Hidup Bakti Biarawan-Biarawati

Bruder dan suster bukan anggota hierarki, dan semua biarawan-biarawati tidak termasuk hierarki. Hanya saja ada biarawan yang ditahbiskan imam. Mereka sekaligus anggota kelompok kebiaraan dan pembantu uskup, tetapi hidup membiara sendiri bukan fungsi gerejawi, melainkan corak kehidupan. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II mengajarkan, “Meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil, tidak termasuk susunan hierarkis Gereja, namun juga tidak dapat diceraikan dari kehidupan dan kesucian Gereja” (LG 44), sebab hidup membiara berkembang dari kehidupan Gereja sendiri, bahkan “nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan” (LG 43). Tetapi apa yang berupa nasihat dari Yesus, oleh usaha “pimpinan Gereja, di bawah bimbingan Roh Kudus” berkembang menjadi “bentuk-bentuk penghayatan nasihat Injil yang tetap”. Namun “status religius itu bukanlah jalan tengah antara perihidup para imam dan kaum awam”. Prinsipnya lain. “Di antara para anggota umat Allah terdapat perbedaan, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak dan tata-tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti menuju kesucian” (LG 13). Lalu masih ada “semua orang Kristen lain yang tidak termasuk golongan imam atau status religius” dan yang lazim disebut “awam” (LG 31). Perbedaan antara awam dan imam itu soal fungsi atau jabatan, sedangkan perbedaan dengan biarawan-biarawati menyangkut “corak kehidupan”. Hidup membiara tidak ditentukan oleh fungsi atau pekerjaan, melainkan oleh corak atau cara kehidupan, khususnya kehidupan yang di dalamnya orang “dengan kaul-kaul atau ikatan suci lainnya mewajibkan diri untuk hidup menurut tiga nasihat Injil”, yaitu selibat atau keperawanan, kemiskinan, dan ketaatan (LG 44).

Selibat atau keperawanan memang merupakan inti atau hakikat hidup bakti, sebab dengan kaul itu orang membaktikan diri secara total dan menyeluruh kepada Kristus. Kebaktian permandian, yang merupakan sikap penyerahan setiap orang Kristen, dengan kaul keperawanan atau selibat dinyatakan dalam seluruh hidup dan setiap seginya sebagai bentuk atau corak kehidupan. Akibat pembaktian total itu adalah “kewajiban bertarak sempurna dalam selibat” (KHK kan, 599). Namun selibat tidak sama dengan tidak-kawin. Itu bukan inti-pokok hidup membiara. Yang pokok adalah penyerahan total kepada Kristus, yang dinyatakan dengan meninggalkan segala-galanya demi Kristus dan juga dengan terus-menerus semakin mengarahkan diri kepada Kristus, khususnya dalam hidup doa.

Kaul kemiskinan ditetapkan “menurut peraturan hukum masing-masing tarekat” (KHK kan. 600). Ternyata kaul kemiskinan mempunyai dua aspek, yang satu lebih asketis dan berarti gaya hidup yang sederhana; yang lain lebih apostolis dan berarti kerelaan menyumbangkan apa-apa saja demi kerasulan. Yang terakhir itu tidak hanya, bahkan tidak pertama-tama menyangkut harta benda, melainkan tenaga, waktu, keahlian dan ketrampilan, pendek kata segala kemampuan dan seluruh kehidupan.

