Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)


..sambungan dari Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)..

Keberatan dari umat Kristen Protestan atas Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik secara garis besar bermula dari kecurigaan-kecurigaan dari umat Kristen Protestan yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran mereka yang cenderung moderen, digital, dan terutama pemikiran ‘salah satu’-‘atau’ (‘salah satu‘ : tidak bisa keduanya, tidak bisa Maria dan Yesus. ‘atau‘ : tidak bisa ‘dan‘, yang bisa adalah Maria atau Yesus). Mereka takut bahwa Maria akan menyaingi atau mengambil alih pemujaan Umat Kristen dari Yesus Kristus. Dibandingkan dengan Mentalitas Katolik adalah Mentalitas ‘keduanya’-‘dan’ untuk hampir semua hal. Mentalitas Katolik yang ‘salah  satu’-‘atau’ hanya berlaku bagi permasalahan baik atau jahat, kesucian atau dosa, surga atau neraka, “kehendak-ku yang lah terjadi” atau “kehendak-Mu (Allah) lah yang terjadi”… tidak keduanya. Selain dari hal-hal itu, Mentalitas Katolik adalah ‘keduanya’-‘dan’.

Kita telah melihat penekanan hal mengenai Inkarnasi (pada hal tubuh, materi, kodrat, dan sakramen-sakramen) merupakan hal-hal yang biasa ditemukan pada Katolik. Begitu juga tidak mengherankan bahwa diketahui penekanan hal mengenai Maria juga biasa ditemukan pada Katolik. Sebab pada Maria lah peristiwa Inkarnasi terjadi!

Maria memberikan Kristus tubuh-Nya. Hal ini adalah fakta. Umat Kristen Protestan juga mempercayai fakta ini sama seperti umat Katolik. Hanya saja Katolik lebih merenungkan fakta tersebut, dan konsekuensi dari fakta tersebut.

Gereja juga merupakan tubuh Kristus, “Kelajutan dari tubuh Kristus”. Oleh karena itu lah tidak mengherankan bahwa Katesikismus Gereja Katolik (KGK) menyebut Maria sebagai salah satu simbol dari Gereja dan juga menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja” (Bunda dari Gereja).

Dari semua makhluk ciptaan Allah, Maria adalah yang terindah. Karena (1) Manusia adalah yang paling indah diantara ciptaan Allah (dan juga; manusia adalah makhluk ciptaan yang paling buruk ketika manusia ternoda dengan dosa: corruptio optimi pessima), (2) seorang santo/santa (orang kudus) adalah manusia yang paling indah, dan (3) Maria adalah yang terbesar dari antara semua orang santo/santa (orang kudus).

Keindahan manusia itu lebih dari sebatas kulit. Jika ada umat Protestan benar-benar dapat melihat keindahan dari Maria ini namun mempunyai penolakan teologi terhadap doktrin Katolik mengenai Maria, maka umat Protestan tersebut telah melihat dengan benar meskipun pemahaman teologinya tidak tepat. Tetapi jika ada umat Protestan yang secara tidak sadar (atau sebelum umat Protestan tersebut mempunyai penolakan teologi secara sadar) tidak melihat keindahan dari Maria, dan merasa “hambar” – tidak merasa “tertarik” – dengan cinta Katolik terhadap Maria, maka umat Protestan tersebut memiliki pemikirian yang sangat mirip dengan paham Gnostik dan Manikeisme: yaitu suatu paham yang ‘enggan’ dan mencoba berpaling dari iman akan Kristus yaitu Inkarnasi, karena mereka berpendapat dan memahami Inkarnasi merupakan hal yang terlalu besar, terlalu kasar, terlalu dekat, dan terlalu bersifat kongkrit, realitas, dan nyata.

Dengan demikian dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik dan keberatan pihak Protestan bukanlah terutama dikarenakan materi perdebatan atau argumen, melainkan dikarenakan cara pandang. Ketika Katolik telah mengemukakan argumen-argumen dan menjawab keberatan-keberatan dari pihak Protestan dengan lengkap, apakah dengan demikian mata-hati dari pihak Protestan tetap masih menyangkal dengan mengatakan ‘tidak’? Jika benar mereka masih menyangkal, hati mereka berpaling dan menolak dari kepenuhan semua hal mengenai Inkarnasi.

Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)


Lambang atau ikon Katolik yang paling umum di dunia setelah Salib adalah Maria dan Yesus, Maria bersama Putranya. Terkadang kita sering menemukan gambar atau patung Yesus seorang diri tanpa bersama Maria, tetapi jarang menemukan Maria tanpa bersama Yesus. Dan jika pun kita menemukan Maria sedang sendirian, dia sedang menunjukkan kita kepada Yesus. Itulah yang seluruh hasrat hati Maria. Pihak Protestan khawatir kalau Maria akan mengalihkan perhatian umat Kristen dari Yesus Kristus, namun yang sebenarnya adalah tidak ada hal lain atau seorang pun yang lebih Kristus-sentris (berpusat kepada Kristus) dibandingkan dengan Maria. Dalam salam Elisabet yang diucapkannya kepada Maria, bagian dari salam itu yang menyenangkan hati Maria, dan yang paling diperhatikan adalah “diberkatilah buah rahimmu”; atau dalam doa dasar umat Katolik yaitu Salam Maria  ada pada bagian … “terpujilah  buah tubuh mu Yesus” ..

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. (Lukas 1:42-45)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin. (Doa Dasar – Salam Maria)

Oleh karena itu, bagaimana mungkin hal tersebut suatu kesalahan meminta Maria agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Yesus sebesar cintanya Maria kepada Yesus Putranya, atau meminta Yesus agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Maria seperti cinta Yesus kepada Ibu-Nya?

Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik, seperti Konsepsi Tidak Bernoda dan Maria diangkat ke Surga, adalah dogma-dogma yang menjadi batu sandungan yang terbesar dan yang terakhir bagi umat Kristen Protestan yang ingin bersatu kembali ke Gereja Katolik. Bagi umat Katolik hal ini cukup aneh, karena walaupun dogma-dogma tersebut dianggap oleh umat Protestan sebagai “tambahan-tambahan” dari pihak Katolik dan dapat disalahartikan sebagai hal penyebab terganggunya fokus umat kepada Kristus, “menyaingi” Kristus, atau menjadi “pengganti” Kristus; umat Katolik memahami bahwa tidak ada satu hal atau seorang pun yang paling dekat kepada Kristus selain Maria Ibu-Nya (kecuali Allah Bapa-Nya dan Roh Kudus).

