihatkan bahwa Yesus itu cahaya para bangsa dan Hamba Allah yang harus menderita untuk dan karena bangsa-Nya

Belum tentu semua itu terjadi tepat sebagaimana diceritakan, lengkap dengan semua detailnya. Kisah ini ditulis guna menjelaskan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, Anak Allah dan anak Maria. Khususnya kisah Lukas mengenai Maria, mengatakan hal itu dengan jelas sekali. Lima hal pokok yang disebut di atas semua memperlihatkan hal itu, terutama cerita mengenai kunjungan malaikat. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara lebih seksama: Maria yang mengandung dari Roh Kudus; dan Maria yang tetap perawan yang kait-mengait.

Tradisi

Kita akan bertitik tolak dari syahadat, baik yang singkat maupun yang panjang, yang merumuskan secara padat hasil refleksi umat Kristen pada masa-masa awal berdirinya Gereja.

Syahadat Singkat

Syahadat Panjang

Dan akan Yesus Kristus,Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, Dan akan satu Tuhan, Yesus Kristus,Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar.

Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.

Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,

yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus;disalibkan, wafat, dan dimakamkan;

yang turun ke tempat penantian,

dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria; menjadi manusia dan disalibkan untuk kita waktu Ponsius Pilatus. Ia wafat, kesengsaraan, dan dimakamkan.
pada hari ketiga bangkit dari. antara orang mati; Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
yang naik ke surga, duduk dl sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati.Kerajaan-Nya takkan berakhir.

Dari perbandingan antara kedua rumus ini langsung kelihatan bahwa kedua syahadat berbeda. Syahadat Konsili Nisea-Konstantinopel memang berbeda dan jauh lebih panjang. Perbedaan itu menyangkut terutama pasal yang pertama. Yang lain juga berbeda rumusannya, tetapi isinya kurang lebih sama. Kelima pasal terakhir merumuskan peristiwa pokok hidup dan karya Yesus, yakni (1) kelahiran-Nya; (2) sengsara dan wafat; (3) kebangkitan; (4) kenaikan ke surga; dan (5) kedatangan kembali pada akhir zaman. Perbedaan dalam rumusan tidak menyangkut peristiwa-peristiwa itu sendiri. Tambahan seperti “menjadi manusia” atau “kerajaan-Nya takkan berakhir” tidak mengubah isi pokok. Lain halnya dengan tambahan pada pasal yang pertama. Maka pasal itu perlu diberi perhatian khusus.

Pasal pertama syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang, sejajar dengan pasal mengenai Allah:

Aku percaya

akan [satu] Allah, Bapa yang maha kuasa, pencipta langit dan bumi, dan akan [satu] Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.

Allah dan Yesus Kristus disebut bersama-sama dalam rumus iman Gereja. Rumus ini, lebih-lebih kalau ditambahkan kata “satu”, amat mirip dengan rumusan 1Kor 8:6:

“Bagi kita (ada)

satu Allah, Bapa, yang dari pada-Nya (berasal) segala-galanya dan kita

menuju Dia, dan

satu Tuhan, Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala-galanya

(dijadikan) dan kita (hidup) oleh Dia.”

Bapa disebut “Allah” sedangkan Yesus “Tuhan”. Kedua kata itu tidak tepat sama. Dalam tulisan St. Paulus Tuhan berarti ”Yang Mulia” dan sebetulnya bukan Allah.

Dalam PB kata “Tuhan” dipakai untuk Allah sendiri hanya dalam kutipan dari PL, mis. Mat 4:7.10 dsj.; 22:37 dsj.; Mrk 12:29; Luk 1:16.32.68; 20:37; Kis 2:39; 3:22; kecuali dalam Kitab Wahyu: 1:8; 4:8.11; 11:17; 15:3; 16:7; 18:8; 19:6;21:22; 22:5.6, yang barangkali berusaha memakai bahasa yang serupa dengan bahasa PL (terutama dalam syair-syair). Dalam hal ini bahasa Kitab Suci (PB) berbeda dengan bahasa yang lazim dipakai.

Syahadat pendek yang lebih tua kurang lebih masih sama rumusannya dengan Kitab Suci. Tetapi syahadat panjang menambahkan keterangan panjang, dan rupa-rupanya dalam tambahan itu “Tuhan” dan “Allah” disamakan: sehakikat dengan Bapa. Kata Yunani homoousios juga dapat diterjemahkan dengan sama-hakikat. Mana terjemahan yang tepat? Untuk itu harus diketahui lebih dahulu maksud Konsili yang merumuskannya dan perlu diperhatikan latar belakang sejarahnya, sebab rumusan keterangan baru ditambahkan hampir 300 tahun sesudah surat-surat St. Paulus ditulis. Dalam kurun waktu tiga abad ada banyak diskusi dan perbedaan pendapat mengenai arti Kitab Suci.