Dalam kaul ketaatan dapat dibedakan antara aspek asketis dan apostolis. Dalam kerangka askese atau latihan hidup rohani ketaatan berarti kepatuhan kepada guru rohani; berhubung dengan kerasulan kaul ketaatan berarti kerelaan membaktikan diri kepada hidup dan terutama kerasulan bersama. Ketaatan berhubungan dengan hidup bersama, sebab juga “hidup persaudaraan menjadi ciri masing-masing tarekat” (KHK kan. 602; 607 §2). Dalam hal ini mereka yang disebut “lembaga-lembaga religius” berbeda dengan “lembaga-lembaga sekular”, sebab para anggota lembaga sekular “hidup di dunia ramai” (KHK kan. 710), “sendirian atau dalam keluarga masing-masing atau dalam kelompok hidup persaudaraan” (KHK kan. 714). Mereka juga mengikrarkan tiga nasihat injili (KHK kan. 723) tetapi, khususnya dalam hal kemiskinan dan ketaatan ikatan pada kelompok, lain daripada dalam lembaga-lembaga religius atau hidup membiara. Mereka “berusaha melaksanakan pengudusan dunia terutama dari dalam” (KHK kan, 710) dengan hidup bersama para anggota masyarakat yang lain. Secara lahiriah mereka sedapat mungkin tidak membedakan diri dari para awam “biasa”. Di sini perlu diingat bahwa kesucian memang tidak tergantung pada bentuk atau corak kehidupan. Tetapi suatu cara hidup tertentu dapat membantu dan menyokong pengarahan diri yang lebih jelas dan mantap kepada Kristus. “Maka dari itu hendaklah setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasihat-nasihat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi kesuburan kesucian Gereja, serta kemuliaan Allah Tritunggal” (LG 47). Singkat kata, biarawan-biarawati itu merupakan suatu golongan tertentu yang menuntut atau mengejar kesempurnaan secara khas.

Gereja Katolik dan Agama-Agama Lain

Dalam LG 8 antara lain dikatakan bahwa Kristus “melalui Gereja mau melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang”. Gereja bukan kelompok tertutup, melainkan “tanda dan sarana kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Oleh karena itu dikatakan bahwa “Gereja, dengan mewartakan Injil, mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan, dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus” (LG 17). Rumusan semacam itu tidak disenangi oleh banyak orang dewasa ini, bukan hanya oleh mereka yang melihat rumus ini sebagai rencana “kristenisasi”.

Di antara orang Kristen sendiri ada banyak yang merasa bahwa rumus ini tidak cocok dengan pernyataan Konsili sendiri, bahwa “mereka yang dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16). Di luar Gereja Katolik tidak hanya “terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran” (LG 8), tetapi di luar lingkungan Kristen ada “pengaruh rahmat”, sehingga orang bukan-Kristen juga “dapat memperoleh keselamatan kekal”. Lalu untuk apa “Gereja terus-menerus mengutus pewarta-pewarta” ke seluruh dunia? (LG 17). Gereja senantiasa yakin bahwa “Allah menghendaki semua orang diselamatkan” (1Tim 2:4), tetapi baru pada akhir Konsili Vatikan II disadari bahwa itu terjadi “dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah” (GS 22; AG 7). Keselamatan umat manusia tidak tergantung pada Gereja.

Gereja tidak mewartakan Injil untuk menyelamatkan orang. Hanya Tuhan dapat menyelamatkan, dan manusia harus menerima keselamatan itu dalam iman. Gereja mewartakan Injil karena tidak dapat diam mengenai segala sesuatu yang telah dilihat dan didengar olehnya (bdk. Kis 4:20). Pewartaan Injil tidak pernah dimaksudkan sebagai indoktrinasi. Yang pokok bukanlah pewartaan itu sendiri, melainkan isi-nya, “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun selain di dalam Kristus; maka di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia untuk memperoleh keselamatan” (Kis 4: 12).

Yang menjadi soal ialah keyakinan iman bahwa “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim 2:5), atau dengan kata Yesus sendiri: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Kata-kata itu secara konkret-praktis selalu diartikan oleh Gereja sebagai perintah mewartakan Kristus secara mutlak: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka” (Mat 28:19). Oleh karena itu pula Paulus bertanya:

“Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada-Nya, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana orang dapat memberitakan-Nya, jika tidak diutus? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:14-15:17).

Itu dikatakan Paulus dalam situasi zaman itu, berhadapan dengan orang kafir Yunani. Sekarang Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “mereka yang belum menerima Injil, dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah …. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan” (LG 16). Dengan demikian tidak disangkal perlunya pewartaan. Pewartaan perlu bukan hanya karena orang “ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran yang sesat dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta” (LG 16), melainkan lebih-lebih “untuk menghantar mereka kepada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah jalan yang bebas dan teguh, untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus” (AG 5).

