Hanya berdasarkan Kitab Suci? … sejak awal, tidak begitu!

Bayangkan jika Anda berada di tahun 100, tinggal di daerah Korintus. Anda pergi ke Gereja di Korintus, dan Anda telah mendengar surat-surat Paulus yang dibacakan. Mungkin Anda pernah mendengar salah satu Injil dibaca, dan beberapa tulisan lain dari para rasul. Tapi, pada masa itu dalam sejarah, Perjanjian Baru belum disusun menjadi sebuah kanon. Tidak ada kumpulan buku yang bisa diterima sebagai “Perjanjian Baru”. Pada saat itu belum ada kitab “Perjanjian Baru”. Dan ingat juga bahwa pada jaman itu di kekaisaran Romawi, orang Kristen dibunuh karena percaya kepada Yesus dan karena tidak menyembah dewa-dewa berhala. Orang-orang Kristen tidak dapat dengan bebas berjalan membawa Alkitab dan pergi ke Gereja. Cara utama yang Anda pelajari tentang iman kristen berasal dari para murid yang telah diberi ajaran dari para Rasul sendiri.

Selain tulisan-tulisan dari para Rasul, tulisan-tulisan lain mulai muncul. Ada satu tulisan yang ditulis pada tahun 90 masehi yang disebut “Gembala Hermas”. Buku itu dianggap buku berharga oleh banyak orang Kristen, dan dianggap kitab suci kanonik oleh beberapa Bapa gereja perdana seperti St. Irenaeus. Buku “Gembala Hermas” sangat populer di kalangan umat Kristen pada abad ke-2 dan ke-3. Namun, karena semakin banyak tulisan muncul di tempat kejadian pada masa itu, maka semakin penting untuk mengetahui tulisan mana saja yang merupakan Kebenaran dan mana yang tidak. Banyak tulisan-tulisan bidaah yang tidak benar mengenai iman Kristen mulai muncul sangat awal. Jauh sebelum Kitab “Perjanjian Baru” yang resmi diterima oleh umat Kristen, ada beberapa ajaran sesat yang muncul. Lalu bagaimana Gereja seharusnya menangani hal ini?

Jika setiap Gereja saat ini hanyalah beberapa komunitas otonom seperti yang banyak diklaim oleh Kristen Prostestan, lalu bagaimana caranya melawan ajaran-ajaran yang sesat? Jika tidak ada otoritas Gereja yang tersentral, dan selain itu karena pada saat itu belum ada Kitab Suci yang diterima secara universal; Lalu bagaimana caranya untuk mencegah banyak gereja-gereja yang bermunculan dan masing-masing gereja itu mengklaim sebagai Kebenaran tanpa ada yang menggugat klaim dari gereja-gereja itu? Coba bayangkan situasi pada saat itu. Situasi-situasi seperti ketika seseorang yang ke suatu gereja, dan di gereja itu dia diajarkan bahwa tubuh fisik kita adalah hal yang buruk, bahwa kita hanya terjebak di dalam tubuh yang buruk itu dan bahwa yang benar-benar penting adalah hanya jiwa kita. Juga seperti ajaran di suatu gereja yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar hanya manifesto atau ikon di bumi dan Yesus benar-benar tidak memiliki tubuh fisik. Bagaimana gereja-gereja otonom yang terpisah-pisah melawan ini? Anggaplah jika, seseorang di gereja Anda di Korintus mengajarkan hal ini. Maka, para tetua di gereja itu bisa mengusir orang itu keluar dan melarang mengajar di gereja itu, tapi pengusiran dan larangan itu sama sekali tidak bisa menghentikan orang itu untuk pergi ke jalan dan bergabung dengan gereja lain. Atau, dia bahkan bisa memulai sendiri gerejanya yang bersebelahan dengan gereja Anda. Apakah tetua gereja Anda memiliki wewenang untuk menghentikannya? Tidak, cara itu tidak dapat menghentikan orang itu jika gereja-gereja pada masa mula-mula seperti model Protestan modern seperti saat ini yaitu kumpulan gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh tak terlihat. Jika gereja-gereja perdana itu seperti gereja-gereja otonom maka mereka tidak memiliki otoritas sama sekali. Selain itu, tidak akan ada cara untuk membuktikan bahwa ada ajaran oleh gereja yang “tersesat”  tertentu adalah ajaran yang salah karena belum ada penerimaan secara bersama (universal) adanya Kitab Suci “Perjanjian Baru” yang sudah dikanonisasi. Apakah Anda dapat membayangkan dan melihat bagaimana permasalahan ini akan menjadi bencana bagi gereja mula-mula? Apakah model Kristen Protestan modern itu benar? Hanya berdasarkan Alkitab? Mustahil!

Sebenarnya kita dapat benar-benar melihat di dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana bahwa model “gereja Protestan” modern tidak ada dan tidak dikenal. Gereja Perdana memiliki otoritas yang terpusat dan sangat penting bagi Gereja untuk berkembang dan berjuang melawan ajaran sesat dari awal hingga seterusnya.

St. Ignatius dari Antiokhia, adalah murid dari St. Petrus. Dia diajariiman Kristen oleh St. Petrus. Dia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokhia oleh St. Petrus. Dia menulis surat kepada umat di Smirna yang tinggal di Turki modern sekitar 300 mil barat daya Antiokhia. Dalam suratnya ia menulis tentang wewenang Gereja, Gereja Katolik dan bagaimana Gereja Katolik memiliki kemampuan untuk melawan ajaran sesat yang telah ditetapkan pada tahun 100 M.

Hendaklah dianggap layak Ekaristi yang benar, adalah Ekaristis yang dilakukan oleh Uskup, atau oleh seseorang yang ditunjuk dan dipercayakan oleh Uskup. Di mana ada Uskup, di situlah juga ada umat; sama seperti, dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. ~ St. Ignatius dari Antiokhia umat di Smirna (tahun 103 M)

Jadi, pada tahun 103 M, St. Ignatius menunjukkan bahwa Gereja memiliki hierarki dan bahwa dia adalah wakil Yesus di Bumi, dan bahwa Gereja itu Katolik! Dia terus berbicara tentang otoritas dan hirarki ini …

Lihatlah bahwa kalian semua mengikuti Uskup, sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus kepada Bapa, dan para pastor kepada para rasul; Dan para diakon, sebagai institusi Tuhan. Jangan biarkan orang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa Uskup. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Smyrnaeans (tahun 103 M)

Dengan kata lain, Uskup memiliki wewenang dari Kristus dan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Uskup. Dia juga menulis surat kepada jemaat di Efesus, sedikit lebih jauh ke selatan Smirna, menyuruh mereka untuk mematuhi Uskup dan untuk menghindari semua ajaran yang tidak disetujui oleh Uskup.

… maka Anda harus mematuhi Uskup dan para Pastor dengan pikiran yang tidak terbagi, membagikan satu roti yang sama, yang merupakan obat keabadian, dan obat penawar untuk mencegah kita dari kematian, tetapi [yang berarti] bahwa kita akan hidup selamanya di dalam Yesus Kristus. ~ St. Ignatius dari Antiokhia ke Efesus (c 103 103)

Dan dia bahkan menulis kepada umat di Filadelfia, sebuah kota di selatan Antiokhia bahwa Tuhan tidak tinggal di komunitas manapun yang tidak bersatu dengan Uskup.

Karena di mana ada perpecahan dan kemurkaan, Tuhan tidak tinggal di sana. Kepada semua orang yang bertobat, Tuhan memberikan pengampunan, jika mereka berbalik dalam penyesalan kepada kesatuan Allah, dan untuk persekutuan dengan Uskup. ~ Ignatius dari Antiokhia kepada orang Filadelfia (tahun 103 M)

Jadi, di sini kita lihat, pada awal 103 Masehi, seorang pemimpin Kristen, telah berurusan dengan hal-hal otoritas dan ajaran sesat di Gereja. Dia tidak menyebutkan bahwa Kitab Suci adalah otoritas terakhir, namun Uskup itu. Bahwa uskup telah diberi kuasa Kristus.

Uskup diberi peran dengan diberi wewenang dari Kristus, ketika kita mendengar Uskup, kita mendengar Kristus. Untungnya, kita juga memiliki kepastian dari Yesus bahwa Roh Kudus-Nya akan mencegah Gereja untuk mengajarkan kesalahan, dalam hal doktrin mengenai iman dan moral.

Delapan puluh tahun kemudian, kita melihat sosok lain yang sangat penting muncul di tempat kejadian. St. Irenaeus dari Lyons, yang berasal dari Smirna dan kemudian pindah ke Lugdunum di Gaul untuk ditahbiskan sebagai Uskup di sana. Menariknya, St. Irenaeus diajarkan iman Kristen oleh St. Polikarpus, yang adalah murid Yohanes, Yohanes Penginjil, “murid yang dikasihi”.

Pada saat itu Ajaran-ajaran sesat semakin gencar, mereka tumbuh di mana-mana, untungnya Gereja, yang memiliki struktur otoritatif yang telah diturunkan kepada mereka dari Kristus melalui para rasul melakukan “uji kelayakan” untuk melawan ajaran sesat ini.

St. Irenaeus menulis sebuah dokumen berjudul “Adversus Haereses” (Against Heresies) yang sekali lagi menunjukkan bahwa Gereja tidak mengikuti model modern dari gereja-gereja otonom yang diikat bersama oleh tubuh yang tak terlihat. Dengan tegas St. Irenaeus tidak mengikuti model gereja moderen, dia menegaskan bahwa Gereja memiliki otoritas yang terpusat dan masih belum ada kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan. Sebenarnya St. Irenaeus berbicara tentang bagaimana secara mutlak Yesus mendirikan Gereja yang mengajar dengan Otoritas dan Tradisi Suci.

Misalkan ada timbul perselisihan sehubungan dengan beberapa pertanyaan penting di antara kita, bukankah kita mempunyai Gereja Peradna sebagai narasumber dimana para rasul saat itu sangat konstan berkomunikasi dengan mereka? dan belajar dari mereka apa yang pasti dan jelas mengenai pertanyaan sekarang? Bagaimana seharusnya jika para rasul sendiri tidak meninggalkan tulisan untuk kita? Tidakkah perlu mengikuti jalannya Tradisi yang mereka turunkan kepada orang-orang yang berkomitmen terhadap gereja-gereja? ~ St. Irenaeus dari Lyons, melawan Bidaah (sekitar tahun 180 M)

Menurut St. Irenaeus, kita harus menjawab permasalahan ajaran sesat dan perpecahan di Gereja dengan otoritas Tradisi Suci, struktur pengajaran Gereja dalam persatuan dengan ajaran-ajaran sejak awal. Setelah 150 tahun sejak kebangkitan Yesus Kristus, barulah kita mengetahui bahwa ini adalah salah satu ajaran Gereja. St. Irenaeus juga melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Suksesi Apostolik diperlukan untuk membuat otoritas ini benar.

… tradisi yang berasal dari para rasul, dari … Gereja yang dikenal secara universal didirikan dan diorganisir di Roma oleh dua rasul yang paling mulia, Petrus dan Paulus … yang turun ke zaman kita melalui suksesi para uskup. Karena ini adalah masalah kebutuhan bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini, karena otoritasnya yang unggul …

Dia bahkan mencantumkan Uskup Roma dari St. Petrus sampai pada jamannya.