Hal-hal alkitabiah yang diutarakan oleh pihak Protestan mengarahkan penegasan Kepenuhan Keilahian Kristus. Pihak Protestan adalah (condong) Kristus-sentris. Tetapi begitu juga dengan Maria, begitu juga doktrin dogma-dogma Gereja mengenai Maria. Satu demi satu dari sekian banyaknya gelar yang diberikan oleh Gereja kepada Maria adalah untuk menjaga dan sebagai pujian dan peng-agung-an terhadap Keilahian Anaknya. Contoh klasiknya adalah “Bunda Allah”. Jika Maria bukanlah “Bunda Allah”, maka begitu juga Kristus bukan Allah (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Keilahian Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Arian); atau jika Maria bukan Ibu dari Yesus Kritus (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Kemanusiaan Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Docetis).

Keagungan Maria adalah pengagungan materi, manusia, penciptaan, Gereja, dan alam. Keagungan tersebut adalah konsekuensi yang paling pertama dari Inkarnasi dan “prinsip inkarnasi” dimana Rahmat Allah menyempurnakan Alam. Konsekuensi ini seperti riak air pada suatu kolam, dimana riak tersebut berbentuk lingkaran dan bergelombang menyebar luas ke luar dari pusat lingkarannya; dan penyebab riak air tersebut adalah suatu Batu yang jatuh dari Surga. Riak air yang disebabkan Batu tersebut bergerak meluas ke luar dari Kristus kepada Maria; kemudian kepada bangsa Israel; kemudian kepada Israel yang Baru, yaitu Gereja; kemudian kepada semua umat manusia; kemudian kepada semua alam, kepada semua hal materi, kepada semua ciptaan, yang kesemuanya itu sejak mulanya dipenuhi oleh Allah dengan hidup-Nya, hidup Allah sendiri seperti yang dikatakan dalam Alkitab kepada kita pada Roma 8:18-23.

Malaikat Allah mendatangi dan menyatakan kepada Maria bahwa dia “yang dikaruniai” (lebih jelas dan tegas dalam Alkitab terjemahan versi Douay-Reihms “full of grace”, atau lebih dikenal oleh umat Katolik dengan istilah “penuh rahmat”). Lalu pertanyaanya adalah seberapa besar karunia yang diberikan? seberapa “penuh” rahmat yang diberikan? Ukuran karunia/rahmat bagaimanakah yang dapat diberikan oleh Allah kepada suatu ciptaan belaka? … untuk menjawab pertanyaan itu: Lihatlah kepada Maria, maka akan terjawab. Apakah benar Allah mau berbaik hati, bermurah hati sedemikian rupa? Lihatlah kepada Yesus Kristus untuk menjawab pertanyaan itu.

Yesus sendiri menyerahkan Ibu-Nya, Maria kepada kita, ketika Yesus disalib, ketika dia berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, dan Yesus menyerahkan kita kepada Maria pada waktu yang sama dengan berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26-27). Untuk mengikuti kehendak Yesus Kristus secara penuh adalah menuruti apa yang Yesus minta hingga pada permintaan-Nya yang terakhir sewaktu Dia masih di dunia sebelum Dia wafat.

Yesus Kristus sebenarnya telah memberikan Ibu-Nya, Maria, kepada kita ketika Kristus belum Inkarnasi (pra-Inkarnasi – Logos), atau Sabda (Pikiran) dari Allah; Kristus telah memilih, menentukan sejak awal (mentakdirkan) Maria untuk menjadi Ibu-Nya. Kristus lah satu-satunya dalam sejarah dapat memilih Ibu-Nya sendiri. Kemudian Maria dengan pernyataanya “menerima” (“…; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” [Lukas 1:38]) melahirkan Yesus ke dunia dan kemudian Yesus menjadi Juru Selamat untuk kita. Maria secara harfiah adalah juga “pembawa kebahagiaan kita”, dan juga pembawa keselamatan kita, karena: (1) Maria adalah Ibu dari Yesus Kristus, dan (2) seorang Ibu adalah pembawa, yang mendatangkan Yesus, dan (3) Yesus adalah Kebahagiaan kita dan Keselamatan kita.

..bersambung ke Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)..

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 3)


..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)..

Keberatan 18: Surga itu sifatnya kekal, abadi. Namun karena bersifat kekal abadi maka sepertinya surga itu tidak manusiawi, karena tanpa adanya waktu berjalan di sana maka tidak ada proses, tidak ada perkembangan, tidak ada perubahan, tidak ada karya. Pasif, ibadah penyembahan tanpa henti dan tanpa perubahan mungkin cocok bagi malaikat, tapi tidak cocok bagi kita manusia.

Tanggapan: Siapa yang pernah mengatakan bahwa di surga tidak ada yang namanya waktu, karya, dan perubahan? Keabadian itu lebih dipahami sebagai sesuatu yang tidak terbatas mengcakup waktu, karya, dan perubahan saat ini, dan yang akan datang; bukan sebaliknya. Dan karena itu maka waktu yang kita kenal saat ini adalah hanya bagian kecil dari keabadian, dan semua waktu dapat diakses pada saat di surga. Sama halnya dengan ‘karya’, bahwa tetap ada karya yang dapat kita lakukan di Surga, dan karya itu adalah mencintai, mengasihi. Cinta kasih adalah Karya. Sebelum kejatuhan manusia pertama pada dosa asal, berkarya atau berkerja adalah suatu wujud cinta kasih. Hanya saja setelah kejatuhan itu berkarya atau berkerja menjadi hal yang berat, hal yang perlu diusahakan karena ada perasaan berat hati (Kejadian 3:17-19). Surga lah yang akan mengembalikan dan melimpahi semua hal yang baik di dalam taman firdaus (Eden), termasuk semua kebaikan yang ada di dalam karya, perubahan, dan waktu.

Keberatan 19: Jika semua rentang waktu adalah hal terjadi dan berlangsung pada saat itu di Surga, maka tidak ada masa depan, tidak ada hari esok, yang ada hanya saat ini, dan itu menyebabkan tidak ada yang tersisa untuk menjadi ‘bahan’ pengharapan. Dan kita tidak bisa hidup tanpa pengharapan. Karena kita merasa lebih baik ketika dalam perjalanan penuh pengharapan daripada ketika kita tiba pada tempat tujuan.

