Surga dan Neraka

… baca juga Apa itu Surga?

Kita mengetahui, “bila kemah kediaman kita di bumi telah dibongkar, Allah menyediakan bagi kita suatu tempat kediaman di surga” (1Kor 5:1). Tetapi tidak ada yang mengetahui rupa surga. Barangkali juga kurang tepat berbicara mengenai “rupa” surga, sebab surga berarti kebahagiaan manusia dalam kesatuan dengan Allah. Bahwa surga digambarkan bagaikan sebuah tempat, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Kalau tidak ada badan, tidak perlu tempat. Di surga memang ada badan, yaitu tubuh Kristus. Tetapi itu adalah tubuh yang mulia dan tidak bisa dibandingkan dengan tempat dan waktu kita sekarang. Yang pokok dari surga ialah bahwa itu tempat Allah (lih. Mzm 2:4; Why 11:13; 16:11).

Dalam agama Yahudi “surga” malah dapat menggantikan nama Tuhan (sebagaimana masih kelihatan dari perbandingan “Kerajaan Allah” dan “Kerajaan surga”). Maka mengenai Kristus dikatakan bahwa Ia “duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga” (Ibr 8:1), dan kita “menantikan kedatangan Anak Allah dari surga” (1Tes 1:10). Secara konsekuen dikatakan bahwa “kewargaan kita ada di surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21). Lukas malah melukiskan kemuliaan Yesus dengan berkata bahwa Ia naik ke surga (Luk 24:50-53; Kis 1:6-11). Yohanes mengungkapkan keallahan Kristus dengan berkata bahwa Ia “turun dari surga” (Yoh 3:13; lih. 6:38.42), dalam arti bahwa “yang datang dari atas, adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31).

Segala ketentuan konkret dalam Kitab Suci mengenai surga sebagai tempat kediaman Allah, harus dipandang sebagai bahasa kiasan. Yang pokok adalah Allah dan kesatuan dengan-Nya.

Itulah arti dari kata-kata seperti: “upahmu besar di surga” (Mat 5:12); “kumpulkanlah bagimu harta di surga” (Mat 6:20); “namamu sudah terdaftar di surga (Luk 10:20); “pengharapan disediakan bagi kamu di surga” (Kol 1:5); “bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, tersimpan bagimu di surga” (1Ptr 1:4). Begitu juga ”Yerusalem baru turun dari surga” (Why 3:12; 21:2.10).

Oleh karena itu pantas ditanyakan sejauh mana surga berbeda dengan kebangkitan? Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Kristus. Paulus bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” (1Kor 15:35). Lalu dijawab: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” (1Kor 15:42- 44). Bagaimana semua itu akan terjadi, Paulus juga tidak tahu. Sebab “apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati orang: semua itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” (1Kor 2:9).

Tetapi jelaslah apa yang dikatakan Yesus: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Jalan kepada Bapa melalui Yesus. Yesus sudah “meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28). Ia berjanji bahwa “akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Yesus masuk ke tempat Bapa dengan kebangkitan-Nya. Maka bagi kita pun surga tidak lain dari ikut dibangkitkan bersama Kristus. Tetapi sebagaimana Kristus bangkit dari maut, begitu juga bagi kita jalan ke surga melalui maut. Kebangkitan berarti bahwa sesudah hidup ini kita menerima kebahagiaan dari Allah.

Di sini tentu timbul kesulitan bahwa ada waktu yang cukup lama antara kematian dan kebangkitan, yang akan terjadi pada akhir zaman. Maka biasanya dikatakan, bahwa sebelum badan dibangkitkan, jiwa sudah masuk surga dan dapat memandang Allah. Tetapi, kalau jiwa terpisah dari badan, maka orangnya mati. Kerohanian manusia tidak berarti bahwa jiwanya dapat berjalan sendirian, dan kebangkitan juga tidak hanya menyangkut badan. Kebangkitan badan berarti mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus. Kristus adalah “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20; lih. Kol 1:18). Dan “semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22; lih. 2Kor 4:11). Maka di sini pun yang pokok adalah kesatuan dengan Kristus. Masalah kebangkitan badan menyangkut perbedaan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita. Barangkali rumus yang paling tepat terdapat dalam Kol 3:3: “Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus dalam Allah”.

Mengenai hal ini, pada tahun 1979 Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan penjelasan sebagai berikut.: “Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian unsur rohani dalam manusia terus hidup sendiri, dengan sadar dan berkemauan, sehingga diri manusia, biarpun tidak lengkap karena tidak ada tubuh, berada terus. Unsur rohani ini oleh Gereja disebut “jiwa”, sesuai dengan kebiasaan berbicara berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi”.