… Rasul yang diberkati … menyerahkan ke tangan Linus kantor episkopat [dari Roma] … Kepada dia menggantikan Anacletus … Clement … Evaristus … Alexander … Sixtus … Telephorus … Hyginus … Anicetus … Soter … [dan] Eleutherius sekarang … meneruskan warisan dari keuskupan.

Kebenaran Iman dipelihara di Gereja dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi jelas selama berabad-abad untuk diikuti akan menjadi kebutuhan untuk menentukan buku dan surat apa yang akan dikenali sebagai “kitab suci.” Semakin banyak tulisan muncul, dan ajaran sesat terus berlanjut membanjiri. Sama seperti ketika Gereja mengalahkan satu ajaran sesat, kemudian ajaran sesat yang lain akan muncul. Dan juga saat penganiayaan secara brutal terhadap Gereja berlanjut di abad pertama, kejelasan tentang tulisan-tulisan Kristen menjadi penting. Dan dari semua itu, banyak orang Kristen telah menjadi martir dan akan berlanjut, dan perlu mengetahui buku mana yang sangat berharga untuk dicintai. Dan setelah semua itu masih ada lagi tulisan-tulisan yang lebih banyak dan lebih banyak surat dan “Injil” yang mengaku-mengaku benar akan terus muncul, dan akan semakin sulit untuk mempertahankan pengajaran yang solid tentang Kebenaran yang diturunkan dari Kristus.

Tanggapan atas Teori Mitos terhadap Kebangkitan Yesus Kristus

Teori Mitos merupakan salah satu teori yang paling populer sering dikemukakan oleh para moderenis dalam membahas kejadian-kejadian yang tertulis dalam Alkitab, baik dalam Kitab Perjanjian Lama atau Kitab Perjanjian Baru. Para Moderenis mencoba mengarahkan bahwa yang tertulis di dalam Alkitab merupakan hanya berupa mitos, sembari menjelaskan argumen mereka kejadian yang ‘sebenarnya’ yang dihubungkan dengan pendapat mereka sendiri seperti Alien dan lain-lain. Dalam pembahasan ini khusus dibahas tanggapan yang dapat kita beri mengenai Kebangkitan Yesus Kristus yang disangkakan merupakan hanya mitos oleh pihak-pihak yang mengemukakan teori mitos.

1. Gaya penceritaan dan penggambaran kejadian-kejadian dalam Alkitab sangat radikal dan jelas berbeda dengan gaya penceritaan semua mitos.

Alkitab menceritakan suatu kejadian dengan tidak secara membesar-besarkan, dan tidak secara kekanak-kanakan. Tidak secara bebas. Semua yang diceritakan di Alkitab sesuai dengan situasi saat itu. Semuanya mempunyai makna. Setiap cerita di Alkitab mempunyai kedalaman makna psikologis yang sangat dalam. Sedangkan cerita dalam mitos mempunyai makna psikologi yang dangkal. Gaya penceritaan dalam Alkitab juga memiliki ciri-ciri penggambaran kesaksian, gambaran kejadian oleh saksi mata penulis Kitab. Seperti sedikit detil pada kisah ketika Yesus menulis, menggores pasir ketika Dia ditanya ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi mengenai pendapatnya untuk melempari perempuan yang berbuat zinah. Tidak ada yang tahu mengapa ada tertulis mengenai Yesus menulis di atas pasir; tidak ada kelanjutan dari detail yang kecil itu. Satu-satunya penjelasan adalah penulis menuliskan apa yang dia lihat, apa yang dia saksikan.

2. Masalah ke-2 bagi teori mitos adalah bahwa tidak ada waktu yang cukup bagi mitos terbentuk.

Para de-mitologi pada masa awal, menitikkan pekerjaan mereka pada penanggalan masa akhir abad ke-2 untuk penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru; sedangkan agar suatu elemen mitologi dapat ditambahkan, kemudian disalahpahami dan dapat dipercaya sebagai suatu fakta harus melalui beberapa generasi saksi mata dahulu. Jika terdapat kisah yang versinya mengandung elemen mitos, saksi mata pada waktu itu di sekitar itu akan mendiskreditkan dan menolak versi tersebut. Pada kasus lain dimana mitos dan legenda dari suatu keajaiban terbentuk pada masa yang sama pendiri suatu agama – contohnya: Budha, Lao-tzu, dan Muhammad. Dimana setiap kasus lain tersebut, mitos-mitos tersebut yang terbentuk telah melalui banyak generasi terlebih dahulu. Penelitian waktu (penanggalan) penulisan Kitab-kitab Perjanjian Baru telah digeser mundur hingga mendekati waktu masa hidup Yesus dengan ditemukannya naskah-naskah secara empiris; hanya hipotesis abstrak yang memajukan penanggalan ke depan. Hampir tidak ada peneliti yang berpendidikan pada saat ini yang masih sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Bultmann, yaitu agar dapat mempercayai bahwa kisah yang pada Kitab Perjanjian Baru adalah teori mitos, bahwa tidak ada bukti suatu teks, naskah pada abad ke-1 mengenai Kekristenan yang dimulai dari keilahian dan kebangkitan Yesus Kristus, bukan sebagai manusia biasa yang telah mati.

3. Teori Mitos mempunyai dua lapisan.

Lapisan pertama adalah historis Yesus, Yesus yang tidak ilahi, Yesus yang tidak mengklaim keilahian, Yesus yang  tidak mengadakan mujizat, dan Yesus yang tidak bangkit dari kematian. Lapisan yang kedua dari teori mitos adalah lapisan berikutnya yang ‘di-mitos-kan’ yaitu Injil seperti yang kita miliki, yaitu Yesus yang mengaku sebagai Tuhan, Yesus yang mengadakan mujizat dan bangkit dari kematian. Permasalahan teori mitos ini adalah bahwa tidak ada sedikit pun bukti nyata mengenai keberadaan yang mendukung teori mitos seperti yang ada pada lapisan pertama. Teori dua-lapisan ini seperti teori kue yang terdiri dari dua lapisan dimana lapisan pertama yang seluruhnya terbuat dari udara dan lapisan lapisan kedua terbuat dari udara panas pada saat itu. Teori mitos merupakan suatu teori yang terdiri dari kedua lapisannya yang tidak mempunyai bukti nyata.Teori Mitos berbeda dengan Injil, Injil selain memiliki merupakan bukti tulisan dari saksi mata terdapat juga bukti lain yang memperkuatnya.

Injil adalah kisah yang luar biasa, dan kita tidak memiliki kisah lain yang diturunkan kepada kita selain yang terkandung dalam Injil ….Surat-surat Barnabas dan Clement mengacu mujizat dan kebangkitan Yesus. Polikarpus menyebutkan kebangkitan Kristus, dan Irenaeus menceritakan bahwa ia mendengar Polikarpus menceritakan mukjizat Yesus. Ignatius berbicara tentang kebangkitan. Quadratus melaporkan bahwa orang-orang yang masih hidup yang telah disembuhkan oleh Yesus. Justin Martyr menyebutkan mukjizat Kristus. Tidak pernah ada kisah non-ajaib (kisah yang biasa-biasa) yang mempunyai peninggalan (relik). Sedangkan agar suatu kisah mengalami korupsi (atau pengurangan) mengharuskan cerita asli terlebih dahulu hilang dan kemudian digantikan oleh yang lain, bahkan prinsip ini juga berlaku bagi tradisi lisan. Namun fakta-fakta yang disebut di atas menunjukkan bahwa kisah dalam Injil adalah substansi kisah yang sama yang dialami oleh orang Kristen masa awal. Ini berarti … bahwa kebangkitan Yesus selalu menjadi bagian dari kisah tersebut.”

4. Sebuah detail kecil, yang jarang diperhatikan, namun hal yang signifikan dalam membedakan Injil dari Mitos yaitu: saksi pertama yang mengetahui kebangkitan Yesus Kristus adalah perempuan.

Pada abad pertama Yudaisme, perempuan memiliki status sosial yang rendah dan tidak ada berhak untuk melayani sebagai saksi. Jika kubur yang kosong adalah suatu legenda dikarang, maka pengarangnya pasti akan tidak mengarang bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pertama kali ditemukan oleh perempuan, yang kesaksian dari perempuan itu akan dianggap tidak berharga. Namun jika di sisi lain, para penulis itu hanya melaporkan apa yang mereka lihat, mereka harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, walaupun yang terjadi tersebut di luar dari kebiasaan sosial dan hukum pada saat itu.

5. Kitab Suci Perjanjian Baru tidak bisa disalahartikan sebagai mitos dan dibingungkan dengan kenyataan karena secara khusus Kitab Suci Perjanjian Baru membedakan fakta dan mitos dan tak mau mengakui interpretasi mitos/dongeng (2 Petrus 1:16).

Karena secara eksplisit dalam 2 Petrus 1:16 mengatakan bahwa yang ditulis adalah bukan mitos, jika tulisan tersebut adalah mitos maka tulisan itu sebenarnya adalah suatu kebohongan yang disengaja dan bukan mitos. Ini merupakan suatu dilema. Apakah kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Baru itu suatu kebenaran atau kebohongan, apakah disengaja (konspirasi) atau tidak-disengaja (halusinasi). Tidak ada jalan keluar dari titik dilema ini. Sama halnya; sekali seorang anak menanyakan apakah Santa Claus adalah nyata, jawaban ‘Ya’ dari Anda akan menjadi sebuah kebohongan, jawaban tersebut bukan menjadikan Santa Claus sebagai mitos, jika ia tidak benar-benar nyata. Begitu juga pada Kitab Perjanjian Baru, sekali Perjanjian Baru dipilah-pilah bahwa ada sebagian kisah adalah mitos dan sebagian adalah kenyataan, maka Kitab Suci Perjanjian Baru akan menjadi suatu kebohongan jika kebangkitan tidak benar-benar nyata.

6. William Lane Craig telah merangkum argumen tradisi tertulis dengan penjelasan, yang dikutip disini. Berikut adalah argumen (untuk Mengetahui Kebenaran Tentang Kebangkitan) membuktikan dua hal: pertama, bahwa Injil ditulis oleh para murid, bukan oleh pembuat-mitos setelahnya, dan kedua, bahwa Injil yang kita miliki saat ini pada dasarnya sama dengan aslinya.