Ada banyak diskusi terutama mengenai arti “Anak Allah”, lebih-lebih ketika agama Kristen bertemu dengan filsafat Yunani. Sudah sejak zaman St. Paulus, Injil diwartakan di dunia helenis (Yunani). Dan St. Paulus sudah mengalami bahwa kata-katanya tidak selalu dimengerti dengan baik (lih. mis. 1Kor). Begitu juga dalam tahun-tahun berikut ada banyak tulisan (terutama yang disebut apokrif) yang tidak memberi gambaran yang seratus persen tepat mengenai Yesus. Pimpinan Gereja biasanya mampu dan siap mengoreksi rumusan-rumusan yang kurang tepat itu. Tetapi ketika mulai dikonfrontasikan dengan para ahli filsafat dan pemikir Yunani, muncul diskusi di kalangan orang Kristen sendiri mengenai rumusan yang tepat.

Orang Kristen harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat Yunani yang tidak selalu mudah. Kata St. Hipolitus (170-236) kepada mereka, “Kami pun menyembah hanya satu. Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Kami berpendapat bahwa Kristus Anak Allah, tetapi sebagaimana kami memahaminya. Dia menderita dengan cara Dia, wafat dengan cara Dia, dan bangkit pada hari ketiga serta naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa, dan Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati. Dan itu kami akui sebagaimana “kami diajari”.

Semua orang mengetahui bahwa istilah “Bapa” dan “Anak” kalau dipakai bagi Allah artinya tidak sama seperti kalau dipakai untuk manusia, karena Allah memang lain daripada manusia. Tetapi tidaklah mudah merumuskan hubungan itu dengan tepat. Sementara orang, antara lain seorang imam dari Aleksandria yang bernama Arius, mengambil alih dari filsafat Yunani gagasan bahwa di dalam Allah, khususnya dalam hubungan Allah dengan dunia, ada tingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Allah dalam arti yang penuh dan utuh, di bawahnya ada aneka tingkat dewa dan ilah yang kurang sempurna bila dibandingkan dengan Dia. Gagasan ini oleh Arius diterapkan pada hubungan Kristus dengan Bapa. Arius berkata bahwa Bapa adalah Allah dalam arti penuh, tetapi Sabda hanya makhluk ciptaan saja, biarpun yang paling sempurna. Gagasan Arius ini mengundang reaksi negatif yang hebat sekali. Pada tahun 319 di kota Aleksandria sendiri Arius dan tiga belas orang pengikutnya secara resmi dan tegas dikucilkan dari Gereja dan ajarannya dilarang. Keputusan yang sama diambil oleh suatu sinode di kota Antiokhia. Akhirnya, pada Konsili Nisea (325) ajaran Arius ditolak atas nama seluruh Gereja. Rupa-rupanya dengan demikian soal Arius belum teratasi sepenuhnya. Maka dikemudian hari keputusan Nisea ditegaskan sekali lagi oleh Konsili umum di Konstantinopel (381). Rumusan Konsili itulah yang disebut syahadat panjang.

Arius mengajarkan bahwa Sabda diciptakan. Konsili Nisea (dan Konstantinopel) menangkis: Sabda “bukan dijadikan”, jadi bukan ciptaan, melainkan Ia “sehakikat dengan Bapa”. Ia tidak berada di pihak makhluk, tetapi di pihak Pencipta: “Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar”. Kata-kata yang pertama mungkin masih bisa disetujui oleh Arius. Kata “dari Allah”, dan “dari terang” kiranya juga dapat dipakai untuk Sabda sebagai makhluk yang pertama dan utama. Tetapi “Allah benar” sungguh bertentangan dengan ajaran Arius dan tidak disetujuinya. Arius berpendapat bahwa Sabda diciptakan oleh Allah. Itu ditolak oleh Konsili, sebab Sabda bukan ciptaan seperti makhluk-makhluk yang lain.