Apa yang dikerjakan Tuhan dalam hati orang harus dikembangkan terus-menerus. Untuk itu perlu pewartaan, teladan hidup, sakramen-sakramen, serta upaya-upaya rahmat lainnya, sebagaimana dikatakan dalam konstitusi Dei Verbum mengenai proses komunikasi iman dalam Gereja sendiri: “dalam ajaran, hidup serta ibadatnya Gereja melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8).

Hal itu juga berlaku bagi mereka yang “dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah” (LG 16). Karena di sini tidak ada persekutuan penuh, komunikasi iman tidak terjadi secara persekutuan, melainkan dalam bentuk dialog. Panitia Teologis Internasional pada tahun 1988 mengatakan, dialog dengan agama-agama lain merupakan bagian integral hidup Kristiani. Tukar pendapat, studi, kerja sama, dan dialog membantu pemahaman yang lebih baik mengenai agama lain tetapi juga mengembangkan hidup keagamaan sendiri. Oleh karena itu Konsili mengajarkan, bahwa “pelaksanaan kegiatan misioner yang tepat dan teratur menuntut, supaya para pewarta Injil disiapkan untuk berdialog dengan agama-agama serta kebudayaan-kebudayaan bukan Kristen” (AG 34; 11; 41; NA 2).

Mengenai dialog itu sendiri Konsili Vatikan II mengajarkan, “Melalui cara-cara itu (yakni melalui penyelidikan bebas, pengajaran dan pendidikan, komunikasi dan dialog) manusia menjelaskan kepada sesamanya kebenaran yang telah ditemukannya – atau yang ia rasa telah menemukannya – sehingga saling membantu dalam mencari kebenaran” (DH 3; lih. GS 43). Maka “melalui pergaulan dengan sesama, dengan saling berjasa, melalui dialog dengan sesama saudara, manusia berkembang dalam segala bakat-pembawaannya, dan mampu menanggapi panggilannya” (GS 25).

Dasar dialog adalah kesadaran bahwa rahmat Allah berkarya dalam setiap manusia, juga dalam mereka yang tidak mengakui diri orang Kristen, yakni “semua orang yang mengakui Allah dan dalam tradisi-tradisi mereka melestarikan unsur-unsur religius dan manusiawi”. Mengenai hubungan dengan orang itu Konsili berkata, “Yang kami harapkan ialah, semoga dialog yang terbuka mengajak kita sekalian, untuk dengan setia menyambut dorongan-dorongan Roh, serta mematuhinya dengan gembira” (GS 92).

Dialog mendekati hubungan antara umat beriman dan umat beragama dari bawah, dari hubungan antara umat yang berbeda-beda agama. Namun di dalam dialog itu semua sama-sama berusaha menghayati apa yang paling dalam, yang menggerakkan dan memunculkan agama. Diakui bahwa tidak ada satu agama pun, termasuk agama Kristen, yang dengan sepenuhnya dapat menanggapi tawaran rahmat Allah itu (lih. GS 62). Dari pihak lain keterbatasan itu juga tidak menghalangi suatu pengalaman iman yang sungguh-sungguh dan religius.

Maka dialog antarumat beragama bukanlah konfrontasi antara ajaran-ajaran keagamaan yang berbeda-beda, melainkan dialog hidup atau “temu hati”, yang semakin terbuka untuk sapaan Allah. Ini tidak berarti bahwa dialog sebenarnya hanyalah alasan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Dialog sendiri sudah terarah kepada perwujudan Kerajaan Allah dalam keadilan, damai dan keselarasan, yang semuanya merupakan nilai-nilai kemasyarakatan. Tetapi yang paling pokok adalah “temu hati” itu sendiri. Di situ orang tidak mengaburkan atau “menyembunyikan” pendapat dan keyakinan pribadi, namun dapat mengemukakannya penuh hormat terhadap pandangan dan karena itu tanpa memaksakan pendapatnya sendiri kepada orang lain.

Gereja yang Satu

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (UR 2). Tetapi bagaimana kesatuan ilahi itu diwujudkan secara insani, merupakan suatu pertanyaan yang amat besar. Ternyata yang dilihat adalah perpecahan dan perpisahan di dalam Gereja.

Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12)” (AA 18). Tetapi bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Dikatakan, bahwa “tata-susunan sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dalam Kristus” (GS 44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus juga membedakan (dan memisahkan) Gereja yang satu dari yang lain. Dengan demikian, umat Kristen kelihatan terpecah-belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan kesatuan masing-masing kelompok.

Namun “hampir semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu Gereja Allah yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal, dan diutus ke seluruh dunia” (UR 1). Sebab “kesatuan yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, memang diimani akan tetap ditemukan dalam Gereja Katolik”, namun sekaligus “kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman” (UR 4). Dari satu pihak diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman, biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna. Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, melainkan Injil Yesus Kristus, yang diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan Gereja dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan sosial. Kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah keseragaman dan kesamaan, melainkan persekutuan dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Dan karena kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti keaneka-ragaman baik dalam pengungkapan iman yang liturgis dan kateketis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam penampilan dalam masyarakat. Ini tidak hanya secara sosial-organisatoris, tetapi juga dalam perkembangan dan perubahan sejarah.

Gereja dari zaman dahulu belum tentu sama bentuknya dengan persekutuan orang beriman sekarang, tetapi tetap ada kesatuan iman. Justru dalam keanekaragaman ungkapan iman umat perlu bertanya, manakah iman yang satu itu. Sebab tidak jarang yang mengkhususkan dan memisahkan adalah hal-hal yang sama sekali bukan pokok dan tidak menyangkut inti iman, melainkan merupakan warisan dari situasi dan kejadian historis yang sudah lama tidak penting lagi. Kepercayaan akan kesatuan Gereja kiranya malah menuntut bahwa lebih diperhatikan kesatuan iman dalam perbedaan pengungkapan, daripada kekhususan rumus yang membedakan jemaat yang satu dari yang lain. Bukan rumusan tepat yang mempersatukan, melainkan penghayatan iman bersama. Sebelum proses pemersatuan di antara Gereja-gereja dapat mulai; perlu disingkirkan dahulu segala bentuk diskriminasi – antara pria dan wanita, antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih – di kalangan masing-masing Gereja sendiri. Yang penting bukan kesatuan lahiriah yang tidak jarang merupakan kesatuan semu, melainkan kesadaran akan kesatuan iman karena rahmat Injil.

Lebih khusus lagi dapat dikatakan, bahwa Kristus “mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya, supaya Episkopat (kalangan para uskup) sendiri tetap satu dan tak berbagi. Di dalam diri Petrus Ia menetapkan asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Kesatuan itu tidak boleh dilihat pertama-tama pada tahap internasional atau mondial. Tidak hanya paus, tetapi “masing-masing uskup menjadi asas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri” (LG 23).

Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan konkret antara orang beriman yang hidup bersama dalam satu negara atau daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan dorongan kuat menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama. Kesatuan Gereja, dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim 2:22).

Sifat-Sifat atau Ciri-Ciri Gereja

Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya.

Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6; 26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak 10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”.

Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. “Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat.

Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja.

Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya dalam syahadat panjang.

Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal, sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar. Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama. Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul.

Pengertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

a. Gereja: Umat Allah

Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia.

Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam Roh-Nya” (1Yoh 4:13).

Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

b. Gereja: Tubuh Kristus

Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5).

Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:

“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”.

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10).

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.

Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu.

c. Gereja: Bait Roh Kudus

Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).

Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion.

d. Gereja: Misteri dan Sakramen

Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

e. Gereja: Communio

Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).

Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain.

Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebih-lebihan akan merugikan aspek yang lain.

Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru.

f. Gereja: Persekutuan Para Kudus

Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Asal usul dan arti kata ‘Gereja’

Kata “Gereja” yang berasal dari kata igreja dibawa ke Indonesia oleh para misionaris Portugis. Kata tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata Latin ecclesia, yang ternyata berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Kata Yunani itu sebetulnya berarti ‘kumpulan’ atau ‘pertemuan’, ‘rapat’. Namun Gereja atau ekklesia bukan sembarang kumpulan, melainkan kelompok orang yang sangat khusus. Untuk menonjolkan kekhususan itu dipakailah kata asing itu. Kadang-kadang dipakai kata “jemaat” atau “umat”. Itu tepat juga. Tetapi perlu diingat bahwa jemaat ini sangat istimewa. Maka barangkali lebih baik memakai kata “Gereja” saja, yakni ekklesia. Kata Yunani itu berasal dari kata yang berarti ‘memanggil’. Gereja adalah umat yang dipanggil Tuhan. Itulah arti sesungguhnya kata “Gereja”.