6.A. Bukti bahwa Injil ditulis oleh saksi mata:

6.A.1. Bukti internal, yang terdapat di dalam Injil itu sendiri:

  1. Gaya penulisan dalam Injil sifatnya sederhana dan hidup, apa yang kita harapkan dari penulis mereka diterima secara tradisional.
  2. Selain itu, karena Injil Lukas ditulis sebelum Kitab Kisah Para Rasul, dan karena Kitab Kisah Para Rasul ditulis sebelum kematian Paulus, maka Lukas memiliki penanggalan yang lebih awal, yang menunjukkan ke-otentikannya.
  3. Kitab Injil juga menunjukkan pengetahuan yang mendalam tentang Yerusalem sebelum kehancurannya pada tahun 70. Kitab Injil penuh dengan nama-nama yang tepat, tanggal, rincian budaya, peristiwa sejarah, dan adat istiadat, dan opini-opini yang beredar pada saat itu.
  4. Nubuat Yesus tentang peristiwa (kehancuran Yerusalem) sudah pasti telah ditulis sebelum jatuhnya Yerusalem, karena kalau tidak demikian maka gereja akan memaknai unsur apokaliptik terpisah dari nubuat Yesus itu, sehingga seolah-olah nubuat tersebut hanya menyangkut akhir dunia. Dan karena akhir dunia tidak terjadi ketika Yerusalem dihancurkan, maka jika nubuat Yesus tentang kehancuran Yerusalem tersebut benar-benar tertulis setelah kota Yerusalem hancur maka nubuat tersebut tidak memperlihatkan kejadian kehancuran Yerusalem itu berhubungan erat dengan akhir dunia. Oleh karena itu, Injil sudah pasti ditulis sebelum tahun 70.
  5. Kisah-kisah mengenai kelemahan sisi manusia Yesus dan kesalahan para murid juga menyatakan keakuratan Injil.
  6. Dengan demikian, tidak mungkin bagi pemalsu untuk memasukkan hal-hal yang tidak sesuai bersama dengan narasi yang sangat konsisten seperti yang kita temukan di dalam Injil. Kitab-kitab Injil tidak mencoba untuk mensamarkan perbedaan antara Kitab-kitab Injil, hal tersebut menunjukkan orisinalitas kitab (ditulis oleh masing-masing saksi mata). Tidak ada upaya harmonisasi antara Injil, seperti yang kita harapkan jika berasal dari pemalsu.
  7. Kitab-kitab Injil tidak mengandung anakronisme, tidak ditemukan ketidaksesuaian baik pada setiap tokoh, atau latar. Para Penulis kitab Injil dapat dikenali sebagai kaum Yahudi abad pertama yang menjadi saksi peristiwa.

Kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada alasan lagi untuk meragukan bahwa Injil berasal dari penulis tradisional, yang mengandung kisah kesaksian peristiwa-peristiwa supranatural.

6.A.2 Bukti eksternal:

  1. Para rasul pastinya meninggalkan beberapa tulisan, berhubung karena mereka dalam memberikan pelajaran dan konseling kepada orang-orang percaya yang secara geografis letaknya jauh, dan tulisan-tulisan tersebut berisikan apa jika bukan Injil dan surat-surat dari para rasul itu sendiri? Karena bagaimana pun juga para rasul perlu dan harus mempublikasikan narasi akurat mengenai sejarah Yesus, sehingga setiap upaya pemalsuan dapat didiskreditkan, disingkirkan dan keaslian Injil dapat dijaga.
  2. Ada banyak saksi mata yang masih hidup ketika buku-buku itu ditulis, dan mereka bisa bersaksi apakah buku-buku tersebut berasal dari penulis yang diakui mereka atau tidak.
  3. Kesaksian-kesaksian di luar alkitabiah menjadi pelengkap Injil akan ke-tradisional para penulis kitab, seperti:  Surat Barnabas, Surat Clement, Gembala Hermes, Teofilus, Hippolytus, Origen, Quadratus, Irenaeus, Melito, Polikarpus, Justin Martyr, Dionysius, Tertullian, Siprianus, Tatian, Caius, Athanasius, Cyril, hingga Eusebius di AD 315; bahkan juga kesaksian-kesaksian dari lawan kekristenan yang mengakui ke-tradisionalan para penulis, seperti: Celsus, Porphyry, Kaisar Julian.
  4. Dengan satu pengecualian, tidak ada Injil apokrif yang pernah dikutip oleh penulis kitab Injil selama tiga ratus tahun setelah Kristus. Pada kenyataannya tidak ada ditemukan bukti yang menunjukan adanya keberadaan Injil yang tidak otentik di abad pertama, di mana keempat Injil dan Kisah Para Rasul ditulis.

6.B. Bukti bahwa Injil yang kita miliki saat ini adalah sama dengan Injil asli yang pernah ditulis:

  1. Karena keperluan untuk memberikan petunjuk dan kebaktian pribadi, tulisan-tulisan Injil pasti disalin berkali-kali, yang meningkatkan kemungkinan teks asli dapat terlestari.
  2. Bahkan, tidak ada karya tulisan kuno selain Injil yang salinannya tersebar begitu banyak dan dalam berbagai bahasa, dan semua salinan dalam berbagai versi itu mempunyai kesamaan isi.
  3. Teks-teks Injil juga tetap terjaga keasliannya dari penambahan-penambahan yang sesat. Salinan-salinan Injil begitu banyak terdistribusi secara geografis yang luas, dan salinan-salinan itu menunjukkan bahwa teks tersebut hanya mengalami perbedaan yang sangat kecil ketika ditransmisikan. Perbedaan yang memang ada cukup kecil dan merupakan hasil dari kesalahan yang tidak disengaja.
  4. Kutipan-kutipan dari kitab-kitab Perjanjian Baru oleh para Bapa Gereja masa awal semuanya serupa, cocok, dan tepat.
  5. Injil tidak dapat dirusak, dirubah, atau dikorupsikan tanpa protes besar dari sebagian besar pihak Kristen ortodoks.
  6. Tidak ada yang dapat merusak, merubah, atau mengorupsikan semua naskah kitab.
  7. Tidak ada celah waktu yang bagi pemalsuan bisa terjadi, karena seperti yang telah kita lihat, kitab-kitab Perjanjian Baru yang dikutip oleh para Bapa Gereja dalam deret rentang waktu yang rapat. Teks tidak mungkin dipalsukan di masa sebelum ada banyak kesaksian eksternal yang muncul, dan pada masa itu para rasul masih hidup dan bisa menolak gangguan percobaan pemalsuan jika ada.
  8. Setiap penggalan Naskah Perjanjian Baru layaknya sama seperti teks dari karya-karya klasik kuno. Untuk menanggalkan sepenggal tekstual dari Injil akan membalikkan semua aturan kritik dan menolak semua karya kuno, karena teks dari karya-karya kuno kurang pasti dibandingkan dengan Injil.

… untuk disimpulkan.

Allah Tritunggal Maha Esa

Sesudah hari raya Pentekosta Gereja Katolik merayakan pesta Tritunggal Mahakudus. Pesta itu merupakan rangkuman seluruh tahun liturgi. Dan memang tepat, sebab dogma atau ajaran mengenai Allah Tritunggal merupakan rangkuman seluruh iman dan ajaran Kristen. Iman akan Allah Tritunggal bukanlah titik pangkal, melainkan kesimpulan dan rangkuman dari seluruh sejarah pewahyuan Allah, serta tanggapan iman manusia,

Cukup menarik bahwa semula Paus Alexander II (1061-1073) menolak mengadakan hari raya khusus bagi Tritunggal Mahakudus. Alasannya, bahwa Gereja sudah setiap hari menghormati Tritunggal Mahakudus, khususnya dalam doa “Kemuliaan”. Kendati demikian pada tahun 1334 diadakan hari raya khusus. Iman akan Allah Tritunggal yang memang terungkap dalam seluruh hidup Gereja, begitu penting, sehingga pantas diberi perhatian khusus. Namun perlu diperhatikan bahwa pada hari raya ini tidak ada peristiwa keselamatan yang dirayakan (seperti pada Natal dan Paskah), melainkan suatu dogma atau ajaran.

Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia. Maka sebaiknya uraian tidak mulai dengan rumus “satu Allah, tiga pribadi”, tetapi dengan Kitab Suci, karena kata (modern) “pribadi” tidak seluruhnya tepat. Bila diartikan menurut paham modern, arti rumus ini tidak jauh dari triteisme atau tiga Allah.

Dalam teks-teks resmi Gereja dipakai kata Yunani (prosopon dan hypostasis) dan Latin (persona). Kata-kata itu tidak mempunyai arti yang tepat sama dengan kata “pribadi”. Bahkan dalam bahasa kuno tidak seluruhnya jelas pembatasan kata itu. Semua kata itu mempunyai arti khusus, sama seperti kata Bapa dan Putra, yang diambil dari bahasa manusia tetapi punya arti yang lain sama sekali kalau dipakai untuk Allah. Titik pangkal bukan kata atau rumus, melainkan fakta sejarah keselamatan, yang kemudian mau dirumuskan sebaik mungkin.


A. Ajaran Kitab Suci

Dalam 2Kor 5:19 Paulus berkata, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus” dan dalam Rm 5:5, “Kasih Allah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita”. Allah bertindak, dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Karya Kristus, dan karya Roh Kudus, merupakan karya Allah. Gereja perdana yakin bahwa dalam diri Kristus, dan dalam Roh Kudus, karya keselamatan Allah terlaksana. Dengan singkat seluruh karya Allah ini dirumuskan dalam Ef 1:3-14:

(3)”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga dalam Kristus.
(4)”Sebab dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih;
(5)dengan menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
(6)supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya,
(7)Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa – menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
(8)yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
(9)Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita – sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus,
(10)sebagai persiapan kegenapan waktu – untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.
(11)Di dalam Dialah kami [turunan Yahudi] mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya –
(12)supaya kami ini, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus [karena ajaran Perjanjian Lama], boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya,
(13)Di dalam Dia kamu [turunan Yunani] juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – ketika kamu percaya, kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu.
(14)Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh keseluruhannya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Jelaslah bahwa yang melakukan karya keselamatan adalah Allah, yang di sini disebut “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Karya keselamatan itu secara konkret-historis terlaksana dalam Kristus. Sebelum pengarang berbicara mengenai penebusan yang diperoleh karena salib Kristus (ay, 7), dikatakan lebih dulu bahwa “dari semula”, yaitu “sebelum dunia dijadikan” Allah sudah menetapkan rencana keselamatan itu “dalam Kristus”. Kristus itu jalan keselamatan Allah menurut rencana dari semula. Sebagai inti karya Allah itu disebut pewahyuan rencana Allah dalam Kristus (ay. 9). Tetapi dengan karya Kristus saja, karya Allah belum lengkap. Karya itu diteruskan oleh Roh Kudus yang merupakan “jaminan” kepenuhan penebusan pada akhir zaman.

Jelas sekali bahwa ajaran mengenai Allah Tritunggal bukanlah suatu teori, yang diwahyukan secara lengkap oleh Yesus atau para rasul, melainkan rangkuman karya Allah yang dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus. Oleh karena itu perlu diperhatikan secara lebih rinci, bagaimana Allah berkarya dalam Kristus dan Roh Kudus. Lalu kelihatan juga bagaimana hubungan Kristus, dan Roh Kudus, dengan Allah yang mengutus dan melaksanakan karya keselamatan-Nya.

1. Yesus

Yesus tidak pernah “menerangkan” diri sendiri. Pewartaan Yesus tidak mengenai diri-Nya sendiri, melainkan mengenai Allah, khususnya mengenai Kerajaan Allah. Mengenai Kerajaan Allah Yesus juga tidak memberi banyak keterangan. Pembicaraan Yesus mengenai Kerajaan adalah pewartaan yang bukan sekadar keterangan, melainkan yang menantang dan mengejutkan. Pewartaan itu didukung dan diisi oleh seluruh penampilan Yesus, baik sewaktu hidup-Nya maupun sesudah wafat-Nya, ketika Ia menampakkan diri dalam kemuliaan. Malah sebetulnya Yesus dikenal terutama dari penampakan sesudah kebangkitan. Penampakan itu berarti bahwa para murid mengenal-Nya kembali. Dengan demikian penampakan itu tidak bisa dilepaskan dari seluruh pergaulan Yesus dengan mereka, “mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang dimaklumkan oleh Yohanes” (Kis 10:37). Oleh karena itu perlu diingat kembali semua yang telah diuraikan oleh Gereja mengenai hidup dan karya Yesus.

