Suara Hati

Dalam mengatur dan mengarahkan dunia, otonomi manusia dihayati dalam keputusan suara hati, sebab bagi manusia otonomi berarti tanggung jawab. Kesadaran akan tanggung jawab itu disebut “kesadaran moral”, dan pengarahan hidup serta tindakan manusia disebut “keputusan suara hati”, Suara hati ialah kemampuan manusia untuk menyadari tugas moral dan untuk mengambil keputusan moral. Kesadaran moral tidak berarti bahwa manusia dibekali dengan aturan jelas mengenai setiap tugas kewajiban. Namun ia menyadari, bahwa dialah yang mesti mengambil keputusan dan bertindak. Suara hati juga bukan perintah langsung dari Tuhan, yang memberitahukan apa yang harus dibuat sekarang ini. Manusia sering harus mencari jalannya sendiri dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Ia harus mempertimbangkan banyak kepentingan dan mengambil sendiri keputusan yang adil mengenai tindakannya. Tetapi dalam menempuh jalan hidupnya manusia mengetahui bahwa ia menunaikan tugas dan memenuhi kewajiban. Ia mengetahui arah hidupnya di dalam hati nuraninya. Dan setiap kali ia menyimpang dari arah itu, karena merasa tugasnya berat dan tidak mau menjalankan apa yang disadari sebagai kewajibannya, maka suara hati mengingatkan dia dengan gangguan dan beban batin.

Suara hati tidak hanya menilai sarana dan tujuan usaha manusia sesuai dengan arah hidupnya. Keputusan suara hati juga merupakan pedoman dan daya penggerak bagi tindakan kita. Dalam praktik kehidupan jarang ada yang mutlak perlu, yang tanpa alternatif dan tidak dapat diganti oleh sesuatu yang lain. Namun pertimbangan pro dan kontra tidak dapat diperpanjang terus-menerus. Demi perkembangan hidup harus ada keputusan dan diambil risiko. Jadi suara hati membantu manusia mengikatkan diri pada keputusan tertentu dan menjalaninya dengan setia dan tekun. Mengambil keputusan sendiri atas tanggung jawabnya itulah otonomi.

Tentu saja, otonomi suara hati tidak berarti bahwa segala sesuatu harus dipikirkan sendiri. Sudah ada adat kebiasaan dan ajaran serta aturan moral yang berlaku dan yang mengungkapkan keyakinan nilai turun-temurun. Hati-nurani yang terdidik tidak buta akan kekayaan tradisi dan akan norma-norma yang berlaku umum dan pada umumnya. Tetapi dengan berpedoman pada kaidah umum, suara hati harus peka terhadap situasi dan kondisi supaya dapat mengambil tindakan konkret yang dengan tepat menjawab tuntutan sekarang ini. Peran suara hati semakin perlu kalau menghadapi tuntutan baru, kalau belum atau tidak ada lagi norma-norma etika yang diakui umum. Di situ suara hati perlu berorientasi pada suatu visi kehidupan yang luas dan kreatif guna menemukan jalan baru.

Dalam perubahan sosial dan pergeseran norma moral umum, manusia makin perlu mengokohkan ketabahan suara hati, supaya ia tidak diseret oleh arus kebiasaan dan dapat mengambil keputusan yang mandiri. Sebab bisa terjadi bahwa dengan mengikuti suara hatinya manusia harus melawan arus kebiasaan etis dan wajib menyimpang dari tata hidup sosial atau ketetapan-ketetapan politik. Pada saat semacam itu kepastian subjektif saja tidak mencukupi; juga tidak cukup bahwa orang seakan-akan mengesampingkan keyakinan hatinya sendiri dan -karena hormat atau takut – praktis dan lahiriah menjalankan perintah atasan atau mengikuti pendapat umum. Khususnya di masa perubahan dibutuhkan pertanggung-jawaban di hadapan umum, dengan mengemukakan alasan-alasan yang masuk akal, yakni pokok-pokok visi kehidupan yang dapat diterangkan kepada umum.

Apa yang anda pikirkan?