Perjalanan Hidup Gereja

Gereja bukanlah “kerangka” karya Roh Kudus, melainkan boleh disebut “hasil” karya Roh itu, yang hanya dapat dimengerti dalam kerangka dan proses karya keselamatan Allah. Sejarah Gereja sudah mulai dengan Perjanjian Lama, ketika Tuhan mengumpulkan umat Israel dan membuatnya menjadi bangsa-Nya yang terpilih. Langkah yang lebih jelas ke arah pembentukan Gereja adalah kedatangan Yesus dan penampilan-Nya di tengah-tengah bangsa Israel.

Banyak orang menerima pewartaan-Nya dan menjadi pengikut-Nya. Banyak pula menolak-Nya mentah-mentah. Kendati demikian, terbentuklah suatu kelompok khusus di sekitar Yesus. Inti kelompok itu mereka yang di kemudian hari “menjadi saksi-Nya bagi umat itu” (Kis 13:32), yaitu kelompok para rasul. Secara khusus mereka dididik dan digembleng oleh Yesus, dan Petrus diangkat menjadi pemimpin mereka (Mat 16:18; Luk 22:32; Yoh 21:15-17). Itu tidak berarti bahwa Petrus dan para rasul mengambil alih tugas dan perutusan Yesus.

Dengan jelas Yesus berjanji, “Aku akan datang kembali” (Yoh 14:3.28). Dan “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka Ia mengutus Roh itu” ke dalam Gereja (Kis 2:33), sebagai tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Maka bukan hanya hubungan historis yang mengikat Gereja kepada Yesus, melainkan terutama kehadiran Tuhan yang mulia yang membuatnya bersatu-padu dengan Kristus, sehingga Paulus menyebut Gereja “tubuh Kristus” (Rm 12:5; 1Kor 12:13.27; Ef 1:23; 4:12). Gereja itu berkembang dalam peredaran zaman. Banyak dosa melekat padanya, tetapi dalam kelemahan dan perjuangan itu Gereja tetap ditopang oleh Roh Kudus yang telah diberikan kepadanya. Roh itu pula yang membantu secara khusus mereka yang diberi tugas mempersatukan umat. Seluruh kehidupan Gereja, pewartaan, perayaan dan pelayanannya, digerakkan dan didorong oleh Roh yang sama. Struktur-struktur organisasi Gereja tidak menjamin kegiatan dan kelestariannya, tetapi di dalam struktur-struktur itu karya Allah terwujudkan dan dilaksanakan, biarpun dalam bentuk yang sangat kurang sempurna. Itulah yang dimaksudkan dengan kepercayaan akan Gereja, yaitu keyakinan bahwa Allah berkarya dalam kekurangan dan keterbatasan kegiatan sekelompok manusia, yang terbentuk dalam sejarah Allah dengan manusia, khususnya sejak Yesus Kristus hidup dan berkarya.

Namun karya Allah tidak terbatas pada Gereja, dan Kerajaan Allah tidak sama dengan Gereja. Kerajaan Allah dimaksudkan untuk seluruh dunia, khususnya untuk manusia yang melarat dan miskin, dan Gereja dipanggil untuk menjadi pewartanya. Di dalam Gereja panggilan Allah disuarakan lagi. Persekutuan umat merupakan awal dan dasar kesatuan seluruh umat manusia. Tujuan dan sasaran karya keselamatan Allah bukan Gereja melainkan dunia. Gereja hanyalah “tanda dan sarana” (LG 1). Semua itu bersama-sama ditambah dengan banyak unsur lain, membentuk yang disebut misteri Gereja. Kepercayaan akan Gereja adalah iman akan misteri itu, yang sekaligus tersembunyi dan tampak dalam tanda.