Tanggapan: Jika hal yang dikemukakan oleh keberatan poin 19 benar, dan pernah di-iyakan kebenarannya, lalu bagaimana bisa semua orang ketika sedang dalam perjalanan mempunyai pengharapan? Karena jika hal yang dikemukan benar maka hanyalah kehampaan yang diharapkan semua orang ketika dalam perjalanan. Untuk itu perlu kita teliti kembali jika “tiba pada tempat tujuan” adalah suatu hal yang membuat perasaan kita kurang lebih baik, menjadi membosankan, dan mengkhawatirkan dibandingkan ketika sedang “berjalan menuju”, maka kita sebaiknya jangan penuh berharap untuk tiba di tempat tujuan. Atau bisa kita andaikan seperti pada seekor harimau yang siap memangsa buruannya lebih baik menahan lapar daripada memakan mangsanya. Begitu juga dengan apakah lebih baik pada masa pacaran yang menahan diri untuk memiliki pasangan daripada menikah agar dapat bersatu seutuhnya? dan juga bagi rasa penasaran dan ketidakpedulian untuk mengetahui dibandingkan dengan rasa puas setelah memahami? Tidak ada lagi pengharapan di dalam Surga dan tidak ada juga di dalam Neraka. Sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan daripada pengharapan ada tersedia di dalam Surga: kepenuhan, penyempurnaan.

Keberatan 20: Hal-hal “Kebangkitan Badan” dan “Bumi Baru” terkesan sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena lebih bersifat mitologis dan antropomorfik (pelekatan ciri/sifat/atribut manusia kepada sesuatu yang lain daripada manusia).

Tanggapan A: Hal-hal itu tidaklah sesuatu yang mustahil, terlebih karena Allah adalah pencipta dari yang tidak ada menjadi ada secara tiba-tiba dan membuat segala sesuatu di semesta dari kehampaan, termasuk bumi ini, maka sudah pasti Allah dapat membuat bumi yang baru, “bumi baru”. Dan jika Allah dapat membuat bumi yang baru, Dia dapat menciptakan suatu keseluruhan tubuh yang baru bagi manusia, “kebangkitan badan”. (lihat 1Korintus 15.)

Tanggapan B: Hal-hal tersebut bukanlah mitologi melainkan kebenaran dari kekeliruan suatu mitos dalam mengenali hal tersebut.

Tanggapan C: Bumi baru dan Tubuh baru adalah kebalikan dari antropomorfik; karena bukannya atribut tubuh manusia atau bumi yang sekarang ini dilekatkan pada tubuh manusia atau bumi yang baru. Melainkan sebaliknya “tubuh baru” dan “bumi baru” sangatlah lebih melampaui kemampuan kita saat ini untuk memahami karena keberadaan kita pada saat ini yaitu tubuh dan bumi saat ini. “Tubuh baru” dan “Bumi baru” tidaklah mirip seperti yang saat ini tetapi merupakan hal yang baru dan sangat berbeda tetapi masih memiliki essensi yang sama; diumpamakan tubuh saat ini adalah tubuh manusia yang sudah dewasa sedangkan tubuh yang baru adalah tubuh manusia yang belum dilahirkan. Atau analogi pendekatan lainnya yang agak mirip: “Tubuh baru” bagi janin (fetus) adalah manusia dewasa, dan “Bumi baru” bagi janin tersebut adalah bumi yang memiliki cahaya, harum, dan memiliki suhu dingin dan panas – yang agak berbeda dengan “Bumi lama” bagi janin yang masih di dalam perut sang ibu.

Keberatan 21: Apakah ketika di Surga kita benar-benar bebas, bebas juga berbuat dosa? Jika benar kita tidak bebas, maka kita seperti sebuah robot yang tidak bebas, tidak memiliki kebebasan yang benar-benar, tidak memiliki kehendak-bebas manusia. Namun jika benar iya kita bebas, maka Surga adalah hal yang berbahaya, sama seperti bumi. Dan jika ada manusia yang memilih untuk berbuat dosa, maka taman Firdaus, kejatuhan manusia seperti dosa asal, dan bumi yang seperti saat ini akan berulang kembali.

Tanggapan: “bebas berbuat dosa” sama halnya seperti “penyakit yang menyehatkan”. Hal itu berarti “kebebasan dari perbudakan”.

Kebebasan berkehendak, atau kebebasan memilih, memiliki makna kebebasan yang jauh lebih tinggi, atau kemerdekaan. Kebebasan yang lebih rendah mempunyai makna kebebasan dari suatu tekanan, atau kondisi yang mengharuskan seseorang ‘terkekang’. Level kebebasan yang lebih tinggi, kebebasan yang paling puncak adalah kebebasan dari iblis.

Di dalam Surga tidak ada seorang pun yang mau berbuat dosa. Semua yang ada di dalam Surga secara bebas sukarela memilih untuk tidak pernah berbuat dosa. Meskipun mereka mempunyai kemampuan, dapat berbuat dosa namun mereka tidak mempunyai motif yang mendorong untuk berbuat dosa. Contohnya: seorang penyanyi yang hebat tidak membuat kesalahan-kesalahan dasar ketika bernyayi dan tidak mau bernyanyi dengan nada yang fals, walaupun penyanyi tersebut mampu dan dapat melakukan jika dia menginginkannya. Pertanyaannya adalah mengapa seseorang berkehendak demikian? mengapa seseorang mau berbuat dosa? atau mau tergoda untuk berbuat dosa – di dalam Surga? Semua yang akan kita lihat dan alami di Surga adalah keindahan, kebahagiaan, dan ketertarikan kepada Allah dan kebaikan, sedangkan yang berasal dari dosa adalah segala sesuatu yang jelek, buruk, dan kebodohan; dengan demikian jelaslah bahwa di Surga tidak ada kemungkinan adanya motif untuk dosa.