Dua hal yang hendak digarisbawahi di sini ialah pergaulan Yesus dengan orang berdosa dan pandangan Yesus sendiri terhadap kematian-Nya, sebagaimana terungkapkan terutama pada perjamuan terakhir.

Seluruh penampilan Yesus terutama pergaulan-Nya dengan orang berdosa menimbulkan protes dari pihak orang Yahudi, khususnya kaum Farisi. Dengan demikian Yesus sungguh menyimpang dari adat kebiasaan. Yesus bergaul dengan “orang pinggiran”, yang tidak terpandang dalam masyarakat Yahudi; dengan orang miskin, orang kusta, orang kerasukan setan, dengan wanita dan anak kecil, dan juga dengan pemungut bea dan orang berdosa. Ia malah makan bersama mereka (Mrk 2:16-17 dsj.; lih. Mat 11:19 dsj.; Luk.15:1; 19:7).

Dengan demikian Ia memperlihatkan suatu “solidaritas” dengan mereka, yang oleh Paulus akan dikembangkan sebagai pokok karya penebusan. Dengan demikian Ia juga memperlihatkan sikap-Nya terhadap peraturan mengenai tahir dan najis: Yesus tidak merasa diri terikat pada peraturan Yahudi itu. Malahan lebih daripada itu, dengan bergaul bersama orang yang terang-terangan melanggar hukum, Yesus menawarkan rahmat dan pengampunan Allah sebelum orang itu memperlihatkan tanda-tanda pertobatan yang meyakinkan (bdk. Luk 15:11-32; juga 7:41-43). Yesus datang membawa belas-kasihan Allah kepada manusia. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan; karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13 dsj.; 12:7). Bukan hanya Paulus, melainkan Yesus sendiri berkata bahwa di dalam diri-Nya rahmat Allah ditawarkan kepada manusia. Tawaran itu hanya dalam Dia, sehingga “barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33 dsj.; Mrk 8:38 dsj.).

Solidaritas Yesus dengan kaum pendosa mencapai puncaknya dalam wafat-Nya di kayu salib, sebagaimana berulang kali dan dengan amat jelas dikatakan oleh St. Paulus (lih. 1Kor 15:3). Yesus sendiri telah membicarakan arti kematian-Nya dengan cukup jelas. Dari satu pihak Yesus tidak menghindari konfrontasi dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi (lih. Mrk 11:27-33 dsj.); dari pihak lain Ia juga tidak mencari kuasa, tetapi datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45; lih. Luk 22:27). Maka tidak mengherankan bahwa Yesus menyadari sepenuhnya “bahwa seorang nabi harus dibunuh di Yerusalem” (Luk 13:33; bdk. 11:47-51). Pada perjamuan terakhir Ia juga menyatakan nasib-Nya dengan terus terang.

Pada pertemuan terakhir dengan para murid-Nya itu Yesus tetap menunjuk pada pokok pewartaan-Nya, yaitu Kerajaan Allah: “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang” (Luk 22:18; lih. 22:30 dan Mrk 14:25). Sabda-Nya kepada Yudas (Luk 22:21-23) memperlihatkan bahwa Yesus sadar akan situasi yang gawat. Tetapi itu tidak mengubah keyakinan-Nya bahwa Kerajaan Allah sedang datang. Oleh karena itu Ia juga berani berbicara mengenai “perjanjian baru oleh darah-Ku” (Luk 22:20; 1Kor 11:25; lih. Mrk 14:24 dsj.). Wafat-Nya akan menjadi awal tata keselamatan yang baru. Di muka ancaman maut Yesus tetap berani berbicara mengenai keselamatan dan menawarkannya dalam bentuk roti dan anggur. Darah-Nya “ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:24 dsj.), dan Matius menambahkan: “untuk pengampunan dosa” (26:28). Yesus sadar bahwa Ia bukan hanya pewarta keselamatan seperti nabi-nabi yang lain (lih. Mat 11:41-42 dsj.), melainkan pembawa dan penawar keselamatan. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20 dsj.). Tindakan penyelamatan Yesus bukan hanya tanda kehadiran Allah, melainkan bentuk penampakan Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus Allah mendatangi umat-Nya.

2. Roh Kudus

Oleh Roh-Nya Allah hadir di dalam kita. “Kita ketahui, bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam kita, karena Allah telah memberikan dari Roh-Nya sendiri kepada kita” (1Yoh 4:13). Kristus disebut “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24), tetapi Kristus tidak pernah disebut “Roh Allah”, walaupun Paulus mengakui bahwa “Tuhan (yang mulia) adalah Roh” (2Kor 3:17; lih. 1Kor 15:45; Rm 8:9.10). Oleh karenanya ia juga tidak terlalu membedakan antara “Roh Allah” dan “Roh Kristus” (Rm 8:9). Bahkan “dalam Kristus” (Rm 8:1) rupa-rupanya sama dengan “dalam Roh” (ay. 9; lih. 9:1; 1Kor 6:11).

Sesuai dengan pikiran Perjanjian Lama (lih. Mzm 51:13; 139:7; Yes 11:2; 61:1; Yeh 36:26-27; 37:5.14) Roh Allah diartikan sebagai kehadiran Allah yang menggerakkan dan membarui manusia. Lebih khusus lagi dapat dikatakan bahwa Roh Allah merupakan lingkup karya Allah, khususnya dalam Kristus. Karya Allah di dalam manusia dilaksanakan “dengan pertolongan Roh Yesus Kristus” (Flp 1:19). Atau dengan kata lain, karya Allah dalam Kristus mencapai sasarannya dalam diri manusia oleh Roh. “Rahasia Kristus dinyatakan dalam Roh” (Ef 3:4-5). Bagi Paulus “Kerajaan Allah” adalah “kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Roh Kudus “diam” dalam orang beriman (Rm 8:9.11; 1Kor 3:16; 6:19); oleh karena itu hidup iman tidak lain dari “buah Roh” (Gal 5:22). Beriman sama dengan “hidup dalam Roh” (Rm 8:9; lih. 15:13), “dalam kebenaran Roh” (Rm 7:6), “disucikan dalam Roh Kudus” (Rm 15:16; 1Kor 6:11).

Pandangan ini tidak terbatas pada surat-surat Paulus saja. Dengan lebih jelas Yohanes dan Lukas berbicara mengenai karya Roh. Oleh Yohanes ditekankan secara khusus hubungan Roh Kudus dengan Kristus (lih. Yoh 7:39; 14:26; 16:13; 1Yoh 5:7-8). Roh Kudus adalah “Roh kebenaran” (Yoh 14:17; 15:26; 1Yoh 4:6), yang memampukan orang beriman masuk ke dalam misteri Allah (16:13; 1Yoh 5:6). Serupa dengan sabda Yesus dalam Injil Yohanes (14:16). Akhir Injil Lukas: “Aku akan mengirim kepadamu yang dijanjikan Bapa-Ku” (Luk 24:49), yakni “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kis 1:8). Yesus yang dimuliakan mengutus Roh-Nya kepada Gereja (Kis 2:33). Roh Kristus itu memimpin Gereja dalam seluruh perjalanannya. Secara khusus Lukas menekankan karya Roh dalam Gereja.


B. Ajaran Gereja

Dasar ajaran Gereja adalah ajaran Kitab Suci, khususnya bahwa dalam Kristus dan dalam Roh-Nya Allah hadir. Ajaran mengenai Allah Tritunggal mau mengungkapkan iman akan kasih Allah. Dalam Kristus dan dalam Roh-Nya, Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Allah tidak menganugerahkan “sesuatu” kepada manusia, Ia memberikan diri-Nya sendiri. Hakikat wahyu ialah bahwa “dari kelimpahan cinta kasih-Nya Allah menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka didalamnya”; “dengan wahyu ilahi Allah mau menampakkan dan membuka diri-Nya sendiri serta keputusan kehendak-Nya yang abadi tentang keselamatan manusia, untuk mengikut-sertakan manusia dalam harta-harta ilahi” (DV 2 dan 6).

Pada hakikatnya wahyu ilahi tidak lain dari Allah yang menghubungi manusia. Maka Konsili Vatikan II juga mengajarkan bahwa Kristus “menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita” (DV 4). Yesus adalah “Immanuel, yang berarti Allah beserta kita” (Mat 1:23). Inilah kebenaran pokok. Mengenai Roh Kudus dapat dikatakan hal yang serupa. Kebenaran pokok ini dirumuskan secara khusus mengenai Kristus dahulu, baru kemudian mengenai Roh Kudus.

1. Kristus

Kesadaran bahwa Allah hadir dalam Kristus, seolah-olah dengan sendirinya menimbulkan suatu konflik dengan iman akan Allah yang esa. Murid-murid Yesus yang pertama semua dididik dalam agama Yahudi dan mengakui bahwa “Tuhan (YHWH) adalah Allah kita, dan hanya Tuhan (YHWH) saja”; “jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Ul 6:4; 5:7). Maka kesulitan mereka ialah merumuskan keunikan Kristus dengan tetap mempertahankan monoteisme (kepercayaan akan satu Allah). Pokok persoalan ialah bahwa dari satu pihak mau dipertahankan keilahian wahyu: Allah sungguh mewahyukan diri dalam Kristus. Tetapi dari pihak lain tidak mau disangkal pula perbedaan antara keallahan dan kemanusiaan Yesus Kristus. Usaha perumusan yang pertama menekankan perbedaan itu dan praktis menyangkal keilahian Kristus.

Di atas sudah dijelaskan yang disebut Arianisme yang merupakan bidaah yang paling besar pengaruhnya. Masih ada ajaran lain, yang serupa. Misalnya, monarkianisme yang mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah “penampakan” dari keallahan yang abstrak dan transenden. Serupa dengan itu adalah modalisme, yang membedakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai “cara” Allah menampakkan diri. Modalisme itu juga disebut sabelianisme. Sebelum Arius banyak orang sudah mengajarkan suatu subordinasianisme, yakni bahwa ada tingkatan dalam Allah: Yang sungguh, dengan sepenuhnya Allah, hanyalah Bapa; Putra dan Roh Kudus ada pada taraf yang lebih rendah (jadi bukan Allah dalam arti penuh).

Konsili Nisea (325) menegaskan keilahian Kristus itu dengan rumus “sehakikat dengan Bapa”. Tidak ada “Allah tingkat dua”. Tetapi dengan menekankan kesamaan, kurang jelas perbedaan dan kekhasan Bapa dan Putra. Maka dalam surat yang setahun sesudah Konsili Konstantinopel I (381) oleh para uskup dikirim ke Roma, dikatakan: “Kami percaya bahwa Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus mempunyai satu keilahian dan kuat-kuasa dan hakikat (ousia), mempunyai keluhuran yang harus diberi kehormatan yang sama, dan sama abadi dalam kekuasaan, dalam tiga pribadi (hypostasis) atau tiga penampakan (prosopon) yang sempurna”. Sejak itu misteri Allah Tritunggal dirumuskan secara singkat: “Satu Allah, tiga pribadi”. Tetapi tetap ada pertanyaan, yaitu apa yang dimaksudkan dengan “pribadi”? Lebih-lebih karena dalam Tritunggal “pribadi” mengungkapkan kekhasan dan keunikan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam diri Kristus paham “pribadi” dipakai sebagai dasar kesatuan untuk kodrat ilahi dan insani.