Dari pihak lain para uskup konsili sadar juga bahwa Anak tidak sama dengan Bapa. Maka dikatakan bahwa “Ia lahir dari Bapa”. Ia memang “bukan dijadikan”, tetapi “dilahirkan”. Dengan tegas Konsili Nisea menyatakan, “Ada orang (yaitu Arius) yang mengatakan, bahwa Ia pernah tidak ada, atau sebelum dilahirkan tidak ada, dan Ia dibuat dari yang belum ada, atau dari bahan atau kodrat lain. Ajaran bahwa Anak Allah dapat diubah atau dibuat lain ditolak mentah-mentah oleh Gereja Katolik dan apostolik”. Ajaran itulah yang mau dilawan dengan istilah homoousios, ‘sehakikat dengan Bapa’. Sementara itu, para bapa konsili juga tidak mengetahui bagaimana hal itu harus dimengerti. Pada pertemuan di Antiokhia beberapa bulan sebelumnya, mereka menegaskan: “dilahirkan dengan cara yang tidak dapat dikatakan atau dilukiskan, sebab yang mengetahui hanyalah Bapa yang melahirkan dan Anak yang dilahirkan, karena ‘tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak’ (Mat 11:27)”.

Eusebius dari Kaisarea (260-340): yang menghadiri Konsili Nisea, memberikan keterangan ini: “Kata-kata ‘Anak sehakikat dengan Bapa’ kalau diselidiki betul-betul ternyata sungguh tepat, bukan dalam arti sebuah badan atau serupa dengan binatang yang fana, juga tidak dengan membagi atau memotong hakikat, juga tidak dengan membuat hakikat Bapa berubah atau menjadi lain; sebab hakikat Bapa yang tidak dilahirkan bebas dari semua itu. Tetapi kata -kata ‘sehakikat dengan Bapa’ berarti bahwa Anak Allah tidak serupa dengan makhluk-makhluk yang diciptakan, melainkan dalam segala hal sama seperti Bapa yang melahirkan-Nya, dan tidak mempunyai hypostasis atau ousia (hakikat) yang lain daripada Bapa. Begitu juga tepat kata ‘dilahirkan, bukan dijadikan’, sebab ‘dijadikan’ dikatakan mengenai segala mahluk lain yang diciptakan oleh Anak; dan Anak sama sekali tidak serupa dengan mereka, sebab Ia tidak diciptakan seperti makhluk-makhluk itu yang diciptakan oleh-Nya; dan bagaimana Ia ‘dilahirkan’ tidak dapat dikatakan atau dilukiskan oleh apa saja yang diciptakan”.

Kalau begitu, mengapa mereka mengatakannya? Karena “Kitab Suci mengatakan bahwa Anak sungguh dan sebenar-benarnya dilahirkan”. Konsili hanya mau menegaskan ajaran Kitab Suci. Namun ajaran itu hendak dirumuskannya dalam rumusan filsafat Yunani sebagai jawaban terhadap ajaran Arius, yang dipandang sebagai penyeleweng, sebab ia memisahkan Yesus dari Allah. Kalau Yesus bukan satu dengan Allah, bagaimana Ia dapat menjadi wahyu Allah? Yesus tidak datang membawa sebuah buku, seperti Musa dan nabi-nabi yang lain. Sabda Yesus sendiri adalah wahyu dari Allah: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat 11:27). Yesus adalah Pengantara antara Allah dan manusia. Itu tidak mungkin, kalau Yesus tidak sungguh-sungguh dari Allah.

Dalam syahadat Nisea-Konstantinopel ditekankan keallahan Kristus. Dengan demikian langsung timbul masalah baru: Ada orang yang tidak mengakui kemanusiaan Kristus. Kesulitan itu sebetulnya sudah mulai dengan Arius: Sabda, yang adalah makhluk sendiri, menggantikan jiwa manusia dalam Yesus. Pandangan itu juga diyakini oleh orang lain, misalnya Apolinarius.

Sesudah Konsili Nisea, diakui bahwa dari satu pihak Sabda sungguh ilahi, tetapi dari pihak lain tetap disangkal bahwa Yesus punya jiwa manusia. Dengan demikian Yesus sungguh Allah, tetapi tidak sungguh manusia. Sering kali kurang jelas apa yang dimaksudkan orang-orang itu. Ada yang berkata bahwa dalam Kristus hanya ada satu kodrat; orang itu disebut “monofisit” (monos = satu; physis = kodrat). Orang lain dengan tegas mau membedakan kemanusiaan Kristus dari keallahan-Nya. Sampai-sampai Maria tidak mau disebut “Bunda Allah”, tetapi “Bunda Kristus” saja, sebab Maria hanya melahirkan manusia, bukan Allah. Heboh lagi!