Saat ini kita diperbudak oleh ketidakpedulian. Setiap dosa berasal juga dari ketidakpedulian (ketidakpedulian mengambil peran dalam setiap dosa). Kita mau berbuat dosa karena kita entah bagaimana melihat perbuatan dosa itu seperti sesuatu yang menarik (yang sebenarnya adalah sebaliknya) dan kita juga entah bagaimana melihat kebaikan sebagai sesuatu yang tidak menarik (yang sebanrnya adalah sebaliknya juga). Hal itulah yang dimaksud dengan ‘ketidakpedulian’. Ketidakpedulian merupakan tanggungjawab kita dan sebagai sesuatu dari kita sendiri yang dapat dituntut untuk menjadi kesalahan kita. Dan jika kita tidak melakukan ‘ketidakpedulian’ (kebalikan dari ketidakpedulian) maka akan tidak mau berbuat dosa. Di Surga nanti tidak ada ‘ketidakpedulian'; dengan demikian tidak ada keinginan untuk berbuat dosa. “Pencerahan penuh kebahagiaan” dari wajah Allah kepada setiap wajah di Surga akan meniadakan ‘ketidakpedulian’, selayaknya sinar matahari meniadakan kabut.

Keberatan 22: Jika kita akan menjadi orang kudus yang sempurna di Surga, dimana kepribadiaan kita akan berada? Jutaan jiwa yang merupakan ‘lembaran copy karbon – duplikat – tiruan’ dari Allah terkesan sangat membosankan.

Tanggapan A: Tiruan dari sesama orang lain lah yang membosankan; meniru Allah yang tidak terbatas lah yang sangat menarik. Allah bagaikan sebuah berlian yang mempunyai wajah potongan berbeda yang jumlahnya tidak terhingga. Setiap yang terberkati akan memantulkan dan memancarkan suatu wajah yang berbeda.

Tanggapan B: Bahkan saat ini pun, para orang kudus (santo) adalah individual yang benar-benar pekat dan kental.

Tanggapan C: Kesucian, yaitu membiarkan Allah untuk mengatur jiwa dan hidup kita, karya Allah itu serupa dengan garam: garam itu membuat setiap cita (individual) rasa setiap makanan yang berbeda semakin nyata, semakin pekat, semakin kental. Garam membuat rasa ikan semakin mantap terasa ikan, rasa daging semakin mantap terasa daging, rasa telur semakin mantap terasa telur. Allah lah yang membuat Agustinus menjadi Agustinus yang terkenal dan dicontohi banyak orang, Teresa menjadi Terasa yang terkenal dan dicontohi banyak orang, dan Maria menjadi Bunda Maria yang sangat terkenal dan dicontohi dan dihormati banyak orang.

Tanggapan D: Wahyu 2:17 mengatakan : ” … Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Individual kita di Surga adalah sangat nyata dan hanya Allah yang mengetahui rahasia tersebut.

Apakah ada hal lain yang lebih besar dimiliki seseorang daripada namanya yang baru dan hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri bahkan walaupun sudah berada di Surga nantinya untuk selamanya? Lalu apa artinya kerahasiaan nama barunya ini bagi orang tersebut?

Yang pasti, bahwa setiap orang yang menerima namanya masing-masing dari Allah akan selamanya mengetahui dan mengagungkan Allah dalam suatu aspek tertentu dari keindahan Ilahi, mengetahui dan mengagungkan Allah dengan cara yang lebih baik dari yang dapat dilakukan oleh makhluk lainnya.

Lalu mengapa ada individu lain yang diciptakan? … Jika individu yang lain itu tidak berguna untuk semua perbedaan yang ada ini, rasanya tidak ada alasan bagi individu lain diciptakan selain yang satu tadi… 

Jiwa setiap manusia itu seperti suatu bentuk rupa yang tertentu, relung yang unik dan dibentuk secara khusus untuk sesuai (cocok) dengan suatu substansi yang akan mengisi relung tersebut. Atau jiwa manusia itu digambarkan sebagai sebuah anak kunci yang dapat membuka sebuah pintu tertentu yang sesuai dengan kunci tersebut di dalam suatu rumah yang terdapat banyak ruangan… Tempat setiap manusia di dalam Surga akan terkesan diperuntukkan hanya untuk setiap manusia secara khusus, karena setiap manusia diciptakan untuk itu – diciptakan setiap bagian dan setiap lekuk selayaknya sebuah sarung tangan yang diciptakan secara khusus agar sesuai dengan tangan yang diperuntukkan.

Pekan Suci.. tidak meriah?


cropped-peters-denial-carl-heinrich-bloch-1-copy.jpgHari minggu kemarin tanggal 13 April 2014, yaitu Minggu Palma merupakan awal dari pekan suci. Umat Gereja Katolik disibukkan dengan rangkaian persiapan untuk merayakan puncak pekan suci yaitu pada 7 hari kemudian: Minggu Paskah. 5 (lima) rangkaian perayaan khusus pada pekan suci dimulai dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Dilihat dari kemeriahan yang nanti pada puncaknya yaitu pada hari Minggu Paskah, atau hari raya Paskah, terkadang bagi teman-teman kita yang bukan non-katolik mengira bahwa hari raya Paskah tidak semeriah natal, karena cenderung terkesan ‘berkabung’.

Ya memang seperti itu kesannya… tapi kita dapat menjawab hari raya Paskah tidak kalah meriahnya dengan hari raya Natal, lebih tepatnya meriah pada hari Minggu Paskah, atau lebih terarah lagi dengan memberi tambahan “Yesus Kristus Bangkit!”.  Namun hari sebelum hari Minggu Paskah yang meriah itu, umat katolik menjalani rangkaian perayaan yang mungkin ‘membingungkan’ bagi teman-teman kita yang non-katolik, apalagi kalau sampai mereka melihat cambuk dan mahkota duri. :)

Coba saja bayangkan apa kira-kira yang mereka amati sepanjang pekan suci ini? Dimulai pada hari Minggu Palma (awal pekan suci) dimana umat yang melambai-lambaikan daun palma bersorak-sorai ‘hosana’ menyambut Yesus sang Raja, mesias yang dinantikan untuk membebaskan manusia dari penindasan. Dan setelah itu umat mengikuti perayaan perjamuan kudus bersama Yesus, dan Yesus membasuh kaki umat-Nya, namun setelah itu umat-Nya tiba-tiba menyelinap meninggalkan perjamuan kudus itu dan mengkhianati Yesus. Kemudian beberapa umat yang mengambil peran dalam jalan salib yang berteriak ‘Salibkan DIA!’, meminta kepada Pilatus agar menyalibkan Yesus. (huh? kok? …). Yesus yang meminta umat-Nya agar tetap tinggal bersama DIA, umat-Nya awalnya berjanji akan setia, tapi umat-Nya ada yang meninggalkan DIA. Yesus ditahan dan didera, Yesus mengampuni umat-Nya walaupun umat-Nya tidak setia, dan umat-Nya lari bersembunyi karena takut bernasib sama. Kemudian Yesus dibunuh, disalibkan – umat-Nya menurunkan Yesus dari salib dan menguburkan-Nya, sambil menangis sedih. Kemudian hari berikutnya umat-Nya kembali mengunjungi kuburnya, namun Yesus tidak ada di dalam kubur. Kemudian Yesus kembali, menampakan diri-Nya kepada umat-Nya dan kemudian… ternyata Yesus Kristus Bangkit dari mati!