2. Roh Kudus

Yang diajarkan mengenai Kristus dalam arti tertentu juga berlaku untuk Roh Kudus, sebab dari satu pihak juga karya Roh Kudus adalah karya Allah (lih. Rm 5:5) dan dari pihak lain Roh Kudus tidak sama dengan Kristus (lih. Yoh 16:7-15 dan Mat 28:19). Maka dari itu Roh Kudus terbedakan dari Kristus (dan tentu juga dari Allah Bapa), tetapi Roh Kudus juga harus dikatakan Allah, sama seperti Kristus. Keallahan-Nya sama, kepribadian-Nya lain. Sebab, seandainya Roh Kudus hanya makhluk saja atau “sesuatu” yang bukan ilahi, maka manusia sesungguhnya tidak benar-benar tersentuh oleh Allah melalui Roh Kudus. Rahmat Allah berarti bahwa kita sungguh-sungguh bertemu dengan Allah. Kalau dikatakan, dalam Kitab Suci, bahwa pertemuan itu terjadi oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus sendiri bersifat “tak tercipta” atau ilahi. “Allah telah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita” (2Kor 1:22).

Oleh karena itu Konsili Konstantinopel I (381) menambahkan pada syahadat Konsili Nisea (325) kata-kata ini: “[dan akan Roh Kudus], Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan, yang bersabda dengan perantaraan para nabi”. Di kemudian hari, di Barat (dalam bahasa Latin), masih ditambahkan satu kata lagi: “berasal dari Bapa dan Putra”. Tambahan ini menimbulkan banyak kesulitan dan pertikaian antara Gereja Barat dan Gereja Timur (Ortodoks). Soal ini rumit sekali dan tidak dari semula disadari arti dan akibatnya. Para ahli teologi Barat, mulai dengan St. Agustinus (354-430), biasanya mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra (karena hubungan antara Roh Kudus dan Kristus). Tetapi secara resmi hal itu dimasukkan ke dalam syahadat (bahasa Latin) baru oleh Konsili Lyon II (1274). Pada tahun 1981 (perayaan 1600 tahun Konsili Konstantinopel 1) Paus Yohanes Paulus II memberi izin menghilangkan kata-kata “dan Putra” dari syahadat Latin itu. Sebab dalam syahadat Yunani (dari 381 itu) memang tidak ada kata “dan Putra”. Gereja Timur berpegang teguh pada pendapat bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, sama seperti Putra.

Sebetulnya Gereja Barat secara prinsip juga tidak berkeberatan terhadap rumus Timur. Konsili Florence (1442) menyatakan: “Apa pun Bapa dan apa pun milik-Nya, Ia tidak punya dari yang lain, tetapi dari diri-Nya sendiri, Ia adalah dasar tanpa dasar. Apa pun Putra dan apa pun milik-Nya, Ia punya dari Bapa, Ia adalah dasar dari dasar. Apa pun Roh Kudus dan apa milik-Nya, Ia punya dari Bapa bersama dengan Putra. Tetapi Bapa dan Putra bukanlah dua dasar bagi Roh Kudus, melainkan satu dasar”.


C. Soal Perumusan

Seluruh persoalan mengenai dogma Allah Tritunggal sebenarnya menyangkut perumusan. Bukan soal kata-kata saja, sebab kata-kata dipilih (dengan saksama) untuk mengungkapkan dan merumuskan pandangan dan keyakinan tertentu. Keyakinan iman itu menyangkut Allah dan pewahyuan-Nya. Dan karena itu sebetulnya di luar jangkauan bahasa manusia. Namun, seandainya manusia sama sekali tidak dapat berbicara mengenai wahyu Allah, wahyu itu sesungguhnya tidak mempunyai arti, karena tidak (bisa) dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu manusia tidak hanya boleh, tetapi harus berusaha mencari kata-kata yang kiranya cocok guna mengungkapkan dan merumuskan pandangan iman. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa rumus-rumus itu mencoba merumuskan keyakinan iman, yang lebih luas daripada keterbatasan kata-kata dan bahasa. Maka selalu harus ditanyakan, apa latarbelakang dan apa maksud mereka yang merumuskan iman dengan kata-kata itu? Titik pangkal bukanlah kata atau pembatasan kata, baik dalam bahasa kuno maupun dalam pengertian modern, melainkan keyakinan iman mereka yang menciptakan rumusan iman ini.

1. Pribadi

Masalah rumusan dogma Allah Tritunggal yang pertama menyangkut istilah “pribadi”. Kata itu sekarang mempunyai arti lain dibandingkan dengan arti pada zaman Konsili Konstantinopel dan Kalsedon. Sekarang pun kala itu di Barat (Latin) dan di Timur (Yunani) lain artinya.

Kata Latin persona (seperti kata Yunani prosopon) semula berarti “topeng” (yang dipakai dalam sandiwara dan tarian) dan dengan demikian mengungkapkan sesuatu yang “khusus”, yang “unik”, keistimewaan peran yang mau dimainkan. Di Timur (Yunani) kata itu juga mempunyai arti “wajah”, “penampakan”. Di Barat (Latin) kata persona lebih mendapat arti hukum: subjek yang mempunyai hak dan kewajiban. Kadang-kadang di Timur kata prosopon dapat berarti “subjek”, dengan arti “individu”. Dan berkembanglah arti “penampilan”. Tetapi di Timur tekanan tetap ada pada arti “keunikan”, “kekhususan”. Dengan arti itu kata prosopon juga dipakai untuk membedakan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tetapi kata yang lebih biasa untuk Tritunggal adalah kata hypostasis, yang dengan lebih jelas mengungkapkan keunikan masing-masing; bukan hanya sebagai penampilan, melainkan sebagai kenyataan objektif yang khusus dalam menghayati keallahan bersama – yaitu “hakikat ilahi” (Yunani: ousia; Latin: substantia, essentia). Kekhasan itu adalah perbedaan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, sehingga sebetulnya hanya mau dikemukakan perbedaan atau kekhususan dalam hubungan antara ketiganya. Tetapi Kata hypostasis sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, maka di Barat tetap dipakai kata persona (Yunani: prosopon). Agustinus amat menyadari bahwa kata Latin persona sebetulnya kurang memadai; maka ia menekankan perbedaan dalam hubungan. Kata Yunani hypostasis dan Latin persona kemudian dipakai juga untuk menyatakan bahwa dalam Kristus kemanusiaan dan keallahan bertemu dalam satu subjek.

Kendatipun ada cukup banyak perbedaan dalam istilah yang dipakai di Timur dan di Barat, akhirnya orang terbiasa berbicara mengenai “satu Allah, tiga pribadi”, tanpa cukup memperhatikan ciri khas dan latar belakang istilah itu. Namun, bila kata “pribadi” dimengerti secara modern, sebagai subjek dan pusat kegiatan dan kehidupan, maka dengan demikian dinyatakan bahwa dalam Allah ada tiga pusat semacam itu. Itu tidak tepat, karena kalau demikian sebetulnya berarti bahwa ada tiga Allah. Kalau kata “pribadi” dipahami untuk tiga pribadi ilahi, tekanan memang ada pada keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. “Subjek” kegiatan adalah keallahan. Kendati demikian, walaupun juga dalam filsafat modern pribadi tidak diartikan sebagai sesuatu yang tertutup, melainkan yang mendapat kekhasannya dalam hubungan dengan pribadi lain, tidak dapat disangkal bahwa istilah “pribadi” mudah menimbulkan salah paham.

Kalaupun diakui bahwa komunikasi sosial antarmanusia mempunyai dasar dan titik pangkalnya dalam komunikasi Allah sendiri, tidak dapat disangkal pula bahwa hubungan dan komunikasi dalam Allah lain daripada antarmanusia. Dalam Allah tidak ada pertentangan antara kemandirian dan hubungan, karena Bapa, Putra dan Roh Kudus saling menerima dengan sempurna. Ketiga pribadi justru mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Allah tidak statis, tertutup. Allah mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dasar pemberian diri itulah “komunikasi” dalam diri Allah sendiri. Dalam mengkomunikasikan diri kepada manusia, Allah juga memperlihatkan sesuatu dari diri-Nya sendiri. Tetapi karena Allah tetap Allah, maka pewahyuan itu tetap sulit dirumuskan dengan kata-kata manusia.

2. Kristus dan Roh

Masalah kedua dalam perumusan dogma Allah Tritunggal menyangkut hubungan antara Kristus dan Roh Kudus. Masalah itu terungkap antara lain dalam perselisihan sekitar rumus “dan Putra”, tetapi sebetulnya soal itu lebih luas daripada sekadar rumus itu saja. Dalam Injil Yohanes (7:39) dikatakan: “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”. Itu berarti, kedatangan Roh Kudus menyusul sesudah kebangkitan Kristus. Tetapi Yesus sendiri “dikandung dari Roh Kudus” (syahadat, sesuai dengan Mat 1:18; Luk 1:35). Pada pembaptisan juga dikatakan bahwa “Roh turun atas-Nya dalam rupa burung merpati” (Mrk 1:10 dsj.).

Jadi lama sebelum Yesus dibangkitkan sudah ada Roh Kudus. Bahkan dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus sudah disebut. Menurut Injil sinoptik Roh Kudus tidak tergantung pada Yesus, tetapi justru sebaliknya: “Penuh Roh Kudus Yesus kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (Luk 4:1; lih. ay. 14). Surat Ibrani malah menggambarkan wafat Yesus sebagai “mempersembahkan diri kepada Allah oleh Roh yang kekal” (Ibr 9:14). Mengenai kebangkitan-Nya Paulus berkata: “menurut Roh kekudusan dinyatakan Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati” (Rm 1:4). Dan kalau dikatakan bahwa “semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14), maka jelaslah bahwa Roh menghubungkan kita dengan Allah serupa dengan karya-Nya yang menghubungkan kemanusiaan Kristus dengan Allah. Yesus dan semua manusia lain dipersatukan dengan Allah oleh Roh Kudus. Bagaimana lalu dapat dipertahankan bahwa Roh Kudus tergantung pada Kristus dan kedatangan-Nya baru mungkin, bila Yesus sudah dimuliakan?

Di sini kiranya perlu diperhatikan secara khusus Injil Yohanes. Pada perjamuan terakhir sampai tiga kali Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, tetapi setiap kali janji itu dirumuskan secara lain:

  1. “Roh Kudus akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (14:26; lihat juga ay. 16);
  2. “Penghibur akan Ku utus dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa” (15:26);
  3. “Aku akan mengutus Penghibur kepadamu” (16:7).

Dua kali dengan jelas dikatakan bahwa Yesus sendiri mengutus Roh Kudus, dan selanjutnya masih ditegaskan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu” (16:7). Namun dikatakan pula bahwa Yesus akan mengutus Roh Kudus “dari Bapa”, dengan keterangan “yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa”.