Yang menekankan kesatuan dalam Kristus, antara lain St. Sirilus, uskup-agung Aleksandria (380-444). Lawannya adalah Nestorius, uskup-agung Konstantinopel (381-451). Dia dengan tegas menonjolkan perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan dalam Kristus, sampai memisahkannya. Dalam perselisihan antara kedua tokoh ini tidak hanya paus dan kaisar yang terlibat, tetapi juga hampir seluruh Gereja. Akhirnya, Konsili Efesus (431) mendukung pendapat Sirilus, bahwa “dari Santa Perawan tidak dilahirkan dahulu seorang manusia biasa, yang kemudian dimasuki oleh Sabda; tetapi (yang ilahi dan insani) dipersatukan sejak kandungan ibu-Nya, kemudian Ia mengalami kelahiran sebagai manusia.” Oleh karena itu Konsili “berani menyatakan bahwa Santa Perawan adalah Bunda Allah”.

Dengan demikian, Konsili Efesus sebenarnya hanya menegaskan syahadat Nisea-Konstantinopel: Juga dalam kemanusiaan-Nya Kristus harus disebut ilahi. Dalam diri Kristus keallahan dan kemanusiaan menjadi satu. Bagaimana keallahan dan kemanusiaan dipersatukan, itu tidak dijelaskan. Oleh karena itu, orang belum puas dengan Konsili Efesus.

Dua puluh tahun kemudian Konsili Kalsedon (451) merumuskannya sebagai berikut: “Perbedaan antara kedua kodrat (ilahi dan insani) tidak ditiadakan oleh kesatuan, sebaliknya kekhasan masing-masing kodrat dipertahankan dan bertemu dalam satu pribadi dan satu hypostasis (yang berdikari); jadi tidak dibagi atau dipisahkan menjadi dua pribadi, tetapi yang satu dan sama adalah Sabda, Anak Tunggal, Allah, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan oleh para nabi sejak semula mengenai Dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan kepada kita, dan diteruskan kepada kita oleh syahadat para bapa”.

Akhirnya, Konsili Kalsedon berhasil merumuskan iman Kristen dalam istilah-istilah filsafat Yunani. Dalam pertemuan antara agama Kristen dan kebudayaan Yunani perumusan filosofis itu perlu dan tidak dapat dihindari. Namun dengan demikian isi iman Kristen tidak menjadi lebih jelas. Kesaksian iman para Rasul yang disampaikan dalam kata-kata sederhana, sekarang dirumuskan dalam bentuk rumus padat dan peraturan tegas, serta dengan refleksi teologis yang ilmiah. Maka Kalsedon terpaksa memakai kata “kodrat” dan “pribadi” serta hypostasis yang sulit diterjemahkan.

Soal pokok sebenarnya terletak pada bahasa. Yang sesungguhnya mau dikatakan hanyalah, bahwa keallahan Kristus tidak sama dengan kemanusiaan-Nya: Kristus mempunyai dua “kodrat”, yang ilahi dan yang insani. Sebagai Allah Ia tidak dapat menderita dan mati; sebagai manusia sesungguhnya Ia tidak dapat membuat mukjizat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa ada dua Kristus, satu ilahi dan satu insani. Kalau ditanya siapa Dia sebetulnya, maka jawabannya hanya satu: Anak Allah. Tetapi justru Anak Allah itu lahir di dunia sebagai anak Maria. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara yang ilahi dan yang insani, sehingga dengan demikian Anak Allah itu tetap sama dengan anak Maria. Terhadap pertanyaan “Yesus itu apa?” jawabnya adalah memang ada dua kodrat ilahi dan insani. Terhadap pertanyaan “Yesus itu siapa?” jawabnya adalah hanya ada satu pribadi, yakni pribadi Anak Allah. Rumusan Konsili tegas, meski tidak sangat jelas.

“Kodrat” berarti sesuatu seperti identitas, kekhasan, sifatnya yang khusus. Tetapi bukan identitas pribadi, sebab kodrat tidak berdikari. Kodrat menjadi konkret dalam pribadi atau hypostasis, yang berarti “sesuatu yang berdiri sendiri”. Keunikannya dirumuskan dengan kata “pribadi”, yang dalam bahasa Yunani sebetulnya berarti “topeng”, sebab dalam pribadi kodrat menampilkan diri.

Kekurangan yang paling mencolok dalam rumusan ini, ialah sifatnya yang abstrak. Tidak terasa lagi kenyataan hidup Yesus, yang penuh kegiatan dan ketegangan, yang bisa diraba dan dirasa. Sejarah keselamatan hilang. Kalsedon sebenarnya hanya merumuskan inti misteri penjelmaan, bahwa “Sabda menjadi daging” (Yoh 1:14). Tetapi bagaimana semua itu terjadi dan berkembang, tidak dikatakan. Rumusan Kalsedon dapat memberi kesan bahwa Yesus terus-menerus pindah dari satu kodrat ke dalam kodrat yang lain, seolah-olah yang ilahi berdiri di samping yang insani. Padahal “kodrat” hanya mau mengatakan bahwa Kristus sekaligus Allah dan manusia. Allah dan manusia tidak dapat dijumlah, karena tidak sejenis. Tetapi kalau Allah dan manusia menjadi satu, khususnya dalam pribadi Sabda, maka di dalam kepribadian Kristus tidak hanya ada keallahan, tetapi juga kemanusiaan. Rumusnya kurang jelas. “Allah yang tak terbatas dan tak terukur tidak dapat dimengerti atau diterangkan dengan beberapa kata saja dalam bahasa manusia”, kata St. Hilarius (315″367).