Dari gambaran yang coba kita bayangkan itu, maka tidak lah heran bahwa begitu banyak persiapan, dan bacaan, dan lagu, dan pergantian kostum, untuk mengisahkan kejadian itu. Maka tidak heran juga kalau ada yang mengatakan bahwa perayaan Pekan Suci dapat berkesan seperti simbolis dan retorika belaka. Itu juga belum menyinggung soal tali cambuk yang dipegang oleh umat yang berperan sebagai tentara romawi sewaktu mendera Yesus, mahkota duri, jubah yang sobek, pantang dan puasa, ratapan-ratapan, dan nyanyian luapan kegembiraan. Sangat kompleks dan padat. Sangat kontras dengan teman-teman kita yang non-katolik tapi juga merayakan Paskah, dengan membawa tema Kelinci Paskah. :)

Semua rangkaian perayaan panjang dan rumit dalam Pekan Suci itu memberikan banyak hal, dan yang mendasari semua perayaan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus lah yang selalu menggerakkan semua hati umat untuk mau berkumpul bersama-sama – untuk menjadi saksi Kristus, untuk menerima Kristus, dan untuk menjadi Kristus.

Umat menjadi saksi Kristus dalam nyanyian dan kisah sepanjang Pekan Suci. Pada Minggu Palma, umat berkumpul di luar ruangan, di tengah jalan raya, berarak-arak sambil melambaikan daun Palma. (walaupun tidak jarang banyak umat yang merasa agak sungkan, malu, karena dianggap aneh.. )

Umat juga menerima Kristus sepanjang Pekan Suci – bahkan ketika ada jiwa umat yang sedang sakit penuh dengan dosa atau hati umat yang penuh kesedihan berusaha menolak Kristus agar menjauh.

Dan umat juga menjadi Kristus. Kita mengenal perkataan “terberkatilah yang datang atas nama Tuhan”. Setelah umat menerima Kristus, seperti seorang hamba menerima segala sesuatu dari sang Raja; – darah-Nya, tubuh-Nya, jiwa-Nya, roti dan anggur dari DIA diserahkan kepada umat-Nya. Kita mengampuni diri kita sendiri dan sesama, kita melayani, dan masuk ke dalam dan ikut memikul penderitaan-Nya; kita sebagai umat-Nya menawarkan seluruh diri kita kepada Allah dan sesama kita agar kita dapat siap mati dan lahir kembali bersama Kristus.

Oleh karena itu tidaklah mungkin memuatkan semua misteri itu dalam satu kartu ucapan ‘Selamat Pekan Suci’ atau ‘Selamat Paskah’ seperti dalam kartu ucapan ‘Selamat Natal'; tidak ada cara yang ‘cukup’ untuk menyampaikan besarnya Sengsara yang telah dilalui, Kasih, dan Pengorbanan Yesus Kristus, bahkan rangkaian Pekan Suci yang kita lakukan, sepanjang satu minggu, lengkap dengan liturgi yang rumit. Namun dengan adanya Minggu Palma kita mendapat kesempatan untuk sekali lagi menjadi saksi Kristus, menerima Kristus, dan menjadi Kristus. Kapan saja dan dimana saja kita menyadari bahwa kita tidaklah sendirian, entah ketika kita sedang berjalan di bawah terik matahari, di saat kita sedang benar-benar merasa tenggelam, terduduk berjam-jam dalam merenung dan gundah di tepi tempat tidur kita; atau ketika kita sedang bergembira dengan kelahiran bayi atau sedang berduka atas kehilangan orang yang kita kasihi, kita tidak pernah sendiri, ada Yesus Kristus yang telah melalui semua itu dan DIA lakukan untuk kita. Yesus Kristus menarik kita lebih dekat satu sama lain, lebih dekat kepada Allah, dan lebih dekat, selalu, Paskah.

Salam

Etika Politik Katolik


ETIKA POLITIK KATOLIK
oleh Mgr. Ignatius Suharyo

source: https://www.facebook.com/gerejakatolik/posts/10152750348969638:0

“Tuhan kita adalah Tuhan yang menyelamatkan dengan tinggal dan berjuang dalam suka duka hidup kita, begitu pula kita mengikuti Dia bukan dengan menjauh, tetapi dengan berjuang dalam suka-duka kondisi politik kita dewasa ini.” (Mgr. Ignatius Suharyo)

***

Kalau ditanya, apa sumbangan hierarki bagi orang Katolik yang terjun dalam bidang politik? Jawabannya, memberikan etika politik yang sesuai dengan AJARAN SOSIAL GEREJA. Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia bulan November tahun 2003 membahas keadilan sosial bagi semua dari segi politik dengan mempertimbangkan kenyataan sosial-politik di Indonesia. KWI menyampaikan beberapa prinsip etika politik sebagai berikut:

1. HORMAT TERHADAP MARTABAT MANUSIA

Prinsip ini menegaskan bahwa manusia mempunyai nilai dalam dirinya sendiri dan tak pernah boleh diperalat. Bukankah manusia diciptakan menurut citra Allah, diperbarui oleh Yesus Kristus yang dengan karya penebusan-Nya mengangkat manusia menjadi anak Allah? Istilah SDM (Sumber Daya manusia) yang sering digunakan tidak boleh mengabaikan kebenaran bahwa nilai manusia tak hanya terletak dalam kegunaannya. Martabat manusia Indonesia harus dihargai sepenuhnya dan tak boleh diperalat untuk tujuan apapun, termasuk tujuan politik.

2. KEBEBASAN

Keadilan merupakan keutamaan yang membuat manusia sanggup memberikan kepada setiap orang atau pihak lain apa yang merupakan haknya. Dewasa ini, perjuangan untuk memperkecil kesenjangan sosial-ekonomi semakin mendesak untuk dikedepankan, demikian juga perjuangan untuk melaksanakan fungsi sosial modal bagi kesejahteraan bersama. Mendesak juga penggunaan modal untuk pengembangan sektor ekonomi riil, sambil menemukan cara-cara ajar judi ekonomi dalam bentuk spekulasi keuangan dikontrol untuk mendukung bertumbuh dan berkembangnya wirausaha-wirausaha kecil dan menengah, menciptakan lembaga dan hukum-hukum yang adil. Yang tidak kalah mendesak adalah penegakan hukum.