Yesus tidak mengutus Roh dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa. Oleh karena itu pada akhir dikatakan: “Ia (Roh Kudus) akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala yang dimiliki Bapa adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku” (16:14-15). Kristus mengutus Roh, yang diterima-Nya dari Bapa. Maka juga dapat dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh, tetapi tidak lepas dari Kristus juga. Bapa itu Bapa, karena ada Putra. Maka, kalau dikatakan bahwa Bapa yang mengutus Roh Kudus, itu tidak lepas dari Kristus; Ia mengutus Roh sebagai Bapa dari Putra. Bapa tidak pernah lepas dari Putra, dan Putra “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Putra” (Yoh 5:19).

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra, namun tidak sebagai dua sumber tersendiri, melainkan sebagai kesatuan dari Bapa dan Putra. Tetapi betul juga, bila dikatakan bahwa Bapa mengutus Roh melalui atau oleh Putra, dan Yesus baru dapat ikut mengutus Roh Kudus, bila dengan sepenuhnya, juga dalam kemanusiaan-Nya, Ia dipersatukan dengan Bapa dalam kebangkitan, menjadi “Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:4).


D. Arti Dogma Allah Tritunggal

Kalau dogma Allah Tritunggal begitu sulit dirumuskan dan lebih sulit dimengerti, mengapa Gereja berpegang teguh pada dogma dan ajaran itu? Gereja berpegang teguh pada dogma ini karena ini merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah. Isi dogma ini bukan teori, melainkan praktik kehidupan. Isinya tidak pertama-tama mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan mengenai karya keselamatan Allah bagi manusia. Keyakinan pokok yang terungkap di sini ialah bahwa Allah sungguh memberikan diri kepada manusia. Kalau hanya “dengan perantaraan nabi-nabi” (Ibr 1:1), belum Allah sendiri. Maka akhirnya “dengan perantaraan Anak-Nya, yang ditetapkan-Nya sebagai pewaris segala-galanya, karena oleh Dia dibuat-Nya alam semesta” (ay. 2).

Keyakinan dasar ialah bahwa makhluk mana pun tidak dapat menjadi perantara. Harus ada hubungan langsung. Kalau tidak, manusia tidak sungguh “kena”. Oleh karena itu karya keselamatan Allah juga tidak selesai dengan perutusan Putra saja. Manusia baru sungguh dipersatukan dengan Allah, bila Allah sampai ke dalam lubuk hatinya. Itu terjadi oleh Roh “yang menghidupkan”: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lihat juga 6:19). Karena Allah memberikan diri, maka karya keselamatan Allah adalah sekaligus pewahyuan hidup Allah sendiri. Atas dasar yang dibuat Allah terhadap manusia dapat dimengerti (sedikit) bagaimana hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, tetapi yang pokok bukan itu. Wahyu bukan pertama-tama pembagian ilmu, melainkan pemberian hidup. Manusia dianugerahi mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri, yakni dalam cinta Bapa dan Putra dalam Roh Kudus.

Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa liturgi dan doa Gereja itu lebih daripada rumus-rumus ajaran. Gereja selalu berdoa kepada Bapa, dengan perantaraan Putra, oleh Roh Kudus. “Dengan perantaraan Putra” berarti bersama dengan Putra, dan dengan mengikuti teladan-Nya, Sebagaimana Kristus seluruhnya terarah kepada Bapa, begitu juga mereka yang percaya kepada-Nya. Tetapi itu hanya mungkin “oleh Roh Kudus”, sebab “Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan” (Rm 8:26), maksudnya dengan kata-kata ilahi yang tak mungkin dimengerti, jangan lagi diucapkan, oleh manusia. Tetapi “Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” (ay. 27), artinya untuk orang-orang beriman.


E. Tritunggal dan Agama-agama Lain

Trimurti dalam agama Hindu, yaitu penjelmaan Brahman dalam tiga dewa, Brahma, Siva dan Vishnu, kadang-kadang dibandingkan dengan Tritunggal. Kiranya itu tidak tepat, pertama-tama karena Trimurti bukanlah suatu rumusan dogmatis dari sejarah keselamatan. Terutama Trimurti sesungguhnya bukan Brahman (bukan Allah), tetapi penampakannya saja. Maka di sini ada sesuatu yang bisa dibandingkan, bukan dengan Tritunggal, melainkan dengan aneka bentuk modalisme. Selain itu hubungan antara ketiga dewa itu tidak berkaitan dengan karya atau sejarah keselamatan, melainkan masing-masing merupakan penampakan Brahman sendiri, tanpa hubungan jelas satu dengan yang lain. Khususnya antara Siva dan Vishnu tidak ada hubungan langsung. Sesungguhnya harus dikatakan bahwa keserupaan antara Trimurti dan Tritunggal tidak lebih daripada rumus “tri” yang terdapat dalam kedua kata itu. Kecuali itu harus diingat bahwa ajaran agama Hindu mengenai Trimurti berbeda-beda.

Agama Islam menolak mentah-mentah segala pikiran mengenai Allah Tritunggal. Ditolak bahwa Allah mempunyai Anak, dan lebih lagi bahwa ada lebih dari satu pribadi dalam Allah. Penolakan ini terdapat dalam Al-Qur’an sendiri, dan berkaitan dengan pokok iman agama Islam akan Tawhid, Allah wahid wa-ahad (Allah itu esa dan tunggal), yang berarti pula bahwa Allah terpisah total dari segala makhluk. Sejak zaman nabi Muhammad sampai hari ini, ajaran mengenai Tritunggal tetap merupakan titik perselisihan yang pokok antara kaum muslimin dan orang Kristen. Walaupun semula orang Islam hanya mengenal Tritunggal melalui rumusan populer, lama kelamaan mereka mulai memperhatikan latar belakang rumusan Konsili-konsili. Kendati demikian, diskusi sering kali tetap berpusat pada rumus saja, tanpa masuk ke dalam pokok persoalan. Padahal, sejauh ajaran mengenai Tritunggal mau merumuskan hubungan Allah dengan manusia, secara langsung menyangkut soal wahyu, dan mempunyai arti bagi kaum muslimin juga. Kiranya pokok persoalan terletak dalam “pengantara” antara Allah dan manusia. Agama Islam melihat Al-Qur’an sebagai pengantara itu, sedangkan bagi orang Kristen “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5).

Asal usul Yesus Kristus

Syahadat berbicara singkat sekali mengenai awal hidup Yesus di dunia, “Ia menjadi manusia oleh Roh Kudus dari Perawan Maria”. Syahadat panjang sebetulnya malah berkata “menjadi daging“; yang dimaksudkan “manusia lemah”. Arti kata “oleh Roh Kudus, dari Perawan Maria” menjadi jelas dari syahadat pendek: “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Yang dimaksudkan sudah jelas: Anak yang lahir dari Maria, bukan anak biasa, melainkan Anak Allah. Dan – seperti telah ditetapkan melawan Nestorius – itu tidak berarti bahwa Maria melahirkan seorang anak biasa, yang kemudian dimasuki Firman Allah. Anak yang lahir dari Santa Perawan, dari semula, artinya dari saat dikandungnya, sudah Anak Allah. Hal itu mau dinyatakan dengan kata-kata “dikandung dari atau oleh Roh Kudus”. Sama seperti semua kata lain dari syahadat, juga kata-kata ini hanya mau merumuskan apa yang sebetulnya sudah dikatakan di dalam Kitab Suci.

Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas (bab 1-2). Matius (bab 1-2) juga mengisahkan masa kanak-kanak Yesus, tetapi dengan lebih berpusat pada St. Yusuf. Di sana dibicarakan kebingungan Yusuf, ketika menyadari bahwa Maria mengandung; sementara kelahiran Yesus sendiri tidak diceritakan. Dalam cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kelahiran Yesus ada perbedaan antara Lukas dan Matius. Lukas menyebut kedatangan para gembala (Luk 2:8-20); penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah (Luk 2:21-40) dan Yesus yang pada umur dua belas tahun tinggal di kenisah (Luk 2:41-52). Sedangkan Matius menceritakan kunjungan para sarjana dari Timur (Mat 2:1-12), pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15.19-23), dan pembunuhan kanak-kanak di Betlehem (Mat 2:16-18).

Mat 1-2 dan Luk 1-2 mempunyai ciri-ciri sendiri. Keduanya tidak bermaksud memberikan informasi baru, melainkan menerangkan (dalam bentuk cerita) misteri Kristus sebagai manusia yang adalah Anak Allah. Hal itu sudah kelihatan dari fakta bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 baru ditulis lebih kemudian (Markus, sebagai Injil paling tua, tidak mempunyai kisah kanak-kanak Yesus; sedangkan Yohanes mempunyai suatu uraian lebih “teoretis” mengenai misteri pribadi Yesus pada awal Injilnya). Gereja pada waktu itu tidak hanya bertanya siapa Yesus, melainkan juga dari mana Ia datang dan bagaimana semua itu terjadi. Soal itu dijawab oleh Matius dan Lukas, masing-masing dengan caranya sendiri, kendati kedua-duanya mengajarkan yang sama, yakni:

  1. Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan (Mat 1:18.24-25; Luk 1:27.34; 2:4-7);
  2. Maria menerima kabar dari malaikat mengenai anak yang akan dilahirkannya (Mat 1:20-21; Luk 1:28-30);
  3. Maria akan mengandung karena Roh Kudus (Mat 1:18; Luk 1:35);
  4. Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Mat 1:16.20; Luk 1:27; 2:4), tidak tahu mengenai hal itu (Mat 1:18-25; Luk 1:34);
  5. Anak yang akan lahir harus diberi nama Yesus (Mat 1:21; Luk 1:31), sebab Ia Penyelamat (Mat 1:21; Luk 2:11), anak Daud (Mat 1:1; Luk 1:32).

Di samping lima hal pokok itu juga diceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (Mat 2:1; Luk 2:4-7); sesudah itu Maria dan Yusuf menetap di Nazaret (Mat 2:22-23; Luk 2:39.51). Hal itu terjadi pada zaman raja Herodes (Mat 2:1; Luk 1:5).

Semua peristiwa itu menceritakan kelahiran Yesus yang serba istimewa, mulai saat Ia dikandung oleh Perawan Maria. Peristiwa sesudah kelahiran-Nya dalam Injil Lukas tidak lain daripada yang lazim terjadi dalam suatu keluarga Yahudi, dengan ciri-ciri tertentu, yang menggarisbawahi misteri pribadi Yesus. Sebaliknya kisah mengenai sarjana dari Timur (Mat 2:1-12) serta pengungsian ke Mesir dan pembunuhan di Betlehem (Mat 2:13-23) mau memperlihatkan bahwa Yesus itu cahaya para bangsa dan Hamba Allah yang harus menderita untuk dan karena bangsa-Nya

Belum tentu semua itu terjadi tepat sebagaimana diceritakan, lengkap dengan semua detailnya. Kisah ini ditulis guna menjelaskan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, Anak Allah dan anak Maria. Khususnya kisah Lukas mengenai Maria, mengatakan hal itu dengan jelas sekali. Lima hal pokok yang disebut di atas semua memperlihatkan hal itu, terutama cerita mengenai kunjungan malaikat. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara lebih seksama: Maria yang mengandung dari Roh Kudus; dan Maria yang tetap perawan yang kait-mengait.