Konsili berkata bahwa Yesus yang adalah Anak Allah juga anak Maria. Kiranya hal itu juga dapat dibalik: Yesus yang adalah anak Maria juga Anak Allah. Yesus adalah seorang manusia, tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam hati; bukan hanya secara kodrat, tetapi seluruhnya. Sebetulnya semua itu lebih jelas dirumuskan di dalam Kitab Suci. Oleh sebab itu, guna memahami rumus Kalsedon dengan sepenuhnya, rumusan itu perlu dihubungkan dengan Kitab Suci. St. Hilarius juga berkata, bahwa sebelum ia mendengar mengenai istilah “homoousios” (sehakikat) “Injil-Injil dan para Rasul sudah mengajarkannya kepadaku”. Istilahnya memang baru, tetapi maksudnya sama dengan yang diajarkan oleh Kitab Suci. Dari pihak lain, St. Hilarius menegaskan bahwa istilah-istilah itu memang perlu dan tidak dapat dihindari dalam dialog dengan kaum bidaah zaman itu:

“Kejahatan kaum bidaah dan penghujat memaksa kita membuat sesuatu yang sebetulnya tidak tepat: mencari hal-hal yang terlampau tinggi, bicara mengenai hal-hal yang tak dapat dikatakan, dan memasuki bidang yang bukan bidang kita. Seharusnya kita menjalankan dengan iman saja apa yang diperintahkan, yakni menyembah Bapa, menghormati Anak bersama Dia, dan berlimpah-limpah dengan (rahmat) Roh Kudus; namun terpaksa kita meluaskan pembicaraan kita yang sederhana ini sampai kepada hal-hal yang tak dapat dikatakan; karena kesalahan orang lain (kaum Arian) kita terpaksa bersalah dan apa yang seharusnya disimpan dalam renungan budi kita, sekarang diserahkan kepada bahaya pembicaraan manusia.”

Hasilnya memang tidak memuaskan seluruhnya. “Tetapi,” kata St. Hilarius, “kalau dirasa perlu menambahkan suatu keterangan, hendaklah dibicarakan bersama”. Yang mengikat bukan rumus, melainkan iman yang diungkapkan di dalamnya.

Kata-kata “sehakikat dengan Bapa” tidak ada dalam Kitab Suci, baru dirumuskan berabad-abad kemudian. Kata “Allah” juga jarang dipakai untuk Yesus. Yang ada “Anak Allah” dan kata itu pun belum tentu tepat sama artinya dengan “dilahirkan dari Bapa”. Tiga kali. Yesus dengan jelas disebut “Allah” dalam Perjanjian Baru:

Yoh 1:1 Firman itu Allah.
Yoh 20:28 Tomas menjawab: Ya Tuhanku dan Allahku.
Ibr 1:8 Tentang Anak-Nya [Allah] berkata: Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.

Masih ada sembilan teks lain, yakni Yoh 1:18; Kis 20:28; Rm 9:5; Gal 2:20; Kol 2:2; 2Tes 1:12; Tit 2:13; 2Ptr 1:1; 1Yoh 5:20. Tetapi teks-teks ini tidak seluruhnya jelas, entah karena keadaan naskah aslinya, entah karena kalimat Yunani sulit dimengerti dan dapat diartikan secara lain.

Dari ayat-ayat itu jelas bahwa Gereja perdana memakai kata “Allah” bagi Yesus. Tidak ada teks Kitab Suci yang memperlihatkan bahwa Yesus sendiri memandang diri sebagai Allah. Tetapi tentu saja, Gereja perdana juga tidak menyebut Yesus Allah tanpa alasan. Ada dua alasan mengapa Gereja perdana mengakui Yesus sebagai Allah, yakni pengalaman akan kebangkitan, dan sikap serta cara berbicara Yesus sendiri pada waktu masih bergaul dengan mereka.

Kedua alasan itu harus dilihat bersama-sama. Dalam terang kebangkitan cara berbicara dan sikap Yesus jelas memperlihatkan keunikan Yesus.