Kebangkitan itu karya Allah. Juga mengenai Yesus tidak pernah dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Ia bangkit sendiri; melainkan “dibangkitkan”. Yang membangkitkan ialah Allah Bapa. Kebangkitan itu rahmat, anugerah dari Allah, “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Oleh sebab itu manusia sebenarnya tidak dapat menangkap dan memahami arti kebangkitan. Kebangkitan tidak dapat dimengerti berpangkal pada hidup manusia di dunia ini. Kebangkitan tidak berarti”: hidup kembali, seperti yang terjadi dengan putri Yairus, pemuda dari Nain dan Lazarus yang kemudian hari akan meninggal lagi, Mereka belum menerima “tubuh rohani” (1Kor 15:45), tetapi dikembalikan kepada hidup yang fana ini dan harus mati lagi.

Lain halnya dengan kebangkitan Yesus. “Sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, Ia tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm 6:9). Ia “beralih dari dunia ini kepada Bapa” (Yoh 13:3), masuk ke dalam dunia ilahi. Itulah sebetulnya kebangkitan. Dengan kematian dialami suatu perubahan dalam hubungan antara jiwa dan badan, dan perubahan itulah yang disebut kebangkitan, sebab dalam hidup sekarang jiwa ditentukan oleh badan (khususnya dalam perbatasan waktu dan tempat). Dalam kebangkitan hal itu dibalik: badan ditentukan oleh jiwa, yang dipenuhi oleh Roh. Oleh karena itu, dengan kebangkitan diciptakan waktu dan tempat yang baru: “surga yang baru dan dunia yang baru” (Why 21:2). Maksudnya, dunia materiil ini diangkat seluruhnya ke dalam dunia Roh. Materi tidak lagi berarti hidup sementara dan fana. Dalam kebangkitan, tubuh mencapai kebakaan, menjadi penampakan kesatuan dengan Allah. Pada Yesus (dan Maria) perubahan itu sudah terlaksana. Manusia yang lain harus menunggu sampai perubahan dunia seluruhnya pada hari kiamat. Sementara itu ia dapat tetap hidup dalam kesatuan dengan Allah, sebab ia “mati dalam Kristus” (1Tes 4:16). Kesatuan dengan Kristus dalam kematian menjamin partisipasi dalam kebangkitan. Dasarnya jelas, tetapi bagaimana akan terlaksana kelak, tidak diwahyukan.

Kiranya perlu diingat bahwa dalam Kitab Suci kebangkitan orang mati selalu menyangkut keselamatan. Orang berdosa sebetulnya tidak bangkit. Memang semua orang mati tampil dalam pengadilan (lih. Mat 25:31-46), tetapi hanya sebagian diterima ke dalam Kerajaan. Yang lain “masuk ke tempat siksaan yang kekal”, yang oleh Yohanes disebut “kematian kedua” (lih. Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Kebangkitan tidak lepas dari Kristus, yang adalah”yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Orang lain “dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22). Dan itu berarti bahwa mereka mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus di dalam Kerajaan Allah.

Neraka harus dimengerti sebagai lawan surga. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka neraka berarti keterpisahan dari Allah. Semua hal lain mengenai api dan siksaan badan juga bersifat bahasa kiasan, Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka bukan siksaan, sebab setiap orang mendambakan kesatuan dengan Allah. Tanpa Allah orang tidak dapat hidup bahagia. Di dunia ini mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut. Oleh karena itu Yohanes menyebut neraka “kematian kedua” (Why 2:11; 20:6.14; 21:8). Tidak dapat dibayangkan, apa arti mati terus-menerus. Itu memang bahasa kiasan juga. Tetapi, kalau Tuhan “memberikan hidup dan nafas kepada semua orang” (Kis 17:25; bdk. Ayb 12:10; Yes 42:5), maka jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut. Tidak dapat dibayangkan; namun itulah kata yang tepat untuk neraka.

Banyak orang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah yang baik dan maharahim menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka?” Bagaimanapun bentuknya, neraka tampaknya tidak cocok dengan Allah sendiri dan karya keselamatan-Nya. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diperhatikan bahwa surga dan neraka tidak bisa disejajarkan begitu saja, bagaikan dua pintu yang bebas dipilih. Kemungkinan bahwa manusia gagal secara total tidak sama dengan kemungkinan mencapai keselamatan. “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih-karunia berlimpah-limpah” (Rm 5:20). Kristus sudah mengalahkan dosa dan maut, “dengan memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1Ptr 2:24).

Wafat dan kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka sebetulnya tidak ada. Neraka berarti penolakan total terhadap Allah. Itu mungkin. Kapan terjadi, tidak ada orang yang mengetahuinya. Orang Yahudi pernah bertanya kepada Yesus: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak memberi jawaban; Ia hanya berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” (Luk 13:23- 24). Neraka tidak mustahil. Manusia dapat menutup diri untuk rahmat dan belas kasihan Tuhan. Ini bukan sesuatu yang “kebetulan” terjadi, dan mempunyai akibat abadi karena kematian. Sikap ini menyangkut sikap dasar manusia, dan diteguhkan oleh kematian.