Manusia dan Ekologi

Kesadaran manusia sebagai “gambar Allah”, “wakil Allah”, “pusat dunia” ini dapat menyeret manusia menjadi pengisap alam semesta, penguasa sewenang-wenang terhadap ciptaan lain. Kesadaran itu seharusnya mengundang manusia ikut serta mengatur, memelihara, menciptakan kembali dunianya. Manusia hanyalah bagian dari seluruh ciptaan dan hidupnya disangga oleh alam semesta. Maka dari itu perlulah “gambar Allah” tidak hanya dimengerti secara personal, melainkan juga sosial dan ekologis, dalam hubungan dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama dan kehidupan alam semesta. Dengan demikian manusia menjadi pelayan dalam keterarahan dunia kepada Allah. Tetapi ternyata, khususnya dalam abad ke-20 ini, manusia tidak menjalankan tugas ini dengan baik. “Keseimbangan lingkungan yang halus, dijungkirbalikkan dengan menghancurkan secara membabi buta hidup binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan atau dengan menghabiskan sumber-sumber alam secara tak bertanggungjawab,” kata Paus (Amanat bagi Hari Perdamaian Dunia, 8 Desember 1989).

“Sumber-sumber alam seperti minyak, logam, mineral, dihabiskan tanpa memikirkan masa depan, Produksi barang-barang kimia, seperti plastik, tetapi juga pestisida, meracuni alam dan memenuhi dunia dengan sampah yang bertimbun-timbun. Pencemaran oleh industri dan pupuk buatan merusak tanah, air dan juga udara. Segala macam obat untuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, mempunyai aneka macam akibat-samping yang tak terkendalikan. Energi atom dan terutama senjata-senjata nuklir merupakan ancaman terus-menerus bagi kehidupan dunia. Banyak tindakan manusia mengubah struktur alam, tidak hanya di tempat yang bersangkutan tetapi di seluruh dunia, bahkan sering tanpa diketahui orang. Seluruh alam semesta, sampai lapisan ozon yang meliputi dunia, telah terkena pencemaran lingkungan. Malahan, kata Paus Yohanes Paulus II, “tidak cukup menyebut hanya kerugian besar yang sudah dibuat terhadap lingkungan alam. Kita harus memberi perhatian, dan malah lebih banyak, kepada apa yang setiap hari harus diderita oleh orang-orang karena segala macam pencemaran, makanan buatan atau yang berbahaya, lalu-lintas yang tak terkendalikan yang membuat udara tidak sehat lagi” (Peringatan Rerum Nooarum, 15 Mei 1991).

Dengan tegas Paus Yohanes Paulus II meneruskan,

“Manusia, yang menemukan kemampuannya untuk mengubah dan dalam arti tertentu menciptakan dunia dengan usahanya sendiri, lupa bahwa semua itu berdasarkan karya Allah yang sebelumnya secara dasariah menyediakan semua hal yang ada, Manusia mengira bahwa ia dapat memanfaatkan dunia semaunya, dengan menundukkannya tanpa batas pada kehendaknya sendiri; seolah-olah tidak ada syarat-syarat tertentu dan tujuan yang oleh Tuhan sendiri diletakkan di dalamnya, dan yang memang dapat dikembangkan oleh manusia, tetapi tidak boleh disangkal. Manusia tidak mau memainkan peranannya dengan bekerja sama dengan Allah, tetapi mau menduduki tempat Allah sendiri dan dengan demikian malah menimbulkan semacam pemberontakan pada pihak alam, yang lebih dijajah olehnya daripada diatur” (Centesimus Annus, 2 Mei 1991).

Tentu saja bukan hanya Paus Yohanes Paulus II yang melihat masalah ini. Semua orang sadar akan bahaya yang mengancam umat manusia dewasa ini. Disadari pula secara umum, bahwa manusia bekerja dengan tidak bertanggungjawab. Tetapi juga hampir seluruh dunia tidak mengetahui bagaimana dapat keluar dari ancaman ini. “Masalah lingkungan sekarang menjadi begitu luas, sehingga tidak hanya dituntut perhatian kita yang penuh, tetapi juga keterlibatan total, baik pada taraf .ilmu maupun dalam keputusan-keputusan politik. Penemuan kembali keseimbangan dalam lingkungan hanya dapat terjadi kalau mau kembali kepada pemahaman yang benar mengenai kuasa manusia atas alam” (Sambutan Paus Yohanes Paulus II pada Kongres Internasional mengenai Ekologi, 25 Agustus 1990). Itu berarti “prioritas etika atas teknologi, prioritas pribadi manusia atas benda-benda, dan keunggulan roh atas materi’ (RR 16), Lalu, ditarik kesimpulan:

” … tidak mungkin memakai seenaknya aneka macam makhluk, entah hidup entah tidak – binatang, tumbuh-tumbuhan, bahan-bahan mentah – menurut kehendaknya sendiri, sesuai dengan kebutuhan ekonomis sendiri, Sebaliknya, harus diperhitungkan kekhususan masing-masing dan hubungan timbal-balik dalam suatu sistem tersusun, yang disebut ‘kosmos’.

Kedua, perlu disadari, bahwa sumber-sumber alam terbatas; dan ada yang tidak dapat diperbaharui lagi. Kalau dipakai seolah-olah tidak dapat habis, dengan semacam penguasaan mutlak, maka akan ada bahaya sungguh-sungguh bahwa tidak lagi tersedia, bukan hanya untuk angkatan ini, tetapi terutama untuk angkatan-angkatan yang akan datang.

Ketiga, dan ini menyangkut secara langsung akibat-akibat perkembangan mutu kehidupan dalam daerah-daerah industri: semua orang mengetahui bahwa akibat langsung atau tidak langsung dari industri, yang semakin kerap terjadi, ialah pencemaran lingkungan, dengan konsekuensi berat untuk kesehatan rakyat” (SRS 34).

Karena proses penyadaran ini harus terjadi pada taraf mondial atau global, maka di sini terdapat panggilan khusus umat beriman, yang mengakui bahwa “penguasaan yang diberikan kepada manusia oleh Sang Pencipta bukanlah suatu kuasa mutlak, dan juga tidak dapat dikatakan bahwa manusia bebas menggunakan dan menyalahgunakan atau memakai barang-barang sekehendak hatinya sendiri. Sebab jelas sekali bahwa perkembangan dan perencanaannya, serta cara memakai sumber-sumber, tidak dapat terjadi tanpa mengindahkan tuntutan moral” (SRS 34). Mewartakan dan memperlihatkan dalam praktik hidup tuntutan ini, merupakan tugas panggilan seluruh umat beriman. Untuk itu perlu juga kesatuan dan kerja sama semua orang yang taat kepada Sang Pencipta. Sebab kalau terisolasi di tempatnya sendiri manusia tidak atau kurang melihat akibat-akibat perbuatannya. Apa yang secara spontan diketahui dan diperhatikan para petani di ladang mereka sendiri, yakni bahwa tanah tidak boleh dibebani melampaui kemampuannya, tidak lagi dilihat dan disadari oleh mereka yang lahir dan dibesarkan di pusat-pusat industri atau di kota-kota besar. Globalisasi tidak hanya menyangkut masalah lingkungan, tetapi juga hubungan antara manusia. Orang bukan lagi penghuni sebuah desa atau kota saja. Sebagai penghuni dunia ia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap dunia seluruhnya. Segala sesuatu memang diciptakan untuk manusia, tetapi tidak untuk manusia individual saja. Ia tidak lepas dari dunia sekitarnya, melainkan dalam kesatuan organik dunia dengan manusia.

Segala Sesuatu Berasal dari Allah

Kesadaran iman ini dirumuskan dengan jelas sekali pada awal Kitab Suci, dalam dua kisah khusus. Yang pertama (Kej 1:1-2:4a) menceritakan “riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan” (2:4a). Dan yang kedua (Kej 2:4b-25) secara khusus menceritakan penciptaan Adam dan Hawa, sebagai pengantar pada kisah mengenai dosa manusia pertama (Kej 3:1-24). Kedua kisah ini merupakan perumusan iman dalam bentuk cerita, yang sedikit banyak bersifat puisi. Memang, hampir semua teks Kitab Suci mengenai penciptaan berupa puisi, misalnya Mzm 33:6-9:

“Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan,
oleh napas dari mulut-Nya segala tentaranya.
Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan,
Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah.
Biarlah segenap bumi takut kepada Tuhan,
biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!
Sebab Dia berfirman, maka semua jadi;
Dia memberi perintah, maka semuanya ada”
(Lih. Juga Mzm 8; 19:1-7; 104; Ayb 38:4-11; dsb.).

Kitab Suci tidak mau memberikan suatu uraian mengenai proses terjadinya dunia, melainkan mengungkapkan reaksi orang yang melihat semua itu terbentang di mukanya, “Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: Siapa yang menciptakan semua bintang itu, dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia mahakuasa dan mahakuat” (Yes 40:26).

Oleh karena itu, tidak ada gunanya mencari tahap-tahap dalam teori evolusi yang cocok dengan enam hari yang disebut dalam Kej 1:1-2:4a. Enam hari itu hanyalah kerangka untuk melukiskan seluruh karya penciptaan, dengan puncaknya hari Sabat, ketika Allah “berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya” (Kej 2:3). Begitu juga meleset sama sekali, kalau mencoba menentukan dari tulang rusuk Adam yang ke berapa Tuhan membentuk Hawa (Kej 2:21). Ini bahasa puitis yang hendak mengungkapkan kesatuan mesra antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana diciptakan oleh Tuhan. Sebab itu, sebetulnya juga tidak penting apakah secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa sejarah dunia dimulai pada saat tertentu. Teori bahwa materi itu “abadi” juga tidak bertentangan dengan kisah penciptaan, yang mengatakan bahwa Tuhan adalah dasar dan asal-mula segala-galanya. Kisah penciptaan tidak berbicara mengenai sejarah penciptaan, tetapi mengenai arti penciptaan, yakni bahwa segala yang ada dan dunia seluruhnya berasal dari Allah dan tergantung pada-Nya.

Untuk menjawab pertanyaan mengenai awal alam semesta dalam ilmu astronomi ada dua pandangan: teori ledakan besar (big bang) dan teori keadaan ajek (steady state). Teori pertama untuk pertama kalinya dikemukakan pada tahun 1929 dan sekarang diikuti oleh kebanyakan ahli astronomi. Menurut teori ini sejarah alam semesta mulai dengan segumpalan materi yang amat padat dan panas, yang sekonyong-konyong mulai meluas dan karena itu mendingin. Peristiwa dahsyat ini diperkirakan terjadi antara 10.000.000.000 dan 20.000.000.000 tahun yang lampau dan secara metaforis disebut “ledakan besar”. Dalam proses pendinginan bahan-bahan materi mulai terbentuk dan lama-kelamaan terwujudlah bintang-bintang dan seluruh alam semesta. Proses meluas masih berjalan terus, sehingga dunia tidak hanya diperkirakan mempunyai awal, tetapi juga akan berakhir. Teori keadaan ajek juga mengakui bahwa alam meluas terus. Tetapi ada suatu keseimbangan dalam materi, sehingga proses ini dapat berjalan terus tanpa awal dan tanpa akhir, Materi sendiri terus-menerus menghasilkan atom-atom dan juga bintang-bintang yang baru dan “membuang” yang lama. Walaupun teori ini mau menjawab sejumlah soal yang tidak terjawab dalam teori yang pertama, pada umumnya teori ini kurang diterima. Tetapi teori-teori ini, baik yang pertama maupun yang kedua, tidak berhubungan langsung dengan iman akan penciptaan. Sebab teori astronomi ini merupakan hipotesa-hipotesa yang dibuat atas observasi alam sekarang, yang memang memperlihatkan gejala “meluas” dan berkembang. Teori-teori ini berusaha merumuskan proses-proses yang sedang bekerja dalam alam semesta. Mengenai dasar atau sumber kehidupan alam teori-teori ini tidak berbicara.