4. SOLIDARITAS

Menjalankan prinsip subsidiaritas berarti menghargai kemampuan setiap manusia, baik pribadi maupun kelompok untuk mengutamakan usahanya sendiri, sementara pihak yang lebih kuat siap membantu seperlunya. Apabila kelompok yang lebih kecil dengan kemampuan dan sarana yang dimiliki bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi, kelompok yang lebih besar atau pemerintah/negara tidak perlu campur tangan. Dalam keadaan kita sekarang, hubungan subsidier berarti menciptakan relasi baru antara pusat dan daerah dalam hal pembagian tanggung jawab dan wewenang, hubungan kemitraan dan kesetaraan antara pemerintah, organisasi-organisasi sosial dan warga negara, kerja sama serasi antara pemerintah dan swasta. Kecenderungan etatisme yang menonjol dalam Rencana Undang-Undang yang disebarkan di masyarakat dan Undang-Undang yang disahkan oleh DPR RI akhir-akhir ini berlawanan dengan prinsip subsidiaritas ini.

6. FAIRNESS

Dalam sistem demokrasi, kedaulatan rakyat berada di tangan rakyat. Demokrasi sebagai sistem tidak hanya menyangkut hidup kenegaraan, melainkan juga hidup ekonomi, sosial, dan kultural. Dalam arti itu, demokrasi dimengerti sebagai cara-cara pengorganisasian kehidupan bersama yang paling mencerminkan kehendak umum dengan tekanan pada peran serta, perwakilan, dan tanggung jawab. Demokrasi tidak dengan sendirinya menghasilkan apa yang diharapkan. Di Indonesia, salah satu badan yang paling terlibat dalam pelaksanaan demokrasi ialah DPR RI dan DPRD. Sesudah Pemilihan Umum 2004, muncul lembaga baru, yaitu DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Ternyata lembaga-lembaga itu kurang berfungsi dalam mewakili kepentingan masyarakat luas, bahkan dalam banyak hal justru menghambat tercapainya tujuan demokrasi. Dalam masyarakat kita, tampak kecenderungan meminggirkan kelompok-kelompok minoritas dengan alasan-alasan yang kurang terpuji. Keputusan yang menyangkut semua warga negara diambil sekedar atas suara mayoritas, dengan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang mendasar, matang, dan berjangka panjang.

8. TANGGUNG JAWAB

Singkatnya, konsep politik menurut ajaran Gereja Katolik itu lugas dan sederhana, hanya 2 kata, yaitu “kesejahteraan umum” (common good, atau bahasa Latin-nya bonum commune). Politik menurut Gereja Katolik adalah memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan bersama itu.

Melihat situasi sekarang ini, banyak orang Katolik lalu justru menjauh dan tidak mau terlibat. Padahal, panggilan Kristiani adalah persis terjun ke dalam kondisi carut-marut ini dan memperjuangkan sekuat tenaga agenda kesejahteraan umum itu. Tuhan kita adalah Tuhan yang menyelamatkan dengan tinggal dan berjuang dalam suka duka hidup kita, begitu pula kita mengikuti Dia bukan dengan menjauh, tetapi dengan berjuang dalam suka-duka kondisi politik kita dewasa ini.

***

Sumber:
The Catholic Way: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita
oleh Ign. Suharyo
halaman 61-68

 

– Fides et Ratio (FeR

Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 2)


..sambungan dari Tanggapan atas keberatan konsep Surga (bagian 1)..

Keberatan 13: Surga terlalu duniawi. Terdapat pintu gerbang dari mutiara dan jalan dari emas di penggambaran surga mengindikasikan konsep tersebut merupakan proyeksi dan tambahan dari beberapa hal duniawi yang dilestarikan dari budaya masa lampau.

Tanggapan: Keberatan ini tidak dapat membedakan antara gambaran yang relatif terhadap kultur dengan substansi atau essensi dari surga yang tidak relatif terhadap kultur. Gambaran merupakan analogi secara kasar, berupa petunjuk.

Keberatan 14: Surga terlalu jauh dari duniawi, terlalu spiritual. Bagaimana kita sebagai manusia dapat bahagia tanpa hubungan seks, makanan, pakaian – bahkan sedikit tantangan dan tekanan? Kesempurnaan akan sangat menyiksa kita.

Tanggapan: Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa nanti akan “terlalu spiritual” untuk perubahan wujud kita setelah kematian? Mengapa kita membuat batasan terhadap perkembangan manusia? Keberatan yang pada poin ini terlalu membatasi imajinasi dan terlalu terikat kepada kenikmatan duniawi saat ini, seakan-akan nanti tidak ada kemungkinan sukacita yang melebihi saat ini, tapi sebenarnya pada saat ini kita tahu bahwa nanti akan ada sukacita yang lebih.

Keduanya baik keberatan 13 dan keberatan 14 keliru memahami prinsip transformasi. Transformasi surgawi bukanlah kelanjutan dan kesempurnaan, atau pun transendensi dan kemusnahan dari bumi dan kemanusiaan saat ini, melainkan transformasi surgawi mengubah keduanya menjadi sesuatu yang baru, “bumi yang baru”, (Wahyu 21:1) , kemanusiaan yang baru – “tubuh rohaniah” (1Korintus 15:44); seperti ulat bulu menjadi kupu-kupu, atau kecebong menjadi katak, atau katak menjadi pangeran… . Allah mau turun dan mengelilingi bumi untuk menemukan dan mencium katak-katak (kita) agar berubah menjadi pangeran… . Inilah yang pada umumnya di kultur kita, Kebenaran lebih terasa asing daripada cerita dongeng.

