Suara Hati dan Iman

Bagi manusia yang telah menemukan Tuhan sebagai dasar dan tujuan hidupnya, keputusan suara hati juga merupakan jawaban terhadap Allah. Di dalam imanlah, manusia bertemu dengan Allah. Maka bagi orang beriman keputusan suara hati berarti perwujudan iman, sebab sebagaimana hidup menjadi kenyataan kalau membuat sesuatu yang konkret, demikian juga iman menjadi hidup dalam keputusan mengenai tugas dan kewajiban sehari-hari di hadapan Allah. Jadi, iman itu hidup bukan pertama-tama dalam agama sebagai ungkapan iman yang eksplisit, melainkan dalam tindakan moral sebagai wujud hidup beriman. Di situ terjalinlah relasi manusia dengan Allah. Tidaklah cukup bagi manusia, jika ia hanya berseru “Tuhan, Tuhan!”. Ia masih harus menjalankan kehendak Allah, yang diakui dalam ketaatan kepada suara hati (bdk. Mat 7:21).

Iman berarti bertemu dengan Allah dan hidup dalam kesatuan dengan-Nya”. Iman bukanlah pertama-tama berarti menerima aturan, khususnya untuk bidang moral, melainkan menghayati hidup secara otonom dan bertanggung jawab dalam kesatuan pribadi dengan Allah. Dalam suara hatinya, orang beriman menerima sapaan Allah untuk hidup dari kelimpahan hidup-Nya yang Ia curahkan. Dalam suara hatinya, manusia sadar bahwa perbuatan hidup dan tindakan konkret yang beraneka-ragam mempunyai tempat dan nilai dalam keseluruhan hidupnya di hadapan Allah. Dalam suara hati ia mengetahui bahwa juga dalam pekerjaan yang kecil dan yang tidak berarti, hidupnya terarah kepada Allah Yang Mahaagung, yang melampaui segala batas hidup. Sebab bagi orang beriman, hidup berawal dari Allah yang memberikan Diri-Nya.

Suara hati adalah tempat manusia pribadi mendengar panggilan untuk berjumpa dan berhubungan dengan Tuhan secara pribadi (bdk. GS 16). Bagi orang beriman kepercayaan akan hidup, tanggung jawab atas hidup, dan iman akan Allah adalah satu. Iman akan Allah yang hidup dan menghidupkan, mendorong orang beriman makin menjadi pribadi dan makin sungguh-sungguh dalam tanggung jawabnya. Ia sadar bahwa Tuhanlah yang memanggil dan memampukannya, dan bahwa hanya iman merupakan satu-satunya jawaban atas panggilan Tuhan. Selanjutnya, ia menyadari pula bahwa ketaatan iman membutuhkan keterlibatan dalam praktik kehidupan. “Kerjakanlah keselamatanmu … sebab Allahlah yang membangkitkan di dalam kamu baik kemauan maupun usaha menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:12-13).