Kitab Suci berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah dan juga hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam buku Kebijaksanaan, Raja Salomo berkata,

“Aku menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya: ‘Allah nenek moyang dan Tuhan belas-kasihan, Dengan firman-Mu telah Kau jadikan segala sesuatu, dan dengan kebijaksanaan Kau bentuk manusia, agar ia menguasai segala mahluk yang telah Kau ciptakan, dan memerintah dunia semesta dengan suci dan adil serta memegang kekuasaan dengan tulus hati’” (Kej 9:1-3).

Dalam Kitab Suci manusia merupakan penguasa seluruh dunia: “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej 1:28). Ia adalah wakil Allah: “Menurut gambar Allah ia diciptakan” (Kej 1:27). Maka ia “memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan” (Kej 2:20). Manusia adalah pusat alam semesta (Sir 17: 3-10).

Kitab Suci sebagai buku iman terpusatkan pada manusia dan arah hidupnya kepada Allah. Bahkan menurut Konsili Vatikan II, “kaum beriman maupun tak beriman hampir sependapat, bahwa segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya” (GS 12).

Ajaran Kitab Suci mengenai Keadilan

Biasanya tuntutan-tuntutan keadilan sosial dibicarakan berhubungan dengan firman ke-7, ke-8, dan ke-10 dari 10 Perintah Allah: Jangan mencuri, Jangan bersaksi dusta terhadap saudaramu! Jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil! Jelaslah bahwa larangan-larangan itu semua berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut hidup sosial. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa rumus ketiga firman ini (dan mungkin juga isinya) tidak tepat sama dengan rumus di dalam Kitab Suci. Ketiga firman itu mengalami perkembangan dalam rumusan maupun dalam maksud. Maka sebaiknya diperhatikan perkembangan itu agar maksudnya dapat dimengerti dengan tepat.

Rumus firman ke-7 memang secara harfiah sama seperti Kel 20:15 dan Ul 5:19, “Jangan mencuri”. Tetapi yang dimaksud dalam Kitab Suci barangkali: Jangan mencuri orang! Jangan menculik orang dan kemudian menjual dia sebagai budak, sebagaimana dengan jelas dikatakan dalam Kel 21:16, “Yang menculik seorang manusia, entah sudah menjualnya entah masih memilikinya, harus mati”. Menculik dianggap sama dengan membunuh. Merampas kebebasan seseorang sama dengan mengambil hidupnya. Kendati perbudakan cukup umum dalam masyarakat kuno, tradisi Israel mengecamnya: “Kalau seseorang kedapatan menculik salah seorang saudara, seorang Israel, dan memperbudak dia, maka harus matilah si penculik itu” (Ul 24:7). Orang Israel tidak boleh diperbudak sebab “mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari Mesir”, sabda Tuhan, “janganlah mereka itu dijual sebagai budak” (Im 25:42). Kalaupun untuk melunasi utangnya seorang Israel terpaksa menjual diri dan keluarganya, mereka harus dibebaskan pada tahun kelima puluh, pada tahun kesukaan Tuhan.

Dalam masyarakat kuno Timur Tengah, perbudakan pertama-tama berarti kerja paksa untuk melunasi utang. Selain itu, ada budak-budak tawanan perang atau “orang asing” dari luar negeri yang dijual di Israel. Orang yang lahir dari budak otomatis menjadi budak. Ada kalanya dalam masyarakat feodal, budak-budak diperlakukan sama seperti orang biasa; dalam masyarakat modern orang yakin perbudakan menginjak martabat manusia. Agama Kristen – kendati menegaskan bahwa semua orang anak Allah – tidak menentang praktik perbudakan di masyarakat Romawi kuno, tetapi mengajarkan sikap praktis yang “manusiawi” terhadap para budak. Dalam praktik, khususnya pada masa perang, ajaran human itu sering dilupakan. Dibutuhkan waktu amat lama, sampai keyakinan iman akan Allah yang menebus semua manusia, terwujud juga dalam usaha menghapus perbudakan. Bahkan pada waktu di Eropa Barat perbudakan mulai dihapus, di daerah jajahan Spanyol dan Portugis, Inggris dan Belanda malah dikembangkan. Protes dan aksi sosial para misionaris berdampak sangat kecil (dan kadang-kadang diakhiri dengan pengusiran para misionaris). Gerakan-gerakan revolusioner di abad ke-18 dan ke-19 berusaha supaya perbudakan dihapus secara radikal. Pada tahun 1948, dalam Deklarasi Hak-hak Asasi Manuela oleh PBB, “institusi” perbudakan secara resmi dilarang. Namun sampai sekarang tetap berlaku peringatan Paus Leo XIII: buruh jangan diperlakukan sebagai budak.

Firman ke-10 biasanya dihubungkan langsung dengan firman ke-7: “Jangan mencuri dan jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil.” Tetapi, sebagaimana perintah ke-7 dalam Perjanjian Lama mempunyai arti yang lebih khusus, begitu juga perintah ke-10. Pertama-tama perintah ini melarang orang “mengingini” rumah sesama (Kel 20:17), yakni memakai macam-macam siasat guna memperoleh pusaka sesama, tanahnya, rumah dan segala isinya, termasuk istrinya! “Menculik” adalah ketidakadilan terhadap pribadi sesama, “mengingini milik pusakanya” juga merupakan tindakan yang tidak adil karena merongrong hidup sesama, biarpun secara tidak langsung. Dalam Ul 5:21, dipakai dua kata yang senada: dilarang terlebih dahulu mengingini istri sesama dan selanjutnya menghasratkan rumah, ladang dan semuanya yang lain; dan begitulah mulai dibedakan larangan mengingini istri sesama (yang dekat dengan perintah ke-6) dan larangan menghasratkan milik sesama (yang dekat dengan perintah ke-7). Selanjutnya ditekankan, bahwa “dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan” (Mrk 7:21-22). Keadilan mulai dalam pikiran dan hasrat hati dan tidak hanya menyangkut kebebasan sesama atau harta-pusakanya, tetapi juga nama baiknya dan kepastian hukum.

Dalam firman ke-8 dikatakan, “Jangan bersaksi dusta”. Kitab Suci tidak berkata “saksi dusta terhadap sesamamu”, melainkan “saksi dusta tentang sesamamu”, sebab semula perintah ini menyangkut kesaksian di pengadilan. Dengan kesaksian palsu orang dicelakakan, karena ia dihukum tidak adil (mungkin malah dihukum mati) dan tata keadilan dijungkirbalikkan. Sebetulnya masalahnya bukan “bohong”, melainkan tidak adanya lagi kepastian hukum yang dapat diandalkan. Maka, dikatakan dalam Kel 23:1-3.6-8:

“Jangan menyebarkan kabar bohong!
Jangan memihak si jahat dengan memberi kesaksian salah!
Jangan membiarkan diri diseret ke dalam kejahatan oleh massa!
Jangan, kalau memberi kesaksian dalam pengadilan,
bersekongkol dengan orang kebanyakan untuk membelokkan keadilan!
Jangan berat-sebelah terhadap orang kecil dalam pengadilan!
Jangan merampas hak orang miskin di pengadilan!
Jauhilah penipuan!
Jangan membunuh orang baik dan benar! Jangan menerima suap!”

Semua itu diringkas dalam Ul 16:19, “Jangan memutar-balikkan hukum; jangan memandang bulu; dan jangan menerima suap”. Inilah maksud firman ke-8. Di muka pengadilan orang menyatakan kesetiaannya baik terhadap si terdakwa, sesama manusia, maupun terhadap masyarakat, umat Allah. Sebab dalam umat Allah, “pengadilan adalah kepunyaan Allah” (Ul 1:17), yakni kepunyaan “Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar” (Ul 32:4).

Dalam umat Allah, keadilan itu bersifat sosial dan religius sekaligus, karena dalam umat Allah hidup adil diatur sesuai dengan hukum dan dengan hidup adil diwujudkan perjanjian Allah dengan umat-Nya. Hukum macam itu diberikan Tuhan dengan perantaraan Musa. Tuhan sendiri disebut “adil”, karena Ia setia dan bertindak sesuai dengan perjanjian. Demi kesetiaan yang sama dan menurut kehendak Allah, umat Allah harus hidup adil dalam paguyuban manusia, sebagaimana diungkapkan dalam hukum, Orang harus “bersumpah dalam kesetiaan, dalam keadilan dan dalam kebenaran” (Yer 4:2). Dengan menjaga hak dan keadilan antarsesama, orang menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan dan perjanjian-Nya. Maka bagi umat Allah, keadilan bukan hanya keseimbangan sosial dan tata-tertib hukum; di hadapan Allah, keadilan menyangkut sikap hati yang setia terhadap Allah. Keadilan Allah terhadap manusia adalah kesetiaan-Nya; kesetiaan umat terhadap Allah terwujud dalam keadilan di ruang pengadilan dan dalam seluruh hidup masyarakat.

Tuhan memperlihatkan keadilan-Nya bukan hanya dengan menghukum, melainkan terutama dengan memberi ampun: “Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang” (Mzm 116:5). Tuhan itu setia, bukan pertama-tama kepada perjanjian melainkan kepada manusia yang dikasihi-Nya. Keadilan Allah yang setia berwujud cinta dan belas kasihan; maka dalam umat yang setia pada Allah, keadilan tidak dapat dibatasi pada keseimbangan hak dan kewajiban. Di hadapan Allah yang adil dalam belas kasih-Nya, keadilan sosial mesti berwujud cinta dan belas kasihan. “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm 85:11), walaupun tempatnya yang utama adalah ruang pengadilan (lih. Ul 16:18-20).

Perjanjian Baru dengan Allah mesti memperbarui juga keadilan antar manusia. Khotbah di bukit menuntut, agar jemaat Kristus menjalankan keadilan yang melebihi keadilan para ahli Taurat dan mengatasi prinsip “mata ganti mata, gigi ganti gigi”: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Dengan melawan dan membalas, kejahatan tak pernah akan diatasi. Guna membangun keadilan, di tengah-tengah kecurigaan dan kecurangan perlu awal baru: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian terlebih dahulu kepada mereka, itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 7:12). Menurut Yesus, “seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” tergantung pada dua hukum kasih yang oleh Yesus dipersatukan: kasih yang mengerjakan keadilan pada sesama dan kasih setia pada Allah yang demi kesetiaan-Nya membenarkan manusia (Mrk 12:29-31).