Prinsip transformasi adalah jawaban untuk banyak pertanyaan yang serupa: Apakah kita akan memiliki X (hal-hal duniawi) setelah di surga? Sebagai contoh emosi. Apakah kita akan memiliki emosi setelah di surga? jawabannya adalah Ya dan Tidak. Jawaban ‘Ya’ karena emosi bagian dari kemanusiaan secara alami dan diciptakan oleh Allah. Emosi tidak akan hilang atau berkurang dari yang menjadi kodrat kita. Tetapi ‘Tidak’ juga karena jawaban ini menunjukkan bahwa emosi yang awalnya sewaktu kita masih hidup duniawi tidak sama dengan emosi ketika kita sudah di surga, sama halnya dengan kodrat kita yang tidak sama ketika masih duniawi dan setelah di surga. Kita bukan menjadi seperti komputer yang tidak mempunyai emosi atau kecerdasan tanpa tubuh, tetapi emosi nantinya tidak akan mengendalikan kita lagi. Inilah yang menjadi perubahannya; keutamaan emosi yang awalnya dari tubuh menjadi jiwa, emosi akan bersumber terutama dari hasrat jiwa ke tubuh. ‘A body in a soul’. Emosi akan dibangkitkan dari ketidaksadaran menjadi kesadaran. ‘Terang budi’. Emosi akan lebih bersifat pasif, tetapi lebih penuh makna, hasrat, dan tulus.

Sebagai contoh, sukacita. Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa di dalam surga nantinya cinta kasih yang kita terima dari Allah kepada jiwa kita akan dilimpahkan ke kebangkitan tubuh baru kita dalam suatu arus kebahagiaan akan sukacita yang sangat deras. torrens valuptatis. Emosi menjadi sangat kuat dalam kekudusan, bukan melemah.

Keberatan 15: Apakah kita akan menjadi bagian dari Allah di surga atau tidak? Jika benar, maka ini sama halnya dengan panteisme, bukan Kekristenan. Jika tidak, jika kita hanya dapat hampir mendekati dan menyerupai Dia (walau tidak dapat sepenuhnya), hal ini menunjukkan bahwa kita belum cukup karena masih ada cita dan hasrat yang lebih (Allah itu sendiri). Dengan demikian surga bukan tercapainya pemenuhan manusia.

Tanggapan: Kita bukan menjadi Allah, melainkan kita lebih dari pada menyerupai DIA: kita se-citra dengan DIA, dan kita mengambil bagian dari hidup DIA. Dan kita hanya memperoleh ini karena kasih (pemberian) dari Allah, bukan karena kodrat kita. Allah mencurahkan dirinya sendiri kepada kita seperti matahari yang menyinari orang merindukan hangatnya sinar matahari.

Pertanyaan pada keberatan poin ini berasumsi bahwa kita tidak akan benar-benar bahagia jika tidak menjadi Allah. Hal ini kedengarannya seperti dosa yang paling buruk – ‘Harga Diri’ – dan dosa yang paling bebal – ‘Iri Hati’ – satu-satunya dosa yang membuat kita tidak pernah merasa puas. Di dalam surga semua orang akan menjadi bijaksana dan puas dengan dirinya apa adanya. Kita akan tetap sebagai makhluk terbatas, dan kita juga mengambil bagian, “berpartisipasi”, dalam kodrat keilahian Allah (2Petrus 1:4), dipenuhi kelimpahan kasih Allah. Tanggapan ini tidak sepenuhnya jelas mengenai bagaimana hal itu terjadi, namun tanggapan ini jelas menunjukkan bahwa hal itu berada diantara 2 titik dilema yang ditanyakan oleh Keberatan poin 15.

Keberatan 16: Surga akan membosankan. Tidak ada yang dilakukan selain penyembahan – suatu kebaktian yang tidak ada akhirnya. Hanya sedikit orang yang akan senang dengan itu. Dan bahkan jika hal itu membuat sebagian orang itu bahagia, bahagia saja tanpa ketidakbahagiaan adalah membosankan. Kita dapat menghargai setiap suatu hal jika ada perbedaan dengan kebalikan dari hal itu. Kita memerlukan kegelapan untuk menyalakan penerangan, sedikit penderitaan untuk mengapresiasi kebahagiaan. Jika di surga tidak ada penderitaan, kita tidak akan mengapresiasi kebahagiaan.

Tanggapan A: Pada pernyataan di akhir keberatan ini berasumsi bahwa keterbatasan duniawi dan kebodohan akan berlanjut hingga nanti ketika telah di surga. Semakin bijaksana seseorang maka semakin kurang diperlukannya penderitaan agar mengapresiasi kebahagiaan. Allah tidak memerlukan segala sesuatu yang negatif; DIA akan mengajarkan kita “trik”-Nya untuk mengapresiasi hal yang baik secara terpisah dari yang jahat ketika tiba saatnya.

Tanggapan B: Kebosanan adalah salah satu emosi yang khusus bersifat duniawi dan merupakan suatu kegagalan. Kita tidak akan merasa bosan di dalam surga karena kita akan menjadi baik dan bijaksana. Bahkan untuk ukuran duniawi di saat ini, kebosanan adalah hal yang bodoh, sia-sia, dan melelahkan. Para santo tidak pernah merasa bosan.

Tanggapan C: Gambaran bahwa di surga, gereja selalu melakukan kebaktian adalah suatu simbol, simbolik, bukan diartikan secara harfiah. Di kitab Wahyu tertulis bahwa tidak ada ‘Bait Suci’ di dalam surga (Wahyu 21:22) karena Allah lah Bait Sucinya yang menghadirkan diri-Nya sendiri. Gereja mungkin dapat membosankan, tapi Allah tidak dapat membosankan.

Tanggapan D: Surga tidak akan membosankan karena surga itu bukan hanya memuaskan dan menenangkan nafsu belaka. Di surga bukan hanya kepuasan belakang, yang nantinya menjadi terasa membosankan, melainkan perasaan penuh sukacita yang tidak berkesudahan. Sukacita itu penuh semangat, dinamis, dan memotivasi sama seperti hasrat itu sendiri.

Tanggapan E: Surga tidak membosankan karena surga merupakan cinta dan karya yang sempurna. Bahkan Freud (Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka) mengetahui bahwa dua hal yang membuat hidup berarti bagi setiap orang adalah cinta dan karya. Keduanya sebenarnya adalah satu kesatuan, untuk mencintai adalah dengan berkarya, bukan hanya perasaan, dan karya yang baik pastilah karya dari cinta.

Cinta-Karya yang bagaimana nantinya setelah di surga? Ada enam Cinta-Karya yang telah dibahas sebelumnya pada halaman Analogi duniawi tentang surga, yaitu: Mengenal dan mengasihi Allah, sesama, dan diri kita sendiri. Bahkan semasa di dunia, enam kegiatan ini tidak berkesudahan dan tidak membosankan. Ke-enam kegiatan itu ada latihan persiapan kita untuk nanti di surga.

Kegiatan-kegiatan itu tidak berkesudahan karena kemanusiaan tidak berkesudahan juga. Kemanusiaan berkesudahan karena manusia adalah subjek yang bebas, bukan subjek yang dibatasi; subjek yang terbuka, bukan tertutup.

Keberatan 17: Bagaimana kita dapat bahagia di surga jika ada orang yang kita kasihi berada di neraka? Jika kita berhenti mengasihi mereka, kita tidaklah baik; namun jika kita tetap mengasihi mereka, kita tidak bahagia.

Tanggapan A: Untuk menanggapi keberatan ini kita perlu memulai dengan data yang kita ketahui dan mencoba untuk bergerak dari situ untuk menemukan apa yang tidak kita ketahui. Kita tahu bahwa nanti di surga tidak ada kesedihan, walaupun kita tidak mengetahui bagaimana Allah dapat melakukan itu kepada kita. Allah “akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (Wahyu 21:4)

Tanggapan B: Allah tidak akan bersedih dengan cara-Nya yang khusus, bahkan jika ada manusia yang DIA ciptakan dan kasihi berada di neraka – Allah tetap dapat tidak akan bersedih, kita akan berbagi dan mempelajari dengan cara ini. Allah adalah kasih dan sukacita yang tidak terbatas, tetapi walaupun demikian ada juga sebagian orang yang masuk ke neraka. Hal itu dapat terlaksana karena hal itu telah dilaksanakan: Allah melakukan itu. Karena Allah melakukan itu, DIA akan mengajarkan kita bagaimana melakukannya.

Tanggapan C: Beberapa petunjuk mengenai bagaimana Allah melakukan ini adalah pada perumpamaan domba dan kambing yang diajarkan oleh Yesus dan jawaban Yesus kepada sebagian orang yang berseru kepada-Nya “Tuhan”: pada akhirnya, Ia mengatakan kepada yang terkutuk, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” (Matius 7:23). Dia tidak mengenal, melihat, dan mengkhawatirkan mereka yang terkutuk. Hal ini kedengarannya seolah-olah suatu ketidakpedulian atau penipuan diri sendiri; tapi hal-hal ini tidak sesuai dengan Kemahatahuan. Lalu apa maksud sebenarnya?

Ini bukan suatu kebohongan; ini adalah suatu kebenaran. Dalam beberapa hal mereka yang terkutuk telah kehilangan kenyataan mereka yang sebenarnya. Walaupun mereka ada, mereka berada di dalam “kegelapan yang paling gelap”, bukan di surga. Dan sebaliknya surga merupakan standar dari kenyataan – bukan hanya standar dari semua sukacita dan kebaikan; tetap juga sebagai standar dari kebenaran. Semakin kita dekat dengan surga, diri kita semakin nyata; dan sebaliknya semakin kita jauh dari surga, diri kita semakin tidak nyata. Mereka yang terkutuk bagaikan abu, bukan seperti kayu. Mereka telah kehilangan realitas diri yang sebenarnya, jati diri mereka. Mereka yang terberkati tempatnya di dalam surga, seperti Allah, tidak berduka untuk mereka yang terkutuk – mereka yang terberkati adalah mereka yang seperti kayu (masih memiliki jati diri sebenarnya, bukan abu), pria yang sebenarnya, wanita yang sebenarnya – karena mereka tidak hidup dalam masa lalu.

Jika manusia berada di dalam neraka, dan surga ber-paralel dalam waktu terhadap neraka seperti planet bumi dan planet mars yang ber-paralel dalam dunia, maka sepertinya tidak ada jawaban terhadap keberatan itu. Tetapi neraka merupakan suatu tempat untuk kematian yang abadi, bukan tempat untuk kehidupan abadi; dan mereka yang masuk neraka adalah mereka yang awalnya manusia pada umumnya tetapi setelah di neraka mereka hanya lah ‘sisa-sisa’ dari dirinya. Dan walaupun surga dan neraka ber-paralel – kita tidak bisa berpindah dari yang satu ke yang lain (Lukas 16:26). Dengan demikian asumsi implisit dari keberatan pada poin 17 adalah suatu kekeliruan.

Tanggapan D: Bahkan jika jawaban-jawaban yang telah kita berikan tidak mencukupi, masih ada satu jawaban yang paling baik. Jawaban ini bukanlah suatu solusi teori tetapi suatu jawaban praktis. Jika ada orang yang kita benar-benar cintai dan kenal sangat dalam sehingga kita tidak bisa menerima bagaimana mungkin kita dapat bahagia selamanya tanpa mereka – sebab mereka adalah bagian yang sangat penting dalam hidup kita – maka salah satu tugas yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk hadir dunia adalah untuk melakukan segala upaya kita untuk keselamatan mereka yang kita cintai sama seperti untuk keselamatan kita sendiri. Jika karena pemeliharaan Allah yang membimbing cinta dan kedekatan kita dengan mereka yang kita cintai, maka Allah akan menerima doa-doa dari hati kita yang memohon Allah untuk keselamatan bagi mereka yang kita cintai, sama halnya dengan pemiliharan dan bimbingan Allah untuk keselamatan kita, karena sesama kita (mereka yang kita cintai) adalah bagian yang nyata dari kita, dan Allah menyelamatkan manusia secara menyeluruh, bukan secara terpisah.

Yang perlu kita perhatikan adalah doa kita bukan doa permintaan yang bersifat bujukan atau menuntut, sebaiknya doa permintaan yang bersifat menceritakan keadaan kita yang sebenarnya, fakta yang kita hadapi; seperti contoh permintaan Bunda Maria “Mereka kehabisan anggur” (Yohanes 2:3). Serahkanlah kepada Allah untuk berbuat untuk kita. Cara Allah selalu lebih penuh kasih, lebih bijaksana, dan lebih berkuasa dibandingkan cara yang kita inginkan atau bayangkan (1Korintus 2:9). Percayakanlah kepada Allah untuk menggunakan perasaan cinta duniawi yang kita miliki sebagai saluran kasih karunia untuk teman kita. Dan mungkin saja kepedulian kita kepada teman kita itu adalah petunjuk bahwa Allah meletakkan beban di hati kita agar kita bekerja bersama Allah untuk meringankan dan mengusahakan agar teman kita memperoleh keselamatan.